Anda di halaman 1dari 3

Ekonomi Maritim dan Visi 2030 Oleh: Rokmin Dahuri Di tengah merosotnya daya saing bangsa, tingginya angka

pengangguran dan kemiskinan, silih bergantinya bencana alam, wabah penyakit, dan kecelakaan lalu lintas, carut-marutnya dunia politik dan hukum, serta rendahnya etos kerja bangsa, semangat YIF (Yayasan Indonesia Forum) untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia dan pendapatan per kapita 18.000 dolar AS pada 2030 ditanggapi oleh kebanyakan komponen bangsa sebagai sesuatu yang tak realistis. Ibarat mimpi di siang bolong. Padahal,Visi 2030 versi YIF mestinya disambut positif. Kalaupun masih banyak kelemahan, mari kita sempurnakan bersama. Kalau kita mau belajar dari bangsabangsa lain yang sudah maju dan makmur (seperti AS, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Kanada, Finlandia, Korea Selatan, dan Australia), mereka hidup dan bekerja berdasarkan visi kebangsaan yang jelas yang disusun oleh putera-puteri terbaik puluhan tahun yang lalu.Demikian pula halnya dengan negara-negara yang sedang naik daun menuju kemajuan dan kemakmuran. Malaysia, misalnya, memiliki Visi Malaysia 2020,China 2050,India 2020,atau Thailand 2040. Visi merupakan dambaan (a mental image) bersama sebuah bangsa tentang kehidupan masa depan yang lebih baik, maju, sejahtera, dan bermartabat. Sebuah visi dapat memberikan arah bagi perjalanan suatu bangsa menuju cita-cita luhur.Visi yang disusun secara cermat dan benar membantu kita sekarang lebih fokus dalam penyusunan berbagai kebijakan dan program pembangunan guna mewujudkan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita idamkan bersama. Bila seluruh atau mayoritas rakyat merasa memiliki suatu visi, maka visi tersebut akan berperan sebagai sebuah magnet yang mampu menyatupadukan beragam komponen dan kekuatan bangsa untuk bekerja secara cerdas dan ikhlas menuju satu tujuan yang sama. Pendek kata, suatu negara-bangsa (nation-state) yang rakyatnya tidak direkat oleh satu visi bersama, terbukti sangat terombang- ambing, bagai kapal tak berkemudi di tengah lautan. Hal itu bisa disebabkan oleh dinamika internalnya sendiri maupun oleh ganasnya gelombang globalisasi.Akibatnya, susah mencapai kemajuan. Karena itu,Visi Indonesia 2030 yang diluncurkan Presiden SBY pada 22 Maret lalu perlu terus disosialisasikan kepada segenap komponen bangsa di seluruh Nusantara guna mendapatkan masukan, kritik, dan saran konstruktif. Juga agar tumbuh semacam rasa memiliki (sense of ownership) terhadap visi termaksud. Selanjutnya, sektor-sektor ekonomi utama (core economic sectors) yang diharapkan bakal menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan berikut rencana dan langkah strategisnya untuk mewujudkan Visi 2030 pun mesti dirumuskan kembali secara lebih membumi. Laut sebagai Keunggulan Kompetitif Dengan potensi SDA dan SDM yang kita miliki,Visi Indonesia 2030 sebenarnya bisa kita wujudkan dengan cara mengupayakan seluruh sektor ekonomi menjadi lebih produktif, berdaya saing, dan ramah lingkungan (sustainable). Selanjutnya,bidang ekonomi,baik yang mencakup sektor primer (pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan kelautan, dan pertambangan); sektor sekunder (industri pengolahan sektor primer, manufaktur, teknologi komunikasi dan informasi, dan lainnya); maupun sektor tersier (pariwisata, jasa keuangan, perdagangan, dan sebagainya) harus mampu menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang kompetitif (kualitas unggul, harga bersaing, dan pasokan/delivery terjamin sesuai permintaan pasar) untuk memenuhi kebutuhan nasional dan ekspor. Yang jelas, nilai ekspor harus secara berkesinambungan diupayakan lebih besar ketimbang nilai impor. Argumentasinya, hanya dengan neraca perdagangan positif suatu bangsa menjadi maju dan makmur.

