Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH FISIOLOGI TUMBUHAN

GUTASI, TRANSPIRASI, EVAPORASI, DAN EVAPOTRANSPIRASI

DISUSUN OLEH : (KELOMPOK3) RISKY NURHIKMAYANI AHMAD SHOLEH RUSLI SANTI SANGAJI A. IDA WIDYASARI SUCI MUSLIMAH PUBI INDAH SARI UMMU SYAUQAH A. VERAWATI WIWIK ASPIANTI PARAMITHA SARI LILI NUR ENDA IRA RABIAH NURLINA NUR SAKINAH ANDRE SUCI ALFIAH LILIS DYA NENGSIH YASTIN TIMBANG MUHAMMAD HANAFI H41112311 H41112307 H41112309 H41112323 H41112313 H41112315 H41112277 H41112278 H41112279 H41112280 H41112285 H41112286 H41112289 H41112291 H41112293 H41112295 H41112297 H41112303 H41112317 H41112299

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Mahaesa atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Transpirasi dan Evaporasi. Makalah ini menjelaskan tentang pengertian transpirasi, faktor-faktor yang mempengaruhi, cara mengukur laju transpirasi, manfaat serta kerugian transpirasi bagi tumbuhan, pengertian evaporasi, faktor-faktor penyebab evaporasi, perbedaan antara transpirasi dan evaporasi, serta pengertian evapotranspirasi. Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Ibu Dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan atas tugas yang diberikan sehingga menambah wawasan kami tentang tumbuhan khususnya transpirasi dan evaporasi, demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi sumbang saran dalam penyelesaian makalah sebagaimana yang kami sajikan. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, untuk itu dari lubuk hati kami yang paling dalam memohon saran dan kritik yang sifatnya membangun dan mendorong membuka cakrawala pemahaman tentang tumbuhan terkhususnya pada transpirasi dan evaporasi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan selalu menginspirasi kita untuk mendalami ilmu fisiologi tumbuhan.

Makassar, 6 Oktober 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1 BAB I ...................................................................................................................... 3 PENDAHULUAN ............................................................................................... 3 A. Latar Belakang ............................................................................................ 3 B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 4 C. Tujuan Masalah ........................................................................................... 4 D. Manfaat ....................................................................................................... 4 BAB II ..................................................................................................................... 5 PEMBAHASAN ................................................................................................. 5 A. Gutasi .......................................................................................................... 5 B. Transpirasi ................................................................................................... 6 C. Pengukuran Laju Transpirasi .................................................................... 13 D. Manfaat Transpirasi .................................................................................. 15 E. Evaporasi ................................................................................................... 17 F. Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi ........................................................ 19 G. Evapotranspirasi ........................................................................................ 19 BAB III ................................................................................................................. 22 PENUTUP ......................................................................................................... 22 A. Kesimpulan ............................................................................................... 22 B. Saran .......................................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 23

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu faktor yang mendorong proses naiknya air dan garam mineral dari dalam tanah hingga ke daun pada proses penyerapan air dan garam mineral adalah transpirasi. Transpirasi merupakan proses hilangnya atau menguapnya air pada tumbuhan. Transpirasi terjadi akibat adanya perbedaan suhu antara tubuh tumbuhan dan lingkungan. Tumbuhan akan cenderung untuk mempertahankan suhu dan tingkat atau laju penyerapan air agar dapat tetap bertahan terhadap lingkungan. Tumbuhan akan mati jika laju transpirasi melebihi laju penyerapan air dan hara dari dalam tanah. Evaporasi adalah peristiwa menguapnya pelarut dari campuran yang terdiri atas zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarutnya adalah air. Pada lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan dapat mempengaruhi tanaman yang berada di tanah itu. Mengetahui banyaknya air yang dievaporasi dari tanah adalah penting dalam usaha mencegah tanaman mengalami kekeringan dengan mengembalikan sejumlah air yang hilang karena evaporasi. Pemakaian mulsa di permukaan tanah dapat memperkecil terjadinya evaporasi. Transpirasi dan evaporasi memiliki keterkaitan satu sama lain. Dengan keterlibatan tumbuhan maka air pada lapisan tanah yang lebih dalam dapat diuapkan stelah terlebih dahulu diserap oleh sistem perakaran tumbuhan tersebut. Tanpa peranan tumbuhan, hanya air pada permukaan saja yang dapat diuapkan. Laju transpirasi pada tiap tumbuhan berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh pengaruh aktivitas fisiologis, kebutuhan air dan hara, bentuk pertumbuhan, serta lingkungan tempat hidup tumbuhan tersebut. Berdasarkan uraian diatas maka dibuatlah makalah yang berjudul Gutasi, Transpirasi dan Evaporasi.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dirumuskan sebagai berikut : 1. Apakah yang dimaksud gutasi? 2. Bagaimanakah proses transpirasi? 3. Bagaimanakah cara pengukuran laju transpirasi? 4. Apakah manfaat transpirasi? 5. Bagaimanakah proses evaporasi? 6. Apakah perbedaan transpirasi dan evaporasi? 7. Apakah yang dimaksud evapotranspirasi?

