Anda di halaman 1dari 41

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Penagihan Pajak adalah serangkaian

Pengertian PENAGIHAN PAJAK

tindakan [1] (oleh jurusita) agar [2] Penanggung Pajak [3] melunasi utang pajak dan [4] biaya penagihan pajak dengan [5] menegur atau memperingatkan, [6] melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, [7] memberitahukan Surat Paksa, [8]mengusulkan pencegahan, [9] melaksanakan penyitaan, [10] melaksanakan penyanderaan, [11] menjual barang yang telah disita. (UU.PPSP ps1 btr 9)(

[1] jurusita sebagai pelaksana penagihan pajak dengan surat paksa

Jurusita

Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan penyanderaan.
(UU.PPSP Pasal 1 angka 6)

Tugas Jurusita Pajak


uu.ppsp Ps. 5

a.melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus; b.memberitahukan Surat Paksa c.melaksanakan penyitaan atas barang Penanggung Pajak berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan; dan d.melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan.

Kewajiban Dan Kewenangaan Jurusita


Dalam Melaksanakan Kewajibannya Jurusita:
Wajib (harus) dilengkapi dengan kartu tanda pengena Jurusita Pajak dan harus (wajib) diperlihatkan kepada Penanggung Pajak. [5(2)] berwenang memasuki dan memeriksa semua ruangan termasuk membuka lemari, laci, dan tempat lain untuk menemukan objek sita di tempat usaha, di tempat kedudukan, atau di tempat tinggal Penanggung Pajak, atau di tempat lain yang dapat diduga sebagai tempat penyimpanan objek sita. [5(3)] dapat meminta bantuan Kepolisian, Kejaksaan, Departemen yang membidangi hukum dan perundang-undangan, Pemerintah Daerah setempat, Badan Pertanahan Nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Pengadilan Negeri, Bank atau pihak lain. [5(4)]

Syarat-syarat Menjadi Jurusita Pajak


1. Berijazah Serendah-rendahnya Sederajat;
3.

SMA

Atau

2. Pangkat Serendah-rendahnya Pengatur Muda (Ii/A);

Berbadan Sehat 4. Lulus Diklat Jurusita Pajak; 5. Jujur, Bertanggung Jawab, dan Penuh Pengabdian

PEMBERHENTIAN JURUSITA PAJAK


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

MENINGGAL DUNIA PENSIUN ALIH TUGAS LALAI ATAU TIDAK CAKAP MELAKUKAN PERBUATAN TERCELA MELANGGAR SUMPAH ATAU JANJI JURUSITA PAJAK SAKIT JASMANI / ROHANI TERUS MENERUS.

[2] Penanggung

Pajak

Penanggung Pajak adalah orang pribadi

atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (UU.PPSP ps. 1 btr 3)

Larangan bagi Penanggung Pajak


[(UU.PPSP.ps. 23 (1)]

a. memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan, meminjamkan, menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak barang yang telah disita b. membebani barang tidak bergerak yang telah disita dengan hak tanggungan untuk pelunasan utang tertentu; c. membebani barang bergerak yang telah disita dengan fidusia atau diagunkan untuk pelunasan utang tertentu; dan atau d. merusak, mencabut, atau menghilangkan segel sita atau salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita yang telah ditempel pada barang sitaan.

[3]

(melunasi)

hutang pajak

Hu

tang pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
(UU.PPSP ps. 1 btr 8)

[4] biaya penagihan pajak

Biaya Penagihan Pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, Jasa Penilai dan biaya lainnya sehubungan dengan penagihan pajak.
(UU.PPSP ps. 1 btr 13)

[5] Teguran atau Peringatan

Surat Peringatan atau surat

lain yang sejenis diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya.
(UU.PPSP ps.1 butir 10)

[6] penagihan seketika dan sekaligus


Penagihan Seketika dan Sekaligus adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Tahun Pajak.
(UU.PPSP ps 1 btr 11)

Penagihan Seketika dan Sekaligus diLAKUKAN tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran apabila: a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu; b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan, atau

Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan (lanj) c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usahanya, atau menggabungkan usahanya, atau memekarkan usahanya, atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya; d. badan usaha akan dibubarkan oleh Negara; atau e.terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda tanda kepailitan (UU.PPSP Pasal 6).

Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus sekurang-kurangnya memuat:

nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak; b. besarnya utang pajak; c. perintah untuk membayar; dan d. saat pelunasan pajak.

a.

