Anda di halaman 1dari 224

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012


Pilar Lingkungan Hidup Indonesia

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012


Pilar Lingkungan Hidup Indonesia

KATA PENGANTAR

embangunan nasional Indonesia bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pelaksanaannya perlu memperhatikan keseimbangan tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yakni sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan hasil kesepakatan dunia dalam Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup yang diadakan di Stockholm Tahun 1972 dan Deklarasi Lingkungan Hidup pada KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992 yang menyepakati prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan, ekonomi dan manusia. Indonesia yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam dengan keanekaragaman hayati yang berlimpah seyogyanya dapat membawa bangsa dan negara kita menjadi salah satu yang terbesar di dunia serta, yang terpenting, dapat menjamin tingginya tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata. Sasaran tersebut sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia tentang Sustainable Growth with Equity, atau Pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Dengan memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan secara seimbang, maka dari sisi dimensi lingkungannya diperlukan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sepenuhnya yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Dengan begitu pembangunan akan sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan hidup, yaitu meningkatkan nilai dan fungsi lingkungan hidup. Hal yang harus diperhatikan adalah daya dukung, daya tampung dan aspek pencadangannya serta tata ruang sehingga tidak menimbulkan berbagai bencana lingkungan seperti pencemaran lingkungan, kerusakan hutan dan lahan, banjir, longsor, kekeringan serta berbagai wabah penyakit. Semua itu menyebabkan krisis energi, air dan pangan yang pada akhirnya menjadi ancaman bagi peri kehidupan kita. Patut kita sesali bersama karena pada kenyataannya lingkungan hidup Indonesia telah banyak yang rusak dan cemar serta sumber daya alam kita semakin terkikis. Sesal saja sangat tidak cukup, keterpurukan ini harus menjadi wake-up call pada kita semua untuk bersama-sama berupaya meningkatkan kapasitas diri dalam mengatasi semua permasalahan lingkungan hidup.

ii

Upaya tersebut di atas dipengaruhi oleh perilaku semua pemangku kepentingan baik secara individu maupun kolektif. Oleh karenanya, perilaku ini yang harus diubah menjadi lebih ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan tema Tema Hari Lingkungan Hidup Tahun 2013 Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan. Tema ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian kita atas pentingnya pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan berwawasan lingkungan hidup. Tema ini diadopsi dari Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013 yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Dunia, United Nations Environment Programme (UNEP), yaitu Think.Eat.Save, mengingat perilaku dan pola konsumsi terutama dalam menyikapi daur hidup pangan berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tematik (SLHI) Tahun 2012 disusun untuk memberikan pemahaman akan kondisi lingkungan hidup Indonesia dan bagaimana semua pemangku kepentingan berupaya untuk melindungi dan mengelolanya. Laporan ini difokuskan pada tema kapasitas pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia dengan judul Pilar Lingkungan Hidup Indonesia. Laporan ini menyajikan kecenderungan kualitas lingkungan hidup, gambaran interaksi dinamis antara kapasitas dan kualitas lingkungan hidup serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kapasitas pengelolaan lingkungan hidup yang memadai merupakan elemen penting yang akan menentukan status lingkungan hidup Indonesia di masa depan. Atas nama Kementerian Lingkungan Hidup, pada kesempatan ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tim Pakar dan semua pihak yang telah membantu penyusunan buku Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012 ini. Mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi para pemangku kepentingan, yakni pembuat kebijakan, dunia akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, media massa serta masyarakat luas.

Jakarta, 5 Juni 2013

Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA


iii

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012

Diterbitkan oleh: Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Jl. D. I. Panjaitan Kav. 24 Jakarta 13410 Telp : 021 -8580081 Fax : 021 -8580081 ISBN 978-602-8358-67-5

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

Isi dan materi yang ada dalam buku ini boleh di reproduksi dan disebarluaskan dengan tidak mengurangi isi dan arti dari dokumen ini. Diperbolehkan mengutip isi buku ini dengan menyebutkan sumbernya. Pelindung : Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, Menteri Lingkungan HIdup Pengarah : DR. Henry Bastaman, Deputi MENLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas Penanggung Jawab : Ir. Laksmi Dhewanthi, MA, Asisten Deputi Data dan Informasi Lingkungan Editor : Dida Gardera, Eri Rura, Luhut P Lumban Gaol, Lindawati, Nuke Mutikania, Harimurti, Heru Harnowo, R.Susanto, Adi Fajar Ramly, Hasan Nurdin, Heru Subroto, Indira Siregar, Abdul Aziz Sitepu, Wahyudi Suryatna Penulis : Prof. Dr. Akhmad Fauzi, Prof. Dr. Dedy Darnaedi MSc., Prof. Dr. Lilik Budi Prasetyo, Dr. Budhi Gunawan, Dr. Driejana, Ir. Idris Maxdoni Kamil, M.Sc.,Ph.D., Dr. Herto Dwi Ariesyadi, Hernani Yulinawati, ST., MURP, Ph.D., Ano Herwana, SE, MM., Dida Gardera, S.T., M.Sc., Dr. Esrom Hamonangan, Ir. Dewi Ratnaningsih, Jetro, S.T. Sekretariat : Suhartono, Trileni Ratna Aprita, Saeprudi Pendukung : Baiah, Wiyoga, Agnes Swastikarina Gusthi, Sudarmanto, Tommy Aromdani, Juarno, Sarjono, S Dombot Sunaryedi, Yayat Rukhiyat, Nurheni Astuti, Anastasia, M. Bambang Eko Ariwibowo, Rio Kurniawan M, Tri Prihartiningsih

iv

Ucapan Terima Kasih


Kementerian Lingkungan Hidup Mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam penyusunan Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2012 Kontributor : Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Kontributor Foto : Sugiarti Penjelasan Cover: Sesuai dengan judul SLHI 2012 yaitu Pilar Lingkungan Hidup Indonesia , cover ini berusaha menampilkan keseimbangan tiga pilar pembangunan Indonesia berkelanjutan yakni sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta membangun manusia Indonesia seutuhnya.

DAFTAR

Isi
i ii-iii v vi ix xiii xv 1 3 4 6 9 23 24 26 27 29 30 32 37 47 50 56 60 60 61 63 66 69 69 70 71 72 76 76 76 76 78 80

Cover Dalam Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Kotak 1. INTERAKSI KAPASITAS PENGELOLAAN DENGAN KUALITAS LINGKUNGAN TANTANGAN LINGKUNGAN MEMETAKAN KAPASITAS PENGELOLAAN DAN KUALITAS LINGKUNGAN

2. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA UDARA AIR Kualitas Air Sungai Penurunan Beban Pencemar Kualitas Air Danau Dampak Penurunan Kualitas Air Kuantitas Air Dampak Penurunan Kuantitas Air HUTAN DAN LAHAN Lahan Kritis PESISIR DAN LAUT Kualitas Air Laut KEANEKARAGAMAN HAYATI Keanekaragaman Hayati yang Dilindungi Perundang-Undangan Republik Indonesia Flora Fauna Dalam Red Data List IUCN Flora Fauna dan Mikroba Invasif 3. KAPASITAS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KELEMBAGAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Lembaga Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup Unit Pelayanan Terpadu Registrasi Bahan Berbahaya dan Beracun Lembaga Daerah Pengelolaan Lingkungan Hidup SARANA DAN PRASARANA Laboratorium Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL) Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) SUMBER DAYA MANUSIA PENGELOLA Anggaran Lingkungan Hidup

vi

PENAATAN HUKUM LINGKUNGAN Pengembangan Sistem Penanganan Kasus Lingkungan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Penaatan Dalam Konteks Pembinaan Pendidikan Formal Pendidikan Non Formal Pendidikan Informal PROGRAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Internasionalisasi Lingkungan Hidup Peran Indonesia di Forum Internasional Indonesia Sebagai Tuan Rumah Dalam Pertemuan Internasional Patisipasti Aktif Indonesia dalam Organisasi Regional/Internasional Kerja sama Bilateral Hutan dan Lahan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan di Kementerian Kehutanan Gerakan Penanaman 1 Miliar Pohon Air Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Penyidik Pegawai Negeri Sipil Sumber Daya Air Keanekaragaman Hayati Balai Kliring Keamanan Hayati Taman Keanekaragaman Hayati Protokol Nagoya Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik Konservasi Tumbuhan di Kawasan Ex-situ Konservasi Pesisir dan Laut Program Rantai Emas Rehabilitasi Pantai, Entaskan Masyarakat Setempat Program rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang COREMAP Udara Perubahan Iklim Upaya Sektor Industri Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN) Sampah AKSES PARTISIPASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN Dunia Usaha Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) Pengembangan Industri Hijau Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Badan Usaha Milik Negara Lembaga Swadaya Masyarakat Masyarakat Hukum Adat Perguruan Tinggi

84 86 87 89 90 90 90 91 92 92 92 95 96 96 97 98 101 101 101 102 103 104 105 105 106 106 108 108 108 109 112 114 115 116 118 118 118 120 121 122 123 125 126

vii

Media Massa Masyarakat Umum Pemangku Kepentingan Pro Lingkungan Hidup

128 128 132 134 136 137 139 141 147 147 154 158 160 163 163 163 164 165 167 168 169 169 172 174 175 176 178 180 186 186 189 191 193 194 195 196 198 200 203

4. CATATAN KHUSUS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN Pulau Sumatera Pulau Kalimantan Pulau Papua PENGENDALIAN KERUSAKAN SUNGAI Sungai Ciliwung Sungai Citarum Sungai Cisadane Sungai Brantas GERAKAN PENYELAMATAN DANAU Danau Limboto Danau Singkarak Danau Rawa Pening Danau Ayamaru RAGAM AKSI DAN HIKMAH PEMBELAJARAN Aksi Pengelolaan Teluk Tomini Aksi Pengelolaan Lingkungan Selat Bali Peraturan Tingkat Kampung Melindungi Terumbu Karang Usaha Pelestarian Badak Jawa dan Sumatera Pelestarian Ratusan Spesies Bambu Proyek Raksasa Konservasi Lahan Pembuangan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun 5. KUALITAS LINGKUNGAN DAN KAPASITAS PENGELOLAANNYA KONDISI SAAT INI POTENSI TEKANAN DAN ISU LINGKUNGAN DI MASA DEPAN Sebaran dan Pertumbuhan Penduduk Kemiskinan Alih Fungsi Lahan Pertumbuhan Sektor Transportasi Permintaan Energi Perilaku Peduli Lingkungan KAPASITAS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MASA DEPAN 6. SINTESIS DAN HARAPAN SINTESIS HARAPAN KE DEPAN

viii

DAFTAR

Gambar
Foto Deforestasi Hutan, Eksploitasi BatuBara Skema Driver-Pressure-State-Impacts-Response Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup vs Kualitas Lingkungan Hidup Konsumsi Energi di Indonesia Tahun 1990 2009 dari Berbagai Sektor Tren Peningkatan Jumlah Kendaraan Bermotor (Darat) Nasional Untuk Kategori (A) Mobil, Truk Dan Bus, (B) Sepeda Motor Tren Rata-Rata Tahunan Pengukuran Metode Pasif (A) NO2; (B) SO2 di 33 Ibukota Provinsi Sebaran Konsentrasi Rata-Rata NO2 dan SO2 Di 248 Kota/Kabupaten di Indonesia Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Transportasi Tahun 2011 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Pemukiman Tahun 2011 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Komersial Tahun 2011 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Industri Tahun 2011 Konsentrasi CO Tahun 2011-2012 di Perkotaan (Road Monitoring) Konsentrasi Road Side Monitoring NO2 Tahun 2011-2012 Konsentrasi Road Side Monitoring TSP Tahun 2011-2012 Konsentrasi Road Side Monitoring SO2 Tahun 2011-2012 Konsentrasi Road Side Monitoring Hidrokarbon Tahun 2011-2012 Konsentrasi Road Side Monitoring O3 Tahun 2011-2012 Konsentrasi Rata-Rata PM10 dan PM 2,5 di Sepuluh Kota Indonesia Tahun 2012 Kandungan Logam Berat (ng/m3) Dalam PM Tahun 2012 Konsentrasi Sulfat (mol/L) Air Hujan Rata-Rata Tahunan, 2001-2011 Konsentrasi Nitrat (mol/l) Air Hujan Rata-Rata Tahunan, 2001-2011 Dampak Deposisi Asam Case Fatality Rate KLB Diare di Indonesia Tahun 2005-2012 Persentase Titik Pantau Air Sungai di Indonesia dengan Status Tercemar Berat Berdasarkan Kriteria Mutu Air Kelas II PP 82 Tahun 2001 Penurunan Kualitas Sungai di Indonesia (peta 2008 dan 2012) Sebaran nilai rasio BOD/COD dan Nilai Pencemar Organik Berdasarkan Provinsi Persentase Parameter Kualitas Air 2008-2012 yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Kelas II PP 82/2001 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Terhadap Air Minum Layak (Perkotaan dan Perdesaan) Potensi Air dan Ketersediaan Air per Kapita Sumber Daya Air per Pulau pada Musim Hujan Tinggi Curah Hujan di Tiap Pulau (mm/tahun) Sebaran DAS Kritis pada Tahun 1984, 1992, dan 2005 Jumlah Kejadian Banjir di Indonesia Beberapa Potret DAS Kritis di Indonesia Penurunan Luasan Hutan pada Periode 2000 2011 Persentase Perubahan Hutan pada Periode 2000 2011 Persentase Perubahan Hutan Mangrove pada Periode 2000 2011 Penurunan Luasan Hutan pada periode 2000 2011 per Propinsi 2 4 5 9 10 11 12 13 13 14 14 15 15 16 16 17 17 19 19 21 21 22 23 24 25 26 26 29 31 31 31 32 33 33 37 39 39 41

Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 2.1. Gambar 2.2. Gambar 2.3. Gambar 2.4. Gambar 2.5. Gambar 2.6. Gambar 2.7. Gambar 2.8. Gambar 2.10. Gambar 2.11. Gambar 2.12. Gambar 2.13. Gambar 2.14. Gambar 2.15. Gambar 2.16. Gambar 2.17. Gambar 2.18. Gambar 2.19. Gambar 2.20. Gambar 2.21. Gambar 2.22. Gambar 2.23. Gambar 2.24. Gambar 2.25. Gambar 2.26. Gambar 2.27. Gambar 2.28. Gambar 2.29. Gambar 2.30. Gambar 2.31. Gambar 2.32. Gambar 2.33. Gambar 2.34. Gambar 2.35. Gambar 2.36.

ix

Gambar 2.37. Gambar 2.38. Gambar 2.39. Gambar 2.40. Gambar 2.41. Gambar 2.42. Gambar 2.43. Gambar 2.44. Gambar 2.45. Gambar 2.46. Gambar 2.47. Gambar 2.48. Gambar 2.49. Gambar 2.50. Gambar 2.51. Gambar 2.52. Gambar 2.53. Gambar 2.54. Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 3.3. Gambar 3.4. Gambar 3.5. Gambar 3.6. Gambar 3.7. Gambar 3.8. Gambar 3.9. Gambar 3.10. Gambar 3.11. Gambar 3.12. Gambar 3.13. Gambar 3.14. Gambar 3.15. Gambar 3.16.

Sebaran Kejadian Bencana Banjir & Bencana Banjir Yang Disertai Longsor Tahun 2004 Sampai Dengan Tahun 2011 Sebaran Kejadian Kekeringan Tahun 2004 Sampai Dengan Tahun 2011 Kondisi Terumbu Karang di Indonesia (%) Kandungan Amoniak di Pelabuhan Perbandingan Kandungan Oksigen Terlarut di Pelabuhan Tanjung Priok dan Gorontalo Tahun 2011 2012 Perbandingan Kandungan Fenol di Pelabuhan Tanjung Priok dan Gorontalo Tahun 2011 2012 Perbandingan Kandungan Amoniak di Pelabuhan Tanjung Priok Tahun 2011-2012 Kandungan TSS di Daerah Wisata Kandungan Oksigen Terlarut di Daerah Wisata Kandungan Minyak dan Lemak di Daerah Wisata Kandungan Fenol di Daerah Wisata Kandungan Amoniak di Daerah Wisata Kandungan MBAS di Daerah Wisata Flora Fauna Yang Dilindungi Oleh Undang-Undang Republik Indonesia Flora-Fauna Berdasarkan Kriteria IUCN Kategori Kriteria IUCN pada Fauna Kategori Kriteria IUCN pada Flora Jumlah Jenis Flora Fauna danMikroba Invasif Total Pelayanan Unit Pelayanan Terpadu Jumlah Total Pemohon Layanan Unit Pelayanan Terpadu Penurunan Jumlah Jenis Registrasi Bahan Berbahaya dan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup Peningkatan Total Kualitas Impor Bahan Beracun dan Berbahaya (juta ton) Laporan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Provinsi Nasional Laporan Capaian Indikator Penerapan Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Provinsi Nasional Laporan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Kabupaten/Kota Laporan Capaian Indikator Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Kabupaten/Kota Jumlah Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Tingkat Provinsi Sebaran Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Anggaran Fungsi Lingkungan Hidup vs Total Belanja Pemerintah RI Pembagian Dana Alokasi Khusus Lingkungan 2006 2012 Mekanisme Tata Cara Penanganan Pengaduan Jumlah Sanksi Administrasi yang dikeluarkan tahun 2012 Hasil Pengawasan Penaatan Pelaksanaan Sanksi Administrasi Hasil Evaluasi Kinerja Komisi Penilai Amdal Provinsi dan Kabupaten/Kota

49 49 50 56 56 57 57 58 58 59 59 59 59 61 61 62 62 63 70 71 72 72 74 74 74 74 77 79 80 83 87 88 88 89

Gambar 3.17. Gambar 3.18. Gambar 3.19. Gambar 3.20. Gambar 3.21. Gambar 3.22. Gambar 3.23. Gambar 3.24. Gambar 3.25. Gambar 3.26. Gambar 3.27. Gambar 3. 28. Gambar 3.29. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5. Gambar 4.6. Gambar 4.7. Gambar 4.8. Gambar 4.9. Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17. Gambar 4.18. Gambar 4.19. Gambar 4.20. Gambar 4.21.

Pendidikan dan Pelatihan KLH Tahun 2010 2012 Alur proses pengelolaan Keanekaragaman Hayati Pengembangan Kebun Raya Jaringan Stasiun di Indonesia Pemantau Kualitas Udara Sistem Pelaporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional Kinerja Penanganan Tempat Pembuangan Akhir Tahun 2011-2012 Jumlah Perusahaan Peserta PROPER Neraca Limbah B3 Kegiatan Pertambangan, Energi Migas Neraca Limbah B3 Sektor Kawasan & Jasa Jumlah Anggaran Community Development Media Massa Dalam Pemberitaan/InformasiLingkunganHidup Penghargaan Kalpataru Jumlah dan Prosentase Pemangku Kepentingan Pro Lingkungan Hidup Perubahan Tutupan Hutan P. Sumatera (a) 2000, (b) 2003, (c) 2006, (d) 2009, (e) 2011, (f ) Deforestasi 2000 2011 Perubahan Tutupan Hutan Provinsi di Pulau Sumatera Perubahan Hutan Tahun 2000 Menjadi Tutupan Lahan Lain di Tahun 2011 di Pulau Sumatera Perubahan Tutupan Hutan Provinsi di Pulau Kalimantan (a) 2000 dan (b) 2011 Perubahan Tutupan Hutan Provinsi di Pulau Kalimantan Perubahan Hutan Tahun 2000 Menjadi Tutupan Lahan Lain di Tahun 2011 di Pulau Kalimantan Deforestasi Hutan Pulau Papua 2000-2011 Perubahan Tutupan Hutan Provinsi di Pulau Papua Perubahan Hutan Tahun 2000 Menjadi Tutupan Lahan Lain di Tahun 2011 di Pulau Papua Diagram Perubahan Penutupan Lahan Kabupaten Kuningan Tahun1997, 1999, 2002, 2009 Peta Perubahan Tutupan Lahan Kabupaten Kuningan Tahun 1997, 1999, 2002, 2009 Peta Lokasi Sungai Ciliwung Perubahan Luasan Hutan dan Permukiman DAS Ciliwung, Tahun 2000-2010 Proporsi Perubahan Tutupan Lahan DAS Ciliwung Tahun 2000-2010 Peta Tutupan Lahan DAS Ciliwung Tahun 2010 Status Mutu Hulu-Hilir DAS Ciliwung Tahun 2010-2012 Berdasarkan KMA Kelas II PP 82/2001 Garis Besar Rencana Restorasi Sungai Ciliwung Tahun 2012 2015 Pilot Project Pemulihan Kualitas Lingkungan Sungai Ciliwung Tahun 2006 2011 Peta Wilayah DAS Citarum Perubahan Tata Guna Lahan di DAS Citarum yang Menekan Kondisi Sungai Citarum Jumlah Aliran Air PerTahun Sungai CitarumTahun 1963-2008

91 104 107 109 115 117 118 119 119 122 128 132 133 137 138 138 139 140 141 142 143 143 145 145 148 149 149 150 150 152 152 154 155 156

xi

Gambar 4.22. Gambar 4.23. Gambar 4.24. Gambar 4.25. Gambar 4.26. Gambar 4.27. Gambar 4.28. Gambar 4.29. Gambar 4.30. Gambar 4.31. Gambar 4.32. Gambar 5.1. Gambar 5.2. Gambar 5.3. Gambar 5.4. Gambar 6.1.

Indeks Pencemaran di Segmen Sungai Citarum Hulu Peningkatan Fasilitas Sanitasi di Cekungan Bandung Tahun 2000-2011 Tingkat Pencemaran Sungai Cisadane Peta DAS Brantas Status Mutu DAS Brantas Tahun 2012 Dibandingkan Dengan KMA Kelas II PP 82/2001 Dua Betina Dewasa dan Tiga Anak (kiri); Dua Bekantan Jantan Dewasa (kanan) di Areal Reklamasi Uji coba Penelitian Uji Jenis untuk Tanaman Hutandi Areal Reklamasi Badak Sumatera yang Berhasil Terekam Kamera Populasi Badak Sumatera di Awal Penyebarannya Populasi Badak Sumatera yang Masih Tersisa di Indonesia Estimasi Populasi Badak Jawa Tahun 1967 2012 Perhitungan Pembobotan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Matriks Korelasi antara Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi2009-2012 Perkembangan Kemiskinan di Indonesia 2004 2012 Lokasi Penyebaran Sumber Daya dan Cadangan Batu Bara, Status Desember 2011 Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup vs Kualitas Lingkungan Hidup

156 157 159 160 161 167 168 172 173 173 174 183 182 189 192 202

xii

DAFTAR

Tabel
Pemantauan PM10 dan PM2,5 di 10 Kota Indonesia Tahun 2012 Status Ekosistem15 Danau di Indonesia Tahun 2011 Status Trofik dan Kualitas Air Danau Kriteria Status Trofik Danau Angka Kematian Bayi, Jumlah Kematian, Angka Fertilitas Total dan Jumlah Kelahiran menurut Provinsi 2011 Jumlah Pasien TB Paru Positif dan Diare menurut Provinsi 2009 2010 Jumlah Pasien, Tingkat Kefaalan, dan Tingkat Kejadian Penyakit Demam Berdarah menurut Provinsi, 2008 2010 Jumlah Pasien, Tingkat Kefaalan, dan Tingkat Kejadian Penyakit Demam Berdarah menurut Provinsi, 2008 2010 Laju Perubahan Tutupan Hutan per Tahun per Provinsi pada Periode 2000 2011 Perkembangan Kebakaran Hutan di Berbagai Fungsi Hutan Jumlah Pantauan Hotspot pada Periode 2005-2011 Luas Lahan Kritis Di Indonesia 2000 2011 Luas dan Kondisi Hutan Mangrove Menurut Provinsi Tahun 2011 Luas Penyebaran Hutan Bakau Menurut Provinsi Dan Tingkat Kerusakan, 2007, 2010, 2011 Rehabilitasi Hutan Bakau Menurut Provinsi 2008 2010 Luas Penyebaran Hutan Bakau Menurut Provinsi 2007,2011 Volume Produksi Perikanan 2007 -2011 jumlah Sarana dan Prasarana Perikanan 2007 2011 Lembaga Pengelola Lingkungan Hidup Rekapitulasi Bentuk Kelembagaan LH Daerah Provinsi Dan Kabupaten/Kota (per Februari 2013) Jumlah dan Status Laboratorium Lingkungan di Indonesia TingkatProvinsi Hasil Evaluasi SLHD Tahun 2011 Anggaran Fungsi Lingkungan Hidup vs AnggaranPendapatanBelanja Daerah Total Alokasi Dana Dekonsentrasi Lingkungan 2012 Alokasi DAK Bidang LingkunganHidup Tahun 2006 2013 Tenaga Kerja Kehutanan Pada IUPHHK HT Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan s/d 2011 Nama dan Luas Kebun Raya Perkembangan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia Tahun 2000-2005 (Gg CO2e) Neraca Limbah B3 yang Diperoleh dari Hasil Pengawasan PROPER pada Periode 2010-2011 Neraca Limbah B3 yang Diperoleh dari Hasil Pengawasan PROPER pada Periode2011-2012 Indeks Perilaku Peduli Lingkungan Status Pencemaran di Segmen Sungai Cisadane Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia 2009-2011 Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Tingkat Provinsi Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2010-2035
18 27 27 28 34 35 36 36 38 46 46 47 51 52 52 52 55 55 69 73 75 78 81 82 83 99 107 112 120 120 130 158 181 184 187

Tabel 2.1. Tabel 2.2. Tabel 2.3. Tabel 2.4. Tabel 2.5. Tabel 2.6. Tabel 2.7. Tabel 2.8. Tabel 2.9. Tabel 2.10. Tabel 2.11. Tabel 2.12. Tabel 2.13. Tabel 2.14. Tabel 2.15. Tabel 2.16. Tabel 2.17. Tabel 2.18. Tabel 3.1. Tabel 3.2. Tabel 3.3. Tabel 3.4. Tabel 3.5. Tabel 3.6. Tabel3.7. Tabel 3.8. Tabel 3.8. Tabel 3.9. Tabel 3.10. Tabel 3.11. Tabel 3.12. Tabel 4.1. Tabel 5.1. Tabel 5.2. Tabel 5.3.

xiii

Tabel 5.4. Tabel 5.5. Tabel 5.6. Tabel 5.7.

LajuPertumbuhanPendudukMenurutProvinsi 2010-2035 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, September 2012 Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi di Indonesia Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2011

188 190 193 193

xiv

DAFTAR

Kotak
21 28 84 85 124 126 144

Box: HujanAsam/DeposisiAsam Box: BerbagaiDanauDengan Status Trofiknya Box: Ihwal Izin Lingkungan Box: Landasan Kuat Bagi Pengelolaan Sampah Box: Sepenggal Jejak WALHI Box: Pusat Studi Lingkungan Hidup Perguruan Tinggi Box: Keberhasilan Kuningan Dalam Konservasi Hutan

xv

INTERAKSI KAPASITAS PENGELOLAAN DENGAN KUALITAS LINGKUNGAN

xvi

Penulisan Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012 ini bersifat tematik, yang bertujuan memaparkan kapasitas pengelolaan dalam merespon dinamika lingkungan hidup. Kapasitas pengelolaan dan kualitas lingkungan hidup memiliki relasi timbal-balik. Kapasitas yang memadai akan menentukan mutu lingkungan, dengan menganalisis, merespon dan menentukan aksi dalam menjawab tantangan.

1 Interaksi Kapasitas Pengelolaan dengan Kualitas Lingkungan

Dengan begitu, menimbang betapa krusial ikhtiar meraih keberlanjutan lingkungan hidup, pustaka ini menyajikan pokok bahasan ihwal kapasitas pengelolaan lingkungan. Hal itu mencakup kelembagaan, kebijakan, serta program lingkungan tingkat nasional dan daerah. Pendek kata, laporan ini hendak memaparkan interaksi dinamis antara kapasitas dengan kualitas lingkungan hidup, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tentu saja, paparan yang termuat dalam pustaka ini masih menyimpan keterbatasan dan kekurangan. Satu hal yang perlu menjadi catatan bersama adalah ketersediaan dan validitas data-informasi. Namun demikian, laporan ini disusun dengan melibatkan banyak pihak sehingga dapat dijadikan acuan bersama. Kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, yang melibatkan para pemangku kepentingan, mensyaratkan kecakapan kapasitas pengelolaan lingkungan. Kapasitas yang mumpuni menjadi salah satu elemen penting yang akan menentukan status lingkungan hidup di masa depan.

Pustaka SLHI 2012 memuat enam bab. Bab pertama berisi latar belakang dan tujuan penulisan. Bab kedua menguraikan secara ringkas status lingkungan hidup yang diwakili komponen: sumberdaya hutan dan lahan, sumberdaya pesisir dan laut, sumberdaya air, udara, dan keanekaragaman hayati. Bab ketiga baru memasuki fokus utama tentang kapasitas pengelolaan lingkungan di Indonesia. Lantas, bab keempat menyajikan pembelajaran, dengan memusatkan pada masalah dan kondisi lingkungan tertentu, serta kebutuhan kapasitas untuk mengatasinya. Seiring kemajuan zaman, lingkungan hidup nampaknya akan menghadapi tekanan lebih berat di masa datang. Untuk itu, bab kelima akan meneropong potensi tekanan dan tantangan ke depan. Paparan juga akan menyajikan pemikiran tentang kapasitas pengelolaan yang diperlukan, yang diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman. Bab keenam sebagai bab terakhir akan menyajikan kesimpulan dan beberapa catatan penting.

Gambar 1. Foto Deforestasi Hutan, Eksploitasi Batu Bara

TANTANGAN LINGKUNGAN
Kepulauan Indonesia terbentuk dari 13.466 pulau (BIG, 2010) yang bergelimang sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Kekayaan yang melimpah ruah itu berperan sebagai bekal pembangunan ekonomi selama empat dekade terakhir. Kendati pernah dihantam krisis pada penghujung 1990-an, tren pembangunan agaknya masih berkinerja lumayan baik. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi dalam periode itu diiringi dengan merosotnya sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Indonesia menghadapi tantangan tak ringan: kelangkaan dan kualitas lingkungan menyusut. Salah satu isu yang menonjol selama pembangunan adalah berkurangnya luas kawasan hutan secara drastis sejak 1970-an. Meski upaya reforestasi telah digelar, dalam satu dekade terakhir misalnya, tutupan hutan masih mengalami penurunan: dari 104.747.566 hektare pada 2000, menjadi 98.242.002 hektar pada 2011 (Kementerian Kehutanan). Keadaan kian memburuk: degradasi hutan diikuti pula dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim serta konversi hutan untuk industri kehutanan, kawasan budidaya, plus kebakaran hutan. Beban tak ringan dalam mengelola lingkungan hidup juga terpampang di pesisir dan laut, kualitas dan kuantitas air, kualitas udara kota dan kawasan industri, serta keanekaragaman hayati. Belum lagi bencana alam yang makin kerap melanda di berbagai sudut negeri. Keadaan itu membuat banyak pihak mengelus dada. Tak cukup sampai di situ. Tantangan kian berat lantaran laju pertumbuhan penduduk tak terkendali. Padatnya populasi berdampak berbeda di perdesaan dan perkotaan. Tekanan penduduk di perdesaan, antara lain, telah melejitkan konversi hutan, termasuk merombak lahan marjinal kawasan hutan menjadi lahan budidaya dan permukiman. Penduduk yang bertambah berarti makin banyak perut yang mesti diisi: meningkatkan kebutuhan pangan. Di sisi lain, luas lahan pertanian relatif tetap; bahkan menurun. Sementara itu, tak imbangnya jumlah penduduk dan luas lahan di laju pertumbuhan kendaraan bermotor meningkat pesat tiap tahunnya. Akibatnya, pencemaran udara semakin bertambah. Di beberapa provinsi dan kota besar, knalpot kendaraan bermotor ibarat cerobong asap yang berjalan. Tak heran, moda kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar konsentrasi NO 2 (Nitrogen dioksida), SO 2 (Sulfur dioksida) dan CO (Karbon monoksida). Kini, selain kecelakaan lalu lintas, jalanan juga menebar risiko gangguan kesehatan. Gas Nitrogen oksida misalnya, bila terhirup dapat merusak paru-paru. Pertumbuhan penduduk juga memicu berkembangnya industri manufaktur, kehutanan, pertanian dan peternakan. Dampak tumbuh-kembangnya industri berderet panjang: alih fungsi lahan, polusi, serta meningkatnya sarana dan prasarana transportasi. Ujung-ujungnya, menghamburkan karbon dan gas rumah kaca lainnya. Lingkungan hidup yang ganjil punya dampak lanjutan. Tengoklah kualitas air yang merosot karena minimnya sistem pengolahan air limbah di perkotaan. Rupanya kesadaran industri dalam mengelola limbah masih perlu terus didorong. Tapi, jangan lupa pula: limbah dari masyarakat juga belum dikelola secara optimal. Kualitas lingkungan yang buruk dan ditambah pola hidrologis yang rusak menyebabkan timbulnya berbagai bencana termasuk wabah penyakit, misalnya diare. Di balik daftar panjang masalah di atas, Indonesia tak pernah lelah berupaya menangkal anjloknya mutu lingkungan hidup. Sejatinya, berbagai pihak dari sekujur negeri bekerja keras memulihkan, merespon dan beraksi nyata bagi lingkungan hidup. Di samping telah ada aksi mengurangi laju deforestasi, berbagai upaya lain juga telah dilakukan pemerintah. Upaya itu berada di tiga jalur: mencegah degradasi lingkungan terus berlanjut, merehabilitasi kerusakan, serta melestarikan alam lingkungan yang masih baik. Tentu, kerja keras itu menggandeng berbagai instansi pemerintah, kalangan dunia usaha, organisasi nonpemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat luas.

1 Interaksi Kapasitas Pengelolaan dengan Kualitas Lingkungan

MEMETAKAN KAPASITAS PENGELOLAAN DAN KUALITAS LINGKUNGAN


Laporan ini memakai pendekatan konseptual DriverPressure-State-Impacts-Response (DPSIR) yang dikembangkan United Nations Environment Programme (UNEP). Sebagaimana disajikan dalam Gambar 3, kerangka pendekatan DPSIR ini mengasumsikan hubungan sebab akibat antara komponen sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling berinteraksi, yang terdiri atas: lingkungan. Misalnya: emisi polutan gas ke udara.

State (S), status perubahan lingkungan karena


tekanan. Misalnya: penurunan kualitas udara karena meningkatnya emisi gas buang beracun dari industri.

Impact (I), dampak berubahnya status lingkungan.


Misalnya: gangguan kesehatan penduduk terpaksa menghirup udara tercemar. yang

Driving

kekuatan pendorong terjadinya perubahan lingkungan. Misalnya: kegiatan sosioekonomi, seperti industri atau pertanian.

force

(D) ,

Response (R), respon pemerintah dan masyarakat


luas terhadap empat komponen itu (D-P-S-I). Misalnya: perumusan kebijakan dan aturan ambang batas emisi gas bagi industri atau lainnya.

Pressure (P), tekanan langsung yang dapat merubah

Gambar 2. Skema Driver-Pressure-State-Impacts-Response.

PSR

DPSIR-SCHEME

D + P = Human Impact on the environtment

(i.e. sosioeconomic activities)

Driving Force

R
(i.e. regulation and measures to be taken in respon to human impact)

Response

P
(i.e. emisions/dischart from point and diffuse sources, rivers and atmosphere )

Preasure

I
(i.e. assesment of the effects of human impact)

Impact

S
(present state-natural state as modified by human impact)

State of the environment

Sumber: United Nations Environment Programme

Gambar 3. Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup vs Kualitas Lingkungan Hidup.

Kualitas Lingkungan Hidup Tinggi

I
Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Rendah
l Kualitas Lingkungan Hidup Tinggi l Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Rendah

IV
l Kualitas Lingkungan Hidup Tinggi l Kapasitas Pengelolaan Lingkungan HidupTinggi

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Tinggi

II
l Kualitas Lingkungan Hidup Rendah l Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Rendah

III
l Kualitas Lingkungan Hidup Rendah l Kapasitas Pengelolaan Lingkungan HidupTinggi

Kualitas Lingkungan Hidup Rendah

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Pendekatan DPSIR dapat menggambarkan perubahan status lingkungan yang telah terjadi dan responnya; potensi tekanan yang mungkin terjadi dan respon yang harus dilakukan. Hal itu khususnya menyangkut kapasitas pengelolaan lingkungan yang diperlukan di masa datang. Dengan pendekatan DPSIR, laporan ini mencoba menggambarkan keterkaitan antara kapasitas pengelolaan dengan kualitas lingkungan hidup. Sebagaimana disajikan dalam Gambar 3, korelasi antara kapasitas pengelolaan dan kualitas lingkungan hidup dapat membentuk empat kombinasi sebagai berikut: Kuadran I: kualitas lingkungan tinggi, namun kapasitas pengelolaan rendah, Kuadran II: kualitas lingkungan dan kapasitas pengelolaannya sama-sama rendah, Kuadran III: kapasitas pengelolaan tinggi, namun kualitas lingkungan rendah, Kuadran IV: korelasi positif antara kualitas lingkungan dengan kapasitas pengelolaan yang tinggi.

