Anda di halaman 1dari 5

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KEPEMIMPINAN LAPANGAN KOMANDAN BATALYON YONIF

Kepemimpinan adalah seni dan kecakapan dalam mempengaruhi dan membimbing bawahan, sehingga dari pihak yang dipimpin timbul kemauan, kepercayaan, hormat dan ketaatan yang diperlukan dalam penunaian tugas-tugas yang dipikulkan padanya. Kepemimpinan seorang Komandan Batalyon sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kemampuan daya tempur para prajurit, sehingga melalui kepemimpinanya, ia akan mampu memtotivasi para prajurit untuk melaksanakan tugas-tugas satuan secara benar dan sungguhsungguh. Oleh karenanya setiap Komandan Batalyon senantiasa harus dapat mengaplikasikan 11 Azas Kepemimpinan, Prinsip Kepemimpinan TNI dan sifat kepemimpinan TNI baik sebagai Komandan, Bapak, Guru dan teman. Namun kenyataan yang terjadi di satuan Batalyon Infanteri tenyata belum sepenuhnya para Danyon mampu mengaplikasikan Azas, Prinsip dan Sifat kepemimpinan TNI secara optimal. Sehingga muncul beberapa permasalahan yang disebabkan oleh lemahnya Sebagai mampu kemampuan Danyon sebagai pemimpin di satuan Yonif. Salah satu contoh, terjadi di Yonif X, dimana yang bertindak sebagai Danyonif adalah Letkol Inf Yugo Bagiyo. Komandan di satuan Yonif X yang baru, seharusnya Letkol Inf Yugo Bagiyo mempertahankan reputasi

menonjol satuan yang selama ini dikenal baik pada masa

kepemimpinan Letkol Inf Harianto. Namun karena lemahnya kemampuan Letkol Inf Yugo Subagiyo dalam menerapkan kepemimpinannya yang lebih menonjolkan kepemimpinan otoriter sebagai Komandan yang tahunya semua hal harus dilayani dan hanya marah-marah saja, sedangkan peran sebagai sosok pemimpin, Bapak, Guru, dan Rekan sangat kurang, mengakibatkan terjadinya penurunan moril dan moral serta disiplin anggota satuan yang cukup drastis. Kondisi ini dapat kita lihat dengan adanya fakta-fakta seperti : Pertama, Pelaksanaan apel baik apel pagi, apel siang maupun apel malam kurang tetib karena banyak anggota yang terlambat dan tidak hadir tanpa keterangan yang sah dan berkisar antara 8-10 orang, terutama pada apel malam bagi Ta Remaja. Banyak anggota yang melakukan desersi dan tidak hadir tanpa keterangan, serta pelanggaran hukum, disiplin, dan tata tertib, namun anggota yang lain acuh tak acuh terhadap permasalahan ini, sesuai laporan Piket yang terakhir 8 orang (2 Ba, 6 Ta yang dsesrsi, tanpa ada upaya pencarian dan pelaporan ke Komando atas) nampak adanya upaya untuk melindungi pelanggaan pesonel Batalyon, yang

2 menimbulkan kesan bahwa Batalyon ini tidak ada permasalahan; Kedua, Markas Kesatuan terlihat kotor dan jorok, karena puntung rokok dan sampah berserakan dimana-mana, serta rumput disekitar kompleks pekantoran mirip semak belukar; Ketiga, Garirah kerja anggota menurun, karena tidak ada perhatian terhadap kesejahteraan anggota (baik moril mauun material); Keempat, Pa Piket sering meninggalkan tempat untuk menyelesaikan urusan pribadi, tanpa menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada Bintara Piket; Kelima, Suasana kehidupan rumah tangga anggota satuan banyak yang tidak harmonis karena sering cekcoknya antara suami dan isteri; Keenam, Banyak anggota yang menjadi backing segala bentuk perjudian sebagai dalih mencari tambahan pendapatan di luar gaji resmi; Ketujuh, Banyak anggota yang terlibat kasus pencurian, penadahan, dan penggelapan; Kedelapan, Adanya tindakan/penjatuhan hukuman yang kurang adil karena masih membeda-bedakan asal usul suku, agama, keturunan dan golongan terhadap anggota satuannya, serta upaya memberi upeti kepada Komandan Batalyon; Sembilan, Prestasi olahraga baik Oraum maupun Oramil pada event pelombaan dalam rangka perayaan HUT Kesatuan/TNI di wilayahnya tidak penah lagi merah juara, bahkan menduduki juru kunci; Kesepuluh, 2 Regu anggota dari Kompi A lari meninggalkan satuan karena perlakuan yang kurang adil; Kesebelas, banyak anggota yang melakukan pelanggaran susila, mabuk-mabukan (akibat minuman keras) dan terlibat narkoba; dan terakhir keduabelas, sering terjadi perkelahian antar anggta Yonif dengan masyarakat. Permasalahan yang terjadi di Yonif X tidak dapat dibiarkan begitu saja berlarut, sehingga upaya pemecahan yang komprehensi perlu untuk dilakukan. dapat diambil adalah : Pertama, menentukan skala prioritas pemecahan masalah yang disesuaikan dengan tingkat kekompleks-an masalah yang dihadapi, yaitu ; Prioritas-1 adalah Mengumpulkan seluruh Perwira di jajaran Yonif X kemudian memberikan pemahaman-pemahaman tentang kebijaksanaan apa yang diambil dalam waktu dekat dan supaya didukung seluruh Perwira, dan Memerintahkan Kasi-1 untuk mencari anggota 2 Ru KI A yang meninggalkan satuan, koordinasikan dengan aparat terkait; Prioritas ke-2, mengumpulkan seluruh anggota dan Persit (Jam Komandan) dan memberikan penjelasan tentang kondisi satuan saat ini, dan mengajak anggota beserta keluarga untuk bersama-sama mengembalikan citra satuan; Prioritas ke-3, senantiasa memberikan contoh dan tauladan dalam hal aplikasi nilainilai spiritual di depan anak buah dan mengadakan upaya untuk : 1) Menumbuhkan gairah kerja anggota melalui diadakannya kegiatan-kegiatan yang dapat memancing anggota dapat berkreasi seperti mengadakan pentas hiburan di satuan; 2) Senantiasa menuntun, mengajak Dan dalam menghadapi kondisi satuan yang seperti tersebut diatas, maka langkah dan tindakan yang

3 dan memberikan jalan bagi anggota untuk selalu berpikiran dan berpenjiwaan spiritual Ketuhanan; 3) Danyonif harus dapat memberikan pelajaran-pelajaran tentang spiritualitas Ketuhanan kepada anggota setiap saat dan setiap waktu yang memungkinkan di lingkungan satuan; 4) Danyonif dapat mengajak para anggota secara bersama-sama untuk menjalankan nilai-nilai Ketuhanan sebagai contoh taat beribadah, tidak berbohong serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar nilai-nilai keagamaan baik di lingkungan satuan maupun di lingkungan masyarakat; Prioritas ke-4, memperketat pelaksanaan apel pagi, siang dan malam untuk membatasi anggota keluar kesatrian dan memberikan kegiatan dalam satuan berupa kegiatan oleh raga bersama, beribadah dan korvei, sehingga waktu dihabiskan di satuan; Prioritas ke5, mengembalikan Moril Prajurit dengan cara : kesejahteraan prajurit; 2) 1) Memberikan perhatian terhadap Menimbulkan perasaan gembira dengan selalu memberikan

kesempatan terhadap prajurit untuk rekreasi,olah raga dan kesempatan beribadah; 3) Menimbulkan perasaan taat yang mendalam degan selalu memberikan contoh dalam setiap kegiatan; 4) Menimbulkan rasa kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan perintahperintah, kewajiban-kewajiban dengan memberikan penjelasan yang jelas tentang maksud dan tujuan tentang apa yang harus dilaksanakan; 5) Menimbulkan rasa kebersamaan dalam setiap kegiatan dimana kitapun ikut didalamnya. Dan untuk memperoleh semuanya itu maka saya sebagai Komandan batalyon yang baru akan senantiasa untuk : Pertama, Menerapkan kepemimpinan sesuai dengan sifatsifat, azas-azas dan pola kepemimpinan yang baik, harus mampu menempatkan diri sebagai Komandan, Guru , Bapak dan Teman; Kedua, Menimbulkan kepercayaan anggota terhadap kepemimpinan kita dengan selalu menunjukan hal-hal yang positif; Ketiga, Selalu memberikan penghargaan bagi prajurit yang berprestasi baik di home base maupun didalam peleksanaan tugas; Keempat, Menimbulkan rasa kebanggaan yang positif terhadap satuannya; Kelima, Memberikan kesempatan bagi prajurit untuk berlatih dan belajar dengan melaksanakan latihan Program maupun latihan dalam satuan; Kelima, Memberikan kesejahteraan dan kesempatan untuk rekreasi kepada prajurit beserta keluarganya; dan Keenam, Memberikan kesempatan kepada prajurit untuk mengembangkan bakat sesuai dengan keinginan dan kemampuannya; Ketujuh, Mengembalikan disiplin prajurit sehingga tidak ragu-ragu dan tulus iklas melaksanakan setiap perintah, petunjuk yang diberikan kepadanya, hal ini dapat dicapai dengan memberikan peghargaan kepada prajurit yang berprestasi dan menjatuhkan hukuman bagi prajurit yang melanggar sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya; Ketujuh, Mengembalikan Jiwa korsa satuan dengan cara membudayaka kerjasama,perasaan senasib antara anggota dan pimpinan/Komandan serta rasa bangga

4 terhadap satuan sehingga menimbulkan perasaan memiliki atas satuan dan ikut bertanggung jawab terhadap nama baik satuannya; Kedelapan, Melatih Kecakapan dan ketangkasan, hal ini didapat dengan cara memberikan latihan-latihan, pelajaran-pelajaran serta pembagian tugas yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh prajurit. Prioritas ke-6, menerapkan pola kepemimpinan lapangan baik sebagai Komandan, sebagai pemimpin, sebagai Bapak maupun sebagai Rekan/Teman Seperjuangan seperti : Pertama, Sebagai Komandan. memegang teguh azas Waspada Purba Wisesa, yaitu selalu waspada mengawasi serta sanggup memberi koreksi kepada anak buah yang melakukan berbagai kesalahan dan pelanggaran disiplin dan peraturan dalam satuan. Serta azas Belaka, yaitu memiliki kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan segala perintah yang diberikan kepada anak buahnya; bersikaf tegas, Bijaksana dan adil, Berwibawa, Tidak mementingkan diri sendiri yaitu selalu mementingkan kepentingan anggota dibandingkan kepentingan pribadi, dan mengambil keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi di satuan, serta menjadi tauladan yang baik dihadapan anggota sesuai dengan norma-norma kepribadian TNI khususnya dan kepribadian bangsa pada umumnya. Sebagai Bapak akan selalu memegang teguh azas Ing Ngarsa Sung Tulada yaitu memberi suri tauladan dihadapan anggota. Dan azas prasaja dengan menampilkan tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan dihadapan anggota. Disamping itu juga Danyon harus menciptakan rasa aman dan memberikan perkembangan kepada bawahannya, sehingga anggota/bawahan merasa mewakili orang tua yang setiap saat dapat dijadikan sebagai tempat pengaduan bila anggota/bawahan mengalami masalah. Sebagai Guru, perlu memiliki pengetahuan sesuai dengan azas, prinsip dan sifat-sifat kepemimpinan TNI. Sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya Danyon akan mampu memberikan tambahan ilmu dan pengetahuan kepada anak buahnya; ulet dan tahan uji dalam menghadapi keadaan anggota yang sedang mengalami penurunan moril; dan Menerapkan azas Tut Wuri Handayani yaitu mempengarui dan memberi dorongan kepada anak buah, agar mau menambah ilmu dan memberikan kesempatan untuk sekolah bila sudah waktunya. Sementara itu sebagai Rekan/Teman perlu menerapkan, Ing Madya Mangun Karsa, yaitu ikut aktif bergiat serta menguggah semangat di tengah anak buah, Satya, yaitu bersikap loyal yang timbal balik dari atas terhadap bawahan, sehingga bawahan akan memiliki sikap yang loyal baik terhadap atasan maupun kesamping; Tidak mementingkan diri sendiri dan dapat menjadi tauladan serta memiliki sifat yang rendah hati dihadapan para anggota bawahan, sehingga anggota akan merasa dihormati.

5 Dari berbagai uraian yang telah dikemukakan diatas, dapat diambil suatu kesimpulan sebagai Pemimpin maka seorang Danyon harus dapat mengaplikasika nilainilai yang terkandung dalam 11 Azas Kepemimpinan, Prinsip Kepemimpinan TNI dalam kepemimpinannya di satuan. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai kepemimpinan tersebut, maka seluruh anggota satuan akan memiliki moril, moral dan tingkat kedisiplinan yang baik yang dilandasi oleh etos kerja yang tinggi. Dengan terpenuhinya hal tersebut, maka tugas pokok satuan Batalyon Infateri sebagai satuan tempur TNI AD akan dapat terlaksanakan secara optimal dan terhindar dari adanya segala bentuk pelanggaran prajurit yang dapat merugikan citra TNI AD di tengah-tengah masyarakat.