C. Tujuan Masalah Adapun tujuan yang akan dicapai adalah : 1. Untuk mengetahu pengertian gutasi. 2. Untuk mengetahui proses transpirasi. 3. Untuk mengetahui cara pengukuran laju transpirasi. 4. Untuk mengetahui manfaat transpirasi bagi tumbuhan. 5. Untuk mengetahui proses evaporasi. 6. Untuk mengetahui perbedaan transpirasi dan evaporasi. 7. Untuk mengetahui istilah evapotranspirasi.

D. Manfaat Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah agar mahasiswa lebih mengetahui tentang proses transpirasi pada tumbuhan, manfaatnya, serta istilah mengenai evapotranspirasi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Gutasi Gutasi adalah proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun. Istilah gutasi pertama kali dipakai oleh Burgerstein. Gutasi terjadi saat kondisi tanah sesuai sehingga penyerapan air tinggi namun laju penguapan/

transpirasi rendah maupun ketika penguapan air sulit terjadi karena tingginya kelembaban udara. Proses gutasi terjadi pada struktur daun mirip stomata yang bernama hidatoda. Gutasi dapat diamati dengan munculnya tetes-tetes air di tepi daun yang tersusun teratur. Tingkat terjadinya gutasi sangat rendah dibandingkan dengan transpirasi. Gutasi juga lebih jarang diobservasi daripada transpirasi. Titik-titik air di tepi daun yang terjadi akibat gutasi di pagi hari sering disalahartikan sebagai embun Pengeluaran air melalui proses gutasi terjadi akibat adanya tekanan positif akar. Meskipun ketika laju transpirasi rendah, akar terus menyerap air dan mineral sehingga air yang masuk ke jaringan lebih banyak daripada yang dilepaskan keluar. Kondisi yang tidak mendukung terjadinya tekanan akar seperti suhu dingin dan tanah yang kering menghambat terjadinya gutasi. Kekurangan mineral juga diketahui memengaruhi proses gutasi. Bila transpirasi terjadi pada stomata, maka gutasi terjadi pada struktur khusus bernama hidatoda. Hidatoda seringkali disebut sebagai stomata air. Hidatoda terletak di ujung dan sepanjang tepi daun. Oleh karena itulah, titik-titik air akan terlihat di ujung dan tepi daun. Gutasi biasanya terjadi pada malam hari, namun terjadi juga pada pagi hari. Laju gutasi paling tinggi ditemukan pada tumbuhan Colocasia nymphefolia. Gutasi paling banyak terjadi pada tumbuhan air, herba, dan rumput-rumputan. Faktor Pembeda Gutasi Transpirasi Pelepasan air dari jaringan

Bentuk air yang Pelepasan air dari jaringan

dilepaskan

tumbuhan dalam bentuk titik-titik air (cair)

tumbuhan dalam bentuk uap air

Kualitas air yang dilepaskan

Air mengandung senyawasenyawa terlarut dan garam mineral Air dilepaskan melalui Air dilepaskan melalui stomata, kutikula, dan/atau lentisel Air murni

Mekanisme

struktur hidatoda menuju ujung pembuluh daun

Regulasi aktivitas

Pembukaan hidatoda tidak Transpirasi melalui stomata diatur dapat diregulasi oleh sel penjaga Pada saat ada sinar matahari

Waktu terjadi

Pada malam atau pagi hari

(melalui stomata) dan sepanjang hari (melalui kutikula atau lentisel)

