Anda di halaman 1dari 4

BAB I PEMBAHASAN KEBIASAAN DALAM KEBENARAN Pengertian Kebiasaan Untuk menjadi sukses, kita harus melakukan kebiasaan orang

sukses. Untuk menjadi kaya, kita harus melakukan kebiasaan orang kaya. Untuk menjadi kreatif, kita harus melakukan kebiasaan orang kreatif. Dari pernyataan tersebut, sebuah kebiasaan akan membentuk karakter, image, ataupun julukan bagi si pelaku kebiasaan tersebut. Kebiasaan terbentuk di masa lalu dan akan selalu menjadi bagian hidup untuk saat ini maupun untuk masa depan. Kebiasaan membantu kita dalam proses hidup. Jika bukan karena kebiasaan, hidup bisa menjadi sangat sulit untuk dijalani. Bayangkan jika seorang pekerja yang sudah 5 tahun masuk pagi, masih belum memiliki kebiasaan bangun pagi. Apapun pengaruh dari suatu kebiasaan, hasilnya hanya bisa dilihat di masa depan. Untuk melihat masa depan Anda akan menjadi seperti apa, Anda harus berpikir ulang tentang kebiasaan yang saat ini Anda lakukan dan kebiasaan apa yang harus Anda lakukan dan hal ini tentunya membutuhkan usaha. Kebiasaan bukan bakat alamiah atau bawaan dari lahir. Setiap orang dapat membentuk sendiri kebiasaan itu. Kebiasaan yang baik pengertian kebiasaantimbul didalam diri kita jika kita berniat melakukannya. Tentunya kebiasaan itu harus dilaksanakan dalam perbuatan yang berulang-ulang setiap hari sehingga menjadi suatu kebiasaan. Contohnya, agar seseorang dapat menjadi orang sukses, pertama-tama ia harus mempunyai keinginan untuk menjadi orang sukses. Kemudian, harus mengetahui pola pikir, metode, teknik, kemahiran, tindakan atau cara-cara dari orang-orang yang sudah sukses. Lalu pengetahuan tersebut harus dipraktekkan setiap hari sampai menjadi kebiasaan. Maka hasilnya adalah sebuah kesuksesan yang otomatis akan kita raih.

Pengertian Kebenaran Banyak kisah sejarah, novel, film, sinetron, hingga wayang yang menggambarkan tentang betapa mulianya memperjuangkan kebenaran. Tiap bangsa selalu punya tokoh yang identik dengan pejuang kebenaran. bahkan banyak tokoh yang melintasi bangsa, sehingga menjadi inpirasi pejuang kebenaran bagi seluruh ummat manusia. Sabda Nabi Muhammad SAW: Katakanlah Kebenaran Walaupun Pahit Rasanya (Qulil Haq Walau Kaana Murro). Kalau membaca kisah para pejuang kebenaran, memang hidupnya tidak mudah. Mereka harus menghadapi berbagai cacian, makian, hingga harus mengorbankan nyawa untuk membela kebenaran. Bahwa ada kebenaran yang mengatasi subyektifitas, kebenaran itu obyektif dan benar-benar hakiki. Bagi ummat beragama apa yang disampaikan oleh Nabinya adalah merupakan sebuah kebenaran yang

