Anda di halaman 1dari 9

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

INDIKASI MASTOIDEKTOMI PADA ANAK DENGAN MASTOIDITIS AKUT


TAYLOR, MATTHEW F, BERKOWITA, ROBERT G Penelitian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok 113.1 (Januari 2004) 69-72 Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi kapan mastoiditis akut pada anak yang memerlukan tindakan mastoidektomi. Penilitian retrospektif dilakukan terhadap 40 anak (20 laki-laki, 20 perempuan) dengan usia antara 2 bulan sampai 12 tahun 9 bulan yang didiagnosis mastoiditis akut yang dirawat oleh institusi kami antara Juli 1998 hingga Juni 2002. Semua pasien menerima antibiotik intravena, antibiotik intravena merupakan satusatunya terapi pada 14 orang pasien (35%), Tympanostomy tube pada 22 orang pasien, aspirasi jarum postauricular pada 12 orang pasien (30%), disertai insisi dan pemasangan drain abses subperiosteal pada 10 orang pasien (25%). Mastoidektomi dilakukan pada 4 kasus (10%), dan kolesteatom ditemukan pada 3 kasus ini. Kesimpulannya, anak-anak dengan mastoiditis akut perlu dilakukan mastoidektomi jika dengan gejala klinis dicurigai adanya kolesteatom atau jika telah terjadi komplikasi supurasi ekstratemporal. KATA KUNCI : Mastoiditis akut, kolesteatom, mastoidektomi, otitis media. Introduksi Mastoiditis akut merupakan komplikasi yang tidak umum dari otitis media akut, insiden mastoiditis akut pada anak berusia kurang dari 14 tahun di negara berkembang berkisar antara 1,2-4,2 / 100 000 penduduk per tahun. Bagai manapun, hasil studi melaporkan meningkatnya insiden mastoiditis akut belakangan ini. Alasan yang dikemukan berkaitan dengan meningkatnya insiden ini adalah 1) Munculnya penicillin-resistant streptococcus pneumonia dan organisme lain yang resistan dengan antibiotik, 2) Kebiasaan memberi antibiotik oral pada otitis media yang tidak berkomplikasi, 3) Meningkatnya pelayanan penitipan anak yang meningkatkan insiden infeksi jalan nafas atas dan OMA.
1

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

Ada kontroversi berkaitan dengan penanganan primer dari mastoditis akut pada anak. Kortikal mastoidektomi merupakan penanganan yang paling sering dilakukan, namun indikasi untuk kortikal mastoidektomi masih belum jelas. Penggunaan mastoidektomi sebagai manajemen primer pada mastoiditis akut pada anak yang dilaporkan, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam penggunaan masotoidektomi, yaitu berkisar dari 9% dan 88% (dapat dilihat di tabel 1). Perbedaan presentase yang luas ini menunjukkan belum adanya konsensus yang pasti mengenai indikasi mastoidektomi pada anak. Sebelumnya sudah kami laporkan 58 anak dengan mastoidits akut, dimana 13 orang anak (22%) telah menjalani mastoidektomi. Sekarang kita akan menjelaskan dengan lebih lanjut mengenai 40 orang dengan mastoidits akut yang telah menjalani pengobatan diinstitusi kami, dan evaluasi manifestasi klinis, terutama yang berkaitan dengan perlu atau tidak dilakukan mastoidektomi. TABEL 1. JUMLAH TINDAKAN MASOTIDEKTOMI PADA PENELITIAN RETROSPEKTIF MASTOIDITIS AKUT PADA ANAK
Authors Spratley et al Harley et al Hawkins et al Ghaffar et al Kvestad et al Vassbold et al Zapalac et al Rosen et al Cohen-Kerem et al Vera-Cruz et al Gliklich et al Kasus Mastoiditis Akut 49 58 54 57 38 57 75 69 44 62 124 Prosedur Mastoidektomi 12 13 21 19 13 50 29 22 4 11 67 % 24 22 39 33 34 88 39 32 11 18 54

Metode
2

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

Penelitiaan retrospektif yang dilakukan di Royal Children Hospitals, Melbourne, Australia , pada semua anak yang berusia kurang dari 16 tahun yang di rawat dengan diagnosa mastoiditis akut dari Juli 1998 sampai Juni 2002. Sebanyak 40 kasus diidentifikasikan sebagai masotidits akut. Kriteria diagnosis mastoiditis akut adalah adanya efusi di telinga tengah, pembengkakan atau eritem pada regio postauricular, dan gejala sistemik. CT-Scan tidak selalu dilakukan. Informasi di cantumkan didatabase menggunakan Microsoft Access.