Dari empat kuadran tersebut, diharapkan kualitas lingkungan dan kapasitas pengelolaan lingkungan di Indonesia berada pada kuadran IV. Ini merupakan korelasi positif dan ideal, kapasitas yang tinggi akan mampu menjaga atau meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Kondisi yang tidak diharapkan adalah kuadran II: kapasitas dan kualitas berkorelasi positif namun negatif. Sedangkan kuadran I dan III adalah anomali. Kapasitasnya rendah, namun kualitas lingkungan hidup tinggi atau sebaliknya. Kuadran I dapat terjadi karena tekanan terhadap lingkunganaktivitas manusia dan pembangunan yang tak ramah lingkunganbelum terlalu besar. Hal yang sebaliknya adalah kuadran III: tekanan sangat besar, sementara kapasitas yang sudah relatif besar, belum mampu memulihkan atau menjaga kualitas lingkungan. Agar lebih terang dapat dilihat pada Gambar 3, Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) versus Kualitas Lingkungan Hidup (LH).

KONDISI LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA

Kondisi lingkungan hidup mengkaji kondisi lingkungan yang mencakup komponen udara, air, hutan, lahan, pesisir-laut dan keanekaragaman hayati. Perubahan kondisi lingkungan hidup tersebut dapat ditinjau dalam kurun waktu tertentu sehingga bisa diketahui kecenderungan ( trend ) maupun kondisi terkini.

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Komponen lingkungan itu menjadi modal utama pembangunan, yang juga mempengaruhi tingkat kualitas hidup manusia. Udara yang tercemar, akses atas air bersih, dan sanitasi yang tak layak, jelas mempunyai dampak negatif bagi kesehatan manusia. Sementara itu, hutan dan lahan punya efek pada siklus hidrologi yang menentukan daya dukung dan daya tampung daerah aliran sungai. Tidak dapat dihindari, rusaknya hutan dan lahan membuat banjir dan kekeringan sering terjadi. Dampaknya akan kian membesar: mengancam kelestarian keanekaragaman hayati, yang bisa memicu kerawanan pangan. Cadangan lain bagi kesejahteraan masyarakat, berada di pesisir dan laut yang juga memiliki banyak

keanekaragaman hayati, yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Keanekaragaman hayati yang berlimpah berarti memperkaya sumber pangan, papan dan obat-obatan. Selain menentukan derajat kesejahteraan, pesisir dan laut, turut menyumbang asupan nutrisi dan protein. Dengan keanekaragaman hayati yang melimpah, Indonesia seharusnya bangga dan mempunyai kesadaran untuk menanggung tanggung jawab besar. Sampai pada saat ini, para pakar meyakini masih banyak keanekaragaman hayati yang belum dikenal ilmu pengetahuan. Status kelangkaan atau keterancaman flora dan fauna menjadi indikator penting status lingkungan hidup.
Harimau putih Foto: Bhisma.

UDARA

Polusi udara akibat dari bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Foto: Dok. Kementerian Lingkungan Hidup

Dari waktu ke waktu, pemakaian energi fosil di Indonesia menunjukan tren yang terus meningkat di semua sektor (Gambar 2.1.) Selama 1990 2009, meningkatnya konsumsi energi pada sektor domestik misalnya, karena meningkatnya populasi manusia (lihat Bab 5). Hanya saja, pemakaian energi di sektor ini tidak terlalu besar dibandingkan sektor industri dan transportasi.

Tanpa disadari, dominasi pemakaian bahan bakar fosil, dibandingkan energi ramah lingkungan, berpengaruh besar terhadap kualitas udara, terutama di metropolitan dan kota besar (SLHI 2010, hal. 39). Dapat dilihat pada data Badan Pusat Statistik yang mencatat konsumsi minyak meningkat dari 99 MBOE ( Million Barel Oil Equivalent ) pada 1992, menjadi 186 MBOE pada 2003 (BPS, 2012).

Gambar 2.1 Konsumsi energi di Indonesia tahun 1990 2009 dari berbagai sektor

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Industri komersial PKP dan Lain-Lain

Rumah Tangga Transportasi Intensitas SBM/Juta Rp


Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

2009

700 600 500 400 300 200 100 0

0.40 0.35 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 -

SBM/Juta Rp

Juta SBM

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Transportasi menjadi salah satu sektor yang paling banyak menggunakan bahan bakar fosil. Sektor ini terus menunjukkan tren naik di semua jenis transportasi: darat, udara dan air (SLHI 2010, hal. 4445). Peningkatan terpesat ada pada transportasi darat, dengan kenaikan total kendaraan bermotor berkisar 10 persen (BPS, 2012). Dari berbagai kategori kendaraan bermotor, jumlah sepeda motor meningkat tinggi. Fakta ini terjadi merata hampir di seluruh provinsi (lihat Gambar 2.2a dan Gambar 2.2b).

Dampak dari pemakaian energi fosil, mempengaruhi kualitas udara. Pencemar udara yang umum dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk bahan bakar fosil, adalah Nitrogen oksida (NOx), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO 2), debu diameter 10 mikron dan 2,5 mikron ke bawah (PM 10 dan PM 2,5), dan hidrokarbon (HC). Proses-proses lain dapat menghasilkan pencemar, seperti H 2S dan NH 3, logam berat, aerosol dan gas sekunder, seperti ozon (O 3).

Gambar 2.2 Tren peningkatan jumlah kendaraan bermotor (darat) nasional untuk kategori (a) mobil, truk dan bus, (b) sepeda motor

(A)

(B)
Sumber: diolah dari data Polri dalam Statistik Indonesia 2012

10

Untuk memeriksa kualitas udara, dilakukan pemantauan dengan berbagai teknik. Seperti pemantauan kontinyu otomatis di 10 kota pada jaringan Air Quality Management System (AQMS), pemantauan dengan metode manual aktif untuk evaluasi kualitas udara secara ad-hoc di sejumlah tempat sesuai peraturan yang berlaku, serta pemantauan secara pasif dengan passive sampler . Pemantauan secara pasif merupakan metode murah

dan tidak rumit, sehingga cocok untuk monitoring jangka panjang di banyak tempat untuk melihat variasi spasial. Pemantauan pasif ini dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup sejak 2005, untuk parameter NO 2 dan SO 2 di 33 ibukota provinsi. Tujuannya: mendapatkan tren kualitas udara secara umum. Mulai 2011, untuk mendapat variasi spasial nasional yang lebih baik, pemantauan NO 2 dan SO 2 dengan metode ini diperluas di 248 kabupaten.

Gambar 2.3 Tren rata-rata tahunan pengukuran metode pasif (a) NO2; (b) SO2 di 33 ibukota provinsi

(A)

(B)
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

11

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Hingga kini, pemantauan secara pasif telah dilakukan empat kali setahun, dengan durasi satu minggu setiap pengamatan. Di setiap kabupaten/kota ditetapkan empat titik pemantauan berdasarkan tata guna lahan: jalan (transportasi), wilayah industri, pemukiman dan wilayah komersial. Kelebihan metode ini adalah kemampuannya memberikan informasi dengan resolusi spasial yang tinggi dengan biaya rendah, sehingga cocok untuk membandingkan konsentrasi antar-wilayah antar-kabupaten/kota, 400 lebih lokasi. Pembandingan dengan baku mutu dapat dilakukan dengan baku mutu jangka panjang, dengan syarat nilai rata-ratanya dapat mewakili konsentrasi rata-rata tahunan. Secara kualitatif, data dari 33 ibukota provinsi selama 2006 2012 menunjukkan konsentrasi NO 2 cenderung naik (Gambar 2.3a). Hal itu mungkin karena pembakaran bahan bakar fosil yang terus meningkat, terutama dari kendaraan bermotor. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan berikutnya (Gambar 2.4).

Pada parameter SO 2, tren kenaikannya belum terlihat, justru terlihat menurun (Gambar 2.3b), walaupun secara statistik pemakaian batubara dan solar meningkat. Penyebab fenomena ini, selain terkait dengan emisi, juga adanya konversi fisik-kimia gas SO 2 di atmosfer menjadi aerosol sulfat (SO 4) yang tidak terdeteksi oleh pemantau gas, termasuk oleh passive sampler yang mempunyai prinsip difusi gas. Hal itu dapat dideteksi dari adanya sulfat dalam air hujan maupun partikel aerosol. Selain pembandingan kualitas udara antar-kota/ kabupaten secara umum, pemantauan pasif juga memberi informasi perbandingan relatif kualitas udara tiap tata guna lahan yang dipantau. Gambar 2.4. menyajikan kota-kota yang padat penduduk punya konsentrasi NO 2 lebih besar. Sedangkan kota dengan aktivitas industri menunjukkan konsentrasi SO 2 relatif tinggi dibandingkan kota-kota lainnya.

Gambar 2.4 Sebaran konsentrasi rata-rata NO2 dan SO2 di 248 kota/kabupaten di Indonesia

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

12

Gambar 2.5 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari sektor transportasi tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.6 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari sektor pemukiman tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

13

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Gambar 2.7 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari sektor komersial tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.8 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari sektor industri tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

14

K o n s e nt ra s i N O 2 ( u g /N m 3 )
Ko n s ent ra s i CO ( ug /N m 3 )

100

120

140

160

180

200

10.000

12.000

20
2.000 4.000 6.000 8.000 0 Balikpapan Bandar Lampung Bandung Banjarmasin Bekasi Bogor Denpasar Depok Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Kota Batam Makasar Malang Medan Padang Palembang Pekanbaru Samarinda Semarang Surabaya Surakarta Tangerang Yogyakarta 2012 2011 Kota

40

60

80

Balikpapan

Bandar Lampung

Bandung

Banjarmasin

Bekasi

Bogor

Denpasar

Depok

Jakarta Barat

Jakarta Pusat

Jakarta Selatan

Jakarta Timur

Gambar 2.11 Konsentrasi road side monitoring NO2 tahun 2011-2012

Gambar 2.10 Konsentrasi CO tahun 2011-2012 di perkotaan (road monitoring)

15
2011 2012 Baku Mutu NO2
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Jakarta Utara

Kota

Kota Batam

Makasar

Malang

Medan

Padang

Palembang

Pekanbaru

Samarinda

Semarang

Surabaya

Surakarta

Baku Mutu Co

Tangerang

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Yogyakarta

K onsentrasi S O 2 (u g/N m 3 )
K onse nt rasi TSP ( u g /N m 3 ) 100 150 200 250 300 350 400 450 50 0

100

150

200

250

300

350

400

50
Balikpapan Bandar Lampung Bandung Banjarmasin Bekasi Bogor Denpasar Depok Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Kota Batam Makasar Malang Medan Padang 2012 Palembang Pekanbaru Samarinda Semarang Surabaya Surakarta Tangerang Yogyakarta 2011
Kota

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Balikpapan

Bandar Lampung

Bandung

Banjarmasin

Bekasi

Bogor

Denpasar

Depok

Jakarta Barat

Jakarta Pusat

Jakarta Selatan

Jakarta Timur

Gambar 2.12 Konsentrasi road side monitoring TSP tahun 2011-2012

Gambar 2.13 Konsentrasi road side monitoring SO2 tahun 2011-2012

16
2011 2012 Baku Mutu SO2
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Jakarta Utara

Kota

Kota Batam

Makasar

Malang

Medan

Padang

Palembang

Pekanbaru

Samarinda

Semarang

Surabaya

Surakarta

Baku Mutu TSP

Tangerang

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Yogyakarta

Kon sent ra si O 3 ( ug / N m 3 )
K o nse nt rasi (u g/ N m 3 )

100

150

200

250

300

350

400

100

150

200

250

300

350

400

50
50 0 Balikpapan Bandar Lampung Bandung Banjarmasin Bekasi Bogor Denpasar Depok Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Kota Batam Makasar Malang Medan Padang Palembang Pekanbaru Samarinda Semarang Surabaya Surakarta Tangerang Yogyakarta 2012 2011 Kota

Balikpapan

Bandar Lampung

Bandung

Banjarmasin

Bekasi

Bogor

Denpasar

Depok

Jakarta Barat

Jakarta Pusat

Jakarta Selatan

Jakarta Timur

Gambar 2.15 Konsentrasi road side monitoring O3 tahun 2011-2012

Gambar 2.14 Konsentrasi road side monitoring hidrokarbon tahun 2011-2012

17
2011 2012 Baku Mutu O3
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Jakarta Utara

Kota

Kota Batam

Makasar

Malang

Medan

Padang

Palembang

Pekanbaru

Samarinda

Semarang

Surabaya

Surakarta

Baku Mutu HC

Tangerang

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Yogyakarta

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Pemantauan kualitas udara juga dilakukan melalui Program Langit Biru dengan Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan (EKUP). Salah satu kegiatan EKUP: memantau kualitas udara yang bersumber dari transportasi kendaraan bermotor ( roadside monitoring ). Berdasarkan kategori kota, tiga kota metropolitan dengan nilai Langit Biru tertinggi adalah: Tangerang, Jakarta Selatan, dan Medan; untuk kota besar: Kota Batam, Denpasar, dan Manado; serta untuk kota sedang dan kecil: Serang, Manokwari, dan Mataram. EKUP telah digelar pada 2007 2008 dan 2011 - 2012. Jumlah kota yang dievaluasi pada 2012 mencapai 45 kota di 33 provinsi, meningkat dari 26 kota pada 2011yang juga dievaluasi kembali pada 2012. Hasil uji emisi kendaraan bermotor menunjukkan naiknya tingkat kelulusan rerata untuk kendaraan bensin: dari 85 persen pada 2011, menjadi 88 persen pada 2012. Namun, untuk kendaraan solar, tingkat kelulusan rerata menurun: 47 persen pada 2011, menjadi 43 persen pada 2012. Pengukuran kualitas udara di jalan raya meliputi parameter Karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), SO 2, TSP, Ozon, dan Nitrogen dioksida (NO 2). Dibandingkan hasil pemantauan pada 2011 di 22 kota, konsentrasi CO cenderung menurun, kecuali di empat kota (Gambar 2.10). Namun, konsentrasi NO 2 terjadi sebaliknya, cenderung meningkat pada 2011 dan 2012 (Gambar 2.11). Kecenderungan serupa juga terjadi untuk konsentrasi TSP (Gambar 2.12) dan SO 2 (Gambar 2.13). Sementara itu, hidrokarbon telah melebihi

baku mutu di 8 kota, walaupun cenderung menurun dibandingkan pada 2011 (Gambar 2.14). Penurunan juga terjadi untuk parameter ozon (Gambar 2.15). Pemantauan udara jalan raya sejumlah kota besar pada 2012 memberikan informasi beberapa pencemar udara meningkat. Hal ini berarti kualitas udara menurun, yang berdampak buruk bagi kesehatan, pertumbuhan hutan, mengurangi jarak pandang, dan merusak bangunankarena hujan asam. Selain menimbulkan asap hitam, bau tidak sedap, iritasi mata dan infeksi pernafasan, pencemaran udara juga memicu risiko kematian dini, produktivitas kerja menurun, dan gangguan produksi pertanian. Dapat dilihat pada studi Asian Development Bank (ADB) pada 2002 yang mengidentifikasikan, dampak kesehatan karena udara tercemar di Jakarta menelan biaya Rp 1,8 triliun. Di beberapa provinsi dan kota besar, kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar konsentrasi NO 2, SO 2 dan CO di udara, hingga melebihi 50 persen. Jika gas NO 2 terhirup, akan merusak paru-paru. Jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar sempurna dan zat hidrokarbon lain, NO 2 akan membentuk ozon rendah atau smogkabut coklat kemerahan yang telah menyelimuti beberapa kota lain di dunia. Risiko lain adalah particulate matter (PM), yang mempunyai pengaruh lebih besar bagi manusia dibandingkan pencemar udara lain. Komponen utama

Tabel 2.1 Pemantauan PM10 dan PM2,5 di 10 Kota Indonesia Tahun 2012 Lokasi Pemantauan Rata-rata PM10 (g/m3) Rata-rata PM2,5 (g/m3) N Periode Pemantauan 2012

1. Yogyakarta 2. Semarang 3. Surabaya 4. Palangkaraya 5. Pekanbaru 6. Bandung 7. Jakarta 8. Tangerang 9. Denpasar 10. Makassar

23.63 29.91 51.14 27.63 49.92 43.89 51.14 27.64 43.65 24.33

10.33 9.28 19.66 11.87 18.63 17.21 19.72 11.56 15.31 7.69

50 30 13 52 42 52 30 42 10 17

Jan Des Mar Des Mar Jun, Sep, Okt Jan Des Mar - Des Jan Des Jan Des Jan Des Sep Nov Okt Des

Baku Mutu Udara Ambien PP No. 41 tahun 1999: Waktu Pengukuran 24 jam PM10 = 150 g/m3. Waktu Pengukuran 24 jam PM2,5 = 65 g/m3; 1 tahun = 15 g/m3 Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

18

PM adalah sulfat, nitrat, amonia, natrium klorida, karbon, debu mineral dan air. Particulate matter terdiri dari campuran yang kompleks antara partikel padat dan cair dari bahan organik dan anorganik yang tersuspensi di udara. Beberapa penelitian menunjukkan, lebih banyak kematian karena PM 2,5 (PM di bawah 2,5 m) dibandingkan PM 10 (PM di bawah 10 m). Namun, partikel antara 2,5 10 m juga berisiko, jika dikaitkan dengan asma dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara telah menetapkan baku mutu untuk PM 10 dan PM 2,5. Kementerian Lingkungan Hidup telah memantau udara secara kontinyu (AQMS), termasuk particulate matter , di 10 kota. Namun hanya tiga kota yang aktif, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Palangkaraya (KLH, 2011). Mulai 2012 juga dilakukan pemantauan dengan GENT Stacked Filter Unit Sampler untuk pengukuran PM 10 dan PM 2,5.

Gambar 2.16 Konsentrasi rata-rata PM10 dan PM 2,5 di sepuluh kota Indonesia tahun 2012 60
Konsentrasi (ug/m3)

50 40 30 20 10 0
Yogyakarta Pekanbaru Denpasar Jakarta Palangkaraya Tangerang Semarang Surabaya Bandung Makasar

PM 2,5 PM 10 BM PM 2,5

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.17 Kandungan logam berat (ng/m3) dalam PM tahun 2012 700 600
Konsentrasi (ug/m3)

Yogyakarta Semarang Surabya Palangkaraya Pekanbaru Bandung Jakarta Tangerang Denpasar Makasar

500 400 300 200 100 0

Na Mg AI K Ca Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn As Pb Sb
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

19

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Calon pengguna angkutan umum menutup hidungnya dari polusi (asap) kendaraan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Foto: TEMPO/ Arie Basuki

Konsentrasi PM 2,5 tahunan yang melebihi baku mutu terlihat di Surabaya, Pekanbaru, Bandung, dan Jakarta. Rasio PM 2,5 terhadap PM 10 berkisar antara 0,3 sampai 0,48. Jika mengacu pada WHO Air Quality Guidelines 2005, rekomendasi untuk waktu pengukuran 24 jam PM 10 adalah 50 g/m 3 dan 1 tahun sebesar 20 g/m 3. Sedangkan untuk waktu pengukuran 24 jam PM 2,5 sebesar 25 g/m 3 dan 1 tahun sebesar 10 g/m 3. Kualitas udara di kota-kota tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Filter juga digunakan untuk menganalisis kandungan hampir 20 unsur logam dalam PM. Emisi sumber bergerak adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap Fe dan Zn di perkotaan. Fe juga dapat berasal dari resuspensi debu alami. Untuk parameter timbal (Pb), dibandingkan kota-kota lain, Surabaya terdeteksi memiliki kadar Pb tertinggi, diikuti Tangerang dan Jakarta. Kondisi itu berasal dari emisi industri, sedangkan Na, Al, K, dan Ca berasal dari tanah.

20

Hujan Asam/Deposisi Asam


Hujan asam adalah istilah umum untuk menjelaskan berbagai cara senyawa asam jatuh dari atmosfer. Istilah yang lebih tepat adalah deposisi asam, yang terdiri dari deposisi basah dan deposisi kering. Deposisi asam terjadi ketika emisi SO 2 dan NOx di udara bereaksi dengan air, O 2, dan oksidan sehingga terbentuk senyawa asam yang jatuh ke Bumi dalam bentuk kering (gas, partikel) maupun basah (hujan, salju, kabut). pH air hujan normal berkisar 5,6 sehingga di bawah nilai itu berpotensi terjadi hujan asam. Hujan asam terjadi bila pH di bawah 4,5. Deposisi asam tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi regional karena melampaui batas nasional ( transboundary atmospheric pollution ). Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) didirikan sebagai inisiatif kerja sama regional, Indonesia menjadi salah satu anggota yang aktif sejak 1998. Ada lima lokasi di Indonesia yang menjadi bagian kerja sama ini: Jakarta, Serpong, Kototabang, Bandung, dan Maros. Sepanjang 2001 2011, pH rata-rata air hujan di lima lokasi itu cenderung di bawah air hujan normal (pH 5,6) dan beberapa justru mendekati 4. Terlihat potensi terjadinya hujan asam. Hal itu diperkuat dengan meningkatnya anion sulfat dan nitrat dalam air hujan, yang merupakan prekursor hujan asam.

Gambar 2.18 Konsentrasi Sulfat (mol/L)air hujan rata-rata tahunan, 2001-2011


80,00

Konsentrasi Sulfat (mg/L)

70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00


2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Jakarta Serpong Kototabang Bandung Maros

Tahun

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012 Gambar 2.19 Konsentrasi nitrat (mol/l) air hujan rata-rata tahunan, 2001-2011

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Tahun
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

21

2010

90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00

Konsentrasi Nitrat (mg/L)

Jakarta Serpong Kototabang Bandung Maros

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Gambar 2.20. foto dampak deposisi asam

Foto: Istimewa

Deposisi asam dapat menyebabkan tanah dan badan air menjadi asam, sehingga tidak layak untuk kehidupan ikan dan hewan liar. Selain itu, dapat merusak pepohonanterutama pada elevasi tinggi, merusak bangunan, monumen dan benda bersejarah. Deposisi asam dapat berdampak global, yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, antara lain: Keasaman air danau membuat berkurangnya spesies tertentu. Jenis plankton dan invertebrata adalah makhluk yang paling cepat terpengaruh pengasaman. Jika pH danau di bawah 5, lebih dari 75 persen spesies ikan akan hilang karena pengaruh rantai makanan. Hal ini berdampak pada kelangsungan ekosistem. Deposisi asam akan menghilangkan nutrisi yang dibutuhkan tanah. Deposisi asam juga dapat membebaskan senyawa beracun alamiah dalam tanahseperti aluminium dan merkuri. Akibatnya, sungai, air tanah, dan tumbuhan di sekitarnya akan teracuni. Deposisi asam yang larut bersama nutrisi tanah akan menghilangkan nutrisi itu sebelum dimanfaatkan pepohonan untuk tumbuh. Sementara senyawa beracun yang larut akan menghambat pertumbuhan, daun cepat gugur, pohon terserang penyakit, kekeringan dan mati. Menurut Soemarmoto (1992), daun yang terkena

deposisi asam berkadar magnesium rendahsalah satu nutrisi esensial bagi tanaman. Kekurangan magnesium lantaran unsur ini tercuci dari tanah karena pH yang rendah. Karena rentan perubahan ekstrim, spesies hewan renik dalam tanah akan langsung mati pada saat pH tanah meningkat. Spesies hewan lain juga terancam mati, karena jumlah produsen (tumbuhan) semakin sedikit. Berbagai penyakit juga akan menyerang, karena kulit hewan terpapar air asam. Berdasarkan penelitian, SO 2 dari hujan asam dapat bereaksi kimia di udara, yang menyebabkan penyakit pernapasan. Selain itu, risiko terkena kanker kulit juga meningkat, jika kulit terpapar langsung dengan senyawa sulfat dan nitrat. Deposisi asam dapat mempercepat proses pengaratan dari beberapa material, seperti batu kapur, pasir besi, marmer, batu pada dinding beton dan logam. Hujan asam merusak batuan dengan melarutkan kalsium karbonat, meninggalkan kristal pada batuan.

Deposisi asam, baik basah maupun kering, dapat merusak bangunan, patung, kendaraan bermotor dan benda dari batu, logam atau material lain bila diletakkan di area terbuka dalam waktu lama.

22

AIR
Ada tiga masalah klasik air yang disebut 3T : too much, too little, too dirty . Too much berarti di suatu tempat, air terlalu berlebih. Too little berarti di suatu tempat, air sangat kurang. Dan too dirty yang berarti air terlalu kotor. Hal terakhir menunjukkan adanya polusi air karena kebiasaan membuang sampah dan limbah industri ke badan air (Kodoatie R.J, 2011). Secara global, pencemaran air berasal dari limbah cair domestik dan industri tidak dikelola, sampah domestik, pemakaian air berlebihan, dan penataan fungsi lahan yang tidak baik. Ini diperparah dengan 30 persen masyarakat yang masih buang air besar sembarangan di badan air. Setiap hari sekitar 14.000 ton tinja manusia belum dikelola dengan benar. Sehingga berdampak pada kualitas air yang menurun. Tidak hanya itu, ketersediaan air juga terganggu, akibat alih fungsi lahan yang meningkatkan aliran permukaan ( run-off ) di kawasan hilir, yang berpotensi menimbulkan banjir. Antara 2006 sampai 2011, secara nasional persentase rumah yang dilengkapi tangki septik meningkat dari 40,67 persen menjadi 60,33 persen. Pada 2011, DKI Jakarta menjadi provinsi tertinggi dengan jumlah rumah dengan tangki septik, yakni 93,90 persen. Sedangkan provinsi dengan persentase terendah adalah Papua: 28,42 persen (BPS, Indikator Pembangunan Berkelanjutan 2012). Kualitas air yang buruk dan ganjilnya siklus hidrologi, berpotensi mengganggu kesehatan, seperti terlihat pada gambar 2.21 Penyakit diare misalnya, identik dengan kualitas air yang buruk, kurangnya ketersediaan air bersih, dan diperburuk dengan perilaku tidak higienis.

Gambar 2.21 Case fatality rate KLB diare di Indonesia tahun 2005-2012

2,94

2,44 2,16 1,89 1,74 1,74 2,12

0,4

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Sumber: Kementerian Kesehatan, 2012

23

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Kualitas Air Sungai


Sampai saat ini pencemaran air masih menjadi masalah penting di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Tingkat pencemaran air dievaluasi dengan metode Storet. Metode ini merupakan salah satu metode untuk menganalisis status pencemaran air yang diterapkan di Indonesia. Gambar 2.22 menyajikan meningkatnya persentase titik pantau dengan status tercemar berat selama 2008 2012. Hal ini berarti perlindungan dan pemulihan kualitas air sungai-sungai utama, khususnya di perkotaan, belum berhasil.

Gambar 2.22 Persentase titik pantau air sungai di Indonesia dengan status tercemar berat berdasarkan Kriteria mutu Air Kelas II PP 82 Tahun 2001
100 90 80 70 Persen % 60 50 40 30 20 10 0 2008 2009 2010 2011 2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Hasil pemantauan 2008 2012 tersebut menunjukkan kualitas air sungai cenderung menurun, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera, seperti terlihat pada gambar 2.23 Sumber utama pencemar berasal dari aktivitas domestik, yang terlihat dari parameter organik (proporsi BOD/COD dan kandungan Coliform) terutama di Maluku, Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utaraterlihat pada gambar 2.24 Kualitas air sungai sebagian besar provinsi memiliki nilai kandungan organik melebihi baku mutu (diwakili parameter COD), yaitu sebesar 25 mg/lberdasarkan PP Nomor

82/2001. Nilai organik tertinggi terpantau di Jawa Barat. Hal ini berkaitan dengan tingkat sanitasi rendah. Meskipun begitu, persentase mutu air cemar berat sudah berkurang dari 82 persen pada 2011, menjadi 75,2 persen pada 2012terlihat pada gambar 2.25. Khusus Pulau Jawa, terlihat ada tendensi menurunnya kualitas air dari perindustrian. Sumber pencemar dari pertanian belum bisa diidentifikasi karena monitoring rutin pencemar spesifik sektor ini belum dilakukan.

Foto: Indarto

24

Gambar. 2.23 Penurunan Kualitas Sungai di Indonesia (peta 2008 ).

Keterangan: Tulisan provinsi warna hijau menunjukan kualitas air sungai yang membaik, tulisan provinsi warna putih menunjukan kualitas air sungai tetap, sedangkan tulisan provinsi warna merah menunjukan kualitas air sungai menurun. Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar. 2.23 Penurunan Kualitas Sungai di Indonesia (peta 2012 ).

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

25

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Gambar 2.24 Sebaran nilai rasio BOD/COD dan nilai pencemar organik berdasarkan provinsi

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012 Gambar 2.25 Persentase parameter kualitas air 2008-2012 yang tidak memenuhi Kriteria Mutu Air Kelas II PP 82/2001

70 60 50 40 30 20 10 00 Minyak & Lemak Klorin Bebas Detergen Fecal Coli Total Coli NO2 COD NO3 TDS Fenol BOD H2S pH DO TSS T-P

Persen %

2008 2009 2010 2011 2012

Parameter
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Penurunan Beban Pencemaran


Pengawasan secara intensif melalui Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dan sistem perizinan telah berhasil menurunkan beban pencemaran lingkungan. Selama 2010 2012 beban pencemaran air yang bisa diturunkan dari industri mencapai 19.885.997.416 kg atau 52,3 persen dari total air limbah organik industri. Sementara untuk emisi gas rumah kaca dari industri, telah berhasil menurunkan beban pencemaran sebesar 51.019.189 kg-setara-CO 2 atau sebesar 1,32 persen. Tantangan terbesar adalah mengurangi pencemaran dari rumah tangga, yang baru berhasil menurunkan 139.693.010 kg atau 5,4 persen dari total beban yang dihasilkan setiap hari. Termasuk beban pencemaran dari pertanian, seiring makin banyaknya pemakaian pupuk dan pestisida.

26

Kualitas Air Danau


Pemantauan kualitas air di 15 danau utama pada 2011 menunjukkan, sebagian besar masuk dalam kategori eutrof, kondisi terestrial daerah tangkapan air terancam, dan kondisi sempadan danau terancam lihat tabel 2.2. Pada 2012, pemantauan di lima danau, terdapat dua danau, Danau Batur dan Danau Singkarak, yang menunjukkan sedikit perbaikan, seperti terlihat pada tabel 2.3. Eutrofikasi disebabkan peningkatan kadar unsur hara, terutama Nitrogen dan Fosfor pada air danau ataupun waduk. Kondisi Oligotrof adalah status trofik air danau atau waduk yang mengandung kadar unsur hara rendah. Status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah, belum tercemar Nitrogen dan Fosfor. Sementara itu, Eutrof adalah status air danau atau waduk yang memiliki kadar unsur hara yang tinggi. Status ini menunjukkan air telah tercemar karena naiknya kadar Nitrogen dan Fosfor. Status terakhir, Hypereutrof adalah status trofik air danau atau waduk yang mengandung kadar unsur hara sangat tinggi. Artinya, air telah tercemar berat kadar Nitrogen dan Fosfordapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.2 Status Ekosistem 15 Danau 2011


Status Ekosistem No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Nama Danau Toba Singkarak Maninjau Kerinci Rawa Danau Rawa Pening Batur Tempe Matano Poso Tondano Limboto Mahakam (Semayang, Melintang,Jempang) Sentarum Sentani Terestrial Daerah Tangkapan Air Terancam Terancam Rusak Terancam Terancam Rusak Terancam Rusak Terancam Terancam Rusak Rusak Terancam Rusak Terancam Sempadan Danau Terancam Terancam Rusak Terancam Terancam Rusak Terancam Rusak Terancam Terancam Rusak Rusak Terancam Terancam Terancam Status Trofik (Perariran Danau) Eutrof Eutrof Hypereutrof Eutrof Eutrof Hypereutrof Eutrof Eutrof Oligotrofik Eutrof Eutrof Eutrof Eutrof Eutrof Eutrof

Sumber: Data diolah Kementerian Lingkungan Hidup (2011)

Tabel 2.3 Status trofik dan kualitas air danau


No. Danau Toba 1 - Berdasarkan Total P - Berdasarkan Total N - Berdasarkan rata-rata Klhorofil Danau Tempe - Berdasarkan Total P - Berdasarkan Total N Danau Batur Danau Singkarak - Berdasarkan Total N dan P (inlet) - Berdasarkan Total N dan P (tengah) Danau Kerinci - Berdasarkan Total N dan P Eutrofik Mesotrofik Hypertrof Oligotrof Mesotrofik Eutrof Oligotrof Eutrof Cemar Ringan Danau Status Trofik Kualitas Air

2 3 4

Cemar Berat Cemar Ringan Cemar

Cemar Ringan Eutrof Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

27

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Tabel 2.4 Kriteria Status Trofik Danau


Status Trofik Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof Kadar Rata-Rata Total - N (ug/l) < 650 < 750 < 1900 > 1900 Kadar Rata-Rata Total - P (ug/l) < 10 < 30 < 100 > 100 Kadar Rata-Rata Klorofil-a (ug/l) < 2.0 < 5.0 < 15 > 200 Kecerahan Rata-Rata (m) > 10 > 4 > 2.5 < 2.5

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup 2009, Modifikasi OECD 1982, MAB 1989; UNEP-ILEC, 2001

Berbagai Danau dengan Status Trofiknya


Danau Toba memiliki luas permukaan 1.124 km 2 5.000 m 2 dengan ketinggian 783 m dpl, di kaki
(112.400 hektar) dengan panjang tepi danau sekitar 428,7 km; panjang dan lebar maksimum danau: 50,2 km dan 26,8 km. Total luas daerah tangkapan air (DTA) adalah 186.720.121 m 2. Pencemar danau ini bersumber dari aktivitas domestik, peternakan, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Penyumbang utama pencemar Nitrogen dan Fosfor adalah budidaya perikanan, peternakan dan domestik. Status trofik Danau Toba, berdasarkan kadar ratarata Khlorofil-a, adalah Eutrof sampai Hipereutrof. Gunung Raja. Analisis beberapa parameter kualitas air dengan status mutu kelas 2 menunjukkan beban pencemaran Danau Kerinci tergolong ringan. Hal ini terlihat dari hasil perhitungan Indeks Pencemaran (IP) dengan parameter-parameter BOD, H 2S dan NO 2. Danau Kerinci berstatus Eutrof, dengan kadar total Fosfat sebesar 45-57 g/l; tingkat kecerahan sebesar 1,5 m; dan kadar Khlorophyl-a sebesar 0,5- 4,0 g/l. Daya Tampung Beban Pencemaran Air (DTBPA) Danau Kerinci berdasarkan karakteristik morfometriknya sebesar 55,13 ton Fosfat per tahun. Namun beban pencemaran air pada saat ini telah melebihi nilai DTBPA, diperkirakan sebesar 130 ton Fosfat per tahun, bersumber dari aktivitas penduduk, pertanian dan keramba jaring apung.

Danau Batur terletak di kaki Gunung Batur, Bali.


Danau terbesar di pulau Bali ini terbentuk dari kawah besar akibat letusan Gunung Batur ribuan tahun lalu. Air danau mengalir ke hampir seluruh sungai besar di Bali, seperti Sungai Unda di Bali Selatan; Sungai Suni di Bali Barat; dan Sungai Bayumala di Bali Utara. Berdasarkan analisis beberapa parameter kualitas air dengan status mutu kelas 1, terlihat beban pencemaran di Danau Batur tergolong ringan. Hal ini terlihat dari hasil perhitungan Indeks Pencemaran (IP) yang menunjukkan angka ratarata 1,806. Status trofik Danau Batur menunjukkan status Mesotrof Eutrof, dengan konsentrasi Fosfat: 79 g/l dan kandungan Khlorofil-a: 3,27,1 g/l.

