Anda di halaman 1dari 12

34

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Sejumlah tiga puluh ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley dengan berat badan berkisar antara 160-200 gram, diaklimatisasi selama 10 hari dan dikelompokkan secara acak menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok perlakuan I, kontrol negatif yaitu kelompok normal (hanya mendapatkan sonde aquadestilata 5 cc per hari). Kelompok perlakuan II, kontrol positif yaitu kelompok DM dan mendapatkan sonde aquadestilata 5 cc per hari. Kelompok perlakuan III, yaitu kelompok DM yang mendapatkan metformin dengan dosis 100 mg/kgBB per hari per sonde lambung. Kelompok perlakuan IV, yaitu kelompok DM yang mendapatkan ekstrak metanol daging buah mahkota dewa dengan dosis 250 mg/kgBB per hari per sonde lambung. Kelompok perlakuan V, yaitu kelompok DM yang mendapatkan ekstrak air daging buah mahkota dewa dengan dosis 250 mg/kgBB per hari per sonde lambung. Induksi DM dilakukan dengan injeksi aloksan dengan dosis 150 mg/kg BB single dose secara intraperitoneal. Hiperglikemia terjadi setelah 72 jam setelah injeksi. Kadar glukosa darah puasa lebih dari 130 mg/dl yang dipilih sebagai subyek penelitian (Sedigheh et al., 2011). Karakteristik hewan coba disajikan pada Gambar 4.1 dan Tabel 4.1. Pengukuran kadar gula darah puasa tikus dilakukan 72 jam setelah induksi aloksan. Hasil yang diperoleh seperti tercantum pada Tabel 4.1.

35

Tabel 4.1 Rerata Kadar Glukosa Darah Puasa Tikus Hewan Coba Kelompok Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V n 6 6 6 6 6 GDP sebelum perlakuan (mg/dl)* 109,50 218,67 238,83 220,17 243,67

* : setelah injeksi aloksan 150 mg/kgBB, Kelompok I : kelompok normal (sonde aquadestilata), Kelompok II : kelompok DM (injeksi aloksan 150 mg/kgBB), Kelompok III : tikus DM + metformin 100 mg/kgBB, Kelompok IV : tikus DM + ekstrak metanol daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB, Kelompok V : tikus DM + ekstrak air daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB

Kadar glukosa darah puasa tikus kelompok normal masih dalam batas gula darah normal (< 130 mg/dl), sedangkan pada kelompok II, III, dan IV (diabetik) kadar glukosa darah puasa di atas normal (>130 mg/dl). Kadar glukosa darah tikus diabetik (Kelompok II, III, IV, V) dilakukan analisis menggunakan uji One Way ANOVA dan didapatkan hasil tidak signifikan (p=0,98), yang berarti tidak terdapat perbedaan glukosa darah yang signifikan pada kelompok diabetik (Tabel 4.1). Perlakuan dilakukan selama 21 hari, selama penelitian berlangsung tidak ada hewan coba yang mati pada semua kelompok perlakuan. Rerata berat badan hewan coba pada masing-masing kelompok perlakuan dilihat pada Gambar 4.1. Berdasarkan hasil rerata berat badan terlihat kelompok normal mengalami kenaikan berat badan pada minggu I dan konstan sampai akhir penelitian. Kelompok II dan V mengalami kenaikan berat badan sedangkan kelompok III dan IV mengalami penurunan berat badan pada akhir penelitian dibandingkan berat badan pada awal penelitian (Gambar 4.1).

