Anda di halaman 1dari 12

1.

Merkantilisme Adalah suatu aliran atau filsafat ekonomi yang tumbuh dan berkembang dengan pesat pada abad XVI XVIII serta menguasai penghidupan ekonomi di negara-negara eropa dengan praktek penerapan peraturan yang sangat menguntungkan kelompoknya. Tuuan merkantilisme. Adalah untuk melindungi industri yang telah ada dari saingan-saingan luar negeri. 2. Adam Smith Untuk mengatasi praktek-praktek merkantilisme, Adam Smith mendesak agar dilaksanakan free trade yang berdasarkan landasan-landasan: a. Teritorial division of labour yang mendorong spesialisasi b. Adanya perbandingan biaya yang berbeda-beda di beberapa negara c. Sistem keuangan internasional yang berdasarkan emas murni, menjamin stabilitas harga 3. Teori Klasik a. Absolute Advantage (Adam Smith) Bahwa setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage) serta mengimpor barang jika negara tersebut tidak memiliki keunggulan mutlak. b. Comparative Advantage (David Ricardo) Teori David Ricardo didasarkan pada nilai tenaga kerja (Theory of labour value) yang menyatakan bahwa nilai atau harga suatu produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya. c. Production Comparative Advantage Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih produktif serta relatif kurang atau tidak produktif. 4. Teori Modern a. Eli Heckcher dan Bertil Ohlin (HO) Perbedaan opportunity cost suatu produk antara satu negara dengan negara lain dapat terjadi karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara. Perbedaan tersebutlah yang dapat menimbulkan terjadinya perdagangan internasional. b. Wassily Leontif (Paradox Leontif) Ekspor terdiri atas barang-barang yang padat karya atau tenaga kerja. Sebaliknya impor terdiri atas barangbarang yang padat modal (capital intensive). Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2156808-teori-perdaganganinternasional/#ixzz1XZJbH900

2. Teori Perdagangan Internasional Heckscher-Ohlin


3. Teori Heckscher-Ohlin (H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negaranegara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif melimpah secara intensif. Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah: 1. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi didalam suatu negara. 2. Faktor intensity, yaitu teksnologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity.

(http://analisisekonomi.blogspot.com/2008/06/teori-perdagangan-internasional.html)

oleh: Nurmaito Miranda Nasution, Ari Widodo, dan Indah Sri Wulandari Program Magister Sains Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2008 Leontif paradox pada dasarnya tidak menggugurkan teori H-O, karena pada pengujiannya tidak memenuhi asumsi yang mendasari teori H-O yaitu adanya homogenitas input. Beberapa pendapat tentang Leontief paradox yaitu: 1) Amerika Serikat lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja 2) Factor Intensity Reversal (FIR) 3) Natural Resourses 4) Tariff and Transport Cost 5) Demand Bias 6) Human Capital

http://iswekon.wordpress.com/2009/01/01/leontief-paradox/

Teori modern mencari faktor yang menentukan keunggulan komparatif atas barang tertentu. Masih bertahan pada aspek produksi (supply), tidak membahas permintaan barang. Bertil Ohlin (1933) yang pertama mengemukakan teori perdagangan internasional modern dalam buku Interregional and International Trade yang berisi pikirannya dan gurunya Eli Heckscher (1919). Disebut teori H-O : faktor keamanan/perdamaian sebelum PD I memacu perdagangan internasional. Konsep Teori H-O : 1. perdagangan internasional/antar-negara tidak beda dengan antar-daerah, melainkan biaya transpor yang diabaikan 2. barang yang dijual bukan atas dasar natural and acquired advantage, tapi karena proporsi faktor produksi untuk memproduksi barang itu (factor proportion = intensity theory) 3. perbedaan harga barang antara 2 negara terjadi karena beda proporsi faktor produksi yang berlainan atau perbedaan "hadiah alam" (endow-ment factor) bagi suatu negara 4. suatu negara memproduksi barang yang menggunakan faktor produksi relatif banyak (murah) sehingga harga barang murah