Danau Tempe di bagian barat Kabupaten Wajo,


Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Sengkang menuju tepi Sungai Walanae. Danau seluas sekitar 13.000 hektar ini terletak di atas lempeng benua Australia dan Asia. Danau ini merupakan salah satu danau tektonik di Indonesia. Sumber air danau berasal dari Sungai Bila dan anak sungai Bulu Cenrana. Danau Tempe mengalami pendangkalan akibat tingginya erosi di bagian hulu. Hasil pengukuran kualitas air, khususnya total Fosfat, pada 2012 menunjukkan danau ini berstatus Hipertrofik.

Danau Kerinci terletak di Kerinci, Jambi, seluas

28

Dampak Penurunan Kualitas Air


Hampir seluruh sungai utama di Indonesia mengalami penurunan kualitas air, sehingga air sungai tak dapat digunakan langsung sebagai sumber air bersih. Hal tersebut membuat jumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan air bersih cukup besar, yaitu sekitar 119 juta. Sedangkan, sebagian besar masyarakat yang punya akses terhadap air bersih, memperolehnya dari PDAM, penyalur air komersial dan sumur air dalam. Di Kalimantan Barat misalnya, hasil Susenas 2011 menunjukkan hanya 24 persen rumah yang memiliki akses air bersih. Air bersih itu berupa air kemasan, air isi ulang, air PDAM, sumur bor, sumur dan mata air terlindung jarak ke penampungan akhir tinja sekurangnya 10 meter. Sementara di DKI Jakarta, penduduk yang memakai air bersih untuk keperluan harian sudah mencapai 91,54 persen. Selama 2006 - 2011, persentase rumah tangga yang memakai air bersih menunjukkan peningkatan, dari 49,69 persen pada 2006, menjadi 62,65 persen pada 2011 (BPS, Indikator Pembangunan Berkelanjutan 2012). Menurut survei tahunan BPS, volume air bersih yang disalurkan perusahaan air bersih kepada pelanggan pada 2006 sebesar 3,79 miliar m 3, sedangkan pada 2010 tersalurkan 2,44 miliar m 3. Total volume air bersih terbesar yang disalurkan perusahaan air bersih pada 2010 terdapat di DKI Jakarta (417,98 juta m 3) dan Jawa Timur (368,92 juta m 3). Sedangkan distribusi total volume terkecil terjadi di Bangka Belitung. Jumlah pelanggan perusahaan air bersih juga masih terbatas. Sebagai contoh, pada 2010 terdapat 9,57 juta pelanggan di Indonesia. Pelanggan perusahaan air bersih terbanyak ada di Jawa Timur (1,53 juta pelanggan), diikuti Jawa Barat (1,39 juta), dan DKI Jakarta (1,20 juta) (BPS, Indikator Pembangunan Berkelanjutan, 2012). Gambar 2.26 menyajikan data akses terhadap air minum layak di perkotaan dan perdesaan, yang masih di bawah target MDGs. Dengan begitu, diperlukan kerja serius dalam penyediaan sumber air bersih.

Gambar 2.26 Proporsi rumah tangga dengan akses terhadap air minumlayak (perkotaan dan perdesaan)
Persentase + Perdesaan Urban + Rural Perkotaan Urban Perdesaan Rural

80
50,6 51,5 51,7 53,8 54,9 52,7 53,0 46,0 59,5 58,2 57,3 56,8 55,6 54,6 54,1

50,2

60 Persentase 50 40

49,8

70

31,6

30,8

30,7

34,5

35,9

35,6

35,2

31,3

40,4

40,3

41,0

42,9

41,5

42,7

43,9

43,0

20 10 0

37,7

37,7

38,0

41,3

42,7

42,0

42,2

37,5

48,7

48,3

47,7

48,8

47,6

47,8

48,3

46,5

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber: Ditjen SDA, Kementeriaan Pekerjaan Umum, 2012

29

2009

47,7

45,7

30

Target MDGs 68,9 % 75,3 % 65,8 %

Kuantitas Air
Ketersediaan air di Indonesia mencapai 16.800 m 3 per kapita per tahun. Jumlah ini jauh lebih besar dari ketersediaan air rata-rata di dunia, yang hanya 8.000 m 3 per kapita per tahun (KLH, 2011). Pada saat ini, ketersediaan air tidak tersebar merata, baik secara spasial maupun temporal. Distribusi air di setiap pulau tidak sebanding dengan sebaran jumlah penduduknya. Kalimantan memiliki total potensi air terbesar, tetapi populasinya sedikit. Sebaliknya, Pulau Jawa dengan populasi yang besar memiliki total potensi air yang kecil, terlihat pada gambar 2.27. Dengan kondisi tersebut, Indonesia sering menghadapi masalah ketersediaan air (Kementerian Pekerjaan Umum, 2012). Menurut laporan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Indonesia, pada tahun 2000 ketersediaan air di Pulau Jawa hanya 1.750 m 3 per kapita setiap tahun. Angka itu akan terus menurun hingga 1.200 m 3 per kapita setiap tahun pada 2020. Padahal, standar kecukupan minimal sebanyak 2.000 m 3. Gambar 2.28 menggambarkan ketersediaan air pada musim hujan sangat banyak, terutama di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Papua; masing-masing sebesar 384.744,40 m 3, 389.689,30 m 3 dan 381.763,90 m 3. Sementara kebutuhan air di tiga pulau itu hanya 9.485,80 m 3 di Sumatera; 2.505,80 m 3 di Kalimantan; dan di Papua hanya 117,10 m 3. Kebutuhan air terbanyak terdapat di Pulau Jawa, yaitu 31.487,10 m 3 (KLH, 2011). Ketersediaan air berkaitan dengan tingkat curah hujan di suatu kawasan. Gambar 2.29 menunjukkan tinggi curah hujan tiap tahun untuk beberapa pulau. Curah hujan tertinggi ada di Kalimantan dan Papua, sehingga potensi airnya juga tinggi. Curah hujan rata-rata di Indonesia 2.347 mm setiap tahun, dengan curah hujan tertinggi di Papua sebesar 3.190 mm per tahun. Potensi air setiap pulau merupakan hasil interaksi antara air hujan, air tanah dan air permukaan. Jumlah hujan yang menjadi air larian ( run-off ) jauh lebih besar daripada air hujan yang masuk ke dalam tanah (air tanah) dan aliran mantap ( baseflow ). Air hujan yang menjadi aliran mantap hanya 4-30 persen dan run-off sebesar 47-78 persen. Keadaan makin buruk dengan keseimbangan massa air siklus hidrologis yang terganggu: jumlah air yang masuk ke tanah semakin kecil. Hal tersebut berarti jumlah air di permukaan semakin besar. Akibatnya, meningkatkan potensi banjir, longsor dan kekeringan (Kodoatie R. J, 2011). Air tanah menjadi sumber air penting dan potensial karena kapasitasnya paling besar, mencapai 30,61 persen, dibandingkan dengan sumber air tawar lain (Dandel E, 2011). Sebagian besar masyarakat di berbagai wilayah memanfaatkan air tawar yang berasal dari air tanah. Potensi cekungan air tanah di beberapa pulau cukup besar, dengan total 723.629 km 2 dan kapasitas total cekungan: 308.288 m 3 (Kodoatie R. J, 2011). Tetapi karena kapasitasnya terbatas dan pemakaiannya bertambah besar membuat air tanah rusak. Dampaknya sangat besar bagi masyarakat (Dandel E, 2011). Tidak seperti air permukaan, pemulihan air tanah yang menurun mutu dan jumlahnya, perlu keahlian tinggi, mahal, dan waktu lama. Air tanah yang dimanfaatkan tetapi mengabaikan kelestarian, akan berdampak negative seperti degradasi air tanah yang merusak lingkungan.
Kali Adem Sebelum Letusan Merapi Foto: Arnold Parsaulian

30

Gambar: 2.27 Potensi Air dan Ketersediaan Air per Kapita

Sumatera
738 18,4

Kalimantan
1.008 98,8

Sulawesi
247 18,3

Maluku & Papua

Total Potensi (milyar m3/tahun) Per Kapita (1.000 m3/kapita/tahun)

Jawa
187 1,6

981 251,5

Bali & Nusa Tenggara


60 5,5

Total :

3.221 milyar m3/tahun

16,8 m3/kapita/tahun

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum, 2012

Gambar 2.28 Sumber daya air per pulau pada musim hujan
400.000,00 350.000,00 300.000,00 250.000,00 200.000,00 150.000,00 100.000,00 50.000,00 0,00 9.485,80
Sumatera

387.744,40

389.689,30

381.763,90

Ketersediaan Kebutuhan

129.400,20 101.160,80 31.487,10 2.505,80


Jawa & Bali Kalimantan

37.940,40 6.921,70
Sulawesi

49.420,80 106,20
Maluku

1.552,50
NTT

117,10
Papua

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.29 Tinggi curah hujan di tiap pulau (mm/tahun)


3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0
Kalimantan Rata-Rata Sumatera Sulawesi Maluku Bali NTB NTT Papua Jawa
1.440 1.200 2.820 2.680 2.120 2.340 2.370 2.347 2.990 3.190

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

31

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Dampak Perubahan Kuantitas Air


Selain kualitas air, ketersediaan jumlah air juga terkena dampak aktivitas domestik dan industri. Khusus di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan, jumlah daerah aliran sungai (DAS) yang kritis bertambah cepat. Data selama 1984 2005, menunjukkan jumlah DAS kritis bertambah dari 22 menjadi 62bertambah 3 kali lipat. Pertambahan DAS kritis ini, dikarenakan alih fungsi lahan di kawasan hulu menjadi area pertanian. Penentuan DAS kritis, salah satunya didasarkan pada rasio Q maks dan Q min. Di beberapa DAS, rasio ini mencapai lebih dari 20. Beberapa gambaran DAS kritis dapat dilihat pada gambar 2.32

Gambar 2.30 Sebaran DAS Kritis pada Tahun 1984 sebanyak 22 DAS Kritis

Gambar 2.30 Sebaran DAS Kritis pada Tahun 1992 sebanyak 39 DAS Kritis

Gambar 2.30 Sebaran DAS Kritis pada Tahun 2005 sebanyak 62 DAS Kritis

Sumber: Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian PU

32

Banjir dan kekeringan karena DAS yang kritis mengancam ketahanan pangan nasional. Hal ini terjadi karena alih fungsi lahan irigasi teknis rata-rata 40.000 hektare per tahun. Dalam jangka 2001 2003, tercatat 610.590 hektar lahan irigasi teknis telah berubah fungsi. Lahan itu juga sangat rawan kekeringan dan banjir, karena dari 7,7 juta hektar lahan, hanya 0,8 juta hektar yang terjamin pasokan airnya dari waduk. Sehingga, gagal panen di lahan-lahan pertanian sering terjadi. Hampir setiap tahun kekeringan dan banjir terjadi pada rata-rata 90.000 hektar lahan.

Banjir dan kualitas air buruk menyebabkan menurunnya kesehatan masyarakat, ditambah tingkat cakupan fasilitas sanitasi layak yang sangat rendah. Buruknya sanitasi berdampak nyata: 1 dari 100 bayi yang lahir meninggal karena diare. Di Indonesia, 2 juta lebih bayi lahir setiap hari, yang berarti diare mengancam 20.000 bayi setiap tahun. Angka kematian bayi (AKB) adalah salah satu indikator yang mencerminkan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungannya. Tabel 2.5 memperlihatkan angka kematian bayi, jumlah kematian, angka fertilitas total dan jumlah kelahiran menurut provinsi di Indonesia pada 2011.

Gambar 2.31 Jumlah kejadian banjir di Indonesia


1.000 900 800
Jumlah Terjadinya Banjir

962

700 600 500 400 300 200 100 0


2001/2002 2002/2003 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008

672 607 130 399 297 150 186 191

409

2008/2009

2009/2010

2010/2011

Tahun

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum, 2012

Gambar 2.32 Beberapa potret DAS kritis

Foto : Kementerian Lingkungan Hidup

33

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Tabel 2.5 Angka Kematian Bayi, Jumlah Kematian, Angka Fertilitas Total dan Jumlah Kelahiran menurut Provinsi 2011
No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

PROVINSI

Angka Kematian Bayi


30,50 20,40 23,20 20,00 24,60 22,80 25,40 21,40 24,20 19,30 7,60 24,20 18,00 7,70 21,20 28,90 11,90 38,00 27,20 25,40 20,90 30,10 14,80 9,40 31,20 24,20 25,60 26,40 24,20 28,60 29,70 27,50 27,00

Jumlah Kematian (000)


27,00 70,70 31,10 22,00 15,70 39,10 9,40 43,60 7,00 6,30 34,90 272,30 248,10 26,30 298,70 57,90 23,70 29,70 30,20 24,00 10,00 22,60 13,50 13,30 15,40 51,70 11,70 6,10 6,80 8,40 5,50 3,50 10,20

Angka Fertilitas Total


2,30 2,38 2,35 2,28 2,25 2,15 2,15 2,23 2,14 2,28 1,49 2,16 1,97 1,38 1,65 2,27 1,64 2,33 2,66 2,36 2,18 2,13 2,18 1,88 2,25 2,22 2,49 2,21 2,22 2,62 2,58 2,62 2,62

Jumlah Kelahiran (000)


93,60 288,20 98,40 108,00 57,00 144,40 32,50 145,70 21,10 46,60 129,10 769,10 516,40 39,60 476,40 206,60 46,30 96,00 114,10 94,60 40,10 65,50 61,80 33,20 50,30 159,30 51,70 18,00 20,30 31,80 22,70 16,00 47,50

Sumber : Proyeksi Penduduk Indonesia 2005 - 2015, Badan Pusat Statistik

Dari Tabel 2.5. dapat dilihat AKB terbesar terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu 38 kejadian, sedangkan angka terendah di DKI Jakarta adalah 7,6 kejadian kematian bayi sebelum usia setahun setiap seribu kelahiran hidup. Sementara, jumlah penderita penyakit TB Paru di masyarakat meningkat 33.000 kejadian. Tetapi kejadian penyakit diare mengalami penurunan, walaupun masih terbilang tinggi. Tabel 2.5. memperlihatkan jumlah pasien TB Paru BTA positif dan Diare menurut provinsi pada 2009 2010.

Perubahan lingkungan air juga mempengaruhi kejadian penyakit bawaan vektor, seperti demam berdarah dengue dan malaria. Di beberapa daerah penderita demam berdarah dengue pada 2010 menurun dibandingkan tahun 2009, tetapi di Bali dan Yogyakarta justru meningkat cukup signifikan, seperti terlihat pada Tabel 2.6. Kondisi sebaliknya terlihat pada jumlah penderita malaria pada 2010 yang meningkat dibanding 2008 dan 2009. Peningkatan penderita malaria tertinggi tercatat di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

34

Tabel 2.6 Jumlah Pasien TB Paru Positif dan Diare menurut Provinsi 2009 - 2010
No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA

PROVINSI

TB Paru BTA Positif 2009


3.065 13.897 3.732 2.880 2.745 5.181 1.588 4.943 951 784 7.989 31.433 16.906 1.155 22.598 8.134 1.517 3.089 3.369 4.156 1.339 2.891 2.065 3.988 1.918 6.428 2.296 1.370 942 2.014 708 638 2.504 169.213

Diare 2010
3.670

2009
45 86 11 1.425 95 351 1.147 416 437 37 423 205 605 473 5.756

2010
121 51 116 1.068 35 1.181 385 817 169 37 224 4.204 Sumber : Badan Pusat Statistik

16.078 4.156 2.996 3.149 5.705 1.784 5.139 1.130 917 7.944 32.649 19.190 1.193 23.350 8.018 1.449 3.151 3.755 4.634 1.323 3.253 2.210 4.546 2.307 7.820 3.185 1.617 1.149 2.175 792 635 2.297 183.366

35

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Tabel 2.7 Jumlah Pasien, Tingkat Kefaalan, dan Tingkat Kejadian Penyakit Demam Berdarah menurut Provinsi, 2008 - 2010
No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA

PROVINSI

Jumlah Pasien 2008


2.436 4.454 1.907 828 245 2.360 339 4.807 34 1.724 28.361 23.248 19.235 2.119 16.589 3.954 6.254 777 279 947 531 576 5.762 1.430 1.389 3.545 1.006 172 37 0 250 510 228 136.333

Tingkat Kefatalan 2010


2.834 8.889 1.795 991 178 1.161 609 1.716 205 1.507 19.273 25.727 19.871 4.997 26.020 5.544 11.697 2.096 1.459 589 1.394 1.134 5.610 2.091 2.098 4.083 986 467 144 6 347 298 270 156.086

Tingkat Kejadian1 2008


54,76 34,49 42,67 15,96 8,64 34,75 19,39 68,83 3,07 133,07 317,09 54,23 58,45 61,72 44,68 46,16 181,31 18,10 7,07 22,29 27,11 15,69 220,03 63,58 55,25 46,46 46,21 18,74 3,65 0 25,25 90,41 13,47 1.852,58

2009
1.573 4.697 2.813 1.563 254 1.854 260 1.862 349 1.828 28.032 37.861 17.881 2.203 18.631 5.250 5.810 615 399 9.792 1.309 1.113 5.244 1.640 952 3.411 692 91 149 0 384 204 196 158.912

2008
1,31 1,10 0,58 1,21 3,67 0,13 0,29 0,83 1,28 0,09 0,99 1,19 0,99 0,99 1,34 0,30 0,51 2,87 3,38 1,32 1,91 1,82 1,12 1,22 0,76 0,89 2,33 0 0 2,80 0,39 0,44 37,54

2009
1,27 1,23 0,64 1,73 1,97 0,32 3,08 1,07 4,58 0,77 0,11 0,81 1,39 0,68 0,99 1,33 0,15 0,65 1,75 1,75 1,22 1,80 1,30 1,22 0,74 0,67 1,73 2,20 0 0 1,82 0,98 1,53 41,48

2010
0,92 0,98 0,28 2,62 0,56 0,43 2,13 1,63 4,39 0,93 0,17 0,66 1,26 0,68 0,90 2,15 0,29 0,57 1,03 2,72 0,50 2,91 0,75 1,91 1,38 0,81 1,32 1,71 0 16,67 3,46 2,96 59,68

2009
36,36 35,70 59,75 29,29 8,55 25,67 15,44 24,85 31,54 115,60 313,40 89,41 54,81 63,89 50,03 56,39 167,40 13,72 8,44 228,30 65,25 29,30 173,80 68,79 36,50 44,71 31,86 9,19 13,74 0 38,89 28,21 10,93 1.979,71

2010
63,71 67,25 38,13 18,27 5,99 16,07 35,36 25,59 18,52 88,37 227,44 59,54 60,46 144,92 68,92 55,27 337,04 51,02 30,60 13,86 62,82 29,86 167,31 87,70 81,80 49,02 45,28 46,14 14,19 0,42 33,61 52,83 15,05 2.112,36

Catatan : 1) Tingkat Kejadian per 100.000 penduduk Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2010, Kementerian Kesehatan

36

HUTAN DAN LAHAN


Hutan tropis merupakan ekosistem yang kaya akan keanekaragaman hayati, berperan dalam penyediaan jasa lingkungan dan tempat bergantung masyarakat di yang hidup di sekitar hutan. Selain itu, hutan tropis merupakan ekosistem yang menyimpan karbon terrestrial dalam jumlah yang sangat besar. Deforestasi dan degradasi hutan akan menyebabkan pelepasan emisi karbon dioksida ke atmosfer, sehingga mempengaruhi iklim secara global. Pada tahun 2008, emisi dunia dari proses deforestasi dan degradasi hutan mencapai 4,4 Giga ton CO 2 atau 11% dari total emisi emisi anthropogenik (UNEP, 2012), karena itu perlindungan hutan tropis menjadi agenda internasional dalam rangka mitigasi perubahan iklim melalui mekanisme Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). REDD+ telah disepakati dalam Conference On Parties 16 (COP 16) di Cancun, tahun 2010. Indonesia dan Brasil berperan penting dalam upaya mitigasi REDD + karena memiliki hutan yang sangat luas. Dari penafsiran Citra Satelit Landsat 7 ETM+, 2000 2011, luas tutupan hutan mengalami penurunan, dari 104.747.566 hektar pada 2000, menjadi 98.242.002 hektar pada 2011 (Gambar 2.33). Dengan kata lain, terjadi deforestasi seluas 6,5 juta hektar selama 11 tahun. Sebelum 2009, sebagian besar provinsi mengalami deforestasi, kecuali Jawa Timur. Selama periode 2009 2011, tiga provinsi mengalami reforestasi yaitu Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Penyumbang penurunan hutan terbanyak adalah Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan Bengkulu, dengan deforestasi lebih dari 1 persen per tahun seperti pada Tabel 2.9. & Gambar 2.36.

Gambar 2.33 Penurunan luasan hutan pada periode 2000 2011

105.000.000 104.000.000 103.000.000 102.000.000 101.000.000 100.000.000 99.000.000 98.000.000 97.000.000 96.000.000 95.000.000 94.000.000

2000

2003

2006

2009

Luas Huta n

2011

Sumber: Kementerian Kehutanan

37

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Dinamika deforestasi terkait dengan berbagai faktor, baik secara langsung (agent) maupun tidak langsung (driving force) (Sunderlin, W.D. & Resosudarmo, 1996). Faktor penyebab ada dua: langsung dan tidak langsung. Faktor langsung berarti pelaku dan penyebab secara langsung mengubah tutupan hutan menjadi peruntukan lain, misalnya kebakaran hutan, ekspansi lahan pertanian, perumahan dan pertambangan. Faktor secara tidak langsung berupa kondisi sosial, ekonomi dan politik pada skala nasional, regional maupun global. Mencermati perubahan tutupan hutan selama 2000 2011, sebenarnya sejak 2003 laju deforestasi semakin mengecil. Laju deforestasi per tahun pada periode

2000 2003: 344.657 hektar (0,33 persen); 2003 2006: 808.754 hektar (0,78 persen); 2006 2009: 747.754 hektar (0,74 persen); dan 2009 2011: 401.253 hektar (0,41 persen). Sebelum 2003 adalah masa transisi otonomi yang menyebabkan ketidakpastian hukum dalam kasus penyerobotan kawasan hutan. Selama transisi (19992001), terjadi 205 kasus penyerobotan kawasan hutan; pada 2002-2003 kasus menurun menjadi 66 (Wulan, et al . 2004). Prasetyo (2008) juga menemukan kasus perambahan kawasan konservasi yang lebih luas pada masa transisi itu dibandingkan periode sebelum otonomi.

Tabel 2.9 Laju Perubahan Tutupan Hutan per Tahun per Provinsi pada Periode 2000 - 2011
Provinsi
Riau Jambi Kalimantan Tengah Sumatera Utara Bengkulu Kalimantan Barat Sumatera Barat Maluku Utara Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kalimantan Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Daerah Istimewa Aceh Lampung Gorontalo Jawa Tengah Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Banten Papua Maluku Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tenggara Papua Barat Sulawesi Selatan Bali DKI Jakarta Jawa Timur Jawa Barat Sumatera Selatan Grand Total

Laju Perubahan Hutan (%) 2000-2003


-2,06 -0,20 -0,47 -0,19 -1,43 -0,22 -0,23 -0,32 -0,35 -1,33 -2,34 -0,32 0,00 -0,08 0,21 -0,33 -0,02 -0,31 -0,01 -0,11 -0,08 -0,06 -1,53 -0,10 -0,01 -0,65 -1,67 0,00 -0,26 0,02 -0,73 -0,33

2003-2006
-3,62 -1,39 -0,86 -0,97 -0,32 -1,84 -0,95 -0,27 -0,60 -1,88 -1,40 -0,96 -2,80 -0,36 0,00 -2,05 0,00 -1,17 -0,46 -0,39 -0,38 -0,12 -0,75 -0,79 -0,01 -0,62 0,00 0,00 -0,14 -0,63 -0,08 -0,78

2006-2009
-4,29 -1,48 -1,61 -0,43 -1,42 -1,71 -0,11 -0,17 -1,09 -0,20 -0,60 -0,14 -1,18 -0,37 -0,25 -0,54 -3,23 -0,01 -2,41 -0,14 -0,16 -0,11 -0,18 -0,03 -0,43 -0,53 0,00 0,07 -1,18 -1,47 -0,74

2009-2011
-3,54 -1,94 -1,34 -1,22 -1,06 -0,70 -0,68 -0,44 -0,40 -0,32 -0,26 -0,24 -0,24 -0,20 -0,18 -0,17 -0,12 -0,11 -0,09 -0,08 -0,04 -0,03 -0,01 -0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,06 0,51 2,28 -0,41

Sumber: Kementerian Kehutanan

38

Analisis lebih rinci menunjukkan tutupan hutan pada 2000 seluas 102 juta hektar, yang 31,33 persen telah berubah menjadi lahan tidak produktif; 10,34 persen dibuka untuk pertanian; dan 2,69 persen untuk perkebunan (Gambar 2.34). Sedangkan hutan mangrove sebagian besar masih utuh, hanya sebagian kecil dieksploitasi. Tetapi hutan ini dibiarkan terlantar, berupa semak dan lahan terbuka (5,35 persen), sebagian kecil untuk tambak udang ataupun ikan (2,55 persen) (Gambar 2.35). Gambar 2.34 Persentase perubahan hutan pada periode 2000 - 2011
1,53% 0,11% 31,33% 0,53% 3,67%

menekan laju alih fungsi lahan, terutama pada hutan primer dan lahan gambut, sebagai langkah mengurangi emisi gas rumah kaca. Faktor lain yang secara langsung mempengaruhi tutupan hutan adalah kebakaran. Jumlah kejadian dan luas kebakaran hutan berfluktuasi, tergantung pola perubahan iklim. Pada periode ENSO (El Nino Southern Oscilation) jumlah kebakaran cenderung meningkat. Peristiwa El Nino tahun 1982 luas kebakaran diperkirakan mencapai 3,5 juta hektar dan 1997 mencapai 9,75 juta hektar (Bappenas-ADB 1999 dalam Tacconi, 2003). Jumlah kebakaran setelah 2002 cenderung menurun. Bila dirinci, periode 2005 2011 kebakaran lebih sering terjadi di kawasan konservasi dibandingkan dengan kawasan hutan yang lain. Penyebab kebakaran hutan selalu menjadi perdebatan panjang. Sebagian pihak mempercayai kebakaran disebabkan cuaca. Namun Syaifuna menjelaskan kebakaran hutan mayoritas disebabkan perbuatan manusia (Syaufina, 2008). Hal ini bisa dimengerti, karena petani maupun perkebunan masih memakai api dalam persiapan lahan. Pemerintah juga telah menghimbau untuk tidak lagi memakai api dalam persiapan lahan. Bagi masyarakat tradisional, secara turun-temurun api digunakan sebagai alat untuk persiapan lahan. Kearifan tradisional ini merupakan teknik pembakaran terkendali sebagai respon petani tradisional terhadap keterbatasan teknologi, sumberdaya, dan dana. Bila dilakukan dengan benar, api tidak akan meluas. Selain itu, luas lahan yang dibuka untuk bercocok tanam juga terbatas sesuai siklus pembukaan yang teratur. Jika dilakukan dengan benar, api tidak akan membesar menjadi kebakaran yang tidak terkendali. Sampai saat ini, kearifan tradisional ini masih dipraktikkan, karena belum ada alternatif pengganti. Kebakaran hutan justru semakin merajalela setelah perkebunan besar juga memanfaatkan teknik pembakaran tradisional untuk persiapan lahan. Sebagai deteksi dini kebakaran hutan, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menggunakan satelit NOAA untuk memantau titik api. Jumlah titik api (hotspot) sepanjang 2005-2011 sangat bervariasi. Di beberapa provinsi menunjukkan jumlah hotspot yang tinggi, yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Lima provinsi itu memiliki jumlah hutan dan perkebunan yang tinggi (Tabel 2.11).

Hutan Pertanian Perkebunan Semak & LahanTerbuka Tambak Pertambangan Lahan Terbangun

2,69% 10,34% 49,78%

Lainnya

Sumber: Kementerian Kehutanan

Gambar 2.35 Persentase perubahan hutan mangrove pada periode 2000 2011
0,32 % 5,35 % 0,28 % 2,55 % 0,02 % 0,02 %

Mangrove Pertanian Semak & Lahan Terbuka Badan Air Tambak Lahan Terbangun Pertambangan

91,39 % Sumber: Kementerian Kehutanan

Laju perubahan hutan primer mendapat perhatian pemerintah dengan terbitnya Instruksi Presiden Nomor 10 tahun 2011 tentang penundaan izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut. Secara spasial, lokasi dalam Inpres ini dilengkapi dengan peta indikatif penundaan izin baru (PIPIB) yang direvisi secara reguler. Kebijakan ini digunakan untuk

39

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

40

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

41

Gambar 2.36 Penurunan luasan hutan pada periode 2000 2011 per provinsi

42

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

43

44

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Foto: Donang Wahyu

45

Tabel 2.10 Perkembangan Kebakaran Hutan di Berbagai Fungsi Hutan


Fungsi Hutan Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Suaka Alam Taman Wisata Alam Taman Nasional Taman Hutan Raya Hutan Penelitian Hutan Kota Taman Buru Hutan Kemasyarakatan Total Estimasi Kebakaran Hutan (Ha) 2005 4.002,12 82,00 651,80 4,50 595,05 2006 355,00 1.508,34 508,70 350,50 1.324,55 30,00 2,00 162,50 82,00 5.502,47 4.241,59 2007 228,00 987,10 349,60 40,00 5.256,42 4,00 2008 155,00 592,52 631,02 55,50 5.338,79 2,00 2009 803,00 245,80 1441,13 311,50 4.589,78 1,00 2010 191,50 19,50 57,00 13,62 3.213,50 2011 99,50 184,95 1.091,29 32,49 996,36 25,00

85,00 86,00 23,60 6.974,72 15,00 3,25 6.793,08

7,00 5,00 100,00 161,50 112,00 21,00 7.611,21 3.500,12 2.612,09 Sumber : (Statistik Kehutanan 2011 & 2010).

Tabel 2.11 Jumlah Pantauan Hotspot pada Periode 2005-2011


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU KEPULAUAN RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG BENGKULU LAMPUNG BANTEN DKI JAKARTA JAWA BARAT DI YOGYAKARTA JAWA TENGAH JAWA TIMUR BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR GORONTALO SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI BARAT SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA MALUKU MALUKU UTARA PULAU PAPUA PROPINSI 2005 560 3.565 494 20.538 985 1.182 248 218 399 99 25 306 20 237 315 7 23 42 3.485 3.126 870 745 53 31 123 159 35 6 2006 1.667 3.581 1.231 11.526 215 6.948 21.734 1.202 474 3.747 155 26 1.160 99 1.746 2.032 59 568 1.147 29.266 40.897 6.469 6.603 586 114 562 364 1.201 749 48 88 2007 261 936 427 4.169 101 3.120 5.182 764 255 1.639 38 77 325 35 268 1.503 57 903 1.140 7.561 4.800 928 2.082 93 35 182 145 551 288 26 13 5 2008 924 871 770 3.943 53 1.970 3.055 523 204 218 52 15 869 34 1.082 2.643 154 844 2.289 5.528 1.240 199 2.231 16 26 132 30 525 148 21 7 0 2009 654 1.172 495 7.756 99 1.733 3.891 1.058 192 395 76 14 253 13 147 691 7 476 489 10.144 4.640 1.270 2.307 83 34 367 84 519 396 4 4 0 2010 285 532 171 1.707 55 603 1.481 143 84 123 33 4 114 10 64 259 14 1.785 831 111 974 24 14 165 25 175 94 2011 592 893 546 3.536 33 1.523 4.705 317 320 635 193 10 766 18 498 1.019 48 4.720 4.285 1.292 1.482 46 30 255 98 344 270 -

JUMLAH TOTAL

37.896

146.264

37.909

30.616

39.463

9.880

28.474

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

46

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lahan Kritis
Tantangan lingkungan hidup juga menghadapi persoalan lahan kritis. Lahan kritis adalah lahan yang secara fisik telah rusak sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai media produksi atau pengatur tata air. Perkembangan lahan kritis seiring dengan deforestasi dan degradasi hutan. Selama 2000 - 2011, lahan kritis bertambah 4 juta hektar, dengan kontribusi setiap provinsi yang berbeda-beda. Kalimantan Tengah menyumbang jumlah lahan kritis terbesar, diikuti Jambi, Sumatra Utara dan Sulawesi Tenggara. Beberapa provinsi berhasil memperbaiki kondisi lahannya, seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi tengah dan Sulawesi Selatan (Tabel 2.12).

Tabel 2.12 Luas Lahan Kritis di Indonesia 2000 - 2011


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Riau Kep. Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Papua Papua Barat Total PROVINSI Luas Lahan Kritis 2000 351.015 469.143 334.868 0 131.155 716.147 578.543 3.461.840 0 299.157 0 0 368.794 360.827 34.667 1.302.379 3.065.728 1.758.833 1.778.782 575.383 235.092 0 413.221 241.811 1.032.802 0 33.425 278.698 1.356.757 0 694.911 3.368.903 0 23.242.881 2011 744.955 1.135.341 840.658 254.749 509.977 1.420.602 642.587 3.886.062 114.836 589.229 67.503 0 483.945 159.853 33.559 608.913 3.169.491 4.636.890 318.836 786.911 276.056 257.176 317.769 885.463 920.452 113.960 48.052 91.859 1.041.688 611.107 762.324 1.076.699 487.343 27.294.845 Perubahan 393.940 666.198 505.790 254.749 378.822 704.455 64.044 424.222 114.836 290.072 67.503 0 115.151 -200.974 -1.108 -693.466 103.763 2.878.057 -1.459.946 211.528 40.964 257.176 -95.452 643.652 -112.350 113.960 14.627 -186.839 -315.069 611.107 67.413 -2.292.204 487.343 4.051.964
Sumber: Kementerian Kehutanan

47

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Kerusakan hutan dan lahan menyebabkan tata air terganggu: melimpah di musim hujan, kekeringan di musim kemarau. Hal ini membuat perbandingan antara jumlah debit maksimum dengan jumlah debit minimum menjadi sangat besar. Hal ini menjadi indikasi tingkat kerusakan lahan pada suatu daerah aliran sungai (DAS) tertentu. Di beberapa provinsi, kerusakan itu menyebabkan bencana alam. Sepanjang 2012, BNPB mencatat 730 kejadian bencana alam, yang menelan 487 orang meninggal dunia dan memaksa 675.798 orang mengungsi. Bencana alam juga menyebabkan 33.847 rumah rusak berat; 4.587 rumah rusak sedang; dan 21.369 rusak ringan. Yang harus menjadi perhatian adalah terjadi peningkatan bencana alam hidrometeorologi: banjir, banjir disertai tanah longsor, tanah longsor, serta kekeringan. Bencana kekeringan telah melonjak tajam. Jika selama 2010, BNPB

mencatat hanya 2 bencana kekeringan, pada 2011 tercatat 217 kekeringan. Pada 2010, hanya Nusa Tenggara Timur yang menderita kekeringan, sementara pada tahun berikutnya hampir seluruh wilayah Indonesia dilanda kekeringan. Bencana banjir juga meningkat dua kali lipat dibandingkan pada 2010. Bencana tanah longsor dan banjir yang disertai tanah longsor juga meningkat hampir dua kali lipat, dari 191 kejadian pada 2010 menjadi 352 pada 2011.

Foto: Donang Wahyu

48

Gambar 2.37 Sebaran Kejadian Bencana Banjir & Bencana Banjir yang Disertai Longsor Tahun 2004 Sampai Dengan Tahun 2011.

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Gambar 2.38 Sebaran Kejadian Kekeringan Tahun 2004 Sampai Dengan Tahun 2011

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

49

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

PESISIR DAN LAUT


Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.466 pulau yang memiliki nama, Indonesia memiliki banyak sumber daya perairan dan kelautan. Perairan negara ini yang mempunyai uas 5,8 juta kilometer persegi menyimpan potensi perikanan yang besar. Pesisir lautnya menyimpan cadangan minyak, gas, mineral dan bahan tambang. Di ekosistem pesisir, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang juga memiliki banyak manfaat. Luas terumbu karang mencapai 75.000 km persegi atau sekitar 12 15 persen dari luas terumbu dunia, yang mencapai 284.300 km 2. Terumbu karang menyediakan bahan makanan, obatobatan dan manjaga pantai dari deburan ombak. Padang lamun juga bernilai ekonomi untuk bahan baku obat-obatan, pupuk, kasur, makanan, penyaring limbah kertas, dan bahan kimia. Hamparan lamun mampu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen air laut dan menstabilkan dasar sedimen (BPS, 2012). Pendapatan yang bisa dihasilkan dari terumbu karang diperkirakan mencapai US$ 1,6 miliar per tahun. Total nilai potensi ekonomi bisa menyentuh US$ 61,9 miliar setiap tahun. Hanya saja, potensi terumbu karang yang besar diiringi dengan ancaman eksploitasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI pada 2012 di 1.133 lokasi, hanya sekitar 5,30 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik. Lalu, 27,19 persen dalam keadaan baik; 37,25 persen cukup baik; dan 30,45 persen kurang baik.