B. Transpirasi Transpirasi merupakan penguapan air yang berasal dari jaringan tumbuhan melalui stomata (Lakitan, 1994). Sedangkan menurut Manan dan Suhardianto (1999) transpirasi adalah proses hilangnya air ke atmosfer melalui mulut daun (stomata). Dengan keterlibatan tumbuhan maka air pada lapisan tanah yang lebih dalam dapat diuapkan stelah terlebih dahulu diserap oleh sistem perakaran tumbuhan tersebut. Tanpa peranan tumbuhan, hanya air pada permukaan saja yang dapat diuapkan. Pada kondisi tanah yang berkecukupan air, sebagian besar air (dapat mencapai 95%) yang diserap akar akan diuapkan ke atmosfer melalui proses transpirasi. Laju transpirasi ditentukan selain oleh masukan energi yang diterima tumbuhan dan perbedaan potensi air antara rongga sub-stomatal dengan udara di sekitar daun, juga akan ditentukan oleh daya hantar stomata. Daya hantar stomata merupakan ukuran kemudahan bagi uap air untuk melalui celah stomata. Daya hantar stomata ini akan ditentukan oleh besar-kecilnya bukaan celah stomata (Lakitan, 1994).
6

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata. Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga di batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang secara kolektif disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih banyak pada sisi bawah dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan

memungkinkan aliran massa nutrisi mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke atmosfer. Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral dilarutkan perjalanan dengan melalui xilem. Tingkat transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari permukaan tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomata, pada daun. Stomata untuk sebagian besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa penguapan langsung juga terjadi melalui permukaan sel-sel epidermis daun. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melalui kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi. Hanya 1-2% dari seluruh air yang ada dalam tubuh tumbuhan digunakan dalam fotosintesis atau dalam kegiatan metabolik sel-sel daunnya. Sisanya menguap dari daun dalam proses transpirasi. Bila stomata terbuka, uap air ke luar dari daun. Jika daun itu harus terus berfungsi dengan baik maka air segar harus disediakan kepada daun untuk menggantikan yang hilang pada waktu transpirasi.

Proses transpirasi akan menyebabkan potensial air daun lebih rendah dibandingkan batang ataupun akar. Akibatnya, daun seolah-olah menghisap air dari akar. Untuk menguapkan air, tumbuhan butuh energy baru atau berubah energy menjadi panas. Dengan demikian, transpirasi menimbulkan pengaruh pendinginan pada daun. Kebutuhan panas untuk menguapkan air berasal dari sinar matahari yang disalurkan melalui cahaya langsung, radiasi dan konveksi. Air merupakan bagian terbesar dari jaringan tumbuhan, semua proses tumbuh dan berkembang terjadi karena adanya air. Ada tiga jenis transpirasi, yaitu : 1. Transpirasi Kutikula adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10%. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata. 2. Transpirasi Stomata. Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dindingdinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap. 3. Transpirasi Lentisel yaitu pada daerah kulit kayu yang berisi sel-sel. Uap air yang hilang melalui jaringan ini adalah 0,1% Mekanisme transpirasi dimulai ketika air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi.

Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini memengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan potometer. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis.

Gambar : Buka Tutup Stomata Lebih dari 20 % air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah. Transpirasi menimbulkan

bio1903.nicerweb.com

arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem. Transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknyapermukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnyastomata, bentuk dan letak stomata. Sedangkan factor luar antara lain kelembapan, suhu,cahaya, angin, dan kandungan air tanah (Salisbury 1992). Faktor yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantaranya adalah (Gardner, et.al., 1991) : 1) Penutupan stomata : Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan. 2) Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata. 3) Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar evapotranspirasi. 4) Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas. 5) Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi transpirasi diantaranya :

10

1) Radiasi matahari. Dari radiasi matahari yang diserap oleh daun, 15% digunakan untuk fotosintesis dan 75-85% digunakan untuk

