Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI PEMERIKSAAN VISUS, ANOMALI REFRAKSI DAN BUTA WARNA

Disusun oleh : Nama NIM Kelompok : Anindya Rahadyani K : 41110037 : 1C

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seperti kita ketahui bahwa mata merupakan salah satu organ indera yang vital dan sangat dibutuhkan oleh manusia, karena dengan adanya indera ini manusia dapat melihat dan bersosialisasi dengan lingkungan serta masyarakat. Untuk itu perlu kita ketahui bersama mengenai fungsi setiap bagian mata dan mekanisme kerja mata hingga dapat memberikan gambaran yang dapat kita lihat. Ada beberapa komponen mata yang dapat diperiksa untuk mengetahui kondisi mata yang baik, beberapa diantaranya akan dilakukan dalam praktikum ini, yaitu tentang visus atau ketajaman pengihatan, kelainan refraksi mata serta buta warna. B. Tujuan

1. Mahasiswa memahami fungsi dan mekanisme kerja indera penglihatan 2. Mahasiswa dapat mengukur ketajaman penglihatan 3. Mahasiswa memahami mekanisme persepsi penglihatan warna

BAB II DASAR TEORI Mata dilindungi dari dunia luar oleh palpebral atau kelopak mata, terdapat cilia (supracilia atau alis dan bulu mata). Memiliki membrane mucus yang transparan disebut konjungtiva, merupakan bagian mata yang menyelimuti bola mata dan palpebral bagian dalam. Bola mata memiliki 3 lapisan yaitu : Fibrous layer (bagian terluar) terdiri dari sclera dan kornea Vaskular layer (bagian tengah) terdiri atas choroid, ciliary body dan iris Inner layer (bagian terdalam) terdiri dari retina yang memiliki bagian penglihatan dan non-visual part. (Moore, 2007, 528-530)

Retina mata merupakan lapiaasn terdalam yang mengandung fotoreseptor sel kerucut dan sel batang). Pada retina mata bagian tengah terdapat fovea (macula lutea) yang merupakan daerah retina dengan ketajaman penglihatan tertinggi karena memiliki banyak sel kerucut. Sel kerucut ini berperan dalam penglihatan pada siang

hari dan penglihatan warna, sedangkan sel batang berperan dalam penglihatan hitam putih dan malam. (Sherwood, 2011, 225,229) Mekanisme penglihatan : Cahaya masuk mata ditangkap oleh retina sinyal saraf penglihatan meninggalkan retina melalui nervus opticus kiasma optikum traktus opticus bersinaps di nucleus genikulatum lateralis dorsalis pada thalamus serabut -serabut

genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optikus (traktus genikulokalkarina) korteks penglihatan primer yang terletak di fisura kalkarina lobus oksipitalis system ini bertanggung jawab untuk persepsi seluruh aspek bentuk penglihatan, warna dan penglihatan sadar yang lainnya. (Guyton, 2007, 669) Visus adalah perbandingan jarak seseorang terhadap huruf optotip Snellen yang masih bisa ia lihat jelas dengan jarak seharusnya yang bisa dilihat mata normal. Baik buruknya visus ditentukan oleh alat optic, sel-sel reseptor cahaya di retina, lintasan visual dan pusat penglihatan serta pusat kesadaran. Fakta empiris menunjukkan bahwa mata kita bisa melihat seseuatu pada jarak tertentu : jari bisa dilihat dengan jelas hingga jarak 60 m; lambaian tangan hingga 300 m dan cahaya jauh tak terhingga. (Suhardjo, 2007, 146) Metode klinis yang digunakan untuk menyatakan besarnya tajam penglihatan adalah suatu diagram yang terdiri dari huruf-huruf dengan berbagai ukuran yang diletakkan 20 kaki jauhnya dari orang yang diuji. (Guyton, 2007, 650) Kelainan pembiasan atau refraksi : Emetropia adalah mata normal, bila cahaya sejajar dari objek jauh difokuskan di retina pada keadaan otot siliaris relaksasi total. Ini berarti bahwa mata emetrop dapat melihat semua objek jauh secara jelas dengan otot siliaris yang relaksasi. Namun, untuk melihat objek yang dekat, otot siliaris harus berkontraksi agar mata dapat berakomodasi dengan baik.