Gambar 2.39 Kondisi terumbu karang di Indonesia (%)


50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011

Sangat Baik Baik Cukup Kurang

Sumber: Coremap.or.id

Dengan garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, Indonesia memiliki hutan mangrove terluas kedua dunia setelah Brazil. Tumbuh di zona peralihan, antara ekosistem laut dan daratan, hutan mangrove melindungi pantai, menahan endapan lumpur dan menjaga keseimbangan lingkungan. Pada 2006, Kementerian Kehutanan mencatat luas

hutan mangrove mencapai 7,7 juta hektar. Tetapi pada saat ini luasnya menurun pada 2011 menjadi 5,5 juta hektar. Dari total luas hutan mangrove itu, 56,91 persen masih baik dan 7,21 persen rusak berat. Hutan mangrove juga terancam alih fungsi untuk berbagai kepentingan, seperti perkebunan, tambak dan pemukiman.

50

Table 2.13 Luas dan Kondisi Hutan Mangrove Menurut Provinsi Tahun 2011
Kondisi (%) Provinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Luas (ha) 50.689.43 88.687.80 43.186.71 193.886.72 6.863.30 56.415.00 214.743.00 22.723.90 104.479.70 33.359.18 33.640.28 1.784.850.91 61.00 129.275.14 613.90 2.215.50 18.356.88 16.593.19 125.948.00 1.593.98 129.710.59 107.023.00 29.652.36 25.715.35 77.135.00 294.562.28 17.304.84 5.548.30 31.497.05 37.606.45 809.900.65 1.049.172.69 5.543.012.08 Baik 83,87 8,16 77,63 6,73 35,81 3,13 20,73 96,70 57,88 9,40 99,73 14,75 54,47 79,47 46,15 31,50 50,12 39,14 85,74 64,96 31,90 25,00 82,17 66,16 25,91 33,66 95,81 56,91 % Sedang 36,07 7,67 9,98 3,07 96,66 12,93 1,55 22,45 29,17 0,14 9,84 11,91 9,10 44,28 63,80 28,51 37,57 0,20 17,21 34,60 36,00 17,89 62,36 12,84 0,40 10,69 % Rusak 16,13 55,77 15,00 5,09 20,44 61,13 0,21 66,31 1,75 19,67 61,43 0,11 75,41 33,62 11,43 9,58 4,70 21,37 23,29 14,06 17,83 33,50 39,00 17,83 15,95 11,73 14,44 3,80 7,20 % Tidak Teridentifikasi 0,00 0,00 0,00 78,19 79,56 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 39,06 0,00 25,20 %

Catatan : a) Data sampai tahun 2010 / Data up to 2010 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, 2012

51

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Tabel 2.14 Luas Penyebaran Hutan Bakau Menurut


2007 Provinsi Jawa Barat Jawa Tengah* Banten Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara TOTAL Kondisi / Condition Luas Area (ha) 17.654,40 60.016,70 15.255,60 27.355,90 28.954,30 33.934,60 3.000,00 128.038,00 43.887,00 358.098,50 Baik 13.229,90 9.870,70 14.413,80 9.338,90 5.238,00 7.769,40 0,00 12.231,00 16.373,00 88.467,70 Sedang 3.674,30 4.039,00 841,90 6.633,40 5.248,30 7.857,70 1.570,00 115.807,00 24.198,00 170.458,71 Rusak 750,20 46.107,00 0,00 11.383,60 18.468,00 18.307,50 1.430,00 0,00 3.316,00 100.083,59 762,23 15.538,50 77.135,00 33.934,00 2.928,78 31.462,03 37.606,45 233.013,27 322,19 11.577,50 24.615,00 7.769,00 661,61 8.142,17 12.657,49 68.914,15 Luas Area (ha) 33.640,28 Baik 3.162,19 2010 Kondisi /

Tabel 2.15. Rehabilitasi Hutan Bakau menurut Provinsi 2008 2010


Provinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 2008 986,00 800,00 100,00 136,00 2.950.00 70,00 815,00 36,00 25,00 68,00 25,00 5,00 8,00 176,00 50,00 924,00 500,00 2.850,00 210,00 5,00 10.739,00 2009 185,00 327,00 2.025,00 4,00 350,00 18.200,00 5.060,00 93,00 25,00 75,00 45,00 8,00 725,00 81,00 35,00 11,00 2,50 27.251,50 2010 72,00 1.228,00 40,00 65,00 10,00 449,80 50,00 440,00 12,00 657,00 1,00 52,50 65.045,00 195,00 151,50 8,00 26,50 50,00 357,10 50,00 45,00 69.005,40

Sumber : Statistik Kehutanan Indonesia, 2010

52

Provinsi Dan Tingkat Kerusakan, 2007, 2010, 2011


2011 Condition Sedang 9.812,87 179,43 71,00 25.844,00 7.858,00 985,53 19.634,11 4.827,01 69.602,95 Rusak 20.665,22 260,61 3.890,00 26.676,00 18.307,00 1.282,22 3.685,75 5.432,11 80.635,91 Luas Area (ha) 33.640,28 20.564,72 613,90 25.715,35 77.135,00 17.304,84 5.548,30 31.497,05 37.606,45 249.635,89 Baik 3.162,19 12.198,75 334,39 16.704,69 24.606,07 14.219,39 3.670,76 8.160,89 12.658,33 95.726,44 Kondisi / Condition Sedang 9.812,87 4.939,53 73,12 4.425,61 26.688,71 0,00 992,59 19.641,56 4.828,67 71.414,66 Rusak 20.665,22 3.426,44 206,39 4.585,05 25.840,23 3.085,45 884,95 3.694,60 5.430,37 67.831,71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14.689,08 14.703,08
Tidak Terindentifikasi

0,00

Sumber : Statistik Kehutanan Keterangan : *Data 2010

Tabel 2.16 Luas Penyebaran Hutan Bakau Menurut Provinsi 2007, 2011
Provinsi Jawa Barat Jawa Tengah* Jawa Timur Banten Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara
Sumber : Statistik Kehutanan Keterangan : *Data 2010

2007 Luas Area (ha) 17.654,40 60.016,70 272.200,80 15.255,60 40.641,10 32.310,10 27.355,90 28.954,30 33.934,60 3.000,00 128.038,00 43.887,00 1.007.817,00 1.711.067,50

2011 Luas Area (ha) 33.640,28 20.564,72 129.275,14 613,90 16.593,19 29.652,36 25.715,35 77.135,00 17.304,84 5.548,30 31.497,05 37.606,45 1.049.172,69 1.453.764,55

Papua TOTAL

Sepanjang 2007 2011, volume tangkapan ikan terus meningkat tajam. Pada 2007, perikanan laut mencatat 4,7 juta metrik ton volume tangkapan ikan, yang dalam empat tahun meningkat menjadi 5,4 juta metrik ton. Rata-rata peningkatan tangkapan sebesar 3,12 persen, sementara kenaikan tertajam terjadi pada 2010 2011, sekitar 6,13 persen. Meningkatnya tangkapan ikan tersebut, tidak lepas

dari perubahan alat tangkap yang digunakan nelayan. Kini para nelayan memakai kapal motor, dan mulai meninggalkan perahu tanpa motor. Jumlah alat tangkap perahu tanpa motor terus menurun 8,2 persen selama 2007 2011; sedangkan pemakaian motor tempel meningkat 5,54 persen. Peningkatan secara konstan terjadi pada kapal motor, sebesar 3,4 persen. Bahkan kurun 2010 2011, angka peningkatan kapal motor mencapai 11 persen.

53

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Foto: Istimewa

54

Tabel 2.17 Volume Produksi Perikanan 2007 -2011


Tahun Rincian Volume (Ton)
Perikanan Tangkap Kenaikan Rata-Rata (%)

2007
8.238.302 5.044.737 4.734.280 310.457 3.193.565 1.509.528 933.832 410.373 63.929 190.893 85.009

2008
8.858.315 5.003.115 4.701.933 301.182 3.855.200 1.966.002 959.509 479.167 75.769 263.169 111.584

2009
9.816.534 5.107.971 4.812.235 295.736 4.708.563 2.820.083 907.123 554.067 101.771 238.606 86.913

2010
11.662.342 5.384.418 5.039.446 344.972 6.277.924 3.514.702 1.416.038 819.809 121.271 309.499 96.605

2011
13.643.234 5.714.271 5.345.729 368.542 7.928.963 4.605.827 1.602.748 1.127.127 131.383 375.430 86.448

2007 -2011
13,53 3,20 3,12 4,67 25,62 32,34 16,64 29,46 20,08 19,89 2,45

2010 -2011
16,99 6,13 6,08 6,83 26,30 31,04 13,19 37,49 8,34 21,30 -10,51

Sub Jumlah Perikanan Laut Perairan Umum Sub Jumlah Budidaya Laut Tambak Kolam Keramba Jaring Apung Sawah

Industri Hulu
Perikanan Budidaya

Sumber: Ditjen Perikanan Tangkap & Ditjen Perikanan Budidaya. KKP

Tabel 2.18 Jumlah Sarana dan Prasarana Perikanan 2007 2011


Jenis Sarana dan Prasarana PERIKANAN TANGKAP Jumlah Perahu/Kapal Perikanan (buah) Perikanan Tangkap di Laut Perahu Tanpa Motor Motor Tempel Kapal Motor Perikanan Tangkap di Perairan Umum Perahu Tanpa Motor Motor Tempel Kapal Motor Pelabuhan Perikanan Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pelabuhan Perikanan Swasta *) PERIKANAN BUDIDAYA Lahan Budidaya Perikanan (Ha) Budidaya Laut Tambak Kolam Karamba Jaring Apung Sawah 821.720 36.733 555.925 106.776 384 674 121.229 896.325 32.761 618.251 101.813 213 666 142.621 996.223 43.804 669.738 153.316 300 1.386 127.679 1.080.966 117.650 674.942 148.278 637 744 138.715 1.198.379 169.292 749.220 126.382 561 1.294 151.630 9.90 58.84 7.83 6.97 24.24 33.63 6.28 10.86 43.90 11.01 -14.77 -11.89 73.77 9.31 788.848 590.314 241.889 185.509 162.916 198.534 159.781 37.747 1.006 813 5 12 48 748 788.188 596.184 212.003 229.335 154.846 192.004 154.987 35.136 1.881 813 6 13 46 748 2 775.789 590.352 193.798 236.632 259.922 185.437 148.233 35.020 2.184 966 6 13 47 900 2 742.369 570.827 172.907 231.333 166.587 171.542 138.552 31.774 1.216 816 6 14 47 749 2 6 14 44 750 2 767.187 581.845 170.938 225.786 185.121 185.342 142.376 41.115 1.851 -26.49 -25.82 -8.22 5.54 3.40 -28.55 -2.78 3.22 27.75 0.82 5.00 4.01 -2.09 0.92 3.34 1.93 -1.14 -2.40 11.13 8.04 2.76 29.40 52.22 -15.53 0.00 0.00 -6.38 0.13 0.00 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Kenaikan Rata-Rata (%) 2007-2011 2010-2011

Keterangan : *) Tidak berkategori kelas pelabuhan perikanan Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap & Ditjen Perikanan Budidaya. KKP

55

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Kualitas Air Laut


Ancaman pencemaran juga mengincar sumber daya laut. Beberapa wilayah perairan Indonesia ternyata juga rentan terhadap pencemaran minyak. Dalam kurun 1997 2012 telah terjadi 36 kasus tumpahan minyak, yang berdampak pada sumber daya hayati dan nonhayati laut (BPS, 2012). Pemantauan kualitas air laut pada 2012 mengambil lokasi di pelabuhan dan wisata bahari: Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta; Pelabuhan Ciwandan, Banten; Pelabuhan Gorontalo dan Parigi, Teluk Tomini. Sementara di daerah wisata pemantauan digelar di Teluk Tomini; Parigi, Palu; dan Pahuwato, Gorontalo. Parameter yang dianalisis sesuai baku mutu air laut (BMAL) untuk kualitas pelabuhan dan wisata bahari berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Dari hasil pemantauan di pelabuhan, terdapat beberapa parameter yang melebihi baku mutu, yaitu kecerahan (BMAL > 3 meter). Semua titik sampling di Pelabuhan Tanjung Priok kecerahannya di bawah 3 meter. Sementara di Pelabuhan Ciwandan, Banten, dan Teluk Tomini, Gorontalo, 2 dari 6 titik sampling mempunyai kecerahan di bawah 3 meter. Parameter amoniak yang melampaui baku mutu terdeteksi di Pelabuhan Tanjung Priok, yang dekat dengan industri, pelabuhan peti kemas, dan pemecah gelombang. Sementara di Pelabuhan Parigi, parameter amoniak ditemukan di outlet Sungai Olaya. Parameter Total Padatan Tersuspensi ( TSS) di lokasi wisata Parigi, Teluk Tomini, melebihi baku mutu, yaitu 24 mg/L. Kandungan Oksigen Terlarut (DO) di perkampungan Bajo di Pahuwato, Gorontalo, berada di luar baku mutu, sedangkan lokasi lainnya masuk dalam baku mutu. Kandungan Minyak Lemak di laut lepas dekat perkampungan Bajo dan wisata Parigi terdeteksi melebihi baku mutu.

Gambar 2.40 Kandungan amoniak di pelabuhan


Konsentrasi (mg/L)
0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0

Laut Lepas DEkat Outlet Sungai Bambalemo

Industri (Dekat Titik Pantau KLH)

Laut Lepas dekat Bekas TPA

Dekat Pemecah Gelombang

Dermaga Multi Purpose

Laut Lepas Dekat KBS

Outlet Sungai Bambalemo

Tempat Pelelangan Ikan

Pelabuhan Kelas III Parigi Pemukiman Penduduk

Pelabuhan Kapal Fery

Dermaga JT Curah Cair

Pemukiman Penduduk

Pelabuhan Peti Kemas

Dermaga Pel. Barang

Teluk Tomini Gorontalo

Pelabuhan Owandan, serang

Lokasi

Pelabuhan TJ.Priuk, Jakarta

Teluk Tomimi Parigi, Moutong

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.41 Perbandingan kandungan oksigen terlarut di Pelabuhan Tanjung Priok dan Gorontalo Tahun 2011 - 2012
Konsentrasi (mg/L)
8 7 6 5 4 3 2 1 0

DO 2011

DO 2012

Dekat Pemecah Gelombang

Laut Lepas dekat BekasTPA

Tempat Pelelangan Ikan

Pelabuhan Peti Kemas

Pelabuhan TJ.Priok

Lokasi

Teluk Tomimi Gorontalo

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

56

Pelabuhan Kapal Fery

Dekat Industri

Dermaga Pel.Barang

Laut Lepas

BekasTPA

Outlet Sungai Ciaya

Dermaga Umum

Pelelangan Ikan

Dekat Industri

Laut Lepas

Bekas TPA

KBS

Dibandingkan dengan hasil pemantauan 2011, untuk Pelabuhan Tanjung Priok dan Gorontalo ada parameter yang mengalami peningkatan, yaitu kecerahan dan kandungan Oksigen terlarut. Kendati baku mutu air laut tidak mengatur kandungan DO perairan, tetapi peningkatan kecerahan dan DO dapat berdampak baik bagi kehidupan biota perairan. Hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah.

Sebaliknya, konsentrasi fenol pada 2012 meningkat ketimbang hasil pemantauan 2011. Baku mutu memang tidak mengatur kandungan fenol di pelabuhan, tapi tingginya polutan ini dapat menganggu ekosistem perairan. Hal itu lantaran sangat sedikit mikroorganisme perairan yang mampu mendegradasi fenol secara alami. Di Pelabuhan Tanjung Priok, meski konsentrasinya turun, tetapi masih terdeteksi kandungan amoniak yang melebihi baku mutu.

Gambar 2.42 Perbandingan kandungan fenol di Pelabuhan Tanjung Priok dan Gorontalo Tahun 2011 2012
0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0

Konsentrasi (mg/L)

Fenol 2011

Fenol 2012

Dekat Pemecah Gelombang

Laut Lepas dekat Bekas TPA

Tempat Pelelangan Ikan

Pelabuhan Peti Kemas

Pelabuhan Kapal Fery

Dermaga Pel.Barang

Dekat Industri

Laut Lepas

Pelabuhan TJ.Priok

Lokasi

Teluk Tomimi Gorontalo

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.43 Perbandingan kandungan amoniak di Pelabuhan Tanjung Priok Tahun 2011-2012
0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 Amoniak 2011 Amoniak 2012

Konsentrasi (mg/L)

Dekat Industri

Pelabuhan Peti Kemas

Dekat Pemecah Gelombang

Laut Lepas

Pelabuhan TJ.Priok

Lokasi
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

57

Pemukiman Penduduk

Bekas TPA

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Pemantauan Teluk Tomini dilakukan di tiga wilayah: Kota Gorontalo (pelabuhan), Kabupaten Pahuwato, Gorontalo, (daerah wisata) dan Kabupaten Parigi, Palu (pelabuhan dan daerah wisata). Pemantauan ini diharapkan dapat memberi gambaran menyeluruh

kualitas perairan Teluk Tomini. Kualitas perairan di daerah wisata diatur dalam BMAL untuk wisata bahari KepMenLH Nomor 51 tahun 2004. Kadar total padatan tersuspensi ( TSS) di lokasi wisata Parigi, di perairan Teluk Tomini melebihi BMAL, yaitu 24 mg/L.

Gambar 2.44 Kandungan TSS dI daerah wisata


30

Konsentrasi (mg/L)

25 20 15 10 5 0 -5

Muara Sungai Tanduluyu

Laut Lepas Muara Sungai Tanduluyu

Perkmp. Bajou

Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou

Daerah Wisata Parigi Teluk Tomimi, Parigi-Palu

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Lokasi

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.45 Kandungan oksigen terlarut di daerah wisata


7,00 6,00

Konsentrasi (mg/L)

5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00

Muara Sungai Tanduluyu

Laut Lepas dekat Muara Sungai Tanduluyu

Perkmp. Bajou

Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou

Daerah Wisata

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Lokasi

Teluk Tomimi, Parigi-Palu

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

58

Kandungan Oksigen Terlarut (DO) dan sulfida di perkampungan Bajo, Pahuwato, berada di luar baku mutu, sedangkan lokasi lainnya masuk dalam BMAL. Sulfida terdeteksi di perkampungan Bajo sebesar 0,001 mg/L. Kandungan minyak lemak di laut lepas dekat perkampungan Bajo dan wisata Parigi terdeteksi melebihi baku mutu air laut yang ditetapkan. Kandungan minyak lemak di perairan wisata diduga dari tumpahan minyak kapal nelayan dan limbah

domestik. Fenol dan amoniak bebas terdeteksi di semua lokasi daerah wisata. Deterjen atau Methylene Blue Active Substances (MBAS) adalah salah satu polutan dari limbah domestik. Tingginya polutan ini menunjukkan limbah domestik langsung dibuang ke sungai atau perairan. Sifat dispersi deterjen dalam molekul air membuat polutan ini mudah terbawa arus dan menyebar.

Gambar 2.46 Kandungan minyak dan lemak di daerah wisata


2,5

Gambar 2.47 Kandungan fenol di daerah wisata


0,06

Konsentrasi (mg/L)

2 1,5 1 0,5 0

Konsentrasi (mg/L)

0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0

Muara Sungai Tanduluyu

Laut Lepas Muara Sungai Tanduluyu

Perkmp. Bajou

Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou

Daerah Wisata Parigi Teluk Tomimi, Parigi-Palu

Muara Sungai Laut Lepas Tanduluyu Muara Sungai Tanduluyu

Perkmp. Bajou

Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou

Daerah Wisata Parigi Teluk Tomimi, Parigi-Palu

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Lokasi

Lokasi

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 2.48 Kandungan amoniak di daerah wisata


0,08

Gambar 2.49 Kandungan MBAS di daerah wisata


0,2

Konsentrasi (mg/L)

Konsentrasi (mg/L) Muara Sungai Tanduluyu Laut Lepas Muara Sungai Tanduluyu Perkmp. Bajou Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou Daerah Wisata Parigi Teluk Tomimi, Parigi-Palu

0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0

0,18 0,16 0,14 0,12 0,1 0,08 0,06 0,04 0,02 0

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Muara Sungai Tanduluyu

Laut Lepas Muara Sungai Tanduluyu

Perkmp. Bajou

Laut Lepas dekat Perkmp. Bajou

Daerah Wisata Parigi Teluk Tomimi, Parigi-Palu

Lokasi

Teluk Tomimi, Pohuwatu-Marisa

Lokasi

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

59

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

KEANEKARAGAMAN HAYATI
Negeri ini memiliki berbagai tipe ekosistem. Tidak kurang dari 52 tipe vegetasi yang bisa ditemukan di Nusantara: mulai dari vegetasi salju di Puncak Jayawijaya, alpina, sub-alpina, hutan hujan pegunungan, dataran rendah, hutan pantai, savana, mangrove sampai rawa gambut (Kartawinata. 2006). Garis pantai Nusantara yang membentang hampir 81.000 km dilindungi ekosistem terumbu karang, padang lamun dan mangrove. Tipe-tipe vegetasi dihuni aneka spesies tumbuhan, hewan, dan jasad renik, yang membentuk ekosistem unik dan kompleks. Tidak mengherankan, di seluruh negeri berlimpah keanekaragaman hayati. Karena itu, Indonesia menjadi salah satu negara terpenting di dunia. Walaupun hanya menopang 13 persen daratan dunia, Indonesia menyimpan 17 persen dari total spesies di muka Bumi. Sedikitnya 35.000 40.000 spesies tumbuhan (11-15 persen); 707 spesies mamalia (12 persen); 350 spesies amfibia dan reptil (15 persen); 1.602 spesies burung (17 persen) dan 2.184 spesies ikan air tawar (37 persen) (LIPI, 2012). Sementara di perairan laut, tidak kurang dari 2.500 spesies molluska; 2.000 spesies krustasea; 6 spesies penyu laut; 30 mamalia laut; dan lebih 2.500 spesies ikan laut. Keunggulan lainnya, Indonesia punya spesies endemik. Spesies endemik tersebut terdiri dari: 14.800 jenis tumbuhan (nomor 5 dunia), di antaranya 225 jenis palem endemik (no 1 dunia); 201 jenis mamalia (nomor 2 dunia); 150 jenis reptilia (nomor 4 dunia); 397 jenis burung (nomor 5 dunia); 100 jenis amfibia; 35 jenis primat; dan 121 jenis kupu-kupu. Endemisme sangat penting karena makhluk hidup itu tidak dapat ditemukan di belahan Bumi lain (LIPI. 2012). Namun demikian. tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki juga berbanding lurus dengan laju kepunahan dan tingkat keterancamannya, karena itu perlindungan terhadap jenis flora dan fauna terancam menjadi prioritas pemerintah. Selain itu, dalam penetapan status kelengkaan dan regulasi kemungkinan penangkapan untuk berbagai keperluan secara ketat diatur oleh Kementrian Kehutanan sebagai pemegang otoritas management dan LIPI sebagai otoritas ilmiah, termasuk penetapan quota exsport dalam CITES.

Keanekaragaman Hayati Yang Dilindungi Perundang-Undangan Republik Indonesia


Perlindungan keanekaragaman hayati pertama kali mengacu Surat Keputusan Ordonantie Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931, kemudian Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Dan, terakhir tentang penetapan Trachypithecus auratus sebagai satwa dilindungi menurut SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 733/1999. Jenis-jenis tumbuhan merupakan kelompok yang paling banyak dilindungi, kemudian diikuti burung dan mamalia. Sedangkan yang paling sedikit yang dilindungi adalah krustaceae, 6 jenis; dan artropoda lainnya, 3 jenis (Gambar 2.50). Untuk melindungi kekayaan hayati asli, pemerintah melalui SK Menteri Pertanian Nomor 179/Kpts/Um/3/1982 melarang 37 jenis ikan masuk perairan Indonesia dan 10 jenis ikan dilarang keluar dari Indonesia. Ikan-ikan yang dilarang masuk itu umumnya sangat berbahaya karena bersifat invasif, sedangkan jenis ikan yang dilarang keluar mayoritas dari marga Anguilla spp. (LIPI, 2012).

60

Menurut data strategis kehutanan tahun 2011, jumlah spesies satwa yang dilindungi dalam kurun 2001 2010 antara lain: mamalia, 127 spesies; burung, 382 spesies;

reptilia, 31 spesies. Sedangkan untuk tumbuhan antara lain: Palmae, 12 spesies; Rafflesia , 11 spesies; Orchidaceae , 29 spesies.

Gambar 2.50 Flora Fauna yang dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia
109 3 12 18 6 131 Mamalia Burung Amphibia dan Reptilia Ikan 18 48 Serangga Moluska Krustasea Artopoda lainnya 389 Tumbuhan

Sumber: Pusat Penelitian Biologi-LIPI

Flora-Fauna Dalam Red Data List IUCN


Berdasarkan data IUCN ( International Union Conservation Natural), kekayaan hayati Indonesia yang masuk red data list IUCN berjumlah 4.640 jenis hewan dan 755 jenis tumbuhan. Jenis hewan terbagi dalam kelasnya masingmasing dan jenis tumbuhan terbagi berdasarkan divisi dan ordo seperti tertera pada Gambar 2.51

Gambar 2.51 Flora-fauna berdasarkan kriteria IUCN


0 0 1

665 27 7 54 2 24

91 273 714

Annelida Krustasea Insekta Merostomata Actinopterygii Amphibi Aves Chondrichtyes

364 622

Mammalia Reptilia Sarcopterygii Cnidaria Mollusca

175
Sales Magnolipsida Sales Liliopsida

Polypodiophyta Coniferopsida Cycadopsida

678 129

1564

Liliopsida Magnolipsida

Sumber: Pusat Penelitian Biologi-LIPI

61

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

Dalam kriteria IUCN itu, terdapat dua jenis berkategori punah; 66 jenis berstatus kritis; dan 167 jenis dalam kategori genting (Gambar 2.52). Untuk flora yang

termasuk kriteria IUCN tertera pada Gambar 2.53. Dari data ini dapat dilihat, yang punah: satu jenis; punah in situ: dua jenis; jenis yang kritis, 115; dan genting, 72.

Gambar 2.52 Kategori kriteria IUCN pada fauna


2 66 167
Punah

516
Kritis

Genting Rawan Terkikis Hampir Langka Data belum Lengkap

527

2715

643
Kurang diperhatikan

Sumber: Pusat Penelitian Biologi-LIPI

Gambar 2.53 Kategori kriteria IUCN pada flora


1 226 2 115 Punah Punah in situ Kritis 72 Genting Rawan Terkikis 41 Hampir Langka Data belum Lengkap 83 9 206 Kurang Diperhatikan

Sumber: Pusat Penelitian Biologi-LIPI

62

Flora Fauna Dan Mikroba Invasif


Dari berbagai sumber pustaka dan hasil diskusi kelompok IAS ( Invasive Allien Species ) diketahui ada 2.809 jenis invasif, mulai dari jamur, bakteri, virus, ikan, Arachnida, burung, mamalia, insekta, moluska sampai tumbuhan. Pada Gambar 2.54 dapat dilihat jumlah jenis invasif terkecil adalah burung (dua jenis) dan moluska (dua jenis), sementara jumlah jenis invasif terbesar berasal dari tumbuhan: 2.184 jenis. Tumbuhan invasif masuk ke Indonesia lantaran sengaja didatangkan sebagai tanaman hias dan tanaman ekonomi, atau hasil ikutan impor benda lain, yang lantas tanpa diketahui dan tak sengaja tumbuh meliar. Jenis invasif tak hanya datang dari luar, tetapi juga dapat berasal dari wilayah Indonesia. Contohnya, dua jenis mamalia pendatang di Papua, yakni Rusa timor ( Cervus timorensis) dan Monyet kra ( Macaca fascicularis) telah menjadi hama (Puslit Biologi-LIPI, 2011). Contoh lainnya: Langkap ( Arenga obtosifolia ) tumbuhan yang agresif mendesak habitat banteng di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Untuk melindungi flora dan fauna dari kepunahan, pemerintah menggelar berbagai upaya pelestarian. Di antaranya, menambah kawasan cagar alam, yang selama 2001 - 2009 naik dari 183 unit menjadi 238 unit; luasnya pun bertambah, dari 2,6 juta hektar menjadi 4,3 juta hektar. Begitu juga suaka margasatwa, yang selama 2001 2009 juga bertambah: semula 50 unit menjadi 74 unit, dengan luas dari 3,6 juta hektar menjadi 5,1 juta hektar. Hanya saja, untuk taman nasional laut justru menurun. Pada 2003 terdapat 8 unit, seluas 4,2 juta hektar, pada 2009 berkurang menjadi 7 unit, seluas hanya 4 juta hektar. Sementara taman nasional darat, selama 2001 - 2009 bertambah dari 40 unit menjadi 43 unit, tetapi luas taman nasional darat turun, dari 14,7 juta hektar menjadi 12,3 juta hektar. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam dengan ekosistem asli, yang dikelola dengan sistem zonasi untuk penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU Nomor 5 Tahun1990). Sedikitnya ada 50 taman nasional yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan suaka margasatwa merupakan kawasan

Gambar 2.54 Jumlah jenis flora fauna dan mikroba invasif


Flora (bukan Alien) Bacteria Virus Fungi Moluska
76 16 47

2
8 342 90 20 22 2

Mamalia Flora (Alien) Serangga Ikan Arachnida Burung

2184

Sumber: Pusat Penelitian Biologi-LIPI

suaka alam (kawasan konservasi) dengan ciri khas berupa keanekaragaman ataupun keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan habitat. Indonesia punya 73 suaka margasatwa dengan total luas 5.422.922,79 hektar. Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena alamnya yang punya keunikan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya, atau ekosistem tertentu, yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung alami. Cagar alam berfungsi sebagai kawasan perlindungan terhadap seluruh komponen ekosistem, baik flora, fauna, maupun habitatnya. Semua proses tersebut dibiarkan secara alami, tanpa campur tangan manusia, sehingga harus dibiarkan sesuai aslinya. Campur tangan manusia hanya dimungkinkan bila terjadi suatu proses, baik alamiah maupun perbuatan manusia, yang dapat mengakibatkan kawasan tersebut punah. Cagar alam terdiri dari cagar alam daratanbaik tanah maupun perairan darat, cagar alam laut, dan cagar alam biosfer. Sampai 2008, telah ditetapkan sedikitnya 237 cagar alam, baik daratan maupun perairan, mencapai 4.730.704,04 hektar. Selain cagar alam, suaka margasatwa dan taman nasional, Indonesia juga memiliki taman hutan raya dan taman wisata alam. Sedikitnya ada 22 lokasi taman hutan raya sebagai

63

Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia

salah satu kawasan pelestarian alamselain taman nasional dan taman wisata alam. Fungsinya hampir mirip kebun raya, meski berbeda terutama dalam koleksi tanaman. Dari pengertian itu, taman hutan raya merupakan bentuk pelestarian alam kombinasi antara pelestarian ex-situ dan in-situ. Dengan begitu, taman hutan raya dapat ditetapkan dari hutan alam maupun hutan buatan. Fungsi taman hutan raya sebagai etalase keanekaragaman hayati, penelitian, tempat penangkaran jenis, serta wisata. Untuk menambah daya tampung ex situ konservasi tumbuhan. pemerintah melalui Inpres No. 3 tahun 2009, menetapkan perlunya tiap provinsi memilik kebun raya daerah. Hingga kini telah terbentuk sebanyak 21 kebun raya daerah. dengan empat kebun raya yang dikelola LIPI maka total jumlah kebun raya menjadi 25. Total luas keseluruhan kebun raya yang tersebar di 17 provinsi ini mencapai 3.000 hektar. Jumlah ini menaikkan Indonesia dari peringkat ke17 menjadi ke-

13 negara di dunia dengan kebun raya yang berfungsi untuk penelitian. pendidikan wisata alam dan benteng terakhir bagi tumbuhan yang terancam punah. Upaya-upaya pelestarian terus dilakukan pemerintah dengan berbagai cara. Pada 2012, LIPI menggelar ekspedisi di Pulau Mursala, Kepulauan Riau, yang menemukan lagi pohon meranti ( Dipterocarpus cinereus Sloot ), yang dinyatakan punah pada 1998 oleh IUCN. Ekspedisi ini sebagai bagian dari kewajiban Indonesia dalam menjalankan konvensi tentang Penyelamatan Keanekaragaman Hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD). Sementara itu, Kebun Raya Bogor telah berhasil memindahkan bunga raflessia ( Raflesia padma ) dari habitat alaminya ke Kebun Raya Bogor sebagai bentuk konservasi ex-situ. Keberhasilan ini merupakan sukses besar, dan pertama kali berhasil dilakukan di dunia. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan pada Raflesia arnoldii, dengan cara memindahkan inangnya ke Kebun Raya.

Bunga Raflesia Padma, kembali mekar di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Bunga parasit hasil penelitian sejak 2004 tersebut merupakan bunga Rafflesia padma pertama yang berhasil tumbuh sejak 80 tahun lalu. Foto: Kompas/Lucky Pransiska

64

Teratai raksasa dari Brazil di Kebun Raya Bogor, 1992. Foto: Tempo/Rully Kesuma

65

KAPASITAS PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP

66

Setelah meneropong status lingkungan hidup selama 2012, terlihat kondisinya masih cukup mengkhawatirkan.Kendati begitu, harus diakui pula selama satudua tahun belakangan lingkungan hidup sedikit menunjukkan secercah harapan. Idealnya, status lingkungan hidup merupakan resultante yang sepadan dengan kapasitas para pemangku kepentingan, baik masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, swasta maupun pemerintah.Artinya, kapasitas pengelolaan yang mumpuni bakal menciptakan lingkungan hidup yang baik pula.

67

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Kapasitas pengelolaan menggambarkan kemampuan pemangku kepentingan dalam mengelola lingkungan hidup.Dengan demikian, pengembangan kapasitas pengelolaan menjadi prasyarat penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan.Kapasitas itu mencakup kelembagaan, kebijakan, program dan peluang partisipasi.Lantaran itulah, paradigma pembangunan suatu negara mempengaruhi kapasitas pengelolaan. Pembangunan yang abai keberlanjutan, yang hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, terbukti menyebabkan degradasi lingkungan. Seiring desentralisasi pembangunan di Indonesia, pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam makin menghadapi berbagai tantangan. Yang pasti, itu bukan lantaran konsep desentralisasi. Namun, karena para pelaku pembangunan hanya memikirkan kepentingan ekonomi jangka pendek. Seperti telah banyak diketahui, dalam era otonomi daerah, pengelolaan lingkungan hidup mengacu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Selain itu, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga mewajibkan pemerintah menerapkan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah solusi memperbaiki lingkungan, tanpa mengorbankan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Undang Undang Pemerintahan Daerah itu sejatinya telah mengatur pembagian tugas dan wewenang pemerintah pusat dan daerah dalam melindungi lingkungan. Persoalannya, lemahnya koordinasi antara lembaga pusat, provinsi dan kabupaten/kota membuat beberapa kebijakan bidang perlindungan sumberdaya alam menjadi tak efektif. Padahal, undangundang terkait lingkungan hidup telah terperinci dan bercakupan luas. Sayangnya, dalam prakteknya, masih sering ditemui ketaksesuaian dan keterpaduan visi. Tengok saja, prioritas pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dengan eksploitasi sumberdaya alam intensif justru kerap

menimbulkan masalah. Ini diperparah dengan penafsiran individual yang kerap berbeda dengan semangat kebijakan terkait.Tak hanya itu, dengan kewenangannya, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota sering menerbitkan peraturan yang kadang bertabrakan dengan undang-undang nasional. Tak sedikit pemerintah daerah, berbekal wewenang mengatur rumah tangganya, bebas membuat kebijakan tanpa menimbang kelestarian lingkungan. Bahkan cenderung mengeksploitasi dan merusak lingkungan. Hasil studi Institut Pertanian Bogor (2006) dan Kantor Menko Perekonomian (2007) menunjukkan, dari 119 peraturan daerah terkait dengan sumberdaya alam, 60 persen berisi izin eksploitasi dan 30 persen berisikolaborasi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam. Hanya 10 persen yang berisi hak akses dan kontrol masyarakat atas sumberdaya alam. Hal ini mencerminkan gairah eksploitasi sumberdaya alam masih sangat besar. Pengelolaan lingkunganmeliputi pencegahan, penanggulangan dan pemulihanmenuntut pengembangan perangkat kebijakan, program, serta kegiatan, yang ditopang sistem pendukung. Selain perangkat hukum, perundangan, informasi dan dana, sistem pendukung mencakup kemantapan kelembagaan sumberdaya manusia dan kemitraan. Sifat holistik dan saling terkait antar-sektor memang inheren dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap sektor tak dapat berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dan terkoordinasi. Hal itu sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan provinsi dalam lingkungan hidup. Dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan, pengembangan kapasitas pengelolaan yang memadai menjadi prasyarat utama. Kapasitas yang cakap akan membawa proses peningkatan kualitas lingkungan mencapai hasil optimal. Pun sebaliknya, kapasitas yang kurang memadai membuat tujuan memperbaiki kualitas lingkungan sulit dicapai.

