Anda di halaman 1dari 15

A. Konsep Dasar Skizofrenia 1.

Pengertian Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46). 2. Penyebab a. Keturunan Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ). b. Endokrin Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan. c. Metabolisme Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik. d. Susunan saraf pusat Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan. e. Teori Adolf Meyer : Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme). f. Teori Sigmund Freud Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin. g. Eugen Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain). h. Teori lain Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.

i. Ringkasan Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ). 3. Pembagian Skizofrenia Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain : a. Skizofrenia Simplek Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan. b. Skizofrenia Hebefrenia Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali. c. Skizofrenia Katatonia Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik. d. Skizofrenia Paranoid Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan. e. Episode Skizofrenia akut Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya. f. Skizofrenia Residual Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia. g. Skizofrenia Skizo Afektif Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi. Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik 1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ; 1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized). 2. Tidak terdapat wamam yang sistemik 3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol tololan. 2. Gejala Klinik Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa : - Inkoherensi yang jelas - Afek datar tak serasi atau ketolol tololan. - Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.

- Waham / halusinasi yang terpecah pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai. - Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar. - Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial. - Berbagai perilaku tanpa tujuan. Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain. Konsep Dasar Halusinasi 1. Pengertian Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara. Padahal tidak ada orang yang bicara. 2. Proses terjadinya halusinasi Fase pertama Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan memikirkan hal hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong sementara. Fase kedua Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol. Fase ketiga. Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. Fase keempat Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya, hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan 3. Tanda tanda halusinasi Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang satu arah, menyerang tiba tiba, arah gelisah. 4. Jenis halusinasi a. Halusinasi dengar Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya. b. Halusinasi terlihat Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi klien yakin ada. c. Halusinasi penciuman Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain dan ada sumber. d. Halusinasi kecap Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.

e. Halusinasi raba Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada. PENGKAJIAN Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi : 1. Identitas klien 2. Keluhan utama/alasan masuk 3. Faktor predisposisi 4. Dimensi fisik / biologis 5. Dimensi psikososial 6. Status mental 7. Kebutuhan persiapan pulang 8. Mekanisme koping 9. Masalah psikososial dan lingkungan 10. Aspek medik Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif. Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

N O 1 2 3 4

DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko mencederai diri sendiri dan atau orang lain/lingkungan berhubungan dengan perubahan persepsi sensori/halusinasi Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tujuan Umum : Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan. Tujuan khusus : Klien dapat hubungan saling percaya : Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Perkenalan diri Jelaskan tujuan interaksi

pikir (waham). Difisit perawatan diri berhubungan dengan koping individu tidak efektif Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

Ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara). Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya. Dengarkan ungkapan klien dengan empati. Klien dapat mengenal halusinasinya Lakukan kontak sering dan singkat rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah olah ada teman bicara. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya; Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang dikatakan ? Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya. Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien. Katakan bahwa perawatan akan membantu klien. Diskusikan dengan klien tentang ; Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih). Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan. Klien dapat mengontrol halusinasinya Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi : Katakan saya tidak mau dengan kamu (pada halusinasi). Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap cakap . mengatakan halusinaasinya. Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi tidak sempat muncul. Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang

telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi). Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya : Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah) Gejala halusinasinya yang dialami klien Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik : Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu) Tujuan Umum : Klien dapat melakukan komunikasi verbal Tujuan Khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya Bina hubungan saling percaya dengan klien. Jangan membantah dan mendukung waham klien. Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima. Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati. Tidak membicarakan isi waham klien. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung. Gunakan keterbukaan dan kejujuran Jangan tinggalkan klien sendirian Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki

Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari hari) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi : Observasi kebutuhan klien sehari hari. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien). Klien dapat berhubungan dengan realitas : Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien. Klien dapat dukungan keluarga : Gejala waham. Cara merawatnya. Lingkungan keluarga. Klien dapat menggunakan obat dengan benar Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian. Diskusikan perasaan klien setelah minum obat Berikan obat dengan prinsip 5 tepat Tujuan Umum : Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat Tujuan Khusus : klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri Dorong klien mengungkakan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien Diskusikan dengan keluarga Motivasi keluarga dalam berperan aktif

