Anda di halaman 1dari 10

Pengaruh Pengungkapan Laporan Keuangan Dan Asimetri Informasi Terhadap Cost Of Equity Capital Pada Perusahaan Go Public Di Bei

Tahun 2006-2008 (2) Rousilita Suhendah Abstract: This research aims to examine whether corporate disclosure level published in annual report and asymmetry information has an effect on cost of equity capital. The samples consist of 98 knowledge based firms listed on Indonesian Stock Excange from 2006 to 2008. The Statistic method used to test on the research hypothesis is multiple regression and residuals test. The Hypothesis tested was conducted by implementing pooled data method for period of 2006-2008. The results support the hypothesis that disclosure have effect on cost of equity capital,but asymmetry information doesnt effect on cost of equity capital. The other results show that size doesnt significantly moderates the relationship between disclosure and cost of equity capital. Keywords : disclosure, assymmetry information, cost of equity capital. PENDAHULUAN Laporan keuangan sebagai sarana dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk stakeholders dalam pengambilan keputusan diharapkan menyediakan informasi yang lengkap, relevan dan reliable. Laporan keuangan tersebut dibuat oleh manajer yang memiliki akses lebih luas dibanding pihak eksternal dalam pengetahuannya mengenai kondisi perusahaan. Dalam kaitannya dengan informasi yang lengkap, manajer harus menyediakan informasi yang lengkap mengenai kondisi keuangan maupun non keuangan perusahaan bagi para pengambil keputusan sehingga laporan keuangan yang dibuat harus memenuhi kriteria tertentu yang diwajibkan oleh lembaga dan disertai dengan disclosure yang memadai. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan merupakan sumber informasi untuk pengambilan keputusan investasi yang tergantung dari mutu serta luas pengungkapan informasi yang disajikan ( Joko T, 2004). Pengungkapan / disclosure menurut Hendriksen (2002) merupakan suatu cara untuk menyampaikan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Prinsip full disclosure mengharuskan semua keadaaan dan kejadian yang membuat suatu perbedaan bagi para pengguna laporan keuangan wajib diungkapkan ( Weygandt et al,1999). Laporan keuangan memberi signal bagi para penggunanya tentang informasi penting yang dimiliki manajemen perusahaan. Laporan keuangan yang tidak memberikan tingkat disclosure yang memadai dianggap sebagai laporan keuangan yang memiliki risiko tinggi. Apabila investor menilai hasil laporan keuangan suatu perusahaan berisiko tinggi, maka nilai return yang diharapkan oleh investor juga tinggi, dan menyebabkan biaya ekuitas yang harus dikeluarkan oleh perusahaan semakin tinggi (Coles et al . 1995, Clarkson et al. 1996) Pengaruh tingkat disclosure terhadap biaya ekuitas telah banyak diteliti, antara lain penelitian yang dilakukan oleh F inancial Reporting of the American Institute of Certified Public Accountants (Jenkin Committee) sebagaimana dikutip oleh Botosan (1997) yang menyatakan bahwa keuntungan perusahaan yang menyajikan disclosure yang cukup adalah dapat menekan biaya equity capital yang lebih rendah . Hasil penelitian yang disimpulkan oleh Botosan (1997) mendukung adanya hubungan negatif antara tingkat disclosure dan biaya ekuitas perusahaan. Lang dan Lundholm (1996) menemukan bukti tidak langsung dari penelitiannya tentang keuntungan potensial dari disclosure yang tinggi, yaitu dengan disclosure yang tinggi maka mengurangi risiko estimasi dan menarik perhatian investor, juga mengurangi adanya asimetri informasi, dan menunjukkan adanya pengurangan biaya modal. Dengan disclosure yang tinggi berarti pihak internal dan eksternal memiliki pemahaman dan pengetahuan yang sama mengenai kondisi perusahaan sehingga tidak terjadi ketidakseimbangan dalam hal pemilikan informasi atau tidak terjadi asimetri informasi yang lebih tinggi. Pengungkapan informasi akuntansi dapat mempengaruhi risiko asimetri informasi yang dicerminkan oleh bid-ask spread yang ditetapkan oleh dealer. Bid-ask spread merupakan selisih harga beli tertinggi dengan harga jual terendah. Komponen spread dalam bid-ask spread terdiri dari kos pemrosesan pesanan (order processing cost), kos penyimpanan persediaan (inventory holding cost), dan Adverse selection component. Berkaitan dengan bid-ask spread, komponen adverse selection berhubungan dengan penyediaan informasi keputusan dan merefleksikan risiko asimetri informasi . Suatu penemuan penting dari penelitian-penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa pengungkapan informasi akuntansi dapat mempengaruhi risiko asimetri informasi yang dicerminkan oleh spread yang ditetapkan oleh dealer. Komalasari (2001) menguji hubungan asimetri informasi terhadap cost of equity capital. Dalam penelitian ini diuji bagaimana penurunan cost of equity capital pada perusahaan besar lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Hasilnya menunjukkan ada hubungan positif antara asimetri informasi dengan cost of equity capital. Tingkat asimetri informasi untuk perusahaan besar lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan kecil. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh disclosure dan asimetri informasi terhadap cost of equity capital, dan untuk mengetahui hubungan antara disclosure dan cost of equity capital dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Agency Theory ( Teori Keagenan ) Teori agensi dimulai pada saat adanya pemisahan yang tegas antara fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan. Fungsi kepemilikan ditandai dengan adanya pihak principal yang memberi tugas kepada agent ( manajer) untuk mengelola perusahaan. Makin besar kompleksitas usaha yang dilakukan perusahaan menyebabkan pihak principal tidak dapat mengelola perusahaan secara intensif sehingga manajer diminta untuk mengelola kelangsungan hidup perusahaan. Dalam konsep agency theory, setiap pihak terdorong oleh motivasi berbeda sesuai dengan kepentingan masing-masing dan apabila pihak-pihak tersebut berusaha untuk memaksimalkan atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki masingmasing pihak, maka timbul konflik kepentingan antara manajer sebagai agent dengan pemilik perusahaan sebagai pihak principal. Agent berusaha untuk memaksimumkan penerimaan fee kontraktual dan principal berusaha memperoleh return atas penggunaan sumber daya.