Hasil
Sebanyak 40 pasien (20 orang laki-laki, dan 20 orang perempuan) berusia dari 2 bulan sampai 12 tahun 9 bulan, rata-rata usia sampel adalah 2 tahun 7 bulan, dengan median 1 tahun 3 bulan. Detil dari jumlah pasien diilustrasikan pada grafik di bawah ini.
25

20

15

Jumla h

Jumlah 10

0 0-2 > 2-4 > 4-6 > 6-8 > 8-10 > 10-12 > 12-14

Umur (dalam tahun)


10 orang pasien (25%) dirawat pada musim dingin, 11 orang pasien (27,5%) dirawat pada musim semi, 12 orang pasien (30%) dirawat pada musim panas, dan 7 (17,5%) dirawat pada musim dingin. Rata-rata durasi dari gejala umum sebelum pasien pergi ke rumah sakit adalah 10,3 hari. Namun durasi simptom yang sebenarnya sukar dipastikan, karena sering kali pasien masuk ke rumah sakit dengan alasan yang tidak spesifik seperti demam, iritabel, otalgia, otoroe, dan coryza dalam 3

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

jangka waktu yang lama, dengan riwayat singkat nyeri proyeksi pada auricular merupakan gejala yang sering muncul. Dua puluh satu pasien menerima oral antibioitk sebelum masuk ke rumah sakit. Sebanyak 35 orang pasien dilaporkan tidak memiliki riwayat penyakit telinga, 2 orang pasien dengan riwayat otitis media akut yang rekurent, 2 pasien dengan tuba ventilasi in situ di area terkait dan 1 orang pasien dengan kolesteatom yang sedang menunggu untuk dilakukan bedah elektif. Sewaktu pasien datang ke rumah sakit, 31 orang pasien (77,5%) memiliki suhu diatas 38 0C selama 24 jam pertama masuk ke rumah sakit, 21 orang pasien dengan otorea. 1 orang pasien dengan gangguan saraf fasialiasi unilateral yang komplet. Hitung sel darah putih di lakukan pada 27 pasien (67,5%), dari 27 orang pasien ini 16 pasien (59%) dengan leukosit lebih dari 15x109/L. CT-Scan didapatkan dari 8 pasien. Semua hasil CT-Scan menunjukkan adanya gambaran opak dari sel udara mastoid di bagian telinga yang mengalami mastoiditis, dan tidak tampak adanya erosi tulang mastoid. Tidak ada hasil CT-Scan yang menunjukan gambaran opak dari sel udara mastoid kontralateral.

Semua pasien yang berjumlah 40 orang pada awalnya diterapi dengan antibiotik intravena, kemudian 26 pasien (65%) menjalani operasi dan 14 pasien (35%) hanya mendapatkan antibiotik intravena. 22 orang pasien menjalani pemasangan tympanostomy tube. 12 dari 22 orang pasien yang di pasang tympanostomy tube juga menjalani aspirasi dengan jarum pada regio postauricular dan 10 orang lainnya (25%) dilakukan insisi serta pemasangan drain abses subperiosteal. Mastoidektomi kortikal awal dilaksanakan pada 4 pasien dengan detil di bawah : 1. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dengan kolesteatom. Ketika menunggu tindakan operasi mastoidektomi elektif, pasien mengalami mastoiditis akut pada sisi yang sama. Kemudian dilakukan mastoidektomi, dan ditemukan kolesteatom yang luas. Modified-radical mastoidectomy dilakukan 1 bulan kemudian. 2. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dengan demam yang diduga akibat gangguan pada telinganya, dan sehari sebelumnya mengalami gangguan saraf facial pada sisi yang sama. Dari hasil pemeriksaan CT-scan menunjukkan adanya erosi tulang yang luas pada cavitas mastoid dan scutum. Kolesteatom yang luas ditemukan pada saat dilakukan mastodektomi kortikal. 2 minggu kemudian, dilakukan mastoidektomi radikal yang dimodifikasi. Pasien mengalami kolesteatom rekuren dan telah
4

