Anda di halaman 1dari 5

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI STEROID YANG BERASAL DARI KULIT AKAR Kleinhovia hospita Linn.

(PALIASA) ANTI-BACTERIAL ACTIVITY OF STEROID COMPOUND FROM ROOT BARK OF Kleinhovia hospita Linn. (PALIASA) Ray Fandi, Nunuk H. Soekamto, Nursiah La Nafie. Chemistry department, Hasanuddin University ABSTRAK Senyawa turunan steroid yaitu -sitosterol telah berhasil diisolasi dari ekstrak n-heksan kulit akar tumbuhan Kleinhovia hospita L. (paliasa). Senyawa yang diperoleh diuji golongan senyawa dan dielusidasi strukturnya berdasarkan data spektroskopi IR dan dibandingkan dengan literatur. Senyawa ini juga memperlihatkan aktivitas positif terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella thypi dan Streptococcus mutans, dengan nilai daya hambat berturut-turut yaitu 14,4 ; 19,5 dan 21 mm. Kata kunci : Kleinhovia hospita L., -sitosterol, Staphylococcus aureus, Salmonella thypi dan Streptococcus mutans. ABSTRACT A steroid compound -sytosterol, has been isolated of the n-hexane extract from the root bark of Kleinhovia hospita Linn. (paliasa). The obtained compound tested on group test and structurally elucidated based on IR spectroscopic and comparing literature data. These compound also shown the positive activity to bacteria of Staphylococcus aureus, Salmonella thypi and Streptococcus mutans with inhibition diameter 14,4 ; 19,5 dan 21 mm respectively. Keyword : Kleinhovia hospita L., -sytosterol, Staphylococcus aureus, Salmonella thypi and Streptococcus mutans

Pendahuluan Tumbuhan berkhasiat obat dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional yang diakui masyarakat dunia sebagai back to nature, untuk mencapai kesehatan yang optimal dan mengatasi berbagai penyakit secara alami (Wijayakusuma, 2000). Penemuan spesies tumbuhan baru menyebabkan makin diperlukannya konservasi, pemanfaatan dan pengembangan tumbuhan Indonesia yang berpotensi sebagai obat. Bahan obat tradisional sebagai bagian dari bahan alam merupakan bahan baku utama skrining dalam upaya menentukan komponen aktif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat baru (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tanpa tahun). Beberapa spesies tumbuhan tingkat tinggi yang tumbuh di hutan tropika, telah diketahui mengandung senyawa kimia dari berbagai golongan, antara lain terpenoid, fenilpropanoid, flavonoid, turunan benzofuran, dan asam fenolat, serta oligomer stilbenoid (Atun, 2005). Sejumlah senyawa oligomer stilbenoid telah dilaporkan berpotensi sebagai anti-tumor, anti inflamasi, anti-bakteri, bersifat kemopreventif, hepatoprotektif, dan anti HIV (Tanaka, dkk., 2000). Hasil survei yang dilakukan oleh Heyne (1987), salah satu spesies dari famili Sterculiaceae yaitu Kleinhovia hospita Linn. (paliasa) yang tersebar secara luas di kepulauan Indonesia terutama di bagian timur Indonesia (Sulawesi, Maluku, Papua) serta di daerah Jawa dan Sumatra, daunnya dimanfaatkan sebagai obat penyakit kusta, liver, hipertensi, diabetes, dan kolestrol tinggi. Oleh

