Anda di halaman 1dari 4

1.

Dari artikel tersebut dapat kita ketahui bahwa ada 2 masalah utama yaitu masalah kurangnya regenerasi (tenaga kerja muda) di bidang pertanian, dan tingginya kehilangan panen bila penanganan pasca panen dilakukan oleh manusia secara tradisional. Dari kedua masalah tersebut, menurut kelompok kami dengan adanya masalah regenerasi tadi seharusnya sebagai pemuda kita tidak usah malu untuk terjun ke lahan sebagai petani karena bagaimanapun itu pertanian merupakan bidang utama penyokong kehidupan suatu bangsa. Bila para pemudanya saja tidak mau lagi terlibat langsung di bidang tersebut maka pada akhirnya Negara ini akan kelaparan. Selain itu, petani juga harus menurunkan ilmu taninya serta menanamkan rasa cinta terhadap pertanian kepada anak-anak mereka sehingga nantinya terdapat regenerasi untuk meneruskan estafet budidaya dilahan. Sedangkan untuk masalah kedua yaitu tingginya kehilangan hasil panen bila dilakukan oleh manusia secara tradisional, sehingga membuat para pemilik lahan pertanian lebih memilih mengggunakan mesin panen. Dalam hal ini bila dilihat dari aspek tenaga kerja manusianya pasti merupakan masalah karena dengan adanya mesin ini dapat mengurangi jumlah tenaga kerja manusianya. Tetapi bila dilihat dari segi efektifitas dan efisiensinya tentu kita sebagai pemilik lahan tidak ingin mengalami kerugian sehingga untuk mensasatinya yaitu sudah benar dengan

penggunaaan mesin panen. Selain itu juga meskipun sudah menggunakan mesin, para buruh panen dapat tetap bekerja memanen disawah-sawah yang petakannya kecil, bentuknya berbelok-belok, berteras-teras yang sulit dijalani oleh mesin panen. Jadi tetap ada keseimbangan diantara mtenaga mesin dan manusianya. a. Kurang rangsangan Maksud dari masalah kurang rangsangan ini adalah dimana para petani di Indonesia umunya tidak diberi subsidi. Kurangnya rangsangan menyebabkan tidak adanya rasa percaya diri (self reliances) pada petani pelaku usahatani akibat kondisi yang dihadapi. Contohnya saja petani beras dan kedelai, dimana produksi beras dalam satu hektar lebih besar disbanding produksi kedelai. Karena itulah petani kedelai banyak yang beralih menanam komoditas lain sehingga mengakibatkan kurangnya produksi dalam negeri. Sebenarnya, hal ini bisa diatasi bila pemerintah mau memberikan subsidi untuk petani kedelai. Sehingga para petani kedelai paling tidak merasa mendapatkan bantuan sehingga mau berbudidaya kedelai kembali.

b. Lemah tingkat teknologinya Peran penyuluh pertanian harus lebih besar dalam menyelesaikan masalah ini, bisa dengan cara pemberian penyuluhan secara teratur kepada kelompok-kelompok tani di suatu desa. Agar para petani tersebut tidak ketinggalan informasi tentang teknologi terbaru di bidang pertanian untuk meningkatkan produksi, serta pemberian informasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dalam berbudidaya. Para penyuluh juga harus mempraktekkan sendiri teknologi-teknologi tersebut agar petani menjadi percaya dan lebih mudah menerima teknologi tersebut untuk diterapkan. c. Langkanya permodalan untuk pembiayaan usahatani Kemampuan petani untuk membiayai usahataninya sangat terbatas sehingga produktivitas yang dicapai masih di bawah produktivitas potensial. Untuk menghadapi masalah langkanya modal usahatani, kredit pertanian menjadi penting. Dalam hal ini pemerintah perlu menyediakan fasilitas kredit kepada petani dengan syarat mudah dicapai, prosedur mudah dan suku bunga yang relatif rendah Keadaan yang demikian belum sepenuhnya ada. Karena itulah, seharusnya pemerintah melakukan perbaikan-perbaikan dalam menjalankan kredit usahtani agar para petani benar-benar bisa memanfaatkannya dengan baik. d. Masalah transformasi dan komunikasi Adanya isolasi yang menutup terbukanya komunikasi dan langkanya transportasi menjadi masalah yang masih sering dialami oleh petani-petani kecil terutama di daerah-daerah tertinggal. Masalah ini harus segera diselesaikan misalnya dengan perbaikan sarana transportasi dimana transportasi menjadi sangat penting untuk mendistribusikan hasil pertanian mereka. Sedangkan untuk sarana komunikasi bisa dimuai dengan penngaktifan kembali kelompok-kelompok petani, karena informasi yang didapat petani biasanya di dapatkan dari teman sesame petani sehingga peran penyuluh juga untuk membina kelompok-kelompok tani tadi sangat diperlukan. e. Kurangnya informasi harga Petani-petani kecil biasanya menjual hasil panennya kepada tengkulak tanpa tahu harga terbaru komoditas yang mereka budidayakan tersebut dipasaran. Sehingga mereka kadang menjual dengan harga jauh dibawah harga pasaran yang akhirnya menimbulkan kerugian. Sehingga dalam masalah ini, diperlukan engetahuan yang lebih oleh petani