Konflik kepentingan terjadi di antara pihak principal dan agent disebabkan pihak agent memiliki informasi lebih banyak dibandingkan dengan principal yang mengakibatkan terjadinya asimetri informasi (jensen dan Meckling,1976). Informasi yang dimiliki oleh pihak agent dapat memotivasi agent untuk melakukan tindakan tertentu sesuai dengan kepentingannya sehingga kebijakan kebijakan yang diambil dapat tanpa sepengetahuan pihak principal. Menurut Scott (2003) teori keagenan merupakan game theory yang membuat suatu model kontrak antara dua pihak atau lebih, dan masing masing pihak berusaha untuk mendapatkan yang terbaik bagi kepentingannya. Teori keagenan memberi implikasi adanya asimetri informasi antara agent dengan principal. Signalling Theory Dalam Signaling theory perusahaan memberikan sinyal-sinyal kepada pemakai laporan keuangan berupa disclosure informasi mengenai segala sesuatu yang dilakukan manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik atau pemegang saham. Teori sinyal menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi. Manajer memberikan informasi kepada stakeholders melalui disclosure laporan keuangan berupa catatan tambahan mengenai kondisi perusahaan. Teori sinyal menjelaskan mengenai sinyal keberhasilan maupun kegagalan manajer dalam mengelola perusahaan kepada principal. Signaling theory menjelaskan bahwa perusahaan memiliki dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal, karena adanya asimetri informasi (Asymmetri Information) antara manajer sebagai pihak internal dan pemilik / pemegang saham sebagai pihak eksternal. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar berupa penyajian informasi laporan keuangan yang dapat dipercaya, yang dapat mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan di masa depan ( Wolk et al., 2001). Tingkat Disclosure Full disclosure principle mengharuskan pengungkapan semua keadaan dan kejadian yang membuat suatu perbedaan bagi pengguna laporan keuangan (Weygandt et al. 1999 ). Prinsip ini dipenuhi dengan cara menyajikan data yang terdapat pada laporan keuangan dan informasi pada catatan atas laporan keuangan utama. Salah satu contoh informasi tersebut adalah ringkasan dari penggunaan kebijakan akuntansi yang signifikan seperti metode depresiasi / amortisasi dan metode inventory costing yang digunakan perusahaan. Definisi tingkat disclosure adalah tingkat pengungkapan atas informasi yang diberikan sebagai lampiran pada laporan keuangan dalam bentuk catatan kaki atau tambahan. Informasi ini menyediakan penjelasan yang lebih lengkap mengenai posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan. Informasi penjelasan mengenai kesehatan keuangan dapat juga diberikan dalam laporan pemeriksaan. Semua materi harus diungkapkan termasuk infomasi kuantitatif dan kualitatif yang akan sangat membantu pengguna laporan keuangan (Siegel dan Shim 1994 : 147). Pengungkapan merupakan bagian integral dari pelaporan keuangan dan merupakan proses akhir dalam akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk financial statement. Evans (2003) membatasi pengertian pengungkapan hanya pada hal-hal yang menyangkut pelaporan keuangan. Pernyataan manajemen dalam surat kabar atau media masa lain serta informasi diluar lingkup pelaporan keuangan tidak termasuk dalam pengertian pengungkapan. Sementara itu, Wolk, Tearney, dan Dodd (2001) memasukkan pula statemen keuangan segmental dan statemen yang merefleksi perubahan harga sebagai bagian dari pengungkapan. Ada dua jenis pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan oleh standar dan regulasi, yaitu: 1) Pengungkapan wajib (mandatory disclousure) ; 2) Pengungkapan Sukarela (voluntary disclosure). Pengungkapan Wajib merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku. Pengungkapan Sukarela merupakan pengungkapan butir-butir yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku. Menurut Alan Levinsohn (2001) voluntary disclosure terdiri dari 5 bagian yaitu data bisnis, analisis manajemen tentang data bisnis, forward looking information, informasi manajemen dan shareholders, serta latar belakang perusahaan. Mardiyah (2002) membagi disclosure untuk pasar modal menjadi dua bagian yaitu : 1) pengungkapan protektif ( protective disclosure) dan 2) pengungkapan informatif ( informative disclosure ). Pengungkapan protektif bertujuan untuk melindungi investor dari perlakuan yang dilakukan emiten dalam menutupi penyajian laporan keuangan. Pengungkapan informatif memberi keterbukaan emiten dalam menyajikan disclosure dengan tujuan untuk analisis data. Peraturan tentang standar pengungkapan informasi bagi perusahaan yang telah melakukan penawaran umum dan perusahaan publik yaitu, Peraturan No. VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan dan Peraturan No. VIII.G.2 tentang Laporan Tahunan. Peraturan tersebut diperkuat dengan Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-17/PM/1995, yang selanjutnya diubah melalui Keputusan Ketua Bapepem No. Kep-38/PM/1996 yang berlaku bagi semua perusahaan yang telah melakukan penawaran umum dan perusahaan publik. Peraturan tersebut diperbaharui dengan Surat Edaran Ketua Bapepam No. SE-02/PM/2002 yang mengatur tentang penyajian dan pengungkapan laporan keuangan emiten atau perusahaan publik untuk setiap jenis industri. Pengukuran Tingkat Disclosure (Pengungkapan) Pengukuran tingkat pengungkapan menggunakan indeks pengungkapan. Penelitian terdahulu yang menggunakan indeks pengungkapan untuk mengukur tingkat pengungkapan perusahaan dibagi dalam dua kelompok, yaitu penelitian yang menggunakan indeks pengungkapan tanpa pembobotan dan penelitian yang menggunakan indeks pengungkapan dengan pembobotan. Kedua jenis indeks pengungkapan ini dapat dikembangkan sendiri oleh peneliti atau dikembangkan lembaga tertentu. Scoring adalah pemberian nilai untuk setiap unsur catatan atas laporan keuangan yang harus diungkapkan oleh setiap perusahaan. Dalam penelitian ini, pengukuran tingkat disclosure menggunakan metode scoring yang sangat sederhana. Scoring dalam penelitian ini hanya memberikan nilai nol atau satu pada kriteria-kriteria disclosure yang telah ditentukan sebelumnya, yang terdapat pada catatan atas laporan keuangan setiap perusahaan. Apabila terdapat item disclosure dalam laporan keuangan pada perusahaan maka diberi nilai 1 untuk masing masing item pada disclosure dan bila tidak terdapat item disclosure pada laporan keuangan sampel perusahaan diberikan nilai 0. Setelah itu dilakukan perhitungan total nilai yang diperoleh oleh masing- masing perusahaan sampel dan membandingkannya dengan total nilai yang mungkin diperoleh perusahaan tersebut. Asimetri informasi