Diterbitkan Sebelum Paksa

Penerbitan Surat

[7]

pemberitahuan Surat Paksa


Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. (UU.PPSP ps.1 btr 12)

Surat

Surat Paksa Baru Sah Apabila Kepada Wajib Pajak: -Telah Dilakukan Teguran Atau Peringatan Atas STP, SKPKB, SKPKBT, Pembetulan, Keberatan/Banding yang belum dilunasi.
Teguran/ Peringatan Dapat Diberikan 7 (Tujuh) Hari Sebelum Jatuh Tempo.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA


(UU.PPSP ps.10)

(1) Surat Paksa diberitahukan dengan pernyataan dan penyerahan Salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak. (2) dituangkan dalam Berita Acara yang sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal pemberitahuan Surat Paksa, nama Jurusita Pajak, nama yang menerima, dan tempat pemberitahuan Surat Paksa.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.1)

(3) Surat Paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada:
a.Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha atau di tempat lain yang memungkinkan; b.orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang bekerja di tempat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang bersangkutan tidak dapat dijumpai; c.salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus harta peninggalannya, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan belum dibagi; atau d.para ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan telah dibagi.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.2)

(4) Surat Paksa terhadap badan diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada: a. pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab, pemilik modal, baik di tempat kedudukan badan yang bersangkutan, di tempat tinggal mereka maupun di tempat lain yang memungkinkan; atau b. pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan yang bersangkutan apabila Jurusita Pajak tidak dapat menjumpai salah seorang sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (5) Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, Surat Paksa diberitahukan kepada Kurator, Hakim Pengawas atau Balai Harta Peninggalan, dan dalam hal Wajib Pajak dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada orang atau badan yang dibebani untuk melakukan pemberesan, atau likuidator.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.3)

(6)Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan, Surat Paksa dapat diberitahukan kepada penerima kuasa dimaksud. (7)Apabila pemberitahuan Surat Paksa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) tidak dapat dilaksanakan, Surat Paksa disampaikan melalui Pemerintah Daerah setempat.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.4)

(8) Dalam hal Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak diketahui tempat tinggalnya, tempat usaha, atau tempat kedudukannya, penyampaian Surat Paksa dilaksanakan dengan cara menempelkan Surat Paksa pada papan pengumuman kantor Pejabat yang menerbitkannya, mengumumkan melalui media massa, atau cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah. (9) Dalam hal Surat Paksa harus dilaksanakan di luar wilayah kerja Pejabat, Pejabat dimaksud meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa, kecuali ditetapkan lain dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.5)

(10)Pejabat yang diminta bantuan wajib membantu dan memberitahukan tindakan yang telah dilaksanakannya kepada Pejabat yang meminta bantuan. (11)Dalam hal Penanggung Pajak atau pihak-pihak yang dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) menolak untuk menerima Surat Paksa, Jurusita Pajak meninggalkan Surat Paksa dimaksud dan mencatatnya dalam Berita Acara bahwa Penanggung Pajak tidak mau menerima Surat Paksa, dan Surat Paksa dianggap telah diberitahukan.

TATACARA PENYAMPAIAN SURAT PAKSA (lanj.6)

(12) Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak mengakibatkan penundaan pelaksanaan Surat Paksa Catatan: menurut UU KUP 2007 Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan, jangka waktu pelunasan pajak tertangguh satu bulan sejak tanggal SK.Keb. [25(7)] Dalam hal WP mengajukan banding, jangka waktu pelunasan pajak tertangguh satu bulan sejak tanggal Putusan Banding [25(5a)]

BENTUK SURAT PAKSA


Pasal 7 ayat (1) PPSP

Berkepala kata-kata
Demi Keadilan Berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa
Mempunyai kekuatan dan kedudukan hukum yang sama dengan putusan Hakim Pengadilan Perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap PARATE EKSEKUSI (EKSEKUSI LANSUNG TANPA PUTUSAN HAKIM)

[8]

pencegahan
bersifat sementara terhadap Penanggung Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(UU.PPSP ps 1 btr 20)

Pencegahan adalah larangan yang

[9]

penyitaan

Penyitaan

adalah tindakan Jurusita Pajak untuk menguasai barang Penanggung Pajak, guna dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan perundang-undangan.(UU.PPSP Ps 1 butir 14) Dalam Melaksanakan SPMP Jurusita Di Dampingi Minimal 2 (Dua) Orang Saksi Dengan Syarat: 1.Telah dewasa; 2.Penduduk Indonesia; 2.Dikenal oleh Jurusita dan; 3. dapat dipercaya

PENERBITAN SURAT PERINTAH PENYITAAN


setelah lewat waktu 2 dua kali 24 (dua puluh empat) jam setelah Surat Paksa diberitahukan (UU PPSP ps. 11 jo 12 (1)