5. penggunaan faktor produksi yang murah akan menaikkan harga bahan itu, sedangkan harga faktor produksi yang relatif sedikit akan turun. Contoh : Indonesia memiliki faktor produksi tenaga kerja relatif banyak sehingga diproduksi barang yang padat karya. Hal ini akan menaikkan upah. Sementara harga modal dan tingkat bunga akan turun. 6. akhirnya, perdagangan internasional cenderung menyamakan harga-harga barang yang diperdagangkan, juga berikut harga faktor-faktor produksi barang itu (equilibrium). Asumsi dasar teori H-O : a) analisa terhadap banyak negara banyak barang (minimal 3 negara) b) perubahan teknologi = nol c) tingkat teknologi = sama d) nilai/harga didasarkan biaya produksi konstan dan meningkat e) penjualan faktor produksi bebas di dalam negeri dengan persaingan, tapi tidak bebas melalui perbatasan f) persaingan bebas di pasar barang

g) standard tukar = emas h) distribusi pendapatan bisa berubah dengan kecenderungan harga faktor produksi sama. Kesamaan Ricardo-Mill dengan teori H-O (Modern) : 1. sebab terjadi perdagangan internasional = pihak-pihak merasa mendapat manfaat 2. manfaat mula-mula terasa karena ada perbedaan harga bila memproduksi sendiri 3. kemudian manfaat berkembang menjadi spesialisasi produk

4. perbedaan harga timbul karena beda biaya produksi. Perbedaan Ricardo-Mill dengan teori H-O (Modern) : o Biaya produksi : R-M = ditentukan dari jumlah jam kerja; Teori H-O =

ditentukan sumber daya "hadiah alam" (factor endowment) o Masa waktu : R-M = perdagangan berakhir bila perbedaan biaya komparatif hilang akibat teknik produksi/produktivitas sama; Teori H-O = penyamaan "hadiah alam" tidak akan terjadi di masa depan, maka perdagangan tidak pernah berhenti. Diagram Edgeworth-Bowley, 1920, untuk menunjukkan kombinasi faktor produksi yang optimal bagi suatu negara atas dasar jumlah terbanyak, melanjutkan teori "hadiah alam" secara total. Contoh : dari 2 macam barang mana yang harus diproduksi dan berapa bila tersedia "n" tenaga kerja dan "n" modal? Marshall Pigou (1930) dan Edgeworth : kurva kesediaan (offer curve) adalah kurva yang menunjukkan kesediaan suatu negara untuk menukar sejumlah barang produksi dengan sejumlah barang impor pada berbagai kemungkinan TOT. Menunjukkan interaksi penawaran /permintaan barang 2 negara itu untuk mencari TOT keseimbangan. Untuk menggambar kurva kesediaan perlu diketahui :
1. 2. 3. kurva kemungkinan produksi kurva indiferen perdagangan kurva indiferen konsumsi.

Perdagangan terjadi kalau kurva kemungkinan produksi menggambarkan ongkos per-unit yang menurun. Bentuk kurva kesediaan tergantung :  bentuk kurva kemungkinan produksi, karena mencerminkan banyaknya barang yang dihasilkan oleh masyarakat negara itu sesuai harga dari faktor produksinya  bentuk pelaku indiferen yang mencerminkan selera dan keinginan (preferensi) masyarakat negara itu. Analisa kurva kesediaan hanya sisi permintaan. Analisa keseimbangan produksi/konsumsi dari 2 pihak, akibat :