Informasi asimetri merupakan suatu kondisi adanya ketidakseimbangan kepemilikan informasi antara pihak manajer dengan pihak stakeholders. Pihak manajer sebagai pihak internal yang mempunyai informasi lebih banyak dibandingkan dengan pihak eksternal, sering menggunakan ketimpangan sumber informasi tersebut untuk mamaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dalam rangka penilaian kinerja perusahaan. Adanya informasi asimetri tersebut menyebabkan terjadinya konflik kepentingan antara pihak manajer sebagai agent dengan pihak principal ( pemegang saham, investor, kreditur, dll).Informasi asimetri dapat dikurangi dengan pemberian laporan keuangan secara teratur oleh manajer kepada pemilik. Asimetri informasi merupakan bentuk penyebaran informasi yang tidak merata di pasar modal (Diantimala dan Hartono, 2001) sehingga tercipta suatu kondisi ketimpangan dalam hal pemilikan informasi yang mengakibatkan salah satu pihak memiliki keunggulan dan kelebihan dalam hal informasi. Menurut Scott (2000), terdapat dua jenis informasi asimetri yaitu Adverse Selection dan Moral Hazard. Adverse selection menunjukkan bahwa manajer dan para staf mengetahui informasi tentang kondisi dan prospek perusahaan lebih banyak dibandingkan pihak luar, sehingga informasi yang dapat mempengaruhi keputusan pemegang saham disembunyikan atau tidak disampaikan kepada pemegang saham. Moral hazard menunjukkan bahwa tidak semua kegiatan yang dilakukan manajer diketahui seluruhnya oleh pemegang saham maupun pihak kreditur, sehingga manajer dapat melakukan tindakan di luar sepengetahuan pihak eksternal lain yang melanggar kontrak atau etika dan norma-norma yang tidak layak dilakukan oleh manajer. Menurut Healy dan Palepu (1993) terjadinya ketidaksempurnaan , dan tidak transparan dalam mengkomunikasikan laporan keuangan disebabkan karena manajer memiliki informasi lebih rinci mengenai strategi dan pengelolaan operasional bisnis perusahaan dibandingkan investor. Hal ini menyebabkan hubungan antara manajer dengan pemilik modal tidak seimbang dalam hal kepemilikan informasi karena pihak manajer sebagai agent memiliki informasi lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan principal. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan merupakan total kapitalisasi pasar yang diukur dengan mengalikan jumlah saham yang beredar dengan harga saham per lembar. Kapitalisasi pasar adalah sebuah istilah bisnis yang menunjuk ke harga keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yaitu sebuah harga yang harus dibayar seseorang untuk membeli seluruh perusahaan. Besar dan pertumbuhan suatu kapitalisasi pasar perusahaan merupakan suatu pengukuran penting dari keberhasilan atau kegagalan perusahaan terbuka (go public). Kapitalisasi pasar dihitung dengan mengalikan jumlah saham perusahaan yang beredar dengan harga pasar dari saham pada saaat closing price. Investor saham sering membedakan saham-saham yang ada di Bursa Efek berdasarkan kapitalisasi pasar (market capitalization) selain berdasarkan sektor dan sifat perusahaan. Ada saham berkapitalisasi pasar besar, menengah, dan saham berkapitalisasi kecil. Perusahaan-perusahaan itu memiliki karakter serta kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kapitalisasi pasar atau market capitalization dihitung menggunakan komponen harga pasar saham. Harga pasar saham biasanya memiliki nilai di atas nilai buku saham perusahaan karena harga pasar saham mencerminkan ekspektasi investor atas prospek ekonomi suatu perusahaan di masa akan datang. Harga pasar saham juga ditentukan oleh faktor spekulasi dan estimasi prospek perusahaan yang berlebihan. Apabila hal ini terjadi, harga pasar saham naik semakin tinggi di atas nilai buku saham yang berakibat kapitalisasi pasar saham perusahaan akan menggelembung secara berlebihan di atas prospek perusahaan sesungguhnya. Teori Bid Ask Spread Bid-ask spread digunakan sebagai salah satu proksi informasi asimetri karena bid-ask spread adalah faktor penentu biaya transaksi saham dan sangat mempengaruhi kinerja pasar modal. Bid-ask spreads adalah salah satu ukuran dalam likuiditas pasar yang digunakan secara luas dalam penelitian terdahulu sebagai pengukur informasi asimetri antara manajemen dan pemegang saham perusahaan. Healy (1993) menjelaskan bahwa bid-ask spread memiliki hubungan negatif dengan kebijakan pengungkapan perusahaan. Welker (1995) juga melaporkan bahwa terdapat bukti hubungan negatif antara bid-ask spreads dan kebijakan pengungkapan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa bid-ask spreads memiliki kemampuan untuk menjelaskan informasi dari perusahaan. Menurut Hanaosek dan Podpiera (2003), jika informasi asimetri terlalu besar maka menimbulkan bid-ask spread yang terlalu lebar bagi investor, sehingga investor tidak mau lagi berdagang dengan saham tersebut. Lang dan Lundlolm (1996) mengemukakan bahwa keuntungan potensial terhadap perusahaan yang memberikan tingkat pengungkapan yang tinggi menyebabkan makin banyak jumlah investor yang mengetahui informasi perusahaan sehingga mengurangi estimasi risiko dan mengurangi informasi asimetri ,yang menunjukkan pengurangan cost of equity capital perusahaan Murni (2004) mengungkapkan bahwa informasi akuntansi yang berkualitas berguna bagi investor untuk menurunkan informasi asimetri. Ketika timbul informasi asimetri, keputusan ungkapan yang dibuat oleh manajer dapat mempengaruhi harga saham sebab informasi asimetri antara investor yang lebih terinformasi dan investor kurang terinformasi menimbulkan biaya transaksi dan mengurangi likuiditas yang diharapkan dalam pasar modal (Komalasari dalam Murni, 2004). Biaya transaksi yang timbul dan likuiditas yang berkurang akan meningkatkan risiko saham, sehingga investor meminta return yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan cost of capital. Bid-ask spread meningkat karena adanya informasi asimetri dan specialists melebarkan spreads saat mereka menerima informasi asimetri yang tinggi (Maribeth Coller, 1997). Leuz dan Verrecchia (2000) mengungkapkan bid-ask spread dianggap sebagai ukuran informasi asimetri, karena bid-ask spread dapat mengatasi masalah adverse selection yang timbul dari transaksi dalam saham perusahaan yang terdapat keberadaan investor yang mengalami informasi asimetri. Semakin sedikit informasi asimetri berakibat semakin berkurangnya adverse selection, sehingga mengurangi bid-ask spread. Dalam hal ini komponen adverse selection dari bid-ask spread akan merefleksikan tingkat informasi asimetri yang diterima dealer (Callahan et al., 1997). Adanya asimetri informasi membuat kondisi yang tidak pasti di antara para dealer, sehingga dibutuhkan informasi yang memerlukan biaya yang tercermin pada spread. Bid-ask spread merupakan fungsi dari tiga komponen biaya yang berasal dari biaya pemilikan saham ( inventory holding cost), biaya pemrosesan pesanan (order processing cost ), dan informasi asimetri ( adverse selection cost ). Biaya pemrosesan pesanan ( order processing cost ) meliputi biaya yang dibebankan oleh pedagang sekuritas atas partisipasinya mempertemukan pesanan pembelian dan penjualan, serta kompensasi untuk waktu yang diluangkan oleh pedagang sekuritas guna

