Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLISTRIK DENGAN KONFIGURASI WENNER BETA DAN DIPOLE-DIPOLE DI LAPANGAN SEPAK BOLA UTARA GEDUNG FISIP UB

OLEH: Rizky Gustiansyah (105090300111001) JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. latar belakang Geophysical resistivity test telah banyak dilakukan untuk berbagai keperluan dalam menduga keterdapatan air tanah, mineral and applikasi resistivity dalam teknik sipil. Setiap bahan/material akan mempunyai tahanan/resistance jika dialirkan arus listrik. Nilai resistivity ini tergantung pada kekompakan bahan, porositas, dan permeabilitas bahan serta kandungan air. Cara untuk memperoleh resistivity bahan di alam dilakukan dengan menyusun 4 batang elektroda dengan aturan WENNER ataupun SCHULUMBERGER. Mulai dari tahun 1920 sampai 1997 merupakan metoda konvensional dengan analisa kuntitatif. Dengan kemajuan perkembangan elektronika ,komputerisasi and perangkat lunak maka survey resistivity test berkembang untuk memperoleh penampang resistivity 2D and 3D. Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menduga kondisi dibawah permukaan tanah berdasarkan nilai resistivitasnya Untuk dapat mengetahui kondisi batuan yang ada di dalam tanah tidak mungkin dilakukan pembongkaran tanah, karena akan menghancurkan lapisan tanah itu sendiri, maka dalam hal ini perlu diadakan penelitian. Penelitian metode geofisika diperlukan untuk pendugaan geolistrik tahanan jenis atau resistivitas yang bisa menunjukkan respon lapisan batuan. 1.2. rumusan masalah a. Bagaimanakah pola resistivitas di daerah survey? b. Bagaimana karakter konfigurasi wenner beta dan dipole dipole ? 1.3. Tujuan a. Mengetahui pola resistivitas di daerah survey b. Mengetahui karakter konfigurasi wenner beta dan dipole dipole 1.4. Batasan maslah Pada percobaan ini, pembahasan hanya dilakukan pada seputar metode rsistiviti dengan konfigurasi wenner beta dan dipole dipole dan area survei 1.5. manfaat a. Mengetahui kondisi resitivitas di daerah depan fakultas peternakan Universitas Brawijaya sehingga dapat dimanfaatkan potensinya b. Dapat mengetahui kandungan yang ada pada saat akuisisi di lapangan

2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar teori Metode geolistrik resistivitas (hambatan jenis) merupakan suatu metode pendugaan kondisi bawah permukaan bumi dengan memanfaatkan arus listrik yang diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus, kemudian beda potensial yang dihasilkan diukur dengan menggunakan dua elektroda potensial. Hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda tertentu digunakan untuk menentukan variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur (titik sounding). Metode geolistrik resistivitas didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian dari arus listrik yang diberikan pada lapisan tanah, menjalar ke dalam tanah pada kedalaman tertentu dan bertambah besar dengan bertambahnya jarak antar elektroda. Dalam pengukuran geolistrik resistivitas jika sepasang elektroda diperbesar, distribusi potensial pada permukaan bumi akan semakin membesar dengan nilai resistivitas yang bervariasi. Berdasarkan tujuan pengukuran di lapangan, metode geolistrik dibagi menjadi dua, yaitu : Metode resistivitas jenis Sounding

Perpindahan elektroda secara sounding Metode ini bertujuan untuk menyelidiki perubahan tahanan jenis bawah permukaan ke arah vertikal yaitu dengan cara pada titik ukur tetap, jarak elektroda arus dan tegangan diubah-ubah sehingga semakin besar jarak antar elektroda maka akan tampak efek dari material yang lebih dalam, seperti yang ditunjukkan pada Gambar di atas Metode resistivitas jenis Mapping

Perpindahan elektroda secara mapping Metode ini bertujuan untuk menyelidiki perubahan tahanan jenis bawah permukaan ke arah lateral atau horisontal yaitu dengan cara menggeser titik ukur secara horisontal dengan jarak elektroda dan tegangan tetap. Pada metode ini kedalaman yang tersurvey akan sama karena pergeserannya ke arah horisontal. Konfigurasi yang sering

