Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pencapaian seseorang dalam kehidupannya sering kali dihubungkan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki. Ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi mereka akan lebih diakui dari pada yang tidak berpendidikan.Akan tetapi, didalam pengakuan dari pendidikan yang seseorang miliki, hal tersebut masih dibedakan lagi sejauh mana keberhasilan dari pendidikan yang telah mereka tempuh. Sejauh mana hasil yang mereka capai dan kemampuan apa saja yang telah mereka kuasai. Hasil pendidikan seseorang ini sering dikatakan sebagai pandai atau tidaknya seseorang tersebut. Sedangkan pandai tersebut sering dihubungkan dengan otak seseorang. Otak disini bukanlah tentang kuantitas otak tersebut, akan tetapi tentang kualitas yang ada didalam otak. Kualitas otak seseorang bisa dikaitkan dengan intelegensi atau tingkat kecerdasan seseorang. Seperti halnya bahwa individu itu memilIki karakteristik yang berbeda antara yang satu dan lainnya, intelegensi antara orang yang satu dan lainnya pun tidaklah sama, sekali pun mereka adalah kembar identik. Intelegnsi ini adalah sesuatu yang unik dan rumit. Kebanyakan orang beranggapan bahwa jika seseorang tidak memiliki intelegensi yang tinggi maka tidak akan berhasil, dan dari pemikiran tersebut banyak orang tua yang resah. Hampir bisa dikatakan jika semua orang tua menginginkan anak yang memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga ia akan mampu memilki kesuksesan. Inteligensi itu sendiri ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.Dari pernyataan tersebut masih terdapat hal yang tidak bisa dipahami dengan mudah. Hubungan

antara intelegensi dan pencapaian seseorang tidak bisa hanya dengan definisi tersebut. Untuk itu, dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikologi Pendidikan, maka pada makalah ini akan dibahas tentang Hubungan Antara Intelegensi dan Tingkat Pencapaian Prestasi Siswa.

B. Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang di atas, masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Apa yang dimaksud dengan intelegensi? 2. Bagaimana suatu perilaku bisa dikatakan intelegen? 3. Aktivitas apa yang terjadi pada tingkat Intelektual yang tinggi? 4. Bagaimana hubungan antara kapasitas dan intelegensi? 5. Teori-teori apa saja yang dapat menjelaskan tentang intelegensi? 6. Apa saja pembagian intelegensi? 7. Bagaimana implikasi antara intelegnsi dan pendidikan? 8. Apa itu tes intelegensi? 9. Apa saja kegunaan dari tes intelegensi?

C. Tujuan Pembahasan Sesuai dengan masalah di atas, penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menginformasikan dan menjelaskan hubungan intelegensi dengan tingkat pencapaian prestasi siswa. Secara khusus, makalah ini berusaha menginformasikan dan menjelaskan 1. Apa yang dimaksud dengan intelegensi, 2. Bagaimana suatu perilaku bisa dikatakan intelegen, 3. Aktivitas apa yang terjadi pada tingkat Intelektual yang tinggi, 4. Bagaimana hubungan antara kapasitas dan intelegensi, 5. Teori-teori apa saja yang dapat menjelaskan tentang intelegensi, 6. Apa saja pembagian intelegensi,

7. Bagaimana implikasi antara intelegnsi dan pendidikan, 8. Apa itu tes intelegensi, 9. Apa saja kegunaan dari tes intelegensi, 10. Apa itu prestasi belajar, 11. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, dan 12. Bagaimana kaitan antara intelegensi dan prestasi belajar.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Intelegensi Inteligensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir,yang memungkinkan seorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut : Inteligensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru,dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. William stern berpendapat bahwa inteligensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan.Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.Prof.Waterink seorang Mahaguru Amsterdam,menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa inteligensi dapat diperbaiki atau dilatih. Belajar berfikir hanya diartikannya bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik. Dalam pada itu pendapat-pendapat baru membuktikan bahwa inteligensi pada anak-anak yang lemah pikiran dapat juga dididik dengan cara yang lebih tepat.Juga kenyataan membuktikan bahwa daya pikir anakanak yang telah mendapat didikan dari sekolah,menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah. Dari batasan yang dikemukakan di atas,dapat kita ketahui bahwa : 1. Inteligensi itu ialah faktor total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya(ingatan,fantasi,perasaan,perhatian,minat,dan sebagainya turut mempengaruhi inteligensi seseorang).

2. Kita hanya dapat mengetahui inteligensi, dari tingkah laku atau perbutannya yang tampak.Intelegensi hanya dapat kitaketahui dengan cara tidak langsung melalui kelakuan inteligensinya. 3. Bagi suatu perbuatan inteligensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang pentng.Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan. 4. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru,dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.

B. Tingkah Laku yang Intelegen Sudah jelas agaknya sekarang bahwa beberapa aspek dari tingkah laku manusia tidak dapat dikatakn intelegen. Kalau demikian apakah tanda-tanda dari tingkah laku yang intelegen? Oleh karena itu istilah intelegen itu dapat melingkupi berbagai aktivitas maka telah timbulah kekusutan yang besar juga dalampenggunaan kata-kata intelegensi, intelek, pemikir (reasioning), berpikir (thinking), rasional dan ketrampilan (skliled). 1. Intelegensi sebagai suatu konsep Intelegensi bukan substansi. Sebenarnya banyak kekusutan yang akan dapat kita hindari apabila kita mengerti, bahwa intelegensi adalah suatu kata yang menyetak suatu konsep, dan bukan data yang menyatakan suatu substansi benda, atau suatu kekuatan. Apakah konsep itu? Konsep adalah penegrtian umum yang diabstraksikan dari pengertian-pengertian khusus yang terdapat dalam situasi-situasi khusus. Misalnya bila seseorang bermain dengan jujur maka kita akan berkata bahwa ia seorang pemain yang jujur. Dan apabila orang tadi membayar segala hutangnya, dia akan dikatakan jujur pula. Apabila ia tidak pernah menjiplak dalam ujian-ujian atau ulangan-ulangan, diapun jujur pula. Dan apabila ia seorang saksi yang selalu memberikan keterangan yang

benar, dan tidak berbohong, dia dikatakan seorang saksi yang jujur dan begitu sebaliknya. Dari semua keadaan tadi dan dari keadaan-keadaan lain yang serupa dengan keadaan-keadaan diatas tadi dapatlah sekarang mengabstraksikan satu kualitas penting yang terdapat dalam segala keadaan yang telah kita bicarakan tadi. Dan kemudian untuk mudahnya dalam bahasa, kualitas yang kita dapati dalam segala keadaan yang kita namakan kejujuran, ini adalah suatu pengertian umum. Sudah jelas kiranya, bahwa kejujuran bukan suatu benda, kekuatan, atau subtansi. Dan bukan pula suatu ciri yang harus selalu ada atau tidak ada pada seseorang. Dengan perkataan lain, seorang mungkin jujur dalam suatu tindakannya, sedangkan dalam tindakannya yang lain ia tidak jujur. Begitulah pula soalnya dengan intelegensi. Seseorang mungkin memperlihatkan intelegensi dalam suatu perbuatan yang memerlukan intelegensi, dan tidak demikian halnya dalam perbuatan yang lain. Kalau seorang petani dapat mengerjakan sawahnya dengan baik, akan kita katakan bahwa ia adalah seorang petani yang intelegen. Apabila seseorang dalam pergaulannya dengan orang lain selalu memperlihatkan kecakapan bergaul yang tinggi, akan kita katakan, bahwa ia adalah orang yang intelegen dalam soal-soal sosial. Orang lain yang cekatan dalam soal-soal mekanis kita katakan orang yang yang mempunyai intelegensi mekanis. Dan apabila ia pandai pula dalam ilmu pasti yang tinggi, akan kita katakan, bahwa ia mempunyai intelegensi abstrak. Dan begitulah seterusnya. Dari keadaan-keadaan semacam ini dapatlah kita sekarang menarik suatu pengertian umum yang terdapat dalam segala keadaan tadi, dan kita namakan pengertian umum tadi intelegansi. Jelas kiranya, bahwa intelegensipun bukanlah suatu substansi, suatu benda, suatu daya, suatu kekuatan ataupun suatu ciri. Jadi apakah intelegensi itu? Intelegensi adalah kebaikan dari perbuatan sebagai yang ternyata dalam suatu aktivitas yang efesien. Dan karena perbuatan-perbuatan yang kita

namakan baik itu dapat terjadi dalam berbagai tingkat kebaikan, maka intelgensi kita pun dalam beberapa tingkat pula. Bilamanakah suatu aktivitas itu dapat kita namakan efesien? Baiklah kita ketahui lebih dahulu, bahwa aktivitas disini harus kita fahamkan dalam arti luas, yang dapat meliputi segala macam bentuk perbuatan atau sambutan baik psikis maupun fisik. Suatu aktivitas dapat kita katakan efesien apabila aktivitas tadi dilakukan dengan cepat, mudah serta adekwat. Faktor kecepatan yaitu dalam menyambut suatu perangsang, tidak dapat diabaikan dalam mengira-ngira intelegensi seseorang. Kemudian melakukan suatu perbuatan yang dalam psikologi lazim disebut fasilitas harus kita anggap sebagai faktor intelegesi yang penting pula. Anak yang pandai akan dapat melakukan pekerjaannya dengan kecepatan serta fasilitas yang tinggi, yaitu ia akan dapat melakukannya dengan mudah. Sebaliknya anak yang bodoh akan lebih lambat dan menjumpai kesukaran yang lebih besar dalam melakukan pekerjannya, dikatakan dengan cara lain, anak yang bodoh akan melakukan pekerjaannya dengan kecepatan serta fasilitas yang rendah atau kecil. Faktor intelegensi yang ketiga ialah keadekwatan atau tingkat kelengkapan kesesuaian atau kecukupan dari suatu aktivtas. Jadi apabila kita katakan bahwa seorang anak lebih intelegen dari anak yang lain, dengan ini kita mengatakan bahwa anak pertama tadi dapat menyelesaiakn pekerjaanya dengan kecepatan, fasilitas, dan keadekwatan yang lebih besar atau lebih tinggi dari anak yang kedua. Jadi tidak sekali-kali ucapan kita tadi berarti bahwa anak yang kita katakan lebih panda tadi memiliki suatu ciri, kekuatan, atau daya tertentu, yang merupakan suatu substansi tersendiri. Untuk mudahnya kita pergunakan kemudian kata intelegensi dan segala bentuk jabarannya kalau kita membicarakan kebaikan psikologis umum seseorang yang terdapat pada berbagai tingkat perkembangan psikisnya. 2. Bentuk rendah dan bentuk tinggi dari tingkah laku yang intelegen.

Dalam usaha kita untuk membedakan bentuk-bentuk tingkah laku haruslah kita akui, bahwa sangat sukar untuk mengadakan klasifikasi yang tegas dan jelas batas-batasnya. Untuk tujuan kita sekarang ini perbedaan antara tingkat rendah dan tingkat tinggi dari perbuatan intelektual akan kita adakan berdasarkan jenis persoalan yang disnggung dan jauh dekatnya letak perbuatan itu sebelum bentuk-bentuk tingkah laku yang tinggi dicapai, dan bentuk-bentuk tinggi tidak pernah akan terlepas sama sekali dari bentuk-bentuk rendah, dan akan memerlukan sebagai pangkalan atau landasan. Meskipun demikian dengan memepergunakan simbol-simbol (matematis atau verbal) dapatlah dilakukan operasi-operasi psikis dalam bentuk-bentuk yang umum dan tidak bersifat khusus sama sekali, tetapi cocok untuk setiap kejadian khusus. 3. Aktivitas pada tingkat intelektual rendah Pada tingkat intelektual yang rendah, dapat meiliputi hampir seluruh kegiatan manusia dan binatang di atas reaksi-reaksi dasar yang sederhana, persoalan yang disinggung aktivitas selalu bersifat konkrit, misalnya seekor kera mungkin sanggup menyusun tiga buah peti menjadi suatu landasan untuk mencapai makanan, tetapi situasi semacam ini hanya mengenal objek-objek dan hubungan-hubungan yang langsung dapat ditangkap oleh alat-alat darinya. Apa yang dilakukan oleh kera tadi ialah mempergunakan alat-alat dalam situasi yang langsung serta perseptual dengan jalan mengubah susunan lingkungan sensoris. Ini hanya soal apa dan bagaimana semata-mata. Tingkah laku yang serupa itu akan dapat dilihat pula pada seseorang anak yang sedang berusaha untuk memperoleh kembali bolanya yang tersangkut pada dahan-dahan sebatang pohon, mungkin ia akan melihat disekelilingnya dan mencari salah satu untuk memperoleh kembai bolanya tadi. Mungkin pula ia akan melempar bolanya tadi dengan sebuah benda. Situasisituasi ini hanya dapat melahirkan tingkah laku dari golongan rendah dalam suatu situasi sensoris.