36
225 215 205 195 185
Kelom pok I Kelom pok II Kelom pok III Kelom pok IV Kelom pok V

) m a r g ( S U K I T A R E B

175 165 Awal Mgu I Mgu II Akhir

Gambar 4.1 Rerata Berat Badan Mingguan Hewan Coba


Kelompok I : kelompok normal (sonde aquadestilata), Kelompok II : kelompok DM (injeksi aloksan 150 mg/kgBB), Kelompok III : tikus DM + metformin 100 mg/kgBB, Kelompok IV : tikus DM + ekstrak metanol daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB, Kelompok V : tikus DM + ekstrak air daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB

Akhir penelitian dilakukan pemeriksaan kadar ureum dan kadar kreatinin serum tikus dengan hasil dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2. Hasil Analisis Univariat Kadar Ureum Serum dan Kadar Kreatinin Serum Kelompok Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V n 6 6 6 6 6 Ureum (mg/dl) 40,83 9,35 74,00 1,30 60,33 1,09 36,17 9,54 28,50 9,91 Kreatinin (mg/dl) 0,58 0,07 0,75 0,10 0,58 0,09 0,43 0,08 0,32 0,07

Kelompok I : kelompok normal (sonde aquadestilata), Kelompok II : kelompok DM (injeksi aloksan 150 mg/kgBB), Kelompok III : tikus DM + metformin 100 mg/kgBB, Kelompok IV : tikus DM + ekstrak metanol daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB, Kelompok V : tikus DM + ekstrak air daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB. Hasil dalam Mean SD.

Rerata kadar ureum serum Kelompok DM paling tinggi di antara kelima kelompok secara bermakna. Tikus yang mendapatkan esktrak metanol daging buah mahkota dewa (Kelompok IV) dan esktrak air daging buah mahkota dewa (Kelompok V) memiliki rerata kadar ureum serum lebih rendah dibandingkan kelompok yang mendapat metformin dan kelompok normal secara bermakna (Tabel 4.2).

37

Dilakukan uji normalitas data kadar ureum serum dengan uji SaphiroWilk (n < 50) dan diperoleh data terdistribusi normal (p > 0,05). Uji varians data menggunakan uji Homogeneity of Variance menunjukkan varians data kelima kelompok sama (p > 0,05). Hasil uji One Way ANOVA ( = 0,05) diperoleh hasil p = 0,00; (p < 0, 05) maka Ho ditolak atau rerata kadar ureum serum pada kelima kelompok perlakuan adalah berbeda bermakna. Uji Post Hoc LSD menunjukkan rerata kadar ureum serum kelompok IV dan V lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok DM dan kelompok yang mendapatkan metformin (Gambar 4.2), akan tetapi tidak terdapat perbedaan rerata kadar ureum serum pada kelompok yang mendapat esktrak metanol daging buah mahkota dewa dan ekstrak air daging buah mahkota dewa (p=0,22) (Lampiran 11).
b a

ab

ab ab

Gambar 4.2 Histogram Rerata SD Kadar Ureum Serum Hewan Coba


Error bar = SD (n=6), a : hasil berbeda bermakna terhadap Kelompok DM (p<0,05), b : hasil berbeda bermakna terhadap Kelompok III (p<0,05), Kelompok I : kelompok normal (sonde aquadestilata), Kelompok II : kelompok DM (injeksi aloksan 150 mg/kgBB), Kelompok III : tikus DM + metformin 100 mg/kgBB, Kelompok IV : tikus DM + ekstrak metanol daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB, Kelompok V : tikus DM + ekstrak air daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB

Pengukuran kreatinin menggunakan metode Jaffe dengan 492 nm dan sampel serum. Pembacaan hasil kreatinin serum menggunakan

38

spektrofotometer yang dilakukan di Laboratorium Biokimia Jurusan Kedokteran FKIK Unsoed. Hasil rerata kreatinin serum pada tikus DM paling tinggi dibandingkan empat kelompok lain secara bermakna. Rerata kreatinin serum Kelompok IV dan V lebih rendah dibandingkan kelompok DM dan kelompok tikus yang mendapatkan metformin secara bermakna (Tabel 4.2). Hasil uji normalitas data rerata kreatinin serum tidak normal meskipun telah dilakukan transformasi data, sehingga analisis statistiknya menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hasil uji Kruskal-Wallis (=0,05) didapatkan hasil p = 0,00; (p<0,05) maka Ho ditolak atau rerata kreatinin serum pada kelima kelompok perlakuan adalah berbeda bermakna (Lampiran 12). Analisis dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney untuk mengetahui kelompok perlakuan mana yang saling berbeda secara bermakna. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan rerata kreatinin serum Kelompok IV dan V lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok DM dan kelompok normal. Kelompok IV dan V juga memiliki rerata kadar kreatinin serum lebih rendah dari kelompok metformin secara bermakna. Pemberian ekstrak daging buah mahkota dewa sendiri, ekstrak yang menggunakan air memiliki rerata kadar kreatinin serum lebih rendah dibandingkan ekstrak metanol secara bermakna (p=0,04) (Gambar 4.3).
b

