Anda di halaman 1dari 35

PEMERIKSAAN KEPALA dan LEHER

Pembimbing : dr. Tri Maria, Sp.Pd Dhara Indah Kartika Jati 20080310022

Overview
Teknik pemeriksaan : 1. Inspeksi, 2. Palpasi 3. Perkusi 4. Auskultasi

Alat yang digunakan meliputi stetoskop, pita ukur, spatel lidah, kapas, penggaris senter spekulum nasal, oftalmoskop dll

KEPALA, RAMBUT dan WAJAH


INSPEKSI ; 7 ciri berikut ini: - konfigurasi umum, - simetri, penonjolan tulang, - distribusi rambut, - ciri-ciri kulit, - ekspresi muka, - dan kontak mata. Secara singkat periksalah tekstur rambut dan turgor kulit.

KEPALA
Konfigurasi/Bentuk Umum -NORMAL -Kelainannya berupa: 1) dolikosefalus (kepala panjang), 2) brakisefalus (kepala bulat), 3) hidrosefalus, 4) mikrosefalus, 5) skafosefali(panjang dan sempit), 6) akrosefali (kepala menara), 7) plagiosefali.

Skafosefali Hidrochepalus

RAMBUT

warna, mudah dicabut / tidak rambut rontok infeksi berat, keganasan, miksedema Alopesia (kebotakan akibat rontok), efluvium (kerontokan tanpa kebotakan) pada pengobatan sitostatistik, hipertrikosis (rambut bertambah lebat). Kanitis (uban) pada pasien albino atau orang tua dan pada orang muda.

WAJAH

Dapat ditemukan pucat, ikterus dan sianosis (pada pasien kelainan jantung bawaan dengan shunt dari ke kanan ke kiri, penyakit paru obstruktif menahun dan keadaan hipoksia lain).

Dapat ditemukan Butterfly rash (ruam eritem di kedua pipi pada lupus eritematous), Fasies leonina (infiltrasi subkutan pada dahi pipi dan dagu dan wajah mirip singa pada pasien lepra). Muka topeng pada pasien parkinsonisme Risus sardonikus/muka setan (spasme otot wajah tonik klonik pada pasien tetanus) Dismorfik pada pasien sindrom down, hipertelorisme, telekantus. Asimetris wajah pada bell palsy Tanda Chovstek

MATA

Mata mengandung lebih banyak informasi diagnostic daripada organ-organ lain yang ada untuk diagnosis fisik. Vaskularisasinya saja memungkinkan diagnosis anemia, diabetes, hipertensi, keadaan hiperviskositas, dan arteriosclerosis. Enam dari 10 saraf cranial, lintasan simpatis dan parasimpatis, mensarafi struktur-struktur mata. cenderung dengan cara inspeksi dari arah luar.

PERIORBITAL

Pemeriksaan daerah yang berada di daerah peri orbital, kelainan yang mungkin. Eksoftalmus, bola mata keluar dari fisura palpebra melebar dapat dijumpai pada tirotoksikosis, trombosis sinus kavernosus atau tumor orbita. Enoftalmus, bola mata tertarik ke dalam misalnya pada dehidrasi atau sindrom Horner.

GERAKAN BOLA MATA


Dilakukan untuk mencari adanya kelainan pada N.III (okulomotorius), IV (troklearis), VI (abdusen). Strabismus,mata tidak dapat digerakkan ke satu arah diakibatkan kelumpuhan salah satu otot penggerak bola mata. Nistagmus,gerak bola mata yang involunter dan ritmik misal pada kelainan labirin dan N VIII.

Adanya edema palpebra pada penyakit sindrom nefrotik, penyakit jantung dan dakrioadrenitis. Dapat ditemukan peradangan berupa blefaritis (radang palpebra), dakriosistitis (radang kelenjar air mata), kalazion (radang pada tarsus), iridosiklitis (radang pada uvea Dapat ditemukan ektropion (palpebra melipat ke luar) pada senilitis, sikatriks atau tumor palpebra, entropion (palpebra melipat ke dalam) Lagoftalmus (mata tidak bisa menutup), ptosis (palpebra tidak dapat di angkat) misal pada kelumpuhan N III, miastenia gravis dan sindrom Horner

SEKRESI AIR MATA

Dapat di uji dengan menggunakan tes schirmer I dan II dengan kertas filter. Bertujuan untuk memeriksa berkurangnya produksi air mata, misalnya pada syndrom Schorgen (kerato konjungtivissika)

KONJUNGTIVA
Konjungtiva normalnya berwarna merah muda dengan vaskularisasi baik. Konjungtiva pucat pasien anemis. Bercak bitot avitaminosis A.dapat juga di jumpai lesi Sekret Konjuntiva konjuntivitis

SKLERA
Umumnya berwarna putih Berwarna kuning/ikterik pada kelainan metabolisme bilirubin. Sklera berwarna biru pada osteogenesis imperfecta. Dapat juga disertai peradangan.