 kurva kemungkinan produksi lain selera sama : perdagangan internasional menyebabkan masing-masing negara berusaha meningkatkan spesialisasi pada barang yang diekspor, mengorbankan produksi barang yang diimpor (Adam Smith).  kurva kemungkinan produksi sama selera lain, dapat terjadi masing-masing negara meningkatkan spesialisasi dalam konsumsi, tetapi menghilangkan spesialisasi produksi. Perdagangan tergantung kekuatan permintaan konsumen.  kurva kemungkinan produksi sama selera sama : tidak terjadi perdagangan, masing-masing memproduksi dan mengkonsumsi sendiri(subsisten).  kurva kemungkinan produksi lain - selera lain : masing-masing negara justru mengimpor (bukan mengekspor) barang kebutuhannya. (a)bila kekuatan permintaan dan penawaran sejalan, misalnya negara A memiliki keunggulan komparatif produksi barang Y akan meminta lebih banyak barang X, sesudah perdagangan dilaksanakan, masing-masing negara meminta lebih banyak barang dengan harga relatif lebih tinggi, (b)kekuatan permintaan dan penawaran bertentangan. Negara A memiliki keunggulan komparatif dalam produksi barang Y akan meminta lebih banyak barang Y sesudah perdagangan berjalan (masing-masing negara meminta lebih banyak barang dengan harga relatif lebih rendah sehingga perdagangan tidak menguntungkan).

HARGA - HARGA Faktor intensity reversal = kondisi negara yang tidak dapat memproduksi barang yang faktor produksinya relatif banyak (hadiah alam), tetapi justru mengimpor. Teorema Euler = makin besarnya kesenjangan pendapatan negara maju dan negara berkembang (dalam pandapatan per kapita) banyak dipengaruhi ekonomi internasional, yaitu : hasil kerja perusahaan multinasional, investasi asing, dan kebijakan yang merugikan negara berkembang.
Penguji pertama kebenaran teori H-O = Mac Dougall (1951) : data yang digunakan adalah negara Inggris dan Amerika, kesimpulan : teori H-O salah, yang benar = teori Klasik, yaitu tidak ada faktor "hadiah alam" dalam ekspor 2 negara. Leontief (1947) : struktur ekonomi Amerika yang disangka banyak orang : "mengekspor barang-barang padat modal dan mengimpor barang padat karya" ternyata salah. Yang terjadi : kebalikannya. Terdapat 2 kesimpulan : (a)paradox leontief : kesalahan teori H-O bahwa negara akan mengekspor barang dengan

faktor produksi relatif lebih banyak dst, (b)teori H-O benar, karena ternyata Amerika memiliki relatif sedikit modal, (c)lahirlah konsep seorang tenaga kerja Amerika per-tahun sama dengan tiga tahun tenaga kerja negara lain. Swerling (1954) : kesalahan Leontief, karena tahun penelitian 1947 dekat dengan PD II sehingga ekspor masih terlalu besar daripada impor (penjajahan). Ellsworth (1954) : Leontief salah karena tidak semua asumsi teori H-O dipakai. Valvanis-Vail : penggunaan model produksi dengan koefisien tetap dalam perdagangan internasional tidak tepat kecuali bila masing-masing negara memiliki paling sedikit satu faktor produksi yang tidak digunakan saat tidak ada perdagangan. Vanek (1963) : menjelaskan adanya faktor produksi ketiga (natural resources) yang menurun

menyebabkan perdagangan luar negeri Amerika berubah komposisi dengan mengekspor sumber daya alam yang relatif lebih rendah dan mengimpor s.d.a yang relatif lebih tinggi. Tatemoto / Ichimura (1959) : meneliti Jepang (sesuai teori HO). Stolper / Roskamp : kasus Jerman Timur (sesuai teori HO). Wahl : perdagangan Kanada dan Amerika (Kanada ekspor barang padat modal, tidak sesuai H-O). Bharadwaj : India dan Amerika (India ekspor barang padat modal). Samuelson (1998) : 2 asumsi : 1) 2) masing-masing barang fungsi produksinya (teknologi dll) sama/ homogen (sesuai teori H-O) strong factor intensity assumption, rasio modal terhadap tenaga kerja suatu industri yang

optimal adalah yang terkecil (modal berbanding tenaga kerja = tak terhingga) dalam berapapun rasio upah terhadap bunga modal.

