Anda di halaman 1dari 15

Analisis Masalah 1.

Dokter Putra, dokter puskesmas Mawar, sudah dua kali ini menerima penderita Tb paru baru dewasa, dengan menggunakan ISTC dan strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO. a. Siapa yang berkewajiban menjalanlan ISTC ?123 b. Apa isi dari ISTC?456 Jawab : INTERNATIONAL STANDARD FOR TUBERCULOSIS CARE (ISTC) Standard Untuk Diagnosis STANDARD 1 Setiap orang dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak jelas penyebabnya harus dievaluasi untuk tuberkulosis Untuk pasien anak, selain gejala batuk, entry untuk diagnosis adalah berat badan yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir atau gizi buruk STANDARD 2 Semua pasien (dewasa, remaja, dan anak yang dapat mengeluarkan dahak) yang diduga mengalami TB Paru harus menjalani pemeriksaan dahak mikroskopik minimal 2 dan sebaiknya 3 kali. Jika mungkin minimal satu spesimen harus berasal dari dahak pagi hari

STANDARD 3 Pada semua pasien (dewasa, remaja, anak) yang diduga mengalami TB Ekstra Paru, spesimen dari bagian tubuh yang sakit seharusnya diambil untuk pemeriksaan mikroskopik dan jika tersedia fasiliti dan sumber daya, dilakukan pemeriksaan biakan dan histopatologi Sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan foto tor aks untuk mengetahui ada tidaknya TB Paru dan TB Milier. Pemeriksaan dahak perlu dilakukan, bila mungkin juga pada anak STANDARD 4 Semua orang dengan temuan foto toraks diduga TB seharusnya menjalani pemeriksaan dahak secara mikrobiologi STANDARD 5 Diagnosis TB Paru sediaan apus dahak Negatif harus didasarkan kriteria berikut : minimal pemeriksaan dahak mikroskopik 3 kali negatif (termasuk minimal 1 kali dahak pagi hari) ; temuan foto toraks sesuai TB dan Tidak Ada Respons terhadap antibiotika spektrum luas (Fluorokuinolon harus dihindari karena aktif terhadap M. TB complex sehingga dapat menyebabkan perbaikan sesaat pada pasien TB. Untuk pasien ini, jika tersedia fasiliti, biakan dahak seharusnya dilakukan. Pada pasien yang diduga terinfeksi HIV evaluasi diagnostik haru disegerakan. STANDARD 6 Diagnosis TB Intratoraks (paru, pleura dan KBG hilus atau mediastinum) pada Anak dengan gejala namun sediaan apus

dahak negatif seharusnya didasarkan atas kelainan radiografi toraks sesuai TB dan paparan pada kasus TB menular atau bukti infeksi TB (uji kulit tuberkulis positif atau interferron gamma release assay). Untuk pasien seperti ini, bila tersedia fasiliti, bahan dahak seharusnya diambil untuk biakan (dengan cara batuk, bilas lambung atau induksi dahak) (ADD) Untuk pelaksanaan di Indonesia, diagnosis TB intratoraks pada anak didasarkan atas pajanan kepada kasus TB yang menular atau bukti infeksi TB (uji kulit tuberkulin positif atau interferon gamma release assay) dan kelainan radiografi toraks sesuai TB Standard Untuk Pengobatan STANDARD 7 Setiap praktisi yang mengobati pasien TB mengembang tanggung jawab kesehatan masyarakat yang penting. Untuk memenuhi tanggung jawab ini praktisi tidak hanya wajib memberikan paduan obat yang memadai tapi juga harus mampu menilai kepatuhan pasien kepada pengobatan serta dapat menangani ketidakpatuhan bila terjadi. Dengan melakukan hal itu, penyelenggara kesehatan akan mampu meyakinkan kepatuhan kepada paduan sampai pengobatan selesai STANDARD 8 Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati harus diberi paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang bioavailabilitinya telah diketahui.

