Anda di halaman 1dari 6

BONE HEALING Setiap tulang yang mengalami cedera, misalnya fraktur karena kecelakaan, akan mengalami proses penyembuhan.

Fraktur tulang dapat mengalami proses penyembuhan dalam 3 tahap besar:

1. Fase inflamasi Fase ini terjadi segera setelah tulang mengalami fraktur dan akan berakhir dalam beberapa hari. Ketika terjadi fraktur, terjadi perdarahan yang akan memicu reaksi inflamasi yangditandai dengan hangat dan pembengkakan. Inflamasi meliputi 1)pemanggilan sel inflamasi (makrofag, PMN) yang mensekresikan enzim lisosom untuk mencerna jaringan mati dan memanggil sel pluripoiten serta fibroblast oleh mekanisme prostaglandin dan 2) pembekuan darah di lokasi fraktur yang bernama Hematoma. Suplai oksigen dan nutrisi diperoleh dari tulang dan otot yang tidak terluka. Hal ini diperlukan untuk stabilisasi struktural awal dan sebagai fondasi untuk membentuk tulang baru. Fase ini merupakan fase paling kritis. Penggunaan obat antiinflamasi dan sitotoksik pada satu minggu awal akan mengganggu reaksi inflamasi dan menghambat penyembuhan tulang. Kelainan medikasi juga dapat mengganggu fase ini. 2. Fase perbaikan (bone production) Fase ini diawali ketika jaringan bekuan darah hasil inflamasi digantikan dengan perlahan dengan jaringan fibrosa yang mensekresikan bahan osteoid yang perlahan termineralisasi dan juga bahan tulang rawan yang dinamakan soft callus. Pembentukan soft callus ini berlangsung kira-kira 4-6 minggu. Pada fase ini juga terdapat pembentukan pembuluh darah baru dan dihambat oleh nikotin. Selama proses penyembuhan, soft callus akan digantikan dengan hard callus yang berisi tulang lamellar yang mana dapat dilihat dengan sinar X. Fase pembentukan hard callus memerlukan waktu 3 bulan, dan fiksasi diperlukan untuk mendukung dan mempercepat osifikasi.

3. Fase remodelling Tahap akhir ini memakan waktu beberapa bulan dan diperankan oleh osteoklas. Dalam fase ini, tulang terus menjadi kompak dan kembali ke bentuk semula. Dan juga aliran darah di area juga kembali. Ketika remodeling sudah adekuat (kekuatan tulang akan diperoleh kirakira 3-6 bulan), weightbearing seperti berjalan dapat mendukung remodeling lebih lanjut. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN 1. Faktor sistemik v Umur: anak-anak lebih cepat sembuh daripada orang dewasa v Nutrisi: nutrisi yang tidak adekuat akan enghambat proses penyembuhan v Kesehatan umum: penyakit sistemik seperti diabetes dapat menghambat penyembuhan v Aterosklerosis: mengurangi penyembuhan v Hormonal: GF mendukung penyembuhan, kortikosteroid menghambat penyembuhan v Obat: obat antiinflamasi non-steroid (ibuprofen) mengurangi healing v Rokok : kandungan nikotin pada rokok menghambat penyembuhan di fase perbaikan 2. Faktor lokal v Derajat trauma lokal: fraktur yang kompleks dan merusak jaringan lunak sekitarnya lebih sulit sembuh v Area tulang yang terkena: bagian metafisis lebih cepat sembuh daripada bagian diafisis v Tulang abnoemal (tumor, terkena radiasi, infeksi) lebih lambat sembuh v Derajat imobilisasi: pergerakan yang banyak dapat menghambat penyembuhan, weighbearing dini USAHA MEMPERCEPAT KESEMBUHAN Pada semua pasien dengan fraktur tulang, imobilisasi adalah hal yang penting, karena sedikit gerakandari fragmen tulang menghambat proses penyembuhan. Tergantung dari tipe fraktur atau prosedur pembedahan, ahli bedah akan menggunakan bermacam alat fiksasi (seperti screws, plates, atau wires) ke tulang yang patah untuk mencegah tulang bergerak. Selama periode imobilisasi, weightbearing tidak diperbolehkan. Jika tulang sembuh dengan adekuat, terapi fisik memegang kunci dalam rehabilitasi. Program latihan yang didesain untuk pasien dapat membantu mengembalikan kekuatan dan keseimbangan tulang dan membantu suapay dapat beraktivitas seperti semula.

Jika tulang tidak sembuh dengan baik atau gagal sembuh, dokter bedah ortopedi dapat memilih beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan tulang,seperti imobilisasi lanjut untuk waktu lebih lama, stimulasi tulang, atau pembedahan dengan graft atau dengan bone growth protein. KOMPLIKASI PADA FRAKTUR TULANG 1. Komplikasi Dini

Cedera visceral Cedera vaskuler Cedera syaraf Sindroma Kompartemen (Volkmanns Ischemia) Pada sindroma kompartemen, terjadi perdarahan disertai edema. Akibat dari edema ini, tekanan kompartemen osteofasial meningkat, sehingga sebagai akbiatnya kapiler di sekitar luka menurun, yang berujung pada iskemi otot. Karena iskemi otot, edema menjadi bertambah dan iskemik menjadi-jadi (sirkulus visiosus) dan akhirnya terjadi nekrosis otot dan saraf dalam kompartemen tersebut. Setelah terjadi nekrosis, jaringan otot yang mati akan digantikan dengan jaringan fibrosis yang sifatnya tidak elastis yang akan membentuk kontraktur atau lebih dikenal sebagai Volkmann ischaemic contracture. Biasanya sindroma kompartemen ini diakbiatkan balutan atau gips yang terlalu kencang. Pada bagian yang mengalami sindrom kompartemen, komplikasi beresiko tinggi yang sering muncul ialah fraktur siku, lengan atas, dan tibia proksimal. Sindroma kompartemen ini ditandai dengan 5P: Pain (rasa nyeri) Paresthesia (mati rasa) Pallor (pucat) Paralisis (kelumpuhan) Pulselessness (ketiadaan denyut nadi) Tatalaksana dengan melakukan fasiotomi Hemartrosis Infeksi 2. Komplikasi Lanjut

Delayed union Delayed union terjadi bila estimasi waktu union tercapai namun belum union. Hal ini mungkin disebabkan oleh: Cedera jaringan lunak berat Suplai darah inadekuat Infeksi Stabilisasi tidak adekuat Traksi berlebihan Tatalaksana dengan bone graft Non-union (delayed union >6 bulan) Pada non-union, tidak terjadi penyambungan tulang. Tulang hanya tersambung dengan jaringan fibrosis, sehingga pada daerah fraktur tulang dapat bergerak (pseudoarthrosis). Pada pemeriksaan dengan sinar X, masih terlihat dengan jelas garis fraktur. Penyebabnya adalah gangguan stabilitas. Terdapat dua jenis non-union: atrofik (sedikit callus terbentuk, dapat diatasi dengan bone grafting) dan hipertrofik (terdapat kalus namun tidak stabil, umumnya akibat banyak pergerakan di lokasi fraktur) Malunion Pada malunion, fragmen fraktur menyatu dalam posisi patologis/deformitas(angulasi, rotasi, perpendekan). Malunion dapat mengganggu baik secara fungsional maupun kosmetik. Kaku sendi Hipotrofi/Atrofi otot Miositis osifikans Pada kelainan ini, terdapat osifikasi heterotopik pada otot. Biasanya terjadi pasca cedera, terutama pada dislokasi siku. Pada miositis osifikans, beberapa tanda muncul seperti bengkak local, nyeri tekan, gerak sendi yang terbatas. Pada pemeriksaan dengan sinar X setelah lebih dari 2 minggu, tampak gambaran kalsifikasi pada otot. Tatalaksana dengan eksisi massa tulang, indometasin, dan terapi radiasi. Avascular necrosis

Cedera, baik fraktur maupun dislokasi, seringkali mengakibatkan iskemia tulang yang berujung pada nekrosis avaskular. Avascular necrosis ini sering dijumpai pada caput femoris, bagian proksimal dari os. Scapphoid, os. Lunatum, dan os. Talus. Algodystrophy (Sudecks atrophy) Osteoarthritis

WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK PENYEMBUHAN-PROGNOSIS


Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada lokasi fraktur juga umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur: Lokasi Fraktur 1. Pergelangan tangan 2. Fibula 3. Tibia 4. Pergelangan kaki 5. Tulang rusuk 6. Jones fracture Masa Penyembuhan 3-4 minggu 4-6 minggu 4-6 minggu 5-8 minggu 4-5 minggu 3-5 minggu Lokasi Fraktur 7. Kaki 8. Metatarsal 9. Metakarpal 10. Hairline 11. Jari tangan 12. Jari kaki Masa Penyembuhan 3-4 minggu 5-6 minggu 3-4 minggu 2-4 minggu 2-3 minggu 2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu) Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997 Tingkat kematian dari fraktur:

Kematian : 11.696 Insiden : 1.499.999 0,78% rasio dari kematian per insiden

DAFTAR PUSTAKA
1

Fauzi A, Rahyussalim, Aryadi, Tobing SD. Cedera Sistem Muskuloskeletal. Departemen Bedah Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI/RSCM. Desember 2009
2

Anonim. Principles of Bone Healing: Bone Healing Process. Diunduh dari http://www.medscape.com/ viewarticle/405699_6 pada tanggal 6 Desember 2010 pukul 10.20 WIB
3

Anonim. Bone Fracture Healing. Diunduh dari http://www.orthoped.org/bone-fracturehealing.html pada tangga; 7 Desember 2010 pukul 07.44 WIB
4

American Foot and Ankle College Surgeon. Bone healing. Diunduh dari http://www.foothealthfacts.org/ footankleinfo/Bone_Healing.htm pada tanggal 6 Desember 2010 pukul 11.08 WIB
5

Kalfas IH. Principles of Bone Healing. Diunduh dari http://cnx.org/content/m27924/latest/20-Reading%20-%20Kalfas.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 05.34 WIB
6

Anonim. Bone Morphology and Fracture Healing. Diundu dari http://meds.queensu.ca/courses/msk/documents/ bone_morphology.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 12.30 WIB
7

Shih AT. Zainalabidin Z. Bone Healing. Diunduh dari http://www.headtotoehealthcare.org/library/Bone_Healing.pdf pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 14.56 WIB
8

Anonim. Prognosis og Bone Fracture. Diunduh dari http://www.wrongdiagnosis.com/f/fractures/prognosis.htm pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 12.54 WIB
9

Vorvick LJ. Bone Fracture Repair. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002966.htm pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 10.00 WIB