Dengan asumsi 2 ini maka dapat diurutkan barang-barang unggulan. Maka lahir asumsi :
3) selera masing-masing negara sama : barang yang murah pasti barang yang dihasilkan dalam

jumlah banyak dengan memanfaatkan hadiah alam yang dimiliki. Minhas (1962) : bersama Arrow, Chenery, Solow, membuktikan :

1.

asumsi fungsi produksi sama untuk barang yang sama tidak selalu benar kalaupun benar

masih mungkin terjadi pembalikan intensitas faktor produksi, yaitu : barang X yang relatif padat modal di negara A dapat merupakan barang relatif padat karya di negara B. 2. negara yang memiliki tenaga kerja relatif banyak mungkin memiliki keuntungan komparatif

dalam barang padat modal dan sebaliknya maka terjadi harga barang padat karya naik tetapi upah turun. 3. diagram Johnson memperlihatkan pembalikan intensitas faktor produksi.

Reversal point = titik balik diagram Johnson : 1. jumlah pembalik ganjil = barang padat karya di suatu negara merupakan barang padat modal

negara lain. Bila terjadi perdagangan : harga faktor produksi akan bergerak ke arah yang sama (sama naik sama turun) 2. jumlah pembaliknya genap = normal, barang tsb adalah padat karya atau padat modal di kedua

negara sama. Harga faktor pro-duksinya bergerak lawan arah (satu naik satu turun). Misalnya : (a)2 negara memiliki tenaga kerja relatif banyak, keunggulan komparatif produksi = barang padat karya = harga faktor produksi 2 negara saling mendekati, (b)2 negara me-miliki tenaga kerja relatif banyak, keunggulan komparatif produksi = barang padat modal = harga faktor produksi saling menjauhi (saingan). Jadi, tidak selalu benar, negara mengekspor barang dengan faktor produksi relatif banyak dimiliki atau dengan faktor produksi relatif murah. Perdagangan internasional cenderung akan menyamakan harga relatif faktor produksi jika tidak ada pembalikan intensitas faktor produksi (misalnya : teknologi atau proporsi pemilikan faktor produksi yang jauh beda). Atas dasar teori lokasi, industri dibedakan atas : 1. industri yang orientasinya pada sumber daya alam. Cirinya : biaya transpor yang tinggi pada

output karena bobotnya besar disebut INDUSTRI HULU 2. yang orientasi pada pasar, tahap akhir atau lanjutan dari proses bahan mentah, biaya transpor

lebih rendah, disebut INDUSTRI HILIR 3. tidak mempunyai orientasi yang jelas (footloose industries), biaya transpor relatif.

PERTUMBUHAN
Hicks (1953) : gagasan pertama pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap perdagangan internasional, yaitu : bila negara A dan B berdagang, industri A berkembang secara merata (uniform) maka B juga untung, karena naiknya pendapatan A mendorong kenaikan impor dari B dan harga impor naik. Negara A akan mengalami defisit neraca perdagangan. Negara B akan mendapat perbaikan TOT, dan pendapatan nasional riil meningkat. Kasus ini disebut kasus pertumbuhan netral. Kasus pertumbuhan bias ke ekspor, bila kenaikan industri A hanya pada barang ekspor, turunnya harga ekspor A ke B menyebabkan pendapatan riil B naik juga. Bila ekspor A bersifat in-elastik (kaku), maka seluruh keunggulan A akan bergeser ke B. Kasus pertumbuhan bias ke impor, bila kenaikan hanya pada industri barang substitusi (pengganti) impor. Turunnya harga barang pengganti impor di negara A menyebabkan impor dari B turun, TOT B akan turun. Negara A memperoleh kenaikan TOT plus kenaikan produktivitasnya sendiri. Immiserizing growth, mula-mula oleh Edgewoth, kemudian dikembangkan Johnson/Bhagwati : dapat terjadi, pertumbuhan menyebabkan negara lebih miskin, dalam kenyataan hal ini sangat kecil terjadi atau tidak Mungkin (karena dapat dihindarkan dengan kebijakan proteksi, kurs, suku bunga dll.). Pengaruh pertumbuhan bagi Negara Kecil (price taker = tidak mampu mengubah harga pasar) : a) bila biaya per-unit tetap (klasik), berapapun jumlah output yang dihasilkan biaya per unit produk