abc

ab

39

Gambar 4.3 Histogram Rerata SD Kadar Kreatinin Serum Hewan Coba


Error bar = SD (n=6), a : hasil berbeda bermakna terhadap Kelompok II (p<0,05), b : hasil berbeda bermakna terhadap Kelompok III (p<0,05), c : hasil berbeda bermakna antara Kelompok IV dan Kelompok V (p<0,05), Kelompok I : kelompok normal (sonde aquadestilata), Kelompok II : kelompok DM (injeksi aloksan 150 mg/kgBB), Kelompok III : tikus DM + metformin 100 mg/kgBB, Kelompok IV : tikus DM + ekstrak metanol daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB, Kelompok V : tikus DM + ekstrak air daging buah mahkota dewa 250 mg/kgBB

B. Pembahasan Lebih tingginya kadar glukosa darah puasa kelompok yang diinduksi aloksan dengan dosis 150 mg/kgBB dibandingkan kelompok normal sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nagappa et al. (2003), Triastuti et al. (2009), Tripahti et al. (2010), dan Smith et al. (2012). Aloksan (2,4,5,6-tetraoksipirimidin; 5,6 dioksiurasil) merupakan derivat pirimidin yang digunakan untuk menginduksi Diabetes Melitus (DM) pada hewan coba. Adapun mekanisme terjadinya hiperglikemik akibat pemberian aloksan disebabkan adalah pembentukan reactive oxygen species (ROS) (Lenzen, 2008). Aloksan dan hasil reduksinya, asam dialurat, keduanya akan membentuk radikal superoksida. Radikal superoksida mereduksi ion ferri menjadi ion ferro yang diperoleh dari pembebasan ferritin. Radikal

40

superoksida juga membentuk hidrogen peroksida (Rohilla et al., 2012). Tahap awal, produk-produk ROS tersebut serta adanya peningkatan kalsium di dalam sel menyebabkan konsentrasi insulin dalam sel meningkat dengan cepat, akan tetapi peningkatan konsentrasi insulin tersebut menurunkan sensitivitas reseptor insulin. Hal ini menyebabkan insulin tidak membawa glukosa ke sel sehingga jumlah glukosa meningkat dalam darah (Nugroho, 2006; Rohilla et al., 2012). Selain itu, produk-produk ROS tersebut juga menyebabkan nekrosis sel sehingga sel tidak dapat memproduksi insulin (Lenzen, 2008). Tidak adanya produksi insulin menyebabkan semakin meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Produk-produk ROS juga menyebabkan gangguan fungsi nitric oxide (NO) pada endotel dan menstimulasi sitokin-sitokin seperti tumor necrosis factor- (TNF-), nuclear factor-B (NF-B) dan transforming growth factor- (TGF-). Penurunan produksi NO pada sel endotel mengaktivasi matriks ekstraseluler ginjal yaitu matriks metaloproteinase 2 (MMP-2) dan matriks metaloproteinase 9 (MMP-9). Adapun tujuannya adalah untuk melakukan proses dilatasi pembuluh darah mikro pada glomerulus. Usaha ini dilakukan untuk meningkatkan filtrasi pada ginjal. Semua pembuluh darah bagian tengah dan membran dasar endotel kapiler mengandung elastin dan kolagen ultrastruktural sebagai penghubung interstisial, tetapi karena terjadi ketidakseimbangan antara MMP dan inhibitornya yaitu tissue inhibitor proteinase (TIMP), akan menyebabkan ekspresi MMP-2 dan MMP-9 meningkat. Proses berikutnya MMP-2 dan MMP-9 akan mendegradasi elastin dan kolagen tersebut serta menggantikan dengan kolagen teroksidasi yang