sebab itu K. hospita diyakini mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki bioaktivitas tertentu (Herlina, 1993). Berdasarkan uraian di atas, eksplorasi metabolit sekunder pada fraksi n-heksan kulit akar K. hospita yang belum diketahui senyawa murninya perlu dilakukan dan juga uji bioaktivitasnya sebagai antibakteri diuji terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella thypi dan Streptococcus mutans. Metode Penelitian Spektrum IR diukur dengan spektrometer IR Perkin Elmer FT-IR (KBr). Fraksinasi menggunakan silika gel 60 (7733), silika gel 60 (7734), silika gel 60 (7730)dan analisis KLT menggunakan plat KLT. Ekstraksi dan Isolasi. Hasil maserasi kulit akar tumbuhan K. hospita (3,2 kg) diperoleh ekstrak metanol sebanyak 59,85 gr. Maserat tersebut kemudian dipartisi secara kontinyu mulai dari pelarut non polar yaitu n-heksan, semipolar kloroform dan polar etil asetat selanjutnya diperoleh estrak n-heksan berupa residu berwarna kuning seberat 10,58 gr, ekstrak kloroform berupa residu berwarna coklat seberat 21,16 gr dan ekstrak etil asetat berupa residu berwarna merah bata seberat 15,59 gr. Ekstrak n-heksan (10,58 gr.) difraksinasi awal melalui kromatografi kolom vakum dengan eluen n-heksan, EtOAc ; n-heksan, EtOAc, Aseton dan metanol dengan urutan kepolaran yang ditingkatkan. Pada tahap ini diperoleh 23 fraksi dengan kromatogram, dan fraksi-fraksi yang mempunyai nilai Rf sama digabungkan, sehingga diperoleh 11 fraksi utama (Ruhmah, 2008). Fraksi-fraksi tersebut diambil 3 dari 11 fraksi utama (fraksi H,I dan J), kemudian difraksinasi kembali menggunakan alat kromatografi yaitu KKV, KKT dan KKG dengan eluen n-heksan, EtOAc ; n-heksan, EtOAc, Aseton dan metanol dengan urutan kepolaran yang ditingkatkan. Setiap hasil dari fraksinasi akan dimonitor dengan analisis KLT. Dari hasil fraksinasi pada fraksi, diperoleh fraksi L (fraksi H2, H3, I2 dan J5) dengan berat 315,7 mg yang selanjutnya dilakukan proses pemurnian untuk memperoleh kristal murni dengan pelarut klroform;n-heksan dan metanol panas. Pada tahap identifikasi, senyawa murni yang diperoleh diuji kemurniannya dengan mengukur titik leleh dan juga analisis KLT pada tiga macam sistem eluen. Data spektroskopi untuk penetapan struktur diperoleh dengan menganalisis senyawa murni melalui alat lampu UV, IR, 1H dan 13C-NMR. Isolat Tunggal. Berbentuk kristal putih seberat 15 mg dengan titik leleh isolat tersebut 287-288 0C dan hasil uji golongan memberikan warna biru setelah penambahan asam asetat anhidrat dan H2SO4 yang menunjukkan positif senyawa steroid. Data Spektroskopi Isolat tunggal yaitu IR (KBr) vmaks cm-1 : 3417 (OH), 1058 (C-O), 2956, 2935, 2866 (C-H alifatik), 1464 dan 1377 tekukan (CH2dan CH3) serta 1543 (C=C). Sedangkan Spektrum IR (KBr) pada senyawa -sitosterol sebagai standar (Salempa, 2009) untuk membandingkan dengan Isolat tunggal. 3412 cm-1 (OH), 1049,28 cm-1 (CO), 2956, 2935 dan 2866 cm-1 (C-H alifatik), 1462 cm-1(CH2), 1379 cm-1 (CH3) dan 1664 cm-1 menunjukkan gugus olefin (C=C).

Gambar 1. Spektrum IR Isolat Tunggal dan senyawa -sitosterol Tabel 1. Data spektroskopi IR untuk isolat tunggal dan -sitosterol (Salempa, 2009).
Isolat Tunggal (cm-1) 3417,86 2956,87 2935,66 2866,22 1643,35 1464,7 1377,17 1058,92 -sitosterol (cm-1) 3412,08 2956,87 2935,66 2866,22 1664,57 1462,04 1379,10 1049,28 Keterangan O-H (hidroksil) C-H (alifatik) C-H (alifatik) C-H (alifatik) C=C (gugus olefin) CH2 (etil) CH3 (metal) C-O (oksikarbon)

Analisis spektrum IR diperoleh hasil seperti pada Tabel 1. Spektrum pada Gambar 1 tidak memperlihatkan perbedaan yang cukup jauh pada pergeseran panjang gelombang. Berdasarkan hasil dan analisis data spektroskopi IR dan KLT isolat tunggal dengan -sitosterol yang memberikan Rf yang sama, maka isolat tunggal dapat disimpulkan sebagai -sitosterol dengan struktur seperti pada Gambar 2 di bawah.