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

menjalani mastoidektomi ulang 6 bulan setelahnya. Setelah 1 tahun perbaikan fungsi saraf fasial sangat minimal. 3. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dengan mastoiditis. Dari hasil pemeriksaan CT scan menunjukkan erosi tulang petrosus temporal dibagian posterir dan lateral. Mastoidektomi kortikal menunjukkan adanya kolesteatom yang luas. Mastoidektomi radikal yang dimodifikasi dilakukan 1 bulan kemudian. 4. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun dengan mastoiditis. CT scan menunjukkan adanya erosi fokal pada posterosuperior cavitas mastoid. Mastoidektomi kortikal dilakukan, dengan diagnosis mastoiditis akut sebelumnya. Pemeriksaan bakteriologi dan kultur yang diambil dari telnga tengah dan subperiosteal yang diambil pada 21 kasus yang hasilnya ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Pemeriksaan bakteriologi kultur dari telinga tengah dan abses subperiosteal Bakteri Streptococcus pneumoniae Pseudomonas aeroginosa Staphylococcus aureus & streptococcus pneumoniae Mixed growth Klebseilla pneumoniae Haemophilus influenza Staphylococcus aureus Proteus mirabilis total Isolasi 9 4 2 2 1 1 1 1 21

Streptococcus pneumoniae merupakan organisme yang paling banyak terisolasi, dan ditemukan bersama Staphylococcus aureus pada 2 kasus. Streptococcus pneumoniae masih sensitif terhadap penicillin pada 9 sampel. Sensitive-intermediate pada 1 sampel, dan 1 sampel resisten penicillin. 4 pasien terinfeksi oleh Pseudomonas. Terapi inisial menghasilkan perbaikan pada 38 (95%) pasien dengan mastoiditis akut. 3 orang pasien tetap harus menjalani mastoidektomi radikal yang dimodifikasi karena adanya penemuan kolesteatom. 2 pasien memerlukan manajemen operasi lebih lanjut untuk mastoiditis akut yang mengalami rekuren / persisten.
5

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

Seorang anak perempuan berusia 1 tahun pada awalnya diterapi dengan antibiotik intravena dan dipasang selang ventilasi. Empat hari kemudian, anak tersebut mengalami demam yang persistent dan terjadi pembengkakan yang berfluktuasi di daerah postauricular. Drainase abses subperiosteal dilakukan tanpa pembedahan mastoid, dan terjadi perbaikan gejala. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, pada awalnya diterapi dengan pemasangan selang ventilasi dan antibiotik intravena. Simptom membaik perlahan-lahan dan CT-Scan dianjurkan, nyeri dan demam membaik setelah 4 hari kemudian, dan untuk pemeriksaan CT-Scan perlu dilakukan dengan anastesi umum tidak dilaksanakan. Anak tersebut kembali ke rumah sakit 2 minggu kemudian dengan mastoiditis akut yang mengalami rekurensi dan dilakukan CT-Scan, yang menunjukkan gambaran coalescence dalam sistem mastoid dan erosi tulang yang mengenai telinga tengah dan selsel udara mastoid. Mastoidektomi kortikal dilakukan dan ditemukan kolestatom yang ekstensif. Anak ini selanjuktnya menjalani operasi mastoidektomi radikal yang dimodifikasi. Rata-rata lamanya pasien dirawat di rumah sakit adalah 4,4 hari, lama menginap berkisar antara 1 9 hari. Rata-rata hari menginap pasien dikelompokkan sesuai dengan manajemen awal ditunjukkan di tabel 3. Sebanyak 26 orang pasien (65%) di follow-up sekama jangka waktu rata-rata 11,8 bulan. Tidak ada diantara mereka yang mengalami rekurensi mastoiditis.
Tabel 3. DURASI MENGINAP DI RUMAH SAKIT Managemen awal Antibiotik intavena saja Tympanostomy tube Tympanostomy tube dan insisi serta drainase Mastoidektomi Total Jumlah 14 12 10 4 40 Rata-rata durasi menginap (dalam hari) 3,2 4,7 5,2 5,8 44

