Anda di halaman 1dari 16

1

STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA AIR


Intisari
Potensi sumberdaya air di Jawa Timur mencapai 160.174,65 x 10 6 m3 dengan tingkat pemanfaatan sekitar 55,64% untuk kebutuhan domestik (rumahtangga), industri, pertanian, perikanan, degradasi dan kehilangan lainnya. Dengan peningkatan kebutuhan yang terus melonjak sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, maka ketersediaan tersebut dirasakan semakin mendekati ambang kritis, baik jumlah, mutu maupun pendistribusiannya yang terasa semakin terbatas. Hal ini terlihat dari tingkat ketersediaan air di kota besar, seperti Surabaya yang sering berada dalam kondisi kekurangan, baik jumlah, mutu dan keberlanjutannya. Untuk menghindari terjadinya defisit sumberdaya air secara tiba-tiba, maka strategi pengelolaan sumberdaya air perlu diarahkan pada pelestarian, efisiensi, distribusi dan pengaturan penggunaan sumberdaya air secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan berbagai sektor secara berkelanjutan.. Untuk mencapai tujuan penggunaan sumberdaya air secara berkelanjutan diperlukan perubahan pardigma penyusunan strategi pengelolaan sumberdaya air yang tidak terbatas pada managemen air tapi perlu digeser menjadi :managemen ecosistem sumberdaya air baik lingkungan alam maupun sosial. Usaha-usaha tersebut sercara rinci dijabarkan dalam bidang prioritas program sebagai berikut : A. Evaluasi Cadangan dan Kebutuhan Sumberdaya Air. B. Mutu Sumberdaya Air. C. Distribusi Pemanfaatan Sumberdaya Air. D. Pengelolaan Sumberdaya Air Secara Terpadu Berbasis Partisipasi Masyarakat.

1. Dasar Pemikiran 1.1 Latar Belakang

etersediaan sumberdaya air memegang peranan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor pembangunan. Saat ini, sektor pertanian di Jawa Timur masih merupakan sektor yang

dominan dalam hal pengunaan air (44,6%), kemudian industri (35,5%), rumahtangga (8,4%) dan sisanya untuk perikanan, penguapan, meresap di tanah dan lainnya. Dengan semakin berkembangnya industri di Jawa Timur, maka kebutuhan air untuk industri akan terus meningkat dan akan terus menekan penyediaan air untuk kebutuhan pertanian dan rumahtangga. Jika kebutuhan air tersebut tidak diantisipasi sejak dini, maka dikhawatirkan berakibat buruk pada perkembangan industri, yang akhirnya dapat mengakibatkan masalah ekonomi dan sosial yang dapat mengganggu pembangunan itu sendiri. Cadangan sumberdaya air bersumber dari potensi air yang berasal dari curah hujan, air permukaan dan air tanah. Dengan demikian ketersediaan sumberdaya air sangat tergantung dari berbagai factor. Managemen air hujan merupakan salah factor yang penting dan utama. Kegiatan managemen air hujan mencakup berbagai hal,yaitu : (a) upaya agar air hujan lebih banyak tertahan dan masuk tanah; (b) air hujan ditampung di permukaan; (c) air hujan dikelola masuk saluran air untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan pembangunan; dan (d) air hujan dimanfaatkan tanaman yang yang dapat meningkatkan nilai tambah, yaitu dikembalikan ke udara. Dengan upaya tersebut dapat diharapkan air hujan tetap menjadi rahmat dan tidak menjadi ancaman berupa banjir yang akan mengancam pembangunan itu sendiri. Dengan demikian pengelolaan sumberdaya air terkait dengan berbagai kepentingan berbagai sektor pembangunan. Oleh karena itu strategi pengelolaan sumberdaya air harus dilakukan secara lintas sektoral dengan tetap memperhatikan fungsi ganda dari air, yaitu fungsi ekonomi, sosial dan ekonlogi. Untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga sejahtera, pengelolaan sumberdaya air juga perlu difokuskan pada aspek kualitas air yang layak. Berdasarkan laporan Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah, pemanfaatan air di Jawa Timur berkisar sekitar 60% dari cadangan air yang ada, suatu jumlah dalam ukuran pengelolaan sumberdaya berkelanjutan berarti telah mendekati batas maksimum penggunaan yang diperkirakan sekitar 80%. Jika sumberdaya air tersebut tidak dikelola secara hati-hati, maka dalam jangka menengah akan sangat membahayakan kelangsungan pembangunan regional secara keseluruhan. Dalam pengelolaan sumberdaya air secara terpadu perlu menggunakan pendekatan watershed management yang menjangkau cakupan Daerah Aliran Sungai (DAS) mulai dari bagian hulu sampai dengan bagian hilir. Di Jawa Timur terdapat dua DAS, yaitu DAS Kali Berantas dan DAS Bengawan Solo. DAS Kali Berantas mencakup dan tersebar pada beberapa ruas sungai antara lain : Kali Lesti, Kali Berantas, Kali Kanal Magetan, Kali Porong dan Kali Surabaya. Mengingat sungai tersebut menjadi muara buangan berbagai limbah cair yang terkadang sangat berbahaya, maka pengelolaan sumberdaya air dengan sendirinya juga terkait dengan kemauan politik dan pengawasan

