Anda di halaman 1dari 4

Nama : Nurul Hidayah Eka setiawaty Nim : 811410031

Kesmas VII A

1. Kendala dalam pengimplentasian K3 di Bidang Pertambangan. Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Pertambangan adalah rangkaiaan kegiatan dalam rangka upaya pencarian, pengembangan (pengendalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumu, migas). Pengertian kerja tambang adalah Setiap tempat pekerjaan yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan pekerjaan penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi, pengolahan/ pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang ada di atas atau di bawah tanah/air, baik berada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek. Secara filosofis, kendala yang dihadapi dalam menciptakan safety culture adalah tidak maksimalnya proses transformasi dari budaya agriculture menjadi budaya industrial. Contohnya, ketika kita akan membuka tambang di suatu wilayah, mayoritas pekerja yang akan bekerja di tambang tersebut merupakan orang-orang yang biasa bekerja di pertanian dengan budaya traditional agriculture. Sementara ketika mereka bekerja di tambang, mereka harus bekerja dalam budaya industri pertambangan yang jauh berbeda dengan budaya traditional agriculture. Pada budaya tradisional, mereka tidak terbiasa dengan disiplin kerja dan bahkan mereka hanya menggunakan satu alat (tool) untuk melakukan berbagai pekerjaan, seperti kapak yang berfungsi sebagai alat pemotong maupun sebagai palu (hammer). Sementara pada industri, ada bermacammacam palu untuk penggunaan yang berbeda, baik bahannya maupun ukurannya. Oleh karena itu, proses transformasi budaya tersebut harus dikelola secara serius agar prosesnya dapat berjalan secara baik dan maksimal. Secara akademis, "Budaya keselamatan adalah produk dari nilai-nilai individu dan kelompok, sikap, persepsi, kompetensi dan pola perilaku yang dapat menentukan komitmen, dan gaya dan kemampuan kesehatan organisasi dan sistem manajemen keselamatan.

Budaya K3 di suatu perusahaan sebagai bagian dari budaya organisasi perusahaan bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu: a. Aspek psikologis pekerja terhadap K3 (Psychological aspects, what people feel, what is believe) apa yang dirasakan seseorang sangat terkait dengan aspek Pribadi (PERSON), seperti misalnya cara pikir, nilai, pengetahuan, motivasi, harapan, dan lain-lain. b. Aspek perilaku K3 pekerja, (Behavioral aspects, what people do, what is done), berkaitan erat dengan perilaku sehari-hari (BEHAVIOUR), seperti misalnya perilaku sehari-hari di perusahaan, kebiasaan-kebiasaan dalam K3 dan sebagainya. c. Aspek situasi atau organisasi dalam kaitan dengan K3 (Situational aspects, what organizational has, what is said), berkaitan erat dengan situasi lingkungan kerja (ENVIRONMENT) seperti apa yang dimiliki perusahaan/organisasi mengenai K3, contohnya Sistem Manajemen K3, SOP, Komite K3, peralatan, lingkungan kerja, dan sebagainya.

Ketiga aspek tersebut satu sama lainnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Budaya K3 yang kuat tentunya akan ditandai dengan kuatnya tiga aspek tersebut. Oleh karena itu, suatu perusahaan diharapkan mempunyai budaya yang selalu meningkatkan K3 secara sinambung dimana K3 sudah menjadi nilai-nilai pribadi dan tampil dalam kehidupan sehari-hari (continuous improvement culture, behavior based culture), bukan hanya menjadikan K3 sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan yang tampak dari keberadaan sistem manajemen, SOP dan lain-lain di perusahaan (organizational based culture, system based culture), apalagi hanya menjadikan K3 sekedar mematuhi peraturan (compliance based culture, rule based culture). Kurangnya pemahaman terhadap hal tersebut menjadi salah satu kendala dalam menciptakan safety culture di Indonesia. Meskipun sudah banyak yang mengetahui tentang undang-undang mengenai K3 namun masih banyak juga kendala dalam implementasi K3 terutama di pertambangan emas, diantaranya: 1. Kurangnya kesadaran dari pekerja tambang itu sendiri betapa pentingnya memperhatikan keselamatan mereka dalam hal ini penggunaan APD. Penambang mengetahui tentang K3 namun mereka tidak menyadari bahwa yang mereka kerjakan mempunyai bahaya yang cukup bagi mereka. Penambang lebih mementingkan target pendapatan mereka dibandingkan dengan keselamatan mereka. 2. Sikap dan sifat pekerja dan masyarakat yang acuh tak acu dengan peraturan mengenai K3. Penambang biasanya bersikap acuh tak acuh tentang keselamatan mereka bahkan mereka tidak mempeduli kanapa yang dipromosikan oleh pihak kesehatan. 3. Petugas kesehatan dan keselamatan kerja belum mampu menunjukkan keuntungan program kesehatan dan keselamatan kerja dalam bentuk uang pada perusahaan. Pelaksanaan K3 sangat