digunakan adalah Wenner dan Dipole-dipole, seperti yang ditunjukkan pada Gambar di atas. Terdapat beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam metode geolistrik resistivitas, yaitu. Bawah permukaan tanah terdiri dari beberapa lapisan yang dibatasi oleh bidang batas horisontal serta terdapat kontras resistivitas antara bidang batas perlapisan tersebut. Tiap lapisan mempunyai ketebalan tertentu, kecuali untuk lapisan terbawah ketebalannya tak terhingga. Tiap lapisan dianggap bersifat homogen isotropik. Tidak ada sumber arus selain arus yang diinjeksikan di atas permukaan bumi. Arus listrik yang diinjeksikan adalah arus listrik searah. Metode ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di kedalaman lebih dari 1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang digunakan untuk eksplorasi minyak tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang engineering geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, juga digunakan dalam eksplorasi geothermal. Dari semua sifat fisika batuan dan mineral, resistivitas memperlihatkan variasi harga yang sangat banyak. Pada mineral-mineral logam, harga resistivitas berkisar antara 10-8 ohmmeter hingga 107 ohmmeter. Begitu juga pada batuan-batuan lain, dengan komposisi yang bermacam-macam akan menghasilkan range resistivitas yang bervariasi pula. Sehingga range sensitivitas maksimum yang mungkin adalah dari 1.6 x 10-8 ohmmeter (perak asli) hingga 1016 ohmmeter (belerang murni). Konduktor biasanya didefinisikan sebagai bahan yang memiliki resitivitas kurang dari 10-8 ohmmeter, sedangkan isolator memiliki resistivitas lebih dari 107 ohmmeter. Dan di antara keduanya adalah bahan semikonduktor. Sedangkan Isolator dicirikan oleh ikatan ionik, sehingga elektron-elektron valensi tidak bebas bergerak. Kebanyakan mineral membentuk batuan penghantar listrik yang tidak baik walaupun beberapa logam asli dan grafit menghantarkan listrik. Resistivitas yang terukur pada material bumi utamanya ditentukan oleh pergerakan ion-ion bermuatan dalam pori-pori fluida. Air tanah secara umum berisi campuran terlarut yang dapat menambah kemampuannya untuk menghantarkan listrik, meskipun air tanah bukan konduktor listrik yang baik. Variasi resistivitas material bumi ditunjukkan dalam Tabel 1 Nilai tahanan jenis batuan bergantung dari macam-macam materialnya, densitas, porositas, ukuran, dan bentuk pori-pori batuan, kandungan air, kualitas dan suhu.

Table Kisaran nilai resistivitas batuan Asumsi yang selalu digunakan dalam metode geolistrik resistivitas adalah bumi bersifat homogen isotropis. Ketika arus diinjeksikan ke dalam bumi, pengaruh dalam bentuk beda potensial yang diamati secara tidak langsung adalah hambatan jenis suatu lapisan bumi tertentu. Namun nilai ini bukanlah nilai hambatan jenis yang sesungguhnya. Hambatan jenis ini merupakan besaran yang nilainya tergantung pada spasi elektroda yang dipakai. Padahal kenyataannya bumi terdiri dari lapisan-lapisan dengan nilai resistivitas yang berbeda-beda, sehingga potensial yang diukur merupakan pengaruh dari lapisan-lapisan tersebut. Hambatan jenis ini disebut hambatan jenis (resistivitas) semu. Resistivitas semu dirumuskan dengan: dimana : a : Resistivitas semu (m) K : Faktor Geometris (m) V : Beda potensial (V) I : Kuat arus (A) Faktor geometri dari konfigurasi elektroda potensial dan elektroda arus. Faktor geometri merupakan besaran penting dalam pendugaan tahanan jenis vertikal maupun horisontal.

Konsep resistivitas semu

Bumi merupakan medium berlapis dengan masing-masing lapisan mempunyai harga resistivitas yang berbeda-beda. Resistivitas semu merupakan suatu konsep abstrak yang di dalamnya terdapat keterangan tentang kedalaman dan sifat suatu lapisan tertentu. Sebagaimana disajikan dalam gambar 6 dimisalkan bahwa medium yang ditinjau terdiri dari 2 lapis dan mempunyai nilai resistivitas yang berbeda (1 dan 2). Dalam pengukuran, medium ini akan dianggap sebagai 1 lapisan yang homogen dan mempunyai 1 harga resistivitas yaitu a (Apparent Resistivity) atau resistivitas semu. Resistivitas semu yang dihasilkan oleh setiap konfigurasi akan berbeda walaupun jarak antar elektrodanya sama. Untuk medium berlapis, harga resistivitas semu ini akan merupakan fungsi jarak bentangan (jarak antar elektroda arus). Untuk jarak antar elektroda arus yang kecil akan memberikan a yang harganya mendekati batuan di dekat permukaan. Sedang untuk jarak bentangan yang besar, a yang diperoleh akan mewakili harga batuan yang lebih dalam. Factor geometri yang berpengaruh pada nilai resistivitas semu memiliki persamaan seperti di bawah.