pencemaran serta penegakan hukum lingkungan oleh pemerintah atau pengawasan langsung masyarakat. Penggunaan air yang melimpah di pedesaan seyogianya mendapat perhatian khusus agar diperoleh cara pengelolaan sumberdaya air oleh masyarakat desa atau petani jangan hanya dipandang sebagai fungsi sosial dari sumberdaya air, tapi juga harus dilihat dari kepentingan pengelolaan secara efisien. Untuk selanjutnya diperlukan juga kebijakan yang dapat meningkatkan nilai ekonomi dan cadangan air yang dapat dilakukan oleh industri yang bersedia melakukan ketentuan teknik pemanfaatan air atau membayar pajak lingkungan dalam penggunaan sumberdaya air yang layak.

1.2 Strategi
Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka masalah yang dihadapi oleh Jawa Timur tentang pemanfaatan sumberdaya air adalah terkait dengan faktor geografis, kebijakan, perilaku sosial-ekonomi dan budaya masyarakat. Untuk itu, dalam penyusunan implimentasi Agenda 21 Jawa Timur, pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan harus mendapatkan prioritas utama. Adapun visi dan misi pengelolaan sumberdaya air di Jawa Timur dirumuskan sebagai berikut :

1.2.1 Visi
Sumberdaya air beserta segenap potensi ekonomi dan jasa-jasa yang dimilikinya, merupakan sumber penghidupan dan sumber pembangunan yang harus digunakan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang efisien, sejahtera, maju dan mandiri;

1.2.2 Misi
Pengelolaan sumberdaya air memerlukan : (1) penataan perencanaan penggunaan air secara terpadu antar berbagai sektor pembangunan; (2) menguatkan kelembagaan pengguna dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya air; (3) memberdayakan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya air secara efisien; (4) penggunaan air untuk kesejahteraan masyarakat; (5) pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan serta seimbang.

1.2.3 Tujuan
Tujuan pengelolaan sumberdaya air adalah sebagai berikut: (1) keterpaduan dalam perencanaan penggunaan air; (2) memperbaiki mutu sumberdaya air; (3) optimalisasi pemanfaatan sumberdaya air untuk berbagai pengguna; (4) pemberdayaan masyarakat pengguna air; dan (5) pendistribusian secara efisien dan berkelanjutan.

2. Program-program
Adapun bidang program pengelolaan sumberdaya air untuk memperoleh prioritas dalam implimentasinya di Jawa Timur adalah sebagai berikut : A. Evaluasi Cadangan dan Kebutuhan Sumberdaya Air. B. Mutu Sumberdaya Air. C. Distribusi Sumberdaya Air. D. Pengelolaan Sumberdaya Air Secara Terpadu Berbasis Partisipasi Masyarakat.

2.1 Bidang Program A EVALUASI CADANGAN DAN KEBUTUHAN SUMBERDAYA AIR 2.1.1 Dasar Pertimbangan
Jawa Timur mempunyai curah hujan antara 1000 mm 4000 mm per tahun. Air yang jatuh di permukaan bumi tersebut jumlahnya relatif konstan dari tahun ke tahun. Namun pada saat berada di permukaan bumi, ketersediaan air tergantung dari berbagai faktor eksternal, sepeerrti kadaan geologi, kelembabab, penguapan dan eportransportasi. Disamping itu, ketersediaan air permukaan khususnya air sungai, ditinjau dari aspek jumlah aliran airnya sangat dpengaaruhi kondisi vegetasi yang terdapat di daerah aliran sungai (DAS). Ketersediaan potensial air hujan tahunan di Jawa Timur adalah setara dengan debit air sebesar 80.892,00 x 106 m3 . Potensi air permukaan 26.716,01 x 106 m3 , dan air tanah 37.073,24 x 10 6 m3 . Pada awal tahun 90-an, kapasitas efektif danau/ situ alam mencapai 57. 106 m3 , waduk di Jawa Timur dengan kapasitas efektif 449,94. x 10 6 m3 , dan rawa 134,9 x 106 m3 . Hasil penelitian yang dilakukan selama tahun 1992 diperoleh gambaran total cadangan air di Jawa Timur mencapai 160,17 x 10 9 m3 . Potensi air yang dapat dimanfaatkan baru mencapai 17,87%, yaitu sebesar 28,62 x 109 m3 .Adapun air yang tidak termanfaatkan mencapai 44,37% terbuang ke laut., sisanya mencapai 13,51% hilang sebagai akibat berbagai faktor geografis maupun vegetatif. Berdasarkan sektor kegiatan, penggunaan air dapat dikelompokkan menjadi untuk kebutuhan domestik, irigasi pertanian dan industri mupun lainnya, yang pada tahun 1992 berturut-turut sebagai berikut : domestik 2,41 x 109 m3 , industrim 10,13 x 109 m3 , pertanian 12,72 x 109 m3, degradasi 3,35 x 109 m3 , perikanan 4,58 x 10 6 m3 dan lainnya 3,03 x 10