tentang harga, misalnya saja dengan mencari harga terbaru komoditas yang mereka budidayakan di internet sehingga apabila mereka menjual ke tengkulak, paling tidak mereka tidak mengalami rugi besar. Namun, akan lebih baik lagi bila mereka langsung menjual hasil pertaniannya ke pasar sehingga untung yang mereka dapat bisa lebih besar. f. Adanya gap penelitian terpakai untuk petani Masalah utama dalam gap ini adalah adanya kesenjangan antara peneliti dan petani. Terjadi kelambatan dan adanya proses adaptasi hasil penelitian, sehingga akan lebih baik bila peneliti-peneliti pertanian dalam melakukan penelitian juga mempertimbangakan akan kemudahan dari hasil penelitiannya untuk diadaptasi oleh petani serta hasil dari penelitiannya harus diusahakan secepatnya bisa tersampaikan ke petani agar bisa langsung diaplikasikan dan dirasakan manfaatnya dioleh para petani. g. Luasan usaha yang tidak menguntungkan Masalah tentang lahan adalah masalah pokok yang sering dialami petani Indonesia, solusi yang sudah sering dilakukan untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan penerapan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Dengan begitu dengan luasn lahan yang sempit pun petani tetap bisa menghasilkan produksi yang maksimum. h. Belum mantapnya sistem dan pelayanan penyuluhan Peran penyuluh pertanian dalam pembangunan masyarakat pertanian sangatlah diperlukan. Dalam arti bahwa peran penyuluh pertanian tersebut bersifat back to basic, yaitu penyuluh pertanian yang mempunyai peran sebagai konsultan pemandu, fasilitator dan mediator bagi petani. Untuk itu maka secara gradual dibutuhkan pengembangan peran dan posisi penyuluh pertanian yang antara lain mencakup diantaranya penyedia jasa pendidikan (konsultan) termasuk di dalamnya konsultan agribisnis, mediator pedesaan, pemberdaya dan pembela petani, petugas profesional dan mempunyai keahlian spesifik. Serta harus lebih banyak lagi sarjana-sarjana pertanian yang langsung turun ke lapang dan menjadi penyuluh serta berbagi ilmu kepada para petani. Terutama di daerahdaerah terpencil yang pertaniannya belum maju. i. Meningkatnya jumlah produsen dan perubahan harga Masalah perubahan harga yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah produsen seharusnya dapat diatasi dengan pemberian informasi, serta pemberian pengetahuan kepada para petani agar mindset petani berubah dan tidak akan berbondong-bondong

menanam komoditas yang sama pada waktu yang sama dan dalam wilayah yang berdekatan untuk menanggulanngi jatuhnya harga panen komoditas di pasaran. Dibutuhkan juga kebijakan pemerintah untuk membeli komoditas saat panen raya, agar harga tidak turun dan simpanan tersebut dapat digunakan saat musim paceklik tiba. j. Menurunnya harga Untuk mengatsi masalah yang merupakan kebalikan dari masalah sebelumnya ini sebenarnya sama seperti masalah sebelumnya yaitu diperlukan pemberian pengetahuan serta informasi ke pada petani bahwa meskipun sekarang harga suatu komoditas di pasar masih murah namun permintaan akan komoditas tersebut tetap ada. Selain itu sama seperti masalah sebelumnya, dalam masalah ini juga dperlukan peran pemerintah untuk menstabilkan harga dipasaran dengan memberi tambahan komoditas yang jarang ditanam petani. Agar tidak sampai terjadi kenaikan harga yang signnifikan.

Adiwilaga, Anwas. 1982. Ilmu Usahatani. Bandung : Penerbit Alumni. Fadholi, Hermanto. 1981. Bahan Bacaan Pengantar Ekonomi Pertanian. Bogor : Pendidikan Guru Kejuruan Pertanian Fakultas Politeknik Pertanian Bogor Hernanto, Fadholi. 1991. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta Kasryno, Faisal. 1984. Prospek Pengembangan Ekonomi Pedesaan Indonesia.Jakarta : Yayaysan Obor Indonesia. Paskomnas. 2013. http://paskomnas.com/id/berita/Biaya-panen-murah-produksi-meningkat.php Diakses 3 Oktober 2013 Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi . Jakarta: Rajawali