memanaskan daun dan untuk transpirasi. 2) Temperatur. Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air, yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar. 3) Kelembaban relatif. Makin besar kandungan air di udara, makin tinggi Y udara, yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya kelembapan relatif. 4) Angin. Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila aliran udara (angina) menghembus udara lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat (Tjitrosomo, 1985). Semakin banyak jumlah daun maka semakin banyak jumlah stomata, sehingga semakin besar transpirasinya (Gardner1991). Luas daun pada tumbuhan berpengaruh terhadap laju transpirasi. Hal ini karenadaun yang luas memiliki jumlah stomata yang banyak, sehingga mengakibatkan tingginyalaju transpirasi (Loveless 1991). Jumlah stomata bagian abaksial (bawah) lebih banyak dibanding dengan bagianadaksial (atas). Pada bagian adaksial (atas), terdapat lapisan kutikula yang tebal danmenutupi stomata sehingga menghalangi terjadinya proses transpirasi. Hal ini mengakibatkan kerapatan stomata pada bagian abaksial lebih besar dari kerapatan stomata pada bagian adaksial (Muhuria 2007). Tumbuhan A memiliki laju transpirasi lebih lambat dibanding dengan tumbuhan B.Hal ini disebabkan tumbuhan B (Hijau) memiliki jumlah stomata yang lebih banyak daripada tumbuhan A (Ungu), baik pada bagian abaksial maupun bagian adaksialnya. Padapercobaan perhitungan jumlah stomata, pada bagian abaksial (bawah) baik pada tumbuhan A maupun tumbuhan B ditemukan jumlah stomata yang lebih banyak daripadabagian adaksialnya (atas). Hal ini dikarenakan pada bagian abaksial (bawah) tidak terkenacahaya matahari secara langsung sehingga tidak banyak stomata yang rusak akibatpenyinaran yang terlalu kuat. Selain itu, pada bagian abaksial (bawah), lapisan kutikula yang melapisi epidermis lebih tipis atau bahkan tidak dilapisi oleh kutikula, sehingga tidak ada

11

atau hanya sedikit penghalang untuk berlangsungnya proses transpirasi melaluistomata. Pada bagian adaksial (atas), sinar matahari akan langsung mengenai lapisan permukaan daun dan akan merusak stomata jika penyinaran terlalu kuat (Muharia 2007). Laju transpirasi sangat ditentukan oleh proses membuka dan menutupnya stomata, karena sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata. Beberapa teori berusaha menjelaskan mekanisme buka tutupnya stomata, di antaranya adalah teori gerakan atau pompa ion K. Masuknya ion K terjadi secara difusi melalui pertukaranion dengan Cl- dan H+. Telah diketahui bahwa K+ terlibat dalam metabolisme karbohidrat, karena perananya mendukung aktivitas enzim fosforilase. Enzim ini berperan dalam konversi amilum menjadi glukosa. Bila ion K meningkat pada sel penutup, aktivitas pengubahan amilum menjadi glukosa juga meningkat. Dengan bertambahnya konsentrasi glukosa sel penutup maka akan meningkatkan potensial osmotik selnya. Dengan demikian akan

menggerakkan air sel-sel sekitarnya berosmosis menuju sel penutup. Akibatnya, tekanan turgor sel penutup meningkat dan stoma membuka. Terbentuknya celah mulut karena ada dua faktor struktural sel penutup yang mendukung. 1. kedua ujung daridua sel penutup saling menempel/ berdekatan satu sama lain, sehingga pada saat turgor meningkat, sel penutupnya akan melengkung dan membentuk celah yang dibatasi oleh kedua dinding sel penutup. 2. Adanya benang-benang mikrofibril selulosa yang terorientasi secara radial (miselasi radial). Hal ini memungkinkan sel tumbuh memanjang dan bukan tumbuh membesar ke arah samping. Dengan demikian bila turgor ke dua sel penutup memanjang, sementara bagian ujung-ujungnya saling bertautan di tempatnya, maka akan tumbuh melengkung dan membentuk celah mulut. Selain stomata, alat bantu bernafas lain adalah akar nafas atau akar udara. Bagi tumbuhan bakau (Mangrove) seperti Avicennia germinans, dan Rhizophora, akar nafas (pneumatofor) mencuat ke atas hingga di atas permukaan air (geotropik negatif). Akar ini digunakan

12

untuk membantu memperoleh udara bagijaringan air yang hidup pada tanah terendam air laut yang aerasinya buruk.