Fase awal harus terdiri dari isoniazid, rifampisin, piranzinamin, dan etambutol. Fase lanjutan yang dianjurkan terdiri dari isoniazid dan rifampisin diberikan selama 4 bulan. Isoniazid dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif yang pada fase lanjutan yang dapat dipakai jika kepatuhan pasien tidak dapat dinilai, akan tetapi hal ini berisiko tinggi untuk gagal dan kambuh, terutama untuk pasien yang terinfeksi HIV. Dosis OAT yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi internasional. Kombinasi dosis tetap yang terdiri dari kombinasi 2 obat (RH), 3 obat (RHZ), dan 4 obat (RHZE) sangat direkomendasikan terutama jika menelan obat tidak diawasi. (ADD) Etambutol boleh dihilangkan pada fase awal pengobatan pasien dewasa dan anak dengan sediaan apus dahak negatif, tidak mengalami TB paru luas atau penyakit ekstraparu yang berat, serta diketahui HIV negatif (ADD) Secara umum terapi TB diberikan selama 6 bulan, namun pada keadaan tertentu (meningitis TB, TB milier dan TB berat lainnya) terapi TB diberikan lebih lama (9-12 bulan) dengan paduan OAT yang lebih lengkap sesuai dengan derajat penyakitnya. STANDARD 9 Untuk membina dan menilai kepatuhan pengobatan, suatu pendekatan pemberian obat yang berpihak kepada pasien, berdasarkan kebutuhan pasien, dan rasa saling menghormati antara pasien dan penyelenggara kesehatan,

seharusnya dikembangkan untuk semua pasien. Pengawasan dan dukungan seharusnya sensitif terhadap jenis kelamin dan spesifik untuk berbagai usia dan harus memanfaatkan bermacam-macam intervensi yang direkomendasikan serta layanan pendukung yang tersedia, termasuk konseling dan penyuluhan pasien. Elemen utama dalam strategi yang berpihak kepada pasien adalah penggunaan cara-cara menilai dan mengutamakan kepatuhan terhadap paduan obat dan menangani ketidakpatuhan, bila terjadi. Cara-cara ini seharusnya dibuat sesuai keadaan pasien dan dapat diterima oleh kedua belah pihak, yaitu pasien dan penyelenggara pelayanan. Cara-cara ini dapat mencakup pengawasan langsung menelan obat (directly observed therapy-DOT) oleh pengawas menelan obat yang dapat diterima dan dipercaya oleh pasien dan sistem kesehatan STANDARD 10 Semua pasien harus dimonitor responsnya terhadap terapi ; penilaian terbaik pada pasien TB adalah pemeriksaan dahak mikroskopik berkala (2 spesimen) minimal pada waktu fase awal pengobatan selesai (2 bulan), pada lima bulan, dan pada akhir pengobatan. Pasien dengan sediaan apus dahak positif pada pengobatan bulan ke5 harus dianggap gagal pengobatan dan pengobatan harus dimodifikasi secara tepat (std.14dan 15). Pada pasien TB ekstraparu dan TB anak, respons pengobatan terbaik dinilai secara klinis. Pemeriksaan foto

toraks umumnya tidak diperlukan dan dapat menyesatkan. (ADD) Respons pengobatan pada pasien TB milier dan efusi pleura atau TB paru BTA negatif dapat dinilai dengan foto toraks STANDARD 11 Rekaman tertulis tentang pengobatan yang diberikan, respons bakteriologis, dan efek samping seharusnya disimpan untuk semua pasien STANDARD 12 Di daerah dengan prevalensi HIV tinggi (> 5 % penduduk) pada populasi umum dan daerah dengan kemungkinan tuberkulosis dan infeksi HIV muncul bersamaan, konseling dan uji HIV diindikasikan bagi Semua pasien TB sebagai bagian penatalaksanaan rutin Di daerah dengan prevalensi HIV yang lebih rendah, konseling dan uji HIV diindikasikan bagi pasien TB dengan gejala dan/atau tanda kondisi yang berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB yang mempunyai riwayat risiko tinggi terpajan HIV STANDARD 13 Semua pasien dengan TB dgn infeksi HIV seharusnya dievaluasi untuk menentukan perlu/tidaknya pengobatan antiretroviral (ARV) diberikan selama masa pengobatan TB. Perencanaan yang tepat untuk mengakses ARV seharusnya dibuat untuk pasien yang memenuhi indikasi. Mengingat kompleksnya penggunaan serentak OAT dan ATV, konsultasi dengan dokter ahli di bidang ini sangat