KORNEA
Diamieter normal 12 mm ukuran bisa lebih besar (makro) atau kecil (mikro). Pada usia lanjut dapat di jumpai arkus senilis, pada penyakit Wilson dapat di temukan cincin hijau di sekitar kornea dapat ditemukan sklera kering (xerosis kornea). Tes sensibilitas kornea untuk mengetahui gangguan N V (Trigeminus)

Sclera ikterik

Udema palpebra

PUPIL
Ukuran pupil normal 4-5 mm. midriasis atau miosis, isokor atau anisokor. menentukan refleks pupil direct dan indirect

LENSA Dalam keadaan normal lensa jernih, dapat ditemukan lensa keruh pada katarak

Katarak

Bitot Spot

Pupil Pinpoint

TELINGA

Pemeriksaan telinga meliputi inspeksi, palpasi dan tes pendengaran. Tanda peradangan atau sikatrik serta benjolan misal pada penyakit gout. serumen, kelainan membran telinga pada otitis media. Otore (sekret telinga) juga adanya nyeri di daerah telinga pada otitis baik media maupun eksterna Tes berbisik, dilakukan dengan berbisik, namun penentuan derajat ketulian masih kasar Tes garputala, menggunakan metode tes Rinne, tes Weber, tes Scwabach

HIDUNG
Pemeriksaan meliputi inspeksi bagian luar dengan bantuan rinoskopi dan endoskopi serta fungsi menghidung dengan bebauan bentuk luar hidung apakah ada deviasi atau depresi septum serta pembengkakan hidung. epistaksis. Nafas cuping hidung. Sinus paranasal

MULUT

Bibir : Simetris/tidak, kering/tidak warna bibir biru (sianosis) warna bibir pucat (syok) Lidah : warna, kesimetrisan, kelembaban, luka, bercak dan pembengkakan Lidah kotor, tremor tifoid Lidah kering dehidrasi

Faring menekan lidah ke bawah menggunakan spatel lidah dapat ditemukan hiperemis (ISPA), post nasal drip. Selanjutnya pemeriksaan dapat menggunakan cermin laring untuk melihar tuba eustachius dengan mengarahkan cermin ke bagian atas. Tonsil Dilakukan untuk melihat ring waldayer, dapat ditemukan pembengkakan pada infeksinya. Pemeriksaan dapat dibantu dengan menggunakan cermin laring

BAU NAFAS
Aseton Amoniak Gangren Foetor hepatik

: ketoasidosis DM, kelaparan : koma uremikum : bau busuk, abses paru : koma hepatik

LEHER

Bentuk pemeriksaan meliputi simetrisitas, bengkak,leher panjang atau pendek, kurus atau gemuk. Leher gemuk pada pasiensindrom chusing obesitas, miksedema, kreatinisme

Kelenjar Getah Bening Hampir semua bentuk radang dan keganasan kepala melibatkan kelenjar getah bening. Bila ditemukan pembesaran maka diperhatikan nyeri, konsistensi atau melekat pada dasar kulit.

Kelenjar Tiroid

Tiroid diperiksa dengan cara inspeksi dan pelpasi, pasien disuruh menelan . Dapat juga ditemukan kelainan berupa pembesaran misal pada tirotoksikossis Maka perhatikan ukuran, konsistensi dan nyeri. Lakukan pula pemeriksaaan auskultasi, ditemukan bising atau bruits misalnya pada struma.

Tekanan Vena Jugularis


JVP mencerminkan atrium kanan krn penyakit jantung : Stenosis katup trikuspid Gagal jantung Regurgitasi trikuspid Distensibilitas jantung kanan krn tamponade jantung / konstriksi perikardium

Pengukuran JVP
Atur posisi pasien 30/45 derajat

JVP

Tinggi CVP= reference point tinggi atrium kanan ke angulus ludovici ditambah garis tegak lurus, jadi CPV= 5 + n cmH2O.

Arteri karotis Menunjukkan gambaran denyut jantung, kelainan misal pada akibat stenosis aorta. Trakea Inspeksi dilakukan untuk melihat simetrisitas, adanya benjolan dan nyeri tekan. Palpasi dilakukan untuk melihat adanya tarikan sesuai irama jantung pada aneurisme aorta

Contd

Gerakan terbatas: kaku kuduk pada meningitis, tetanus Leher miring ke arah yang sakit, sukar digerakkan karena nyeritortikolisinfeksi m. sternocleidomastoideus, m.trapezius, tb vertebra cervikalis Pembengkakan kelenjar limfe: tb kelenjar, leukemia, limfoma maligna Pembengkakan kelenjar gondok: Diperiksa dari belakang, pasien diminta menelan, auskultasi Letak trakea

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai