Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

Labiopalatoshizis adalah Suatu kelainan kongenital dimana keadaan terbukanya bibir dan langit langit rongga mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan bibir dan langit-langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa kehamilanPembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada
derajat kecacatan. Awal fasilitas penutupan adalah untuk perkembangan bicara.

Bibir sumbing dengan atau tanpa celah pada langit-langit, merupakan kelainan kongenital yang paling umum pada kepala dan leher di dunia. Penelitian epidemiologi untuk pencegahan terjadinya bibir sumbing masih sedikit namun teknik bedah untuk mengobatinya banyak dilakukan.Sumbing memiliki frekuensi yang berbeda-beda pada berbagai budaya dan ras sertanegara. Diperkirakan 45% dari populasi adalah non-Kaukasia.Fogh Andersen di Denmark melaporkan kasus bibir sumbing dan celah langit-langit 1,47/1000 kelahiran hidup. Hasil yang hampir sama juga dilaporkan oleh Woolf dan Broadbent di Amerika Serikat serta Wilson untuk daerah Inggris. Neel menemukan insiden 2,1/1000 penduduk di Jepang. Penyebabnya terjadinya bibir sumbing ialah multifaktorial, seperti genetik, nutrisi, lingkungan, bahkan sosial ekonomi. Jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000 kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara pasti. Penderita bibir sumbing dapat diperbaiki dengan jalan operasi, namun memerlukan biaya yang besar, sedangkan kesempatan penderita yang menjalani operasi setiap tahunnya hanya sekitar 1.500 orang, angka ini masih jauh dari idealnya sehingga tindakan-tindakan pencegahan sebaiknya lebih diutamakan.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Definisi
Labiopalatoshizis atau cleft lip dan cleft palate adalah Suatu kelainan kongenital dimana keadaan terbukanya bibir dan langit langit rongga mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan bibir dan langit-langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa kehamilan..

B.Etiologi
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan Labio palatoschizis, antara lain: 1. Faktor Genetik Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 30 % penderita labio palatoscizhis terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan dan resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya labio palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan palatum merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa bagian kontak.
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 2

2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal). Zat zat yang berpengaruh adalah: - Asam folat - Vitamin C - Zn Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam tumbuh kembang organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto maternal juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa embrional.

3. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah: 1.Obat obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio palatoschizis. Obat obatan itu antara lain : Talidomid, diazepam (obat obat penenang) Aspirin (Obat obat analgetika) Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam (cream pemutih). Sehingga penggunaan obat pada ibu hamil harus dengan pengawasan dokter.

2.kontrasepsi hormonal Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal, terutama untuk hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hipertensi sehingga berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan sirkulasi fotomaternal.

3. Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio palatoschizis, yaitu: a.Zat kimia (rokok dan alkohol) Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan alkohol dapat berakibat terjadi kelainan kongenital karena zat toksik yang terkandung pada rokok dan alkohol yang dapat mengganggu pertumbuhan organ selama masa embrional.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 3

b.Gangguan metabolik Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetes sangat rentan terjadi kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi fetomaternal. Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang organ selama masa embrional.

c. Penyinaran radioaktif Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi penyinaran radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat mengganggu proses tumbuh kembang organ selama masa embrional.

4. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang terinfeksi virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat berpengaruh terjadinya kelainan kongenital terutama labio palatoschizis. Dari beberapa faktor tersebut diatas dapat meningkatkan terjadinya Labio palatoshizis, tetapi tergantung dari frekuensi dari frekuensi pemakaian, lama pemakaian, dan wktu pemakaian.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 4

C.Anatomi Mulut

Batas- batas mulut : Atas : palatum durum dan molle

Bawah : mandibula, lidah dan struktur lain pada mulut Lateral ; pipi Depan : bibir Belakang : lubang menuju faring Palatum durum dibentuk oleh sebagian maksila di bagian depan dan os palatinum dibagian belakang. Tulang dilapisi oleh periosteum dan membrana mukosa. Palatum molle,dibentuk oleh otot dan jaringan ikat yang dilapisi membrana

mukosa,bersambungan dengan palatum durum dibagian depan.Sedangkan gusi merupakan bagian mulut yang merupakan tempat melekatnya gigi dan syaraf-syaraf.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 5

PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI Untuk dapat memahami terjadinya labio atau palatoschisis,kita harus tahu perkembangan embriologi normal yang terjadi pada pembentukan wajah,khususnya disekitar bibir dan langit-langit. Perkembangan Wajah: Pada minggu ke 4 dimana panjang embrio 3,5mm,terbentuknya 5 buah primordia sekeliling mulut primitif atau stomadeum,pada akhir minggu ke 8 muka telah terbentuk lengkap.Lima buah prosessus yang terbentuk pada wajah adalah : a.Prosessus frontalis,yang tumbuh dari arah kepala kebawah .prosessus ini merupakan batas atas stomadeum,pada perkembangan selanjutnya dalam minggu ke 5 dan 6 pada prosessus ini terbentuk duah buah nasal placoda terbentuk tapak kuda terbuka kearah stomadeum,kedua plakoda ini dinamakan prosessus nasomedialis dan ateralis yang kemudian akan membentuk bagian-bagian hidung,bibir atas,gusi dan bagian anterior palatum,sebelah depan foramen incisivus b.Sepasang prosessus maksilaris yang merupakan batas superolateral stomadeum. c.Sepasang prosessus mandibularis yang merupakan batasbawahstomadeum,keduanya berfungsi digaris tengah pada minggu ke 4 dan selanjutnya berkembang menjadi pipi bagian bawah,bibir bawah,mandibula,gusi dan gigi geligi. Teori Perkembangan bibir atas adalah seperti berikut: 1.teori fusi prosessus : Prosessus maksilaris berkembang kearah depan dan garis tengah,dibawah prosessus nasolateralis menuju dan mendekati prosessus nasomedialis yang tumbuh lebih cepat kebawah.prosessus nasomedialis kiri dan kanan akan bertemu digaris tengah pada saat bertemu penonjolan yang mirip jari-jari tangan akan berfusi masing-masing lapisan epitelnya yang kemudian pecah sehingga lapisan mesoderm dibawahnya akan berfusi membentuk bibir atas yang normal.fusi ini akan terjadi pada akhir minggu ke 6 samapai awal minggu ke 7.
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 6

suatu hipotesa terjadinya sumbing yaitu karena kegagalan fusi antara prosessus maksilaris dengan prosessus nasomedialis yang lebih lanjut dijelaskan secar skematis oleh Patten: a. Pertama terjadi pendekatan masing masing prosessus b. Setelah prosessus bertemu terjadi regresi lapisan epitel c. Mesoderm saling bertemu dan mengadakan fusi. Teori terjadinya labio atau palatoschisis adalah sebagai berikut : a.Labioschisis : Perkembangan abnormal dari prosessus nasomedialis dan maksilaris b.palatoschisis : Kegagalan fusi antara 2 prosessus palatina

keterangan gambar: A.Embrio 5 minggu (6mm),B.Embrio 6 minggu (12mm),C.Wajah waktu lahir: prosessufrontonasalis,prosessus nasaliis medial,prosessus nasalis lateral,mata,prosessus maksilaris,prosessus mandibularis,prosessus brankiogenik,stomadeum
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 7