tidak berubah. Efek pertumbuhan ekonominya mengakibatkan  sumbangan kepada sektor perdagangan internasional tetap (Average Propensity to Trade =

tetap) kasus pertumbuhan netral, MPC = APC, E = 1    bila sumbangan meningkat di-sebut bias pro-trade, MPC > APC, E > 1 bila sumbangan menurun = bi-as anti-trade, MPC < APC, E < 1 bila sumbangannya naik diatas pertumbuhan itu sendiri = bias ultra pro-trade MPC > 1,

E>1  sumbangannya turun dibawah nilai pertumbuhan = bias ultra anti-trade, MPC < 0,

E<1

MPC =

Impor

APC = Total Impor

Pendapatan

Total Pendapatan

MPC dan APC disebut hasrat akan barang impor. E = elastisitas pendapatan akan barang impor. b) bila biaya per-unit meningkat (Neo-Klasik dan Modern). Pertumbuhan ekonomi bergantung pada perilaku konsumsi & perilaku produksi. Efek pertumbuhan ekonominya mengakibatkan hal yang hampir sama. Pengaruh pertumbuhan bagi Negara Besar, apabila negara besar mengalami pertumbuhan ekonomi, TOT pasti berubah. Bila biaya per-unit tetap (klasik), pada umumnya akan berakibat turunnya TOT, kecuali bila efek konsumsinya bias ultra antitrade. Biaya per-unit meningkat, spesialisasi tidak akan terjadi secara sempurna, volume perdagangan naik, TOT menurun (kecuali bila efek konsumsinya bias ultra anti-trade). Jika pertumbuhan ekonomi negara A = bias ultra anti-trade = walaupun permintaan negara B pengimpor barang elastik, volume perdagangan akan turun. Bila permintaan negara B pengimpor barang inelastic, ekspor A meningkat.
Pada dasarnya sumber pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan atau kenaikan sumber daya dan kemajuan teknologi yang memungkinkan kenaikan produksi walaupun sumber daya yang digunakan tidak berubah. Perbedaan akibat itu timbul terutama karena adanya asumsi adanya asumsi yang menyatakan bahwa, dalam persaingan sempurna, setiap tambahan faktor produksi akan menerima imbalan sebesar produk marjinal faktor produksi itu kali harga produk. 1. Akibat berubah sumber daya Pertambahan salah satu saja dari faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang bersifat bias ultra ke produk yang relatif banyak menggunakan faktor produksi yang bertambah tsb. Akibat pertumbuhan kedua faktor produksi dalam proporsi yang sama dengan proporsi faktor produksi semula adalah bertambahnya output barang X dan barang Y dalam proporsi yang sama pula dengan proporsi output semula. Jadi, merupakan pertumbuhan ekonomi yang netral. 2. Akibat kemajuan teknologi, ada 2 :

 kemajuan teknologi yang terlebur (embodied). Kemajuan yang terlebur dalam bentuk barang modal baru yang lebih efektif daripada yang lama (misalnya mesin yang lebih canggih, komputer baru, dsb). Yang terlebur dalam tenaga kerja yang

lebih baik/produktif (misalkan lulusan baru selalu punya bekal lebih baik dari yang lama)  yang terpisah (disembodied). Klasifikasi Hicks dengan asumsi yaitu input faktor produksi jumlahnya konstan, ada 3 : (a)kemajuan teknologi yang netral = output meningkat dengan proporsi dan jumlah input tetap. Bila terhadap semua industri (X dan Y) maka ekspansi proporsional. TOT tetap, (b)yang menghemat tenaga kerja. Output meningkat dengan input yang sama dan tenaga kerja lebih kecil. Efeknya sama dengan Netral, (c)yang menghemat modal. Efeknya tidak dapat dijelaskan karena tidak jelas industri mana yang akan lebih dulu berkembang.
Beda pertumbuhan ekonomi karena sumber daya (SD) dengan teknologi : a) pada SD : output barang (X) meningkat, barang (Y) tetap akibatnya efeknya hanya