41

lebih kaku. Sebagai akibatnya terjadi fibrosis pada glomerulus ginjal disertai hipertofi ginjal (Min et al., 2005). Protein Kinase C dan ROS dapat menstimulasi aktivasi NF-B. Faktor transkripsi NF-B memicu renspon inflamasi jaringan dan mikroangiopati yang menyebabkan gangguan aliran darah pada ginjal. Sitokin TNF- menstimulasi kematian sel dan proses inflamasi yang akan memperparah kerusakan ginjal. Sitokin TGF- memicu terjadinya fibrosis glomerulus dan glomeruloskeloris, selain itu TGF- dapat memicu penebalan mebran basalis (Elmarakby et al., 2010). Penebalan membran basalis menyebabkan glomerulus tidak dapat memfiltrasi ureum dan kreatinin dalam secara normal sehingga kadar ureum dan kreatinin dalam darah meningkat (Gambar 2.2) (Ohshiro et al., 2010). Penelitian histopatologi pada tikus model diabetik menyatakan bahwa tikus diabetik yang mengalami penebalan membran basalis glomerulus memiliki kadar ureum dan kreatinin lebih tinggi dibandingkan tikus normal (Abdollahi et al., 2011). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Triastuti et al. (2009) yang menyatakan bahwa terjadi kenaikan kadar Blood urea nitrogen (BUN) pada tikus model diabetik yang telah mengalami hipertrofi ginjal. Hasil penelitian diperoleh rerata kadar ureum dan kreatinin serum kelompok DM lebih tinggi dari kelompok normal yang sesuai dengan penelitian Ghaisas et al. (2010) dan Ilahi et al. (2012). Nagappa et al. (2003) melakukan penelitian tikus diabetik menggunakan induksi aloksan 150 mg/kgBB, 21 hari setelah induksi kadar ureum dan kreatinin tikus diabetik lebih tinggi daripada tikus normal.

42

Metformin

memiliki

efek

antiinflamasi

dengan

menghambat

pengeluaran early growth response factor-1 (Egr-1) and extracellular signalregulated protein kinase-1 dan 2 (ERK 1/2) yang dihasilkan monosit. Penghambatan Egr-1 dan ERK 1/2 akan mengurangi pembentukan tumor necrosis factor (TNF) dan tissue factor (TF) golongan matriks

metaloproteinase-2 (MMP-2) dan matriks metaloproteinase-9 (MMP-9). Supresi TNF mencegah stimulasi adesi, migrasi, dan akitvasi leukosit dan makrofag yang dapat menyebabkan proses inflamasi dan kerusakan vaskular. Supresi TNF juga dapat mengurangi pengeluaran MMP-2 dan MMP-9 yang bertanggung jawab terhadap terjadinya fibrosis pada glomerulus yang dapat menyebabkan gangguan filtrasi dan kenaikan kadar ureum dan kreatinin (Arai, 2010). Studi fitofarmaka menyatakan bahwa mahkota dewa mengandung senyawa fenolik, quercetin, kaempferol, dan terpenoid (Ali et al., 2012) Fenolik memiliki mekanisme scavenging radikal bebas melalui peran gugus hidroksil pada struktur kimianya (Pourmorad et al., 2006). Fenolik juga dapat mengurangi peroksidasi lemak sehingga meningkatkan kerja katalase untuk meredam radikal bebas dalam tubuh (Wang et al., 2011). Quercetin memiliki efek antioksidan melalui proses scavenging radikal bebas yang lebih kuat dibanding jenis flavonoid lainnya. Quercetin menghambat inisiasi rantai oksidasi yang dibentuk dari 2 radikal bebas (Parul et al., 2007). Penelitian nefrotoksisitas yang dilakukan Gonzalez et al. (2012) menyatakan bahwa quercetin dapat memperbaiki vaskularisasi ginjal. Vaskularisasi yang baik akan memperbaiki filtrasi ureum dan kreatinin.