membutuhkan peran dari petugas kesehatan dalam mepromosikan tentang pentingnya penerapan K3 serta keuntungan dari penerapan K3, namun petugas kesehatan belum mampu menunjukkan keuntungan program tersebut terutama bagi mereka penambang 4. Manajemen perusahaan memberikan prioritas rendah dan paling belakang pada program K3 dalam program kerja perusahaan. Kebanyakan perusahaan maupun suatu usaha lebih mengutamakan keuntungan dibandingkan keselamatan dari pekerja, pengusaha atau pun pemilik usaha lebih memprioritas kanhasil (keuntungan) apalagi di pertambangan. 5. Program K3 lebih banyak program kuratif dibandingkan program Preventif dan promotif. Di pertambangan biasanya mereka akan mengetahui dampak dari pekerjaan mereka setelah menerima dampak yang ada. Penambang tidak akan melakukan pencegahan sebelum mereka terkena dampak, mereka tidak mempercayai sesudah itu sebelum mereka mengalaminya sendiri. 6. Kurangnya pengetahuan mengenai K3 dari pihak manajemen maupun karyawan. Mengingat kebanyankan penambang hanyalah lulusan SD bahkan ada orang yang tidak menginjak bangku sekolah dan kurangya bersosialisasi dengan petugas kesehatan atau orang yang memiliki pengetahuan mengenai K3 bisa mempengaruhi pengetahuan penambang tentang pentingnya K3. 7. Pengawasan dan penerapan sanksi yang lemah oleh pemerintah. Kurangnya penegasan penerapan sanksi di Indonesia oleh penagak hukum membuat orang tidak takut dalam melakukan pelanggaran dan ini membuat banyak orang tidak akan mengindahkan suatu program (K3) 8. Banyaknya penambangan emas yang illegal atau yang tidak memiliki izin. Saat ini makin banyak penambangan emas yang illegal dilakukan oleh penambang emas sehingga sangat sulit dalam menerapkan progam K3. KTT memiliki peran penting dalam implementasi K3. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, KTT adalah seseorang yang memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan K3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan. Berbagai program secara global telah banyak dikembangkan untuk meningkatkan Budaya K3, namun tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam mengembangkan budaya K3 diperusahaan. Salah satu kendala yang paling utama dan bersifat umum serta banyak terjadi adalah kesalahan dalam memahami pengertian budaya K3 itu sendiri (misunderstandings and even misuse of the concept). Sebagai contohnya hingga saat ini hampir sebagian besar dari kita selalu memiliki kecendrungan untuk mengklasifikasikan setiap peristiwa kejadian atau kecelakaan karena adanya kesalahan manusia

(human error) akibat buruknya budaya selamat. Padahal kesalahan manusia (human error) dapat terjadi didalam sebuah organisasi yang mempunyai budaya selamat yang sangat baik sekalipun karena kesalahan manusia terjadi akibat berbagai macam faktor. Kendala lain adalah masih banyak orang yang menyukai paradigma blaming the person yang memandang bahwa faktor kesalahan manusialah yang menjadi sumber penyebab (causes) kecelakaan dan tidak beranggapan atau melihat faktor kesalahan manusia sebagai sebuah akibat (effect) dari suatu keadaan. Pandangan yang demikian ini tentu saja mempunyai dampak dalam pengembangan program yang selalu tertuju hanya pada satu aspek saja sambil melupakan aspek2 penting lainnya dalam budaya keselamatan. Dari sudut pandang lain hambatan-hambatan dalam pengembangan program membudayakan K3 seringkali disebabkan oleh masalah kesiapan dari organisasinya sendiri terutama dari Budaya Organisasi perusahaan yang sering mempunyai orientasi yang belum kuat dan tidak focus terhadap masalah K3. Belum tingginya tingkat kesadaran top Manajemen juga dapat menjadi hambatan karena masih memandang K3 sebagai suatu biaya atau pengeluaran yang tidak terkait langsung dengan tingkat produktifitas bahkan sering dipandang sebagai sesuatu yang memperbesar biaya produksi. Hambatan lain yang juga sering menjadi pembicaraan umum adalah dari aspek pekerja atau sumber daya manusia disetiap tingkatan yang umumnya masih menganggap keselamatan bukan sebagai sebuah nilai penting karena tidak terpaparnya mereka pada nilainilai K3 sejak dini dalam pendidikan formal maupun pendidikan non formal.