hakiki. Kebenaran yang datang dari Sang Pencipta, Allah SWT. Bagi saya, Al Quran yang merupakan Firman Allah SWT, mengandung kebenaran yang hakiki. Tentu saja dalam hal tafsir Al Quran yang terkadang beda pendapat antar para penafsir mengandung unsur subyektif, tergantung para penafsirnya. Dunia ini akan menjadi gelap, jika tidak ada lagi orang yang memperjuangkan kebenaran. Cahaya itu sering diibaratkan dengan kebenaran. Jika masing-masing golongan, bangsa, agama, ras, suku hanya mau mempertahankan pandangannya atas makna kebenaran tanpa mau memahami kelompok lainnya, maka yang terjadi adalah benturan antar pemahaman. Hal ini akan berbahaya, jika tidak ada toleransi. Maka sangat dibutuhkan kedewasaan semua pihak dalam memahami kebenaran. Prinsip merasa paling benar, paling suci, paling mengerti harus dibuang karena justru akan menghalangi pencarian kita terhadap kebenaran yang hakiki. Membenarkan kebiasaan dan membiasakan kebenaran sekilas tipis-tipis saja bedanya. Tetapi kalau dicermati, maknanya jauh berbeda. Bahkan bertolak belakang. Membenarkan kebiasaan bisa menjadi pembenaran. Yang tentu artinya suatu perilaku yang salah. Membiasakan kebenaran adalah mengarah kepada hidup dalam hakekat kebenaran. Yang dipastikan berperilaku benar. MEMBENARKAN KEBIASAAN Dalam hal ini kebiasaan itu bisa berkonotasi baik dan buruk. Sayangnya dalam kehidupan kita sehari-hari acapkali kita terjebak dalam membenarkan kebiasaan. Bahkan tanpa sadar kita membenarkan kebiasaan itu pada anak-anak tercinta. Sebagai pimpinan kita membenarkan kebiasaan it pada bawahan. Yang paling sering adalah kebiasaan berbohong. Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Tetapi karena sudah menjadi kebiasaan. Akhirnya kita anggap sebagai hal yang benar. Pada akhirnya hal yang salah karena terbiasa dilakukan menjadi benar dan kita tidak sungkan lagi melakukannya. MEMBIASAKAN KEBENARAN Andaikan saja, sedari kecil kita hidup membiasakan diri dalam kebenaran. Kemungkinan besar hal itu akan menjadi karakter kita. Bila saja kita sebagai orang tua, pendidik ataupun pemimpin mau mebiasakan diri hidup dalam kebenaran. Niscaya hal ini akan menjadi panutan. Sebagai orang tua selalu jujur dan mengajarkan pada anak, maka anak-anak akan hidup dalam kejujuran. Begitu pula sebagai pemimpin, bila selalu menunjukkan integritas dan selalu bertindak benar, maka orang-orang yang di bawahnya akan meneladani. Sebagai pendidik selalu membiasakan diri tampil menjadi pribadi yang terdidik, maka anak-anak yang dididik akan mengikuti. Hidup dalam membiasakan diri dalam kebenaran sungguh berat menjadi tanggung jawab orang tua di rumah. Para pendidik di sekolah dan para pemimpin di masyarakat.

BAB II RINGKASAN Untuk menjadi sukses, kita harus melakukan kebiasaan orang sukses. Untuk menjadi kaya, kita harus melakukan kebiasaan orang kaya. Untuk menjadi kreatif, kita harus melakukan kebiasaan orang kreatif. Kebiasaan terbentuk di masa lalu dan akan selalu menjadi bagian hidup untuk saat ini maupun untuk masa depan. Kebiasaan membantu kita dalam proses hidup. Jika bukan karena kebiasaan, hidup bisa menjadi sangat sulit untuk dijalani. Bahwa ada kebenaran yang mengatasi subyektifitas, kebenaran itu obyektif dan benar-benar hakiki. Bagi ummat beragama apa yang disampaikan oleh Nabinya adalah merupakan sebuah kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang datang dari Sang Pencipta, Allah SWT. Bagi saya, Al Quran yang merupakan Firman Allah SWT, mengandung kebenaran yang hakiki. Tentu saja dalam hal tafsir Al Quran yang terkadang beda pendapat antar para penafsir mengandung unsur subyektif, tergantung para penafsirnya. Dunia ini akan menjadi gelap, jika tidak ada lagi orang yang memperjuangkan kebenaran. Cahaya itu sering diibaratkan dengan kebenaran. Jika masing-masing golongan, bangsa, agama, ras, suku hanya mau mempertahankan pandangannya atas makna kebenaran tanpa mau memahami kelompok lainnya, maka yang terjadi adalah benturan antar pemahaman. Hal ini akan berbahaya, jika tidak ada toleransi. Maka sangat dibutuhkan kedewasaan semua pihak dalam memahami kebenaran. Prinsip merasa paling benar, paling suci, paling mengerti harus dibuang karena justru akan menghalangi pencarian kita terhadap kebenaran yang hakiki.

Daftar Pustaka: http://fadilkirom.blogspot.com/2013/05/arti-kebenaran.html http://pengertianpengertian.blogspot.com/2012/10/pengertian-kebiasaan.html http://suksesitubebas.com/2012/10/21/pengertian-kebiasaan/ http://filsafat.kompasiana.com/2012/12/11/membenarkan-kebiasaan-vs-membiasakan-kebenaran510069.html