menyelesaikan transaksi. Biaya ini terdiri dari biaya administrasi, pelaporan, proses komputer, dan lain-lain ( Tinic 1972).Biaya pemilikan saham ( inventory holding cost ) yaitu cost yang ditanggung oleh pedagang sekuritas untuk membawa persediaan saham agar dapat diperdagangkan sesuai dengan permintaan. Biaya pemilikan saham juga merupakan biaya yang menunjukkan lamanya kepemilikan saham seperti dalam model yang dikembangkan Stoll (1978) dan Ho dan Stoll (1981).Menurut Stoll (1989) biaya kepemilikan saham berpengaruh positif terhadap bid-ask spread saham. Makin tinggi biaya kepemilikan saham makin lebar bid-ask spread saham. Pedagang yang tidak terlalu lama memegang saham berdampak pada menurunnya biaya kepemilikan. Hal ini menunjukkan bahwa saham tersebut cepat diperdagangkan karena digemari oleh investor dan memberi indikasi perdagangan saham tersebut aktif dengan volume perdagangan yang besar. Biaya informasi asimetri terjadi karena ada dua pihak pedagang yang tidak sama dalam hal mengakses dan kepemilikan informasi. Pihak pertama adalah pihak yang memiliki informasi lebih banyak dibandingkan dengan pihak kedua. Oleh karena perbedaan dalam kepemilikan informasi itu menyebabkan adanya risiko bagi pihak yang memiliki informasi lebih sedikit, sehingga untuk menutup kerugian tersebut tercermin dalam bid-ask spread ( Copeland dan Galai 1983). Biaya asimetri informasi juga menggambarkan suatu upah (reward) yang diberikan kepada pedagang sekuritas untuk mengambil suatu risiko ketika bertemu dengan investor yang memiliki informasi superior terkait dengan arus informasi di pasar modal. Menurut Jones (1997) bid- ask spread didefinisikan sebagai selisih harga tertinggi yang ditawarkan perantara untuk membeli saham dengan harga terendah yang diberikan perantara untuk menjual saham. Perbedaan antara penawaran jual dengan penawaran beli pada saat transaksi saham disebut bid-ask spread. HIPOTESIS Berdasarkan pengembangan penelitian maka didapat kerangka model hubungan antar variabel penelitian yang akan diuji seperti dalam gambar 1 di bawah ini yang menunjukkan disclosure dan asimetri informasi sebagai variabel independen dengan cost of equity capital sebagai variabel dependen.