direkomendasikan sebelum mulai pengobatan serentak untuk infeksi HIV dan TB, tanpa memperhatikan mana yang muncul lebih dahulu. Bagaimanapun juga pelaksanaan pengobatan TB tidak boleh ditunda. Pasien TB dengan infeksi HIV juga seharusnya diberi kotrimoksazol sebagai pencegahan infeksi lainnya. STANDARD 14 Penilaian kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan OAT terdahulu, paparan dengan sumber yang mungkin resisten obat, dan prevalensi resistensi obat dalam masyarakat seharusnya dilakukan pada semua pasien. Pasien gagal pengobatan dan kasus kronik seharusnya selalu dipantau kemungkinan akan resistensi obat. Untuk pasien dengan kemungkinan resistensi obat, biakan dan uji sensitifiti obat terhadap RHE seharusnya dilaksanakan segera. STANDARD 15 Pasien TB yang disebabkan kuman resisten obat (khususnya MDR) seharusnya diobati dengan paduan obat khusus yang mengandung OAT lini kedua. Paling tidak harus digunakan 4 obat yang masih efektif dan pengobatan harus diberikan paling sedikit 18 bulan. Cara-cara yang berpihak kepada pasien disyaratkan untuk memastikan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Konsultasi dengan penyelenggara pelayanan yang berpengalaman dalam pengobatan pasien dengan MDR-TB harus dilakukan.

Standard Untuk Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat STANDARD 16 Semua penyelenggara pelayanan untuk pasien TB seharusnya memastikan bahwa semua orang (khususnya anak balita dan orang terinfeksi HIV) yang mempunyai kontak erat dengan pasien TB menular seharusnya dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dengan rekomendasi internasional. Anak balita dan orang terinfeksi HIV yang telah terkontak dengan kasus menular seharusnya dievaluasi untuk infeksi laten M. TB maupun TB aktif STANDARD 17 Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil pengobatannya ke kantor dinas kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku Pelaksanaan pelaporan seharusnya difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. c. Apa tujuan dari ISTC?789 d. Apa saja isi dari strategi DOTS?1012 Jawab : DOTS mengandung lima komponen, yaitu: 1. Komitmen pemerintah untuk mendukung pengawasan tuberkulosis. 2. Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik sputum,

utamanya dilakukan pada mereka yang datang ke pasilitas kesehatan karena keluhan paru dan pernapasan. 3. Cara pengobatan standard selama 6 8 bulan untuk semua kasus dengan pemeriksaan sputum positif, dengan pengawasan pengobatan secara langsung, untuk sekurang-kurangnya dua bulan pertama. 4. Penyediaan semua obat anti tuberkulosis secara teratur, menyeluruh dan tepat waktu. 5. Pencatatan dan pelaporan yang baik sehingga memungkinkan penilaian terhadap hasil pengobatan untuk tiap pasien dan penilaian terhadap program pelaksanaan pengawasan tuberkulosis secara keseluruhan

h. Mengapa strategi DOTS dan ISTC harus dipahami?234 2. Kedua penderita Tb tersebut diklasifikasikan sebagai penderita Tb baru dan sudah diobati dengan OAT kategori 1. a. Bagaimana klasifikasi penderita Tb paru?567 Jawab : 1. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis): BTA positif atau BTA negatif; Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati 2. KLASIFIKASI BERDASARKAN LOKASI ORGAN TUBUH TB Paru menyerang jaringan (parenkim) paru tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. TB Ekstra Paru menyerang organ tubuh lain selain paru,misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung(pericardium), kelenjar lymfe, tulang, saluran kencing, alat kelamin. 3. KLASIFIKASI BERDASARKAN PEMERIKSAAN DAHAK