D.Patofisiologi
Sekitar separuh dari semua kasus cleft melibatkan bibir atas dan langit-langit sekaligus.Celah dapat hanya terjadi pada satu sisi (unilateral) atau pada kedua sisi (bilateral) bibir.Cleft lip dan cleft palate terbentuk saat bayi masih dalam kandungan.Proses terbentuknya kelainan ini sudah dimulai sejak minggu-minggu awal kehamilan ibu. Saat usia kehamilan ibu mencapai 6 minggu, bibir atas dan langit-langit ronggamulut bayi dalam kandungan akan mulai terbentuk dari jaringan yang berada di keduasisi dari lidah dan akan bersatu di tengah-tengah. Bila jaringan-jaringan ini gagalbersatu, maka akan terbentuk celah pada bibir atas atau langit-langit rongga mulut.Sebenarnya penyebab mengapa jaringanjaringan tersebut tidak menyatu dengan baik belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi faktor penyebab yang diperkirakan adalah kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan seperti obat-obatan, penyakit atauinfeksi yang diderita ibu saat mengandung, konsumsi minuman beralkohol ataumerokok saat masa kehamilan.Resiko terkena akan semakin tinggi pada anak-anak yang memiliki saudara kandungatau orang tua yang juga menderita kelainan ini, dan dapat diturunkan baik lewat ayahmaupun ibu. Cleft lip dan cleft palate juga dapat merupakan bagian dari sindroma penyakit tertentu. Kekurangan asam folat juga dapat memicu terjadinya kelainan ini.Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit dan gusi.Berbeda pada kelainan bibir yg terlihat jelas secara estetik, kelainan sumbing langit2dan gusi lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum, dan bicara.Pada kondisi normal, langit2 menutup rongga antara mulut dan hidung. Pada bayi yanglangit-langitnya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak. Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saatmenghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurangdan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya selain juga mudahterkena infeksi saluran nafas atas karena terbukanya palatum tidak ada batas antarahidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga. Patofisiologinya antara lain: a.Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama faseembrio pada trimester I.
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 8

b.Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial danmaksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu. c.Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan olehkegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu. d. penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan

E.Klasifikasi.
1. Labioschisis Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk: Komplit Inkomplet

2. Berdasarkan lokasi/jumlah kelainan : a.Unilateral Incomplete Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. b.Unilateral complete Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga kehidung. c.Bilateral complete Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 9

Klasifikasi yang diusulkan oleh Veau dibagi dalam 4 golongan yaitu : Golongan I : Celah pada langit-langit lunak (gambar 1). Golongan II : Celah pada langit-langit lunak dan keras dibelakang foramen insisivum (gambar 2).

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 10

Golongan III : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang alveolar dan bibir pada satu sisi (gambar 3). Golongan IV : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang alveolar dan bibir pada dua sisi (gambar 4).

Gambar 1. A. Celah pada langit-langit lunak saja. B. Celah pada langit-langit lunak dan keras. C. Celah yangmeliputi langit-langit dan lunak keras juga alveolar pada satu sisi. D. Celah yang meliputi langit lunak dan keras juga alveolar dan bibir pada dua sisi. (Young & Greg.

F.MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain A.Masalah asupan makanan Asupan makanan merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan tambaha nyang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak udara pada saat menyusui.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 11

B.Masalah Dental Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir yang terbentuk

C.Infeksi telinga Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan dan penutupan tuba eustachius.

D.Gangguan berbicara Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suaradengan kualitas nada yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telahdilakukan reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut diatas untuk menutup ruang/rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal.Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s,sh,and ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.

E.Distorsi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan. Pada Labio skisis Distorsi pada hidung Tampak sebagian atau keduanya Adanya celah pada bibir

Pada Palato skisis Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive. Ada rongga pada hidung. Distorsi hidung Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadengan jari Kesukaran dalam menghisap/makan.
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 12

G.Komplikasi
Gangguan bicara dan pendengaran Terjadinya otitis media berulang, Infeksi telinga Gangguan pendengaran Aspirasi Distress pernafasan Resiko infeksi saluran nafas Pertumbuhan dan perkembangan terhambat serta kekurangan gizi.