Ukuran perusahaan
Tingkat Disclosure/ Pengungkapan Asimetri Informasi
Gambar 2.1 Kerangka Model Hipotesis

Cost of Equity Capital

Penelitian ini mengembangkan 4 hipotesis untuk menguji signifikansi pengaruh masing-masing variabel dalam model penelitian , yaitu : 1. H1 : Disclosure mempengaruhi cost of equity capital. 2. H2 : Asimetri informasi mempengaruhi cost of equity capital. 3. H3 : Disclosure dan asimetri informasi mempengaruhi secara simultan cost of equity capital. 4. H4 : Ukuran perusahaan mempengaruhi hubungan antara disclosure dengan cost of equity capital. METODE PENELITIAN Populasi penelitian diambil dari perusahaan yang intensif knowledge base seperti sektor jasa transportasi dan komunikasi, industri dasar kimia, elektronik, teknologi infomasi, asuransi, perdagangan, jasa keuangan, real estate serta perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2008 serta telah memberi laporan keuangan auditan . Penelitian menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yang knowledge base dan terdaftar di Indonesia Capital Market Directory (ICMD) pada tahun 2006-2008. Teknik pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling method. Pemilihan sampel menggunakan kriteria tertentu seperti : 1). Perusahaan memberikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik kepada BEI, 2).Perusahaan tidak mengalami delisting dan melakukan perdagangan saham secara aktif selama periode pengamatan, 3). Perusahaan tidak menghentikan segala kegiatan di pasar modal, tidak menghentikan kegiatan operasional, dan tidak melakukan penggabungan usaha , 4) . Perusahaan yang tidak mengalami perubahan dalam penggolongan sektor industri, 5). Perusahaan yang mempunyai laporan keuangan yang berakhir tgl 31 desember. Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen yaitu cost of equity capital perusahaan dengan menggunakan metode CAPM , dua variabel independen yang diwakili dengan indeks pengungkapan dan asimetri informasi, serta satu variabel moderating yang diwakili dengan ukuran perusahaan . Variabel indeks pengungkapan diwakili dengan indeks kelengkapan disclosure yang disebut dscore. Variabel asimetri informasi diwakili dengan proksi bid-ask spread. Variabel ukuran perusahaan diukur dengan nilai pasar ekuitas yang beredar yaitu dengan mengalikan jumlah saham yang beredar dengan stock closing price selama event windows. Penjelasan perhitungan masing masing variabel adalah sebagai berikut : a. Variabel Dependen Cost of Equity Capital dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan metode CAPM dengan rumus : CECit = Rft + ( Rmt-Rft ) it Keterangan : CECit = estimasi cost of equity capital saham i pada periode t Rft = risk free rate ( tingkat bunga SBI 1 bulan) pada periode t

Rmt = return pasar periode t yang diperoleh dari selisih IHSG pada hari t dengan IHSG pada hari t-1 dibagi dengan IHSG pada t-1 it = beta saham i pada periode t (beta saham i )yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara meregresikan return saham perusahaan dengan indeks harga saham gabungan menurut sektor industri dengan rumus : Rit = + itRmt + Keterangan : Rit = return sekuritas i periode t it = Beta dari sekuritas I periode t Rmt = indeks harga saham sektor industri = error term b. Variabel Independen. a. Indeks Pengungkapan ( disclosure) atau dcore dalam penelitian ini mengembangkan daftar item pengungkapan dan membuat indeks pengungkapan untuk setiap perusahaan sampel. Bagi perusahaan yang mengungkapkan informasi dalam instrumen diberi skor 1 dan skor 0 jika tidak mengungkapkan. Kemudian skor yang diperoleh perusahaan sampel dibagi skor yang mungkin dapat diperoleh perusahaan tersebut. Tingkat disclosure (dscore ) dapat dijabarkan dengan rumus : dscore it= score it / total scoret Keterangan : dscore it = tingkat disclosure saham i pada periode t score it = jumlah skor indeks pengungkapan saham i pada periode t total scoret = total skor pengungkapan sektor industri pada periode t b. Asimetri informasi dihitung dengan proksi bid-ask spread yang menggunakan model regresi seperti berikut ini : Spreadi,t = 0 + 1Price i,t + 2Trans i,t + 3Var i,t +4 Depth i,t + i,t Spread yang menyatakan asimetri informasi dihitung dengan rumus : Spread it = (ask it - bid it ) /{ ( ask it +bid it ) / 2 } x 100 Keterangan : ask it : harga ask tertinggi saham perusahaan i yang terjadi pada hari t bid it : harga bid terendah saham perusahaan i yang terjadi pada hari t Price it : harga penutupan saham perusahaan i pada hari t di setiap hari dalam event windows ( 7 hari sebelum dan 7 hari setelah publikasi laporan keuangan) Trans it : jumlah transaksi (volume ) suatu saham perusahaan i pada hari t dalam tiap hari event windows Varit : varian return hari selama periode penelitian pada saham i dan hari ke t. Return harian merupakan persentase perubahan harga saham hari ke-t dengan harga saham pada hari ke t-1 Depth it : rata-rata jumlah saham perusahaan i dalam semua quates (jumlah saham yang tersedia pada ask ditambah jumlah yang tersedia pada saat bid dibagi 2 ) selama setiap hari ke t dalam event windows i,t : residual error yang digunakan sebagai ukuran spread yang telah disesuaikan dan digunakan sebagai proksi asimetri informasi untuk perusahaan i pada hari ke t c. Varibel Moderasi Ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi dihitung dengan natural log dari total kapitalisasi pasar ekuitas yang dihitung dengan mengalikan jumlah lembar saham yang beredar dengan stock closing price selama event windows. Sebelum melakukan uji regresi, data yang terkumpul dianalisis terlebih dahulu dengan melakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik yang digunakan pada penelitian ini adalah normalitas, autokorelasi, multikolinieritas, heteroskedastisitas. Uji-t dilakukan untuk menguji koefisien regresi secara parsial, yaitu untuk menguji pengaruh signifikansi dari suatu variabel independen terhadap variabel dependen jika variabel independen yang lain dianggap konstan. Uji t dilakukan untuk menguji hipotesis 1-3 dengan tingkat signifikasi 95%. ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN Pengujian Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik bertujuan untuk menentukan ketepatan model. Asumsi klasik pertama yang diuji adalah multikolineritas, yang dilakukan dengan dengan menggunakan VIF atau nilai tolerance value. Hasil pengujian terhadap asumsi multikolineritas dapat dilihat pada tabel 1 yang menunjukkan bahwa nilai VIF dibawah 10 dan nilai tolerance value diatas 10%.Hal ini dismpulkan tidak terjadi multikolinieritas dalam model regresi yang digunakan. Tabel 1 Uji asumsi Multikolineritas Model Regresi 1 Tolerance .775 .956 .760