3. BAB III METODOLOGI 3.1. Waktu dan tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 1 Juni 2013 bertempat di bekas lapangan sepak bola Universitas Brawijaya, di sebelah utara gedung FISIP Universitas Brawijaya dengan kordinat antara 7o5658,81 LS 7o5657,70 LS dan 112o3644,45 BT 112o3642,10 BT. Pengambilan data dimulai sejak pukul 08:00 hingga 13:30. 3.2. Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebuah sumber arus DC berupa Accu, empat Kabel roll, sebuah Resistivitymeter, empat buah Elektroda, kabel penghubung, empat buah penjepit elektroda, sebuah meteran, alat tulis serta sbeberpa buah palu. Adapun software yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah Microsoft Excel, Notepad, res2Dinv, Ip2win. 3.3. Desain Survei 3.3.1. Line Konfigurasi Wenner

3.3.2. Line Konfigurasi Dipole-Dipole

3.4. Diagram Alir percobaan Akuisisi data Wenner beta Dipole dipole Line 1 Line 2

Input data Prosesing res2Dinv Cek error Error kecil Penggabungan line interpretasi Error besar Datum exterminate

excell notepad

pemodelan

simpulan

3.5. Tata Laksana Percobaan 3.5.1. Akuisisi Pada percobaan ini, dilakukan dengan dua metode, yaitu metode wenner beta dan metode dipole-dipole. Pada metode wenner pengambilan data dilakukan pertama kali dengan membentangkan lintasan sesuai dengan yang direncanakan, dalam hal ini bentangan yang digunakan adalah selebar 50 meter. Lintasan ini membentang dari barat ke timur dan berada pada tengah bekas lapangan sepak bola tersebut. Setelah dibentangkan, kemudian empat buah elektroda disusun sesuai dengan metode wenner beta dengan susunan C1-C2-P1-P2. Setelah elektroda dipasang sesuia dengan desain survey, sebuah penjepit elektroda dijepitkan ke masing masing elektroda, masing masing penjepit tersebut terhubung dengan resistivity meter melalui kabel roll, sehingga masing masing kabel roll terhubung dengan sebuah elektroda dan port pada resistivitymeter. Setelah itu, resistivity meter dihubungkan dengan sumber tegangan kemudian dinyalakan. Pada resistivitymeter, pembacaan diseting sebanyak empat kali, dan arus yang diinjeksikan diseting sebesar 20 mA.

C1 C2

P1

P2

na C1 C2

na P1

na P2

na

Setelah rangkaian dipastikan benar, arus diinjeksikan dan dilakukan pembacaan nilai resistivitas (R) yang muncul sebanyak empat kali. Setelah dilakukan pembacaan, elektroda digeser sehingga elektroda C1 berpindah ke posisi C2, elektroda C2 berpindah ke posisi P1, elektroda P1 berpindah ke posisi P2, sedangkan elektroda P2 berpindah ke posisi n.a meter dari posisi semula. Teknis dilapangan, 3 elektroda dipasang tetap, namun hanya tongkat elektroda bekas C1 yang dipindahkan menjadi elektroda P2, sehingga hanya cukup memindah 1 elektroda dan kabel saja. Setelah sesuai dengan desain, maka kembali diinjeksikan arus dan dilakukan pembacaan data. Pengambilan data dilakukan dengan panjang jarak antar elektroda awal sebesar 2 meter, sepanjang lintasan, setelah itu ketika satu lintasan telah dilakukan pengambilan data, dilanjutkan untuk kelipatan sebesar 2 kali bentangan semula dan dilakukan kembali pengambilan data untuk lintasan yang sama, setelah itu dilakukan lagi pengambilan data untuk 3 kali lipat bentangan semula pada lintasan yang sama pula. Setelah itu pengambilan data juga dilakukan untuk lintasan yang membentang dari barat laut ke tenggara. Pengambilan data untuk lintasan ini sama dengan prosedur sebelumnya. 2a 1a P1 P2

a C1 C2 P1 a P2

C1 C2 na a C1 C2 a 8a P1 P2 a

Selanjutnya untuk konfigurasi dipole dipole dilakukan pada lintasan yang sama dengan konfigurasi wenner. Pada metode ini digunakan spasi sebesar 2 meter, dengan n