Hiperopia adalah penglihatan jauh, bisanya akibat bola mata terlalu pendek atau karena sistem lensa terlalu lemah dimana cahaya sejajar kurang dibelokkan oleh system lensa sehingga tidak terfokus di retina. Untuk mengatasi kelainan ini, otot siliaris berkontraksi untuk meningkatkan kekuatan lensa. Miopia atau penglihatan dekat yaitu sewaktu otot siliaris relaksasi total, cahaya dari objek jauh difokuskan di depan retina. Keadaan ini biasanya akibat bola mata yang terlalu panjang atau karena daya bias sistem lensa terlalu kuat. (Guyton, 2007, 647) Astigmatisma merupakan kelainan refraksi mata yang ditandai adanya berbagai derajat refraksi pada berbagai meridian, sehingga sinar sejajar yang datang pada mata akan difokuskan pada macam-macamm fokus. Penyebab astigmatisma adalah

poligenetik atau polifaktorial. Kelaianan korena (90%), perubahan lengkung kornea, kelainan lensa dan kekeruhan lensa (biasanya katarak insipient atau imatur) dapat menyebabkan astigmatisa. (Suhardjo, 2007, 152) Koreksi kelaian refraksi baik miopi, hyperopia dan astigmatisama menggunakan lensa. Refraksi mata miopi yang memiliki daya bias terlalu besar dinetralkan dengan meletakkan lensa sferis konkaf (cekung) di depan mata, yang akan menyebarkan cahaya. Sebaliknya, pada hyperopia yang memiliki lensa terlalu lemah, penglihatan abnormalnya dapat dikoreksi dengan menambahkan daya bias menggunakan lensa konveks (cembung) di depan mata. Kekuatan lensa konkaf dan konveks biasanya ditentukan dengan cara trial and error yaitu mulanya meletakkan sebuah lensa kuat kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lemah sampai diperoleh penglihatan yang paling tajam. Begitu pula untuk koreksi astigmatisma dilakukan dengan trial and error, mencari lensa sferis yang cocok kemudian ditambah dengan mencari sumbu dan kekuatan lensa silindris yang diperlukan untuk menemukan fokus pada sumbu yang tepat. (Guyton, 2007, 647-648) Penglihatan warna dilakukan oleh sel kerucut retina, hanya satu dari ketiga jenis pigmen warna yang terdapat dalam setiap sel kerucut yang berbeda sehingga menyebabkan sel kerucut memiliki kepekaan yang selektif terhadap berbagai warna seperti warna biru, hijau dan merah.

Buta warna terjadi bila mata tak memiliki sekelompok sel kerucut penerima warna, orang tersebut tidak dapat membedakan warna dari warna yang lainnya. Orang yang tak mempunyai sel kerucut merah disebut protanopia, seluruh spectrum penglihatannya akan memendek secara nyata. Jika seseorang tak mempunyai sel kerucut hijau disebut deuteranopia, dimana orang ini memiliki lebar spectrum panjang gelombang yang normal sebab tersedia sel kerucut merah untuk mendeteksi warna merah yang gelombangnya panjang. Buta warna merah-hijau merupakan kelainan genetik yang hampir hanya pada laki-laki, gen pada kromosom X perempuan yang menyandi sel-sel kerucut tersebut, perempuan jarang karena kromosom X yang lain hampir selalu memiliki gen yang normal, perempuan yang membawa kromosom X buta warna akan disebut carrier buta warna. (Guyton, 2007, 661-662)

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan 1. Optotip Snellen 2. Bilah penunjuk atau menggunakan batang pensil 3. Lampu senter 4. Ishiharas test for color-blindness 5. Lens box berisi lensa berbagai ukuran B. Cara Kerja 1. Pemeriksaan Visus dan Anomali Refraksi

Mananyakan dan mencatat ketajaman penglihatan pada naracoba yang akan diperiksa

Meminta naracoba berdiri sejauh 20 kaki (atau 6 meter) dari optotip Snellen

Meminta naracoba menutup mata kiri dengan telapak tangan, kemudian meminta naracoba membaca huruf-huruf pada optotip Snellen yang ditunjuk oleh pemeriksa dengan mata kanan

Pembacaan dimulai dari deretan huruf yang terbesar hingga deretan huruf yang masih dapat terbaca tanpa kesalahan

Mengulangi pemeriksaan untuk mata kanan (mata kiri ditutup), mencatat semua hasil di lembar kerja dengan format penulisan d/D

Jika Visus 6/6, melakukan pemeriksaan untuk memastikan mata naracoba emetrop atau tidak dengan memasang lensa S +0,5 D

Mengulangi pemeriksaan dari menutup mata kanan untuk memeriksa mata kiri dan seterusnya, jika hasilnya tetap 6/6 maka naracoba menderita hipermetrop fakultatif, jika kurang dari 6/6 maka emetrop

Jika pada pemeriksaan awal, naracoba tidak bisa membaca deretan huruf terbesar, lakukan hitung jari dengan langkah pemeriksaan yang sama dari 20 kaki (dan untuk kedua mata), jika hasilnya benar visusnya dicatat 6/60