H.Pemeriksaan Diagnostik
1.Anamnesa 2.pemeriksaan fisik 3 .Pemeriksaan Laboratorium 4.pemeriksaan tambahan 1)Foto Rontgen 2)MRI untuk evaluasi abnormal.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 13

G.PENATALAKSANAAN Terapi atau tindakan pada labiopalatoschisis adalah dengan tindakan bedah,operasi ini berguna untuk memperbaiki bentuk bibir,pada kasus kasus pada usia manapun,tetapi pada bayi bayi semuanya dilakukan pada usia dini,umumnya diusia 3 bulan dengan memperhatikan rumus Rule Of Ten sebagai berikut: 1.Berat Badan sekurang-kurangnya 10 pon (4,5kg) 2.umurnya sekurang-kurangnta 10 minggu 3.kadar Hb > 10gr% 4.jumlah lekosit <10.000/mm3 Mengunakan cara millard Pada palatoplasty,Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun disaat anak mulai belajar bicara, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitas penutupan adalah untuk perkembangan bicara. Operasi untuk labioplasty bertujuan untuk penampilan bentuk anatomik serta fungsi yang mendekati normal,untuk mencapai tujuan tadi perlu diperhatikan beberapa patokan yaitu: 1.memperbaiki cuping hidung agar bentuk dan letaknya simetris 2.memberi bentuk dasar hidung yang baik 3.memperbaiki bentuk dan posisi columella 4.memperbaiki bentuk dan fungsi bibir atas 5.mengisap dan makan tanpa terjadi regurgitasi nasal 6.pertumbuhan gigi yang baik 7.pembicaraan yang normal 8.pendengaran yang norma

Terapi Non-bedah
LabioPalatoschisis merupakan suatu masalah pembedahan, sehingga tidak ada terapi medis khusus untuk keadaan ini. Akan tetapi, komplikasi dari labiopalatoschisis yakni permasalahan dari intake makanan, obstruksi jalan nafas, dan otitis media membutuhkan penanganan medis terlebih dahulusebelumdiperbaiki.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 14

3Perawatan Umum Pada Cleft Palatum Pada periode neonatal beberapa hal yang ditekankan dalam pengobatan pada bayi dengan cleft palate yakni: a. Intake makanan Intake makanan pada anak-anak dengan cleft palate biasanya mengalami kesulitan karena ketidakmampuan untuk menghisap, meskipun bayi tersebut dapat melakukan gerakan menghisap. Kemampuan menelan seharusnya tidak berpengaruh, nutrisi yang adekuat mungkin bisa diberikan bila susu dan makanan lunak jika lewat bagian posterior dari cavum oris. pada bayi yang masih disusui, sebaiknya susu diberikan melalui alat lain/ dot khusus yang tidak perlu dihisap oleh bayi, dimana ketika dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat pasien menjadi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan nutrisi menjadi tidak cukup. Botol susu dibuatkan lubang yang besar sehingga susu dapat mengalir ke dalam bagian belakang mulut dan mencegah regurgitasi ke hidung. Pada usia 1-2 minggu dapat dipasangkan obturator untuk menutup celah pada palatum, agar dapat menghisap susu, atau dengan sendok dengan posisi setengah duduk untuk mencegah susu melewati langit-langit yang terbelah atau memakai dot lubang kearah bawah ataupun dengan memakai dot yang memiliki selang yang panjang untuk mencegah aspirasi. (5) b. Pemeliharaan jalan nafas Pernafasan dapat menjadi masalah anak dengan cleft, terutama jika dagu dengan retroposisi (dagu pendek, mikrognatik, rahang rendah (undershot jaw), fungsi muskulus genioglossus hilang dan lidah jatuh kebelakang, sehingga menyebabkan obstruksi parsial atau total saat inspirasi (The Pierre Robin Sindrom) c. Gangguan telinga tengah Otitis media merupakan komplikasi yang biasa terjadi pada cleft palate dan sering terjadi pada anak-anak yang tidak dioperasi, sehingga otitis supuratif rekuren sering menjadi masalah. Komplikasi primer dari efusi telinga tengah yang menetap adalah hilangnya pendengaran. Masalah ini harus mendapat perhatian yang serius sehingga komplikasi hilangnya pendengaran tidak terjadi, terutama pada anak yang mempunyai resiko mengalami gangguan bicara karena cleft palatum.
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 15