m3 . Dalam jangka panjang kebutuahn air untuk penduduk dan industri akan terus meningkat. Neraca yang dikembangkan untuk kebutuhan air di Jawa Timur dari potensi sebesar 160,17 x 109 m3 , telah dimanfaatkan sebesar 89,12 x 109 m3 , atau sebesar 55,64%. Dengan kenaikan jumlah penduduk dan perkembangan industri, maka jika tidak dikelelola secara hati-hati, ketersediaan air di Jawa Timur segera akan mencapai kondisi kritis. Kondisi kritis tersebut akan berdampak pada pengembangan dan pelaksanaan pembangunan lebih lanjut. Sebenarnya kondisi air di Jawa dan Bali pada awal 90-an ditengarai telah mengalami tingkat kritis yang tinggi. Keterbatasan air saat ini sebenarnya telah melanda kota besar di Jawa Timur, seperti di Surabaya.

2.1.2 Tujuan Program


Pada tahun 2002 2020 diharapkan sumberdaya air di Jawa Timur dapat dikelola secara berkelanjutan, mengingat potensi sumberdaya air di Jawa Timur masih cukup besar. Mengingat banyak kepentingan yang membutuhkan sumberdaya air tersebut, maka pengelolaan dan pengendaliannya selanjutnya harus dilakukan secara terpadu. Dengan mengacu permasalahan tersebut diatas, maka arah dan tujuan pengelolaan sumberdaya air dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Mengatur sistem pengadaan dan penggunaan air bagi penduduk kota dan desa, pertanian, industri, perikanan, parawisata melalui pelayanan air yang efisien; 2. Melakukan kajian, evaluasi dan pengembangan teknologi konservasi air, termasuk penyebarluasan IPTEK melalui penyuluhan penggunaan air yang efisien untuk setiap peruntukan, berkelanjutan dan prioritas kebutuhan; 3. Penegakan aturan penggunaan air permukaan maupun air bawah tanah menurut kriteria efisiensi dan memberikan pinalti setiap bentuk penyalah gunaan air dan pelanggaran terhadap ketentuan zone air tawar, untuk ditindak secara tegas dan konsisten; 4. Meningkatkan berbagai upaya, seperti pemberdayaan masyarakat dalam pengamanan hutan dan vegetasi lingkungan untuk menghilangkan faktor penyebab menurunnya kuantitas sumberdaya air di setiap DAS di Jawa Timur; 5. Mengembangkan sistem informasi sumberdaya air yang akurat dalam rangka proses perencanaan dan pengambilan keputusan untuk pengelolaan dan pengendalian sumberdaya air secara berkelanjutan.

2.1.3 Rencana Strategis 2002 2020


Bertitik tolak pada potensi, permasalahan dan tantangan masa depan pengelolaan sumberdaya air di Jaw Timur, maka rencana strategis pada PJP II adalah sebagai berikut :

1.

Pertama : mengembangkan sistem informasi (data base), monitoring, pengawasan dan penegakan aturan untuk keamanan cadangan dan kebutuhan sumberdaya air untuk berbagai penggunaan sektor industri, pertanian, domestik, perikanan dan lainnya; 2. Kedua : menata dan memperbaiki perencanaan sistem pengelolaan, pengendalian dan penerapan IPTEK untuk konservasi sumberdaya air dan pengelolaan air hujan secara terpadu dalam memenuhi peningkatan kebutuhan domestik di kota, kawasan industri dan irigasi pertanian mengacu pada kriteria pemanfaatan sumberdaya air secara efisien; 3. Ketiga : pemberdayaan mayarakat pengguna air, terutama di daerah yang mempunyai tingkat ketersediaan air yang terbatas dan kritis; 4. Keempat : mengatur penerapan pajak dan sistem penalti (green tax) untuk industri air yang mangacu pada kriteria konservasi sumberdaya secara berkelanjutan.