C. Pengukuran Laju Transpirasi Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk menaksir laju transpirasi : 1. Kertas korbal klorida Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap air yang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup kertas. 2. Potometer Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi. 3. Pengumpulan uap air yang ditranspirasi Cara ini mengharuskan tumbuahn atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan. 4. Penimbangan langsung Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untukjangka waktu tertentu dengan penimbangan langsung. Cara lain pengukuran Transpirasi

13

1) Metode lisimeter atau metode grafimeter Dua abad yang lalu, Stephen Hales mempersiapkan tanaman dalam pot dan tanamannya yang ditutup rapat agar air tidak hilang, kecuali dari tajuknya yang bertranspirasi kemudian, tanaman dalam pot itu ditimbang pada selang waktu tertentu, dan arena jumlah air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman ( misalnya, yang diubah menjadi karbohidrat ) kurang dari 1 % dari jumlah air yang di transpirasikan, maka sebenarnya semua perubahan bobot dapat dianggap berasal dari transpirasi. Ini dinamakan metode lisimeter. Hanks dan peneliti lainnya sudah banyak sekali mengembangkan metode sederhana ini. Lisimeter miliknya di kebun Greenville merupakan beberapa bejana yang besar ( beberapa meter kubik besarnya ) diisi penuh dengan tanah dan dikuburkan, sehingga permukan atasnya sama tinggi dengan permukaan lapangan. Bejana tersebut diletakkan di dekat bantalan karet besar yang diletakkan didasarnya dan diisi air dan zat anti beku yang dihubungkan dengan pipa yang tegak keatas permukaan tanah. Tinggi cairan dalam pipa menunjukkan ukuran bobot lisimeter, maka

permukaannya berubah-ubah sejalan dengan perubahan kandungan air dalam tanah dilisimeter dan dalam tanaman yang sedang tumbuh, walaupun bobotnya kecil saja di bandingkan dengan bobot tanah. Jumlah air tanah di tentukan oleh air irigasi dan jumlah hujan dikurangi evapotranspirasi, yaitu gabungan antara penguapan dari tanah dan transpirasi dari tumbuhan. Penguapan dari tanah dapat diduga dengan berbagai macam cara. Lisimeter merupakan metode lapangan paling handal untuk mempelajari evapotransipirasi, tapi memang mahal dan tidak mudah di pindah-pindahkan. Meskipun tidak diseluruh dunia, lisimeter banyak digunakan. Teknik yang lebih umum, menggunakan persamaan perimbangan air untuk menghitung evapotranspirasi dari selisih anars masukkan dan pengeluaran Et = irigasi + hujan + pengurasan drainase aliran permukaan.

14

Dengan Et = evapo transpirasi, dan pengurasan adalah kehilangan dari cadangan tanah. Pengukuran cadangan air tangah pada awal dan akhir suatu periode menghasilkan nilai pengurasaan. 2) Metode pertukaran gas atau metode kuvet Dalam metode ini, transpirasi dihitung dengan cara mengukur uap air di atmosfer yang tertutup yang mengelilingi daun. Sehelai daun di kurung dengan sebuah kuvet bening misalnya, dan kelembabapan suhu, dan volume gas yang masuk dan keluar kuvet di ukur.

D. Manfaat Transpirasi Transpirasi itu suatu akibat yang tidak dapat dielakkan. Luasnya permukaan daun-daun yang ada di uadara itu suatu kondisi yang menyebabkan penguapan mesti terjadi; penguapan tak mungkin dicegahnya (Dwijoseputro, 1980). Transpirasi pada tanaman itu lain daripada transpirasi pada manusia. Pada manusia transpirasi dilakukan oleh kelenjar-kelenjar kulit, dimana bukan saja air, melainkan juga zat-zat sampah turut serta dikeluarkan dari badan (Dwijoseputro, 1980). Pada tanaman, transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang baru yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Pula, transpirasi juga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar (panas) matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah karena sebagia dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan air (Dwijoseputro, 1980). Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapanair tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, w sel turun, p menurun, tanaman layu,layu permanent, mati, hasil tanaman menurun.

Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi, meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu tetap kapasitas lapangan (Salisburi,1992). Transpirasi ini memiliki manfaat yang menguntungkan antara lain: Pengangkutan mineral

15

memang transpirasi bukanlah salah satu cara untuk pergerakan mineral. Tapi transpirasi membantu mineral yang diserap akar untuk bergerak ke atas tumbuhan melalui xylem. Mempertahankan turgiditas optimum Sel mempunyai Turgiditas atau potensial air yang optimum bagi sel. Oleh sebab itu sel dapat berfungsi dengan baik ketika dalam keadaan sedikit kekurangan air. Memang hanya sedikit yang membuktikan hipotesis ini namun yang terpenting adalah pertumbuhan sel sangat bergantung pada penyerapan air oleh sel. Kondisi rawan air tentunya akan menurunkan hasil karena proses-proses penting seperti fotosintesis sangat buruk jika dalam kondisi rawan air. Menurunkan suhu daun Suhu permukaan daun akan meningkat bila terpapar sinar matahri oleh sebab itu tumbuhan melakukan proses transpirasi untuk mendinginkan suhu daun tersebut. Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapanair tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun. Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi. Jika tanah cukup mengandung air, laju transpirasi yang tinggi, dalam jangka waktu yang pendek, tidak akan menimbulkan kerusakan yang berarti pada tumbuhan. Tetapi jika kehilangan air berlangsung terus melalui absorpsi, pengaruh traspirasi yang merugikan akan kelihtan dengan layunya daun, sebagai akibat hilangnya turgor. Tingkat kelayuan dan kehilangan air yang diperlukan untuk menimbulkan gejala kelayuan pada tumbuhan sangat beragam. Daun tipis yang umumnya terdiri dari sel parenkima yang berdinding tipis akan layu dengan cepat. Kelayuan tumbuhan di atas tanah digolongkan sebagai layu sementara atau layu permanen. Layu sementara terjadi jika tanah masih mengandung air yang tersedia bagi tumbuhan. Kelayuan tersebut terjadi akibat kelebihan transpirasi dari absorpsi yang bersifat sementara. Tumbuhan biasanya menjadi segar kembali setelah laju transpirasi menurun. Daun yang layu pada siang hari akan segar

16

kembali pada malam hari atau pagi berikutnya. Daun dapat juga meningkat turgornya pada siang hari jika transpirasi menurun akibat adanya awan, penurun suhu atau hujan kecil walaupun air tersebut tidak sampai menembus ke akar. Sebaliknya, layu tetap diakibatkan oleh terjadinya kekurangan air yang berat dalam tanah. Akar tidak dapat mengabsorpsi air, maka tumbuhan akan mati kecuali jika persediaan air dalam tanah dapat ditingkatkan kembali. Layu sementara yang terjadi berulang-ulang akan menimbulkan pengaruh yang merugikan pada metabolisme tumbuhan dan tumbuhan yang sering mengalami kelayuan akan tertekan pertumbuhannya. Penyebab utamanya adalah kekurangan air akan menghambat laju pertumbuhan jaringan muda, khususnya proses pembelahan dan pembesaran sel. Penghambatan laju pertumbuhan ini menyebabkan menurunnya penggunaan makanan oleh jaringan yang sedang tumbuh, dan pada umumnya kekurangan air selalu diikuti oleh penimbunan karbohidrat. Tingkat karbohidrat yang tinggi yang berlanjut dapat menimbulkan perubahan struktural dan perubahan fisologis permanen yang berkaitan dengan pertumbuhan yang tertekan.

E. Evaporasi Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akarakar tanaman mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagianbagian lain yang ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar. Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan segera tampak Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika kandungan air tanah menurun,

17

sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Tersedianya air tanah tergantung pada evaporasi yang terjadi. Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air (Lakitan, 1994). Sedangkan menurut Manan dan Suhardianto (1999) evaporasi (penguapan) adalah perubahan air menjadi uap air. Air yang ada di bumi bila terjadi proses evaporasi akan hilang ke atmosfer menjadi uap air. Evaporasi dapat terjadi dari permukaan air bebas seperti bejana berisi air, kolam, waduk, sungai ataupun laut. Proses evaporasi dapat terjadi pada benda yang mengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah. Pada lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan dapat mempengaruhi tanaman yang berada di tanah itu. Mengetahui banyaknya air yang dievaporasi dari tanah adalah penting dalam usaha mencegah tanaman mengalami kekeringan dengan mengembalikan sejumlah air yang hilang karena evaporasi. Pemakaian mulsa di permukaan tanah dapat memperkecil terjadinya evaporasi (Manan dan Suhardianto, 1999). Faktor iklim yang mempengaruhi evaporasi : radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara dan angin. Tempat-tempat dengan radiasi matahari tinggi mengakibatkan evaporasi tinggi, karena evaporasi memerlukan energi. Umumnya radiasi matahari tinggi diikuti suhu udara tinggi dan kelembaban udara rendah. Kedua hal ini dapat memacu terjadinya evaporasi. Angin yang kencang membuat kelembaban udara rendah, hal inipun memacu evaporasi (Manan dan Suhardianto, 1999). Laju evaporasi sangat tergantung pada masukan energi yang diterima. Semakin besar jumlah energi yang diterima, maka akan semakin banyak molekul air yang diuapkan. Sumber energi utama untuk evaporasi adalah radiasi matahari. Oleh sebab itu, laju evaporasi yang tinggi tercapai pada waktu sekitar tengah hari (solar noon). Selain masukan energi, laju evaporasi juga dipengaruhi oleh kelembaban udara di atasnya. Laju evaporasi akan semakin terpacu jika udara diatasnya kering (kelembaban rendah), sebaliknya akan terhambat jika kelembaban udaranya tinggi (Lakitan, 1994).