Tehnik pembedahan
Pada labioschisis yang paling sering digunakan adalah tehnik millard

Teknik Millard membuat dua flap yang berlawanan dimana pada sisi medial dirotasi ke bawah dari kolumella untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal dan sisi lateraldimasukkan ke arah garis tengah untuk menutupi defek pada dasar kolumela. Keuntungan dariteknik rotasi Millard adalah jaringan parut yang terbentuk pada jalur anatomi normal dari collum philtral dan ambang hidung

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 16

Operasi celah bibir dua sisi dapat dilakukan untuk celah yang ditulis lokasinya dengancara otto kriens sebagai CLP/LAHSHAL atau CLP/la---al atau kombinasi lain. Sering padacheiloraphy bilateral ditemukan keadaan premaksilanya yang sangat menonjol, ini menyulitkan ahli bedah karena otot-otot bibir tidak bisa secara langsung dipertemukan atau bila dipaksakanakan terjadi ketegangan dan berakibat jahitan lepas beberapa hari kemudian

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 17

Terapi pembedahan pada palatoschisis bukanlah merupakan suatu kasus emergensi, dilakukan pada usia antara 12-18 bulan. Pada usia tersebut akan memberikan hasil fungsi bicara yang optimal karena memberi kesempatan jaringan pasca operasi sampai matang pada proses penyembuhan luka sehingga sebelum penderita mulai bicara dengan demikian soft palatedapatberfungsidenganbaik. Ada beberapa teknik dasar pembedahan yang bisa digunakan untuk memperbaiki celah palatum,yaitu: 1. Teknik von Langenbeck Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh von Langenbeck yang merupakan teknik operasi tertua yang masih digunakan sampai saat ini. Teknik ini menggunakan teknik flap bipedikel mukoperiosteal pada palatum durum dan palatum molle. Untuk memperbaiki kelainan yang ada, dasar flap ini disebelah anterior dan posterior diperluas ke medial untuk menutup celah palatum.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 18

2. Teknik V-Y push-back Teknik V-Y push-back mencakup dua flap unipedikel dengan satu atau dua flap palatum unipedikel dengan dasarnya disebelah anterior. Flap anterior dimajukan dan diputar ke medial sedangkan flap posterior dipindahkan ke belakang dengan teknik V to Y akan menambah panjangpalatumyangdiperbaiki.

3. Teknik double opposing Z-plasty Teknik ini diperkenalkan oleh Furlow untuk memperpanjang palatum molle dan membuat suatu fungsi dari m.levator. 4. Teknik Schweckendiek Teknik ini diperkenalkan oleh Schweckendiek pada tahun 1950, pada teknik ini, palatum molle ditutup (pada umur 4 bulan) dan di ikuti dengan penutupan palatum durum ketika si anak mendekati usia 18 bulan. 5. Teknik palatoplasty two-flap Diperkenalkan oleh Bardach dan Salyer (1984). Teknik ini mencakup pembuatan dua flap pedikel dengan dasarnya di posterior yang meluas sampai keseluruh bagian alveolar. Flap ini kemudian diputar dan dimajukan ke medial untuk memperbaiki kelainan yang ada. Speech terapi mulai diperlukan setelah operasi palatoplasty yakni pada usia 2-4 tahun untuk melatih bicara benar dan miminimalkan timbulnya suara sengau karena setelah operasi suara sengau masih dapat terjadi suara sengau karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. Bila setelah palatoplasty dan speech terapi masih didapatkan suara sengau maka dilakukan pharyngoplasty untuk memperkecil suara nasal (nasal escape) biasanya dilakukan pada usia 4-6 tahun. Pada usia anak 8-9 tahun ahli ortodonti memperbaiki lengkung alveolus sebagai persiapan tindakan alveolar bone graft dan usia 9-10 tahun spesialis bedah plastic melakukan operasi bone graft pada celah tulang alveolus seiring pertumbuhan gigi caninus.16 Perawatan setelah dilakukan operasi, segera setelah sadar penderita diperbolehkan minum dan makanan cair sampai tiga minggu dan selanjutnya dianjurkan makan makanan biasa. Jaga
Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 19