Tujuan Penyitaan: Memudahkan Penjualan/ Lelang Barang Sitaan Apabila Penanggung Pajak Tetap Tidak Melunasi Meski Telah Diberitahu Tentang Surat Paksa Eksekusi Surat Paksa Berkepala Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

BERITA ACARA SITA

adalah cara pemberitahuan kepada Penanggung Pajak dan masyarakat (publik) bahwa telah terjadi pemindahan penguasaan barang yang disita dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, yang berisi antara lain:

Nomor

Berita Acara ; Hari dilakukan penyitaan, tanggal, jam dan Nama: Jurusita, saksi-saksi, dan Penanggung Pajak Dewan Direksi, Dewan Komisaris, pemegang saham tertentu, atau orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dll nya

[10] penyanderaan
Penyanderaan

adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu. (UU.PPSP Ps. 1 angka 21)

Dengan

Cara Lelang melalui Kantor Lelang Negara Lelang adalah setiap penjualan barang dimuka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau calon pembeli. (UU.PPSP Ps. 11 angka 17)

menjual barang yang telah disita.


[11]

Barang yang disita berupa: - uang tunai, disetor ke Kas Negara atau Kas Daerah - deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, dipindahbukukan ke Kas Negara atau Kas Daerah - obligasi, saham, atau surat berharga lainnya, yang tidak diperdagangkan di bursa efek segera dijual oleh Pejabat;

Barang yang Tidak dilelang [UU.PPSP 5 (2)]

Barang yang disita berupa:

- piutang

dibuatkan berita acara persetujuan tentang pengalihan hak menagih dari Penanggung Pajak kepada Pejabat

- penyertaan modal pada perusahaan lain dibuatkan akte persetujuan pengalihan hak menjual dari Penanggung Pajak kepada Pejabat.

[12] barang yang dapat disita


Barang adalah tiap benda atau hak yang dapat dijadikan objek sita. (UU.PPSP ps. 1 btr 16)

1. KELOMPOK HARTA GERAK: a. Uang tunai, deposito berjangka , tabungan, saldo r/k giro, atau bentuk lain yang dipersamakan b. Saham, obligasi dan surat berharga lainnya yang diperjual belikan di bursa saham c. Emas dan perhiasan d. saham, obligasi dan surat berharga lainnya yang tidak diperjual belikan di bursa saham e. piutang dan penyertaan modal diperusahaan f. Kendaraan bermotor roda empat atau dua atau lainnya 2. KELOMPOK HARTA TIDAK BERGERAK: 3. KELOMPOK HARTA LAINNYA HAK-HAK

Barang (bergerak) yang tidak boleh disita [UU.PPSP ps. 15 (1)]

a. pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya; b. persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta peralatan memasak yang berada di rumah;

Barang bergerak yang tak boleh disita (Lanj.)

c. perlengkapan negara; d.

dinas

yang

diperoleh

dari

buku-buku yang bertalian dengan jabatan atau pekerjaan dan alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan, kebudayaan dan keilmuan;

Barang bergerak yang tak boleh disita (Lanj. 2)

peralatan dalam keadaan jalan yang

masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan atau usaha sehari-hari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp 20.000.000,00; atau peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya.

1. Surat Tagihan Pajak (UU KUP Ps.14) 2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar /Tambahan (UU KUP Ps 13, 15) 3. Surat Keputusan Pembetulan ( UU KUP Ps. 16); SK Keberatan (UU KUP Ps. 26); Putusan Banding (UU KUP Ps. 27)/Peninjauan Kembali (UU KUP Ps. 36 Jo UU Pengadilan Pajak) Yang Menyebabkan Jumlah Pajak Yang Harus Dibayar Bertambah

DOKUMEN DASAR UNTUK MENAGIH PAJAK (BAB.IV-Ps.18-23 UU KUP)

Urutan tindakan penagihan pajak


1. Surat Peringatan/ Tegoran 7 Tujuh Hari Sebelum Jt (Dapat) 2. Surat Paksa 21 Hari Setelah Peringatan/ Tegoran 3. Penyitaan (2x 24 jam) setelah Surat Paksa 4. Pengumuman Lelang, 14 Hari Setelah Sita 5. Lelang - 14 Hari Setelah Pengumuman Lelang

Gugatan wajib pajak Objek gugatan : Surat Paksa; Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan; Pengumuman Lelang; Pencegahan diajukan kepada Pengadilan Pajak
(UU.KUP. ps. 23; (2) UU.PPSP ps.37,]