18

F. Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi) maupun secara eksternal pada permukaanpermukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Transpirasi pada dasarnya merupakan salah satu proses evaporasi yang dikendalikan oleh proses fotosintesis pada permukaan daun. Perbedaan transpirasi dan evaporasi yaitu : Transpirasi Evaporasi

1. Proses fisiologis yang termodifikasi 1. Proses fisiologis murni 2. Diatur bukaan stomata 2. Tidak diatur bukaan stomata

3. Diatur beberapa macam tekanan 3. Tidak diatur oleh tekanan 4. Terjadi di jaringan hidup 5. Permukaan sel basah 4. Tidak terbatas pada jaringan hidup 5. Permukaan yang menjalankannya menjadi kering.

G. Evapotranspirasi Tanaman yang banyak mengalami transpirasi memerlukan air yang diambil melalui akar dari dalam tanah. Tanaman yang tumbuh di air seperti teratai dan enceng gondok menghisap air melalui akar-akar yang berada dalam air. Gabungan kedua proses hilangnya air melalui evaporasi di permukaan air dan transpirasi melalui daun disebut evapotranspirasi. Evapotranspirasi terjadi juga pada tanaman yang tumbuh pada lahan seperti padang rumput, pertanaman jagung, hutan tanaman ataupun hutan lindung. Evaporasi (diberi notasi E0) adalah penguapan yang terjadi dari

permukaan air (seperti laut, danau, dan sungai), permukaan tanah (genangan air di atas tanah dan penguapan dari permukaan air tanah yang dekat dengan permukaan tanah), dan permukaan tanaman (intersepsi). Apabila permukaan air tanah cukup dalam, evaporasi dari air tanah adalah kecil dan dapat diabaikan.

19

Proses Evaporasi dan Evapotranspirasi (sumber : elearning.unsri.ac.id)

Intersepsi adalah penguapan yang berasal dari air hujan yang berada pada permukaan daun, ranting, dan batang tanaman. Sebagian air hujan yang jatuh akan tertahan oleh tanaman dan menempel pada daun dan cabang, yang kemudian akan menguap. Sedangkan Transpirasi (diberi notasi Et) adalah penguapan melalui tanaman, dimana air tanah diserap oleh akar tanaman yang kemudian dialirkan melalui batang sampai ke permukaan daun dan menguap menuju atmosfer. Dilapangan, sulit membedakan antara penguapan dari badan air, tanah dan tanaman. Oleh karena itu, biasanya evaporasi dan transpirasi dicakup menjadi satu yang disebut evapotranspirasi yaitu penguapan yang terjadi di permukaan lahan, yang meliputi permukaan tanah dan tanaman yang tumbuh dipermukaan tersebut. Laju evaporasi, transpirasi dan evapotranspirasi dinyatakan dengan volume air yang hilang oleh proses tersebut tiap satuan luas dalam satu satuan waktu; yang biasanya diberikan dalammm/hari atau mm/bulan. Laju

evapotranspirasi tergantung pada ketersediaan air dan kemampuan atmosfer mengevapotranspirasikan air dari permukaan. Apabila ketersediaan air (lengas tanah) tak terbatas maka evapotranspirasi yang terjadi disebut evapotranspirasi potensial (ETP). Pada umumnya ketersediaan air di permukaan tidak tak terbatas, sehingga evapotranspirasi terjadi dengan laju lebih kecil dari evapotranspirasi potensial. Evapotranspirasi yang sebenarnya terjadi di suatu daerah disebut evapotranspirasi nyata.

