Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN I DIAGRAM TERNER I.

Tujuan Percobaan Membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu. II. Dasar Teori II.1 Kelarutan Dalam besaran kuantitatif kelarutan didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. (Widyaningsih, 2009) II.2 Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, selain itu dipengaruhi pula oleh faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat terlarut. II.2.1 Pelarut Bila suatu zat melarut, kekuatan tarik-menarik antar molekul dari zat terlarut harus diatasi oleh kekuatan tarik-menarik antara zat terlarut dengan pelarut. Ini menyebabkan pemecahan kekuatan ikatan antar zat terlarut dan pelarut untuk mencapai tarik-menarik zat pelarut. 1. Pelarut Polar Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lain. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkohol dengan segala perbandingan dan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi lain. Air melarutkan fenol, alkohol,

aldehid,

keton

amina

dan dan

senyawa nitrogen

lain yang

yang dapat

mengandung

oksigen

membentuk ikatan hidroksi dalam air. 2. Pelarut Non Polar Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarikmenarik antara ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit dan berionisasi lemah karena pelarut non polar tidak dapat membentuk jembatan hidrogen dengan non elektrolit. Oleh karena itu, zat terlarut ionik dan polar tidak dapat larut atau hanya dapat larut sedikit dalam pelarut non polar. Tetapi senyawa non polar dapat melarutkan zat terlarut non polar dengan tekanan yang sama melalui interaksi dipol induksi. Molekul zat terlarut tetap berada dalam larutan dengan adanya sejenis gaya van der waalslondon lemah. 3. Pelarut Semipolar Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapat menginduksi suatu derajat polaritas tertentu dalam molekul pelarut non polar, sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol, sebagai contoh pelarut : benzen perantara yang yang mudah dapat dipolarisasikan, kenyataannya senyawa semipolar dapat bertindak menyebabkan bercampurnya cairan polar dan non polar. II.2.2 Interaksi solut dan solven Pada kondisi tertentu, zat mempunyai kelarutan tertentu pula. Kemampuan berinteraksi antara solut dan solven sangat tergantung pada sifat solut maupun sifat solven, yang dipengaruhi efek kimia, elektrik maupun struktur. Kelarutan suatu zat bergantung pada struktur molekulnya seperti

perbandingan gugus polar dan gugus non polar dari molekul. Semakin panjang rantai non polar dari alkohol alifatis, semakin kecil kelarutannya dalam air. Kelarutan zat terlarut dalam pelarut juga dipengaruhi oleh polaritas. Pelarut-pelarut polar dapat melarutkan senyawa-senyawa ionik serta senyawa-senyawa polar lainnya. II.2.3 pH Bentuk terion suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut air daripada bentuk tak terion. Kelarutan suatu zat yang bersifat asam lemah sebagai fungsi pH dalam larutan dapat dinyatakan dengan persamaan Henderson-Hasselbalch:
pH = pKa + log S S0 ...........................(1) S0

dengan S = konsentrasi zat terlarut total So = konsentrasi zat yang tak terionkan Kelarutan basa lemah akan turun dengan naiknya pH sedangkan asam lemah akan meningkat kelarutannya dengan naiknya pH. II.2.4 Tekanan Apabila terjadi perubahan tekanan dapat ditunjukkan dengan prinsip Le Chatelier karena tergantung pada volume relatif larutan dan penyusun zat. Pada umumnya perubahan volume larutan kecil dikarenakan tekanan, sehingga tekanan yang diperlukan akan sangat besar untuk mengubah kelarutan zat. II.2.5 Suhu Perubahan kelarutan suatu zat terlarut karena pengaruh suhu erat hubungannya dengan panas kelarutan dari zat tersebut. Panas kelarutan didefinisikan sebagai banyaknya panas yang dibebaskan atau diperlukan apabila satu mol zat terlarut