menguntungkan pemilik sumber daya, b) pada teknologi : output (X) meningkat, output (Y) menurun efeknya hanya menguntungkan

penemu teknologi. Bila negara mengekspor barang (X) yang harganya di dalam negeri turun, sedang di pasar internasional tidak berubah - maka TOT negara itu turun. Ada 2 aliran : 1. aliran Inggris (Klasik = Ricardo) : TOT selalu merugikan negara maju, alasannya : harga

barang-barang pertanian akan naik terus terhadap barang industri sehingga negara industri rugi 2. aliran Prebisch / Singer (1950) : TOT merugikan negara berkembang yang mementingkan

ekspor hasil pertanian. Alasannya : ekspor rendah tetapi hasrat impor barang industri tinggi.

https://sites.google.com/site/kuliahekonomiinternasional/halaman-2

TEORI MODERN PERDAGANGAN INTERNASIONAL HeckscherOhlin ( H - O )


TEORI MODERN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Teori Heckscher-Ohlin (H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik,

negara-negara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif melimpah secara intensif Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah: 1. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi didalam suatu negara. 2. Faktor intensity, yaitu teksnologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity. A. The Proportional Factors Theory Teori modern Heckescher-ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang menggabarkan total biaya produksi yang sama. Dan kurva isoquant yaitu kurva yang menggabarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut teori ekonomi mikro kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu. Analisis teori H-O : a. Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing Negara b. Comparative Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilkinya. c. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk memproduksinya d. Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi. B. Paradoks Leontief Wassily Leontief seorang pelopor utama dalam analisis input-output matriks, melalui study empiris yang dilakukannya pada tahun 1953 menemukan fakta, fakta itu mengenai struktur perdagangan luar negri (ekspor dan impor). Amerika serikat tahun 1947 yang bertentangan dengan teori H-O sehingga disebut sebagai paradoks leontief Berdasarkan penelitian lebiih lanjut yang dilakukan ahli ekonomi perdagangan ternyata paradox liontief tersebut dapat terjadi karena empat sebab utama yaitu : a. Intensitas faktor produksi yang berkebalikan b. Tariff and Non tariff barrier c. Pebedaan dalam skill dan human capital d. Perbedaan dalam faktor sumberdaya alam Kelebihan dari teori ini adalah jika suatu negara memiliki banyak tenaga kerja terdidik maka ekspornya akan lebih banyak. Sebaliknya jika suatu negara kurang memiliki tenaga kerja terdidik maka ekspornya akan lebih sedikit. C. Teori Opportunity Cost Opportunity Cost digambarkan sebagai production possibility curve ( PPC ) yang menunjukkan kemungkinan kombinasi output yang dihasilkan suatu Negara dengan sejumlah faktor produksi secara full employment. Dalam hal ini bentuk PPC akan tergantung pada asusmsi tentang Opportunity Cost yang digunakan yaitu PPC Constant cost dan PPC increasing cost D. Offer Curve/Reciprocal Demand (OC/RD) Teori Offer Curve ini diperkenalkan oleh dua ekonom inggris yaitu Marshall dan Edgeworth yang menggambarkan sebagai kurva yang menunjukkan kesediaan suatu Negara untuk menawarkan/menukarkan suatu barang dengan barang lainnya pada berbagai kemungkinan harga. Kelebihan dari offer curve yaitu masing-masing Negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional yaitu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan harga factor produksi

tersebut dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan harga suatu produk. Pada akhirnya semua itu akan bermuara kepada penentuan comparative advantage dan pola perdagangan (trade pattern) suatu negara. Kualitas sumber daya manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan untuk dapat bersaing di pasar internasional. Teori perdagangan yang baik untuk diterapkan adalah teori modern yaitu teori Offer Curve.

http://ramadunja.blogspot.com/2011/04/teori-modern-perdagangan-internasional.html