sebanyak 1 hingga 8, lintasan yang digunakan memliki panjang bentangan sebesar 40 meter. Pengambilah data dilakukan mulai titik 0 meter, untuk 1 kali kelipatan spasi (1a) hingga 8 kali (8a). jika bentangan telah mencapai bentangan maksimum lintasan maka kelipatannya tidak ditambah lagi. Pada konfigurasi ini, mula mula elektroda P1 dan P2 digeser hingga spasi antara C2-P1 mencapai 8 kali spasi awal, setelah itu, elektroda C1 dipindah ke posisi C2, dan C2 dipindah ke depannya sebesar spasi awal, setelah itu elektroda P1 dan P2 kembali digeser hingga diperoleh data untuk 1 hingga 8 kali spasi awal. Setelah lintasa pertama selesai, dilakukan hal yang sama untuk lintasan yang kedua, dan berhimpitan atau sama dengan lintasan wenner kedua, yang membentang dari barat laut ke tenggara. 3.5.2. Pengolahan data Pada konfigurasi wenner, data yang diperoleh dalam format kolom yang berisi parameter tahanan jenis (R) untuk beberapa kali pencatatan (dalam percobaan ini dilakukan 4 kali pencatatan untuk masing masing datum), besar jarak antar elektroda (a), kelipatan panjang awal (n). Selanjutnya data diproses menggunakan software microsoft Excel. Data hasil percobaan di masukan kedalam tabel secara manual, kemudian untuk nilai rata rata resistivitas dicari deng rumus =average(kolom-baris 1: kolom-baris4). Setelah itu dicari nilai resistivitas semu. Pada konfigurasi wenner digunakan rumus

Setelah itu, kolom tersebut kopi lalu dipindahkan ke worksheet baru atau kebagian lain yang masih kosong pada sheet, kemudian pada konfigurasi wenner disusun kolom secara berderet dengan urutan kolom berisi tentang posisi elektroda paling ujung (C1), besar spasi (a), dan nilai resistivitas semu () seperti gambar di atas. setelah itu program notepad dibuka dan diketik beberapa format, pada line 1 diisi judul

file, line 2 diisi panjang spasi minimum, line 3 diisi kode konfigurasi yang digunakan, untuk konfigurasi wenner beta dipilih kode 4, kemudian pada line 4 diisi jumlah datum, untuk line 5 diisi 0 karena pengambilan data dimulai dari ujung, selanjutnya untuk line 6 diisi 0 karena tidak terdapat data IP. sedangkan untuk line 7 berisi tentang datum yang ada pada program excel, pada gambar di atas terdapat kolom yang diblock, kolom tersebut kemudian di-copy lalu di-paste pada line 7, harus dipastikan bahwa separator decimal berupa titik. Setelah itu, pada line 8,9,10,11 diisi dengan angka 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah

Setelah itu data disimpan dalam format *.dat dengan cara, pilih menu file>save as, lalu pada pilihan save as type dipilih all files, kemudian pada file name diisi nama file diikuti format .dat , setelah disimpan, data dibuka dengan program res2Dinv. Pada interface program res2Dinv dipilih file>read data file, kemudian dipilih file yang akan diolah.

Setelah load data sukses, dilanjutkan dengan penampilan pengolahan dengan cara, click menu inversion>Least-square inversion, sehingga muncul tampilan seperti di bawah. Kemudian data tersebut disimpan dalam format *.bmp dengan cara, pilih menu print>save scree as BMP file.

Untuk dipole dipole diperoleh data berupa kelipatan (n), posisi elektroda C1, C2, P1, dan P2, jenis (R) untuk beberapa kali pencatatan (dalam percobaan ini dilakukan 4 kali pencatatan untuk masing masing datum). Data ini berlaku untuk lintasan 1 maupun 2. Data diproses menggunakan software microsoft Excel. Data hasil percobaan di masukan kedalam tabel secara manual, kemudian untuk nilai rata rata resistivitas dicari deng rumus =average(kolom-baris 1: kolom-baris4). Setelah itu dicari nilai resistivitas semu. Pada konfigurasi dipole dipole digunakan rumus ( )( ) ( ) ( ) Setelah itu, kolom tersebut kopi lalu dipindahkan ke worksheet baru atau kebagian lain yang masih kosong pada sheet, kemudian pada konfigurasi wenner disusun kolom secara berderet dengan urutan kolom berisi tentang posisi elektroda paling ujung (C1), besar spasi (a), dan nilai resistivitas semu (). Sama dengan m]prosedur sebelumnya untuk konfigurasi wenner beta Setelah itu program notepad dibuka dan diketik beberapa format, pada line 1 diisi judul file, line 2 diisi panjang spasi minimum, line 3 diisi kode konfigurasi yang digunakan, untuk konfigurasi dipole dipole dipilih kode 3, kemudian pada line 4 diisi jumlah datum, untuk line 5 diisi 0 karena pengambilan data dimulai dari ujung, selanjutnya untuk line 6 diisi 0 karena tidak terdapat data IP. sedangkan untuk line 7 berisi tentang datum yang ada pada program excel, pada gambar di atas terdapat kolom yang diblock, kolom tersebut kemudian di-