e. Apa tujuan dari strategi DOTS?345 Jawab : Tujuan dari pelaksanaan DOTS adalah menjamin kesembuhan bagi penderita, mencegah penularan, mencegah resistensi obat, mencegah putus berobat dan segera mengatasi efek samping obat jika timbul, yang pada akhirnya dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis di dunia. f. Apa manfaat dari strategi DOTS?678

g. Siapa saja sasaran dari ISTC dan strategi DOTS?9101

TB Paru BTA Positif : Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negdan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT (non fluoroquinolon) 4. KLASIFIKASI BERDASARKAN PEMERIKSAAN DAHAK TB Paru BTA Negatif (Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif) : Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT (non fluoroquinolon) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan OAT 5. KLASIFIKASI BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHAN TB Paru BTA Negatif Foto Toraks Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu

bentuk berat dan ringan Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum pasien buruk 6. KLASIFIKASI BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHAN TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu: TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal. TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis,milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih, dan alat kelamin. 7. KLASIFIKASI BERDASARKAN RIWAYAT PENGOBATAN Kasus Baru Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu) Kasus Kambuh (Relaps) Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). 8. KLASIFIKASI BERDASARKAN RIWAYAT PENGOBATAN

Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO) Pasien TB yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif Kasus Gagal (Failure) Pasien TB yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama Pengobatan. b. Apa saja kategori OAT?8910 Jawab : Berikut ini kategori OAT yang meliputi: 1)OAT kategori I ` a)Indikasi (1)Diindikasikan untuk penderita TB Paru menular (baru ditemukan dan belum pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan) dan pada pemeriksaan dahaknya secara mikroskopis menunjukkan Basil Tahan Asam (BTA) positif 2 kali atau 3 kali pemeriksaan dahak. (2)Diindikasikan untuk penderita baru dengan BTA negatif, tetapi menunjukkan gejala positif pada pemeriksaan roentgen. b)Dosis (1)Fase awal

Satu blister kombipak II, diminum setiap hari (intensif) terdiri dari : (a)Isoniazid @ 300 mg = 1 dosis/hari. (b)Rifampisin @ 450 mg = 1 dosis/hari. (c)Pirazinamid @ 500 mg = 3 dosis/hari. (d)Ethambutol @ 200 mg = 3 dosis/hari. Lama pengobatan 2 bulan, jumlah minum obat sebanyak 60 kali menelan obat dilanjutkan fase lanjutan 1 dosis harian kombipak III selama 3 kali selama 4 bulan berikutnya (54 kali menelan obat). (2)Fase lanjutan Satu blister kombipak III sehari, diminum 3 kali seminggu (intermiten) terdiri dari : (a)Isoniazid @ 300 mg = 2 dosis/hari. (b)Rifampisin @ 450 mg = 1 dosis/hari. Selama pengobatan kategori I diharuskan menelan OAT secara teratur sesuai jadwal terutama pada fase awal pengobatan untuk menghindari terjadinya kegagalan pengobatan (setelah selesai jadwal rangkaian sesuai dengan aturan, pada pemeriksaan mikroskopis menunjukkan BTA positif) dan terjadi BTA positif lagi setelah dinyatakan sembuh dan diusahakan untuk menyelesaikan menelan OAT sesuai jadwal pengobatan selama 6 bulan (114 kali menelan obat).