hygiene oral bila anak sudah mengerti. Bila anak yang masih kecil, biasakan setelah makan makanan cair dilanjutkan dengan minum air putih. Berikan antibiotik selama tiga hari. Pada orangtua pasien juga bisa diberikan edukasi berupa, posisi tidur pasien harusnya dimiringkan/tengkurap untuk mencegah aspirasi bila terjadi perdarahan, tidak boleh makan/minum yang terlalu panas ataupun terlalu dingin yang akan menyebabkan vasodilatasi dan tidak boleh menghisap /menyedot selama satu bulan post operasi untuk menghindari jebolnya daerah post operasi. KOMPLIKASI Anak dengan palatoschisis berpotensi untuk menderita flu, otitis media, tuli, gangguan bicara, dan kelainan pertumbuhan gigi. Selain itu dapat menyebabkan gangguan psikososial. 8 Komplikasi post operatif yang biasa timbul yakni: a. Obstruksi jalan nafas Seperti disebutkan sebelumnya, obstruksi jalan nafas post operatif merupakan komplikasi yang paling penting pada periode segera setelah dilakukan operasi. Keadaan ini timbul sebagai hasil dari prolaps dari lidah ke orofaring saat pasien masih ditidurkan oleh ahli anastesi. Penempatan Intraoperatif dari traksi sutura lidah membantu dalam menangani kondisi ini. Obstruksi jalan nafas bisa juga menjadi masalah yang berlarut-larut karena perubahan pada dinamika jalan nafas, terutama pada anak-anak dengan madibula yang kecil. Pada beberapa instansi, pembuatan dan pemliharaan dari trakeotomi perlu sampai perbaikan palatum telah sempurna. b. Perdarahan Perdarahan intraoperatif merupakan komplikasi yang potensil terjadi. Karena kayanya darah yang diberikan pada paltum, Intraoperative hemorrhage is a potential complication. Because of the rich blood supply to the palate, perdarahan yang berarti mengharukan untuk dilakukannya transfuse. Hal ini bisa berbahaya pada bayi, yakni pada meraka yang total volume darahnya rendah. Penilaian preoperative dari jumlah hemoglobin dan hitung trombosit sangat penting. Injeksi epinefrin sebelum di lakukan insisi dan penggunaa intraoperatif dari oxymetazoline hydrochloride capat mengurangi kehilangan darah yang bisa