Jika naracoba tidak dapat menghitung jari, minta untuk maju 1 meter, hingga jarak 1 meter tetap tidak mampu menghitung jari, lakukan identifikasi lambaian tangan (pemeriksa pada posisi awal, 20 kaki/6 meter). Jika naracoba mampu mengidentifikasi maka visisnya 1/300

Jika naracoba tidak mampu mengidentifikasi lambaian tangan , naracoba diminta untuk mengidentifikasi gelap terang, visus 1/~

Mencatat dan menyimpulkan pemeriksaan kedua mata

Pada praktikum pemeriksaan dilakukan hingga langkah ke 7, karena hasil pemeriksaan probandus hipermetrop, lalu dilanjutkan dengan trial and error test, yaitu koreksi dengan menggunkanan berbagai ukuran lensa (dalam lens box) hingga menemukan fokus atau ketajaman penglihatan yang paling baik.

2. Tes Buta warna


Memilih 2 anggota kelompok untuk menjadi naracoba dan pembanding (orang dengan persepsi

Meletakkan alat uji (Ishiharas test) dari naracoba/pembanding dalam ruangan yang cukup terang, alat diangkat sehingga sudut tegak lurus garis penglihatan

Kemudian secara berturut-turut menunjukkan gambar no.1 sampai 14 dengan waktu tidak lebih dari 3 detik, meminta naracoba dan pembanding menyebutkan gambar yang dilihat

Membandingkan jawaban pada Ishiharas test for color-blindness dan mencatat hasilnya pada lembar kerja

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

1. Pemeriksaan Visus dan Anomali Refraksi Naracoba Nama Umur : Anindya Rahadyani : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil pengakuan naracoba : Mata kanan (OD) Mata kiri (OS) : Normal : S(+ 0.75 D)

Visus Sebelum koreksi OD : 20/30 OS : 20/20 Setelah koreksi dengan lensa sferis (+ 0.5 D) OD : 20/20 (buram pada saat melihat) OS : 20/20 Kesimpulan : OD : emetrop OS : hipermetrop fakultatif 2. Pemeriksaan Buta Warna Naracoba Nama NIM : Jerry Mulia : 411100 Pembanding (dianggap normal) Nama NIM : Angela Djari : 41100089

Jenis Kelamin : Perempuan

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur Periksa BW Hasil Gambar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16

: 20 tahun :: Normal 12 8 Bukan 5 29 71 7 45 Bukan 2 X 16 Dapat merunut 35 96

Umur Periksa BW

: 21 tahun :-

Terlihat Naracoba 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16

Terlihat Pembanding

Merunut 35 96

Dapat merunut 35 96 Dapat merunut 2 lintasan

Merunut 2 Dapat merunut 2 lintasan lintasan

B. Pembahasan Pada pemeriksaan visus dan kelaian refraksi perlu ditanyakan terlebih dahulu naracoba memiliki mata normal atau kelaian refraksi pada mata hal ini bertujuan untuk mempermudah pemeriksaan serta mengetahui ada tidaknya koreksi dari keadaan tersebut. Pemeriksaan yang dilakukan satu mata (bergantian) dengan jarak 20 kaki dari optotip Snellen, memberikan hasil visus atau ketajaman penglihatan naracoba pada mata kanan normal dan kiri hipermetrif fakultatif. Perbedaan visus kedua mata tersebut dapat dikarenakan karakteristik masing-masing komponen mata yang tidak sama. Dalam hal ini mata kiri naracoba dapat mengalami kelaian seperti bola mata terlalu pendek atau sumbu anteroposteriornya pendek, kelengkungan kornea atau lensanya kurang sehingga bayangan difokuskan dibelakang macula lutea ataupun indeks bias yang kurang pada sistem optik mata. Mata kanan dinyatakan normal karena dengan koreksi S+0.5 D memberikan penglihatan yang kabur atau justru menurun ketajaman penglihatannya, sedangkan pada mata kiri hipermetrof fakultaif yang didapatkan dengan cara trial and error dengan koreksi lensa S+0.5 D, hal ini untuk membedakan apakah naracoba dengan visus normal (emetrop) atau hipermetrof. Dengan koreksi lensa tersebut naracoba masih dapat membaca dengan ketajaman yang baik dan jelas manandakan mata yang diperiksa bukan emetrop. Setelah diketahui mata tidak normal dapat dilakukan trial and error untuk mengetahui kekuatan koreksi lensa yang dibutuhkan untuk membantu ketajaman penglihatan seseorang. Trial and error tersebut dilakukan untuk mengukur lensa mana yang paling tepat dan memberikan hasil penglihatan yang paling jelas dan tajam, hal ini dilakukan setelah koreksi dengan lensa S+0.5 D. Pemeriksaan dengan lensa positif dilakukan dari ukuran besar ke kecil karena lensa positif yang mengerucutkan atau mengumpulkan cahaya supaya jatuh tepat diretina mata hal ini untuk memberikan ketajaman yang tepat dengan akomodasi lensa yang minimal (istirahat). Sedangkan lensa negatif koreksinya dilakukan dari ukuran kecil ke besar untuk mengetahui