Variabel indeksdisclosure asimetriinformasi ukuranperusahan

VIF 1.290 1.046 1.315

Model Regresi 2a indexdisclosure costequitycapital 1.000 Model Regresi 2b 1.000 1.000 1.000

Asumsi Klasik yang kedua yang diuji adalah uji autokorelasi atau asumsi independensi residual dengan menggunakan metode Durbin Watson. Hasil pengujian ini dapat dilihat pada tabel 2 yang menunjukkan nilai 2,123 ; dan 2,036 yang menunjukkan arti tidak terdapat autokorelasi Tabel 2 Uji asumsi Autokorelasi Model Regresi 1 Std. Error Adjusted R Square Estimate .676 .00355063 Model Regresi 2 .002 .50159

of

the Durbin-Watson 2.123 2.036

Model R .825a .077a

R Square .681 .006

Asumsi klasik ketiga yang diuji adalah uji heteroskedastisitas yang dilakukan dengan melihat pola grafik regresi. Bila titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi (gambar 1,gambar 2 dan gambar 3)

Gambar 1. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Regresi 1

Gambar 2. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Regresi 2a

Gambar 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Regresi 2b Statistik Deskriptif Pada tabel 4 disajikan statistik deskriptif untuk seluruh sampel yang digunakan untuk menguji hipotesis sebagai berikut : Tabel 4 Statistik Deskriptif Minimum Maximum .067994 .094749 .000000 1.117647 -.163430 .003884 9.967400 1.431090E1

Cost equity capital Indeks disclosure Asimetri informasi Ukuran perusahan

N 294 294 294 294

Mean .08359726 .62343822 -4.41112245E-4 1.16980112E1

Std. Deviation .006346251 .131942969 .010486188 .962580722

Hasil Analisis Regresi Hipotesis pertama,kedua dan ketiga diuji dengan melakukan regresi antara disclosure, asimetri informasi dan ukuran perusahaan terhadap cost of equity capital secara bersama-sama. Hasil pengujian hipotesis pertama, kedua dan ketiga dapat dilihat pada tabel 5. Uji

model terhadap hipotesis pertama, kedua dan ketiga menunjukkan model sudah cukup baik karena nilai signifikansi F test sebesar 0.0000 dan nilai R2 sebesar 0,681 Tabel 5 Pengujian Hipotesis 1,2,dan 3 T statistik Signifikansi 1.238 .217 2.868 .004 .719 -2.225 .473 .027

Variabel Koefisien Constant .003 Index disclosure .005 Asymetri .015 information Size .000 Dependent Variable: Cost of Equity Capital