68

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Kelembagaan dapat dilihat dari sudut organisasi dan aturan yang ada. Kelembagaan memuat norma, kode etik, hukum, faktor pengikat lain, yang didukung aturan, penegakan hukum, ser ta insentif untuk mentaati aturan dan menjalankan lembaga. Dalam pengelolaan lingkungan hidup terdapat sejumlah lembaga di tingkat nasional dan daerah. Secara umum, tata kelola kelembagaan pengelola lingkungan, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dapat dilihat dari komponen organisasi, sumberdaya manusia, anggaran, sarana dan prasarana.Pembagian tanggungjawab di tingkat nasional terlihat pada tabel berikut, yang menyajikan pembagian penanganan lingkungan hidup berdasarkan isu.

Tabel 3.1. Lembaga Pengelola Lingkungan Hidup.


Isu
Hutan dan lahan Pesisir dan laut Kehati Air Udara Perubahan Iklim Sampah

KLH

Kem hut

PU

KKP

ESDM

Kem Hub

K Dagri

Kem tan

indus- Kse- Ristek tri hatan

Dik Bud

BNPB BMKG

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Lembaga Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup


Dari tabel itu terlihat, setiap isu lingkungan hidup ditangani setidaknya lima kementerian atau badan. Tabel itu juga menggambarkan lingkungan hidup merupakan isu lintas-sektoral yang melibatkan banyak pihak.Dengan begitu, koordinasi dan sinergi menjadi kunci bagi ikhtiar menangani tantangan lingkungan dan penerapan pembangunan berkelanjutan yang lebih optimal. Seperti misalnya, upaya penyelamatan danau rusak yang mengharuskan kerjasama lintas-sektoral. Selain Kementerian Lingkungan Hidup, penyelamatan danau menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, Kementerian Riset dan Teknologi, serta lembaga daerah. Selama ini, Kementerian Lingkungan Hidup misalnya, menyiapkan data dan informasi lingkungan sebagai dasar pengambilan kebijakan di kementerian terkait. Contoh lainnya, dalam menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2020, sebesar 26 persen dari kondisi business as usual dengan usaha sendiri, juga menjadi kerja bersama. Upaya itu melibatkan pemerintah, pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan dunia usaha.Banyak kementerian yang juga ikut berperan: Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Selain pemerintah daerah, ada juga BPS, Bapennas, LAPAN, BMKG, Bakosurtanal, perguruan tinggi, dan Dewan Nasional Perubahan Iklim.

69

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Layanan Unit Pelayanan Terpadu


Fungsi pemerintah adalah pelayanan publik. Satu contohnya, Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan unit pelayanan terpadu (UPT) dan Indonesia National Single Window (INSW). Unit pelayanan terpadu KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP yang diresmikan pada 25 Januari 2012 ini buat menunjang kinerja pelayanan public (http.//pelayananterpadu. menlh.go.id). 3)Pengelolaan Limbah B3 (f ) Izin Pengumpulan limbah B3; (g) Izin pemanfaatan limbah B3; (h) Izin pengolahan limbah B3; (i) Izin penimbunan limbah B3; dan ( j) Izin dumping;

b. Pelayanan nonperizinan, terdiri atas: 1)Pengelolaan limbah B3 dan Limbah nonB3 Pelayanan UPT KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP (a) Rekomendasi pengangkutan limbah B3; adalah pelayanan publik yang meliputi 20 jenis (b) Persetujuan dan notifikasi ekspor limbah B3; layanan: (c) Rekomendasi impor limbah nonB3. (d) Persetujuan atau notifikasi ekspor limbah B3; a.Pelayanan perizinan lingkungan 2)Pengelolaan B3 1)Amdal/UKL-UPL dan Izin lingkungan (a) Rekomendasi pengangkutan B3; (a) Penilaian Amdal; (b) Registrasi impor dan produksi B3; (b) Pemeriksaan UKL-UPL; (c) Notifikasi ekspor B3. (c) Izin Lingkungan. 3) Pengaduan kasus lingkungan 2)Pengendalian pencemaran air 4) Pengelolaan Bahan Perusak Ozon (sedang dalam (d) Izin pembuangan air limbah ke laut; proses integrasi) (e) Izin pembuangan air limbah melalui injeksi 5) Pelayanan informasi publik (sedang dalam proses (belum dilaksanakan oleh UPT ); integrasi)

Gambar 3.1. Total Pelayanan Unit Pelayanan Terpadu.

Pengelolaan Limbah B3 Pengelolaan B3 Pengaduan Lingkungan Hidup Penerimaan / Penyerahan : Dok / Surat Pembuangan Air Limbah Pelayanan Informasi Publik AMDAL/ UKL-UPL

1.806 3.915 6 2.772 115 13 94 0 1.000 2.000 3.000 4.000 Total Pelayanan = 8.721

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

70

Gambar 3.2. Jumlah Total Pemohon Unit Pelayanan Terpadu.


3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500

3.000

Perusahaan (PT, CV, UD) Koperasi DPRD/DPRD Firma Hukum/Konsultan Pemerintah Pusat/Daerah/TNI/POLRI LSM/Lembaga Masyarakat

8
0

27

104

17

69

13

36

Total
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Indonesia National Single Window


Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan: Setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah NKRI, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. Hal ini dijabarkan dalam PP Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Pasal 6 ayat (1), yang menyebutkan setiap B3 wajib diregistrasi oleh penghasil dan/atau pengimpor. Kementerian Lingkungan Hidup telah menerapkan amanat itu melalui sistem registrasi yang sudah berjalan selama ini. Registrasi merupakan salah satu simpul dari sistem pengelolaan B3 untuk mengetahui jumlah B3 yang beredar di Indonesia.Hal itu agar dapat dilakukan pengawasan sejak awal.Ini sebagai upaya pencegahan dampak negatif terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan hidup. Dalam proses registrasi telah memakai sistem elektronik Indonesia National Single Window (INSW). Penerapan sistem ini wujud partisipasi Kementerian Lingkungan Hidup dalam penanganan dokumen kepabeanan dan perizinan yang berkaitan dengan ekspor-impor B3 sesuai PP Nomor 10 Tahun 2008 tentang penggunaan sistem elektronik dalam Kerangka National Single Window. Selanjutnya, melalui Peraturan Menteri Nomor 02 Tahun 2010 diatur pula penggunaan sistem elektronik registrasi B3. Selama 2010 - 2012 tercatat penurunan jumlah jenis B3 yang diregistrasi, namun terjadi kenaikan tajam kuantitas impor B3.Pada 2010, B3 yang diregistrasi sebanyak 274 jenis, dengan impor sebesar 234.232.522 ton.Sedangkan pada 2011, B3 yang diregistrasi 264 jenis, total impor 308.542.573 ton. Pada 2012 jenis B3 yang diregistrasi sebanyak 118, total impor sebanyak 625.982.578 ton. Grafik-grafik berikut menunjukkan tren jumlah jenis dan total impor B3. Nampak kebutuhan B3 sebagai bahan baku maupun produk semakin meningkat seiring perubahan pola hidup manusia, dari carbohydrate-based economy ke arah petrochemical-based economy . Untuk mewujudkan pengelolaan B3 secara baik, benar dan efisien oleh produsen, importir, pengangkut dan pengguna, dilakukan pemakaian teknologi bersih. Hal itu mulai dari penggunaan bahan baku, proses produksi, efisiensi penggunaan bahan kimia dan meningkatkan pelayanan sistem registrasi, sampai prasyarat pangajuan yang lebih optimal sesuai peraturan.

71

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 3.3. Penurunan Jumlah Jenis Registrasi Bahan Berbahaya dan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup.
300 250 200 150 100 50 0 2010 2011 2012

-3,6 %

-55 %

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 3.4. Peningkatan Total Kualitas Impor Bahan Beracun dan Berbahaya. ( juta ton)
700 600 500 400 300 200 100 0 2010 2011 2012

102,9%

31,7%

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Lembaga Daerah Pengelolaan Lingkungan Hidup


Ada dua hal penting dari sisi kelembagaan bagi pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Pertama, nomenklatur dan eselonisasi kelembagaan lingkungan hidup daerah. Dan kedua, tugas dan fungsi yang dijabarkan dalam struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) kelembagaan daerah. Kelembagaan mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menangani tantangan lingkungan hidup. Bentuk lembaga yang optimal untuk lingkungan hidup adalah Badan, karena ada kewenangan koordinasi, operasional, serta memiliki eselonisasi yang cukup tinggi. Sampai saat ini, 100 persen kelembagaan lingkungan hidup provinsi telah berbentuk badan, atau 33 Badan Lingkungan Hidup (BLH). Nah, untuk kabupaten/kota sejumlah 298 (62 persen) telah berbentuk badan, 149 (31 persen) berbentuk kantor, dan berbentuk lainnya 34 (7 persen). Berikut ini bentuk kelembagaan daerah yang mengurusi lingkungan hidup.

72

Tabel 3.2. Rekapitulasi Bentuk Kelembagaan LH Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota (per Februari 2013)
NO Bentuk Lembaga pada Provinsi Prov. Aceh Prov. Sumatera Utara Prov. Sumatera Barat Prov. Riau Prov. Kepulauan Riau Prov. Bangka Belitung Prov. Jambi Prov. Sumatera Selatan Prov. Bengkulu Prov. Lampung JUMLAH Prov. Banten Prov. DKI Jakarta Prov. Jawa Barat Prov. Jawa Tengah Prov. DIY Prov. Jawa Timur JUMLAH Prov. Sulawesi Utara Prov. Gorontalo Prov. Sulawesi Tengah Prov. Sulawesi Selatan Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Barat Prov. Maluku Prov. Maluku Utara Prov. Papua Prov. Papua Barat JUMLAH Prov. Kalimantan Barat Prov. Kalimantan Tengah Prov. Kalimantan Selatan Prov. Kalimantan Timur JUMLAH Prov. Bali Prov. Nusa Tenggara Barat Prov. Nusa Tenggara Timur JUMLAH TOTAL BENTUK LEMBAGA PROVINSI 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 4 1 1 1 3 33 BENTUK LEMBAGA KAB/KOTA BADAN KANTOR LAINNYA 13 18 7 10 6 6 4 11 8 8 91 Regional Jawa 1 2 3 4 5 6 4 1 17 20 2 22 66 Regional Sumapapua 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 5 10 12 6 4 2 9 8 5 69 Regional Kalimantan 1 2 3 4 9 12 10 12 43 Regional Bali Nusra 1 2 3 4 6 19 29 v298 5 3 2 10 149 0 34 10 10 22 42 514 5 2 2 2 11 1 1 15 15 14 15 59 1 1 9 4 1 6 1 2 25 1 2 2 1 17 3 26 10 7 12 24 13 6 10 10 27 11 130 2 5 8 15 3 15 48 1 0 1 2 7 7 27 36 6 39 122 9 13 12 2 1 1 7 2 2 6 55 1 2 2 5 JUMLAH PROV, KAB/KOTA 24 34 20 13 8 8 12 16 11 15 161

Regional Sumatera 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

73

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Memang tidak semua daerah memiliki kelembagaan yang optimal. Nah, untuk mengatasi kendala itu dilakukan upaya sebagai berikut: Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 061/163/ SJ/2008 dan Nomor SE-01/MENLH/2008 tentang Penataan Kelembagaan Lingkungan Hidup di Daerah. Surat edaran ini terkait pelaksanaan perlindungan pengelolaan lingkungan hidup di daerah, setelah terbit PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota, serta PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Pedoman Penyusunan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah berdasarkan Tipologi Lingkungan (Rawan Bencana,

Konservasi, Pesisir dan Laut, Padat Industri, dan Hibrid). Struktur organisasi dan tata kerja kelembagaan daerah disusun sesuai tipologi lingkungan dengan menimbang masalah yang dihadapi, agar dapat diatasi. Urusan lingkungan hidup merupakan salah satu kewajiban pemerintahan daerah yang berpedoman pada standar pelayanan minimal (SPM). Hal ini diatur Peraturan Menteri LH Nomor 19 dan 20 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota. Aturan menteri itu dilengkapi Petunjuk Teknis dan Instrumen pendukungnya: pedoman pembiayaan, panduan penyusunan laporan, pedoman monitoring dan evaluasi.Sampai 2012, sebanyak 22 provinsi (66,7 persen) telah memberi laporan penerapan SPM lingkungan, sedangkan dari 476 daerah kabupaten/ kota, baru148 (31 persen). Gambar 3.6. Laporan Capaian Indikator Penerapan Standar Pelayanan Minimal Lingkungan Hidup Tingkat Provinsi Nasional. 100% 100% 100%

Gambar 3.5. Laporan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Provinsi Nasional.
Belum Melaksanakan Sudah Melaksanakan

75%

73% 41% 59%

52% 94% 48% 6% 2009

35% 67% 2009

69% 50%

2010

2011

Status mutu air

2010

2011

Status mutu udara ambien Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 3.7. Laporan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Tingkat Kabupaten/Kota Nasional.
Sudah Melaksanakan Belum Melaksanakan

Gambar 3.8. Laporan Capaian Indikator Standar Pelayanan Minimal Lingkungan Tingkat Kabupaten/Kota Nasional.
Pencegahan Pencemaran Air Pencegahan Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak Informasi Status Kerusakan Tanah/Lahan untuk Produksi Biomassa Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat 79% 72% 69%

92%

69%
69% 46% 21% 42% 54% 12%

0% 0% 2009

8% 2010

31% 2011
0%

0% 0%

2009
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

2010

2011

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

74

Berdasarkan data di atas, nampak penerapan dan capaian SPM bidang lingkungan hidup di daerah belum optimal. Adapun kendala dan tantangannya adalah: a. Ketersediaan sumberdaya manusia, terutama analis laboratorium dan pejabat pengawas lingkungan hidup. Masih banyak lembaga lingkungan hidup daerah dengan sumberdaya manusia terbatas, sehingga tidak dapat melaksanakan SPM selayaknya. Keterbatasan ini tidak saja terkait dengan kualifikasi dan kompetensi, namun juga formasi yang tidak memadai. Hal itu juga menyangkut kebijakan mutasi yang cukup tinggi, sehingga sumberdaya manusia yang berkompeten berpindah ke dinas lain. Lantaran itulah, di masa datang perlu penataan sumberdaya manusia melalui

peningkatan kapasitas, sistem karir yang jelas melalui jabatan fungsional, serta menimbang kebijakan mutasi pegawai. b.Sarana dan prasarana, khususnya laboratorium lingkungan. Dalam penerapan SPM bidang lingkungan hidup di provinsi dan kabupaten/kota, sarana dan prasarana yang sangat penting adalah laboratorium lingkungan. Banyak daerah yang belum memiliki sarana laboratorium yang memadai. Tak mengherankan bila pelaksanaan SPM cukup terhambat. Apalagi SPM bidang Lingkungan Hidup menyangkut penyampaian informasi bagi masyarakat tentang status lingkungan.Di tingkat provinsi pun, tidak semua laboratorium telah terakreditasi dan teregistrasi, sebagaimana tersaji pada tabel berikut.

Tabel 3.3. Jumlah dan Status Laboratorium Lingkungan di Indonesia Tingkat Provinsi
Prop
11 12 13 14 15 16 17 18 19 21 31 32 33 34 35 36 51 52 53 61 62 63 64 71 72 73 74 75 76 81 82 91 94

Nama
ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH D I YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA

Lab Terakreditasi
1 2 1 1 2 2 1 1 4 4 2 4 1 1 2 2 3 1 1 2 1

Lab Terregistrasi

1 7 7 4 2 3 2

2 1

Total

41

31
Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup

75

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sarana dan Prasarana


Laboratorium
Laboratorium berfungsi untuk menganalisis contoh uji sehingga menghasilkan data. Menurut Permen LH Nomor 6 tahun 2009 , laboratorium lingkungan adalah laboratorium bersertifikat akreditasi laboratorium pengujian parameter kualitas lingkungan dan beridentitas registrasi.Untuk menilai kinerja laboratorium dilakukan uji profisiensi, sebagai salah satu metode untuk mengetahui unjuk kerja laboratorium dengan cara uji banding antarlaboratorium. Uji profisiensi juga merupakan salah satu persyaratan teknis, bila laboratorium akan diakreditasi sebagai laboratorium penguji dan diregistrasi sebagai laboratorium lingkungan.

Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL)


Pengelolaan lingkungan akan lebih efisien bila didukung laboratorium lingkungan yang handal. Ini karena hasil uji laboratorium dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan lingkungan.Dengan hibah dari pemerintah Jepang, pada 12 Agustus 1993, Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) didirikan sebagai referensi laboratorium lingkungan.Kompetensi Pusarpedal sebagai laboratorium lingkungan telah terbukti dengan sertifikat laboratorium pengujian dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada 7 Februari 2001, yang diperkuat akreditasi KAN pada 29 September 2005. Selain sebagai pemilik laboratorium dan pusat pemantauan kualitas lingkungan, Pusarpedal juga untuk pelayanan masyarakat dan independen laboratorium lingkungan. Pusarpedal bertugas melaksanakan koordinasi, memantau dan mengkaji kualitas lingkungan, berfungsi teknis laboratorium rujukan, pelayanan pengujian dan kalibrasi, serta pengembangan laboratorium lingkungan Saat ini kegiatan Pusarpedal meliputi : Melakukan pengukuran pencemaran lingkungan, yang terdiri dari pembuangan limbah cair, limbah padat dan polusi udara. Memantau pencemaran lingkungan di berbagai tempat di Indonesia, sebagai masukan bagi para pengambil kebijakan lingkungan. Menyediakan bimbingan pelaksanaan sistem mutu berdasarkan SNI 19-17025, membuat pedoman pengambilan sampel dan analisis parameter kualitas lingkungan, pedoman monitoring kualitas lingkungan, pedoman pengobatan dan kalibrasi peralatan laboratorium lingkungan. Menyediakan dan menangani tes kemahiran untuk parameter kualitas lingkungan, standar cetakan material/bahan cetakan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD)


Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Pembangunan ( the United Nations Conference on Environment and DevelopmentUNCED ) di Rio de Janeiro, 1992, menghasilkan strategi pengelolaan lingkungan hidup yang dituangkan dalam Agenda 21. Dalam Agenda 21 Bab 40 disebutkan perlunya kemampuan pemerintahan dalam mengumpulkan dan memanfaatkan data dan informasi multisektoral pada proses pengambilan keputusan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Hal itu menuntut ketersediaan data, keakuratan analisis, serta penyajian informasi lingkungan hidup. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 70 UU itu menyatakan masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya berperan aktif dalam erlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peran masyarakat diwujudkan melalui pengawasan sosial, memberikan saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan, penyampaian informasi dan pelaporan. Pasal 65 ayat (1) menyatakan setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia. Dalam pasal 65 ayat (2) disebutkan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dengan demikian, masyarakat berhak mendapatkan

76

informasi terkait kebijakan lingkungan hidup. Informasi merupakan modal bagi masyarakat untuk memahami dan mengawasi pengelolaan lingkungan, dasar mengambil keputusan terkait lingkungan dan kehidupannya, dan memberikan masukan kepada pemerintah dalam pengelolaan lingkungan. Pelaporan status lingkungan hidup sebagai sarana penyediaan data dan informasi dapat menjadi alat dalam menilai dan menentukan prioritas masalah, membuat rekomendasi bagi penyusunan kebijakan, perencanaan untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup, dan menerapkan mandat pembangunan berkelanjutan. Berkaitan dengan akses informasi kepada publik, telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Sebagai badan publik pemerintah wajib menyediakan, memberikan

dan/atau menerbitkan informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan antara lain informasi yang diumumkan secara berkala, dengan cara yang mudah dijangkau dan dalam bahasa yang mudah dipahami. Pemerintah daerah telah menyusun Neraca Lingkungan Hidup (NLH) sejak 1982, yang pada 1986 berubah menjadi Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Dan mulai 1994 berubah lagi menjadi Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Sejak 2002, bersamaan dengan penerbitan Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) secara nasional yang dilakukan setiap tahun, diterbitkan pula Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Mayoritas provinsi telah membuat SLHD setiap tahun sebagaimana yang terlihat pada gambar 3.9.

Gambar 3.9. Jumlah Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Tingkat Provinsi
30

25

20

15

10

0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2013

Kementerian Lingkungan Hidup melakukan evaluasi Laporan SLHD, sehingga bisa dilihat kualitas data dan informasi yang disajikan. Hal yang dievaluasi: sistematika, ketersediaan data, serta analisisnya. Hal

itu akan terlihat kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola data dan informasi. Hasil evaluasi tercermin pada table 3.4.

77

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Tabel 3.4. Hasil Evaluasi Status Lingkungan Hidup Daerah Tahun 2011
No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Sumatera Barat Jawa Timur Bali Sumatera Utara Daerah Istimewa Yogyakarta Aceh Sulawesi Utara Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Banten Kalimantan Timur Kepulauan Riau Sulawesi Selatan Jawa Barat Bengkulu Lampung Jambi Gorontalo Jawa Tengah Riau Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Papua Barat Kepulauan Bangka Belitung Sulawesi Tenggara Papua Maluku

Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Regional
Jawa Sumatera Jawa Bali NT Sumatera Jawa Sumatera Sumapapua Sumatera Sumapapua Jawa Kalimantan Sumatera Sumapapua Jawa Sumatera Sumatera Sumatera Sumapapua Jawa Sumatera Kalimantan Bali NT Bali NT Sumapapua Sumatera Sumapapua Sumapapua Sumapapua

Nilai
90.95 90.88 90.46 88.17 87.99 83.86 82.14 78.11 77.06 74.75 70.09 70.05 69.99 69.10 68.55 64.03 62.69 62.56 62.22 53.74 53.60 50.91 50.56 50.10 49.45 49.01 45.40 9.67 6.24

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

SUMBERDAYA MANUSIA PENGELOLA


Sebagaimana diuraikan sebelumnya, salah satu hal krusial adalah sumberdaya manusia.Dengan demikian, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup oleh para pihak perlu sumberdaya manusia yang kompeten dan dibina secara berkelanjutan. Untuk itu, telah dikembangkan dan diterapkan sistem jabatan fungsional di pemerintah pusat dan daerah. Pengembangan sistem jabatan fungsional dan standar kompetensi itu didukung dengan pendidikan dan pelatihan. Terdapat dua jabatan fungsional bidang lingkungan hidup yaitu: Pengendali Dampak Lingkungan (PEDAL) dan Pengawas Lingkungan Hidup. Saat ini jabatan fungsional PEDAL telah diterapkan di daerah dan sektor, sejumlah 140 orang.

78

Gambar 3.10. Sebaran Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan


DAERAH PROPINSI
4% 10% 7% 4% Propinsi Sumatera Utara Propinsi Jambi Propinsi Sumatera Selatan Propinsi Bengkulu 52% 11% 11% Propinsi Kalimantan Barat Propinsi DKI Jakarta Propinsi D.I Jogjakarta

SEKTOR
8% 1% 8% 18% Kementerian Lingkungan Hidup Kementerian Perhubungan Kementerian Perindustrian 23% 42% Kementerian Pekerjaan Umum BATAN BPPT

DAERAH KABUPATEN
7% 7% Kota Surabaya 29% 57% Kabupaten Gowa Kabupaten Tulungagung Kabupaten Kusus

CATATAN a. Kementerian Lingkungan Hidup b. Provinsi c. Kabupaten/Kota d. Kementerian/ lembaga

: 13 orang : 56 orang : 14 orang : 61 orang

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Beberapa kebijakan dalam mendukung penerapan jabatan fungsional bidang lingkungan hidup sebagai berikut: (1) Peraturan MENPAN dan RB Nomor 39 Tahun 2011 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Lingkungan Hidup dan Angka Kreditnya, (2) Peraturan Bersama Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 9 Tahun 2012 dan Nomor 6

Tahun 2012 tentang Ketentuan Pelaksanaan PERMENPAN dan RB Nomor 39 Tahun 2011 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Lingkungan Hidup dan Angka Kreditnya, (3) Naskah Akademis Tunjangan Jabatan Fungsional Pengawas LH, (4) Naskah Akademis Revisi KEPMENPAN Nomor 47/Kep/M.PAN/8/2002 tentang Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan.

79

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Anggaran Lingkungan Hidup


Berdasarkan Pasal 45, UU Nomor 32 Tahun 2009, pemerintah dan dewan perwakilan rakyat serta pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah wajib mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membiayai perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan program pembangunan berwawasan lingkungan hidup. Sayangnya, di tengah tekanan terhadap lingkungan hidup yang kian berat, anggaran yang disediakan belum memadai untuk mengimbangi laju tekanan itu.Diperlukan keberpihakan untuk upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, khususnya alokasi anggaran.

Gambar 3.11. Anggaran Fungsi Lingkungan Hidup vs Total Belanja Pemerintah Republik Indonesia
1,70%
Kenaikan 1067,7% pada Sub Fungsi LH lainnya

0,98% 0,94% 0,77% 0,61% 0,37% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 0,97% 1,00%

1,08%

2013

Sumber : Olahan Data Kementerian Keuangan

Dari data tabel di atas, rupanya anggaran untuk lingkungan hidup dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara selama 2005 - 2013 memang terus meningkat,sekitar 1 persen. Hanya saja, yang perlu mendapat perhatian adalah alokasi anggaran untuk lingkungandi tingkat daerah. DKI Jakarta memiliki proporsi alokasi anggaran lingkungan hidup yang relatif besar, yaitu 4,66 persen dari total APBD; sebaliknya, Sumatera Selatan memiliki rasio terkecil,

yaitu 0,23 persen. Proporsi anggaran di daerah ini belum ada standar acuannya: berapa dana idealnya, agar dapat dibandingkan secara relatif antardaerah. Ada beberapa daerah yang memiliki proporsi di bawah rata-rata nasional, yang mungkin karena kesulitan menyisihkan anggaran lingkungan yang lebih besar. Sebaliknya, ada beberapa daerah yang berada di atas rata-rata, ternyata mampu mengalokasikannya.

80

Tabel 3.5. Anggaran Fungsi Lingkungan Hidup vs Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Total Anggaran Provinsi 2011
No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Provinsi
Prop. DKI Jakarta Prop. Sumatera Utara Prop. Gorontalo Prop. Papua Barat Prop. Sulawesi Selatan Prop. Jawa Barat Prop. Bangka Belitung Prop. Sulawesi Barat Prop. Bali Prop. Sulawesi Tengah Prop. Sumatera Barat Prop. Maluku Utara Prop. Kalimantan Selatan Prop. Sulawesi Utara Prop. Nusa Tenggara Timur Prop. Kepulauan Riau Prop. Nusa Tenggara Barat Prop. DI Jogjakarta Prop. Jambi Prop. Bengkulu Prop. Kalimantan Tengah Prop. Kalimantan Barat Prop. Jawa Timur Prop. Papua Prop. Jawa Tengah Prop. Kalimantan Timur Prop. Lampung Prop. Maluku Prop. Banten Prop. Sulawesi Tenggara Prop. Aceh Prop. Sumatera Selatan Prop. Riau

Anggaran BLH
27.593.622.839

Dekon

DAK

APBD Total

Fungsi LH 2011

27.875.807.120.065 4.677.861.461.564 671.051.486.930 3.517.181.935.036 2.972.277.538.385 8.248.283.664 9.887.011.087.735 1.067.056.492.088 707.810.376.681 2.483.896.836.108 7.099.638.078 500.000.000 1.232.556.934.249 4.863.326.900 500.000.000 2.123.681.661.518 730.840.000.000 2.579.950.555.800 1.297.908.496.620 3.365.753.000 500.000.000 21.632.712.835 1.308.163.425.000 1.975.600.000.000 1.657.093.170.268 1.590.785.711.143 1.498.751.513.850 2.018.500.000 500.000.000 1.155.766.504.059 1.718.016.480.000 7.594.907.700 500.000.000 1.853.631.912.666 10.626.361.387.552 5.184.147.179.000 6.062.149.998.000 7.257.634.950.000 2.181.168.622.241 1.124.498.644.439 3.485.295.190.673 1.250.000.000 500.000.000 1.405.829.978.726 7.974.700.000.000 3.565.887.000.000 6.390.265.580 4.468.257.731.323 127.918.631.381.718

1.347.098.125.073 4,83% 155.766.032.830 3,33% 10.398.835.220 1,55% 37.399.363.000 1,06% 31.599.770.498 1,06% 102.648.919.176 1,04% 10.943.254.150 1,03% 7.108.514.170 1,00% 22.070.386.275 0,89% 9.199.945.322 0,75% 15.160.324.877 0,71% 5.213.785.000 0,71% 18.353.032.000 0,71% 8.789.316.000 0,68% 8.568.790.100 0,66% 12.705.987.000 0,64% 9.496.636.100 0,57% 9.027.249.289 0,57% 6.870.698.531 0,46% 4.866.848.973 0,42% 7.220.539.074 0,42% 7.382.750.300 0,40% 40.434.215.874 0,38% na 0,37% 22.549.871.000 *0,37% 26.351.521.500 0,36% 7.265.206.480 0,33% 3.518.332.663 0,31% 10.092.947.097 0,29% 3.731.954.500 0,27% 19.811.241.850 0,25% 7.105.883.000 0,20% 7.237.260.000 0,16% 1.995.987.536.922 0,81%

*0,37% diambil perbandingan 2010, karena kemungkinan tahun 2011 fungsi LH melekat di Fungsi lainnya

Sumber: Kementerian Keuangan

Dari tabel di atas terlihat anggaran lingkungan hidup di 21 provinsi (63,6 persen) yang secara nominal meningkat. Sebaliknya, 9 provinsi (27,3 persen) turun dan 3 provinsi lainnya relatif tetap. Harapannya, semua provinsi selalu meningkatkan anggaran lingkungan hidup, baik secara nominal maupun proporsinya terhadap APBD. Mekanisme lain untuk mendorong pemerintah daerah mematuhi kebijakan nasional adalah dengan dana dekonsentrasi lingkungan bagi 33 provinsi dan dana alokasi khusus sektor lingkungan untuk 468 kabupaten/kota. Dana dekonsentrasi menciptakan insentif bagi kabupaten dan provinsi untuk

memasukkan kebijakan nasional ke dalam kebijakan daerah. Ini agar sumberdaya yang memperkuat kapasitas pengelolaan di daerah mewakili kebijakan pemerintah pusat. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2007 telah menetapkan panduan penggunaan dana dekonsentrasi, termasuk meningkatkan kapasitas perencanaan daerah mengelola lingkungan, koordinasi penerapan dan pemantauan. Pada 2012 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP meningkatkan alokasi dana dekonsentrasi 8 kali lipat (753 persen), dari Rp 16 miliar pada 2011, menjadi 120,5 miliar.

81

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Tabel 3.6. Alokasi Dana Dekonsentrasi Lingkungan 2012


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Banten DI Yogyakarta Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Lampung Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Riau Kepulauan Riau Sumatera Barat Sumatera Utara DI Aceh Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Bali NTT NTB SATUAN KERJA PAGU 4.374.375.000 3.982.156.000 4.394.175.000 3.535.150.000 3.198.855.000 3.774.980.000 3.801.388.000 3.827.455.000 3.573.520.000 3.575.725.000 4.608.549.000 1.451.100.000 3.927.544.000 3.630.090.000 4.131.180.000 3.936.770.000 4.959.718.000 4.555.000.000 3.133.926.000 4.209.540.000 4.092.832.000 4.779.865.000 3.771.158.000 4.200.562.000 2.061.590.000 2.671.255.000 2.049.830.000 3.966.865.000 4.917.880.000 3.630.000.000 3.957.131.000 3.845.129.000

Total

120.525.293.000
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Selain itu, sejak 2006 telah dialokasikan dana alokasi khusus (DAK) lingkungan hidup. Dana ini buat memantau dan melaporkan kualitas air sungai, mengembangkan pengelolaan limbah berbahaya, mengembangkan sistem AMDAL, memperbaiki

penegakan hukum untuk menangani sengketa dan keluhan. Dana ini juga membantu pemerintah setempat mempercepat penanganan masalah lingkungan dan memperkuat kapasitas kelembagaan.

82

Gambar3.12. Pembagian Dana Alokasi Khusus Lingkungan 2006 - 2012

Inventarisasi DAK Bidang Lingkungan Hidup 2006-2012


500 400 300 200 100 0
b a b r ud og b as IP AL La La ar Ai

450 371 272 203 55 111 115 179 36 127 154 195 25 70 9 160 131 48 10

Tabel 3.7. Alokasi Dana Alokasi Khusus Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2006 2013
TAHUN 2006 2007 2008 2009 2011 2012 JUMLAH KAB/KOTA PENERIMA 333 434 434 413 418 442 JUMLAH ALOKASI (RP) 112.875.000.000 351.610.000.000 351.610.000.000 351.610.000.000 400.000.000.000 479.730.000.000 KENAIKAN (%) 211,50 0 0 14 30

2013

432

Dalam evaluasi setiap tahun masih banyak ditemukan persoalan dalam pengelolaan DAK lingkungan hidup, antara lain : Bangunan dan peralatan laboratorium tidak dapat dipakai, karena rusak dan tidak terawat; Bangunan dan peralatan laboratorium tidak dimanfaatkan (masih tersimpan di gudang), karena kurangnya sumberdaya manusia dan dana operasional; Kendaraan laboratorium dan komputer untuk operasional perkantoran; Tidak menyampaikan kewajiban pelaporan. Untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran, diterbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 660/1968/SJ tentang Publikasi Laporan Pendapatan dan Belanja Daerah dari Hasil Pengelolaan Sumber

g Sa Pe mp m ah Ke nd ant au ar an aa n ro da Al at Sa 3 Gd mpa Sa h Pa m pa pa n h In fo rm as i Tu ra p Pe Ta n. m Po S an ho pee d n Bo di su at m Su b er m m ur a ob Re ir il sa sa pa m n pa Bi h op (d um or i p tru ck ) aa n

il

Gd

La

ob

ua

Al

at

Bi Ke

Pe m

an

Al

at

nd

ar

To n

ta

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

530.548.000.000

9,58

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Surat Edaran ini menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2012 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Salah satu tanggung jawab Kementerian Dalam Negeri adalah transparansi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam di daerah. Dalam rangka itu, pemerintah daerah secara rutin harus menerbitkan laporan pendapatan dan belanja daerah dari pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, khususnya hasil industri ekstraksi (minyak, gas, dan tambang) di situs resminya. Selain dari dalam negeri, Indonesia juga mendapatkan dana internasional. Salah satunya, Global Environment Facility (GEF), suatu mekanisme pendanaan (hibah) untuk meningkatkan perlindungan lingkungan hidup global dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

83

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pada periode 2010 - 2012, Indonesia ditunjuk menjadi GEF Council Member yang mewakili negara-negara Pasifik ( Pacific Constituent ).Indonesia berperan menampung aspirasi dari negara-negara Pasifik dan menyampaikannya kepada Dewan GEF.. Selama kurun 2010 - 2014 tersedia dana alokasi System for Transparent Allocation of Resources (STAR) sebesar US$ 87.910.000. Sampai Desember 2012, telah diperoleh endorsement letter dari GEF OFP Indonesia sebanyak 82 persen, yang telah mendapatkan

persetujuan GEF CEO sebesar 42,8 persen. Selain GEF, ada kerjasama keuangan bersama pemerintah Jerman melalui program Debt for Nature Swap (DNS). Program ini dalam tahap penghapusan utang senilai Rp. 125 miliar, melalui pemberian pinjaman lunak bagi usaha mikro, kecil dan menengah. Pada saat ini, KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP sedang menjajaki kerjasama keuangan baru sebesar Rp 200 miliar untuk Emission Reduction Investment selama 2013 2015

PENAATAN HUKUM LINGKUNGAN


Upaya preventif dalam pengendalian dampak lingkungan hidup perlu dilakukan dengan mendayagunakan instrumen pengawasan dan perizinan secara maksimal. Untuk kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi, perlu penegakan hukum secara efektif, konsekuen, dan konsisten bagi penanggung jawab usaha yang menimbulkannya. Lantaran itulah, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menerapkan tiga instrumen penegakan hukum: hukum administratif, hukum perdata, dan hukum pidana. Sejak Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup itu disahkan, peraturan pelaksanaan adalah PP Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Selain itu ada juga 97 peraturan Menteri Lingkungan Hidup dengan rincian: 35 aturan diundangkan pada 2009; 19 aturan diundangkan pada 2010; 17 aturan diundangkan pada 2011; dan 26 aturan diundangkan tahun 2012.

