Anda di halaman 1dari 3

Meninjau realiti politik dan sosial di Malaysia, saya melihat bahawa terdapat elemen-elemen pendekatan yang diambil oleh

Malaysia dalam hal membina perpaduan kaum, agak berbeza dengan pendekatan yang dianggap sebagai arus perdana di Barat. Pendekatan yang digunakan oleh kepimpinan Malaysia dalam beberapa aspek berada dalam ekstrim yang bersongsangan berbanding dengan teori perpaduan kaum yang disarankan oleh pemikir-pemikir Barat dan yang diamalkan di sebelah sana. Amerika dan beberapa negara Eropah seperti Britain dan Perancis misalnya menggunakan konsep melting pot atau acuan pelebur dalam pendekatan mereka untuk menyatukan pelbagai etnik minoriti, etnik peribumi, dan etnik dominan dalam negara. Dalam proses peleburan itu budaya etnik minoriti terlebur, tercerna, teradun malah sesetengahnya tersirna dalam budaya majoriti yang dominan. Namun di Malaysia kita lihat konsep acuan pelebur itu tidak wujud, sebaliknya yang wujud ialah konsep salad bowl atau mangkuk sayur-mayur yang tidak meleburkan mana-mana unsur etnik tetapi mempersatukan kepelbagaian warna kulit dan budaya dalam satu persekitaran ynag sama.

Konsep melting pot adalah melebur berbagai unsur yang berbeda untuk menjadikan satu bentukan baru. Gambarannya mungkin mirip bumbu pecel. Kacang, cabe, mungkin juga daun jeruk purut, garam, dan bahan-bahan lain dilebur jadi satu menjadi bumbu pecel, kemudian terbentuk gumpalan berwarna merah kehitaman atau kecokelatan. Tidak terlihat lagi bentuk asli kacangnya. Juga sulit menemukan di mana garamnya, daun jeruk purutnya, atau cabenya. Bentuk asli seluruh bahan tadi telah dilebur (dengan cara dihancurkan) untuk menyusun bentukan baru berupa bumbu pecel. Seperti itukah gambaran sebuah bangsa??? Dalam konsep melting pot, jati diri setiap etnis atau suku dihilangkan. Tidak ada lagi yang namanya suku Sunda, Betawi, Timor, Papua, Dayak. Hanya ada adalah satu suku besar bernama Indonesia. Masalahnya, bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku yang budayanya sangat beragam. Menurut suatu suku, sebuah tindakan bisa jadi sebagai hal wajar, namun sudah masuk kategori tidak wajar bagi suku lain. Penolakan-penolakan seperti itu adalah hal wajar. Ketika sebuah komunitas dipaksa berperilaku yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan budayanya, kecenderungannya adalah menolak. Itulah yang terjadi ketika harus

melebur bahan-bahan pembuat bumbu pecel. Bisa jadi, ada kacang yang terlalu keras, sehingga tidak bisa dilebur. Ketika dipaksakan, sang kacang justru meloncat dari cobek untuk kemudian memisahkan diri menjadi "separatis" keluar dari bentukan baru bernama bumbu pecel. Apabila konsep melting pot seperti diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bukan tidak mungkin etnis-etnis yang merasa dipaksa melebur lebih memilih keluar dan menjadi separatis.

Sebaliknya, konsep salad bowl adalah menjadikan negara layaknya mangkuk salad. Isinya beraneka ragam. Dicampur dalam satu mangkuk tanpa menghilangkan bentuk asli setiap bahan. Paprika tetap terlihat sebagai paprika. Kubis pun tetap terlihat sebagai kubis. Kalau ada jagung, tetap terlihat dan terasa sebagai jagung. Meski begitu, sebagai sebuah sajian, salad tetap enak disantap. Tinggal pilih dressing-nya. Mau thousand islands, garlic bread, olive oil, atau vinegar. Gambaran seperti itulah yang mungkin terjadi dalam sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai suku atau etnis yang beragam. Suku Jawa biarkan berkembang dan berperilaku sesuai budaya Jawanya. Suku Aceh beri keleluasaan berperilaku dan berbudaya sesuai etnisnya, dan sebagainya. Istilah bangsa Indonesia hanyalah dressing dari sebuah salad bernama Indonesia. Orang dari Bali tetap terlihat sebagai orang Bali, yang dari Ambon tetap menunjukkan jati dirinya sebagai orang Ambon, dan sebagainya. Namun, mereka tetap merasa sebagai satu kelompok yang lebih besar, sebuah bangsa bernama Indonesia. Persis salad, masing-masing bahan tetap terlihat bentuk aslinya, namun mereka terangkai dalam sebuah sajian yang satu bernama salad. Seiring berjalannya waktu, kedua konsep ini seringkali mengalami kegagalan dan kelemahan di penerapannya. Melting pot diupayakan untuk menyatukan seluruh budaya yang ada dengan meleburkan seluruh budaya asal masing-masing. Konsep Salad bowl, masing-masing budaya asal tidak dihilangkan melainkan diakomodir dan memberikan kontribusi bagi budaya bangsa, namun interaksi kultural belum berkembang dengan baik. Maka kemudian dikembangkan

suatu konsep baru yang bernama multikulturalisme. Multikulturalisme ini yang akan menjadi acuan utama bagi terwujudnya masyarakat multikultural, karena multikulturalisme sebagai sebuah ideologi akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dengan demikian, multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis meskipun terdiri dari beraneka ragam latar belakang kebudayaan.

Mangkuk salad (salad bowl) atau mosaik budaya (Cultural mosaic) adalah suatu konsep dimana integrasi berbagai-bagai jenis budaya dalam masyarakat multikultur. Ia adalah amat berbeza dengan konsep mencampurkan segala budaya menjadi satu (melting pot). Mosaik budaya adalah dimana masing-masing mengekalkan identiti budaya masing-masing namun dapat hidup bersama antara berbagai-bagai budaya dalam keadaan bertoleransi antara satu sama lain disamping menerima akan kewujudan budaya lain. Biarpun adanya unsur-unsur plurarlisme dalam mozaik budaya iaitu suatu struktur yang wujudnya interaksi antara berbagai budaya yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi serta tidak menghasilkan konflik asimilasi antara satu sama lain namun untuk penganut Islam, terdapat perbezaan akan erti pluralisme yang mana setiap agama tidak dianggap sama atau kata lain, tiada pluralisme untuk agama.