dilarutkan dalam suatu pelarut untuk menghasilkan suatu larutan jenuh. (Widyaningsih, 2009) II.3 Sistem Sistem adalah suatu zat atau campuran yang diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu bejana inert, untuk menyelidiki pengaruh perubahaan temperatur, tekanan, dan konsentrasi zat tersebut. Misalnya: sistem air. (Sukardjo, 1997) II.4 Fasa Fase adalah keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, bukan hanya dalam komposisi kimianya, melainkan juga dalm keadaan fisiknya. (Atkins, 1990) II.5 Komponen Komponen adalah spesies yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam larutan biner. (Atkins, 1990) II.6 Derajat Kebebasan Derajat kebebasan atau variasi dari sistem adalah jumlah terkecil variabel bebas (temperatur, tekanan, konsentrasi) yang harus ditentukan supaya sisa dalam sistem tertentu. Contoh: air mempunyai dua derajat kebebasan yaitu temperatur 1 atm dan 0 oC mempunyai 1 derajat kebebasan. (Sukardjo, 1997)

II.7

Hukum Fase Gibbs Konstruksi diagram fase dan kondisi kesetimbangan fase mengikuti hukum termodinamika. J.W. Gibbs memberikan formula yang disebut hukum fase gibbs :
P + F = C + N ......................................................(2)

dengan P= jumlah fase F= derajat kebebasan C= jumlah komponen sistem N= jumlah varibel non komposisi. (Anonim, tt) II.8 Sistem Tiga Komponen Untuk sistem tiga komponen, F = S P , sehingga variannya dapat mencapai 4. Dengan menjaga temperatur dan tekanan tetap, masih ada dua derajat kebebasan (yaitu fraksi mol dua komponen). Salah satu cara terbaik untuk memperlihatkan variasi kesetimbangan fase dengan sistem komposisi digunakan diagram fase segitiga. (Atkins, 1990)

II.9

Sistem Tiga Komponen pada Temperatur dan Tekanan Tetap

II.10 Diagram Terner Tiga Komponen II.10.1Tipe I


A

D a3 a2 a1 a a4

b1

b2

b3 b4

Diagram 3 cairan dengan 1 binodal II.10.2Tipe II


A b d A

(a)
D

(b)
b a a D c C C d c

Diagram 3 cairan dengan 2 binodial (a) pada temperatur tinggi (b) pada temperatur rendah

II.10.3Tipe III
A A

b d
E

(a)

(b)
a
D

c
C

Diagram 3 cairan dengan 3 binodial (a) pada temperatur tinggi (b) pada temperatur rendah (Sukardjo, 1997) III. Metode Percobaan III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat - Erlenmeyer - Buret 50mL - Gelas ukur - Gelas beker III.1.2Bahan - Aquades - Kloroform - Aseton - Pipet tetes - Corong Gelas - Termometer

III.2 Skema Alat

III.3

Skema Kerja Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil

2 mL aquades + 18 mL aseton

4 mL aquades + 16 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 6 mL aquades + 14 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 8 mL aquades + 12 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 10 mL aquades + 10 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil

12 mL aquades + 8 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 14 mL aquades + 6 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 16 mL aquades + 4 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil 18 mL aquades + 2 mL aseton Erlenmeyer Penitrasian dengan kloroform Pencatatan volume kloroform Hasil

IV. Hipotesis Dilakukan percobaan berjudul Diagram Terner (Sistem Zat Cair Tiga Komponen ). Bertujuan agar mampu membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu. Prinsip dari percobaan ini adalah like dissolve like yaitu senyawa dapat larut sempurna dengan senyawa lain yang kepolarannya sama misalnya senyawa polar larut dalam senyawa polar, begitupun sebaliknya. Prinsip lainnya ialah prinsip ketiga larutan tiga komponen menurut hukum fase Gibbs. Metode yang digunakan adalah titrasi,dengan menambahkan zat ketiga melalui titrasi yamg mampu mengurangi maupun menambahkan kelarutan. Hasil yang diperoleh akan memperlihatkan apakah penambahan cairan C akan memperbesar atau memperkecil larutan A dan B. (Atkins,1994) V. Data Pengamatan

DAFTAR PUSTAKA Widyaningsih, L. 2009.