memenuhi kebutuhan perawatan diri klien. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluaga Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap Tujuan Khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Perkenalan diri Jelaskan tujuan interaksi Ciptakan lingkungan yang tenang Bina kontrak yang jelas (topik, waktu, tempak). Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab Serta mampu menolong dirinya sendiri. Klien dapat mengindetifikasi kemampuan dan aspek positf yang memiliki Diskusikan kemampuan dan aspek yang di miliki klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki oleh klien, aspek positif (keluarga, lingkungan) yang dimiliki klien. Bila klien tidak mampu mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat memberi pujian terhadap aspek positif klien. Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif. Utamakan memberikan pujian yang realistis. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Diskusikan selama sakit Misal : penampilan klien dalam self care, latihan fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaanya setelah plan sesuai dengan kondisi sakit klien. Klien dapat menetapkan / merencakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki : Rencanakan bersama klien aktivitas bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi kondisi

klien Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan (kadang klien takut me laksanakannya). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuan. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan Beri pujian atas keberhasilan klien Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. Klien dapat menfaatkan sistem pendukung yang ada Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

A. DEFINISI Skizophrenia adalah suatu penyakit otak persinten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah. (Stuart, 2006). Skizophrenia adalah merupakan satu gangguan yang psikotik yang kronik, sering mereda, namun timbul hilang dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya. (Kaplan dan Sadock, 1998). Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia, (Maramis, 2004). Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenia dimana telah terjadi progresi yang jelas dari stadium awal (terdiri dari satu atau lebih episode skizofrenia dengan gejala-gejala yang menonjol). Perilaku pada skizofrenia residual eksentrik tetapi gejala psikosis pada saat dirawat tidak menonjol. B. ETIOLOGI Penyebabnya tidak diketahui dan merupakan suatu tantangan riset yang dilakukan dan telah banyak faktor predisposisi dan presipitasi yang diketahui. Herediter pentingnya faktor genetika dibuktikan secara memungkinkan resiko masyarakat umum 1%, Pada orang tua resiko Skizoprenia 5%, pada saudar kandung 8% dan pada anakanak 10%. Lingkungan gambaran pada penderita kembar seperti kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia, sedangkan kembar dizigotik 12%, ini menunjukan bahwa lingkungan juga cukup berperan dalam menampilkan penyakit pada individu yang memiliki predisposisi dari faktor genetika. Emosi yang diekspresikan, jika keluarga Skizoprenia memperlihatkan emosi yang diekspresikan secara berlebihan, misal klien sedang di omeli atau terlalu banyak dikekang dengan aturanaturan yang berlebihan maka kemungkinan kambuh lebih besar. C. TANDA DAN GEJALA Suatu stadium kronis dari skizofrenia yg lebih lanjut ditandai dgn gejala negatif yg panjang, walaupun belum tentu irreversibel. Gejala negatif : perlambatan psikomotor aktivitas menurun

afek tumpul sikap pasif tak punya inisiatif, tak punya minat dan energi sama sekali banyak diam perawatan diri buruk kinerja sosial buruk. (Hal ini dapat karena akibat traumatis masa kecil, contohnya seorang anak yang normal tanpa cacat dilidah namun ia mengalami penyiksaan berupa ancaman dijebloskan kesumur oleh orang tuanya. Akhirnya hingga dewasa mengalami kebisuan dan gagu padahal secara medis bagian panca indranya tidak mengalami kerusakan, namun bagian neuroleptikanya memerlukan terapi authisme sehingga dapat kembali berbicara normal, Selain faktor traumatik hal ini juga diakibatkan faktor lingkungan dan faktor sosial yang buruk). E. PROSES KEPERAWATAN 1. Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada klien dan keluarga yang menghantar. Pengkajian pertama kali dilakukan secara lengkap guna menggali informasi yang dibutuhkan untuk terapi guna kesembuhan klien. Beberapa hal yang dapat dikaji kepada klien antara lain : a. Identitas Meliputi : Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan yang bertanggung jawab b. Alasan masuk Meliputi : Penyebab klien masuk rumah sakit Usaha yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan hasilnya. c. Faktor Predisposisi Meliputi : Riwayat penyakit masa lalu dan hasil pengobatan sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga Riwayat trauma yag pernah dialami Masalah keperawatan yang muncul d. Faktor fisik Meliputi : Tanda-tanda vital ( tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan ) Tinggi dan berat badan Masalah keperawatan yang muncul e. Faktor psikososial Genogram Menggambarkan hubungan klien dengan keluarga minimal 3 generasi keatas Masalah keperawatan yang muncul Konsep diri Gambaran diri Identitas diri Ideal diri Harga diri Masalah keperawatan yang muncul Hubungan Sosial Orang yang berarti dalam hidupnya Kelompok yang berarti dalam masyarakat Keterlibatan klien dalam kelompok tersebut