kemampuan pembiasan yang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh mata untuk menerima fokus bayangan jatuh tepat di retina. Pada naracoba ini, koreksi dengan lensa (kaca mata) positif 0.5 D diperlukan untuk memberikan penglihatan normal dengan akomodasi otot yang minimal (istirahat) sehingga keluhan-keluhan seperti mata lelah dan sakit dapat dikurangi. Pemeriksaan buta warna dilakukan dengan buku Ishiharas, dilakukan dengan jarak baca 75 cm dan posisi tegak lurus pembaca bertujuan untuk mempermudah pembacaan gambar dengan titik-titik berwarna tersebut, sedang dengan waktu pembacaan 3-10 detik saja bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan naracoba untuk membedakan warnanya, jika melebihi waktu tersebut ada kemungkinan buta warna. Seperti diketahui bahwa buta warna dapat dibedakan menjadi buta warna total dan parsial. Pada buta warna total, penderita tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih. Sementara pada buta warna parsial, penderitanya mengalami kekurangan pigmen dalam sel kerucut retina sehingga tidak bisa melihat warna tertentu saja. Pada Ishiharas test terdapat 14 gambar yang memiliki titik-titik dengan berbagai warna yang membentuk suatu angka ataupun alur. Warna-warna tersebut didesain khusus sehingga dapat mendeteksi kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi suatu warna (merah, hijau ataupun biru). Pada pemeriksaan ini naracoba tidak dapat membaca dengan benar 3 dari 14 gambar (Gambar nomor 3, 5 dan 8). Naracoba berjenis kelamin perempuan dimana perempuan sangat jarang memiliki kelaian buta warna dan setelah ditanyakan ulang pada naracoba, tidak terdapat riwayat buta warna di keluarganya, serta naracoba mampu membedakan warna benda-benda disekitarnya dengan baik. Kemungkinan kesalahan pembacaan ini dikarenakan posisi membaca saat dilakukan pengujian yang tidak tegak lurus pada pandangan naracoba sehingga mempersulit pembacaan dan waktu membaca yang sangat singkat (kurang dari 3 detik) sehingga tidak terlalu tepat dalam membaca gambar yang tertera di buku.

BAB V KESIMPULAN 1. Fungsi Indra penglihatan atau mata adalah untuk menerima rangsangan cahaya, memfokuskan bayangan pada retina mata dan kemudian melanjutkannya ke pusat penglihatan di otak (lobus occipitalis) untuk kemudian menjadi penglihatan yang dapat kita lihat. 2. Mengukur ketajaman penglihatan dilakukan dengan cara uji optotip Snellen, dengan membaca huruf yang tertera kemudian diukur hingga deretan yang masih dapat terbaca dengan baik, hasil pembacaan dibandingkan dengan jarak pembacaan orang normal. Untuk membedakan emetrof dengan hipermetrof dilakukan dengan koreksi lensa S+0.5D (positif) Hasil pemeriksaan pada naracoba adalah hipermetrof fakultatif karena mampu melihat dengan jelas ketika dikoreksi dengan lensa positif 0.5 D 3. Mekanisme persepsi penglihatan warna dilakukan di bagian retina mata,

dimana terdapat sel-sel kerucut yang peka terhadap suatu warna. Sel-sel kerucut ini dikode oleh gen yang terdapat pada kromosom X (sehingga penderita buta warna mayoritas adalah laki-laki) Pengujian dilakukan dengan Ishiharas test book for color-blindness. Dimana seseorang dengan buta warna parsial akan kesulitan dan tidak mampu membaca angka atau gambar yang tertera dengan benar. Beberapa hal yang mempengaruhi pembacaan adalah posisi membaca yang harus tegak lurus penglihatan dan jaraknya serta pencahayaan ruangan yang harus cukup. Naracoba kesulitan dalam membaca dapat disebabkan karena posisi membaca yang tidak tegak lurus dengan buku

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C., dan Hall, J.E., 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC Moore, Keith L.; Agur, Anne M. R. Essential Clinical Anatomy, 3rd Edition, 2007. Lippincott Williams and Walkins Sherwood, Lauralee., 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC. Suhardjo, hartono 2007. Ilmu Kwesehatan Mata, Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUGM. Yogyakarta