2.1.4 Tahapan Kegiatan Tahun 2002 2010


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Melakukan pendataan kebutuhan air bagi keperluan domestik, pertanian, industri dan wisata di wilayah potensial; Membuat bank data hidrologi antar propinsi dan daerah; Melakukan evaluasi potensi sumberdaya air antara propinsi dan daerah; Penentuan system perimbangan air (water balance) antara kebutuhan dan potensi di propinsi dan daerah; Meningkatkan penyuluhan penggunaan air untuk berbagai peruntukan, khususnya di wilayah ketersediaan air terbatas; Melakukan konservasi sumberdaya di wilayah hutan sumber cadangan air; Melakukan monitoring jumlah cadangan air permukaan dan air tanah di pusat lingkungan penduduk, pertanian dan industri;

Tahun 2010 2020


1. air; 2. Melakukan monitoring dan pendugaan cadangan air di berbagai lokasi yang dipersiapkan sebagai lokasi pembangunan, pemukiman dan pertanian; 3. Meningkatkan peranserta masyarakat dalam melakukan konservasi sumberdaya air dan memberikan insentif bagi warga /industri yang mentaatainya Penerapan penegakan hukum bagi pelanggar penggunaan

2.2 Bidang Program B PERBAIKAN MUTU SUMBERDAYA AIR 2.2.1 Dasar Pertimbangan
Sejalan dengan kenaikan jumlah penduduk dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan berdampak peningkatan limbah cair domestik ataupun limbah industri dan pertanian (pupuk, peptisida dan obat-obatan) yang berpengaruh negatif, baik langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan mahluk air maupun kesehatan manusia itu sendiri. Dampak limbah tersebut dalam perkembangannya ternyata tidak saja terjadi di daerah hilir sungai, akan tetapi telah merambah ke daerah hulu akibat pemanfaatan sungai untuk jamban keluarga. Akibat penurunan kualitas air yang berkelanjutan, bukan saja secara langsung dapat merugikan kegiatan produksi perikanan, tapi beban biaya yang akan semakin besar untuk menjadikan lingkungan air nyaman untuk kehidupan manusia itu sendiri. Belum lagi dampak negatif terhadap perubahan keanekaragaman jenis fauna dan flora di perairan yang kualitasnya menurun karena telah berada diluar kemampuan lingkungan untuk melakukan pemurnian alami (self purification). Akibatnya akan terjadi penimbunan sebagian besar limbah, sehingga penurunan kualitas sumberdaya air akan semakin memperburuk mutu air secara berkelanjutan.

2.2.2 Tujuan Program


Pada era pembangunan PJP II, kebutuhan akan mutu sumberdaya air yang baku dan menyehatkan diharapkan dapat diwujudkan. Mengingat menurunan kualitas air merupakan akibat dari berbagai sumber pencemar, maka pengelolaan sumberdaya air yang menghasilkan mutu yang kita butuhkan harus dilakukan secara listas sektor dan melibatkan masyarakat penghasil limbah dengan memberdayakan masyarakat luas, khususnya menyadarkan masyarakat industri. Upaya ini harus dilakukan yang dikaitkan dengan adanya ekolabelling dan diberlakukannya ISO 14000 dalam era perdagangan global saat ini. Dengan mengacu permasalahan arah dan tujuan serta tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air yang bermutu, maka arah dan tujuan pengelolaan mutu sumberdaya air pada era PJP II adalah sebagai berikut : 1. Mengatur sistem pembuangan limbah domestik (konsumen rumahtangga) maupun industri, termasuk limbah pertanian, peternakan, perikanan dan lainnya yang didukung dengan kampanye penyadaran masyarakat luas, khususnya masyarakat

2.

3. 4.

5.

industri, petani, rumahtangga dan masyarakat luas dalam peningkatan mutu air untuk kesehatan maupun persyaratan perdagangan global; Melakukan kajian, evaluasi dan pengembangan teknologi pengendalian limbah dan perbaikan mutu air, termasuk penyebarluasan IPTEK melalui penyuluhan penggunaan air yang sehat untuk setiap peruntukan; Penegakan aturan pengendalian limbah cair atau padat menurut kriteria kesehatan dan memberikan pinalti setiap bentuk pelanggaran secara tegas dan konsisten; Meningkatkan berbagai upaya, seperti pemberdayaan masyarakat dalam pembuangan limbah domestik dan kebersihan lingkungan untuk menghilangkan faktor penyebab menurunnya kuantitas sumberdaya air di setiap DAS di Jawa Timur; Mengembangkan sistem pengolahan limbah cair maupun limbah padat yang aman dalam rangka proses produksi industri untuk keperluan pengendalian limbah untuk menghasilkan cadangan air yang bermutu secara berkelanjutan.