dosis/hari 250 mg. 2)OAT kategori II a)Indikasi Diindikasikan untuk penderita yang kambuh dan gagal pengobatan yaitu pada pemeriksaan dahaknya secara mikroskopis 3)OAT kategori III a)Indikasi Untuk penderita baru TB paru dengan BTA negatif dan radologi positif. b)Dosis (1)Pada fase awal. Satu dosis harian kombipak I setiap hari selama 2 bulan (60 kali menelan obat) yang terdiri dari : (a)Isoniazid (H) @ 300 mg = 1 dosis/hari. (b)Rifampisin (R) @ 450 mg = 1 dosis/hari. (c)Ethambutol (E) @ 500 mg = 3 dosis/hari. (2)Pada fase lanjutan Satu dosis harian kombipak III seminggu 3 kali selama 4 bulan (54 kali menelan) obat terdiri dari : (a)Isoniazid (H) @ 300 mg = 2 dosis/hari. (2)Fase lanjutan atau intermitten terdiri dari : (a)Isoniazid (H) @ 300 mg = 2 dosis/hari. (b)Rifampisin (R) @ 450 mg = 1 dosis/hari. (c)Ethambutol (E) 1200 mg = 2 dosis/hari @ 500 mg dan 1 c. Bagaimana prosedur pemberian OAT kategori 1?123 Jawab : Pengobatan Tuberkulosis (b)Rifampisin (R) @ 450 mg = 1 dosis/hari menunjukkan BTA positif setelah dinyatakan sembuh dari TB paru. b)Dosis dan komposisi OAT kategori II : (1)Fase awal atau intensif, ,kombipak II terdiri dari : (a)Isoniazid (H) @ 300 mg = 1 dosis/hari. (b)Rifampisin (R) @ 450 mg = 1 dosis/hari. (c)Pirazinamid (Z) @ 500 mg = 3 dosis/hari. (d)Etahmbutol (E) @ 250 mg = 3 dosis/hari. Satu dosis harian kombipak II setiap hari selama 3 bulan (90 kali menelan obat) (e)Sterptomisin (S) = @ 0,75 gr = dosis/hari 0,5 vial injeksi diberikan selama 2 bulan pertama (60 kali suntikan). Dalam 1 dosis harian kombipak IV, seminggu 3 kali selama 5 bulan (66 kali menelan obat).

a.Tujuan Pengobatan Tujuan pengobatan tuberkulosis adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, ,mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan (Depkes RI, 1997). b.Prinsip Pengobatan Obat TBC di berikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya dalam keadaanperut kosong. Apabila paduan obat yang di gunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan) kuman TBC dapat berkembang menjadi kuman yang kebal obat (resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu pengawasan langsung oleh PMO. Pada tahap intensif, penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT terutama rifampisin. Bila pengobatan tahap intensif tersebut di berikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (Konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahap intensif sangat penting

untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten. Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. 3. Saat ini Tb paru diduga meningkat karena adanya infeksi HIV-AIDS. a. Mengapa Tb paru meningkat karena adanya HIV-AIDS? 456 Jawab : Jika seorang telah mengidap mengidap HIV, 10 % kemungkinan akan sakit TBC hanya dalam waktu 1 tahun saja. Bila perlindungan dari sistem pertahanan tubuh berkurang akibat terinfeksi HIV, kuman tuberculosis yang tadinya dormant(tidur) dalam tubuh seorang yang telah terinfeksi HIV akan mulai berkembang biak dan menyebabkan sakit TBC. Hal tersebut tidak mengherankan karena TBC adalah penyakit infeksi yang berkaitan erat dengan kerusakan sistem kekebalan seluler, sedangkan orang yang terinfeksi HIV, imunitas selularnya rusak. b. Bagaimana cara menentukan hubungan peningkatan Tb

paru dengan infeksi HIV-AIDS?789 c. Berapa banyak penderita tb dalam rentang waktu 5 tahun terakhir?1012 d. Apa dampak HIV-AIDS terhadap efektivitas strategi DOTS?345 4. Dokter Putra tidak ingin kasus Tb paru menyebar, sehingga ia akan mengkaji dengan pendekatan epidemiologi. a. Bagaimana epidemiologi Tb paru?678 Jawab : Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.Indonesia merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi ( a concentrated epidemic), dengan perkecualian diprovinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah mencapai 2,5 (generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi

prevalensi HIV pada populasi dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sekitar 190.000-400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2.8%. b. Bagaimana cara penularan Tb paru?9101 Jawab : Sumber penularan penyakit TB paru adalah penderita yang pemeriksaan dahaknya di bawah mikroskop ditemukan adanya bakteri Mycobacteriu tuberculosis, yang di sebut dengan BTA (basil tahan asam). Makin tinggi derajat hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahaknya negatif maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Namun tidak semua penderita TB paru akan ditemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan, tergantung dari jumlah bakteri yang ada (Aditama, 2006). Penderita dapat menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk percikan dahak,yang dalam istilah kedokteran disebut droplet nuclei. Sekali batuk dapat menghasilkan 3000 percikan dahak. Melalui udara yang tercemar oleh Mycobacterium

tuberculosis yang dilepaskan/ dikeluarkan oleh penderita TB paru saat batuk. Bakteri akan masuk ke dalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Sementara, bagi yang mempunyai daya tahan tubuh baik, maka penyakit TB paru tidak akan terjadi. Tetapi bakteri akan tetap ada di dalam paru dalam keadaantidur, namun jika setelah bertahun-tahun daya tahan tubuh menurun maka bakteri yang tidur akan bangun dan menimbulkan penyakit. c. Bagaimana langkah-langkah epidemiologi pada kasus ini? 234 Jawab : 1. Mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan resiko (variabel independen) serta variabel-variabel pengendali (variabel kontrol). a. Variabel dependen : frekuensi kasus hipertensi b. Variabel independen : Merokok c. Variabel pengendali : Umur, pekerjaan dan pengetahuan 2. Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sampel penelitian. Misalnya yang menjadi

populasi adalah semua pria di suatu wilayah atau tempat tertentu, dengan umur antara 40 sampai dengan 50 tahun, baik yang merokok maupun yang tidak merokok. 3. Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut, dan mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (resiko negatif) sejumlah yang kurang lebih sama dengan kelompok merokok. 4. Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok orang-orang yang merokok (resiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai pada waktu tertentu, misal selama 10 tahun ke depan, untuk mengetahui adanya perkembangan atau kejadian hipertensi. 5. Mengolah dan menganalisis deskriptif dan analitik. data secara

5. Dari

hasil

analisis

epidemiologi, upaya

dokter

Putra dan

berencana

melakukan

pencegahan

penanggulangan Tb paru dikomunitas tersebut. a. Bagaimana upaya pencegahan kasus Tb paru?567 Jawab : program pencegahan infeksi oportunistik TBC pada pengidap HIV/AIDS dapat dilakukan dengan dua

cara, yaitu : 1. Menghilangkan faktor resiko untuk terinfeksi HIV pada masyarakat (pengidap TBC laten) dengan cara : a) Menghindari kontak host dengan HIV. b) Pemeriksaan diri untuk tes HIV yang disertai dengan konseling sebelum dan sesudah tes. c) Konseling sebelum tes HIV diberikan kepada orang yang mempertimbngkan untuk tes HIV. Konseling ini mencakup pemberian informasi mengenai aspek teknis dan medis tes HIV serta kemungkinan dampak yang terjadi untuk seorang yang terinfeksi HIV maupun tidak. Dampak yang dibahas meliputi dampak sosial, kejiwaan, hukum, medis, dan personal. d) Konseling sesudah tes diberikan kepada orang yang telah menjalani tes HIV dan telah mengetahui hasilnya. Jenis konseling sesudah tes tergantung hasil tes, apakah hasilnya negatif, positif, atau meragukan. Hal ini dikarenakan berbedanya reaksi emosional masing masing orang. 2. Menghilanhkan faktor resiko untuk terinfeksi

mycobacterium tuberculosis pada pengidap HIV dengan cara: a) Diberikan penjelasan tentang TB dan perkembangan pada saat konseling. b) Diskrining terhadap radiologis. c) Bila terdapat kelainan paru harus dievaluasi terhadap kemungkinan TB aktif. d) Bila terdapat didaerah endemik TB harus dievaluasi secara berkala terhadap penyakit TB (setiap 6 bulan). e) Bila tidak terdapat TB aktif, maka diberikan terapi profilaksis. b. Bagaimana upaya penanggulangan kasus Tb paru?8910 Jawab : Program penanggulangan TBCC pada pengidap HIV/AIDS dapat dikategorikan dalam dua usaha yaitu : a. Program pencegahan infeksi oportunistik TBC pada pengidap HIV/AIDS dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Menghilangkan faktor resiko untuk terinfeksi HIV pada masyarakat (pengidap TBC laten) dengan cara : TB secara klinis dan

a) Menghindari kontak host dengan HIV. b) Pemeriksaan diri untuk tes HIV yang disertai dengan konseling sebelum dan sesudah tes. c) Konseling sebelum tes HIV diberikan kepada orang yang mempertimbngkan untuk tes HIV. Konseling ini mencakup pemberian informasi mengenai aspek teknis dan medis tes HIV serta kemungkinan dampak yang terjadi untuk seorang yang terinfeksi HIV maupun tidak. Dampak yang dibahas meliputi dampak sosial, kejiwaan, hukum, medis, dan personal. d) Konseling sesudah tes diberikan kepada orang yang telah menjalani tes HIV dan telah mengetahui hasilnya. Jenis konseling sesudah tes tergantung hasil tes, apakah hasilnya negatif, positif, atau meragukan. Hal ini dikarenakan berbedanya reaksi emosional masing masing orang. 2. Menghilanhkan dengan cara: a) Diberikan penjelasan tentang TB dan faktor resiko untuk terinfeksi mycobacterium tuberculosis pada pengidap HIV

perkembangan pada saat konseling. b) Diskrining terhadap radiologis. c) Bila terdapat kelainan paru harus dievaluasi terhadap kemungkinan TB aktif. d) Bila terdapat didaerah endemik TB harus dievaluasi secara berkala terhadap penyakit TB (setiap 6 bulan). e) Bila tidak terdapat TB aktif, maka diberikan terapi profilaksis. b. Program HIV/AIDS Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat ,enentukan obat penyembuhan AIDS. Namun telah ditemukan beberapa obat yang dapat menghambat infeksi HIV dan beberapa yang secara efektif dapat mengatasi infeksi oportunistik. Menurut Zubairi Djoerban (1995) pengobatan AIDS dibagi tiga yakni : 1) Pengobatan terhadap virus HIV. 2) Pengobatan oportunistik. terhadap infeksi pengobatan TBC pada pengidap TB secara klinis dan

3) Pengobatan pendukung. Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi infeksi oportunistik penyakit TBC pada pengidap HIV/AIDS, sedikit merupakan pengobatan definitif dengan hasil 2.3.2 Hipotesis Dokter Putra akan mengkaji kasus Tb paru dengan pendekatan epidemiologi karena diduga adanya peningkatan Tb paru terkait infeksi HIV-AIDS sehingga upaya pencegahan dan upaya penanggulangan Tb tercapai. seperti pengobatan pada tuberculosis biasa dengan perubahan.pengobatan sampai isoniazid,pirasinamid,rifampisisn 7. Bagaimana pandangan islam dalam kasus ini?345

kultur resistensi datang. Lama pengobatan yang dianjurkan 2bulan, diteruskan dengan isoniazid dan rifampisisn selama 4-7 bulan. 6. Untuk menjamin keberhasilan penanggulangan

penyakit Tb paru, dokter Putra menyelenggarakan surveilans penyakit Tb paru. c. d. e. f. Bagaimana cara menyelenggarakan surveilans Tb paru?123 Siapa yang bertanggung jawab menyelenggarakan surveilans Tb paru?456 Apa manfaat dan tujuan diselenggarakannya surveilans Tb paru?789 Bagaimana operasional dari penyelenggaraan surveilans Tb paru?1012