Lebih dari itu, di era globalisasi yang diwarnai dengan persaingan antarbangsa yang semakin tajam, kita harus memilih sektor-sektor ekonomi yang layak untuk dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Ada dua cara mengembangkan keunggulan kompetitif yang dapat memajukan dan memakmurkan bangsa. Pertama,memproduksi barang dan jasa yang bangsa lain sudah hasilkan, tetapi produk kita bisa lebih kompetitif, atau kedua, memproduksi barang dan jasa yang bangsa lain tidak dapat menghasilkan. Padahal, permintaan (demand) atas produk tersebut tinggi. Mengingat penguasaan teknologi, jaringan pemasaran, aset keuangan, dan jaringan informasi dan komunikasi bangsa-bangsa lain, rasanya kita sangat susah (hampir mustahil) untuk mengembangkan keunggulan kompetitif guna memenangkan persaingan global melalui pendekatan pertama. Produk dan jasa teknologi informasi sudah menjadi keunggulan kompetitif AS, Jepang, Taiwan, dan India. Sektor jasa dikuasai Singapura, sementara produk manufaktur RRC,sukar kita saingi. Karenanya, sektor-sektor ekonomi berbasis SDA diyakini dapat kita transformasi menjadi keunggulan kompetitif Indonesia. Sebagai negara maritim, kepulauan, dan agraris terbesar di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki kapasitas produksi bahan pangan, sandang, papan, obat-obatan, dan kosmetik (farmasi), bioenergi, produk industri bioteknologi, energi nonhayati, bahan tambang dan mineral, dan keindahan alam yang sangat besar. Semua produk dan jasa tersebut sangat dibutuhkan manusia sejagat. Kalau sekarangdengan jumlah penduduk dunia sekitar 6,5 miliar jiwakrisis pangan, krisis air, krisis energi, dan krisis SDA dan lingkungan lain sudah merebak di berbagai belahan dunia, maka permintaan terhadap barang dan jasa yang berasal dari SDA dan jasa lingkungan pada 2030 (saat itu penduduk bumi diperkirakan mencapai 8 miliar) akan berlipat ganda. Padahal, kemampuan negaranegara lain, khususnya negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong,Taiwan, dan Singapura, dalam memproduksi barang dan jasa berbasis SDA terus menyusut seiring dengan konversi ekosistem alam menjadi ekosistem buatan (man-made ecosystems) berupa kawasan industri, permukiman, infrastruktur, hutan beton, gedung pencakar langit,dan sebagainya. Di antara sekian banyak sektor ekonomi berbasis SDA dan jasa lingkungan, pada hemat saya, sektor kelautanlah yang paling potensial sebagai sumber pertumbuhan baru sekaligus keunggulan kompetitif Indonesia dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia 2030. Keyakinan ini berdasarkan pada alasan historis-geografis, potensi pembangunan (ekonomi), maupun kecenderungan (trend) peradaban umat manusia di masa mendatang. Sebelum penjajahan, kita pernah menjadi bangsa besar, makmur serta disegani bangsa-bangsa lain dalam percaturan global karena kita mendayagunakan potensi kelautan secara serius. Dari abad ketujuh sampai abad ke-13, Sriwijaya dan Majapahit, dua kerajaan maritim terbesar di dunia, menguasai wilayah dan perdagangan yang meliputi Indonesia, Singapura, Malaysia, Siam (Thailand), Kamboja, Papua Nugini, serta sebagian India dan China. Kedua kerajaan ini menerapkan konsep sea power, yakni paradigma pembangunan negara-bangsa yang berfokus pada kekuatan laut. Kedigdayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itu karena memiliki kekuatan laut yang mumpuni, berupa kegiatan ekonomi-perdagangan yang produktif dan kompetitif serta armada perang andal. Hal itu tentu karena juga didukung strategisnya letak geografis (di antara dua Lautan Pasifik dan Hindia serta dua benua, Asia dan Australia), wilayah laut yang sangat luas, SDA kelautan melimpah, budaya bahari yang kuat, berikut struktur dan tata pemerintahan yang berorientasi pada laut.Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit di laut diteruskan oleh kesultanan Islam yang merebak di hampir seluruh wilayah Nusantara sejak abad ke-13, seperti Samudra Pasai, Darussalam (Palembang), Banten, Jayakarta, Cirebon, Demak, dan Gresik di wilayah barat; dan Goa, Bone serta Ternate di wilayah timur.(*) URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/ekonomi-maritim-dan-visi-