2.2.3 Rencana Strategis 2002 2020


Bertitik tolak pada potensi, permasalahan dan tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai baku mutu dan kesehatan lingkungan, maka rencana strategis pada PJP II adalah sebagai berikut : 1. Pertama : mengembangkan sistem informasi (data base), monitoring, pengawasan dan penegakan aturan untuk pengendalian limbah domestik dan industri untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air yang memenuhi persyaratan baku mutu, kesehatan dan keamanan pengguna untuk berbagai kepentingan industri, pertanian, perikanan dan lainnya; 2. Kedua : menata dan memperbaiki perencanaan sistem pengendalian dan penerapan IPTEK untuk purifikasi limbah secara terpadu dalam memenuhi peningkatan kebutuhan sumberdaya air yang berkualitas untuk penduduk di kota, kebutuhan industri, perikanan dan konsumsi domestik mengacu pada kriteria pemanfaatan sumberdaya air yang menyehatkan bersih dari ancaman penyakit; 3. Ketiga : pemberdayaan mayarakat rumahtangga penghasil limbah domestik dan kawasan industri maupun pertanian, terutama di daerah perkotaan yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kumuh dan ketersediaan air yang terbatas dan kritis; 4. Keempat : mengatur penerapan pajak pencemaran dan sistem penalti (green tax) untuk industri yang belum memiliki kendali limbah mangacu pada kriteria baku mutu buangan pabrik yang aman; 5. Kelima : Mengkampanyekan gerakan pembudayaan PROKASIH (Program Kali Bersih) dengan melibatkan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.

2.2.4 Tahapan Kegiatan Tahun 2002 2010


1. 2. 3. 4. 5. Penyuluhan untuk menyebar luaskan kaitan pencemaran dan kualitas air permukaan dan air tanah; Meningkatkan kegiatan PROKASIH dengan melibatkan LSM; Meningkatkan tanggung jawab dan kapabilitas pengawasan pencemaran oleh industri; Meningkatkan pelaksanaan baku mutu limbah industri untuk bahan air minum dan perikanan; Melakukan kegiatan pengolahan limbah domestik untuk kota besar di setiap kawasan pemukiman.

Tahun 2010 2020


1. 2. 3. 4. 5. Melakukan pembuatan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan pemukiman; Melakukan kegiatan pengolahan limbah domestik cair dan padat (sampah) untuk produk (kompos) yang bermanfaat; Pengawasan ketat, khususnya minimisasi dampak negatif pembuangan limbah B3; Pemetaan peruntukan sumberdaya air untuk setiap DAS di Jawa Timur; Mengembangkan teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air yang rendah.

2.3 Bidang Program C DISTIBUSI SUMBERDAYA AIR DI JAWA TIMUR 2.3.1 Dasar Pertimbangan
Investasi industri di berbagai daerah di Jawa Timur ternyata tidak menyebar rata, karena pertimbangan prasarana ekonomi yang tersedia di lokasi industri. Pada umumnya perkembangan industri tumbuh pesat di berbagai kota besar seperti Surabaya dan di kota-kota yang berdekatan dengan fasilitas prasarna ekonomi yang diperlukan. Dalam pelaksanaan pembangunan industri tersebut, maka memerlukan penyediaan jumlah air yang lebih banyak, sehingga masalah distribusi ketersediaan air menjadi sangat penting. Jika distribusi penyediaan air tidak memperoleh perhatian secara memadai, maka akan muncul berbagai kendala dalam pelaksaanaan pembangunan tersebut, yang pada akhirnya akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

10

Disamping itu, akibat pemusatan industri telah tumbuh di kota-kota besar, maka akan memacu arus pendatang yang pada waktunya akan juga memerlukan penyediaan air yang makin meningkat. Yang berarti kebutuhan air di kota besar akan bertambah. Mengingat perkembangan industri di Indonesia memusat di Pulau Jawa, maka hasil berbagai analisa dikhawatirkan pada akhir tahun 2025, Pulau Jawa secara keseluruhan, termasuk di Jawa Timur, akan menghadapi krisis air, diduga akan defisit lebih dari 130 juta m3 per tahun. Untuk mengantisipasi kondisi kritis tersebut, maka pengelolaan dalam penyediaan dan distribusi air secara efisien sejak dini harus telah dipersiapkan.