Spiritual Nilai dan keyakinan Kegiatan ibadah Masalah keperawatan yang muncul Status mental Penampilan Pembicaraan Aktivitas motorik alam perasaan Waham Isi pikir Tingkat kesadaran Memori Tingkat konsentrasi dan berhitung Kebutuhan persiapan pulang Makan BAK / BAB Mandi Berpakaian Pemeliharaan kesehatan di dalam rumah G. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain b.d status emosional. 2. Isolasi sosial b.d kurang rasa percaya diri kepada orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain 3. Perubahan persepsi sensorik (pendengaran) b.d halusinasi,panik,stess berat. Diagnosa Keperawatan Perencanaan Tujuan & Kriteria hasil Tindakan Keperawatan Isolasi sosial b.d kurang rasa percaya diri kepada orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain TUPAN: pasien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama pasien lain dan perawat dalam aktifitas kelompok di unit rawat inap. TUPEN: Pasien masuk dalam terapi aktifitas dalam satu minggu. Kriteria hasil : a. Pasien dapat mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi dengan orang lain. b. Pasien dapat mengikuti aktifitas kelompok tanpa di suruh. c. Pasien melakukan interaksi satu-satu dengan orang lain dengan cara yang sesuai atau dapat diterima. Atur setiap hari, rencana waktu untuk berinteraksi dan beraktivitas dengan klien.

Dentifikasi factor signifikan support individu klien dan mendorong mereka untuk berinteraksi dengan klien, percakapan ditelepon, beraktifitas dan mengunjunginya. Bantu klien membedakan antara isolasi sosiol dan hasrat untuk mandiri. Bantu klien menemukan klien lain untuk sosialisasi dengan orang yang memiliki kesukaan yng sama. Perlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan kontak yang sering tapi singkat.

Perlihatkan penguatan positif pada klien. Temani klien untuk memperlihatkan dukungan selama aktifitas kelompok yang mungkin merupakan hal yang menakutkan atau sukar untuk pasien. Jujur dan menepati janji Gangguan komunikasi verbal b.d menarik diri TUPEN : Klien dapat menunjukan kemampuan berkomunikasi pada 1 topik, klien dapat melakukan kontak mata. TUPAN: Klien dapat berkomunikasi verbal dalam suatu lingkungan. KH : - Klien dapat berkomunikasi secara verbal - klien mengetahui bahwa disorganisasi pikiran dan kelainan komunikasi verbalterjadi saat peningkatan ansietas. Melakukan TAK untuk melatih komuniksai klien Memperkenalkan aktfitas yang bersifat kelompok

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SKIZOFRENIA

A. Pengertian Skizofrenia adalah suau bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi, kamauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi perilaku bizar. Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia precox. B. Jenis - Skizofrenia simplex: dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan - Skizofrenia hebefrenik, gejala utama gangguan proses fikir gangguan kemauan dan depersonalisasi. Banyak terdapat waham dan halusinasi - Skizofrenia katatonik, dengan gejala utama pada psikomotor seperti stupor maupun gaduh gelisah katatonik. - Skizofrenia paranoid, degnan gejala utama kecurigaan yang ekstrim diserttai waham kejar atau kebesaran - Episode schizoprenia akut (lir schizoprenia), adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan perubahan kesadaran, kesadaran mungkin berkabut - Skizofrenia psiko-afektif, yaitu adanya gejala utama Skizofrenia yang menonjol dengan disertai gejala depresi atau mania - Skizofrenia residual adalah schizoprenia dengnan gejala-gejala primernya dan muncul setelah beberapa kali serangan Skizofrenia.