Cara lain untuk melukiskan aktivitas psikis yang rendah ialah dengan menggemabrkan aktivitas semacam itu sebagai aktivitas yang bertujuan menemukan, apakah yang harus dilakukan dalam suatu situasi. Untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini dapat kita coba cara ini atau cara itu, dan kemudian kita perhatikan hasilnya. Kalau hasil percobaan-percobaan tadi tidak memuaskan kita cobalah sesuatu yang lain lagi. Murid-murid yang mendapatkan pelajaran berhitung dengan cara yang kurang benar mungkin sekali akan beusaha untuk menyelesaikan soal-soal berhitung dengan cara yang dilukiskan diatas tadi. Memecahkan masalah bukan hanya terdiri dari perbuatan memeriksa, apakah yang harus dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Dan bukan pula hanya terdiri dari perbuatan menemukan cara menyelesaikan masalah itu. Agar dapat dikatakan rasional seseorang harus memahami mengapa operasi-operasi tertentu berdasarkan prinsip-prinsip matematis harus dilakukan. Tingkah laku intelektual diperlukan pula untuk mengikuti peraturanperaturan dan perskripsi-perskripsi atau untuk mempergunakan formulaformula. Tetapi dalam praktek biasanya orang melakukan perbuatan-perbuatan ini pada tingkat yang rendah, yang hanya menyinggung pertanyaan : Apakah yang akan saya lakukan selanjutnya? Calon-calon guru tidak boleh berharap bahwa mereka disekolah-sekolah guru akan menemukan segala sesuatu yang harus diperbuat dalam setiap situasi kelas yang akan mereka jumpai kelak. Sedangkan dalam soal-soal kecekatanpun diperlukan pengetahuan yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripadapengetahuan tentang apa dan bagaimana. Termasuk kedalam golongan aktivitas-aktivitas psikis yang rendah ialah kecekatan-kecekatan sederhana, bentuk-bentuk tertentu dari tingkah laku emosional, mengingat-ingat, pengalaman sensoris, persepsi, pembentukan kebiasaan , aktivitas bahasa sederhanadan memperoleh penegtahuan melalui asosiasi-asosiasi buatan. Dalam usaha seperti ini hanya dibutuhkan prosedur atau pemahaman yang tidak terlampau banyak.

C. Aktifitas Pada Tingkat Intelektual yang Tinggi Aktivitas pada tingkat rasional timbul pada situasi-situasi yang mengandung proses-proses konseptual, dan khayal konstruktif. Disini persoalan bersifat tak langsung dan abstrak. Disini diperlukan ide-ide dan pengertian-pengertian dengan mempergunakan bermacam-macam simbolisme. Pada tingkat ini tingkah laku bersifat intelegensi dan rasional. Tingkah laku semacam ini menyinggung soal mengapa dan berlangsung menurut prinsipprinsip tertentu. Tingkah laku semacam ini ditandai oleh penggunaan simbolisme, dan oleh letak yang jauh dari daerah pengalaman yang lansung. Kita tak dapat sadari atau amati jarak dunia ke bulan, tetapi jarak ini telah dihitung dengan mempergunakan sistem bilangan serta ketentuan-ketentuan dari ilmu pasti tinggi. Begitu pula dipergunakan kosep-konsep seperti segitiga, derajat dan bahasa yang simbolis. Seorang anak dengan segera menguasai bahasa yang sederhana sebagai alat untuk menyatakan keinginan-keinginannya. Tetapi untuk menguasai bahasa sampai kepada tingkat yang memungkinkan organisasi serta integrasi dari pemikiran konstruktif pada tingkat rasioanl diperlukan pengalaman bertahun-tahun. Bintang tidak mungkin bertindak pada tingkat ini, mungkin karena mereka tidak sanggup mempergunakan alat-alat intelektual yng diperlukan pada tingkat rasional. Alat-alat intelektual seperti konsep-konsep matematis dan simbolis ini memungkinkan kita, manusia mengambil langkah-langkah yang langsung membentuk semacam kesadaran kedua, suatu hal yang merupakan kesukaran yang tak teratasi oleh binatang. Binatang barangkali hanya dapat mengenal kejadian sebagai efek-efek atau perubahan-perubahan, tetapi mereka tak dapat menangkap kejadian-kejadian itu sebagai peristiwa-peristiwa yang saling diperhubungkan oleh hubungan-hubungan sebab-akibat. Unsur waktu pun dapat merupakan faktor yang sangat penting dalam perbedaan antara tingkah laku manusia dengan binatang, barangkali lebih penting dari pada yang tidak

sadar. Binatang itu pada umumnya berkecenderungan untuk hidup dalam waktu sekarang saja dan tidak sanggup memecahkan masalah-masalah baik yang terjadi dalam masa yanglampau, maupun dalam masa yang akan datang. Disini sekali lagi kita menghadapi masalah-masalah yang terletak dalam daerah konsep dan keabstrakan. 1. Soal type-type Setengah orang dapat menerima anggapan yang mengatakan bahwa ada bermacam-macam type integensi. Salah satu klasifikasi yan populer ialah klasifikasi yang menerima adanya tiga type intelegensi, ialah intelegensisosial, intelegensi mekanis dan integensi abtrak. Sudah jelas bahwa seseorang dalam salah satu lapangan yang kita sebutkan diatas tadi mungkin memperlihatakan kebaikan perbuatan yang lebih tinggi daripada dalam lapangan yang lain. Kesukaran yang dihadapi oleh klasifikasi rupanya terletak dalam praduga, bahwa hereditas hanya

memeberikan kapasitas yang tinggi dan kompetensi untuk bertindak dalam salah satu lapangan seluruhnya. Dalam pada itu jelaslah kiranya bahwa fungsifungsi psikis yang tinggi saling berkolerasi. Hal ini berarti bahwa seseorang yang memperlihatkan intelegensi sosial yang tinggi dapat pula memiliki intelegensi yang tinggi dalam lapangan keabstrakan, asal ia cukup besar mintanya untuk hal-hal yang abstrak itu. Perkataan-perkataan sosial, mekanis, dan abstrak istilah-istilah yang harus bersifat eksklusif, yaitu istilah-istilah yang harus tidak mempunyai hubungan sama sekali. Sudah pasti bahwa ada orang-orang yang dapat dikatakan mempunyai intelegensi paling sedikit dalam dua lapangan, dan bahkan mungkin pula dalam seluruh tiga lapangan. Daripada mementingkan type-type, lebih baik kiranya kalau kita mengarahkan perhatian kita kembali kepada klasifikasi kita, dan menjelakan sekali lagi bahwa tiap orang yang dapat dikatakan normal atau diatas normal mungkin pula dalam salah satu dari ketiga lapangan tadi hanya sanggup

bertindak pada tingkatan yang rendah saja, hal ini bergantung kepada batasbatas kesedihannya untuk melakukan latihan bagi tindakan-tindakan itu. Kita semua memiliki potensialitas-potensialitas laten yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada yang dapat kita harapkan akanberkembang. Hanya dalam waktu-waktu yang sangat menekan, krisis, atau waktu-waktu yang mendesak kita betul-betul mengerahkan kapasitas kita untuk mempergunakan prosesproses intelektual kita yang tinggi.

D. Kapasitas dan Intelegensi Dalam pembicaranpembicaran kita yang sudah lalu, sudah disarankan dengan jelas bahwa intelegensi akan terjadi dengan melalui perhubungan atau perkembangan yang cukup baik. Dalam pada itu tak boleh kita lupakan pula bahwa manusia memang mewarisi kapasitas untuk menjadi intelegan, yang batasannya pada tiap-tiap orang berbeda. Warisan memberikan kapasitas pendidikan (termasuk disini lingkungan) memperkembangkan kapasitas itu yang diwarisi. Maka dikatakanlah bahwa seseorang menjadi manusia yang intelegen, suatu perkataan yang terutama berarti mengetahui, tahu bagimana, atau memahami. Banyaklah kekusutan yang dapat dihindari kalau para siswa mau mempergunakan kata-kata seperti intelegensi, kapasitas dan abilitas dengan tepat dan perbedaan-perbedaan yang cukup jelas. Kenyataan bahwa seseorang karena warisan memilki suatu kapasitas tidak berarti bahwa orang tadi pasti akan dapat melaksanakan kapasitasnya tadi dalam suatu kecakapan yang aktual. Sebaliknya seorang dengan kapasitas yang terbatas mungkin dapat mempergunakan kapasitasnya tadi sedemikian hingga dalam perbuatan yang nyata ia melebihi orang lain yang mungkin memiliki kapasitas yang tinggi. Hal ini dapat kita lukiskan dengan gambar dibawah ini :

Kolom seluruhnya menggambarkan kapasitas, sedangakan bagian berwarna biru menunjukan kecakapan sebenarnya tercapai.

Murid B mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada murid A, dapat kita lihat dari perbadaan tinggi kolom. Tetapi A memiliki kecakapan sebenarnya yang lebih tinggi daripada B, dapat kita lihat dari kolom berwarna biru. Ini disebabkan karena A mengalami perkembangan yang lebih baik daripada B. Jadi hasil terakhir ialah bahwa tingkah laku A lebih baik daripada tingkah laku B. Jadi jelas agaknya bahwa kita dapat membuat salah besar dalam usaha kita mengetahui kapasitas dasar seseorang yang perkembangan intelektualnya oleh salah satu sebab telah terganggu. Kesalahan semacam ini banyak dilakukan orang dalam pengira-ngiraan perkembangan yang dipercepat (accelerated) atau diperlambat (retarted) dan pada umumnya terjadi terhadap anak-anak yang lingkungan keluarganya lebih tinggi atau lebih rendah dari keluarga biasa.Pembicaraan selanjutnya mengenai soal ini akan terdapat dalam hubungan lain. 1. Manisfestasi dari intelegensi yang tinggi Masalah yang kita hadapi disini adalah mengetahui cara-cara memanisfestasi atau pernyataan intelegensi seseorang. Judul bagian ini sebetulnya dapat pula disebut faktor-faktor intelegensi atau unsusr-unsur dasar intelegansi. Keberatan-keberatan terhadap istilah-istilah semacam ini ialah bahwa istilah tadi dapat menimbulkan anggapan seolah-olah kehidupan fisis terdiri dari kesatuan-kesatuan psikis yang berdiri sendiri-sendiri yaitu yang satu terlepas dari yang lain. Dalam ilmu hitung kita dapat menguraikan faktor 24 atas faktor 6 dan 4, yang masing-masing mempunyai eksistensi dan arti dalam hubungannya dengan suatu sistem bilangan.