copy lalu di-paste pada line 7, harus dipastikan bahwa separator decimal berupa titik. Setelah itu, pada line 8,9,10,11 diisi dengan angka 0. Untuk proses selanjutnya dapat sama dengan proses sebelumnya karena letak perbedaan perlakuan pada konfigurasi wenner dengan dipole dipole untuk program yang sama terletak pada kode input data ke dalam bentuk dat.

4. BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Analisis Hasil Dari data hasil pengolahan menggunakan software res2dinv untuk data konfigurasi wenner beta line1 diperoleh error awal mencapai 8,7% untuk iterasi sebanyak 7 kali. Pada program res2Dinv, data akan dilakukan iterasi hingga menuju suatu nilai, jika pada proses iterasi data menuju siatu nilai konvergen, maka iterasi akan dihentikan, dan pada kasus ini iterasi berhenti pada kali ke-7

Data tersebut dapat dibenahi dengan cara memperbanyak jumlah iterasi jika meungkinkan atau dengan cara membuang datum yang dianggap sebagai error, namun tidak sembarang datum dapat di hilangkan begitu saja, karena tidak semua datum merupakan datum dengan kualitas buruk, buruk atau tidaknya datum bergantung pada anggapan interpreter, pada kasus ini datum dianggap jelek jika tidak memiliki pola yang serupa dengan grafik nilai resistivitas semu lainnya, atau dapat dikatakan nilai menanjak. Asumsi ini berdasarkan penjelasan dalam buku telford yang menyatakan bahwa pola grafik nilai resistivitas semu akan memiliki pola tertentu yang dapat didekati dengan model kurva tertentu, sehingga jika terdapat datum yang mencuat sendiri. Sehingga datum tersebut dapat diasumsikan jelek dan dapat dihilangkan untuk meminimalisir error. Penyeleksian datum pada program res2Dinv dapat dilakukan dengan cara memilih menu edit kemudian dipilih exterminate bad datum points

Kemudian akan muncul gambar seperti pada gambar dibawah, gambar ini merupakan datum sebelum diseleksi, untuk menghilangkan datum yang dianggap sebagai error cukup dengan click datum tersebut, setelah selesai melakukan editing, dipilih menu exit, lalu file yang telah di edit disimpan, tetap dalam bentuk dat.

Setelah disimpan, file tersebut kembali dibuka dan akan tampak datum yang baru seperti gambar di bawah

Kemudian dari data yang baru ini dapat dihasilkan penampang resistivitas dengan nilai error lebih kecil hingga 0,43%. Pada proses pembuangan datum, nilai datum yang dihilangkan akan diganti dengan nilai baru berdasarkan interpolasi nilai disekitarnya yang diketahui

Selanjutnya untuk lintasan wenner 2 juga dilakukan hal yang sama sehingga nilai error 14,9 % dapat dikurangi menjadi 0,82 %

Selanjutnya untuk lintasan dipole dipole 1 dari 95,4% menjadi 41%

Kemudian untuk lintasan dipole dipole 2 juga dapat diperolah error dari 81.4% menjadi 45,6%