20

Besarnya evapotranspirasi tergantung dari faktor-faktor iklim, jenis tanaman, jenis tanah dan topografi. Air yang hilang melalui evapotranspirasi perlu diperhitungkan agar tanaman tidak mengalami kekurangan air. Evapotranspirasi maksimum dapat terjadi dari lahan yang ditumbuhi tumbuhan rapat, daun-daun menutupi tanah dan tanah dalam kapasitas lapang. Cara menduga besarnya evapotranspirasi dapat diukur langsung ataupun memakai perhitungan dari unsur iklim yang mempengaruhi evaporasi. Cara pengukuran langsung memakai lysimeter. Ada 2 (dua) macam lysimeter, yaitu lysimeter drainase dan lysimeter timbang. Jumlah air hujan atau air siraman dapat diketahui dalam satuan mm, demikian juga yang merembes (perkolasi) melalui kran di bagian bawah lysimeter. Air yang tidak terukur ialah air yang hilang melalui evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi melalui mulut daun. Melalui perhitungan neraca air jumlah evapotranspirasi dapat diketahui (Manan dan Suhardianto, 1999).

21

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka disimpulkan sebagai berikut : 1. Gutasi adalah proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun. 2. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kutikula atau lentisel. 3. Pengukuran laju transpirasi dapat melalui cara kertas korbal klorida, potometer, pengumpulan uap air yang di transpirasi, penimbangan langsung, gas/kurvet. 4. Manfaat transpirasi adalah pengangkutan mineral, mempertahankan turgiditas optimum, dan menurunkan suhu daun. 5. Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air. 6. Transpirasi adalah penguapan air melalui tanaman sedangkan evaporasi adalah penguapan air langsung dari dalam air tanah. 7. Evapotranspirasi adalah proses penguapan air yang berasal dari permukaan bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air. metode lesimeter/grafimeter, dan metode pertukaran

B. Saran Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh maka penulis menyarankan makalah ini dapat dijadikan proses pembelajaran khususnya dalam menambah pengetahuan tentang transpirasi dan evaporasi.

22

DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro. 1980. Pengantar Fisologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Firman. 2011. Makalah Tranpirasi. http://firmandepartment.blogspot.com /2011/12/makalah-transpirasi.html. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.43 WITA. Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Lejiu, Goregorius. 2010. Makalah Transpirasi. http://11gorys.blogspot.com /2010/10/makalah-transpirasi.html. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.38 WITA. Loveless. 1991.Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia. Jakarta Manan dan Sudarnianto. 1994. Evaporasi, Transpirasi dan Evapotranspirasi. http://raymoon760.wordpress.com/2013/06/19/evaporasi-transpirasi-dan evapotranspirasi/. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.51 WITA. Muharia. 2007. Transpirasi Tumbuhan. http://www.ocw.ipb.ac.id/file.php/10 /Praktikum_Biologi/TRANSPIRASI_TUMBUHAN. pdf Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.24 WITA. Ratnawati, Eka. 2012. Transpirasi pada Tumbuhan. http://ekaratnawati2492. wordpress.com/2012/11/14/transpirasi-pada-tumbuhan-2/#more-46. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.35 WITA. Salisbury, F.B. and C.W.Ross. 1992. Plant Physiology. Third Edition.Wadsworth Publishing Co. Belmount. California Suyitno. 2012. Perbandingan Jumlah Stomata Pada Bagian Abaksial dan Adaksial. http://www. pertanian.untag-smd.ac.id/wp-content/uploads/2012 /06/Proses_Transpirasi_Pada_Tanaman_Bab_IX_b.pdf. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.26 WITA. Syarovy, Muhdan. 2013. Manfaat Transpirasi bagi Tumbuhan. http://m.eratani.com/ manfaat-transpirasi-bagi-tumbuhan/. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.29 WITA. Tjitrosomo,S.S.1985. Botani Umum 2. Angkasa. Bandung

23

Triatmodjo, Bambang. 2010. Hidrologi Terapan. Beta Offset. Yogyakarta. Wikipedia. 2013. Gutasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Gutasi. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.23 WITA. Wikipedia. 2013. Transpirasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.23 WITA. Wikipedia. 2013. Penguapan. http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan. Diakses pada 6 Oktober 2013 pukul 07.36 WITA.

24