Diskusi Dalam studi ini, 4 dari 40 anak-anak (10%) yang mengalami mastoiditis akut menjalani mastoidektomi sebagai terapi awal. 3 dari 4 pasien ini mempunyai kolesteatom. Pada 36 anak ini, 1 pasien datang kembali 2 minggu kemudian dengan mastoiditis akut yang berhubungan dengan tanda-tanda kolesteatom. Hasil ini mengindikasikan bahwa anak-anak dengan mastoiditis akut yang tidak mempunyai gejala klinis kolesteatom, dan tanpa bukti
6

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

komplikasi supuratif yang signifikan, dapat diterapi tanpa mastoidektomi. Adanya abses subperiosteal bukan indikasi perlu dilakukan mastoidektomi. Rendahnya tindakan mastoidektomi yang kami lakukan sebagai penanganan primer operasi untuk mastoiditis akut pada anak-anak berlawanan dengan studi lain, dimana bervariasi dari 9% hingga 88% (Tabel 1). Mastoidektomi adalah terapi andalan untuk mastoiditis akut di masa antibiotik belum sering digunakan. Tersedianya antibiotik mengubah terapi secara radikal, dan antibiotik IV yang dikombinasikan dengan selang ventilasi terbukti efektif dalam terapi kasus mastoiditis tanpa komplikasi dalam beberapa kasus. Abses subperiosteal telah menjadi indikasi mastoidektomi oleh beberapa penulis. Didasarkan dari 3 pasien , Bauer dkk menganjurkan terapi abses subperiosteal dengan insisi dan drainase, sama baiknya dengan selang ventilasi. Dalam studi kita, 11 pasien dengan abses subperiosteal dilakukan terapi operatif dengan selang timpanostomi, insisi dan drainase tanpa dilakukan mastoidektomi, tindakan ini berhasil seluruhnya. Tidak ada komplikasi intrakranial pada mastoiditis akut dalam studi ini. Studi lain menunjukkan komplikasi intrakranial antara 0% dan 18,8%. Kolesteatom adalah kondisi yang tidak biasa ditemukan pada anak-anak yang mengalami mastoiditis akut. Hawkin dkk menegaskan bahwa kolesteatom harus dicurigai pada saat mastoiditis akut timbul pada anak yang sudah lebih dewasa. Studi kami, dimana ditemukan 4 anak-anak menderita kolesteatom antara umur 4 sampai 11 tahun, mendukung observasi studi ini dan yang lain. 10% insidens kolesteatom pada studi ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan studi yang lain (0% sampai 3%). Pada studi sebelumnya dengan 58 anak dengan mastoiditis akut, ditemukan 2 kasus kolesteatom (3%) Delapan dari 40 pasien melakukan CT scan. Banyak yang melaporkan CT scan sangat berguna pada anak dengan mastoiditis akut. Satu kelompok lain mengatakan CT scan sangat penting untuk mengkategorikan pasien yang mempunyai coalescent atau noncoalescent mastoiditis, dan tindakan operasi diambil berdasarkan perbedaan ini. Pada ana usia muda, untuk melakukan CT scan bisanya diperlukan general anestesi. Studi ini mengatakan bahawa CT scan hanya perlu pada kasus yang bila mana kolesteatoma atau komplikasi supuratif di curigai. Bakteri dikultur dari 21 pasien (52.5%). Pada studi yang lain, S pneumoniae adalah organisme utama yang dikultur (11 dari 21), dan Haemophilus influenza lebih tidak umum ditemukan (1 dari 21). Penemuan ini bersesuaian dengan studi yang lain. Dua isolasi S pneumoniae ditemukan resisten dengan penicillin. Antonelli melaporkan adanya
7