Hal serupa dapat pula dilakukan untuk data yang lain sehingga diperoleh nilai error yang lebih kecil. Nilai error ini diperoleh dari perbandingan nilai pada proses iterasi dan dengan pendekatan kurva secara teori, semakin jauh nilai tersebut dengan nilai secara interpolasi, maka error yang dihasilkan juga semakin besar. Metode pemodelan yang digunakan dalam program res2Dinv adalah metode inverse, yang mana pada metode ini digunakan inverse modeling atau pemodelan terbalik, yaitu dengan cara memodelkan kondisis geologi dengan melakukan interpolasi data yang diperoleh dari lapangan. Sehingga jika data lapangan yang diperoleh memiliki error yang besar maka model yang dihasilkan akan semakin jauh dari kondisi nyata. Salah saru parameter kesesuaian antara model dengan kondisi nyata dapat dilihat dari besarnya error, besarnya error ini tidakselalu memegang peranan pusat. Karena nilai error dapat dikurangi dengan membuang datum, namun jika salah membuang datum, dapat menghasilkan model yang berbeda dengan kondisi nyata meskipun nilai errornya kecil. Perolehan datum buruk dapat disebabkan karena cara memperoleh data yang kurang baik. Pengambilan data ini dilakukan setelah konfigurasi wenner tanpa jeda. Faktor jenuh dan faktor semangat sangat mempengaruhi dalam pengambilan data, terutama pada pemasangan elektroda, jika elektroda dipasang secara asal, dapat mempengaruhi geometri dari medan potensial listrik, sehinggap pendekatan faktor geometri secara teori dapat berbeda dengan faktor geometri secara nyata. Pengambilan data dilakukan secara independen, dalam artian, masing masing datum tidak terpengaruh oleh datum lainnya karena pengambilan data dilakukan pada waktu dan tempat yang berbeda, sehingga dari hal tersebut dapat mempengaruhi variasi perolehan datum. 4.2. Interpretasi Pada tahap interpretasi ini data dianggap benar dengan tingkat kesalahan sebesar error. Dalam interpreatasi tidak ada yang salah selama interpreter dasar yang kuat. Anggapan ini penting mengingat dalam melakukan interpretasi diperlukan dasar yang

kuat dan dapat dipertanggung jawabkan, sekalipun terdapat perbedaan antara interpretasi dengan fakta lapangan, interpreter perlu memahami penyebab perbedan tersebut. 4.2.1. Line konfigurasi wenner Dari data hasil pengolahan menggunakan software res2Dinv diperoleh pemodelan kondisi bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitasnya, dari data tersebut terlihat beberapa lapisan tanah yang memiliki nilai resistivitas yang berbeda. Pada penampang resistivitas terlihat bahwa pada line 1 terdapat beberapa zona dengan nilai resistivitas rendah, terutama pada lapisan 0,342 m hingga sekitar 2.72 m yang ditandai dengan warna kebiruan dengan rentang nilai resistivitas sebesar 4 hingga 8 m. Jika dilihat dari data literature maka nilai ini sesuai dengan litologi berupa clay. Secara teori clay memiliki nilai resistivitas antara 1 hingga 100 m, sedangkan sands memiliki rentang 10 hingga 800 m. Berdasarkan data ini spot spot tersebut merupakan clay dengan kandungan air lebih banyak dibandingkan dengan area disekitarnya. Selanjutnya pada penampang itu pula terlihat adanya perubahan nilai resistivitas yang cukup drastic, yaitu dalam selang jarak sekitar 1 meter terjadi degradasi skala yang cukup besar, hal ini dapat diasumsikan sebagai perubahan litologi dari clay menuju sands, atau dari clay menjadi sands-clay. Jika dilihat dari perubahan nilai yang drastic ini terjadi pada kedalaman sekitar 3 meter, maka dapat diasumsikan bahwa kandungan air pada lapisan tersebut mulai berkurang. Secara umum dari penampang ini dapat dikatakan bahwa terdapat zona batuan berupa clay dengan distribusi air tidak merata. Ketidakmerataan distribusi ini dapat diakibatkan oleh sebaran vegetasi atau juga heterogenitas batuan yang menyebabkan permeabilitas berbeda sehingga daya serap airnya berbeda. Jika dikaitkan dengan kondisi dipermukaan dengan ditemukannya rerumputan yang tidak merata yaitu tersebar hanya pada daerah pinggir areas survey saja. Bias dipastikan bahwa nilai resistivitas rendah pada tepi area survey ini dikarenakan adanya cadangan air dibawah vegetasi tersebut. Sedangkan pada zona tengah survey ditemukan adanya genangan air yang menyebabkan tanah menjadi becek, hal ini juga dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya nilai resistivitas rendah di tengah area survey. Jika dilakukan cros section antara lintasa 1 dengan lintasan 2 tampak seolah tidak cocok, namun yang perlu diperhatikan disini adalah skala spectrum warnanya menunjukan nilai yang berbeda, sekalipun sama sama biru toska, namun nilai resistivitasnya berbeda. Sehingga jika dilihat dari nilai resistivitasnya maka kedua lintasan tersebut memiliki tingkat kecocokan relative tinggi. Selain itu kedua line juga seakan memiliki pola kemenerusan, jika nilai resistivitas rendah ini dikaitkan dengan keberadaan genangan, maka suatu genangan akan memiliki pola aliran tertentu, dan dari hasil cross section diperoleh fakta bahwa terdapat pola kemenerusan nilai resistivitas. Perbedaan yang muncul itu juga disebabkan oleh adanya perbedaan temperature yang lingkungan pengambilan data, line 1 diambil pada saat suhu relative sedang, sementara

line 2 diambil pada kondisi terik, sehingga kandungan ari di dalam tanah akan semakin berkurang dan menyebabkan nilai resistivitasnya relative naik Line 1