C. Etiologi 1. Keturunan 2. Endokrin 3. Metabolisme 4. Ssp 5. Teori Adolf Meyer 6. Teori Sigmund Freud D. Gejala (Menurut Bleurer) I. Gejala Primer 1. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi 2. Gangguan afek emosi - Terjadi kedangkalan afek-emosi - Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat) - Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan - Emosi berlebihan - Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik 3. Gangguan kemauan - Terjadi kelemahan kemauan - Perilaku negativisme atas permintaan - Otomatisme: merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain 4. Gejala psikomotor - Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme - Stereotipi - Katelepsi: mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama - Echolalia dan echopraxia 5. Autisme II. Gejala Sekunder 1. Waham 2. Halusinasi E. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi terhadap kekerasan: diarahkan pada diri sendiri atau orang lain Tujuan: klien tidak membahayakan dirinya maupun orang lain Intervensi 1. Pertahankan lingkungan dalam tingkat stimulus yang rendah Rasional: Kecemasan meningkt dalam lingkungan penuh stimulus 2. Observasi secara ketat perilaku klien Rasional: Memastikan klien dalam keadaan aman 3. Singkirkan semua benda berbahaya Rasional: Dalam keadaan gelisah, bingung dapat menggunakan benda tajam untuk melukai

4. Salurkan perilaku merusak pada kegiatan fisik Rasional: Menghilangkan ketegangan yang terpendam 5. Lakukan fiksasi bila diperlukan Rasional: Keamanan klien merupakan prioritas perawatan 6. Berikan obat tranquilizer Rasional: Menurunkan kecemasan/ketegangan 2. Koping individu tak efektif Tujuan: Klien tidak menggunakan lebih banyak ketrampilan penggunaan koping adaptif Intervensi 1. Usahakan petugas kesehatan tetap Rasional: Meningkatkan hubungan saling percaya 2. Hindari kontak fisik Rasional: Mungkin dianggap bentuk penganiayaan fisik Mengurangi rasa curiga 3. Hindari tertawa, berbisik didekat pasien Rasional: Mengurangi rasa curiga 4. Jujur dan selalu menepati janji Rasional: Meningkatkan hubungan saling percaya 5. Periksa mulut klien setelah minum obat Rasional: Klien sering manipulatif dalam minum obat 6. Jangan berikan kegiatan kompetitif Rasional: Merupakan ancaman pada pasien curiga 7. Motifasi untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya Rasional: Mengungkapkan perasaan secara verbal dalam lingkungan yang tidak mengancam mungkin akan menolong pasien untuk sampai pada keadaan tertentu dimana pasien mencurahkan perasaan setelah sekian lama terpendam 8. Sikap asertif Rasional: Pasien curiga tidak memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan sikap yang bersahabat atau ceria sekali 3. Perubahan persepri-sensori Tujuan: Klien tidak menggunakan lebih banyak ketrampilan penggunaan koping adaptif Intervensi 1. Observasi tanda halusinasi Rasional: Intervensi awal untuk mencegah respon agresif yang diperntahkan halusinasi 2. Hindari menyentuh pasien secara tiba-tiba, yakinkan bahwa ia aman disentuh Rasional: Pasien dapat mengartikan sentuhan sebagai ancaman

3. Sikap menerima dan mendorong pasien menceritakan halusinasi Rasional: Mencegah kemungkinan cidera pasien atau orang lain karena ada perintah adari halusinasi 4. Jangan mendukung halusinasi Rasional: Perawat harus jujur pada pasien pada pasien sehingga pasien menyadari suara itu tidak ada 5. Alihkan perhatian pasien dari halusinasi Rasional: Perawat harus jujur pada pasien pada pasien sehingga pasien menyadari suara itu tidak ada 4. Perubahan proses fikir Tujuan: Klien menyatakan berkurangnya pikiran-pikiran waham Intervensi 1. Tunjukkan sikap menerima keyakinan pasien tanpa sikap mendukung Rasional: Penting untuk dikomunikasikan pada pasien bahwa perawat tidak menerima delusi sebagai realita 2. Tidak membantah/menyangkal keyakinan pasien Rasional: Membantah pasien tidak menimbulkan manfaat, dapat merusak hubungan 3. Bantu pasien untuk menghubungkan keyakinan yang salah dengan peningkatan kecemasan Rasional: Jika pasien dapat belajar menghentikan kecemasan, pikiran waham mungkin dapat dicegah 4. Fokus dan kuatkan realitas Rasional: Mengurangi pikiran-pikiran waham 5. Bantu dan dukung pasiend alam mengungkapkan secara verbal perasaan ansietas, takut, tak aman Rasional: Ungkapan secara verbal dalam lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk mengungkapkan perasaan yang mungkin terpendam