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 20

terjadi. Untuk menjaga dari kehilangan darah post operatif, area palatum yang mengandung mucosa seharusnya diberikan avitene atau agen hemostatik lainnya. c. Fistel palatum Fistel palatum bisa timbul sebagai komplikasi pada periode segera setelah dilakukan operasi, atau hal tersebut dapat menjadi permasalahan yang tertunda. Suatu fistel pada palatum dapat timbul dimanapun sepanjang sisi cleft. Insidennya telah dilapornya cukup tinggi yakni sebanyak 34%, dan berat-ringannya cleft telah dikemukanan bahwa hal tersebut berhubungan dengan resiko timbulnya fistula. Fistel cleft palate post operatif bisa ditangani dengan dua cara. Pada pasien yang tanpa disertai dengan gejala, prosthesis gigi bisa digunakan untuk menutup defek yang ada dengan hasil yang baik. Pasien dengan gejala diharuskan untuk terapi pembedahan. Sedikitnya supply darah, terutama supply ke anterior merupakan alasan utama gagalnya penutupan dari fistula. Oleh karena itu, penutupan fistula anterior maupun posterior yang persisten seharusnya di coba tidak lebih dari 6-12 bulan setelah operasi, ketika supply darah telah memiliki kesempatan untuk mengstabilkan dirinya. Saat ini, banyak centre menunggu sampai pasien menjadi lebih tua (paling tidak 10 tahun) sebelum mencoba untuk memperbaiki fistula. Jika metode penutupan sederhana gagal, flap jaringan seperti flap lidah anterior bisa dibutuhkan untuk melakukan penutupan. d. Midface abnormalities Penanganan Cleft palate pada beberapa instansi telah fokus pada intervensi pembedahan terlebih dahulu. Salah satu efek negatifnya adalah retriksi dari pertumbuhan maksilla pada beberapa persen pasien. Palatum yang diperbaiki pada usia dini bisa menyebabkan berkurangnya demensi anterior dan posteriornya, yakni penyempitan batang gigi, atau tingginya yang abnormal. Kontrofersi yang cukup besar ada pada topik ini karena penyebab dari hipoplasia, apakah hal tersebut merupakan perbaikan ataupun efek dari cleft tersebut pada pertumbuhan primer dan sekunder pada wajah, ini tidak jelas. Sebanyak 25% pasien dengan cleft palate unilateral yang telah dilakukan perbaikan bisa membutuhkan bedah orthognathic. LeFort I osteotomies dapat digunakan untuk memperbaiki hipoplasia midface yang menghasilkan suatu maloklusi dan deformitas dagu.3

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 21

e. Wound expansion Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. Bila hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan, dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah. f. Wound infection Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam. g. Malposisi Premaksilar Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang dapat terjadi setelah operasi. h. Whistle deformity Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis. i. Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 22

H.Prognosis
Kelainan labiopalatoschisis merupakan kelainan bawaan yang dapat dimodifikasi/ disembuhkan. Kebanyakan anak yang lahir dengan kondisi ini melakukan operasi saat usia masih dini, dan hal ini sangat memperbaiki penampilan wajah secara signifikan.Dengan adanya teknik pembedahan yang makin berkembang, 80% anak dengan labiopalatoschisis yang telah ditatalaksana mempunyai perkembangan kemampuan bicara yang baik. Terapi bicara yang berkesinambungan menunjukkan hasil peningkatan yang baik pada masalah-masalah berbicara pada anak labiopalatoschisis.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 23

BAB III KESIMPULAN

Labiopalatoshizis adalah Suatu kelainan kongenital dimana keadaan terbukanya bibir dan langit langit rongga mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan bibir dan langit-langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa kehamilan.bibir sumbing dengan atau tanpa celah pada langit-langit, merupakan kelainan kongenital yang paling umum pada kepala dan leher di dunia. Penelitian epidemiologi untuk pencegahan terjadinya bibir sumbing masih sedikit namun teknik bedah untuk mengobatinya banyak dilakukan.Sumbing memiliki frekuensi yang berbeda-beda pada berbagai budaya dan ras sertanegara. Diperkirakan 45% dari populasi adalah non-Kaukasia.Fogh Andersen di Denmark melaporkan kasus bibir sumbing dan celah langit-langit 1,47/1000 kelahiran hidup. Hasil yang hampir sama juga dilaporkan oleh Woolf dan Broadbent di Amerika Serikat serta Wilson untuk daerah Inggris. Neel menemukan insiden 2,1/1000 penduduk di Jepang. Penyebabnya terjadinya bibir sumbing ialah multifaktorial, seperti genetik, nutrisi, lingkungan, bahkan sosial ekonomi. Jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000 kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara pasti.

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 24

DAFTAR PUSTAKA
1.Converse JM, hogan VM, McCarthy JG.Cleft Lip And Palate, Introduction.Dalam: Reconstructive Plastic Surgery, ed. 11, vol. 4. Philadelphia: WBSaunders
2.Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama

3.Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Sumbing Bibir dan Langitan. Dalam :Kapita Selekta. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.FK UI. 2005. 4. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jilid 2. Jakarta :EGC.2005

Labiopalatoschisis I Oleh : Dessy Tri Natalia, S.Ked. 25