Line 2

Titik ikat Resistivitas rendah akibat cadangan vegetasi

Resistivitas rendah akibat genangan

Batas tangkapan air 4.2.2. Line konfigurasi dipole-dipole

Kemenerusan genangan

Pada hasil pengolahan menggunakan software res2Dinv terlihat beberapa lapisan tanah yang memiliki nilai resistivitas yang berbeda. Pada penampang resistivitas terlihat bahwa pada line 1 terdapat beberapa zona dengan nilai resistivitas rendah, terutama pada

lapisan 0,342 m hingga sekitar 2 m yang ditandai dengan warna kebiruan dengan rentang nilai resistivitas sebesar 4 hingga 10 m. Jika dilihat dari data literature maka nilai ini sesuai dengan litologi berupa clay. Secara teori clay memiliki nilai resistivitas antara 1 hingga 100 m, sedangkan sands memiliki rentang 10 hingga 800 m. Selanjutnya pada penampang itu pula terlihat adanya perubahan nilai resistivitas yang cukup drastic, yaitu dalam selang jarak sekitar 1 meter terjadi degradasi skala yang cukup besar, hal ini dapat diasumsikan sebagai perubahan litologi dari clay menuju sands, atau dari clay menjadi sands-clay. Jika dilihat dari perubahan nilai yang drastic ini terjadi pada kedalaman sekitar 3,5 meter. Pada hasil pengolahan data konfigurasi dipole dipole diperoleh penampang hingga kedalaman 4.72 meter. Jika dilihat pada gambar lalu dibandingkan dengan hasil dari konfigurasi wenner, maka konfigurasi ini terlihat lebih laminar, hal ini terjadi karena metode ini memiliki range yang lebih besar sehingga data data range kecil tidak begitu jelas terlihat seperti pada konfigurasi wenner. Pada wenner range memiliki orde dibawah 0,5 102, sedangkan pada konfigurasi ini range mencapai orde 103 tentu saja data data pada range orde 10 akan tidak terlihat, atau relative sama, karena spectrum skala yang terbatas hanya beberapa warna digunakan untuk range yang cukup besar Pada hasil cros section antara lintasan 1 dan 2 pada konfigurasi dipole-dipole tampak sangat pas atau cocok, hal ini membuktikan bahwa data yang diperoleh memiliki korelasi yang relative kuat. Selain itu juga berkaitan dengan variasi nilai resistivitas yang relative sama. Berdasarkan penampang cross section pada konfigurasi wenner dan konfigurasi dipole dipole tampak adanya kesesuaian, pada konfigurasi wenner untuk kedalam sekitar 3,5 meter memiliki tahanan jenis tinggi atau semakin tinggi, dan jika dikorelasikan pada konfigurasi dipole dipole pada kedalaman yang sama juga menunjukan pola serupa. Hal ini dapat digunakan sebagai dasar yang menyatakan bahwa dari hasil pengolahan data menggunakan software res2Dinv dapat diperoleh korelasi antara 2 konfigurasi berbeda pada lintasan yang sama, dengan error dibawah 50 % Dari dugaan adanya keselarasan antara hasil dari konfigurasi wenner dan dipole dipole dapat dibuatkan suatu model lapisan yang memadukan antara hasil dari kedua konfigurasi untuk lintasan yang sama, pada konfigurasi wenner dapat diperoleh perbedaan kondisi litologi secara horizontal sementara untuk konfigurasi diperoleh kondisi litologi secara vertical.