Ihwal Izin Lingkungan


Pada 23 Februari 2012 ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya Pasal 33 dan Pasal 41. Aturan izin lingkungan mengatur dua instrumen perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu instrumen kajian lingkungan hidup (amdal dan UKL-UPL) dan instrumen izin lingkungan. Aturan ini sangat kuat untuk menjaga lingkungan hidup, yang meletakkan kelayakan lingkungan sebagai dasar izin sehingga enforceable dengan sanksi jelas dan tegas. Peraturan pemerintah ini mengamanatkan proses penilaian amdal yang lebih cepat, yaitu 125 hari semula 180 hari. Yang tak kalah penting, peraturan ini memberi ruang yang semakin besar bagi keterlibatan masyarakat, khususnya yang terkena dampak, dalam penentuan kelayakan rencana usaha atau kegiatan. Permohonan dan penerbitan izin lingkungan harus diumumkan tiga kali dalam tahap perencanaan (sebelumnya, PP Nomor 27 Tahun 1999 hanya mewajibkan sekali pengumuman pada tahap sebelum menyusun kerangka acuan Andal). Dengan begitu, masyarakat akan berpartisipasi aktif dan memberikan saran atas setiap rencana usaha dan kegiatan di daerahnya.

84

Peraturan-peraturan menteri itu terkait dengan pengendalian pencemaran, seperti baku mutu limbah dari berbagai kegiatanmisalnya, pembangkit listrik tenaga termal, pengolahan obat tradisioinal, peternakan, dan sebagainya. Selain itu, juga diatur baku mutu emisi kendaraan bermotor tipe baru dan

baku mutu emisi dari sumber tak bergerak bagi usaha migas. Beberapa aturan menteri lingkungan hidup juga mengatur penegakan hukum lingkungan, seperti pedoman penjatuhan sanksi administrasi, tata laksana penyidik pegawai negeri sipil lingkungan hidup, serta ganti kerugian akibat kerusakan lingkungan.

Landasan Kuat bagi Pengelolaan Sampah


Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Peraturan itu sekaligus memperkuat landasan hukum bagi pengelolaan sampah di Indonesiakhususnya di daerah. Ada beberapa muatan pokok peraturan pemerintah ini. Pertama ,memberi landasan lebih kuat bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dari berbagai aspek: legal formal, manajemen, teknis operasional, pembiayaan, kelembagaan, dan sumber daya manusia. Kedua , memberi kejelasan pembagian tugas dan peran parapihak dalam pengelolaan sampah, mulai dari kementerian/lembaga di pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dunia usaha, pengelola kawasan sampai masyarakat. Ketiga , memberi landasan operasional bagi implementasi 3R ( reduce, reuse, recycle ) dalam pengelolaan sampah, menggantikan paradigma lama kumpulangkut-buang. Keempat , mulai 2013 seluruh pemerintah kabupaten/kota harus mengubah sistem open dumping tempat pemrosesan akhir ( TPA) menjadi berwawasan lingkungan. Kelima , memberi landasan hukum yang kuat bagi pelibatan dunia usahaprodusen, importir, distributor, dan retailer, bersama pemerintah harus segera merealisasikan penerapan extended producer responsibility (EPR). Selain itu, bagi pengelola kawasan pemukiman, kawasan industri, kawasan komersial, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya, harus segera memilah, mengumpulkan, dan mengolah sampah.

Peraturan perundang-undangan terkait sumber daya alam dan lingkungan hidup pada 2011 adalah: PP Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai; PP Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025; Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2011 tentang Penggunaan Kawasan Hutan Lindung untuk Penambangan Bawah Tanah; dan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya. Untuk periode 2012: PP Nomor 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir; PP Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Bandar Udara; PP Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas; PP Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS; Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2012 tentang Rehabilitasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil; Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun

2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove; dan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2012 tentang Rencana Umum Penanaman Modal. Selain itu, disahkan pula dua rancangan undangundang, yaitu: a. Pengesahan Protokol Nagoya tentang Akses pada Sumberdaya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati ( Nagoya Protocol on Access to Genetic Resources and Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to the Convention on Biological Diversity ); b. Pengesahan Konvensi Rotterdam tentang Prosedur Persetujuan atas Dasar Informasi Awal untuk Bahan Kimia dan Pestisida Berbahaya Tertentu dalam Perdagangan Internasional ( Rotterdam Convention on the Prior Informed Consent Procedure for Certain

85

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Hazardous Chemicals and Pesticides in International Trad e). Dalam penegakan hukum lingkungan, tetap memberlakukan azas subsidiaritas (Ultimum Remedium) yaitu mengedepankan instrumen pengenaan Sanksi Administrasi: Teguran Tertulis, Paksaan Pemerintah, Pembekuan dan Pencabutan izin. Azas subsidiaritas dilakukan sebelum memakai penegakan hukum perdata (penyelesaian sengketa di luar pengadilan ataupun di

pengadilan) dan pidana. Sebagai upaya terakhir, bila hukum administrasi tidak berhasil atau penegakan hukum pidana langsung tanpa sanksi administrasi terlebih dahulu (asas Premum Remedium) terhadap tindak pidana formil tertentu, seperti diatur UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009. Dalam rangka penegakan hukum lingkungan, dilakukan upaya sistemik melalui: Pengembangan Sistem dan Penanganan Kasus Lingkungan.

Pengembangan Sistem
a. Sistem Online Pengaduan dan Penaatan Hukum Administrasi Lingkungan yang terkoneksi dengan 69 institusi lingkungan hidup di provinsi, kabupaten/ kota, dan telah disiapkan perangkat pendukungnya bagi 43 institusi lingkungan hidup daerah. Hal ini diperkuat dengan Surat Edaran Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 660/4545/SJ dan MENLH-13/11/LH/2010 tentang Pengelolaan Pengaduan Lingkungan Hidup di Daerah. Surat edaran ini sebagai upaya penegakan hukum di daerah. b. Untuk mendukung penerapan sanksi administratif, ada peningkatan kemampuan teknis 386 pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (PPLHD) dan pemimpin pejabat tata usaha negara di institusi provinsi dan kabupaten/kota. c. Ditetapkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerapan Sanksi Administrasi di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. d. Dalam rangka program sertifikasi hakim lingkungan bagi hakim agung dan hakim, telah terbit Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 134/KMA/SK/ IX/2011 tentang Sertifikasi Hakim Lingkungan dan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 178/ KMA/SK/XI/2011 tentang Pembentukan Tim Seleksi dalam Sistem Sertifikasi Hakim Lingkungan. Sebagai implementasi KMA itu, pada akhir 2012 dilaksanakan Training of Trainers khususnya bagi hakim yang akan menjadi pendidik dalam Diklat Sertifikasi Hakim Lingkungan, yang melalui keputusan Ketua Mahkamah Agung akan ditetapkan sebagai hakim bersertifikat lingkungan. Tindak lanjut program sertifikasi hakim lingkungan itu terbit Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 26/KMA/SK/II/2013 tentang Sistem Seleksi dan Pengangkatan Hakim Lingkungan; Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 36/KMA/SK/II/2013 tentang Pemberlakuan Pedoman Penanganan Perkara Lingkungan Hidup; Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup. Untuk menyediakan mediator yang bersertifikat, selama 2012 dididik 73 mediator dari instansi lingkungan hidup daerah seluruh Indonesia, bekerjasama dengan IICT ( Indonesian Institute for Conflict Transformation ). e. Untuk penaatan hukum lingkungan melalui penyelesaian sengketa di luar pengadilan, selama 2012 dilakukan penguatan kapasitas mediator lingkungan (negosiator, mediator, dan arbiter) sebanyak 297 orang di lima wilayah Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Sumatera, Jawa, Kalimantan, BaliNusa Tenggara dan Sulawesi-Maluku-Papua. Di samping itu, selama 2012 dilakukan peningkatan kapasitas 314 hakim pengadilan tingkat pertama dan banding serta litigator. f. Untuk memperkuat penegakan hukum lingkungan terpadu antara pejabat penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP dengan penyidik polisi dan jaksa, dilakukan peningkatan kapasitas bagi 374 PPNS-LH institusi provinsi dan kabupaten/kota, 93 penyidik polisi dan 66 jaksa penuntut umum. Selain itu, terdapat 1.825 PPLH dan 574 PPNS-LH yang tersebar di KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP dan instansi lingkungan hidup daerah. Upaya pada 2012 itu sebagai implementasi

86

Surat Keputusan Bersama: Menteri Lingkungan Hidup, Kepala Kepolisian Negara RI, dan Jaksa Agung, Nomor 11/MENLH/07/2011, Nomor B/20/. VII/2011, dan Nomor Kep.156/A/JA/07/2011 dan keputusan Menteri Nomor 209 Tahun 2011 tentang Tim Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Terpadu tanggal 13 Oktober 2011. Hal itu masih dilengkapi aturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2012 tentang Tata Laksana Jabatan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan dan aturan Menteri Nomor 11 tahun 2012 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, juga dilakukan koordinasi dalam penyamaan persepasi terhadap norma dan kaidah hukum UU Nomor 32 Tahun 2009 antara pejabat pengawas lingkungan hidup, pejabat pengawas lingkungan hidup daerah, pejabat penyidik negeri

sipil LH, kuasa hukum KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP, penyidik POLRI, jaksa di enam ekoregion Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi-MalukuPapua. g. Dalam rangka penanganan sengketa lingkungan lintas batas, telah diterbitkan Panduan Umum tentang Penanganan Sengketa Lingkungan Lintas Batas. h. Untuk penerapan di daerah terbit Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Dalam Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah. Selain itu, ada Surat Rekomendasi Dirjen Bina Pembangunan Daerah kepada seluruh gubernur dan bupati/walikota Nomor 660/2081/IV/Bangda, yang memuat hasil rapat regional pengelolaan lingkungan hidup pada 2012 dan harus dilaksanakan daerah.

Penanganan Kasus Lingkungan


a. Penanganan Pengaduan Masyarakat Mekanisme penanganan pengaduan lingkungan hidup dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Pengaduan dan Penanganan Pengaduan Akibat Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup. Jumlah pengaduan yang masuk ke Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 sebanyak 179, terdiri dari 106 surat, 5 menyampaikan langsung, 5 layanan pesan singkat (SMS), 12 via website, 1 telepon, 1 email, dan 49 penyerahan PROPER bagi perusahaan peringkat Hitam.

Gambar 3.13. Mekanisme Tata Cara Penanganan Pengaduan


Pengaduan Masyarakat

KLH
Telaah & Klasifikasi Bukan Pengaduan LH Sektor Pengaduan LH Kewenangan KLH Pengaduan Diverifikasi oleh KLH Tidak Terbukti Terbukti Rekomendasi Sanksi Administrasi Penyelesaian Sengketa LH Penegakan Hukum Pidana Kewenangan Instansi LH Daerah Pengaduan Diverfikasi Oleh Daerah

Penyampaian Perkembangan & Tindak Lanjut Hasil Verifikasi Pengaduan

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

87

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

b. Penerapan Sanksi Administrasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup telah menerapkan Sanksi Administrasi terhadap pelanggar izin lingkungan dan peraturan perundang-undangan lingkungan hidup. Tak kurang ada 47 Sanksi Administrasi, terdiri 45 Paksaan Pemerintah dan 2 Teguran Tertulis. Pemerintah provinsi dan

kabupaten/kota juga telah mengeluarkan 450 Sanksi Administratif kepada pelanggar, berupa Teguran Tertulis, Paksaan Pemerintah, Pembekuan Izin, sampai Pencabutan Izin. Adapun jumlah Sanksi Administrasi selama 2012 disajikan dalam gambar berikut.

Gambar 3.14.Jumlah Sanksi Administrasi yang Dikeluarkan Tahun 2012

Paksaan Pemerintah KLH 50 40 30 20 10 0


Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

45

Teguran Tertulis KLH

c. Pengawasan Pelaksanaan Sanksi Administrasi Lingkungan Sebagai lanjutan penerapan sanksi dilakukan pengawasan pelaksanaan Sanksi Administrasi bagi 47 perusahaan yang terkena sanksi. Tahapan pengawasan adalah penelaahan, pengawasan lapangan, penyusunan berita acara pengawasan, analisa ketaatan, laporan status ketaatan, dan pemberitahuan pelaksanaan ketaatan Sanksi

Administrasi. Berdasarkan hasil pengawasan dikeluarkan surat pemberitahuan ketaatan hukum dari Deputi MENLH Bidang Penaatan Hukum Lingkungan kepada 11 perusahaan telah menaati kewajiban Sanksi Administrasi (selesai) dan 36 perusahaan masih dalam pengawasan. Status ketaatan 47 sanksi administrasi adalah seperti diagram berikut :

Gambar 3.15. Hasil Pengawasan Penaatan Pelaksanaan Sanksi Administrasi


47
SA yang diawasi Sudah Taat Belum Taat

36

11

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

88

d. Penanganan Sengketa Lingkungan Hidup Dalam penegakan hukum perdata melalui mekanisme penyelesaian sengketa, selama 2012 dilaksanakan pengumpulan bahan keterangan (PULBAKET) terhadap 57 sengketa lingkungan hidup. Perkara perdata atau sengketa yang diselesaikan sebanyak 57 sengketa, terdiri dari: proses verifikasi 16 sengketa; selesai verifikasi 41 sengketa, yang terbukti 35 sengketa dan tidak terbukti 6 sengketa. Penyelesaian sengketa melalui proses di luar pengadilan pada 2012 dilakukan terhadap 31 sengketa. Dari jumlah sengketa itu, 16 sengketa dalam proses kesepakatan dan 15 sengketa mencapai kesepakatan, yang dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan, antara lain PT PZ Cusson Indonesia dan PT Pertamina (PERSERO) RU VI Balongan Indramayu (Tahap II). Sedangkan penyelesaian yang terpaksa melalui pengadilan, karena tidak diperoleh kesepakatan adalah 4 sengketa, terdiri: penyusunan gugatan perdata 2 sengketa, pendaftaran gugatan kepada pengadilan negeri 2 sengketa, dan 9 perkara telah berkekuatan

hukum tetap (In Kracht) 4 sengketa, dan yang belum, 5 sengketa. e. Penegakan Hukum Pidana Jumlah kasus dugaan tindak pidana lingkungan yang ditangani selama 2012 sebanyak 71 kasus. Kasuskasus itu terdiri 19 kasus pada tahap penyelidikan (PULBAKET) dugaan terjadi pencemaran ataupun perusakan lingkungan; 32 kasus tahap penyidikan; sedangkan 17 kasus telah diserahkan ke kejaksaan, tetapi masih tahap pengkajian oleh jaksa peneliti (P.19); 2 kasus tahap persidangan; dan 1 kasus telah selesai. Semua kasus itu terkait dengan memasukkan skrab besi yang diduga tercampur limbah B3 dalam 1.202 kontainer melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak dan Belawan; kasus pembakaran hutan dan lahan di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah; serta pembuangan limbah B3 di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Analisa Mengenai Dampak Lingkungan


Kelayakan lingkungan dan kelayakan teknis belum menjadi persyaratan mutlak industri pertambangan. Misalnya saja, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, telah mengeluarkan 39 Surat Persetujuan AMDAL sepanjang 2009 2011, yang sebagian besar berupa pertambangan. Sayangnya, sebanyak 14 Surat Persetujuan harus dicabut karena dikeluarkan tanpa proses penilaian AMDAL. Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Kota Baru, juga di Kalimantan Selatan. Informasi ini merupakan hasil pembinaan dan pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap Komisi Penilai AMDAL daerah. Peran Komisi Penilai AMDAL sangat penting dan harus berkompeten, yang meliputi 3 aspek: 1. Persyaratan Lisensi Komisi Penilai Amdal 2. Mutu Dokumen Amdal 3. Administrasi Proses Amdal Hasil pembinaan menunjukkan, 33 provinsi dan 165 kabupaten/kota telah mendapat Lisensi Komisi Penilai Amdal, namun masih belum memenuhi harapan.

Gambar 3.16. Hasil Evaluasi Kinerja Komisi Penilai AMDAL Provinsi dan Kabupaten/Kota
Komisi Penilai AMDAL Provinsi Memenuhi Tidak Memenuhi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota Memenuhi Tidak Memenuhi

Administrasi Proses Amdal Mutu Dokumen Amdal 2 Pesyaratan Lisensi Komisi Penilai AMDAL

20 31 30

13

Administrasi Proses Amdal Mutu Dokumen Amdal 1 3 Pesyaratan Lisensi Komisi Penilai AMDAL

20

95 114 41 74

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012.

89

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Penaatan Dalam Konteks Pembinaan


Rekayasa sosial dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti penerapan baku mutu bagi 1.200 perusahaan yang melaksanakan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper). Untuk lebih mendorong keterlibatan dunia usaha, 160 perusahaan telah berpartisipasi dalam CSR lingkungan. Upaya lainnya, penerapan ecolabel untuk menghasilkan produkproduk ramah lingkungan. Karena akses kepada teknologi dan bahan ramah lingkungan sangat dibutuhkan, sekitar 100 rekomendasi dikeluarkan untuk mendorong pemakaian teknologi efisien agar bisa menekan pencemaran lingkungan. Dalam upaya memberdayakan pemerintah daerah dan masyarakat, pendidikan lingkungan menjadi langkah strategis dalam memberi kesempatan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan. Pendidikan lingkungan bisa menumbuhkan sikap peduli, komitmen melindungi dan memperbaiki lingkungan hidup, menciptakan pola perilaku ramah lingkungan, mengembangkan etika lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup. Pendidikan dilakukan melalui jalur formal, non formal dan informal.

Pendidikan Formal
Salah satu upaya mengembangkan sekolah yang berbudaya lingkungan hidup adalah Program Adiwiyata. Indikator keberhasilannya mencakup: (a) pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan; (b) pengembangan kurikulum berbasis lingkungan hidup; (c) pengembangan kegiatan lingkungan yang partisipatif; (d) pengembangan dan pengelolaan sarana pendukung sekolah yang ramah lingkungan. Penghargaan Adiwiyata diberikan kepada sekolah yang berhasil memenuhi empat indikator tersebut. Pada 2012 penghargaan Adiwiyata Mandiri diberikan kepada 76 sekolah dan Adiwiyata Nasional untuk 200 sekolah.Sebagai bagian program Adiwiyata, juga dilakukan pembinaan 2.160 sekolah Adiwiyata. Sebanyak 170 sekolah Adiwiyata dari 19 provinsi merupakan peserta kegiatan Kemah Hijau. Pendidikan lingkungan hidup juga dapat diperoleh melalui muatan lokal dalam kurikulum sekolah. Seperti dalam COREMAPProgram Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karangdi 15 kabupaten di delapan provinsi, para murid SD sampai sekolah menengah mendapat muatan lokal Pesisir dan Lautku. Melalui muatan lokal ini, generasi muda pesisir mendapatkan pengetahuan mengenai ekosistem pesisir dan laut, yang harus dilindungi demi kehidupan masyarakat pesisir dan kelestarian alam. Kementerian Lingkungan Hidup juga merangkul perguruan tinggi melalui program Green Campus . Jumlah universitas yang berwawasan lingkungan ( Green Campus ) pada 2012 ada lima perguruan tinggi.

Pendidikan Non Formal


Pendidikan lingkungan hidup nonformal digelar di luar sekolah, secara terstruktur dan berjenjang. Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT ) KLH mengemban misi melaksanakan pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan sumberdaya manusia dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Misi itu mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan dan/atau Pelatihan di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Untuk menjamin mutu pendidikan dan latihan bidang lingkungan hidup, KLH melakukan akreditasi lembaga pelaksana diklat, terutama Penyusunan AMDAL. Akreditasi itu mengacu peraturan menteri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Akreditasi Lembaga Pelaksana Pendidikan dan/atau Pelatihan Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. Akreditasi dalam diklat penyusunan AMDAL telah diberikan kepada 12 perguruan tinggi.

90

Gambar 3.17. Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Lingkungan Hidup Tahun 2010 - 2012

13%

34%

Penataan Hukum Lingkungan Teknis Pemantauan

48%

5%

Teknis Pengendalian Pencemaran dan... Teknis Program Pendukung

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Pendidikan Informal
a. Green Banking Green Banking adalah aturan yang mewajibkan bank memperhatikan lingkungan hidup dalam mengembangkan bisnisnya. Pedoman Bank Indonesia untuk menerbitkan kebijakan prolingkungan itu merujuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Nantinya, BI akan memberi penilaian bank yang ramah lingkungan dengan lima tingkat: emas, hijau, biru, merah, dan hitam. Emas peringkat ketaatan lingkungan tertinggi dan hitam peringkat terendah. Dan pada 2014, Green Banking , atau pembiayaan yang akan disalurkan ke sektor lingkungan, akan diserahkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas perbankan. Bank Indonesia mengisyaratkan perbankan bakal memiliki indikator hijau yang lebih jelas dalam menilai korporasi yang mengajukan kredit. Jika dilihat hierarkinya, korporasi pelaku pencemaran lingkungan dimulai dari pemberi dana. Nah, bank dan para investor adalah pihak yang membiayai perusahaan. Lantaran itulah, perbankan mestinya menjadi institusi hijau hingga tahap produk yang dikeluarkannya. Bank Indonesia menginsyafi posisi ini. Ke depan, perbankan akan diminta menjalankan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dengan lebih baik. Peraturan itu menyebutkan perbankan mesti memperhatikan hasil AMDAL, agar proyek yang dibiayai tetap menjaga kelestarian lingkungan. Untuk mengukur ketaatan bank dalam memperhatikan lingkungan ketika menyalurkan kredit, BI akan mengaitkannya dengan aset tertimbang menurut risiko (ATMR). Bank yang menyalurkan kredit pada debitur dengan PROPER rendah, harus menanggung ATMR tinggi; begitu pula sebaliknya. Penerapan Green Banking memberi kontribusi aktif perbankan untuk meningkatkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. BI selama ini telah mensyaratkan adanya dokumen AMDAL dalam pemberian kredit. b. Training Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup Telah dikembangkan dan diterapkan sistem standar kompetensi dan sertifikasi kompetensi bagi penanggung jawab usaha. Sistem standar kompetensi itu juga termasuk bagi personil dan lembaga penyedia jasa profesional bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (konsultan penyusun Amdal dan auditor lingkungan hidup). Pengembangan standar kompetensi dan sertifikasi itu mencakup penyusunan kriteria kompetensi, peraturan menteri untuk pemberlakuan kriteria/ standar kompetensi, pengembangan lembaga pelatihan kompetensi, pengembangan lembaga sertifikasi kompetensi, registrasi kompetensi oleh Kementerian Lingkungan Hidup, serta pembinaan dan pengawasan. Dalam penerapan standar kompetensi itu terdapat tiga fase: : a. perolehan kompetensi sesuai standar yang ditetapkan; antara lain: melalui pelatihan berbasis

91

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

kompetensi dan pengumpulan pengalaman kerja sesuai kompetensi; b. verifikasi terhadap pemenuhan standar kompetensi, pemberian sertifikat/registrasi kompetensi, serta pemuatan dalam informasi publik; dan c. pemeliharaan dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan bagi pemegang sertifikat/registrasi kompetensi, yag mengarah pada profesi dengan Kode Etik Profesi. Ikhtiar peningkatan kapasitas sumberdaya manusia terutama penanggung jawab usaha, personil ataupun lembaga penyedia jasa, Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan dan menerapkan standar kompetensi dan sertifikasi/registrasi kompetensi secara berkelanjutan. Sampai 2012 bidang kompetensi yang telah dilaksanakan meliputi : a. Penyusun dokumen Amdal, bagi 700 orang dan 94 lembaga jasa Amdal;

b. Auditor Lingkungan Hidup, kepada 17 orang; c. Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran Air, kepada 1000 orang; d. Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran Udara, kepada 100 orang; e. Teknisi Servis Refrigerasi (perlindungan ozon), kepada 2.500 orang; f. Green Building , kepada 75 orang. Selain itu, pada 2012 juga disusun standar kompetensi untuk tiga bidang baru, yang penerapannya dimulai pada 2013, meliputi: a. Inventarisasi sumber emisi gas rumah kaca, pengendalian emisi gas rumah kaca dan verifikasi emisi gas rumah kaca; b. Analis lingkungan hidup di bank umum (bersama Bank Indonesia); c. Pengambil sampel untuk uji parameter lingkungan.

PROGRAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Internasionalisasi Lingkungan Hidup
Partisipasi aktif di forum internasional merupakan salah satu strategi Indonesia menjalankan diplomasi di bidang lingkungan hidup yang memberi peluang bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam persoalan global sebagaimana ditunjukkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Langkah ini untuk memperkuat diplomasi ekonomi, perdagangan, dan politik, yang mendukung kepentingan Indonesia di dunia internasional.

Peran Indonesia di Forum Internasional


Pembangunan Berkelanjutan Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20 di Rio de Janeiro, Brazil, 20 22 Juni 2012, merupakan refleksi 20 tahun penerapan KTT Bumi 1922 dan 10 tahun kesepakatan World Summit on Sustainable Development (WSSD). Topik bahasan KTT Rio+20 adalah ekonomi hijau dalam pembangunan berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan, kelembagaan bagi pembangunan berkelanjutan ( Institutional Framework for Sustainable Development - IFSD), dan kerangka aksi pembangunan berkelanjutan. KTT Rio+20 dihadiri 29.373 peserta dari 191 negara, yang terdiri dari 105 kepala negara dan pemerintahan, 487 menteri, wakil bisnis dan organisasi kemasyarakatan, pejabat PBB, akademisi, wartawan dan masyarakat umum (Delegasi sekitar 12.000 orang, LSM dan Kelompok Utama 10.047 orang dan Media 3.989 orang). Delegasi Indonesia dipimpin Presiden, didampingi sejumlah menteri. Kementerian Lingkungan Hidup menjadi penanggungjawab substansi bersama dengan Menkokesra dan menjadi Ketua Sekretariat Rio+20. KTT Rio+20 menyepakati Dokumen The Future We Want yang memuat kesepahaman pandangan terhadap masa depan yang diharapkan oleh dunia ( common vision ) dan penguatan komitmen menuju pembangunan berkelanjutan ( renewing political comitment ). Dalam sesi debat umum, Presiden RI menekankan untuk mewujudkan tujuan utama pembangunan berkelanjutan yaitu pengentasan kemiskinan. Tidak hanya diperlukan pertumbuhan ekonomi, namun juga

92

Gambar Pavillion Indonesia di Rio DeJaneiro, 2012 Foto: Dok KLH

pertumbuhan berkelanjutan dengan pemerataan atau Sustainable Growth with Equity . Indonesia memegang peran penting dalam menentukan pembangunan berkelanjutan ke depan, dengan terpilihnya Presiden RI sebagai salah satu ketua High Level Panel on Eminent Person for 2015 Post Development Agenda . Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Sustainable Consumption and Production/SCP) Penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (SCP) sejak 2012 dengan fokus sebagai berikut: 1. Instrumen penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan; 2. Sinergi program riil antar-instansi dan pemangku kepentingan; 3.Penyiapan kompetensi Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan dan green economy . Peningkatan penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan di Indonesia dilakukan melalui Forum SCP Indonesia yang terdiri wakil kementerian terkait, dunia usaha dan UKM, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi. Perlindungan Lapisan Ozon Masyarakat dunia pada 1985 telah menyepakati Konvensi Wina sebagai kerangka kerjasama perlindungan lapisan ozon. Pada 1987, langkahlangkah aksi sebagai upaya perlindungan lapisan ozon

lantas dijabarkan dalam Protokol Montreal. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal beserta amendemennya melalui Keputusan Presiden No. 23 Tahun 1992 tentang pengesahaan Vienna Convention for the Protection of The Ozone Layer and Montreal Protocol on Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer as adjusted and Amended by The Second Meeting of The Parties London . Sejak 1 Januari 2008, Indonesia telah melarang impor beberapa jenis BPO yaitu jenis CFC, CTC, TCA, halon dan metil bromida untuk keperluan non-karantina dan pra-pengapalan. Sedangkan untuk HCFC dan metil bromida untuk keperluan karantina dan prapengapalan masih diperkenankan untuk diimpor dengan pengaturan melalui sistem lisensi dan kuota. Pertemuan 24th Meeting of the Parties to the Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer (MOP-24) diselenggarakan di Jenewa, Swiss, pada 12 16 November 2012. Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan pemangku kepentingan dalam pelaksanaan percepatan penghapusan HCFC dan menerapkan sistem kuota impor sebagai aspek kunci untuk mencapai target pembekuan (freeze) atau kembali ke angka baseline 2013. Dengan mengikuti konvesi ini, Indonesia mendapatkan pendanaan bidang ozon yang tergabung dalam the Implementation of Indonesia Ozone Layer Protection

93

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Project melalui program Institutional Strengthening Phase (ISP). Program ISP untuk peningkatan kapasitas bagi upaya penghapusan BPO; penghapusan CFC untuk sektor refrigerator ; dan program penghapusan HCFC untuk sektor AC dan refrigerator . Pengelolaan Bahan Kimia dan Limbah B3 Indonesia telah meratifikasi Stockholm Convention tentang pengelolaan POPs ( Persistent Organic Pollutants ) dan menyusun NIP ( National Implementation Plan ) yang merupakan kewajiban dalam konvensi ini. Sedangkan, Konvensi Basel untuk mencegah pengiriman limbah B3 dari negara maju ke negara berkembang. Indonesia telah menandatangani konvensi Basel, dan meratifikasinya melalui Keppres Nomor 61 Tahun 1993 tentang Pengesahan Basel Convention On The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal . Sebagai implementasinya, Indonesia bersama pemerintah Swiss telah memprakarsai Indonesia-Swiss Country Led Initiative (CLI) dan berperan aktif sebagai Sekretariat Basel Convention Regional Center untuk Asia Tenggara. Untuk mengurangi penggunaan merkuri yang digunakan penambangan emas skala kecil, Indonesia melalui International Negotiating Committee (INC), aktif dalam penyusunan legally binding untuk pelarangan merkuri yang berisi isu-isu Artisanal and Small Scale Gold Mining (ASGM), Supply and Trade , Product and Process, Emission and Release, Storage Waste and Contaminated Site , pendanaan, dan teknologi transfer. Diharapkan keputusan legally binding ini dapat disepakati pada 2013. Perdagangan dan Lingkungan Isu lingkungan dalam forum WTO ( Doha Development Agenda /DDA) adalah harmonisasi kesepakatan

lingkungan multilateral dengan WTO, perdagangan barang dan jasa, dan hak atas kekayaan intelektual untuk sumber daya genetik. Pada tahun 2012 dihasilkan dokumen Khabarovsk Statement yang memuat kesepahaman bersama atas isu keanekaragaman hayati, pendekatan Green Growth , pengelolaan sumber daya air dan sumber daya alam yang berkelanjutan, pencemaran udara lintas batas, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Di Forum APEC, agenda kerja fokus pada studi berbagai instrumen kebijakan yang diterapkan bagi negara APEC, dan moda harmonisasi pengakuan profesi jasa dengan jangkauan layanan lintas negara. Sementara itu, di Forum WTO Committee on Trade in Services, perundingan fokus pada negosiasi pembukaan akses pasar dan prinsip yang disepakati dalam regulasi domestik di bidang jasa dalam kerangka Doha Development Agenda . Sampai 2012, telah terlaksana standar dan sertifikasi/ kompetensi di enam bidang: Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Auditor Lingkungan Hidup, Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran Air, Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran Udara, Teknisi Servis Refrigerasi (perlindungan Ozon), dan Green Building . Selain itu, telah disiapkan juga tiga bidang baru, yaitu: Inventarisasi Gas Rumah Kaca, Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, dan Analis Lingkungan Hidup di Bank Umum, yang penerapannya dimulai pada 2013. Ada juga beberapa isu penting lain terkait dengan diplomasi internasional, yaitu Perubahan Iklim dan Perlindungan Atmosfir, Keanekaragaman Hayati dan Kelautan. Hal tersebut akan dibahas pada Sub-Bab selanjutnya.

94

Indonesia sebagai Tuan Rumah Dalam Pertemuan Internasional


Sampai 2012, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup. Berikut ini beberapa peristiwa penting. Desember 2007 ini, akhirnya diperpanjang, dan baru berakhir pada 15 Desember 2007. Perhelatan ini dihadiri lebih dari 180 negara, dengan 10.000 peserta lebih, termasuk pengamat dari antar-pemerintah, lembaga swadaya, serta media massa. Pertemuan COP 13/CMP 3 telah mengadopsi Bali Roadmap , supaya negara-negara pihak dapat memulai negosiasi baru. Walau hingga akhir 2012 belum tercapai kesepakatan yang diharapkan, Bali Roadmap selalu menjadi landasan bagi tercapainya konsensus.

COP 13 UNFCCC 2007


Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim pada 2007 (COP 13/CMP 3) merupakan perhelatan lingkungan hidup terbesar yang pernah diselenggarakan Indonesia. Konferensi yang direncanakan berlangsung 3-14

Gambar 3.18. Konferensi PBB Untuk Perubahan Iklim, Bali 2007

95

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Joint 9 th Meeting of the Conference of Parties to the Vienna Convention dan 23 rd Meeting of the Parties to the Montreal Protocol
Pertemuan penting lain yang diadakan di Bali November 2011 ini menghasilkan Bali Declaration on Transitioning to Low Global Warming Potential Alternatives to Ozone Depleting Substances . Deklarasi itu memuat kesepakatan penerapan transisi penggunaan bahan perusak ozon (BPO) alternatif.Deklarasi Bali adalah jalan tengah bagi alternatif teknologi untuk transisi penggunaan BPO alternatif.

pengembangan Penghargaan ESC Award.

Konferensi Asia Pacific Roundtable for Sustainable Consumption and Production (APRSCP) ke-10
Kegiatan ini dilaksanakan di Yogyakarta, November 2011, atas kerjasama APRSCP, Kementerian Lingkungan Hidup dengan Co-Host InSWA ( Indonesia Solid Waste Association ). Konferensi ini juga mendapat dukungan UNEP ( United Nations Environment Programme ), UNIDO ( United Nations Industrial Development Organization ), IGES, EU SWITCH Asia, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, BPPT, serta berbagai pihak lainnya. Pertemuan ini menghasilkan Yogyakarta Declaration on SCP sebagai masukan bagi Konferensi Tingkat Tinggi Sustainable Developmen t di Rio de Janeiro, Brasil (Konferensi Rio+20) pada Juni 2012.

Environmentally Sustainable City (ESC) Program


Menteri Lingkungan Hidup ASEAN mendukung Environmentally Sustainable City (ESC) Program dan mendirikan Kelompok Kerja untuk Kota Berwawasan Lingkungan ( Working Group on Environmentally Sustainable City/AWGESC ). Salah satu programnya,

Partisipasi Aktif Indonesia dalam berbagai Organisasi Regional/Internasional


UNEP
Indonesia berperan aktif pada organisasi UNEP. Pada tahun 2006 2008 Menteri Lingkungan Hidup RI berperan sebagai Presiden Governing Council. Dan, terakhir berperan sebagai anggota Steering Committee International Resources Panel (SC-IRP) UNEP dan memimpin berbagai sidang UNEP. mendukung Timor Leste masuk sebagai anggota ASEAN; menjelaskan posisi alasan Indonesia belum meratifikasi perjanjian ASEAN Center for Biodiversity . 2.Selaku Ketua ASOEN, Indonesia telah mengkoordinasikan tindak lanjut beberapa kegiatan ASEAN Working Group (AWG) di tingkat nasional.