2.3.2 Tujuan Program


Pada era pembangunan Tahun 2002 - 2020, kebutuhan akan jumlah air yang baku dan menyehatkan diharapkan dapat diwujudkan dan distribusikan secara efisien. Mengingat cadangan air adalah terbatas, maka pengelolaan distribusi sumberdaya air yang menyediakan jumlah yang kita butuhkan harus dilakukan secara cermat dan listas sektor dengan melibatkan masyarakat industri dan konsumen dengan memberdayakan masyarakat luas, khususnya menyadarkan masyarakat industri, bahwa cadangan air yang terbatas harus dapat didayagunakan untuk pertumbuhan ekonomi yang dapat dinikmati anak cucu secara berkelanjutan Dengan mengacu permasalahan arah dan tujuan serta tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air sesuai jumlah, maka arah dan tujuan pengelolaan distribusi sumberdaya air pada periode tersebut adalah sebagai berikut : 1. Mengatur sistem distribusi air untuk kebutuhan domestik (rumahtangga) maupun industri di kota-kota dan pertanian, termasuk perikanan yang didukung dengan kampanye penyadaran masyarakat luas, khususnya masyarakat industri dalam penggunaan jumlah air untuk kesehatan dan persyaratan kebutuhan rumahtangga dan kemajuan industri secara berkelanjutan dengan menyelaraskan kegiatan pembangunan berdasarkan daya dukung ketersediaan air permukaan dan air tanah dan mencegah timbulnya wabah penyakit; 2. Melakukan kajian, evaluasi dan pengembangan teknologi pengendalian untuk jaringan distribusi air, memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana, termasuk penyebarluasan IPTEK melalui penyuluhan penggunaan air yang dibenarkan untuk setiap peruntukan; 3. Penegakan aturan pengendalian managemen distribusi dan pemakaian air menurut kriteria kesehatan dan efisiensi, serta memberikan pinalti setiap bentuk pemborosan air secara tegas dan konsisten;

11

4. Meningkatkan berbagai upaya, seperti pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan air untuk kebutuhan rumahtangga domestik dan menghilangkan faktor penyebab menurunnya kuantitas sumberdaya air di setiap DAS di Jawa Timur dan kehilangan karena kesalahan sistem distribusi air yang tidak benar; 5. Mengembangkan sistem pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya air dalam rangka proses produksi industri untuk keperluan pengendalian distribusi air untuk menghasilkan penyediaan air sesuai jumlah yang dibutuhkan secara berkelanjutan;

2.3.3 Rencana Strategis 2002 2020


Bertitik tolak pada potensi, permasalahan dan tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai jumlah yang dibutuhkan rumahtangga dan industri maupun pertanian, maka rencana strategis pada Tahun 2002 2020 adalah sebagai berikut : 1. Pertama : mengembangkan sistem informasi (data base), monitoring, pengawasan dan penegakan aturan untuk pengendalian jaringan distribusi air untuk kebutuhan rumahtangga domestik dan industri untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air yang memenuhi persyaratan jumlah, kesehatan dan keamanan pengguna untuk berbagai kepentingan industri, pertanian, perikanan dan lainnya; 2. Kedua : menata dan memperbaiki perencanaan sistem pengendalian dan penerapan IPTEK untuk purifikasi atau produksi air tawar secara terpadu dalam memenuhi peningkatan jumlah kebutuhan sumberdaya air untuk penduduk di kota, kebutuhan industri, perikanan dan konsumsi domestik mengacu pada kriteria pemanfaatan sumberdaya air yang efisien dan terdistribusi secara adil dan merata; 3. Ketiga : pemberdayaan mayarakat rumahtangga pengguna air pada rumahtangga domestik dan kawasan industri maupun pertanian, terutama di daerah perkotaan yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kumuh dan ketersediaan air yang terbatas dan kritis untuk lebih menggunakan air secara lebih efisien; 4. Keempat : mengatur penerapan harga air dan Konservasi lahan di sekitar sumber mata air dengan penalti untuk industri maupun rumahtangga mangacu pada kriteria efisiensi; 5. Kelima : memperbaiki system tata air dan pengendalian kelebihan debit air/ banjir;

2.3.4 Tahapan Kegiatan Tahun 2002 2010


1. Pendataan cadangan air dan peruntukannya secara akurat di berbagai lokasi pengguna dan jaringan DAS terkait; 2. Membuat kebijakan penyebaran dan pemerataan pembangunan di lokasi lingkungan yang tersedia cukup cadangan air;

12

3. Menata pemanfaatan dan pengendalian sumberdaya air bagi setiap sektor pengguna yang ada di setiap kawasan penduduk, pertanian dan industri, termasuk minimalisasi bahaya banjir; 4. Membuat sistem disinsentif untuk mencegah pemborosan penggunaan air; 5. Membatasi ruang gerak limbah yang mencemari sumberdaya air untuk minum , perikanan dan industri;

Tahun 2010 2020


1. Meningkatkan upaya pencegahan pencemaran melalui berbagai kegiatan seperi PROKASIH atau penggunaan teknologi tepat, khusunya untuk konsumsi domestik sesuai baku mutu air minum; 2. Mengembangkan teknologi tepat untuk industri pengolah sumberdaya air kualitas rendah untuk mengantisipasi kemungjkinan kondisi kritis cadangan sumberdaya air