Meskipun mengetahui unsur-unsur intelegensi adalah suatu hal yang sangat menarik, namun rasanya tidak akan kita mampu membuat analisa faktor-faktor seperti dalam ilmu hitung. Ada juga beberapa usaha dalam hal ini yang banyak sedikitnya dapat kita katakan berhasil, seperti yang akan kita ketahui kelak, tetapi usaha-usaha itu semata-mata dilakukan untuk kepentingan analisa. Kalaupun kita dapat mengetahui faktor-faktor intelegensi itu maka kita pun dapat mengetahui faktor-faktor tadi dan dapat memberikan kepada kita gambaran yang benar mengenai kehidupan psikis seperlunya. Dengan mudah kita akan dapat mengetahui unsur-unsur kimia dari protoplasma. Kalau demikian dengan jalan apakah kita dapat mengamati tingkah laku yang intelegen? Untuk mudahnya berbagai manisfestasi dari intelegensi yang akan dibicarakan dalam halaman-halaman berikut , dapat dianggap sebagai unsur , dengan catatan bahwa yang kita maksudkan ialah kegiatan-kegiatan atau kesatuan-kesatuan yang terpisah-pisah dari seseorang . 2. Fasilitas dalam penggunaan bilangan Bilangan-bilangan yang biasa kita gunakan termasuk dalam suatu sistem, yang lazim disebut sistem bilangan Hindu-Arab. Rupanya sistem bilangan ini telah disusun sebagai alat intelektual dalam perdagangan, perusahaan komersial, dan dalam kerjasama sosial pada umumnya. Sebuah bilangan bukanlah suatu fakta yang konkrit, bilangan adalah suatu abstraksi. Suatu bilangan tidak mempunyai eksistensi yang berdiri sendiri seluruhnya. Bilangan 7 misalnya, tidak mempunyai arti sama sekali dipisahkan dari posisinya dalam sistem bilangan. Rupanya telah terdapat suatu persetujuan umum bahwa fasilitas dalam bilangan, atau suatu kelancaran mempergunakan konsep kuantitas, adalah suatu manisfestasi dari intelegensi yang tinggi. Sistem bilangan kita adalah suatu sistem desimal, didalam sistem ini bilangan mendapat nilai tempat (placevalues). Bilangan 0 adalah pemegang tempat (placeholder). Bilangan-bilangan mempunyai nilai numerik

(numericalvalue) yang tetap, yang akan berganda sepuluh kali apabila mendapat angka 0 dibelakangnya. Operasi-operasi yang sederhana seperti penambahan, pengalian, dan pembagian sebenarnya hanyalah penyusunan kembali dari bilangan-bilangan pada sistem bilangan. Fasilitas dalam soal bilangan berarti penguasaan yang sempurna dari sitem bilangan itu sebagai suatu sistem, kecepatan dalam mengatur bilanganbilangan dalam perhitungan , penghalusan dari konsep-konsep bilangan, pembedaan antara bilangan-bilangan ordinal dan numeral, dan bentuk-bentuk khayal tertentu yang berhubungan dengan teori bilangan. Orang-orang dengan intelegensi rendah akan menjumpai kesukaran-kesukaran dalam melakuakn kegiatan semacam ini. 3. Efesiensi dalam bahasa Abilitas verbal, atau fasilitas dalam penggunaan kata-kata, adalah suatu petunjuk yang jelas bagi adanya intelegensi. Selama tahun-tahun sekolah perkembangan psikis berjalan sejajar dengan perkembangan bahasa. Abailitas ini dapat dilihat dalam hal-hal seperti pembendaharaan kata-kata, pembedaan kata-kata lawan, abilitas mengisi kalimat-kalimat yang tidak lengkap dengan kata-kata yang tepat,menyelesaikan cerita, penafsiran (interpretasi) pepatahpepatah, membentuk analogi-analogi, mengetahui humor dalam karangankarangan dan mengikuti petunjuk-petunjuk (instruksi) tertulis. Aktivitasaktivitas ini lebih tinggi tingkatannya dari apa yang diperlukan dalam percakapan yang sederhana, yang semata-mata hanya memeperbincangkan objek-objek dan kegiatan-kegiatan. Apabila dalam suatu percakapan harus dipergunakan konsep-konsep yang tinggi, bahasa kiasan dan hubunganhubungan yang kompleks, orang yang kurang pandai akan mendapat kesukaran yang besar untuk mengikuti percakapan semacam ini. Pada masa dewasa barangkali tanda yang paling meyakinkan dari adanya intelegensi ialah abilitas mengorganisasi ide-ide dalam suatu jalan pikiran yang tetap dan berurutan secara terautur dalam mempertahankan suatu

pendapat atau pandangan. Suatu contoh mengenai hal ini adalah perbuatan berdebat. Suatu pendapat atau usul dipertahankan atau ditolak dan bukti-bukti pun dikumpulkan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Tingkah laku semacam ini menghendaki efisiensi bahasa yang setinggi-tingginya oleh karena kata-katalah yang harus kita pergunakan untuk merumuskan konsepkonsep itu. 4. Kecepatan dalam pengamatan Unsur waktu harus selalu diperhatikan dalam setiap analisa intelegensi. Kecepatan perseptual adalah kecepatan yang dipergunakan untuk memahami atau menyadari sesuatu objek, situasi atau suatu hubungan. Karena pengamatan disusun melalui pengalaman dan pelajaran, maka pada dasarnya adalah mungkin untuk memepercepat memilih dari kata-kata seperti bal ,bel, bal, bal satu kata yang berbeda dari kata-kata yang lain adalah suatu tes untuk mengetahui kesiapan belajar membaca (redaing readiness) pada anak-anak yang akan masuk sekolah dasar. Yang penting pula bagi pekerjaan membaca yang baik ialah pengamatan yang cepat dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan . Contoh-contoh lain mengenai pengamatan ialah pembedaan bermacammacam berat, jarak, bentuk, atau susunan, dan nada-nada musik. Sudah jelas agaknya, bahwa dalam kehidupan praktis kita abilitas ini penting, karena kecepatan itu harus kita pergunakan dalam memperhatikan sinyal, mengenali tanda-tanda lalu lintas dan mengira-ngira jarak dan kecepatan kalau kita sedang mengemudikan mobil. 5. Fasilitas dalam mengingat-ingat Fasilitas dalam mengingat-ingat biasanya terdiri dari abilitas

mengingat-ingat nama, bilangan, kata-kata, dan ide-ide. Harus kita perhatikan bahwa jumlah isi ingatan yang dapat diingat-ingat bergantung pada efesiensi aktivitas belajar mula-mula. Bahwa kita sering mendapat kesukaran dalam mengingat-ingat kembali nama-nama tertentu, hal ini disebabkan karena kita

mula-mula tidak mempelajari nama-nama tertentu itu dengan baik. Dan hal inipun berlaku pula terhadap isi-isi ingatan yang lain. Tetapi sebenarnya fisilitas-fasilitas dalam mengingat-ingat tidak hanya terdiri dari apa yang telah disarankan diatas. Mengapakah saksi-saksi dari suatu kejahatan sering memberikan cerita yang berbeda-beda? Apakah ingatan mereka lemah. Apakah mereka dahulu tidak mengamati kejadian itu dengan baik-baik? Ataukah mereka barangkali tidak sanggup menangkap kejadian itu seluruhnya? Suatu test ingatan yang telah terbukti kebaikannya terdiri dari suatu cerita yang dibacakan oleh pen-test dan disusul oleh pertanyanpertanyaan yang harus dijawab oleh murid. Murid yang bodoh tidak akan dapat memberi fakta fakta yang terpenting dari cerita-cerita itu, atau mungkin hanya akan dapat memahami bagian-bagian tertentu saja dari cerita itu secara terpisah-pisah. Anak yang terpandai akan mempunyai gambaran yang jelas dari cerita itu dan akan dapat menangkap cerita itu seluruhnya. Dan kemudian sebagian besar dari pekerjaan ingatan yang harus dilakukannya mengenai cerita tadi ialah merekonstruksikan detail-detail dari pola umum yang telah disusunya secara logis ketika cerita dibacakan kepadanya. Jadi jelaslah kiranya bahwa fasilitas dalam mengingat-ingat kadang-kadang lebih daripada pengingatan kembali secara verbal saja. Kalau dipergunakan bahan-bahan yang tidak mempunyai arti sama sekali tentu saja persoalanya menjadi agak berlainan. Dalam hal ini diperlukan pengamatan yang harus dilakukan berulang-ulang untuk membentuk asosiasiasosiasi buatan mengenai kesatuan-kesatuan tertentu dari bahan yang harus diingat-ingat tadi, kalau suatu asosiasi logis dapat dibentuk, atau kalau bahannya dapat diorganisisasikan menjadi beberapa pola yang berarti akan terdapatlah kemungkinan yang lebih besar, bahwa bahan tadi akan dapat diingat-ingat secara efektif. Apabila hal semacam ini tidak dapat dilakukan, maka dapatlah disangsikan bahwa pekerjaan mengingat-ingat bahan-bahan yang tidak berarti tadi akan memerlukan suatu tingkah laku pada tingkat yang tinggi dengan kata-kata lain suatu test yang menghendaki tindakan pada tingkat

rendah semacam ini tidak akan dapat dipergunakan untuk membedakan seorang moron atau lemah ingatan yang pandai. 6. Fasilitas dalam memahami hubungan-hubungan Suatu ciri dari intelegensi yang tinggi ialah abilitas untuk menangkap hubungan antara unsur-unsur dalam suatu situasi, atau hubungan antara suatu situasi dengan situasi yang lain. Manisfestasi intelegensi ini mempunyai hubungan analogis yang sangat erat dengan apa yang dinamakan tilikan (insight). Orang-oramg yang memiliki tilikan tidak dilahirkan dengan abilitas istimewa itu. Orang yang bertilikan adalah orang yang dengan cepat dapat mengetahui aspek-aspek penting dari suatu situasi dalam hubungan logis, dan abilitas ini dapat diperkembangkan dalam setiap lapangan kegiatan, tilikan bukanlah suatu ciri istimewa yang khusus hanya dapat dipergunakan dalam suatu lapangan tertentu saja. Abilitas ini untuk menangkap hubungan-hubungan menghendaki sesuatu yang dapat disebut suatu daerah perseptual yang luas. Jadi diperlukan pemahaman terhadap situasi seluruhnya. Dalam suatu masalah tertulis, kondisikondisi dan bahan yang bermacam-macam tidak saja harus dipahami, tetapi juga harus diintregasikan untuk mendapatkan kesatuan arti. Suatu bagian dari masalah mungkin tidak akan mempunyai arti sama sekali kalau tidak dihubungkan dengan bagian masalah yang lain dan dengan masalah seluruhnya. Aspek lain abilitas menangkap hubungan-hubungan ini ialah hasil dari pemahaman terhadap hubungan-hubungan dalam rangkaian fakta-fakta atau keadaan-keadaan khusus. Sesuatu dalam setiap keadaan khusus berhubungan secara logis dengan sesuatu dalam keadaan-keadaan khusus yang lain, dan semua keadaan menunjukkan akan adanya suatu kebenaran umum. Jadi induksi adalah penyusunan generalisasi atau penarikan kesimpulan fakta-fakta. Atau induksi itu tidak lain daripada penemuan dari hubungan-hubungan yang tetap dan terdapat diantara fakta-fakta. Bila hubungun semacam ini akhirnya diakui

kebenarannya dan dirumuskan kedalam suatu persamaan matematis maka kita peroleh suatu hukum alam (natural law).

E. Khayal Dalam hubungan ini tidak diperbincangkan kesan-kesan ingatan yang sederhana, seperti mengingat-ingat bagaimana rupa seseorang, bagaimana perasaan kita pada kejadian tertentu, atau bagaimana bunyi sebuah bom yang sangat kuat. Khayal semacam ini tidak menyinggung operasi-operasi intelektual yang tinggi tingkatannya dan oleh karenanya tidak dapat dianggap sebagai suatu ciri pembedaan terhadap tingkah laku rasioanal. Khayal semacam ini tidak lain daripada reproduksi dari kesan-kesan yang dialami sebelumnya, dan pada dasarnya sama dengan ingatan verbal. Bentuk-bentuk khayal tertentu yang sangat berguna dalam pendidikan menunjukkan akan adanya intelegensi yang tinggi. Beberapa contoh dari khayal semacam ini ialah pengamatan ruang, orientasi temporal dan khayal konstruktif. Dalam ilmu bumi, astronomi dan aspek-aspek tertentu dari ilmu pasti adalah sangat penting untuk melakukan pengamatan ruang dan pengamatan hubungan ruang. Dalam sejarah dimana kerap kali timbuk hubungan-hubungan sebab-akibat, sangat dibutuhkan khayal temporal. Dalam pekerjaan para seniman, arsitek, penemu, jenderal angkatan perang, insinyur, dan produser film sangat dibutuhkan adanya suatu khayal konstruktif, atau pembuatan suatu rancangan, suatu pola kerja, atau suatu alat yang belum pernah ada sebelumnya. Aktivitas semacam ini adalah suatu manipulasi psikis yang termasuk kedalam daerah intelegensi tingkat tinggi.

F. Teori-Teori Intelegensi 1. Tekanan pada kuantitas

Setengah orang beranggapan bahwa intelegensi adalah semacam kumpulan atau jumlah aljabar dari berbagai-usaha belajar tertentu. Yakni kumpulan atau jumlah dari sambutan-sambutan tertentu atau respon-respo tertentu yang dapat dilakukan oleh seseorang. Teori ini menggunakan praduga, bahwa pada setiap aktivitas belajar akan terbentuk suatu hubungan perangsang sambutan (stimulus response bond) dalam urat syaraf, dan bahwa kumpulan dari hubungan-hubungan inilah yang menentukan intelegensi seseorang. Seorang yang bodoh sekali misalnya, yang lazim pula disebut moron, mungkin hanya memiliki 15.000 hubungan semacam ini, sedangkan seorang yang genius mungkin 100.000 dari hubungan-hubungan ini. Teori semacam ini

menganggap intelegensi sebagai sesuatu yang semata-mata bersifat kualitatif. Hal ini berarti, bahwa satu-satunya perbedaan tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang, atau antara tingkah laku seorang genius dengan tingkah laku seorang moron,adalah perbedaan jumh atau perbedaan kuantitas. Dengan mengikuti pandangan semacam ini, E.L. Thorndike

merumuskan teorinya tentang soal transfer dalam belajar sebagai transfer dari unsur-unsur yang identik. Kalau sebuah hubungan terbentuk dalam suatu aktivitas belajar, maka dalam situasi yang sama sifatnya, yang menghendaki suatu kesatuan tingkah laku dengan hubungan stimulus respon yang sama, maka hubungan yang lama dipergunakan dan usaha belajar yang baru itu akan menjadi lebih mudah. Dalam setiap teori tentang intelgensi, yang bersifat kuantitatif rupanya tidak terdapat pengertian semacam abilitas umum, kecuali apabila istilah ini ditafsirkan sebagai kumpulan atau jumlah dari unsur-unsur tingkah laku yang sangat spesifik yang dinyatakan oleh hubungan-hubungan stimulus respon. Dalam rangka teori semcam ini perbedaan antara manusia dengan binatang terletak dalam jumlah hasil-hasil usaha belajar yang mereka lakukan. Apabila terdapat juga perbadaan kualitatif, maka perbedaan semacam ini rupanya hanya timbul apabila suatu superioritas kwantitatif tertentu telah tercapai.

2. Tekanan pada kualitas Sangat bertentangan dengan teori yang bersifat kuantitatif tadi ialah yang menganggap intelegensi yang tinggi sebagai order atau golongan lain dari pada tingkah laku-tingkah laku rendah. Teori ini mementingkan sifat umum dari aktivitas belajar yang spesifik dan terisolir. Intelegensi adalah sesuatu yang bersifat kualitatif, dan bukan kumpulan atau kuantitas dari aktivitasaktivitas belajar. Pandangan umum semacam ini dipelopori oleh Charles II Juud. Dia berpendapat bahwa manusia,berkat cerebrumnya yang sangat adaptebel itu, sanggup melakuakn penyesuaian-penyesuaian tingkah laku yang sangat berarti, sedangkan binatang, oleh karena susunan urat syarafnya jauh kurang plastis, hanya sanggup melakukan penyesuaian-penyesuaian struktural pada tingkat yang rendah. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa manusia dapat mencapai kemjuan struktural, kerena ia berhasil menemukan alat-alat intelektual untuk menyelenggarakan kerjasama sosial. Antara lain disebutnya bahasa yang simbolis, manulis, membaca dan memeprgunakan bilangan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa manusia sanggup melakukan tingkah laku yang secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dilakukan binatang pada taraf yang lebih rendah, oleh karena binatang tidak sanggup mempergunakan simbolisme abstrak untuk menyelesaikan masalah-masalah atas dasar rasional. Perbedaan ini mungkin pula pada keadaan tertentu dikatakan kuantitatif, tetapi ciri-ciri pokok yang membadakan bersifat kuantitatif. Dalam rangka teori semacam ini orang berpendapat bahwa otak manusia secara kualitatif berbeda dari oatk binatang, meskipun pendapat ini belum lagi diterima oleh semua golongan. Soal lain yang juga masih diperbincangkan ialah dapat tidaknya binatang dibebani tanggung jawab moral, atau dapat dan tidaknya binatang mengenali nilai-nilai yang tinggi. Rupanya hingga sekarang masih belum cukup terdapat bukti-bukti yang jelas untuk menyelesaikan masalah ini.

3. Teori tentang daya-daya (kemampuan) Teori yang sangat terkenal dalam abad ke-18 dan ke-19 ialah teori yang menganggap initelegensi sebagai soal melatih atau mempertajam berbagai daya yang diduga ada pada diri manusia. Manusia dianggap memiliki kira-kira tiga puluh daya-daya khusus atau lebih seperti ingatan, perhatian, dan khayalan. Diduga pula pada waktu itu, bahwa setiap daya dapat dialtih dan diatur hanya dengan mengadakan latihanlatihan, tanpa memperhatikan bahan latihan (subjct matter) yang dipergunakan. Misalnya latihan dalam mengingat-ingat kata-kata Latin akan menyebabkan orang yang melakukan latihan-latihan itu lebih efisien,tidak hanya dalam mengingat-ingat kata-kata Latin tadi, tetapi juga dalam pekerjaan mengingatingat, termasuk pula mengingat-ingat nama dan wajah. Eksperimen yang lebih modern memperlihatkan ketidakbenaran pengertian tentang daya ini. Teori ini mengandung kecederungan untuk memecah-mecah jiwa, kecenderungan semacam ini mengandung implikasi bahwa suatu daya dapat dipergunakan pada suatu ketika, sedangkan daya-daya yang lain tidak dipergunakan, seolah-olah merupakan alat-alat yang disimpan dalam peti alat-alat saja. Kemauan rupanya diangap sebagai suatu daya ampuh (super faculty) yang dapat digerakkan terlepas dari pengaruh-pengaruh keadaan-keadaan yang ada di lingkungannya. Sememnjak Herbart dalam tahun-tahun pertama disekitar tahun 1830 menentang psikologi daya ini terlihat adanya keyakian yang makin kuat diantara para ahli psikologi bahwa kehidupan jiwa senantiasa berfungsi sebagai suatu kesatuan keseluruhan. Pada setiap perbuatan intelektual seluruh fungsi-fungsi individual turut bekerja. Setengah orang menyarankan bahwa usaha kearah analisis fakorfaktor yang banyak dilakukan pada waktu akhir-akhir ini pada dasarnya tidak lain adri usaha menghidupkan kembali psikologi daya ingat itu, dengan memprgunakan selimut baru, atau dengan mempergunakan istialh-istilah yang

baru. Barangkali para pendukung teori analisis faktor pada hakekatnya lebih memikirkan soal manisfestasi intelegensi daripada soal daya dar jiwa. 4. Teori dwi faktor dari Spearman Seorang ahli psikologi bangsa Inggris yang bernama Charles Spearman mentest secara teliti sejumlah individu,dengan mempergunakan tes-tes yang disusun untuk mengetahui abilitas seseorang dalam soal ilmu pasti, kesusastraan, mengenal kembali bermacam-macam bentuk dan sebagainya. Dalam mengolah hasil-hasil eksperimennya itu, Spearman mempergunakan prosedur statistik. Dalam rumusnya yang mula-mula Spearman melukiskan dua faktor dari intelegensi, yang pertama faktor umum (general), sedangakn yang kedua disebut faktor khusus (special). Faktor-faktor general dan special bersama-sama membentuk keseluruhan aktivitas seseorang , atau menentukan bakat sebagai yang terlihat pada seseorang. Faktor general ialah

pemebendaharaan umum seseorang mengenai energi jiwa atau cerebral. Jika suatu perbuatan tertentu dilakukan, seperti memperbedakan nada-nada misalnya maka efesiensi perbuatan ini bergantung kepada faktor diatas tadi, yaitu energi psikis umum dan abilias khusus untuk memperbedakan nada-nada itu. Teori Spearman tentang kedua faktor general dan spesific itu secara kasar dapat dijelaskan dengan menggunakan skema seperti dibawah ini : X G
S1

A
S2

A
S1 S2

s G Y

A A

Ilustrasi hubungan general dan spesific terhadap aptitude total dari teori dwi-faktor Spearman

Ilustarsi ini hanya untuk menggambarkan bakat dua orang murid X dan Y. persegi panjang dengan garis utuh menggambarkan faktor umum, dan persegi panjang dengan garis putus-putus menggambarkan faktor khusus. Dari ksema ini terlihat bahwa X dan Y memilki faktor general dan spesifik berbedabeda, tetapi G+S2 pada X sama dengan G+S2 pada Y. Meskipun Y memiliki faktor G yang lebih besar dari pada X, tetapi karena Y memiliki S2 yang lenih kecil dari pada X, maka bakatnya tidak lebih besar dari pada X. perhatiakn juga bahwa Y memilii S1 yang lebih kecil dari pada X, tetapi keseluruhan bakatnya lebih besar dari pada bakat X, karena faktor G pada Y lebih besar dari pada faktor G pada X. Walaupun tidak dapat disangkal bahwa teori ini mengandung kesukrankesukaran, namun teori ni banyak sedikitnya dapat menerangkan keadaan mengapa seorang murid memperlihatkan bakat yang sangat besar untuk suatu mata pelajaran, sedangkan bakatnya untuk mata pelajaran yang lain lagi nampak sangat kecil. Suatu abilitas khusus yang sagat besar akan diimbangi oleh G yang kecil, dan sebaliknya suatu G yang besar akan merupakan kompensasi terhadap S yang rendah. Orang yang memilki faktor G yang tinggi atau besar dapat diharapkan akan mencapai prestasi-prestasi yang baik dalam seluruhmata pelajaran. Hal ini memeperlihatkan kepada kita pentingnya faktor umum terhadap intelegensi. 5. Analisis faktor-faktor Teknik-teknik statistik yang disusun oleh Spearman telah dipergunakan sangat luas dalam usaha-usaha lebih lanjut untuk mengisolir faktor-faktor dari intelegensi. Masalah mengenai faktor-faktor intelegensi ini masih tetap merupakan masalah yang menimbulkan kontroversi. Analisa dwi faktor dari Spearman untuk beberapa tahun lamanya merupakan satu-satunya analisa yang dikenal. Penyelididkan-penyelidikan yang dilakukan kemudian oleh beberapa orang lain dengan menggunakan teknik Spearman yang telah diubah seperlunya ditujukan kepada peengisolir abilitas-abilitas manusia yang dapat

diduga batas-batasnnya. Karl J. Holzingen telah memeperluas teori dwi faktor dari Spearman ini dengan mengembangkan faktor kelompok (group factors), seperti abilitas verbal, dan ia menamakan teorinya ini Metode bi-factors. L.L. Thurstone telah pula melakukan suatu pekerjaan yang amat penting dalam mengadakan suatu studi yang disebutnya multiple factors anaysis. Ia menamakan faktor itu abilitas-abilitas primair (primary abilities), dan ia beranggapan bahwa pengertian faktor umum tidak diperlukan. Kita tentu akan mengetahui pula bahwa faktor-faktor yang kita bicarakan samapi saat ini banyak sedikitnya mengandung persamaan kuno tentang daya-daya dari jiwa kita. Kaalu daya-daya psikis yang kuno itu hanyaa dibeda-bedakan oleh observasi-observasi biasa saja, maka para pendukung teori analisa faktor memepergunakan teknik-teknik statistik yang tinggi tarafnya dalam studi mereka mengenai korelasi-korelasi yang ditemukan antara tes-tes. Dalam banyak hal daftar faktor-faktor yang diisolasikan oleh Holzinger dan Thusstone serupa meskipun fakotr-faktor itu memperoleh nama-nama yang berlainan. Daftar-daftar itu ialah sebagai berikut : Holzinger 1. Umum 2. Matematis-mekanis 3. Verbalitas 4. Faktor ruang 5. Ingatan 6. Kecepatan psikis 7. Deduksi 8. Kecepatan motoris Thurstone 1. Fasilitas dengan bilangan 2. Kelancaran kata-kata 3. Pengamatan ruang 4. Ingatan nama-nama bilangan 5. Kecepatan pengamatan 6. Pemikiran verbal 7. Induksi Kesukaran terbesar dengan faktor-faktor ini ialah, bahwa sering terdapat kecenderungan unutk menganggap abilitas-abilitas ini sebagai sesuatu yang terlepas dari keseluruhan kehidupan psikis yang komplek. Faktor-faktor itu tidak boleh dianggap sebagi satuan-satuan atau bagian-bagian yang terlepas untuk dan kata-kata, bilangan-

dari aktivitas psikis. Yang sudah pasti ialah bahwa penyusun-penyusun daftar faktor-faktor itu tidak menginginkan mereka ditafsirkan secara demikian. Seperti telah disarankan diatas, barangkali faktor-faktor itu harus dianggap sebagai manisfestasi-manisfestasi tingkah laku yang intelegen dari organisme. Jadi faktor-faktor itu bukanlah bagian dari organisme melainkan hanya aspekaspek yang diamati dari tingkah laku yang integen. 9. Atribut-atribut intelegensi dari Stoddart Dalam analisa yang sangat menarik dan mengerakan pikiran Stoddart memeperbincangkan tujuh atribut yang dimasukkan dalam definisinya tentang integensi. Ketujuh atribut tadi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Keseukaran Kekomplekan Keabstrakan Kehematan Penyesuaian dengan tujuan Pemahaman terhadap nilai-nilai sosial Keoriginilan

Penggunaan kata atribut ini agak memebingungkan. Misalnya kesukaran-kesukaran adakah atribut ini untuk seseorang atau untuk suatu tugas? Apakah kekomplekan sejenis dengan kesesuaian, sehingga kedua atribut ini dapat dikatakan homogen. Mual-mula Stoddard mendefinisikan intelegensi sebagai suatu abilitas untuk melakukan sesuatu, tetapi kemudian memeperingatkan kita harus menggunakan bentuk kata intelegensi untuk menandai suatu tingkah laku dari apa mempergunakan bentuk kata intelegensi sebagai suatu substantif. Peringatan ini rupanya memang perlu diberikan, karena sebenranya intelegensi bukanlah suatu substantif. Dengan tepat sekali Stoddard mempertahankan keharusan adanya kesatuan atau totalitas untuk segenap atribut ini. Seorang moronmungkin

mencapai prestasi yang tinggi dalam salah satu atribut ini, seperti atribut mengingat bilangan yang panjang misalnya. Selanjutnya Stoddard

menegmukakan dengan jelas bahwa tingkah laku yang intlegen bukanlah bukanlah hanya kesibukan untuk mengumpulakn fakta-fakta atau bahan-bahan penegnalan saja, melainkan lebih dari pada itu. Dalam tingkah laku yang intelegen seluruh energi selalu dipusatkan ke arah tujuan atau senantiasa lekat pada persoalan. Pembicaraan Stoddard tentang hal ini dibatasi pda pembicaraan mengenai tingkah laku manusia saja, karena tingkah laku bntang rupanya tidak menunjukkan ketujuh atribut tadi.

G. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi 1. Faktor Bawaan Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar. Dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama. 2. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. 3. Faktor Pembentukan Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya.

4. Faktor Kematangan Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal soal matematika di kelas empat sekolah dasar, karena soal soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur. 5. Faktor Kebebasan Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya. Kelima faktor diatas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja. H. Pemabagian Intelegensi Intelegensi atau kecerdasan diartikan dalam berbagai dimensi oleh para ahli. Donald Stener, seorang Psikolog menyebut intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan pegetahuan yang sudah ada untuk memecahkan berbagai masalah. Tingkat intelegensi dapat diukur dengan kecepatan memecahkan masalah-masalah tersebut. Intelegensi secara umum dapat juga diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan dan kecepatan otak mengolah suatu bentuk tugas atau keterampilan tertentu. Kemampuan dan kecepatan kerja otak ini disebut juga

dengan efektifitas kerja otak. Potensi intelegensi atau kecerdasan ada beberapa macam yang dapat didentifikasikan menjadi beberapa kelompok besar yaitu; 1. Intelegensi Verbal-Linguistik Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan bahasa dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis. 2. Intelegensi Logical-Matematik Merupakan kecerdasan dalam hal berfikir ilmiah, berhubungan dengan angka-angka dan simbol, serta kemampuan menghubungkan potongan informasi yang terpisah. 3. Intelegensi Visual Spasial Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan seni visual seperti melukis, menggambar dan memahat. Selain itu juga kemampuan navigasi, peta, arsitek dan kemampuan membayangkan objek-objek dari sudut pandang yang berbeda. 4. Intelegensi Kinestetik Tubuh Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan

menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan atau disebut juga dengan bahasa tubuh (body language). Kecerdasan ini berhubungan dengan berbagai keterampilan seperti menari, olah raga serta keterampilan mengendarai kendaraan. 5. Intelegensi Ritme Musikal Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan mengenali pola irama, nada dan peta terhadap bunyi-bunyian. 6. Intelegensi Intra-Personal Kecerdasan yang berfokus pada pengetahuan diri, berhubungan dengan refleksi, kesadaran dan kontrol emosi, intuisi dan kesadaran rohani. Orang yang mempunyai kecerdasan intra-personal tinggi biaasanya adalah para pemikir (filsuf), psikiater, penganut ilmu kebatinan dan penasehat rohani. 7. Intelegensi Interpersonal

Kecerdasan yang berhubungan dengan keterampilan dan kemampuan individu untuk bekerjasama, kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Seseorang dengan tingkat kecerdasan Intrapersonal yang tinggi biasanya mampu membaca suasana hati, perangai, motivasi dan tujuan yang ada pada orang lain. Pribadi dengan Potensi Intelegensi Interpersonal yang tinggi biasanya mempunyai rasa empati yang tinggi. 8. Intelegensi Emosional Kecerdasan yang meliputi kekuatan emosional dan kecakapan sosial. Sekelompok kemampuan mental yang membantu seseorang mengenali dan memahami perasaan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan diri sendiri. Sedangkan Prof. Horward Gardner menyatakan bahwa terdapat delapan kecerdasan yang berbeda untuk menjelaskan potensi manusia yang lebih luas pada anak-anak dan orang dewasa. Kecerdasan-kecerdasan ini adalah : 1. Kecerdasan linguistik Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan katakata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan.Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap artikata,urutan kata,suara,ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikirandan menyampaikan informasi

2. Kecerdasan logic metematik Kecerdasan logic matematik ialah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah.Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis. Ia suka angka, urutan, logika, dan keteraturan. Ia mengerti pola hubungan, ia mampu melakukan proses berfikir induktif dan deduktif. Proses berfikir deduktif adalah cara berfikir dari hal-hal yang besar kehal-hal yang kecil dan induktif sebaliknya.

3. Kecerdasan visual dan spacial

Kecerdasan visual dan special adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara kuat.Visual artinya gambar sedangkan spasial yaitu hal-hal yang berkanaan dengan ruang atau tempat.Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna, garis, bentuk, ukuran, dan juga hubungan antara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat objek dari berbagai sudut pandang.

4. Kecerdasan musik Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati,

mengamati, membedakan, mengarang, membentuk, dan mengekspresikan bentuk-bentuk music.Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme ,melodi, dan timbre dari music didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seseorang.

5. Kecerdasan interpersonal Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Peka terhadap ekspresi wajah,suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.

6. Kecerdasan intrapersonal Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri.Dapat memahami kekutan dan kelemahan diri sendiri.Mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri.Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat menghargai nilai etika dan moral.

7. Kecerdasan kinestetik Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan dalam mengunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan

perasaan.Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelentukan dan kecepatan.

8. Kecerdasan naturalis Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali,

membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun di lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan, dan bagian lain dari alam semesta.

I. Implikasi-implikasi untuk pendidikan Suatu hal yang harus kita akui adalah bahwa intelegensi bukanlah suatu sifat atau ciri yang selalu dimiliki oleh seseorang. Kalau seorang bermata biru, maka birunya itu selalu dipergunakannya baik dalam membaca, menulis, ataupun dalam membuat sebua meja. Tetapi tidak dapat diperlihatkan bahwa bila seseorang intelegen dalam suatu hal atau mata pelajaran sekolah, ia akan sama integennya dalam soal-soal lain. Karena sutu tingkah laku yang intelegen selalu dicapai sesuai denagn pola hereditas atau kualitas gen-gen seseorang, maka tidak benarlah guru menduga bahwa seorang murid pasti mempunyai mentalitas yang rendah, semata-mata karena ia tidak menegtahui hal-hal tertentu. Tidak mengetahui hal-hal tertentu tidak sama dengan bodoh. 1. Tekanan pada kualitas-kualitas umum Pelajaran-pelajaran kelas atau pelajaran-pelajaran rombingan

mengandung batas-batas yang serius. Anak-anak yang sebaya umurnya memang memiliki suatu yang sama, setidak-tidaknya ada suatu yang dapat dipelajari bersama-sama oleh semuanya yang mengunjungi sekolah. Dalam suatu rombongan selalu ada beberapa orang yang bodoh dan ada pula beberapa

orang yang sangat pandai. Mengusahakan untuk mengajar semua anak dalam suatu kelas bersama-sama,berarti bahwa guru harus meletakkan tekanantekanan yang sangat besar atas sesuatu dasar umum yang dapat diketahui oleh guru. Kalau misalnya setengah anak-anak itu mempunyai bakat untukmusik, sedangkan yang setangahnya lagi tidak mempunyai bakat untuk musik sama sekali, maka kemungkinan selalu ada bahwa pelajaran musik akan diabaikan sama sekali, dan bahwa hanya akan selalu diajarkan sesuatu yang dapat dipelajari oleh semua anak. Memang ini adalah jalan yang termudah untuk seorang guru yang terlalu berat bebannya untuk mengajarnya. Dan memang telah pula dikemukakan orang bahwa sekolah-sekolah di Amerika perlu disesali, karena terlampau banyak mementingkan kualitas umum itu dalam usahanya untuk memberikan pendidikan kepada seluruh rakyat. Jawaban yang biasa bdiberikan terhadap penjelasan semacam ini ialah, demokratis, harus mempunyai sebai dasar suatu lapisan penduduk yang berpengetahuan dan intelegen terhadap hal-hal yang menyinggung kepentingan umum, bahkan apabila ada fungsi-fungsi psikis tertentu pada taraf yang tinggi harus dilakukan oleh suatu minoritas, maka setidak-yidaknya seluruh penduduk harus mampu melakukannya pada tingkat intelektual yang kebih rendah yang menghendaki pengetahuan yang berguna, kecakapan-kecakapan praktis, dan terutama pengetahuan dan penerangan tentang kebiasaan sosial dan susila. 2. Pembentukan rombingan-rombongan yang homogen Suatu hal yang telah lama menjadi persoalan ialah apakah untuk kepentingan pengajaran anak-anak harus dibagi-bagi menjadi beberapa rombongan atas dasar abilitas-abilitas umum tertentu. Barangkali persoalan ini lebih merupakan soal filsafat daripada soal psikologi, jadi persoalan ini sebenarnya semata-mata adalah soal tujuan atau nilai. Kalau sekolah ini mementingkan dan mengajar keintelektualan yang abstrak semata-mata, maka untuk tujuan semacam ini baiklah kalau para murid yang sangat cerdas digolongkan menjadi suatu rombongan yang homogen. Tetapi kalau yang diinginkan sekolah ialah pembentukan keseluruhan kepribadian, yang akan

berguna untuk suatu masyarakat yang demokratis, maka pembentukan rombongan seperti di atas tadi dapat merugikan para cerdik pandai itu sendiri, dan merugikan pula seluruh masyarakat. Sebenarnya rombongan yang homogen hanya ada dalam khayal saja. Meskipun kita berusaha untuk membentuk suatu golongan anak-anak yang cerdik pandai dengan cara yang sangat teliti, maka biasanya akan terbukti, bahwa diantara para murid-murid yang terpilih itupun akan dapat perbedaan-perbedaan yang luas mengenai beberapa aspek dari intelektualitas abstark pun mereka akan memperlihatkan variasi-variasi yang luas pula. Hal ini berarti bahwa pada dasrnya tidalah mungkin untuk menentukan sifat, kekuatan atau abilitas umum yang kemudian dapat dijadikan dasar untuk membentuk rombongan-rombongan yang homogen. Diantara para mahasiswa pada oerguruan tinggi pada umunya terdapat perbedaan yang laus mengenai suatu ciri yang dapat diukur. Perbedaan ini diantara para tamatan universitas dengan gelar Ph.D., bahkan di antara gelar Ph.D dari satu jurusan, terdapat homogenitas yang lebih kecil daripada homogenitas yang ada diantara mahasiswa tahun pertama.

J. Membantu Anak yang Kurang Salah satu kepercayaan yang dipertahankan orang lain, bahwa anak yang bodoh harus lebih didorong dari pada anak yang pandai. Bahkan ada pula kemungkian orang, bahwa anak yang pandai tidak boleh didorong-dorong karena tindakan semacam ini akan dapat melukai jiwa para anak yang pandai itu tadi praduga yang dipergunakan dalam pendapat semacam ini ialah, bahwa kalau tindakan mendorong-dorong tadi dilakukan terhadap anak yang kurang panadai, hal ini tidak akan melukai jiwa mereka. Kita dapat berfikir, apakah ini bukan cara berpikir seorang montir yang berpikir tentang perbedaan memeprcepat jalan sebuah mobil kecil dengan empat silinder dengan mempercepat jalan sebuah mobil dengan daya kuda yang tinggi, yang bersilinder dua belas misalnya. Kesukaran ini sebetulnya terletak dalam tujuan sekolah. Ripa-rupanya sampai sekrang ini terlalu banyak orang yang

memperhatikan soal intelektualitas tinggi, dan mengabaikan aspek-aspek belajar yang lain, yang tidak kurangpentingnya bagi masyarakat. Kalau kita mau memperlihatan soal ini dengan seksama, barang kalai akan dapat kita akui pentingnya mendorong anak-anak yang apnadi dalam berbagai sifat yang biasanya sangat tidak mereka kuasai. Kerapkali terjadi, bahwa anak bodoh ditolong, bhakan digiring oleh gurunya dan orang tuanya sedemikian, sehingga mereka tidak memperoleh kesempatan sama sekali untuk mempergunakan kapasitas-kapasitas yang sebenarnya betul-betul mereka miliki. Dalam keadaan semacam ini promosi mendahului hasil belajar yang sebenarnya dan mereka akan banyak mengalami kekecewaan bila mereka harus belajar seorang diri saja. 1. Intelegensi dan kenaikan kelas Soal artikulasi secara vertikal adalah suatu masalah yang terus menerus berlangsung. Apakah murid ini atau murid itu akan dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi, ataukah barangkali lebih baik unutk menahan mereka pada kelas yang lama? Haruskah perguruan tinggi dijadikan pedoman dalam menentukan pola pengajaran yang akan diberikan pada sekolah menengah? Sekali lagi kesukaran yang kiat jumpai disini terletak kepada banyaknya tekanan, yang kita berikan kepada perbuatan yang semta-mata bersifat intelektual abstrak. Tinggal kelas atau ditolak oleh suatu perguruan tinggi bukan hanya soal akademis semata, ini munkin sekali mengandung implikasi-implikasi sosial, politik, dan bahkan juga implikasi-implikasi moril. Orang tua yang melihat anaknya jatuh dalam suatu tujuan akan merasa hina, dan mungkin pula hal ini akan mereka anggap sebagai penguranga terhadap harkat sosial mereka. Karena pertimbangan-pertimbangan semacam ini banyak sekali diberikan dispensasi-dispensasi istimewa untuk menaikkan kelas atau meluluskan seorang murid dalam suatu ujian,. Bahkan pula murid-murid yang berhasil juag memasuki perguruan tinggi berkat pestasi-prestasi semacam ini. Nilai sosial dan ekonomis yang mereka peroleh dari perguruan tinggi samapi batas tertentu

dapat merupakan kompensasi terhadap mentalitas mereka yang rendah dan dapat pula membantu kelangsungan hidup mereka. Namun hasil murninya ialah, bahwa kehadiran mereka di perguruan tinggi semata-mata hanya memperlebar pintu-pintu perguruan tinggi itu, baik pintu-pintu di depannya, maupun pintu-pintu dibelakangnya. Disekolah rakyat barangkali saja kriteria yang terbaik untuk kenaikan kelas ialah, umur kronologis dari anak-anak, oleh karena sekolah ini tidak mungkin melakukan sesuatu yang jauh melebihi segala sesuatu yang mutlak dibutuhkan oleh setiap orang untuk kehidupan demokratis. Sekolah ini benarbenar sekolah untuk rakyat. Menggolongkan ank menurut umurnya yang akan mempermudah rancangan pengajaran terhadap rombongan. Pada sekolah menengah dan perguruan tinggi, lapangan pengajaran lebih luas, dan disini pengajaran tidak disesuaikan kepada kapasitas-kapasitas dan batas-batas kemampuan para siswa. Pada umunya para pemimpin dari perguruan tinggi mulai mengakui bahwa adalah suatu tindakan yang kurang bijaksana bila pada tingkat sekolah menengah telah ditentukan pola pengajaran yang pasti sebagai persiapan untuk pengajaran pada perguruan tinggi kelak. Kunci yang dapat membuka pintu ke suatu sukses lebih dalam lagi letaknya daripada soal persiapan pengajaran tadi. Kunci kearah sukses ini, menyinggung pula soal cita-cita, ambisi, kebiasaan, kecakapan umum untuk menyesuaikan diri, secara singkat, seluruh kepribadian harus dipertimbangkan. Tiaklah cukup bila seorang peljara hanya pandai dalam ilmu pasti dan pengetahuan saja, lebih penting daripada itu, iapun harus cukup pandai dalam hal-hal menegnai abilitas, kebutuhan-kebutuhan, dan batas-batas kemampuannya sendiri.

K. Definisi Tes Intelegensi Apabila anda sebagai psikolog ingin menguji perbendaharaan kata pada anak-anak,ketelitian seorang akuntan, ataukoordinasi tangan danmata bagi pilot,maka anda tentu akanmenguji kinerja (performance) mereka dengan tes

psikologi, masing-masing adalah tesrangkaian kata, tes penjumlahan matematika, dan tes motorik. Masing-masing tes tersebutdapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa sub tes. Lalu apa yang dimaksud dengan tespsikologi? Tes psikologi pada dasamya adalah sampel perilaku yang diambil pada suatu saattertentu. Tes seringkali dibedakanmenjadi tes prestasi dan tes bakat. Tes prestasi digunakanuntuk mengukur ketrampilan yang telah

dicapai/dipelajari danmenunjukkan apa yang dapatdilakukan sesorang pada saat ini, sedangakn tes bakat adalah untuk memprediksi apa yangdapat dilakukan seseorang apabila dilatih. Perbedaan ini akhimya tidak dianggap sebagaiperbedaan, melainkan dianggap sebagai begian dari suatu kesatuan (Atkinson dkk., 1993). Suatu tes psikologi dalam mengukur sampel perilaku harus memiliki sifat standar danobjektif. Standardisasi berhubungan dengan keseragaman tes dalam hal administrasi danskoring, sementara objektivitas berhubungan dengan standardisasi, terutama dalam haladministrasi, skoring, dan interpr~asi skor yang hams tidak bergantung kepada penilaiansubjektif dari pengujinya (Anastasi, 1988). Keseragarnan tes beserta validitas dan reliabilitasnya akan dibahas dalam sub bab terakhir dalam babini. Intelegensi atau kecerdasan sering diasosiasikan dengan kecerdikan, kemengertian,kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk menguasai sesuatu, kemampuan untukmenyesuaikan diri dengan situasi atau lingkungan tetentu, dan sebagainya. Lalu apa pengertianintelegensi itu? Pada tahun 1982, Sternberg dkk. merancang suatu studi untuk menemukan keberagamanorang-orang di dalam mendefinisikan intelegensi. Subjek penelitiannya adalah duakelompokyang berbeda, yaitu orang awam dan para ahli psikologi yang secara khusus mengkajimengenai intelegensi. Pada kedua kelompok tersebut, para peneliti memberikan daftarbeberapa orang dengan beberapa karakteristik tertentu dan kemudian diminta untuk menilaikeragaman kemampuan yang didasarkan kepadakarakteristik tersebut. Hasilnya menunjukkanbahwa pada kebanyakan orang awammengira bahwa intelegensi adalah kemampuan untukmemecahkan masalah secara praktis,

kemampuan verbal, dan kompetensi sosial. Kemampuanuntuk memecahkan masalah secara praktis termasuk di dalamnya penggunaan

logika,menghubungkan ide-ide, dan pandangan kepada masalah secara keseluruhan. Kemampuanverbal meliputi penggunaan dan pemahaman bahasa secara lisan dan tulisan dengan carayang baik. Kompetensi sosiallebih menekankan kepada interaksi yang baik dengan oranglain, yaitu tentang pemikiran yang terbuka pada perbedaan jenis manusia dan menunjukkanminat dalam topik-topik yang beragam. Sementara itu para pakar psikologi menyebutkanbahwa intelegensi dapat diperoleh dari intelegensi verbal, kemampuan dalam memecahkanmasalah, dan intelegensi praktis. Ini berarti terdapat hubungan yang dekat dengan pendapatorang awam. Perbedaan pemikiran utama di antara dua kelompok tersebut adalah satupenekanan, dimana awam menekankan kompetensi sosial, semen tara para pakar tidakmempertimbangkan hal tersebut sebagai hal yang esensial dalam intelegensi. Di lain pihak,para pakar mempertimbangkan motivasi sebagai faktor yang penting, dimana motivasi initidak terlihat di daftar yang diberikan oleh orang awam (Morris, 1990). Banyak ahli yang berbeda pendapat dalam mendefinisikan apa itu intelegensi. Sepertimisalnya pada pertentangan antara kubu Spearman dan kubu Thurstone/Guilford, yangkemudian dikenal dengan dua buah teori mengenai lumpers (gumpalan) dan splitters(pecahan) (Mayr dalam Morris, 1990). Spearman berpendapat bahwa intelegensi adalahkemampuan urn urn untuk berpikir dan mempertimbangkan. Sementara Thurstone

melihatkecerdasan sebagai suatu rangkaian kemampuan yang terpisah. Thurstone meyakinibahwa kemampuan seperti numerik, ingatan, dan kefasihan berbicara, secara bersama-samaakan membentuk perilaku pandai. Bahkan Guilford lebih tegas mengatakan bahwakecerdasanterbentuk dari 120 faktor yang berbeda-beda. Perdebatan seperti ini masih tetap aktual sampaikini. J.P. Guilford (dalam Morris, 1990) membedakan tiga macam kemampuan mental dasar,yaitu: operation (tindakan berpikir), contents (istilah-

istilah dari hal-hal yang kita pikirkan,seperti kata-kata atau simbol-simbol), dan product (ide-ide yang dapat kita hasilkan). Menurut Morgan dkk. (1984) setiap teori tentang intelegensi di atas tentunya akanmembawa pengaruh pada perbedaan cara dalam pengukuran untuk memperkirakan Kemampuan mental seseorang. Sebagai contoh, teori Faktor G akan menyarankan bahwaskor tunggal akan dapat mewakili intelegensi secara adekuat. Sementara ahli-ahli lain yangmenyarankan perbedaan perangkat dari faktor-faktor memisahkannya ke dalam subtes-subtes. Kita kenaI dua buah tes intelegensi individual yang terbaik yaitu Binet danWechsler.

L. Beberapa Sifat Tes Intelegensi Menurut Atkinson dkk. (1993) intelegensi oleh beberapa pakar psikologi dipandangsebagaikapasitasumumuntukmemahamidanmenalarsesuatuyangkem udiandiejawantahkanke dalamberbagai cara.AsumsiBinet adalahmeski suatu tes intelegensi terdiri dari berbagaimacam butir soal (yang mengukur kemampuan seperti rentang ingatan, berhitung, dan kosakata) seperti dalamtesBinet, akantetapi anakyang cerdas akancenderung mendapatkan skoryang lebih tinggi dari pada anak yang bodoh. Dengan demikian, Binet dan Simon laluberasumsi bahwa tugas yang berbeda-beda tersebut menggali kecakapan atau kemampuandasar. Dalam intelegensi kecakapan tersebut jika mengalami perubahan dan kekuranganakan mempengaruhi kehidupan praktis.Kecakapan ini berupa daya timbang, akal sehat, citarasa praktis, inisiatif, dan kecakapan untuk menyesuaikan diri terhadap

situasi.Menimbangdengan baik, memahami dengan baik, menalar dengan baik, kesemua- nya itu merupakankegiatan intelegensi yang sangat penting.

Beberapa Contoh Item-item dalam Skala Intelegensi Stanford-Binet. USIA 2 TUGAS Menyebut bagian-bagian tubuh: Kepada anakditunjukkan

sebuahkertas yang besar dan diminta untuk menunjukkan berbagai bagian tubuh. 3 Ketrampilan visual motorik: Kepada anak ditunjukkan

sebuah jembatanyang disusun dari tiga balok dandiminta untuk membangunjembatan seperti sebuah lingkaran. 4 Analogi yang berlawanan: Mengisi titik-titik dengan kata yangtepat jika ditanya:"Saudara laki-Iakiseorangpria adalah ; Saudaraperempuan adalah seorang ; Siang hari terang, malam hari......... Penalaran: Menjawab dengan tepatjika ditanya: itu; Dapat meniru

"Mengapa kita memerlukan rumah?" "Mengapa kita memerlukan buku?" 5 Perbendaharaan kata: mendefinisikan kata seperti: bola, topi, dan tungku. Ketrampilan visual motorik:Dapat meniru gambar sebuah persegi empat. 6 Konsep angka: Dapat memberikan 9 buah balok kepada penguji jika diminta melakukannya. 8 Ingatan tentang cerita:Mendengarkan sebuahceritadan

menjawab pertanyaan tentang cerita tersebut. 14 Kesimpulan: Penguji melipat sehelai kertas beberapa kali, menggunting sudutnya setiap kali melipat. Subjek ditanya tentang cara menetapkanjumlah lubang yang akan terjadi bila kertas itu dibentangkan. Dewasa Perbedaan: Dapat menjelaskan perbedaan antara

(diatas 15 th) "kesengsaraan dan kemiskinan"; "watak ke dan reputasi" Ingatan tentang angka yang dibalik: Dapat mengulang

enam angka secara mundur (dalam susuna terbalik) setelah dibaca keras oleh penguji.

Sumber : Atikson dkk. (1993)

David Wechsler (dalam Atkinson dkk., 1993) meski dengan tes intelegensi denganberagam skala, juga meyakini bahwa intelegensi merupakan himpunan kapasitas untukbertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan berhubungan dengan lingkungansecara efektif.

Beberapa Contoh Item-item dalam WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) TES Skala verbal URAIAN Pertanyaan-pertanyaan tentang infonnasi yang umum:

InformationCompre misalnya, "Satu kilogram sarna dengan berapa pon?" hension Mengukur infonnasi praktis dankemampuan lampau; untuk

mengevaluasi

pengalaman

masa

misalnya,

Mengapa kita perlu menabung?" Arithmetic Soal-soal verbal yang mengukur penalaran aritmetika Similarities. Menanyakan kesamaan objek atau konsep tertentu (misalnya: telur & benih); mengukur pemikiran abstrak. Digit Span (Deret angka) Serangkaian angka yang disajikan secara auditoris

misalnya 7-5-6-3-8) diulang dari depan atau dari belakang; mengukur perhatian dan ingatan luar kepala

Vocabulary

Mengukur pengetahuan kita

Skala performance Digit symbol Tugas pengkodean yang diberi batas waktu dimana

angka diasosiasikan dengan berbagaimacam bentuktanda; mengukur kemampuan belajar menulis. Picture Bagian yang hilang dari gambar yang completation tidak

lengkap

hams

dicari

dan

disebutkan; dan

mengukur menganalisis

kemampuan pola. Block design

untuk

memahami

Susunan yang tergambar hams ditim dengan menggunakan balok; mengukur kemampuan untuk memahami dan menganalisis pola.

Picture

Serangkaian gambar hams disusun arrangement menjadi cerita yang hidup dengan urutan ke kanan; mengukur pemahaman tentang situasi sosial.

Object

Potongan-potongan kayu hams disatukan assembly untuk membentuk suatu bendayang

sempurna;mengukurkemampuanyangberkaitandenganhubu ngan bagian-keseluruhan.

Sumber : Atikson dkk. (1993) Beberapasifat intelegensidi atasadalahsifat-

sifatyangbersifatteknisdalamhubungannyadengan penyusunan tes intelegensi. Beberapa sifat lain dari tes intelegensi dan hasilpengukurannya antara lain adalah sebagai berikut: a. Tes individual dan tes klasikal; b. Hubungan antara intelegensi dengan kreativitas; c. Bebas budaya dan penggunaan pada anak khusus. 1. Tes Individual dan Tes KIasikal Pada bagian terdahuludikatakan bahwatesBinetdan tesWechsler adalah teskemampuanindividual, karena kedua tes tersebut dilaksanakan pada satu individu oleh seorang pengujiyang dilatih secara khusus. Sementara itu kitajuga mengenal tes kemampuan klasikal, yangdapat dilakukan terhadap sejumlah orang dengan satu orang penguji, serta biasanya dalambentuk tertulis. Tes kemampuan yang bersifat klasikal tersebut berfungsijika sejumlah

orangharus segera dievaluasi, sementara hanya terdapat sedikit orang penguji. Salah satu bentuktes klasikal adalah SPM (Standard Proggresive Matrices). 2. Hubungan Antara Intelegensi Dengan Kreativitas Menurut Atkinson dkk. (1993) tes intelegensi umum (seperti Binet dan Wechsler)ternyata berkorelasi cukup tinggi dengan prestasi belajar di sekolah, serta berkorelasi yanglebih rendah dengan prestasi intelektual di kemudian hari (bila dibandingkan prestasibelajar). Akan tetapi tes intelegensi tidak dapatmengukur aspekpenting dari intelegensi yaitupemikiran kreativitas atau pemikiran orisional. Dalam suatu pemecahan masalah umumnya meliputi dua fase yaitu mencari beberapaalternatif dan kemudian memilih salah satu alternatif tersebut yang tampaknya dianggappaling tepat. Fase yang pertama dapat diasumsikan sebagai pemikiran divergen, dimanapemikiran individu menyebar pada sejumlah alur yang berbeda. Sedangkan yang keduadiasumsikan aturan memperoleh

sebagaipemikiran logikadigunakanuntuk

konvergen,dimanapengetahuandan memperkecil kemungkinan guna

kemungkinan pemecahan masalahyang tepat. Sebagian besar tes intelegensi menekankan kepada pemikiran konvergen, yangmenyajikan masalah yang memiliki jawaban tepat yang dirumuskan dengan baik. Tes-tesintelegensi tradisional tersebutumumnya tidakdapatmenggalikemampuan berpikirdivergenpada subjek yang dikenai tes. Dua pertanyaan mendasar yang kemudian muncul: apakah kemampuan yang diukurmelalui tes kreativitas berbeda dengan tes yang diukur melalui tes intelegensi umum?Apakah skor pada tes intelegensi tersebut dapat

memprediksi prestasi kreatif dalamkehidupan sehari-hari? MenurutAtkinson dkk. (1993) kemamapuanyang akandigalimelalui tes intelegensi dantes kreativitas tampaknya akan selalu tumpang tindih. Untuk suatu populasi, tes intelegensicenderung berkorelasi positif dengan skor pada tes kreativitas; dimana orang yang memilikiIQ di atas rata-rata

cenderungmencapai skordi atas rata-ratapada tes kreativitas. Akan tetapipada tahap intelegensi tertentu (IQ sekitar 120), terdapat korelasi yang rendah antara

skorintelegensi

dengan

skorkreativitas.Beberapaindividu

yangmemiliki

skoryang sangat tinggipada tes intelegensi akan memperoleh skor yang rendah pada tes kreativitas. Sedangkanindividu yangmemiliki intelegensi sedikit di atas rata-rata akanmemperoleh skoryang tinggipada tes kreativitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada distribusi bagian atas, kreativitastidak tergantung pada intelegensi. Lalu apakah hasHtes kreativitas dapat diprediksi sebagai alat untuk melihat kreativitasdalam kehidupan sehari-hari? Menurut Kogan danPankove (dalamAtkinsondkk., 1993)kita hanya dapat berspekulasitentang apakah tes kreativitas dapatmemprediksi prestasi kreatif yang sebenamya. Beberapapenelitian jangka panjang telah dilakukan, yang hasilnya tidak menggembirakan. Salahsatunya menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang rendah antara skor berpikir divergendengan kecakapan ekstrakurikuler yang membutuhkan bakat dalam hal kepemimpinan,drama, seni, atau ilmu pengetahuan pada siswa-siswa sekolah lanjutan. Agaknya untuk memperoleh prestasi kreatif, dibutuhkan keduanya baik kreativitasuntuk berpikir divergen maupun intelegensi untuk berpikir konvergen. Para peneliti yangmelakukan penelitian terhadap para ilmuwan dan seniman menyimpulkan bahwa faktorkepribadian dan adanya seperti kebebasan

berpendapat,motifberprestasi,

inisiatif,

toleransiterhadap

ambiguitas (kemenduaan), merupakan syarat penting bagi prestasi kreatif, yangkesemuanya itu tidak dapat diukur melalui tes kreativitas (Atkinson dkk., 1993).

Beberapa Contoh Item-item dalam Tes Kreativitas

1. Penggunaan yang tidak biasa (Guilford, 1954) Sebutkansebanyak mungkin penggunaan: a. tusukgigi b. batubara c. penjepit kertas 2. Akibat(Guilford, 1954) Bayangkan semua hal yang mungkin terjadi bila tiba-tibahukum nasional danhukum daerah dihapuskan 3. Asosiasi jauh (Mednik, 1962) Carilahkatakeempatyang dapatdiasosiasikan dengan setiap kata dari ketigakatadi bawah ini: a. tikus- biru -pondok b. keluar - anjing- kucing c. roda -listrik- tinggi d. heran garis- ulang tahun 4. Asosiasi kata (Getzels dal1Jackson, 1962) Tulikan sebanyakmllngkip makna setiap kata.di bawah ini: a. itik b. saku c. bubungan d. adil Sumber: Atkinson dkk.(1993)

3. Bebas Budaya dan Penggunaan Pada Anak Khusus Menurut Atkinson dkk. (1993) penampilan seseorang dalam suatu tes amat tergantungpada kebudayaan mana seseorang itu dibesarkan.Hal ini akan nyata benar terutama pada tesverbal yang membutuhkan pemahaman bahasa tertentu.

Suatu tes umumnya memang dirancang untuk mengukur intelegensi pada orang yang berada di dalam kebudayaan dimana tes tersebut dirancang. Suatu tes yang bebas budaya (culturefair) dikembangkan dengan cara meminimalkan penggunaan bahasa, ketrampilan,dan nilai-nilai yang berbedabeda dari kebudayaan satu dengan yang lain. Suatu contoh darites bebas budaya adalah Good enough-Harris Drawing Test. Dalam tes ini subjek diminta menggambar manusia semampunya (semaksimal yang dia dapat). Gambar manusia tersebut diskor dari proporsi, ketepatannya, dan

kelengkapannya yang kesemuanya itu dapat diwakili dari bagian tubuh, detil pakaian, dan sebagainya. Bukannya diskor dari bakat artistiknya(Morris, 1990). Contoh lain dari tesbebas budaya adalah StandardProgressiveMatrices, yang berisikan 60 rancangan. Subjek diminta untuk memilih dari 6 sampai 8 pilihan jawaban dari setiap pertanyaan. Cattel (dalam Morris, 1990) mengembangkan Culture Fair Intelligence Test (CFIT), yangberusaha mengkombinasikan beberapa pertanyaan

pemahaman verb pengetahuan yang bebasbudaya. Dengan membandingkan skor-skor dalam dua macam pertanyaan, maka faktorbudaya dapat

dikesampingkan.Anak yang tuli akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari kata-kata dari padaanak normal. Para imigran atau tenaga kerja asing yang berprofesi sebagai pengacara atau insinyur tentu akan

membutuhkan waktu yang lama dalam mempelajari bahasa Indonesia.Bayi di bawah tiga tahun tentu akan mengalami kesulitan dalam menjawab beberapa pertanyaan verbal. Lalu muncul pertanyaan: bagaimana kita mengukur dengan tes intelegensi terhadap orang-orang seperti itu? Cara yangdigunakan adalah dengan meminimalkan penggunaan katakata, yaitu dengan performace test atau tes kinerja, yang merupakan tes nonverbal. Salah satu contoh tes kinerja yang pertama kali dikembangkan adalah pada tahun 1866 adalah Seguin FormBoard,yang merupakan suatu puzzle yang dipakai pada anak-anak yang mengalami retardasi mental.Tes kinerja lainnya yang terkenal adalah PorteusMaze, yangberupa jaringan jalan yang rumit dan memiliki tingkat kesulitan yang bertingkat (Morris, 1990).

Bagi anak-anak yang masih kecil, salah satu tes yang paling efektif digunakan adalah Bayley Scales of Infant Development. Skala Bayley digunakan untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan anak dari umur 2 bulan hingga 1,5 tahun. Skala-skalanya meliputi persepsi, memori, komunikai verbal, dan beberapa skala motorik seperti duduk,berdiri, berjalan, dan ketangkasan. Skala Bayley ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi tandatanda awal dari kerusakan sensorisdan neurologis, gangguan emosional, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan fisik (Morris, 1990).

M.

Syarat-syarat Tes Yang Baik Sebuah tes dapat dikatakan baik apabila skornya dapat dikatakan sudah sahih (valid) dan andal (reliable). 1. Keandalan (Validitas) Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu tes dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, yang sesuai dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Suatu tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas yang rendah. Sisi lain dari konsep validitas adalah kecermatan pengukuran. Suatu tes yang validitasnya tinggi bukan saja akan rnenjalankan fungsi ukurnya dengan tepat, akan tetapi harus juga rnemiliki kecermatan tinggi (Azwar, 1989). Estirnasi validitas suatu pengukuran pada urnurnnya dinyatakan secara ernpiris oleh suatu koefisien yang kernudian disebut koefisien validitas. Koefisien ini dinyatakan oleh korelasi antara distribusi skor tes yang bersangkutan dengan distribusi suatu skor suatukriteria. Kriteria ini dapat berupa skor tes lainyang rnerniliki fungsi yangsarna,dan dapat pula berupa ukuran-ukuran yang lain yang relevan (Azwar, 1989).