Gambar 2. Struktur Isolat Tunggal (-sitosterol) Perlu diketahui bahwa senyawa -sitosterol mampu menghambat kerja enzim yang mengkonversi testosterone menjadi dehidrotestosteron (DHT) yang merupakan penyebab terjadinya kanker prostat (Renai Sante, 2004). Selain itu menurut Yuk (2007), -sitosterol merupakan senyawa

yang efektif digunakan dalam penyembuhan penyakit asma, sehingga memungkinkan senyawa ini untuk dikembangkan sebagai obat terapi penyakit alergi. Uji Bioaktivitas Daya Hambat Isolat Tunggal (-sitosterol) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella typhi dan Streptococcus mutans. Uji bipoaktivitas isolate tunggal dilakukan terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella typhi dan Streptococcus mutans. Kontrol positif yang digunakan pada pengujian bioaktivitas antibakteri adalah kloramfenikol sedangkan yang digunakan sebagai kontrol negatif adalah propilen glikol. Metode yang digunakan dengan difusi agar berlapis (Kusmiati dan Agustini, 2006). Dari hasil pengukuran diameter hambatan senyawa hasil isolasi (isolat tunggal) terhadap tiga bakteri uji setelah masa inkubasi 24 jam, diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan Tabel 2. Tabel 2. Hasil pengukuran daya hambat terhadap bakteri uji
Rata-Rata Diameter Zona Hambatan (mm) Kode Isolat Tunggal Staphylococcus aureus A B C D Senyawa I Senyawa II Kontrol (+) Kontrol (-) 14,5 11 26.5 0 Salmonella typhi 19,5 18 19 0 Streptococcus mutans 21 13 20 0

C D B A
Gambar4. Hasil Uji Bioaktivitas Daya Hambat Isolat Tunggal (sitosterol) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi.

Gambar 3. Hasil Uji Bioaktivitas Daya Hambat Isolat Tunggal (sitosterol) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus.

Gambar 5. Hasil Uji Bioaktivitas Daya Hambat Isolat Tunggal (sitosterol) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans.

Kesimpulan. Isolasi dari fraksi n-heksan kulit akar tumbuhan Kleinhovia hospita Linn. diperoleh senyawa -sitosterol yang termasuk dalam golongan steroid. Senyawa yang diperoleh dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella thypi dan Streptococcus mutans, dengan daya hambat berturut-turut 14,4 ; 19,5 ; 21 mm. Ucapan Terima Kasih. Ucapan terima kasih dapat kami berikan kepada Herbarium Bogoriensis LIPI BOGOR untuk mengidentifikasi spesimen tumbuhan, LIPI Serpong Bandung untuk analisis Spektrometer IR, dosen pembimbing yang telah berkenang meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan memberikan petunjuk yang begitu berharga, Jurusan Kimia FMIPA UNHAS dan Tim Peneliti Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) yang banyak membantu. Daftar Pustaka Atun, S., 2005, Pengembagan Potensi Bahan Alam sebagai Sumber Penemuan Obat Baru, Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Kimia, Universitas Negeri Yogyakarta, 24 September. Herlina, 1993, Pengaruh Infus Daun Kayu Paliasa (Kleinhovia hospita Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Kelinci, Cermin Dunia Kedokteran 8 : 94. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid III, Terjemahan Oleh BalitBang Kehutanan, Yayasan Sarana Warna Jaya, Jakarta. Kusmiyati dan Agustini N.W.S., 2006, Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari Mikroalga Porphyridium cruentum, Biodiversitas 8 (1), 48-53. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Tanpa Tahun, Sub Program Pengembagan Bahan Baku Obat Berbasis Biodisversitas Indonesia, LIPI, Indonesia. Ruhmah, 2008, Isolasi dan Identifikasi Metabolit Sekunder dari Ekstrak n-Heksana Kulit Akar Tumbuhan Kleinhovia hospita Linn. (Paliasa) dan Uji Toksisitasnya terhadap Artemia salina Leach., Tesis Tidak Diterbitkan, Makassar : Jurusan Kimia Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Salempa, P., Noor, A., Soekamto, N.H. dan Harlim, T., 2009, Bioaktivitas Fraksi n-heksan dan Senyawa -sitosterol dari Kayu Akar Pterospermum subpeltatum C.B.Rob., Farmakologi 4 (2), 45-50. Wijayakusuma, H., 2000, Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia, Jilid III, Prestasi Insan Indonesia, Jakarta. Tanaka T., T. Ito, K. Nakaya, M. Linuma, S. Riswan, 2000, Oligostilbenoids In The stem Bark Of Vatica Rassak, Phytochemistry 54 : 63-69. Yuk, J.K., Woo, J.S., Yun, C.Y., Lee, J.S., Kim, J.H., Song, G.Y., Yang, E.J., Hur, I.K. and Kim, I.S., 2007, Effects of Lactose--sitosterol and -sitosterol on Ovalbumin-Induced lung Inflammaion in Actely Sensitized Mice, International immunopharmacology, 7, 1517-1527.

Anda mungkin juga menyukai