R Square

.681

153.582

Pengujian terhadap hipotesis alternatif satu yang diajukan menyatakan bahwa disclosure berpengaruh signifikan terhadap cost of equity capital.Hasil analisis regresi menunjukkan koefisien indeks disclosure positif sebesar 0.005 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.004. Hasil ini secara statistik signifikan, sehingga dengan menggunakan tingkat alpha 0.05 hipotesis nol berhasil ditolak atau hipotesis alternatif diterima. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara disclosure dengan cost of equty capital. Hasil ini sesuai dengan teori sinyal yang menjelaskan bahwa laporan keuangan memberikan signal bagi para penggunanya tentang informasi penting yang dimiliki manajemen perusahaan. Laporan keuangan yang memberikan tingkat disclosure yang tinggi dianggap sebagai laporan keuangan yang memiliki risiko tinggi sehingga investor menilai hasil laporan keuangan suatu perusahaan memiliki risiko tinggi, yang mengakibatkan return yang diharapkan oleh investor juga tinggi, dan menyebabkan biaya ekuitas yang harus dikeluarkan oleh perusahaan semakin tinggi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Gulo (2000) yang menguji pengaruh disclosure terhadap cost of equity capital yang menghasilkan temuan bahwa jumlah disclosure yang disampaikan oleh perusahaan dalam laporan keuangan tahunan tidak memiliki pengaruh negatif yang signifikan dengan estimasi cost of equity capital, atau disclosure mempunyai hubungan positif signifikan terhadap cost of equity capital. Hal ini dapat terjadi karena pada perusahaan knowledge base yang menjadi sampel penelitian dibutuhkan jumlah investasi yang besar pada intangible asset seperti intellectual capital yang belum diakui dan dilaporkan secara memadai pada laporan keuangan sehingga perusahan tersebut mengalami berbagai macam masalah dalam menyajikan laporan keuangan. Hipotesis kedua diuji dengan melakukan regresi antara asimetri informasi dengan cost of equity capital. Dari tabel 5 diatas dapat diperoleh hasil bahwa nilai koefisien asimetri informasi menunjukkan angka sebesar 0.015 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.473. Hasil ini secara statistik tidak signifikan, sehingga dengan menggunakan tingkat alpha 0.05 hipotesis nol diterima atau hipotesis alternatif ditolak. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh antara asimetri informasi dengan cost of equity capital. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Coles et al. (1995) dan Clarkson et al (1996) yang menjelaskan bahwa tingkat asimetri informasi yang rendah, di mana tidak terjadi kesenjangan informasi antara pihak ekternal dengan internal perusahaan , membuat laporan keuangan lebih transparan dan menyebabkan estimasi risiko lebih rendah karena tidak ada informasi yang disembunyikan, sehingga tingkat pengembalian yang diminta oleh investor rendah, dan mengurangi biaya modal. Atau dengan kata lain asimetri informasi memiliki hubungan positif dengan cost equity capital yang berarti jika terjadi asimetri informasi yang makin tinggi dapat menyebabkan kenaikan cost of equity capital ,dan bila asimetri informasi lebih rendah maka cost of equity capital pun juga rendah. Hasil temuan ini sejalan dengan teori bid ask spread yang menjelaskan bahwa ketika terjadi asimetri informasi , setiap keputusan yang diambil manajer dapat mempengaruhi harga saham yang mengakibatkan timbulnya biaya transaksi dan mengurangi likuiditas yang diharapkan dalam pasar modal. Biaya transaksi yang timbul dan likuiditas yang berkurang akan meningkatkan risiko saham, sehingga investor meminta return yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan cost of capital. Hipotesis ketiga diuji dengan melakukan regresi antara disclosure , dan asimetri informasi secara bersama-sama terhadap cost of equity capital. Dari tabel 5 diatas dapat diperoleh hasil F hitung sebesar 153,58 dengan tingkat probabilitas ( signifikansi) 0,000 menunjukkan bahwa tingkat signifikan lebih kecil dari nilai alpha 0,05 sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi cost of equity capital. Dari tabel 5 hasil uji nilai signifikansi uji F sebesar 0,000 , berarti Ha3 diterima atau dengan kata lain disclosure dan asimetri informasi berpengaruh secara simultan terhadap cost of equity capital. Hipotesis keempat diuji dengan menggunakan uji residual terhadap variabel ukuran perusahaan yang dianggap sebagai variabel moderasi antara disclosure dengan cost of equity capital. Dari tabel 6 diperoleh hasil bahwa nilai koefisien cost of equity capital sebesar 6.069 dengan nilai signifikansi sebesar 0.190 yang berarti lebih besar dari 0.05 sehingga tidak signifikan. Koefisien parameter yang positif dan tidak signifikan ini menunjukkan tidak adanya lack of fit antara disclosure dan size yang mengakibatkan cost of equity capital naik atau berpengaruh positif. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan (size) bukan variabel moderasi. Atau ukuran perusahaan tidak mempengaruhi hubungan antara disclosure dengan cost of equity capital (Ho4 diterima). Tabel 6 Pengujian Hipotesis 4 Koefisien T statistik 6.069 1.314

Variabel Cost equity capital

Signifikansi .190

Simpulan Dan Saran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh disclosure dan asimetri informasi terhadap cost of equity capital. Setelah melakukan pengujian terhadap 98 perusahaan sampel, hasil analisis hipotesis pertama menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan

antara disclosure dengan cost of equity capital dan memiliki hubungan positif. Hasil ini memberikan penjelasan bahwa disclosure yang dibuat oleh manajer tidak menurunkan cost of equity capital. Hasil hipotesis kedua menunjukkan adanya hubungan positif yang tidak signifikan antara asimetri informasi dengan cost of equity capital. Hasil Hipotesis ketiga menunjukkan bahwa disclosure dan asimetri informasi secara simultan mempengaruhi cost of equity capital. Hasil hipotesis keempat menunjukkan bahwa ukuran perusahaan bukanlah variabel moderasi antara disclosure dengan cost of equity capital. Meskipun hasil penelitian memberikan dukungan terhadap hipotesis yang diajukan, namun ada beberapa keterbatasan dalam penelitian sehingga disarankan: 1. Pada penelitian selanjutnya digunakan metode estimasi cost of equity capital selain metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) seperti metode Edward Bell Olson (EBO) yang lebih dikenal dengan metode residual income yang lebih representatif dalam menguji keterkaitan antara pengungkapan dengan cost of equity capital. 2. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini hanya perusahaan yang berdasar knowledge base sehingga pada penelitian lanjutan diharapkan jumlah sampel diperbanyak, dengan jumlah industri yang lebih beragam. 3. Periode penelitian diperpanjang dan perbaikan pada desain penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi implikasi bagi manajer perusahaan bahwa jumlah disclosure yang disampaikan dalam laporan keuangan untuk pihak ekternal perusahaan belum cukup memadai sehingga tidak berdampak pada penurunan cost of equity capital. Manajer perlu memperbanyak jumlah disclosure yang dapat membantu pengambil keputusan investor untuk melakukan penilaian pada perusahaan agar dapat melakukan investasi pada perusahaan di pasar modal. Daftar Pustaka Botosan, C. ,(1997). Disclosure Level and the Cost of Equity Capital, The Accounting Review, Vol. 72 ( 3 ), hal. 323-349. Callahan ,M. Carolyn, Charles M.Lee, dan Teri Lombardi Yohn , ( 1997). Accounting Information and Bid -Ask Spreads, Accounting Horizons 11, Dec, 50-60 Clarkson, P., Guedes, J. dan Thompson, R., (1996). On The Diversification, Observability, and Measurement of Estimation Risk, Journal of Financial and Quantitative Analysis, vol. 31 (1), hal. 69-84. Coles, J. L., Loewenstein, U. dan Suay, J., (1995). On Equilibrium Pricing under parameter Uncertaintiy, Journal of Financial and Quantitative Analysis, vol.30 (3), hal. 347-364. Coller M., dan Teri L. Yohn, (1997). Management Forecasts and Information Asymmetry: An Examination of Bid -Ask Spread, Journal of Accounting Research, vol. 35 (2), hal. 180-191 Copeland, T dan Galai, D., (1983), Information Effect on Bid - Ask Spread, Journal Finance Vol 38, pp.1457-1469 Diantimala, Yossi dan Jogiyanto Hartono ( 2001), Pengaruh Pengumuman Laba Terhadap Asimetri Informasi ,Makalah Simposium Nasional Akuntansi IV IAI KAPd :35-52Bandung, Universitas Padjajaran Evans, Thomas G, (2003). Accounting Theory : Contemporary Accounting Issues , Thomson, South Western, Australia Hanaosek, Jan dan Richard Podpiera, (2003). Informed Trading and Bid-ask Spread : Evidence from Emerging Market. Journal of Comparative Economics 31, h. 275-296. Healy, P. M., dan Krishna G. Palepu. (1993). The effect of Firmss Financial Disclosure Strategies on Stock Prices. Accounting Horizons, vol. 7 (1), hal. 1-11. Hendriksen,Eldon S. dan Michael F. Van Breda , (2002). Teori Akuntansi,diterjemahkan oleh Herman Wibowo, edisi 5 jilid 2, Jakarta: Interaksara Ho,T. dan Stoll,H., (1981), Optimal Dealer Pricing Under Transaction and Return Uncertainty, Journal Financial Economics 10,pp.4167 Jensen, Michael C.,dan Meckling,William H., (1976) Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure, Journal of Financial Economics, October, 1976, V. 3, No. 4, pp. 305-360. Joko T., (2004). Hubungan Antara Pengungkapan, Asimetri Informasi Dan Biaya Modal, Jurnal Akuntansi Untar/Th.VIII/01/Mei, hal 81-97 Jones, Charles, P .,(1997) , Investment Analysis and Management, sixth Edition, John Wiley and Sons, New york. Komalasari, P. T., & Zaki Baridwan (2001). Asimetri Informasi dan Cost of equity capital, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol. 1 (4), hal. 64-81. Lang, M. H., & Russell J. Lundholm (1996). Corporate Disclosure Policy and Analyst Behavior, The Accounting Review, vol. 71 (4), hal. 467-492. Leuz, C., & Robert E. Verrecchia. (2000). The Economic Consequences of Increased Disclosure, Journal of Accounting Research, vol. 38, hal. 91-124. Levinsohn, Alan. 2001. A Garden of Stock Options Helps Harvest Talent. Strategic Finance 82, pp. 81-82. Mardiyah, Aida Ainul, (2002) . Pengaruh Asimetri Informasi dan Disclosure terhadap Cost of Capital , Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 5, No 2 (mei) , hal 229-256 . Murni,Siti Asiah (2004). Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela dan Asimetri Informasi Terhadap Cost of Equity Capital pada Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia , vol 7, No. 2 , hal 192-206 Scott , W., (2000). Financial Accounting Theory, Second Edition, Prentice Hall Inc Scott, William R., (2003), Financial Accounting Theory, third edition, Toronto,Pearson Education, Canada. Siegel, J. G., & Shim, J. K. (1994). Kamus Istilah Akuntansi. Jakarta:PT. Elex Media Computindo, Kelompok Gramedia. Stoll,H., (1978), The Supply of Dealer Services in Securitty Market, Journal of Finance, September , pp. 1133-1151 Stoll, H.R., (1989), Infering the Componnet of Bid Ask Spread : Theory and Empirical Test, Journal of Finance Vol.44, No 1 , pp.111 Tinic, S., (1972), The Supply of Dealer Service in Securities market, quarterly Journal of Economics, Vol 86 ,February

Welker, M. (1995), Disclosure Policy, Information Asymmetry, and Liquidity in Equity Markets, Contemporary Accounting Research, vol. 11 (2), hal. 801-827. Weygandt J. J., D. E. Kieso & P. D. Kimmel. (1999), Accounting Principles (fifth edition). USA: John Wiley & Sons, Inc. Wolk, Harry I., Michael G. Tearney, and James L. Dodd, 2001, Accounting Theory: A Conceptual and Institusional Approach, South Western College Publising

10