Titik ikat

4.3. Model bawah permukaan Dari hasil penjelasan di atas dapat dimodelkan lapisan bawah permukaan pada area survey tersebut. Diperoleh setidaknya dua lapisan litologi dengan tiap lapisan memiliki kandungan fluida yang berbeda. Lapisan pertama berupa clay antara kedalaman 0 2,5 meter, selanjutnya untuk kedalaman 2,5-3,5 meter merupakan lempung pasiran atau clay-sands, sedangkan pada kedalaman 3,5-4,7 meter merupakan batuan campuran yang diduga merupakan urukan pada proses pembangunan Universitas brawijaya Vegetasi Resapan air Clay 2,5m Clay-sands 3,5m Urukan material 4,7m

0m

5. BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa konfigurasi dipole dipole memiliki data yang lebih banyak dibandingkan dengan wenner untuk lintasan yang sama panjang. Pada konfigurasi dipole-dipole dapat memberikan pola litologi yang lebih sesuai dengan dugaan yaitu berlapis lapis dan relative landai, namun memberikan nilai error yang relative besar, besarnya error ini dapat dikarenakan oleh banyaknya lintasan yang diinterpolasi. Sementara pada konfigurasi wenner beta menghasilkan pola variasi kondisi bawah permukaan secara lateral dengan ditemukannya dugaan genangan air pada lapisan dekat permukaan. Konfigurasi wenner beta memiliki respon variasi nilai resistivitas yang bagus secara horizontal namun kurang memiliki respon yang bagus untuk variasi nilai resistivitas secara vertical dan daya penetrasi relative dangkal, hal ini ditunjukan dengan diperolehnya pola sebaran genangan air yang tersebar jelas secara horizontal, sementara untuk pola lapisan tanah yang dihasilkan relative tidak terlihat atau kurang jelas. Teknis dilapangannya, metode ini lebih praktis dikerjakan dan lebih mudah. Konfigurasi dipole dipole dapat disimpulkan memiliki daya penetrasi yang lebih dalam . Konfigurasi ini memiliki respon yang bagus untuk variasi nilai resistivitas secara vertical namun memiliki respon kurang maksimal untuk variasi nilai resistivitas secara horizontal, hal ini dibuktikan dengan terlihat jelasnya bentuk lapisan tanah yang laminar namun tidak dijumpai pola genangan seperti pada konfigurasi wenner. Teknis dilapangan kofigurasi ini lebih rumit dikerjakan dan membutuhkan waktu relative lama Dari hasil pemodelan diperoleh Lapisan pertama berupa clay antara kedalaman 0 2,5 meter, kedalaman 2,5-3,5 meter merupakan lempung pasiran atau clay-sands, kedalaman 3,5-4,7 meter merupakan batuan urukan material 5.2. Saran Hendaknya pada praktikum selanjutnya dilakukan pada pagi hari atau sore hari, untuk mengoptimalkan suhu pengambilan data, mengingat praktikum ini tergolong praktikum yang ditujukan untuk pemula. Serta kontras suhu tidak terlalu besar, karena kontras suhu yang tinggi dapat sangat mempengaruhi data yang diperoleh, sebab terkait dengan keberadaan air dipermukaan. Selain itu, untuk memaksimalkan data yang diperoleh dan pelaksanaan yang optimum diperlukan ketegasan pihak yang terkait seperti pihak laboratorium, asisten dan peminjam alat non praktikan padahal praktikan telah diplot. Hendaknya alat alat geofisika diprioritaskan untuk praktikan, sementara peminjam yang berkepentingan untuk tugas akhir atau yang lain mengalah, hal ini juga berdasarkan pernyataan Bapak Sukir dosen geolistrik UB 2013.

Daftar Pustaka Alile, O. M., Molindo, W. A., and Nwachokor, M.A. 2007. Evaluation of Soil Profile on Aquifer Layer of Three. Location in Edo State. International Journal of Physical Sciences. 2 (9) : 249-253. Blaricom, Richard Van. 1988. Practical Geophysics for The Exploration Geologist. Northwest Mining Association. USA. Robinson, Coruh. 1988. Basics Exploration Geophysics. Canada : John Willey And Son Inc. Staf Fisika Bumi LFN-LIPI.1984. Interpretasi Curve Matching Metode Schlumberger. Bandung : LIPI. Suciningtyas, I. K. L. N. 2010. Pendugaan Daerah Resapan Mata Air di Kecamatan Ngantang dengan Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas. Skripsi. Universitas Brawijaya. Malang Telford, Geldart and Sheriff. 1976. Applied Geophysics, 2 edition, Cambridge University Press, New York. Vingoe, P. 1972. Electrical Resistivity Surveying. Geophysical Memorandum. Waluyo.2001. Panduan Workshop Eksplorasi Geofisika : Metode Resistivitas. Yogyakarta : Laboratorium Geofisika UGM
nd