Apabila suatu tes diberi sirnbol X dan skor kriteria diberi sirnbol Y, rnaka koefisiensikorelasi antara tes dan kriteria rnerupakan suatu koefisien validitas dengan sirnbol 'XY(Azwar, 1989). 2. Keterandalan (Reliabilitas) Reliabilitas berasal dari kata reliability, yang berasal dari kata rely (dipercaya) danability (kernarnpuan). Suatu tes dapat dikatakan reliabel apabila rnerniliki reliabilitas yangtinggi. Reliabilitas keterpercayaan, seringkali rnerniliki beragarn istilah lain seperti dan

keterandalan,keajegan,

konsistensi,

kestabilan,

sebagainya yang kesernuanya itu rnengacu kepadakonsep reliabilitas yang berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Artinyahasil ukur yang dapat dipercaya apabila dalarn beberapa kali pengukuran terhadap kelornpoksubjek yang sarna akan diperoleh hasil yang relatif sarna,jikalau aspek yangdiukur dalarn dirisubjek rnernang belurn berubah. Pengertian relatif tersebut rnenunjukkan bahwa terdapattoleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil di antara hasil pengukuran. Apabila perbedaanhasil pengukuran tersebut besar dari waktu ke waktu, rnaka tes tersebut tidak dapat dipercayaatau tidak reliabel (Azwar, 1989). Untuk rnengukur reliabilitas dapat dilakukan dengan perolehan dua nilai dari orang yangsarna pada tes yang sarna, yakni dengan cara rnengulanginya atau dengan rnernberikan duabentuk tes yang berbeda tetapi setara. Jika setiap individu dapat rnencapai skor yang kuranglebih sarna pada kedua pengukuran tersebut, rnaka berari bahwa tes tersebut reliabel. Meskisuatu tes dapat dikatakan reliabel, beberapa perbedaan dapat rnuncul di antara kedua karenaadanya perbedaan peluang dan kesalahan pengukuran. Oleh karena itu, dibutuhkan pengukuranstatistik mengenai tingkat hubungan di antara seperangkat pasangan skor. Tingkat hubungantersebut ditetapkan dengan koefisien korelasi (Atkinson dkk., 1993). Menurut Azwar (1989) koefisien korelasi dilambangkan dengan huruf r. Apabila skorpada tes pertarna diberi larnbang X dan skor yang kedua (paralelnya) diberi larnbang X' , rnakakoefisien korelasi antara keduanya

diberi larnbang rxx" dirnana sirnbol ini kemudiandigunakan sebagai sirnbol koefisien reliabilitas. Secara teoritis, besarnya koefisien reliabilitas berkisar dari 0 sarnpai I. Akan tetapi padakenyataannya koefisien korelasi sebesar 1 tidak akan pernah dijurnpai. Di sarnping itu,rneskipun koefisien korelasi dapat saja positif (+) rnaupun negatif (-), akan tetapi halreliabilitas koefisien yang besarnya kurang dari 0 tidak ada, karena interpretasi reliabilitasselalu rnengacu kepada koefisien yang positif (Azwar, ] 989). Apabila koefisien reliabilitas sebesar rxx.=l, berarti adanya konsistensi yang sempurnapada alat ukur yang bersangkutan.Konsistensi sempurna ini tidak akanpernah terjadi, karenadalam pengukuran psikologis, manusia merupakan sumber error yang potensial (Azwar,1989). Selain validitas dan reliabilitas, suatu tes yang baik juga harus memenuhi syaratkeseragaman prosedur tes. Untuk menghindari pengaruh variabel yang mengganggu,maka suatu tes harus seragam di dalam prosedur. Keseragaman tersebut meliputi: instruksi,batas waktu (speed test atau power test), dan cara skoring. Dalam instruksi misalnya,penjelasan yang diberikan olehpengujimengenai carapenyajianmateri tes seyogyanya harusbersifat standar dari waktu ke waktu (Atkinson dkk., 1993). Akan tetapi tidak semua variabel yangmengganggu dapat kita kendalikan dengan baik,seperti misalnya penampilan umum (ekspresi wajah, nada suara, pakaian, dan sebagainya),jenis kelamin dan suku bangsa penguji juga akan mempengaruhi hasil tes subjek (Atkinsondkk., 1993) . Apabila seorang anak perempuan dari Jawa Tengah mengerjakan tes denganhasil buruk ketika diuji oleh seorang penguji pria dari Batak, harus dipertimbangkan pulabahwa kecemasan dan motivasi anak tersebut mungkin akan berbeda apabila diuji olehpenguji perempuan dari Jawa.

N. Penggunaan Tes-Tes Intelegensi Pada dasarnya tes-tes intelegensi memang berguna. Beberapa penggunaan praktis yang sekarang telah diakui yaitu pertama-tama tes psikis dapat digunakan untuk turut menentukan emasakan anak-anak menerima pelajaran sekolah. Anak yang berumur 6 tahun biasanya memperlihatkan variasi yang sangat luas mengenai umur mereka. Beberapa diantara mereka mungkin psikis harus berumur 3 atau 4 tahun, sedangkan sebagian besar dari mereka mempunyai umur psikis antara 5,5 dan 6,5 tahun. Anak-anak yang terdapat pada golongan umur psikis yang rendah belum siap untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan di kelas satu, meskipun mereka kronologis telah berumur 6 tahun. Mereka yang terdapat dalam golongan umur psikis yang tinggi barangkali telah dapat melakukan pekerjaan kelas satu ini pada umur 4 atau 5 tahun. Penggunaan kedua dari test psikis ini adalah untuk mengadakan klasifikasi kedalam golongan-golongan menurut abilitas mereak yang dilakukan untuk kepentingan pelajaran. Klasifikasi ini dapat dilakukan dalam setiap kelas. Namun perlu diperhatikan, bahwa kriteria ini tidak boleh merupakan faktor satu-satunya dalam mengadakan klasifikasi ini, faktorfaktor lainpun tak kurang pula pentingnya, atau mungkin juga minat serta usahanya. Tetapi kalau faktor-faktor lain dapat dianggap sama, seorang anak dengan IQ sebesar 150 dapat menjelaskan pelajaran untuk enam kelas dalam 6 tahun. Apakah bijaksana untuk menyelesaikan pelajaran 6 tahun dalam 4 tahun adalah pertanyaan yang lain lagi. Penggunaan ketiga adalah diagnosis murid. Kalau seorang murid tak berhasil mencapai kemajuan yang normal, maka test psikis dapat dipergunakan untuk menentukan macam kesukaran apa yang dihadapi anak itu. Kalau seorang anak, yang terlambat kemajuannya mencapai score yang tinggi pada suatu test intelegensi, maka mungkin bbahwa cara mengajar yang kurang baik, atau faktor psikologis lain seperti sikap atau minat, atau mungkin pula dasar appersesif yang tidak cukup. Faktor-faktor lian yang terganggu dan faktor-faktor sosial tertentu seperti kehidupan keluatga tidak

terlalu menyenangkan. Dalam memberikan test psikis kepada seorang anak yang terlambat, misalnya kepada seorang murid yang menemui kesukarankesukaran dalam pelajaran membaca, haruslah dipergunakan suatu test tanpa bahasa nonverbal. Kalau anak tadi tidak dapat membaca, pasti ia akan mendapat score yang rendah pada suatu test yang mempergunakan instruksiinstruksi secara tertulis. Kalau kemudian didapati kapasitas psikis yang rendah, maka kelambatan itu untuk sebagian telah diterangkan, tetapi kemungkinan tetap besar, bahwa faktor-faktor lainpun menyebabkan kelambatan itu. Keempt, tes psikis itu dapat dipergunakan dalam memberikan bimbingan pendidikan untuk menentukan jabatan. IQ seseorang merupakan faktor yang penting dalam meilih jabatan. Kalau seseorang mempunyai kapasitas psikis biasa atau rata-rata saja, janganlah ia menginginkan jabatan yang memerlukan kapasitas psikisnya tinggi. Penetrasi yang dalam yang dikehendaki oleh jabatn-jabatan yang tinggi serta jabatan-jabatan yang sosialisasi terlalu berat bagi orang-orang dengan IQ yang biasa. Bimbingan dalam pendidikan, atau setiap macam bimbingan biasanya diperlukan dalam setiap krisis. Makain rendah IQ seseorang, barangkali makin banyak orng itu memerlukan bimbinga untuk mengatasi masa-masa krisisnya. Penggunaan yang kelima dari test intelagensi ialah untuk menolong studi mengenai pelanggaran-pelanggaran kalau seseorang pemuda

memperlihatkan kecenderungan untuk melakukan tingkah-tingkah yang bersifat nonsusila dan kriminal, maka timbullah sial tangung jawab moral. Apakah pemuda tadi cukup intelegensi untuk dimintai tanggung jawab moral bagi segala tindakannya atau tidak. Jawaban dari hal tersebut mungkin bersifat menetukan terhadap penuntutan perlakuannya yang harus diterima oleh pemuda tadi. Penggunaan keenam ialah untuk meramalkan sukses yang mungkin dicapai oleh seorang anak di perguruan tinggi, atau dalam suatu lapangan aktivitas yang lain. Korelasi yang terdapat antara score pada tes intelegensi

dengan sukses dalam suatu lapangan memberikan dasar untuk meramalkan kemungkinan sukses dalam batas tertentu. Tentu saja daam hal ini diperlukan ketentuan-ketentuan, bahwa faktor lain akan tetap konstan. Korelasi semacam ini tidak pernah terlalu tinggi, bergerak antara kira-kira 0,4 sampai 0,6. Tetapi korelasi itu selamanya positif dan cukup berarti.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari materi yang telah dibahas sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa: 1. Inteligensi itu ialah faktor total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya turut mempengaruhi intelegensi seseorang). Intelegensi tidak bisa dianggap sebagai suatu substansi, suatu sifat, atau suatu daya. 2. Tingkah laku manusia dikatan intelegen berdasarkan kesanggupannya untuk melakukan tugasnya dengan cepat, mudah, serta memadai. 3. Suatu tingkah laku yang intelegn, dapat tinggi dan dapat pula rendah tingkatannya. 4. Intelegensi berbeda dari kapasitas. Manusia tidak dapat intelegen berkat hereditas saja. Manusia hanya mewarisikin kapasitas untuk menjadi intelegen, pada yang seorang dengan batas yang cukup tinggi, sedangkan pada yang lain dengan batas yang rendah. 5. Intelegensi pada tingkat tinggi dapat diketahui dari manifestasimanisfestasi berikut : a. Fasilitas dalam mempergunakan bilangan-bilangan b. Efesiensi dalam penggunaan bahasa c. Kecepatan dalam pengamatan d. Fasilitas dalam mengingat-ingat e. Khayal 6. Telah banyak teori tentang intelegensi teori tentag intelegensi yang dikemukakan orang. Ada yang meletakkan tekanan pada kualitas, dan persesuaian pendapat mengenai persoalan, apakah intelegensi terdiri atas satu faktor atau atas lebih dari satu faktor. Tiap teori berguna samapi

tingkat tertentu, yaitu bahwa teori itu dapat menerangkan tingkah laku yang dapat dianggap intelegen. 7. Tujuan-tujuan itu setiap konsep tentang intelegensi harus kita periksa dalam hubungannya dengan implikasi dalam pendidikan: a. Filsafat yang dianut oleh sekolah harus menentukan apakah pendidikan yang diberikan oleh sekolah tadi diperuntukkan bagi seluruh masyarakat atau apakah intelektualitas yang akan memperoleh pengakuan dan penghargaan tertinggi. b. Selama manusia masih berbeda tidak mungkin dibentuk rombingan yang mutlak homogen. c. Mendorong anak yang kurang pandai dan menilai kemajuan berdasarkan intelengensi abstraknya. 8. Intelegensi dibagi menjadi beberapa jenis, secara garis besar menjadi IQ, EQ, dan SQ. 9. Intelegensi seseorang dapat diketahui dengan cara menggunakan tes intelegnsi yang hasil dari tes tersebut tidaklah bersifat mutlak. 10. Tes-tes intelegensi digunakan untuk berbagai tujuan, yaitu : a. Untuk menggolongkan murid disuatu kelas berdasakan kemampuan belajar, b. Menentukan siap dan tidaknya anak untuk bersekolah, c. Mengadakan diagnosis kesukaran-kesukaran belajar, d. Dipergunakan untuk kepentingan bimbingan, e. Studi mengenai pelanggaran-pelangaran, dan f. Mengetahui kecenderungan sukses yang mungkin dicapai oleh seseorang.

DAFTAR RUJUKAN

Alim, Baitul Muhammad.2010.Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi,(Online),(http://www.psikologizone.com/faktor-yangmempengaruhi-intelegensi/06511548). diakses tanggal 6 Desember 2011. Dryden,Gordon dkk.2003.Revolusi cara Belajar.alih bahasa oleh Word++ Translation service. Bandung : Kaifa. Gunadarma.____.Bab 6 Tes Intelegensi,(Online), (http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_umum2/bab6_te s_intelegensi.pdf). diakses tanngal 14 Desember 2011. Whiterington, H.Carl. 1982. Psikologi Pendidikan.alih bahasa oleh M. Buchori M.ED. Bandung : Jemmars. Yunita, Riny.2009.Kenali Potensi Intelegensi Anda,(Online),(http://rinyyunita.wordpress.com/2009/01/16/potensiintelegensi/). diakses 6 Desember 2011