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

Streptococcus pneumoniae yang resisten penisilin dalam 7 dari 8 isolasi (88.5%) yang diperiksa dalam studi mastoiditis akut di Florida. Sebagai kesimpulan, mastoidektomi tidak rutin dilakukan sebagai managemen awal dari mastoiditis akut yang tidak mengalami komplikasi. Anak dengan mastoditis akut perlu menjalani mastoidektomi bila mengalami komplikasi supuratif yang bermakna, termasuk trombosis sinus sigmoid dan infeksi intrakranial, atau jika dicurigai adanya kolesteatom. Kolesteatom dapat diprediksi terutama pada pasien anak yang lebih dewasa. CT scan temporal tidak selalu mastoidektomi. Daftar Pustaka 1. Van Zuijlen DA, Schilder AGM, Van Baien FAM, Hoes AW. National differences in incidence of acute mastoiditis: relationship to prescribing patterns of antibiotics for acute otitis media? Pediatr Infect Dis J, 2001;20:140-4. 2. Antonelli PJ, Dhanani N, Giannoni CM, Kubilis PS. Impact of resistant Pneumococcus on rates of acute mastoiditis. Otolaryngol Head Neck Surg 1999;121:190-4. 3. Hoppe JE, Koster S, Bootz F, Niethammer D. Acute mastoiditis - relevant once again. Infection. 1994;22:178-82. 4. Spratley J, Silveira H, Alvarez I, Pais-Clemente M. Acute mastoiditis in children: review of the current status. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 2000;56:33-40. 5. Hurley EH, Sdralis T, Berkowitz RG. Acute mastoiditis in children: a 12-year retrospective study. Otolaryngol Head Neck Surg 1997;116:26-30. 6. Hawkins DB, Dru D, House JW, Clark RW. Acute mastoiditis in children: a review of 54 cases. 7. Ghaffar FA, Wordemann M, McCracken GH Jr. Acute mastoiditis in children: a seventeen-year experience in Dallas, Texas. Pediatr Infect Dis J 2001;20:376-80. 8. Kvestad E, Kvaerner KJ, Mair IW. Acute mastoiditis: predictors for surgery. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2000;52:149-55. diperlukan kecuali jika ada indikasi klinis untuk rencana

INDICATIONS FOR MASTOIDECTOMY IN ACUTE MASTOIDITIS INCHILDREN Taylor, Matthew F; Berkowitz, Robert G.

9. 9. Vassbotn FS, Klausen OG, Lind O, Moller P. Acute mastoiditis in a Norwegian population: a 20 year retrospective study. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 2002;62:23742. 10. Zapalac JS, Billings KR, Schwade ND, Roland PS. Suppurative complications of acute otitis media in the era of antibiotic resistance. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 2002;128: 660-3. 11. Rosen A, Ophir D, Marshak G. Acute mastoiditis: a review of 69 cases. Ann Otol Rhinol Laryngol. 1986;95:222-4. 12. Cohen-Kerem R, Uri N, Rennert H, Peled N, Greenberg E, Efrat M. Acute mastoiditis in children: is surgical treatment necessary? J Laryngol Otol 1999;113:1081-5. 13. Vera-Cruz P, Farinha RR, Calado V. Acute mastoiditis in children - our experience. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1999; 50:113-7. 14. Gliklich RE, Eavey RD, Iannuzzi RA, Camacho AE. A contemporary analysis of acute mastoiditis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996;122:135-9 15. Bauer PW, Brown KR, Jones DT. Mastoid subperiosteal abscess management in children. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 2002;63:185-8. 16. Go C, Bernstein JM, de Jong AL, Sulek M, Friedman EM. Intracranial complications of acute mastoiditis. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 2000;52:143-8 17. Shaffer HL, Gates GA, Meyerhoff WL. Acute mastoiditis and cholesteatoma. Otolaryngology. 1978;86:394-9. 18. Luntz M, Brodsky A, Nusem S, et al. Acute mastoiditis - the antibiotic era: a multicenter study. Int J. Pediatr Otorhinolaryngol 2001;57:1-9.