2.4 Bidang Program D PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR SECARA TERPADU 2.4.1 Dasar Pertimbangan
Eksplotasi sumberdaya alam yang semata-mata hanya mementingkan aspek ekonomi saja tanpa mempertimbangkan kepentingan ekologi ternyata telah menyebabkan kondisi berbagai sumberdaya alam yang ada saat ini dalam keadaan kritis. Keadaan sumberdaya air di Jawa Timur ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitas makin nyata nampak adanya kemerosotan lingkungan menuju keadaan yang makin parah yang ditunjukkan semakin meluasnya terjadi Keadaan Luar Biasa (KLB) seperti banjir bandang di Banyuwangi pada tahun 2001 atau tempat lain yang terjadi secara tiba-tiba yang belum pernah terjadi sebelumnya, atau bencana kekeringan di berbagai lokasi. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh karena fungsi pengawasan dan managemen air hujan yang merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan lingkungan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Adanya kejadian KLB banjir bandang yang tidak lazim tersebut mengisyaratkan bahwa usaha pemulihan sumberdaya air perlu dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan yang terjadi di masa depan akan menjadi makin parah dan agar tidak menjadi beban biaya masyarakat yang bisa-bisa menjadi tidak tertanggung lagi. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian program sebelumnya, baha ketersediaan sumberdaya air di Jawa Timur, baik ditinjau dari segi kuantitas, kualitas dan penyebarannya mengandungkan keterkaitan

13

langsung dengan resiko pembangunan yang sedang kita laksanakan. Apabila kebijaksanaan pembangunan di masa datang tidak menyesuaikan dengan paradigma lingkungan, maka dikhawatirkan perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi yang kita harapkan berbalik menjadi kemunduran yang datang secara tiba-tiba yang akan berdampak ambruknya tatanan sosil-budaya dan ketahanan masyarakat. Tantangan masa depan adalah berupa perlu dilakukannya kebijakan pengelolaan sumberdaya air yang tidak hanya menyangkut kegiatan industri skala besar, tapi juga mencakup kegiatan sekala kecil. Di Jawa Timur, saat ini terdapat lebih dari 465.000 unit industri yang bukan saja membutuhkan sejumlah cadangan air, tapi juga menyediakan sumber percemaran cair yang mempengaruhi kualitas air itu sendiri. Wilayah pencemaran terpusat di dua wilayah DAS Bengawan Solo dan Kali Brantas. Mengingat jumlah cadangan air dan distribusinya sangat terkait dengan penyebaran vegetatif di sepanjang DAS maupun hutan di wilayah hulu DAS, maka pengelolaan sumberdaya air harus benarbenar ditangani dengan cara melibatkan berbagai komponen lintas sektor dengan cara menyanmakan visi dan misi yang mengacu pada paradigma ekologis secara berkelanjutan.

2.4.2 Tujuan Program


Saat ini, pengelolaan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah Jawa Timur adalah melakukan pencegahan penurunan mutu air melalui PROKASIH melalui pengendalian limbah industri. Program ini masih harus ditingkatkan. Sedangkan usaha lain berupa pengelolaan jumlah air berupa penghutanan kembali dan pengembangan pusat-pusat sumber air di hulu sungai, serta penataan irigasi yang dapat berfungsi mendistribusikan air untuk pertanian secara efisien. Dengan mengacu permasalahan, arah dan tujuan serta tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air sesuai jumlah mutu dan distribusinya secara merata sesuai kebutuhan domestik maupun industri, maka arah dan tujuan pengelolaan sumberdaya air pada era PJP II adalah sebagai berikut : 1. Mengatur sistem pengelolaan air untuk kebutuhan domestik maupun industri di kota-kota yang didukung dengan kampanye penyadaran masyarakat luas, khususnya masyarakat industri dalam penggunaan jumlah air dan limbah industri untuk mempertimbangkan faktor kesehatan dan persyaratan kebutuhan rumahtangga dan kemajuan industri secara berkelanjutan dengan menyelaraskan kegiatan pembangunan berdasarkan daya dukung ketersediaan air permukaan dan air tanah yang ada dan mencegah timbulnya wabah penyakit; 2. Melakukan kajian, evaluasi dan pengembangan teknologi pengendalian untuk jaringan distribusi air dan pengendalian mutu air