43

Quercetin mencegah sintesis nitric oxide (NO) yang berlebihan sehingga mengurangi pembentukan peroksinitrit (ONOO-) dari NO yang dihasilkan iNOS. Efek lain quercetin adalah menghambat aktivasi protein kinase serta mencegah produksi TNF- sehingga mengurangi kematian sel (Calamia, 2003). Senyawa selain quercetin pada mahkota dewa yang memiliki efek antioksidan adalah terpenoid. Menurut Singh et al. (2011) terpenoid menghambat produksi TGF-. Aktivasi TGF- menyebabkan fibrosis glomerulus dan gangguan LFG, selain itu TGF- juga bertanggung jawab terhadap akumulasi matriks ekstraselular sehingga menyebabkan penebalan membran basalis glomerulus (Cao et al., 2011). Mahkota dewa juga dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan berupa superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT), glutation peroksidase (GPx), dan glutation tereduksi (GSH) di hepar dan ginjal melalui mekanisme scavenging radikal bebas (Triastuti et al., 2009). Peningkatan kadar enzim antioksidan pada hewan coba diabetik (Semiz et al., 2007) dapat memperbaiki gangguan ekskresi ureum dan kreatinin akibat radikal bebas (Wu et al., 2008). Mahkota dewa juga memiliki efek antiinflamasi yang juga diperantarai oleh kaempferol dan quercetin (Hamalainen et al., 2007). Proses inflamasi dapat menyebabkan glomerulosklerosis (Tikellis et al., 2003). Inflamasi juga menyebabkan terbentuknya peroksinitrit dari NO. Kaempferol dan quercetin juga dapat menghambat aktivasi nuclear factor-kappa B (NF-B). Adanya hambatan pada NF-B dapat mengurangi respon inflamasi dan memperbaiki

44

aliran darah dan pada akhirnya memperbaiki LFG (Kanwar et al., 2008). Penelitian yang dilakukan Sulistyoningrum dan Setiawati (2012) melaporkan pemberian ekstrak daging buah mahkota dewa dapat memperbaiki glomerulosklerosis pada tikus diabetik yang diinduksi aloksan. Penelitian lain yang dilakukan Triastuti et al. (2009) juga melaporkan gambaran hipertofi glomerulus pada tikus diabetik yang diberi ekstrak mahkota dewa, lebih baik daripada tikus kontrol diabetik. Efek antioksidan dan antiinflamasi dapat mengurangi ROS dan memperbaiki kerusakan ginjal sehingga ekskresi ureum dan kreatinin dapat berlangsung secara normal. Berdasarkan hasil penelitian ini, kadar ureum dan kreatinin serum pada pemberian ekstrak daging buah mahkota dewa menggunakan metanol dan air sama-sama terbukti lebih rendah dibandingkan tikus DM yang diinduksi aloksan dan tikus DM yang mendapat metformin. Hasil ini dapat menjadi pertimbangan penggunaan mahkota dewa sebagai alternatif pengobatan penderita DM dan terapi pencegahan kerusakan ginjal akibat DM. Keterbatasan pada penelitian ini adalah peneliti hanya melihat efek renoprotektif mahkota dewa pada ekstraksi dengan menggunakan metanol dan air. Beberapa studi penelitian sebelumnya menyatakan ekstraksi daging buah mahkota dewa dengan menggunakan metanol efektif menarik senyawa aktif dalam mahkota dewa, akan tetapi efek ekstraksi dengan menggunakan air belum banyak diungkapkan. Ekstraksi menggunakan air merupakan model pemakaian tradisional yang lebih aplikatif bagi masyarakat pedesaan. Kadar flavonoid pada ekstraksi dengan metanol dan air sebaiknya juga diukur sehingga dapat diketahui mana yang lebih efektif. Penelitian mengenai

45

senyawa aktif pada ekstrak daging buah mahkota dewa menggunakan metanol dan air dapat dilakukan oleh peneliti selanjutnya untuk melengkapi penelitian ini.