14

untuk rumahtangga, pengendalian bahaya banjir memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana, termasuk penyebarluasan IPTEK melalui penyuluhan penggunaan air yang dibenarkan untuk setiap peruntukan; 3. Penegakan aturan pengendalian baku mutu air, ketentuan jumlah dan jaringan distribusi dan pemakaian air menurut kriteria kesehatan dan efisiensi, serta memberikan pinalti setiap bentuk pemborosan air secara tegas dan konsisten; 4. Meningkatkan berbagai upaya, seperti pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan air untuk kebutuhan rumahtangga domestik dan menghilangkan faktor penyebab menurunnya kuantitas sumberdaya air di setiap DAS di Jawa Timur dan kehilangan air karena kesalahan sistem distribusi yang tidak benar; 5. Mengembangkan sistem pengolahan dan teknologi pemanfaatan sumberdaya air, khususnya managemen air hujan secara terpadu untuk keperluan pengendalian distribusi air agar menghasilkan penyediaan air sesuai jumlah yang dibutuhkan secara berkelanjutan;

2.4.3 Rencana Strategis 2002 2020


Bertitik tolak pada potensi, permasalahan dan tantangan masa depan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai jumlah dan mutu yang dibutuhkan rumahtangga dan industri maupun pertanian secara merata, maka rencana strategis pada Tahun 2002 - 2020 untuk pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan adalah sebagai berikut : 1. Pertama : mengembangkan sistem informasi (data base), monitoring, pengawasan dan penegakan aturan untuk pengendalian jumlah, mutu dan jaringan distribusi air untuk kebutuhan rumahtangga domestik dan industri untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air yang memenuhi persyaratan jumlah, kesehatan dan keamanan pengguna untuk berbagai kepentingan industri, pertanian, perikanan dan lainnya; 2. Kedua : menata dan memperbaiki sistem pengendalian dan penerapan IPTEK untuk purifikasi atau produksi air tawar yang menyehatkan secara terpadu dalam memenuhi peningkatan jumlah kebutuhan sumberdaya air untuk penduduk di kota, kebutuhan industri, perikanan dan konsumsi domestik mengacu pada kriteria baku mutu, pemanfaatan sumberdaya air yang efisien dan terdistribusi secara adil dan merata; 3. Ketiga : pemberdayaan mayarakat rumahtangga pengguna air pada rumahtangga domestik dan kawasan industri maupun pertanian, terutama di daerah perkotaan yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kumuh dan ketersediaan air yang terbatas dan kritis untuk lebih menggunakan air dengan teknologi sederhana untuk menghasilkan air sesuai baku mutu secara lebih efisien; 4. Keempat : penegakan peraturan pemanfaatan air permukaan dan air tanah yang dikaitkan dengan penerapan harga air dengan

15

penalti untuk industri maupun rumahtangga mangacu pada kriteria efisiensi; 5. Kelima : menyusun perencanaan terpadu pengelolaan lahan kritis, DAS, PROKASIH, waduk reservoir, pengendalian banjior dan limbah secara berkelanjutan yang akan dipakai sebagai dasar pendugaan neraca cadangan dan kebutuhan air sesuai dengan daya dukung lingkungan Jawa Timur.

2.4.4 Tahapan Kegiatan Tahun 2002 2010


1. Membuat pengelolaan sarana , prasarana dan sumberdaya air di wilayah DAS secara terpadu untuk menjaga ketersediaan dan kelimpahan air untuk berbagai pengguna sepanjang tahun; 2. Meningkatkan parameter dan baku mutu air bersih di dalam kerangka PROKASIH; 3. Rehabilitasi daerah cadangan air di kawasan hulu maupun hilir DAS yang menghadapi kondisi kritis; 4. Pembuatan reservoir air di kawasan kritis air; 5. Melakukan pendugaan beban limbah, daya purifikasi DAS dan pengembangan teknologi untuk penanggulangannya; 6. Melakukan evaluasi dampak penggunaan berbagai pestisida terhadap mutu sumberdaya air dan melakukan pencegahan terjadinya pencemaran terhadap badan air tanah untuk konsumsi domestik dan industri; 7. Membuat penghitungan ulang terhadap neraca ir dan daya dukung setiap kawasan DAS secara berkesinambungan;

Tahun 2010 2020


1. 2. 3. 4. 5. Penerapan penegakan hukum bagi pelanggar pencemaran lingkungan secara tegas dan konsisten; Melanjutkan kegiatan PROKASIH dengan baku parameter lebih akurat; Meningkatkan kapasitas tampung cadangan air untuk kepentingan berbagai pengguna untuk menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan; Meningkatkan kemampuan konservasi lahan di daerah resapan air di wilayah lahan kritis; Melakukan pengolahan limbah domestik dan industri yang dapat memperbaiki mutu air di kawasan DAS.

Daftar Pustaka
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (1996) : Agenda 21 Indonesia. Strategi Untuk Pembangunan Berkelanjutan.

16

Pemerintah Prop. Jawa Timur (1993) : Neraca Lingkungan Hidup Daerah.