OECD
Indonesia aktif dalam forum APEC, di antaranya dalam Pertemuan Tingkat Menteri Forum OECDs Environment Policy Committee di Paris. Partisipasi dalam forum itu untuk memperoleh masukan dari para menteri lingkungan hidup negara-negara OECD dan Enhanced Engagement (EE5) serta negara mitra OECD terhadap OECD Environmental Outlook 2050.

ASEAN
Di bidang lingkungan pada 2012 Indonesia telah berkiprah dalam: 1. Delegasi Indonesia telah menghela tekanan dari negara anggota lainnya soal isu ratifikasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP);

Kerjasama Bilateral
Pengembangan kerjasama bilateral untuk mempererat hubungan dua negara dengan adanya pertukaran pengalaman, teknologi, hingga bantuan pendanaan, di antara adalah: Korea Selatan Kerjasama intensif dengan negara ini dimulai sejak Desember 2011 dan dibentuknya kantor bersama Indonesia Korea Environmental Cooperation Center (IKECC). Salah satunya, dibangun Pilot Project di Istiqlal yang akan berakhir pada 2015. Amerika Serikat Kerjasama dengan US-EPA telah dimulai kembali pada akhir 2011 dengan fokus pada peningkatan kapasitas dan pertukaran informasi dalam pengendalian pencemaran udara, pengelolaan bahan dan limbah berbahaya beracun, pengelolaan data dan informasi,

96

analisis resiko lingkungan dan perizinan. Kerjasama Bilateral Lainnya Selain itu, ada kerjasama dengan Jerman untuk kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim (PAKLIM); Denmark melalui kerjasama teknis Environmental Suport Program Phase II sebesar Rp

45 miliar untuk kajian lingkungan hidup strategis, analisis dampak lingkungan dan pengembangan instrumen ekonomi; serta kerjasama dengan Australia, Swedia, Selandia Baru, Belanda, Singapura, Meksiko, dan Inggris. Terakhir, bersama Timor Leste membantu peningkatan kapasitas staf lingkungan Timor Leste untuk pengembangan AMDAL.

Hutan dan Lahan


Menyadari betapa penting hutan bagi kesejahteraan bangsa, pada Oktober 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi CO 2 hingga 26 persen pada 2020. Sementara dengan dukungan internasional, Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sampai 41 persen. Pengurangan emisi ini dalam skema yang sudah terverifikasi dalam Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). Komitmen Indonesia ini disampaikan usai UNFCCC ( United Nations Frameworks Convention on Climate Change ) COP 13 di Bali pada 2007. Strategi REDD+ di Indonesia bertujuan memelihara sumber daya alam secara berkelanjutan, sebagai aset nasional demi kesejahteraan bangsa. Tujuan itu dapat tercapai melalui implementasi di lima area fungsional pembangunan institusi dan proses yang menjamin peningkatan tata kelola hutan dan lahan gambut, pengkajian ulang dan peningkatan kerangka peraturan, meluncurkan program strategis termasuk untuk manajemen lansekap, merubah paradigma lama dan melibatkan pemangku kepentingan utama secara bersamaan. Sebagai provinsi percontohan dipilih Kalimantan Tengah. Dalam menerapkan COP 13, pemerintah membentuk Indonesian Forest Climate Alliance (IFCA) pada Juli 2007. Aliansi ini suatu forum komunikasi, koordinasi, dan konsultasi bagi sekelompok ahli kehutanan dan perubahan iklim di Indonesia, terutama untuk menganalisis praktik REDD di Tanah Air. Dengan koordinator Kementerian Kehutanan, IFCA beranggotakan pemerintah, pihak swasta, masyarakat sipil, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan mitra internasional.IFCA didukung pemerintah Australia, Jerman, dan Inggris, dibawah koordinasi Bank Dunia ( World Bank ). Lembaga-lembaga lainnya yang berkontribusi: CIFOR dan ICRAF, the Australian Greenhouse Office, Australian National University, Winrock International, World Resources Institute, URS, Ecosecurities, The Nature Conservacy, WWF, Sekala dan Wetlands International. Melalui IFCA, Indonesia menetapkan road map REDD yang terbagi dalam tiga fase: - Fase persiapan/Readiness (2007/sebelum COP-13) untuk penyiapan perangkat metodologi/arsitektur dan strategi implementasi REDD, komunikasi/ koordinasi/konsultasi stakeholder, termasuk penentuan kriteria untuk pemilihan lokasi pilot activities. - Fase pilot/transisi (2008 2012): menguji metodologi dan strategi, dan transisi dari non market ke mekanisme pasar. - Fase implementasi penuh (dari 2012 atau lebih awal tergantung perkembangan negosiasi dan kesiapan Indonesia) dengan tata cara berdasarkan keputusan COP dan ketentuan di Indonesia. Pada 26 Mei 2010, pemerintah Indonesia dan Kerajaan Norwegia menandatangan i Letter of Intens (LoI) untuk mewujudkan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dari penggundulan dan kerusakan hutan, serta konservasi hutan gambut. Pelaksanaan REDD+ diwadahi dalam lima kegiatan utama: mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersediaan karbon melalui konservasi hutan, menerapkan pengelolaan hutan berkelanjutan, dan meningkatkan stok karbon hutan denga n project proponent baik dari pemerintah, swasta, lembaga masyarakat adat, lokal, LSM maupun mitra pembangunan internasional. Upaya mengurangi laju kerusakan hutan dan lahan juga dilakukan dengan program Menuju Indonesia Hijau (MIH). Ini merupakan program pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan konservasi, pengendalian kerusakan lingkungan hidup dan penanganan perubahan iklim.Tujuan program ini, untuk perbaikan kualitas lingkungan, salah satunya

97

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

penambahan tutupan lahan setiap tahun. Melalui MIH mendorong pemerintah daerah mengembangkan program pemberdayaan keberlangsungan hutan dan lahan, seperti yang telah dilakukan di beberapa kabupaten pemenang Trofi Raksaniyata Program Menuju Indonesia Hijau 2011. Dari 103 kabupaten peserta MIH, 88 di antaranya mempertahankan tutupan hutan di kawasan berfungsi lindung (kawasan tangkapan dan resapan air, kemiringan lahan di atas 40 persen, sempadan sungai dan pantai serta sekitar danau/waduk). Kabupaten penerima trofi telah melakukan program mempertahankan tutupan hutannya. Selain itu telah melakukan program pendukung dalam peningkatan pengelolaan hutan dan lahan, seperti bedah desa atau kampung, dengan penghijauan dan program sosial. Pemanfaatan hasil hutan nonkayu, seperti pemanfaatan aren, lebah madu, budidaya ulat sutera, getah damar mata kucing, dan lainnya.Kegiatan ini mendorong perbaikan, tidak hanya tutupan vegetasi, tetapi juga peningkatan ekonomi bagi masyarakat lokal. Kebijakan lain untuk melindungi hutan dan lahan denganInstruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Inpres ini dikenal juga dengan program moratorium, yang memberi kesempatan bagi Indonesia mengkaji pertumbuhan ekonomi dan implikasinya bagi sumberdaya alam. Selama jeda ini, Indonesia akan berupaya agar implikasi negatif yang

muncul semakin berkurang dan mencari jalan keluar menuju langkah pembangunan yang baru. Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang per pulau di Indonesia. Seperti Perpres Nomor 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera, yang pada Pasal 5 ayat f disebutkan kelestarian kawasan berfungsi lindung bervegetasi hutan tetap paling sedikit 40 persen dari luas Pulau Sumatera sesuai dengan kondisi ekosistemnya. Begitu juga dengan Perpres Nomor 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan, yang dalam Pasal 6 ayat 1 disebutkan kebijakan untuk mewujudkan kelestarian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tropis basah paling sedikit 45 persen dari luas Pulau Kalimantan. Begitu juga, Perpres Nomor 28 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Jawa Bali. Pada pasal 13 ayat 1 a, untuk mewujudkan kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang memadai untuk pembangunan, maka peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 30 persen dari luas pulau Jawa Bali. Untuk Sulawesi, Perpres Nomor 88 Tahun 2011 tentang Tata Ruang Pulau Sulawesi pada pasal 5 (i) ditegaskan penataan pulau ini untuk mewujudkan kelestarian kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tetap paling sedikit 40 persen dari luas pulau, sesuai dengan kondisi ekosistemnya. Sementara peraturan presiden tentang Tata Ruang Pulau Papua hingga saat ini belum diterbitkan.

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kementerian Kehutanan


Kementerian Kehutanan dalam rencana strategis 2012 melakukan program penyuluhan dan pengembangan sumberdaya manusia. Capaian program ini adalah meningkatnya kapasitas pelaku utama dan pelaku usaha melalui penyuluhan, serta peningkatan kapasitas aparatur Kementerian Kehutanan dan sumberdaya kehutanan lainnya. Indikator kinerja utama dari program ini: (1) Terbentuknya 50 kerjasama kemitraan dalam rangka peningkatan peran-serta pelaku utama dan pelaku usaha dalam pemberdayaan masyarakat; (2) Terbentuknya 500 kelompok masyarakat produktif mandiri; (3) Sertifikasi penyuluh kehutanan, sebanyak 1.500 orang; (4) Pendidikan dan pelatihan aparatur Kementerian Kehutanan dan SDM kehutanan lainnya, sebanyak 15.000 orang; (5) Pendidikan menengah kehutanan, sebanyak 1.440 orang. Pada 2011, direncanakan akan dibentuk 100 kelompok masyarakat produktif mandiri, peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam upaya pemberdayaan masyarakat sebanyak 2 kerjasama. Upaya peningkatan kapasitas penyuluh, pada 2011 akan disertifikasi 200 orang dan pembentukan lembaga koordinasi penyuluhan di tingkat provinsi, di 1 provinsi dan 5 lembaga koordinasi penyuluhan kabupaten/kota. Dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur, dilakukan pendidikan dan latihan yang pada 2010 telah dilakukan bagi 4.679 orang, terdiri atas diklat

98

aparatur (pra-jabatan, teknis dan kepemimpinan) dan diklat nonaparatur. Pada 2011, akan dilaksanakan diklat sebanyak 3.000 orang, dan 570 siswa dalam penyelenggaraan SMK Kehutanan. Sementara diklat

fungsional selama 2010 meliputi pengendali ekosistem hutan, 206 orang; penyuluh kehutanan, 160 orang; polisi kehutanan, 330 orang; serta guru, 42 orang (Kementerian Kehutanan).

Tabel 3.8. Tenaga Kerja Kehutanan Pada IUPHHK HT Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan s/d 2011 (sumber statistic Kehutanan 2011)
Jumlah Tenaga Kerja Berdasarkan Status Tenaga Kerja (orang) No. Provinsi
WNI

Bulanan
WNA Jml WNI

Harian
WNA Jml WNI

Borongan
WNA Jml WNI

Total
WNA Jml

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulaawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

0 347 219 351 0 82 173 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.169 4.168 610 5.250 77 177 0 489 77 257 336 543 1.863 1.362

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0

0 347 219 351 0 82 173 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.170 4.168 610 5.250 77 177 0 489 77 257 336 543 1.869 1.362

0 257 203 156 0 12 20 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 657 1.076 6 1.134 24 38 0 122 10 85 179 193 771 640

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 120 126 0 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 738 1.159 0 0 101 57 0 173 13 86 416 226 629 944

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 120 126 0 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 738 1.159 0 0 101 57 0 173 13 86 416 226 629 944

0 604 542 633 0 94 203 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.564 6.403 616 6.384 202 272 0 784 100 428 931 962 3.263 2.946

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0

0 604 542 633 0 94 203 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.565 6.403 616 6.384 202 272 0 784 100 428 931 962 3.269 2.946

Jumlah

17.550

7 17.557

5.583

5.583

4.798

4.798 27.931

7 27.938

Sumber: Kementerian Kehutanan 2012

99

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Bendungan peninggalan belanda yang di bangun tahun 1930an tersebut merupakan bendungan utama untuk mengairi irigasi yang ada di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan Foto: TEMPO/Suardi Gattang

100

Gerakan Penanaman 1 Miliar Pohon


Munculnya kesadaran masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap kondisi lingkungan hidup, mendorong pemerintah menggerakkan program penanaman 1 miliar pohon pada 2010. Dengan gerakan ini diharapkan bisa mengurangi dampak perubahan iklim dan emisi gas karbon. Satu pohon dapat menghasilkan 20 juta kandungan oksigen yang dihirup manusia. Gerakan ini mendapat dukungan dari seluruh komponen bangsa, mulai dari pemerintah, masyarakat, kalangan swasta dan organsasi kemasyarakatan. Buktinya, penyediaan bibit pohon yang tak semua dari pemerintah. Pemerintah melalui anggaran DIPA BA 2010, hanya menyediakan 36 juta batang.Partisipasi para pihak (swasta, BUMN, LSM, pemda, lembaga donor) mencapai 300 juta batang; Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa: 320 juta batang; Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai: 300 juta batang; serta Hutan Rakyat Kemitraan sebanyak 50 juta batang. Program ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar hutan.Beberapa skema yang ditempuh Kementerian Kehutanan adalah melalui Hutan Kemasyarakatan, yang pada 2010 seluas 210.749,64 hektar; Hutan Rakyat Kemitraan, seluas 203.833 hektar; Hutan Desa, seluas 10.310 hektar; dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat, mencapai 480.303 hektar. Total luas mencapai 905.195,64 hektar. Bila setiap kepala keluarga diberikan izin kelola rata-rata seluas 15 hektar, dan melibatkan empat orang sebagai tenaga kerja, maka sedikitnya 60.346 KK atau 241.384 tenaga kerja terserap dalam pengelolaan hutan. Bila setiap hektar yang dikelola masyarakat dapat menghasilkan 200 meter kubik kayu dengan harga Rp. 500.000 per kubik, maka dapat menghasilkan Rp 100 juta, atau Rp 1,5 miliar setiap kepala keluarga. Hingga medio April 2013, pohon yang telah ditanam mencapai 1,2 miliar

Air
Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup di Dirjen Sumber Daya Air
Pengelolaan sumberdaya air terpadu sesuai UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, yang menjelaskan air harus dikelola secara menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan hidup, dengan tujuan kemanfaatan secara berkelanjutan. Secara menyeluruh, landasan kebijakan nasional sumberdaya air, adalah: - UUD 1945 - UU Nomor 7 Tahun 2004, tentang Sumberdaya Air - UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah - UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang - UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana - UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup - PP Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai - PP Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum - PP Nomor 20 Tahun 2008 tentang Irigasi - PP Nomor42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air - PP Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah - PP Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan - Perpres Nomor 12 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Sumber Daya Air - Permen PU Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota & Wilayah Sungai Ketentuan penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumberdaya airdiatur lebih lanjut dengan: PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, PP Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah, PP Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan, Perpres Nomer 12 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Sumberdaya Air, Permen PU Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Wilayah Sungai, PP Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.

101

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Penyidik Pegawai Negeri Sipil Sumber Daya Air


Pengelolaan sumberdaya air berbasis wilayah sungai tanpa dipengaruhi batas administratif.Isu yang kian kompleks ditambah ketidakpahaman penegak hukum mengenai substansipengelolaan sumberdaya air, melatarbelakangi pembentukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil bidang Sumberdaya Air (PPNS SDA).Hal ini diamanatkan Pasal 93 Undang-Undang Sumberdaya Air.Pembentukan PPNS SDA di setiap wilayah sungai ditargetkan selesai pada 2013. Kewenangan PPNS SDA: - memeriksa kebenaran laporan atau keterangan tentang adanya tindak pidana sumberdaya air, - memeriksa orang atau badan usaha yang diduga melakukan tindak pidana sumberdaya air, - memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana sumber daya air, - melakukan pemeriksaan prasarana sumberdaya air dan menghentikan peralatan yang diduga untuk tindak pidana, - menyegel dan/atau menyita alat kegiatan yang digunakan untuk melakukan tindak pidana sebagai alat bukti, - meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana sumber daya air, - membuat dan menandatangani berita acara dan mengirimkannya kepada penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, - menghentikan penyidikan bila tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana. Sedikitnya 50 orang calon PPNS SDA telah dilatih pada 2011 dalam dua gelombang.Gelombang pertama sebanyak 28 orang, pada 22 September-25 November 2011, sedangkan gelombang kedua, 22 orang pada 21 Oktober-19 Desember 2011. Untuk mewujudkan konsep pengelolaan sumberdaya air secara menyeluruh dibentuk pula Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai (BBWS dan BWS) sesuai UU Sumberdaya Air Pasal 14, 15, dan 16.Lembaga ini bertugas mengelola sumberdaya air yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi, serta operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air. Sedangkan penentuan wilayah sungai mengacu Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah Sungai, yang membagi 131 wilayah sungai di Indonesia. Seluruh wilayah sungai itu terdiri dari: 5 wilayah sungai Lintas-negara, 29 wilayah sungai Lintas-provinsi, 29 wilayah sungai Strategis Nasional, 53 wilayah sungai Lintas-kabupaten/Kota dalam provinsi dan 15 wilayah sungai dalam kabupaten/ kota. Sampai saat ini telah dibentuk 12 Balai Besar dan 21 Balai Wilayah Sungai yang tersebar di berbagai provinsi, dan 2 BWS pada awal 2011 di Maluku Utara dan Papua Barat (Buku Tahunan Sumber Daya Air, 2012). Dan, untuk menjalankan tugasnya, Direktorat Jenderal Sumberdaya Air saat ini membawahi 33 UPT/ Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai, yang didukung 8.639 pegawai dan pejabat (PU, 2012). Sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pemerintah melakukan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PAM) di pusat dan daerah. Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah ini merupakan penyelenggara pengembangan sistem penyediaan air minum. Berbagai upaya pengelolaan sumberdaya air juga tercermin dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Bab II pasal 21 tentang konservasi sumberdaya air, menjaga kelangsungan keberdayaan daya dukung, daya tampung dan fungsi sumberdaya air. Sementara itu, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 Pasal 7 ayat 1 menjadi pengarah pengelolaan di tingkat nasionalselama 2011 2030, menjadi acuan bagi menteri atau pemimpin lembaga pemerintah dalam menetapkan kebijakan sektoral dan menjadi acuan penyusunan kebijakan pengelolaan sumberdaya airdi provinsi. Peran pemerintah pusat sebagai pengarah mutlak diperlukan bagi pemerintah daerah.Pemerintah pusat harus mengontrol penuh kebijakan di daerah, untuk mencegah pengelolaan sumberdaya air yang hanya mementingkan pemasukan daerah (PAD) tanpa menimbang dampaknya. Hingga kini pengelolaan sumberdaya air secara nasional menghadapi berbagai masalah di antaranya: - Kinerja pelayanan jaringan irigasi belum optimal:

102

dari 7,46 juta hektar daerah irigasi yang dibangun, sekitar 1,34 juta hektar belum berfungsi optimal karena kerusakan jaringan irigasi, karena bencana alam, kurangnya pemeliharaan, rendahnya keterlibatan petani dan pihak lain dalam pengelolaan jaringan irigasi, - Kinerja pelayanan jaringan reklamasi rawabelum optimal: dari 33,4 juta hektar lahan rawa pasang surut dan rawa lebak termasuk gambut, baru sekitar 1,8 juta hektare jaringan reklamasi rawa yang dikembangkan pemerintah, - Perubahan garis pantai akan menimbulkan masalah bagi perlindungan sarana dan prasarana sepanjang pantai dan batas negara. Untuk mengatasi hal tersebut, ke depan perlu dilakukan (PU, 2012): - Mengembalikan fungsi infrastruktur sumber daya air yang mengalami kerusakan karena bencana alam; - Menyelenggarakan pembinaan lebih intensif kepada pemerintah daerah dan parapihak lainnya dalam pengelolaan irigasi;

- Mempertahankan kemampuan penyediaan air dari sumber-sumber air, karena berkurangnya areal terbuka hijau dan menurunnya kapasitas wadah air alami maupun buatan dengan cepat; - Melakukan penataan organisasi pengelola sumberdaya air, seperti Unit Pelaksana Teknis Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) maupun Unit Pelaksana Teknis Daerah/Balai Prasarana sumberdaya air; - Meningkatkan koordinasi dan ketatalaksanaan penanganan untuk mengurangi konflik antarpengguna sumberdaya air; - Meningkatkan kinerja pengelolaan Sistem Informasi Sumberdaya air (SISDA) pada Balai Besar dan Balai WS, dinas, serta melengkapi data dan informasi untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan serta memperluas akses publik; - Mengupayakan pengarusutamaan gender dalam pelaksanaan kegiatan sumberdaya air, baik dari segi akses, kontrol, partisipasi, maupun manfaatnya; - Mencari peluang investasi baru dalam pengembangan infrastruktur sumber daya air.

Keanekaragaman Hayati
Lebih 11 persen daratan Indonesia (sekitar 21,5 juta hektar) dicanangkan sebagai wilayah dilindungi, dalam bentuk suaka alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman rekreasi alam, taman hutan raya, dan taman buru yang dikelola Kementerian Kehutanan. Selain itu, Indonesia memiliki tambahan 6,3 juta hektar taman laut (Direktur Konservasi dan Taman Laut Nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2009). Upaya pelestarian keanekaragaman hayati juga dilakukan di kebun raya, kebun binatang, taman safari, pusat penangkaran dan budidaya, serta arboretum. Kementerian Kehutanan juga mendirikan bank genetika untuk tanaman pangan, sementara Kementerian Pertanian memiliki koleksi sel dan plasma untuk ternak dan tanaman pertanian. Kementerian Lingkungan Hidup telah merumuskan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia ( Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan , IBSAP) untuk memandu penerapan program keanekaragaman hayati hingga 2020. IBSAP memuatlima sasaran, empat di antaranya berupa mengembangkan kesadaran masyarakat, mengembangkan sikap berorientasi-konservasi, dan melibatkan warga negara dalam masalah tata kelola. Sayangnya, IBSAP bukan dokumen yang mengikat secara hukum, dan karenanya tanpa kekuatan dan kewenangan hukum dalam pelaksanaannya Sebagai negara megabiodiversity, Indonesia turut memperjuangkan pengembangan Produk Rekayasa Genetik (PRG) pada Konferensi PBB XI tentang Keanekaragaman Hayati ( Convention on Biological Diversity /CBD), yang diawali dengan pertemuan parapihak pada Protokol Cartagena mengenai Keamanan Hayati VI di Hyderabad, India. Pertemuan ini menghasilkan 16 keputusan yang menekankan pada kesepakatan pentingnya kajian dampak sosial ekonomi pengembangan Produk Rekayasa Genetik (PRG), upaya peningkatan kapasitas nasional dalam deteksi dan identifikasi PRG; serta perlunya sistem identifikasi dalam proses penanganan, transportasi, pengemasan dan identifikasi PRG. Pada Konferensi PBB XI itu diadopsi 33 keputusan dan beberapa keputusan yang pada intinya mencakup: perlunya percepatan proses ratifikasi Protokol

103

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Nagoya, implementasi Strategic Plan 2011-2020 dan pencapaian Aichi Target , serta Mobilisasi Sumber Daya ( Resource Mobilisation ). Negara-negara maju sepakat akan meningkatkan dua kali lipat total aliran sumber pendanaan international kepada negara berkembang untuk implementasi Strategic Plan. Adapun negara berkembang berkewajiban memasukkan

keanekaragaman hayati pada prioritas nasional serta melaporkan pengeluaran domestik dan mempersiapkan national financial plans terkait keanekaragaman hayati pada 2015. Indonesia menginginkan agar negara maju berlaku fair terhadap setiap pemanfaatan sumber daya genetik dan agar negara-negara sumber memperoleh manfaat yang sepadan dalam prinsip kesetaraan dalam masyarakat dunia.

Gambar 3.18.Alur Proses Pengelolaan Keanekaragaman Hayati


Kondisi dan Potensi pemanfaatan Kehati
Kewajiban

KLH
Laporan Kelestarian tata nilai kelangsungan kehidupan dan penopang keberhasilan pemanfaatan berkelanjutan

Nilai manfaat/ pemanfaatan

GLOBAL

Koordinasi DEPHUT - Koordinasi - NSPK - Sosialisasi & Asistensi Laporan DEPTAN DKP LIPI

SKPD Propinsi: - Lingkungan hidup - Kehutanan - Pertanian - Kelautan & Perikanan - dll

- Kebijakan - Pengawasan

Laporan

Gubernur
- Kebijakan - Pengawasan Koordinasi - Kebijakan - Pengawasan

BKSDA BPDAS BTN

BPTP

Litbang

SKPD Kab/Kota: - Lingkungan hidup - Kehutanan - Pertanian - Kelautan & Perikanan - dll

Bupati/Walikota
Laporan Sumber: Kementerian Kehutanan

Balai Kliring Keamanan Hayati


Balai Kiring Keamanan Hayati (BKKH) atau Biosafety Clearing House adalah salah satu persyaratan yang harus dipenuhi setiap negara yang meratifikasi Protokol Cartagena. Indonesia sudah meratifikasinya melalui Undang-Undang Nomor 21 tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Cartagena. Protokol Cartagena bertujuan memberi jaminan perlindungan yang memadai dalam penanganan dan pemanfaatan, perpindahan lintas batas organisme hasil modifikasi genetik, termasuk pangan, pakan, dan pengolahan.

104

Taman Keanekaragaman Hayati


Untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, KLH mengembangkan Taman Keanekagargaan Hayati di berbagai daerah. Taman Kehati diluncurkan pada 2007 yang menekankan pencadangan dan pelestarian keanekaragaman hayati dengan memperhatikan fungsi ekosistem. Kementerian Lingkungan Hidup memfasilitasi provinsi-provinsi yang mengembangkan Taman Kehati, yakni Sulawesi Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan Lampung. Aneka tanaman untuk Taman Kehati diutamakan jenis lokal, langka, atau terancam punah, atau flora yang menjadi identitas provinsi dan kabupaten/kota. Flora yang menjadi identitas daerah misalnya, gandaria bagi Jawa Barat; salak bagi DKI Jakarta;bunga kantil maskot Jawa Tengah;pohon kepel bagi DI Yogyakarta; lontar bagi Sulawesi Selatan, eboni bagi Sulawesi Tengah, bunga bangkai bagi Bengkulu, ataupun pinang merah bagi Jambi. Sedangkan flora terancam punah antara lain cendana,bayur,ulin,jelutung, mimba dan tembesu.Untuk menjamin Taman Kehati suatu ketika tidak tergusur untuk kepentingan lain, sebaiknya lahan dimiliki pemerintah daerah atau perguruan tinggi.

Protokol Nagoya
Salah satu upaya menjaga aset hayati, Indonesia segera meratifikasi Protokol Nagoya, yang sebelumnya telah ditandatangani Menteri Lingkungan Hidup. Ratifikasi itu untuk menjaga sumberdaya genetik dari pencurian intelektual pihak asing. Bila telah diratifikasi, akan ditindaklanjuti dengan inventarisasi sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional. Pada 11 Mei 2011 di Markas PBB, New York, Indonesia bersama Jepang, Guatemala, India, Norwegia, Afrika Selatan, Swiss dan Tunisia menandatangani Protokol Nagoya. Kedelapan negara itu menyusul Kolombia, Yaman, Aljazair, Brasil, Meksiko, Rwanda, Ekuador, Republik Afrika Tengah, Seychelles, Mali, Sudan, Panama dan Peru, yang sudah lebih dahulu menandatangi Protokol. Protokol Nagoya berfungsi apabila ditandatangani sedikitnya 50 negara.Sampai saat ini, dari 193 negara anggota Konvensi Keanekaragaman Hayati, 92 negara telah menandatangani dan baru 14 negara yang meratifikasinya, yaitu Afrika Selatan, Rwanda, Meksiko, Yordania, Panama, Fiji, Ethiopia, Gabon, Laos, Seychelles, India, Mauritius, Mikronesia, dan Albania. Protokol Nagoya akan menjadi instrumen yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya genetik dan menghentikan pencurian sumber daya genetik ( biopiracy ). Hingga 2012, protokol ini sudah ditandatangai 92 negara. Bagi Indonesia, sebagai negara megabiodiversity, Protokol Nagoya penting bagi pemanfaatan keanekaragaman hayati optimal dan adil. yang

Indonesia perlu meratifikasinya dalam hukum nasional seiring dengan percepatan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik (RUU PSDG). Dengan begitu,akan memperkuat legislasi nasional dalam pemanfaatan SDG untuk kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat yang memiliki kearifan atau pengetahuan tradisional dalam pengolahan sumber daya genetik. Pada 11 April 2013, RUU Pengesahan Protokol Nagoya tentang Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang sudah disetujui DPR untuk disahkan sebagai Undang Undang. Protokol Nagoya memberi akses dan pembagian keuntungan terhadap pemanfatan sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional, termasuk komersialisasi produk turunannya.Akses terhadap sumberdaya genetik tetap mengedepankan kedaulatan negara dan sesuai hukum nasional berdasarkan prinsip prior informed consent (PIC) dengan pemilik atau penyedia sumberdaya genetik. Salah satu contoh keanekaragaman hayati yang patut mendapat perhatian sungguh-sungguh adalah tumbuhan obat. Berbagai jenis tumbuhan obat Indonesia bernilai US$14,6 miliar atau lebih dua kali lipat nilai produk kayu hutan.

105

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik


Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik, yang masih dalam pembahasan DPR, merupakan implementasi Protokol Nagoya, sebagai konsekuensi penandatangan Protokol itu pada Mei 2011, di Markas PBB, New York. Undang-Undangini sangat penting mengingat isu kepemilikan pengetahuan tradisional dan sumberdaya genetik terkaitan erat dengan hak kekayaan intelektual. Rancangan UU Pengesahan Protokol Nagoya sudah disetujui DPR untuk disahkan sebagai UU pada April 2013. Kini, Indonesia menunggu kehadiran UU Pengelolaan Sumber Daya Genetik, yang sangat penting bagipengelolaan keanekaragaman hayati. Untuk melindungi flora dan fauna dari kepunahan, pemerintah melakukan berbagai upaya. Di antaranya menambah jumlah cagar alam, yang dari 2001 hingga 2009 bertambah dari 183 unit menjadi 238 unit, dengan luas dari 2,6 juta hektar menjadi 4,3 juta hektar. Jumlah suaka margasatwa, dari 2001 hingga 2009 bertambah dari 50 unit menjadi 74 unit, dengan luas bertambah dari 3,6 juta hektar menjadi 5,1 juta hektar. Sedangkan untuk Taman Nasional Laut yang terjadi justru penurunan. Bila pada 2003 terdapat 8 unit, seluas 4,2 juta hektar, tahun 2009 berkurang menjadi 7 unit, seluas hanya 4,0 juta hektar. Sementara jumlah Taman Nasional Darat pada 2001 hingga 2009 bertambah dari 40 unit menjadi 43 unit, tetapi luas kawasan konservasinya turun dari 14,7 juta hektar menjadi 12,3 juta hektar. Di Indonesia terdapat paling sedikit 50 Taman Nasional, yang tersebar di seluruh pulau. Untuk Suaka Margasatwa, terdapat 73 lokasi, dengan total luas 5.422.922,79 hektar. Taman Hutan Raya di Indonesia sedikitnya ada 22 lokasi, sebagai bentuk pelestarian kombinasi, antara ex-situ dan in-situ.Sehingga, Tahura dapat ditetapkan baik dari hutan alam maupun hutan buatan. Namun demikian, fungsi taman hutan raya adalah sebagai etalase keanekaragaman hayati, tempat penelitian, tempat penangkaran jenis, serta tempat wisata.

Konservasi Tumbuhan di Kawasan Ex-Situ Konservasi


Ancaman kelestarian keanekaragaman hayati di habitat aslinya sangat tinggi hingga perlu penanganan serius. Konservasi di luar habitat asli (ex-situ konservasi) menjadi alternatif terbaik sebagai benteng terakhir sebelum terjadi kepunahan. Ex-situ konservasi dapat berupa konservasi spesies, genetik ataupun molekuler. Pembangunan kebun raya daerah antara lain untuk konservasi tumbuhan lokal, pendidikan, penelitian dan wisata alam. Dengan Inpres Nomor 3 Tahun 2009 kegiatan ex-situ konservasi tumbuhan dalam bentuk kebun raya mempunyai kekuatan hukum. Hingga perhatian dan alokasi dana daerah untuk pengelolaan kebun raya di daerah lebih terjamin. Selain itu, pembangunan kebun raya mengacu pada: - United Nation Convention on Biological Diversity (CBD) 1992, - Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang pengesahan CBD, - Agenda 21 Indonesia tahun 1996 Bab 16, - Global Strategy for Plant Conservation (GSPC), - Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan , - Pidato Presiden RI tahun 2004, yang mencanangkan pembangunan Kebun Raya di provinsi, - Surat Edaran Menteri Ristek kepada seluruh gubernur Nomor 77/M/VIII/2004. Sebanyak 21 Kebun Raya Daerah telah terbangun (Gambar 3.19), di antaranya sudah berkekuatan hukum sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT ). Total luas kebun raya di 17 provinsi dan yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mencapai 3.000 hektar. Jumlah ini menaikkan posisi Indonesia, dari ke-17 menjadi ke-13 dunia. Keterlibatan pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam bantuan fisik ikut mempercepat pembangunan kebun raya daerah, sehingga konservasi jenis lokal cukup punya harapan. Empat kebun rayaLIPI yang sudah lama berkembang berperan sebagai pengarah dan pembina pengembangan kebun raya daerah. Berbagai pelatihan managemen kebun raya dan pengembangan sumberdaya manusia kini sedang dilakukan. Namun, pengembangan pengelola kebun raya masih perlu mendapat perhatian lebih

106

Gambar 3.19 Pengembangan Kebun Raya Sumber : Perkembangan Pembangunan Kebun Raya di Indonesia

Tabel 3.9 Nama Dan Luas Kebun Raya


NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kebun Raya Batam Kebun Raya Baturraden Kebun Raya Bukit Sari Kebun Raya Danau Lait Kebun Raya Enrekang Kebun Raya Katingan Kebun Raya Kendari Kebun Raya Kuningan Kebun Raya Liwa Kebun Raya Lemor Lombok Kebun Raya Minahasa Kebun Raya Puca, Maros Kebun Raya Sambas Kebun Raya Samosir Kebun Raya Solok Kebun Raya Purwodadi Kebun Raya Cibodas Kebun Raya Bogor Kebun Raya Eka Karya Bedugul

NAMA
Kebun Raya Sungai Wain

PROVINSI
Kalimantan Timur Kepulauan Riau Jawa Tengah Jambi Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Jawa Barat Lampung NTB Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Sumatera Utara Sumatera Barat Jawa Timur Jawa Barat Jawa Barat Bali

LUAS (hektar)
140 85,71 150 425 328 300 200 113 175 100 130 186 120 300 100 112 84,47 125 87 154,5

Sumber: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Dari tabel terlihat kebun raya terbesar yang akan dibangun adalah Kebun Raya Bukit Sari Jambi seluas 425 hektar. Lahan ini sebelumnya berupa Taman Hutan Raya.Selain untuk kawasan konservasi, penelitian, studi dan wisata, Kebun Raya Bukit Sari juga sebagai

pelindung bagi hutan di sekitarnya dari ekspansi perkebunan sawit. Sementara Kebun Raya Purwadadi, Jawa Timur, sekitar 85 hektar merupakan yang terkecil, yang menjadi pusat konservasi dan studi tanaman dataran rendah kering.

107

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pesisir dan Laut


Program Rantai EmasRehab Pantai, Entaskan Masyarakat Setempat
Forum pertemuan para menteri East Asian Seas (EAS) Congress pada Juli 2012 di Korea Selatan yang dihadiri 12 negara ini untukmembahas pembangunan berkelanjutan pengelolaan laut.Pertemuan ini menyepakati Deklarasi Changwon yang merupakan platform berbagi pengetahuan dan perumusan tindakan kolaboratif dalam menyelesaikan tantangan di pesisir dan lautan. Pada 2012, telah disusun Status Lingkungan Pesisir dan Laut atau State of the Coast (SOC), sebuah laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan pesisir dan laut secara terpadu di 22 lokasi di Indonesia. Dalam kegiatan regional kawasan Asia timur, Indonesia mendapatkan bantuan dana melalui GEF untuk mengembangkan kemitraan dalam pengelolaan lingkungan di kawasan laut di regional Asia Timur (PEMSEA) sejak 2008. Bagi Indonesia, program ini untuk melaksanakan Strategi Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pesisir dan Laut yang menekankan pemantapan dan pengembangan National Interagency Coordinating Mechanism (NICM) di perairan Jakarta.

Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang - COREMAP


Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang atau COREMAP adalah program yang diparkarsai pemerintah Indonesia untuk melindungi, merehabilitasi, dan mengelola pemanfaatan lestari terumbu karang serta ekosistemnya. Pada gilirannya, program ini menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir. COREMAP semula dirancang untukkegiatan selama 15 tahun, terdiri dari tiga tahap. Setelah diluncurkan awal September 1998, terjadi beberapa perubahan dalam tata pemerintahan di Indonesia. Program ini pun perlu penyesuaian, antara lain dengan perubahan tahapan. Tahap Inisiasi (1998 2004); Tahap II Desentralisasi dan Akselerasi (2004 2009); dan Tahap III, Pelembagaan (2010 2015). COREMAP didanai pemerintah Indonesia, dengan dukungan World Bank, Asian Development Bank, dan Australia Agency for International Development (AusAID), yang hanya untuk COREMAP Tahap I. Lembaga Pelaksana ( Executing Agency ) COREMAP Tahap I adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.Dengan dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pada 1999kini Kementerian Kelautan dan Perikanaan, Lembaga Pelaksana Tahap II beralih ke kementerian yang baru ini. LIPI tetap berperan, tapi fokus pada bidang informasi, ilmiah, pelatihan serta pendidikan. Dalam pelaksanannya, Lembaga Pelaksana bekerjasama dengan lembaga pemerintah terkait di pusat maupun daerah, dengan lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat lokal. Gagasan COREMAP bermula dari keprihatinan para peneliti kelautan LIPI terhadap nasib terumbu karang yang makin memburuk.Pada 1980-an, Indonesia ikut dalam Program ASEAN-Australia, Living Coastal Resources, untuk memantau sumberdaya laut di Asia Tenggara. Survei pendahuluan pada 1984 menemukan terumbu karang dalam keadaan baik tinggal sekitar 5 persen; kondisi lumayan, 29 persen; buruk, 25 persen; dan sangat buruk, 40 persen. Temuan ini menumbuhkan kesadaran para pengambil keputusan perlunya langkah komprehensif untuk melestarikan ekositem sumberdaya perikanan dan kelautan ini. Dengan dorongan Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas), penelitian terumbu karang mulai ditingkatkan, melibatkan 10 universitas dari berbagai provinsi, yang membentuk jejaring informasi, cikal bakal Coral Reef Information and Training Centre (CRITIC). COREMAP tahap I(1998-2004) menetapkan landasan kerja sistem pengelolaan terumbu karang. Tahap ini dilaksanakan LIPI bersama beberapa provinsi dan kabupaten sebagai pelaksana. Pada COREMAP tahap II, penanggung jawab program adalah Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pelaksana program Ditjen Kehutanan dan Perlindungan Alam, Kementerian Kehutanan, LIPI, 8 provinsi dan 15 kabupaten. Pada tingkat desa terdapat Lembaga Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang. Untuk membantu kegiatan, masyarakat menunjuk fasilitator dan motivator desa sebagai staf penasihat. Jaringan pengelolaan terumbu karang ini dilengkapi Tim Pengarah Nasional dan Tim Pengarah Teknis dengan

108

anggota dari Bappenas, LIPI, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Polisi Perairan dan Udara (Airud), TNI Angkatan Laut, World Bank, Asian Development Bank, Global Environmental Facility (GEF) dan Japan Fund for Poverty Reduction (JFPR). Program pengelolaan terumbu karang inidari Nias, Sumatera Utara, sampai Raja Ampat dan Biak di Papua Barat dan Papua telah membuahkan hasil. Data dari penelitian tahun 2012 menunjukkan kondisi terumbu karang sangat baik, 5,30 persen;kondisi baik, 27,19 persen; cukup baik, 37,29 persen; dan kurang baik 27,19 persen. Masyarakat pesisir semakin sadar dan bertanggung jawab melindungi dan melestarikan terumbu karang dan ekosistemnya. Desa-desa pesisir memiliki peraturan desa yang melindungi terumbu karang. Banyak nelayan mantan pengebom ikan malah menjadi motivator pelestarian terumbu karang. Penangkapan ikan dengan bahan peledak dan racun kimia semakin menurun, terutama di wilayah program COREMAP.

Terumbu karang Teluk Maumere, Sikka, NTT, misalnya, yang hancur akibat gempa dan tsunami pada 1992, kini sudah pulih. Bahkan pada 2010, di sana diselenggarakan lomba fotografi bawah laut, menampilkan keindahan terumbu karang. Teluk Maumere pernah menjadi sentra produksi rumput laut di NTT yang berkembang sangat baik pada 1990-an. Tapi lantas merosot tajam akibat pencemaran dari pupuk green tonic oleh pembudidaya rumput laut. Setelah COREMAP turun tangan memberikan bantuan bibit dan pendampingan, usaha rumput laut kembali berkembang. Di Raja Ampat, program COREMAP mendorong masyarakat desa pesisir mengembangkan budidaya kerapu atau lobster, mengembangkan usaha kecil, mengelola usaha homestay, dan tidak bergantung sepenuhnya pada penangkapan ikan. Setelah COREMAP II berakhir, dan dilanjutkan dengan Tahap Kelembagaan,harus terus memupuk kesadaran bagi ekosistem laut, menyebarluaskan pemahaman melestarikan terumbu karang kepada masyarakat pesisir lain yang tidak terlibat langsung dalam COREMAP.

Udara
Sampai saat ini, BMKG memiliki 44 jaringan stasiun pemantau kualitas udara. Dari 44 unit kerja pemantau kualitas udara itu, 42 mengamati parameter SPM ( Suspended Particulate Matter ), 31 stasiun parameter kimia air hujan (KAH), 7 stasiun parameter SO 2 dan NO 2, 4 stasiun parameter PM10, 3 stasiun parameter Aerosol, dan 2 stasiun melakukan pengamatan parameter Ozon (O 3) permukaan, serta 1 stasiun lainnya memonitoring gas rumah kaca (GRK).

Gambar 3.20 Jaringan Stasiun Pemantau Kualitas Udara di Indonesia

109

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Program Kampung Iklim (ProKlim) yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup merupakan upaya memperkuat berbagai inisiatif lokal terkait perubahan iklim. Melalui ProKlim, pemerintah memberi penghargaan bagi partisipasi aktif masyarakat yang melakukan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang terintegrasi di tingkat lokal. Sehingga, dapat mendukung target penurunan emisi GRK nasional dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Dalam konteks perubahan iklim, produksi dan konsumsi manusia dapat berdampak pada pemanasan global sekaligus membuat penipisan lapisan ozon, seperti pemakaian HCFC dan CFC sebagai bahan perusak ozon (BPO). Untuk mengatasinya, Indonesia berperan aktif di tingkat global melalui Protokol Montreal tentang Pengendalian Bahan Perusak Ozon (BPO). Penghapusan BPO akan berkontribusi, tidak saja untuk perlindungan lapisan ozon, namun juga mereduksi CO 2 ekuivalen, yang secara langsung dan tidak langsung melindungi sistem iklim. Pemerintah Indonesia telah menghapus BPO jenis chlorofluorocarbons (CFC), Halon, Carbon tetrachloride (CTC), Methyl chloroform (TCA) dan Methyl bromide (MBr) untuk keperluan non-karantina dan prapengapalan sejak 31 Desember 2007. Ini berarti 2 tahun lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan Protokol Montreal. Untuk itu, pada 2011 UNEP dan Sekretariat Protokol Montreal memberikan apresiasi kepadaIndonesia.Dalam upaya mencapai target Protokol Montreal, Indonesia menyusun strategi percepatan penghapusan HCFCs melalui HCFC Phase-out Management Plan (HPMP) dengan dana hibah Multilateral Fund . Demi keberhasilan penghapusan HCFCs, Pemerintah Indonesia telah merevisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24/M-DAG//PER/6/2006 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Lapisan Ozon menjadi Peraturan Menteri Nomor 3 /M-DAG/PER/1/12 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Lapisan Ozon. Selain itu, pemerintah akan menetapkan regulasi pelarangan penggunaan HCFC pada industri manufaktur dan larangan impor barang yang mengandung HCFC. Pemerintah juga akan melaksanakan alih teknologi HCFC menjadi non-HCFC pada industri manufaktur Air Conditioning (AC), refrigerasi dan foam. Berdasarkan perhitungan dalam proposal HPMP, kontribusi penghapusan HCFC dapat menurunkan jumlah CO 2-

eq sebesar dari 1.954.170 ton CO 2-eq menjadi 385.640 ton CO 2-eq. Hal lain yang juga berkontribusi meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca adalah dari sektor transportasi, khususnya di perkotaan. Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor pada kisaran 10 persen (BPS, 2012), meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil, yang menaikkan konsentrasi gas rumah kaca. Pemantauan kualitas udara jalan raya di beberapa kota besar pada 2012, menunjukkan beberapa parameter pencemar udara cenderung meningkatnamun masih dibawah baku mutu. Penurunan kualitas udara akan berdampak burukbagi kesehatan manusia, merusak tanaman dan bangunan, pertumbuhan hutan terganggu dan berkurangnya jarak pandang. Untuk itu, program Langit Biru dikemas sebagai upaya pengendalian pencemaran udara untuk sumber bergerak meliputi: 1. Penetapan baku mutu emisi, 2. Penggunaan bahan bakar bersih, 3. Manajemen kebutuhan transportasi ( Transport Demand Management ), 4. Pemeriksaan emisi dan perawatan kendaraan bermotor. Program langit biru bertujuan mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan baik dari sumber tak bergerak (industri) maupun sumber bergerak. Program Langit Biru diluncurkan pada 1996 oleh Kementerian Lingkungan Hidup, melalui Keputusan Menteri Nomor 15 Tahun 1996. Saat ini sistem transportasi mengalami krisis energi dan krisis lingkungan, terutama pencemaran gas buang kendaraan bermotor. Hal ini telah menjadi perhatian Kementerian Perhubungan yang bertanggung jawab moral kepada pengguna jasa angkutan maupun masyarakat umum. Upaya Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kualitas emisi gas buang kendaraan bermotor antara lain: pendekatan teknologi ramah lingkungan, inspeksi kendaraan bermotor, penetapan standar emisi gas buang kendaraan, serta manajemen lalu-lintas yang baik. Teknologi otomotif saat ini terus diupayakan menuju

110

teknologi berwawasan lingkungan. Salah satunya, penyempurnaan desain maupun perlengkapan treatment emisi gas buang. Selain itu, penyempurnaan motor bensin maupun diesel juga akan diimbangi dengan pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan. Pengembangan lain adalah teknologi hibrida bensinlistrik atau ecocar, yang tidak banyak memakai bahan bakar fosil. Pengembangan yang lebih canggih adalah teknologi fuel cell yang tidak menghasilkan gas buang beracun. Teknologi terakhir ini menjadi harapan bagi teknologi kendaraan ecocar . Dalam hal inspeksi dan pemeliharaan, pemerintah telah menyiapkan rancangan program uji semua kendaraan bermotor.Emisi gas menjadi bagian dari kelaikan kendaraan yang harus diuji terlebih dahulu. Persyaratan ambang batas kelaikan menyebutkan ketebalan asap kendaraan yang penyalaan kompresinya berbahan bakar solar, ditentukan maksimum sebesar 50 persen. Upaya yang dilakukan antara lain dengan: - Penerapan standar emisi CO 2 untuk mobil penumpang, - Pemasangan Converter Kit (gasifikasi angkutan umum), - Penerapan Congestion Charging dan Road Pricing , - Pembinaan Peningkatan Pelayanan Angkutan Umum. Dengan pengujian itu, para pemilik kendaraan merawat kendaraannya dengan baik dan teratur sehingga laik jalan. Penetapan standar emisi gas buang untuk kendaraan yang sudah berjalan juga tengah diupayakan pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup menetapkan standar baru emisi gas buang untuk kendaraan bermotor baru dengan keputusan Nomor 141 Tahun 2003 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor yang sedang diproduksi. Dalam ketentuan itu disebutkan kendaraan bermotor tipe baru yang diproduksi harus memenuhi syarat uji emisi sesuai standar EURO 2, yang jauh lebih ketat dibanding aturan sebelumnya. Untuk pelaksanaannya, Kementerian Perhubungan telah menandatangani kerjasama dengan BTMP dan BPPT untuk uji emisi melalui kerjasama Nomor AJ.402/4/19/DRJD/2005 dan Nomor 080/KB/BTMP/BPPT/IV/2005 pada 6 April 2005. Pendekatan lainnya, menata manajemen lalu lintas

yang baik sehingga jalan menjadi lebih lancar. Kemacetan menyebabkan emisi gas buang kendaraan meningkat lebih besar. Upaya yang dilakukan di antaranya: - Reformasi sistem transit - Bus Rapid Transit (BRT )/ semi BRT, - Pemanfaatan teknologi untuk lalu lintas di jalan nasional (ATCS- Area Traffic Control System ), - Penerapan pengendalian dampak lalu lintas di jalan nasional, - Penerapan manajemen parkir di jalan nasional, - Mendorong pembinaan dan pengembangan sistem transit - BRT/Semi BRT, - Pembangunan budaya smart driving ( ecodriving ), - Pengembangan prasarana kendaraan tidak bermotor dan pejalan kaki ( Nonmotorize transport ): - Pengembangan fasilitas pejalan kaki - Pembangunan jalur sepeda - Pembangunan fasilitas integrasi moda ( pedestria n) - Penerapan Car Labelling . Sementara itu, upaya implementasi kebijakan dalam pengendalian pencemaran dari emisi kendaraan bermotor terus dilakukan melalui: Penetapan baku mutu emisi sepeda motor (EURO3) yang akan mulai pada Agustus 2013. Hl ini diperkirakan akan menurunkan emisi sepeda motor untuk parameter CO sebesar 5,5 persen, HC sebesar 2,7 persen dan NOx sebesar 4,04 persen pada 2014. Evaluasi kualitas udara perkotaan (EKUP) dilaksanakan di 45 lokasi: 14 kotametro, 14 kota besar, serta 17 ibu kota provinsi. Kegiatan ini mengevaluasi upaya pengendalian pencemaran udara oleh pemerintah kota. Harapannyabisa memicu pemerintah kota menurunkan beban pencemaran udara. Evaluasi penaatan baku mutu emisi kendaraan bermotor tipe baru sebanyak 28 kendaraan roda empat berbahan bakar bensin, 5 kendaraan roda empat berbahan bakar solar, dan motor sebanyak 10. Kegiatan ini untuk mengevaluasi konsistensi produk yang lulus uji emisi, dan memberi informasi kepada masyarakat mengenai kendaraan bermotor ramah lingkungan. Pedoman pengendalian pencemaran udara dari transportasi air, udara, kereta api, dan alat berat. Adanya pedoman menjadi acuan bagi para pihak mengendalikan pencemaran udara.

111

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Perubahan Iklim
Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 1994 telah meratifikasi konvensi perubahan iklim. Selain itu, Indonesia juga telah meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-undang No. 17 Tahun 2004. Pada COP-18/CMP-8 UNFCCC, para pihak menyepakati Paket Keputusan Doha (D oha Climate Gateway ) dengan beberapa keputusan,antara lain mengadopsi amandemen Protokol Kyoto yang akan menjadi dasar hukum berlakunya Periode Komitmen Kedua Protokol Kyoto ( Kyoto Protocols Second Commitment period /CP-2 KP), dengan jangka waktu mulai 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2020 (8 tahun). Bagi Indonesia, periode Komitmen Kedua Protokol Kyoto membuka kesempatan untuk melanjutkan pengembangan Clean Development Mechanism (CDM) yang merupakan salah satu mekanisme fleksibel perdagangan karbon dalam Protokol Kyoto.Sebagai informasi, saat ini Indonesia memiliki 96 proyek CDM yang telah terdaftar di UNFCCC dengan potensi reduksi emisi sebesar 11,3 juta ton CO 2 per tahun. Pencemaran udara telah terjadi secara masif. Ini ditunjukkan dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, terutama karbon dioksida (CO2) yang meningkat 80 persen selama 19702004 (IPCC Fourth Assessment Report, 2007).Berdasarkan dokumen Second National Communication (SNC) Indonesia 2010, emisi GRK Indonesia pada 2000 mencapai 1.38 Gigaton CO2e.

Tabel 3.10 Perkembangan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia Tahun 2000-2005 (Gg CO2e) Sektor
Energi (Gg CO2e) Proses Industri (Gg CO2e) Pertanian (Gg CO2e) Kehutanan dan Perubahan Penggunaan Lahan(Gg CO2e) Kebakaran Gambut (Gg CO2e) Limbah (Gg CO2e) Total (dengan Kehutanan dan Perubahan Penggunaan Lahan & Kebakaran Gambut) 1(Gg CO2e) Total ( tanpa Kehutanan dan Perubahan Penggunaan Lahan & Kebakaran Gambut (Gg CO2e)

Tahun 2000 280.937,58 42.813,97 75.419,73 649.254,17 172.000,00 157.327,96 2005 369.799,88 48.733,38 80.179,31 674.828,00 451.000,00 166.831,32

1.377.753,41 1.791.371,892 556.499,24 665.543,89

Catatan: 1Emisi dari kebakaran gambut diambil dari van der Werf et al (2008). 2Estimasi berdasarkan KLH (2009) dan Bappenas (2009) Sumber: SNC, 2010

Pada 2005, emisi GRK mencapai 1,79 Gigaton CO 2e, dengan sektor-sektor utama sumber emisi meliputi perubahan tata guna lahan dan kehutanan, energi, kebakaran gambut, limbah, pertanian dan industri. Menurut IPCC Special Report on Emission Scenarious (SRES 2000) diproyeksikan emisi GRK akan meningkat dari 25 persen 95 persen CO 2-eq selama jangka 2000 2030, dengan bahan bakar fosil tetap menduduki posisi dominan penyebab perubahan iklim. Karena itu, pada pertemuan G-20 di Pittsburg 2009, Indonesia secara sukarela telah menetapkan target nasional untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen dengan usaha sendiri, dan 41 persen jika mendapat bantuan internasional pada 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi ( bussines as usual /

BAU). Untuk pelaksanaan kebijakan penurunan emisi GRK, Indonesia menerbitkan dua peraturan presiden: Nomor 61 Tahun 2011 Tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Nomor 71 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Selanjutnya, pada 19 Oktober 2011 presiden memberi arahan kepada Menteri Lingkungan Hidup untuk memastikan penurunan emisi 26 persen bersamaan dengan menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi pada tingkat 7 persen. Dalam Perpres Nomor 61 Tahun 2011, Pasal 7, Menteri Lingkungan Hidup bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri dimandatkan

112

untuk memfasilitasi penyusunan Rencana Aksi Daerah untuk Penurunan Emisi GRK (RAD-GRK) Provinsi. Kegiatan fasilitasi tersebut telah dilaksanakan sepanjang 2012 dan menghasilkan RAD-GRK dari 27 provinsi. Implementasi Perpres itu untuk menurunkan emisi GRK dari kegiatan energi, transportasi, industri, kehutanan, pertanian, dan limbah. Kebijakan dan langkah penurunan emisi dan inventarisasi GRK telah dilaksanakan di sektor-sektor terkait: 1. Di sektor kehutanan, penurunan deforestasi rata-rata periode 2000-2006 ke periode 2009-2011 sebesar 0,675 juta hektare per tahun, telah menurunkan emisi GRK sebesar 0,489 Gigaton CO 2e, setara 72,8 persen dari target penurunan emisi GRK sektor kehutanan dan lahan gambut pada 2020, sebesar 0,672 Gigaton CO 2e. Terkait lahan gambut, peningkatan, rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan reklamasi rawa di 23 provinsi, diperkirakan menurunkan emisi GRK 2,02 juta ton CO 2e. 2. Di sektor pertanian, penurunan emisi GRK sebesar 10,3 juta ton CO 2e pada 2011 dari kegiatan pengelolaan tanaman terpadu dan penggunaan varietas padi Ciherang. Penurunan emisi GRK pada lahan gambut ditargetkan sebesar 334 juta ton CO 2e dilakukan dengan pengembangan pertanian di lahan marjinal dan lahan terdegradasi, pengelolaan gambut berkelanjutan, rehabilitasi, revitalisasi dan revitalisasi lahan gambut terdegradasi. Selain itu, dilakukan perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi di 24 provinsi, dengan perkiraan penurunan emisi GRK 0,042 jutaton CO 2e. 3. Di sektor energi, hasil perhitungan tingkat emisi GRK sektor energi pada 2010 sebesar 0,427 Gigaton CO 2e. Melalui penerapan Kebijakan Energi Nasional (KEN), target penurunan emisi GRK pada 2020 sebesar 0,038 Gigaton CO 2e diharapkan dapat tercapai. 4. Di sektor transportasi, dilakukan kebijakan dan langkah penurunan emisi GRK dan inventarisasi GRK di subsektor perhubungan darat, perkeretaapian, perhubungan laut, dan perhubungan udara.Saat ini sedang proses pengajuan program Sustainable Urban Transport sebagai Nationally Appropriate Mitigation Action (NAMAs) ke United Nations Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC). 5. Di sektor industri, dilakukan kebijakan penurunan emisi GRK melalui identifikasi potensi penerapan konservasi energi, pemberian penghargaan industri hijau, penerapan Program Restrukturisasi Permesinan Industri Tekstil dan Produk Tekstil, Alas Kaki dan Gula. Melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis Pengurangan

Emisi CO2 Industri Semen, diperkirakan penurunan gas rumah kaca secara sukarela sebesar 2 persen selama 2011-2015, dan secara wajib sebesar 3 persen selama 2016-2020. 6. Di sektor limbah, telah dilakukan pembangunan sarana prasarana air limbah dengan system off-site dan on-site dengan perkiraan penurunan emisi GRK 13,85 juta ton CO2e. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 660/95/SJ/2012, Nomor 0005/M. PPN/01/2012 dan Nomor 01/MENLH/01/2012, tentang Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK). Surat edaran ini sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 (sesuai amanat Pasal 7) dan Perpres Nomor 71 Tahun 2011 yang harus ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Aksi Daerah dan pelaksanaan program setiap sektor. Provinsi telah menyusun RAD-GRK sebanyak 29, yang ditetapkan dengan peraturan gubernur. Beberapa inisiatif program untuk menurunkan emisi GRK di antaranya: Menuju Indonesia Hijau (MIH), Pengelolaan Ekosistem Gambut, Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan (PROPER), Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Bank Sampah, Adipura, dan lainnya. Menuju Indonesia Hijau (MIH) merupakan program pengawasan dalam pelaksanaan perbaikan kualitas lingkungan. Ada empat sasaran yang ingin dicapai. Pertama, meningkatnya tutupan vegetasi, diikuti perbaikan tata air dan kuantitas sumber air, menurunnya risiko bencana banjir dan tanah longsor, serta tertahannya laju kerusakan wilayah pesisir. Kedua, meningkatnya konservasi energi melalui pemanfaatan energi biofuel dan energi biomassa dari berbagai kegiatan penambahan tutupan vegetasi. Ketiga, menurunnya laju kemerosotan keanekaragaman hayati. Keempat, meningkatnya perlindungan lapisan atmosfer. Program MIH untuk memberi apresiasi kepada kabupaten dan provinsi dalam meningkatkan dan mempertahankan tutupan vegetasi di wilayahnya. Dalam kurun 2007-2011, KLH telah melakukan pembinaan dan pengawasan sekitar 260 kabupaten dengan parameter fisik, manajemen, peran-serta masyarakat dan inovasi para pihak. Melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH) dapat dihitung perubahan cadangan karbon ( carbon stock ). Selama periode 2005 2010, KLH telah melakukan

113

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

perhitungan di 21 kabupaten. Kabupaten Banyumas berhasil mempertahankan cadangan karbon tertinggi,

sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Pacitan.

Upaya Sektor Industri


Berdasarkan hasil inventarisasi sumber pencemar dari agroindustri melalui Program Penilaian Kinerja Perusahaan (PROPER) 2008 2011, diperoleh data ratarata intensitas CO 2 eq per tahun sekitar 3.136 ton dan CH4 sekitar 149,3 Gg gr saban tahun. Potensi emisi dari sektor agroindustri untuk penanganan limbah setiap tahun cenderung meningkat, seiring meningkatnya kapasitas total produksi nasional. Pengurangan emisi GRK pada sektor ini hanya dapat dijalankan melalui upaya seperti CDM, perbaikan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL), implementasi methane capture dan pemanfaatan gas methane menjadi biogas. Berdasarkan hasil inventarisasi sumber pencemar dari pengawasan industri manufaktur prasarana dan jasa tahun 2008 2011 diperoleh data total ratarata intensitas CO 2 eq per tahun sekitar 11.174,85 ton dan CH4 sekitar 532,14 Gg gr. Sementara itu, perhitungan penurunan emisi CO dari sektor limbah kegiatan RU/Unit Pengolahan/Kilang migas (4 kilang) dapat disimpulkan: emisi GRK (CO 2) turun sebesar 9,70 persen dengan basis perhitungan tahun 2010, yang dihitung dari parameter BOD dan COD. Kegiatan penurunan beban pencemaran pada sektor usaha skala kecil selama 2007-2011 difokuskan pada pemanfaatan limbah dan pengolahan industri tahu dan usaha ternak sapi. Reduksi GRK dari penggunaan IPAL biogas di 14 sentra tahu diperkirakan 9.572,05 ton per tahun. Sedangkan dari penggunaan biodigester di 13 sentra ternak sapi sebesar 2.424,33 ton per tahun. Alhasil, total reduksi GRK dari pengelolaan limbah usaha skala kecil yang dibantu KLH sebesar 11.996,38 ton per tahun. Upaya di sektor limbah domestik untuk mengurangiGRK dilakukan melalui pengelolaan sampah sesuai UndangUndang No. 18 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 2012. Untuk jelasnya lihat pada bagian Sampah.

Foto: Istimewa

114

Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN)


Untuk koordinasi inventarisasi GRK, perubahan emisi dan serapan GRK, simpanan karbon nasional,monitoring proses dan hasil inventarisasi GRK, pemerintah sedang membangun Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN) yang diharapkan akan mulai berjalan efektif pada akhir 2012. SIGN menjadi simpul dari berbagai laporan inventarisasi GRK dari instansi terkait dan pemerintah daerah.Sistem pelaporan inventarisasi GRK Nasional secara umum dapat digambarkan seperti pada Gambar 3.21.

Gambar 3.21 Sistem Pelaporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Steering Committee

Experts
Kementerian Kehutanan

Kementerian Perindustrian

Kementerian Pertanian

Kementerian Perhubungan

KLH SIGN Center

Kementerian Pekerjaan Umum

Pemerintah Daerah

Kementerian Lingkungan Hidup

Sumber lain: BPS, Bappenas, LAPAN, BMKG, Bakesurtanal, Universitas, Lembaga Lainnya

Laporan Inventarisasi GRK Nasional

DNPI

Kemenko Kesra

UNFCCC

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional, yang diadopsi dari IPCC ( Intergovernmental Panel on Climate Change ) 2006 Guidelines , untuk menyediakan informasi berkala

mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi dan serapan gas rumah kaca nasional dan daerah serta informasi pencapaian penurunan emisi GRK dari mitigasi perubahan iklim

115

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sampah
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat penduduk rata-rata menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari total jumlah penduduk. Volume sampah ini dalam tiga tahun terakhir meningkat tajam. Volume sampah per hari pada 2010 mencapai 200.000 ton, dan pada 2012 meningkat dua kali lipat lebih: 490.000 ton per hari atau 178.850.000 ton setahun. Dari total sampah itu, lebih dari 50 persen merupakan sampah rumah tangga. Sampah rumah tangga ternyata belum ditangani dengan baik. Baru sekitar 24,5 persen yang ditangani secara benar, yaitu diangkut petugas kebersihan dan dikomposkan. Sisanya (75,5 persen) belum ditangani dengan baik. Fakta itu ditunjukkan data RISKESDAS 2010 (Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, 2012) yang menyatakan rumah tangga umumnya menerapkan enam metode penanganan sampah, yaitu: 1. diangkut petugas kebersihan (23,4 persen) 2. dikubur dalam tanah (4,2 persen) 3. dikomposkan (1,1 persen) 4. dibakar (52,1 persen) 5. dibuang di selokan, sungai, laut (10,2 persen) 6. dibuang sembarangan (9 persen) Sampah menjadi ancaman serius bagi upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat volume sampah di Indonesia sekitar 1 juta meter kubik setiap hari, namun hanya 42 persen yang bisa terangkut dan diolah dengan baik. Sampah yang tidak diangkut setiap harimencapai 348.000 meter atau sekitar 300.000 ton diurus masyarakat secara swadaya, atau tercecer dan secara sistematis terbuang ke mana saja. Karena itu, upaya mengelola sampah yang volumenya terus bertambah harus dilakukan secara bersamasama.Seluruh lapisan masyarakat melaksanakan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali sampah (3R) melalui upayaupaya cerdas, efisien dan terprogram. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah: dari paradigma kumpulangkutbuang, menjadi pengolahan yang bertumpu pada pengurangan dan penanganan sampah. Masalahnya, hingga kini sampah masih menjadi masalah serius di berbagai wilayah perkotaan maupun permukiman. Pengelolaan sampah masih jauh dari amanat UU dan Peraturan Pemerintah tersebut. Meski Indonesia memiliki Hari Peduli Sampah yang diambil dari peristiwa longsornya bukit sampah Leuwigajah, Cimahi, 21 Februari 2005, urusan sampah masih sering memusingkan pemerintah. Hingga kini kegiatan 3R masih menghadapi kendala rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah. Salah satu solusinya, pengembangan Bank Sampah yang bersifat social engineering untuk mengajarkan masyarakat memilah sampah serta menumbuhkan kesadaran mengolah sampah secara bijak. Pada gilirannya akan mengurangi sampah yang diangkut ke TPA. Keberadaan Bank Sampah menjadi penting dengan terbitnyaPeraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012. Aturan ini mewajibkan produsen melakukan 3R dengan menghasilkan produk berkemasan yang mudah diurai, sampah sesedikit mungkin, berbahan bakuyang dapat didaur ulang dan diguna ulang. Atau, menarik kembali sampah dari produk dan kemasan untuk didaur ulang dan diguna ulang. Bank Sampah dapat berperan sebagai dropping point bagi produsen untuk produk dan kemasan produk yang masa pakainya telah usai.Sehingga sebagian tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan sampah juga menjadi beban pelaku usaha.Dengan menerapkan pola ini, diharapkan volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang. Penerapan prinsip 3R sedekat mungkin dengan sumber sampah diharapkan dapat menyelesaikan masalah sampah secara terintegrasi dan menyeluruh, sehingga tujuan akhir kebijakan pengelolaan sampah dapat dilaksanakan dengan baik. Pembentukan bank sampah yang sampai Desember 2012 mencapai 1195 bank sampah, tersebar di 55 kabupaten/ kota, melibatkan 96.203 penabung dengan omzet sekitar Rp 15,1 milyar per bulan dan sampah anorganik yang terkelola mencapai 2.262 ton per bulan.

116

Keberhasilan pengelolaan sampah tergantung pada upaya bersama:pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Kemauan ini dimulai dari pemahaman dan kesadaran pentingnya masalah sampah sebagai salah satu infrastruktur yang menceminkan keberhasilan mengelola lingkungan.Sampah bukan hanya masalah lingkungan, kesehatan, dan estetika, tapi juga gambaran keberadaban masyarakat. Kendati memakai pengelolaan dengan 3R, tetap saja sampah akhirnya perlu diolah di TPA, yang sebagian besar masih memakai sistem open dumping . Dengan adanya UU Nomor 18 Tahun 2008 sistem itu sudah dilarang, sehingga perlu menuju pengolahan yang

lebih ramah lingkungan, yaitu controlled landfill, dan idealnya sanitary landfill. Terbatasnya lahan untuk TPA menuntut pengelolaan sampah secara regional, yang saat ini masih terbatas di beberapa daerah, seperti Yogyakarta (Kartamantul), Denpasar (Sarbagita) dan Gorontalo (Buku Informasi Statistik Pekerjaan Umum, Kementerian Pekerjaan Umum, 2012). Berdasarkanevaluasi Program Adipura 2011-2012, kinerja penanganan TPA di kota-kota besar secara umum belum menunjukkan performa yang baik. Hanya 14 persen kota-kota besar yang menunjukkan kinerja penanganan TPA yang baik, dengan nilai di atas atau sama dengan 71, seperti ditunjukkan Gambar 3.22.

Gambar 3.22 Kinerja Penanganan Tempat Pembuangan Akhir Tahun 2011-2012


Keterangan: P1 = PEMANTAUAN 1 P2 = PEMANTAUAN 2

30 45 46 60 61 70 71 80

SANGAT JELEK JELEK SEDANG BAIK

81 90 SANGAT BAIK Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Untuk mempercepat upaya pengelolaan sampah, dikembangkan Gerakan Indonesia Bersih (GIB) melalui

konsep 3R ( reduce, reuse, recycle ) yang melibatkan kementerian, perusahaan dan masyarakat.

117

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

AKSES PARTISIPASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN


Peningkatan kualitas lingkungan hidup perlu intervensi teknologi, kebijakan, metode, teknik pengelolaan, sumberdaya manusia dan kelembagaan yang baik. Dan peningkatan partisipasi bertujuan mengembangkan inisiatif berbagai pihak seluas mungkin, mulai dari masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga profesi, dunia usaha, lembaga legislatif, yudikatif hingga eksekutif.

Dunia Usaha
Pihak swasta semakin melibatkan diri dalam aksi perlindungan, pengelolaan lingkungan dan pelestarian alam.

Program Peringkat Kinerja Perusahaan - PROPER


Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) adalah program pengawasan dan penilaian kinerja perusahaan dalam mengelola lingkungan. PROPER dilaksanakan KLH bersama Badan Lingkungan Hidup provinsi mengawasi dan menilai kinerja perusahan manufaktur, pertambangan, energi dan migas, sektor kawasan dan jasa. Awalnya, PROPER fokus pada pengendalian pencemaran air, namun kini mencakup udara, limbah B3 dan akan dikembangkan pada aspek kerusakan lingkungan. Pengawasan dan penilaian meliputi ketaatan pelaksanaan AMDAL, pengendalian pencemaran air dan udara, pengelolaan limbah B3, penanggulangan kerusakan lingkungan, terutama bagi pertambangan.Jumlah perusahaan yang ikut dalam PROPER terus meningkat setiap tahun. Pada 2011-2012 terdapat 1.317 perusahaan,meningkat dari 1.002 pada 2010-2011. Tapi, jumlah perusahaan yang pengelolaan lingkungannya buruk meningkat dari 49 pada 2010-2011, menjadi 79 pada 2011-2012. Perusahaan yang mendapat peringkat Hitam PROPER umumnya bergerak di pertambangan, energi dan migas, serta agroindustri.

Gambar 3.23 Jumlah Perusahaan Peserta PROPER


1.400 1.200 1.000 800 600 400 200 0

2010-2012 Kenaikan rata-rata 313 perusahaan/tahun

1317

1002 2003-2009 Kenaikan rata-rata 109 perusahaan/tahun 627 466 251 85 69 % 49 % 76 % 52 % Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012 70% 71% 519 69 % 66%

690

2002-2003 2003-2004 2004-2005 2006-2007 2008-2009 2009-2010 2010-2011 2011-2012

Keterangan Peringkat : (sumber : PerMenLH No. 5 Tahun 2011 tentang PROPER) Peringkat Emas: secara konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan Peringkat Hijau: pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) Peringkat Biru: upaya pengelolaan lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan. Peringkat Merah: upaya pengelolaan lingkungan tidak sesuai peraturan perundang-undangan Peringkat Hitam: tidak taat peraturan dan diindikasikan mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan.

118

Gambar 3.24 Neraca Limbah B3 Kegiatan Pertambangan Energi Migas

Ton 2006 Dihasilkan Dikelola 1.726.623,84 1.097.765,65 2007 6.854.645,41 2.134.785,00 2008 6.897.117,00 3.898.072,00 2009 13.005.458,3 12.311.267,7 2010 20.368.948,1 20.342.814,4

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 3.25 Neraca Limbah B3 Sektor Kawasan dan Jasa


Belum Dikelola 268.29 Ton 0%

(Dihasilkan : 219151.968 Ton)

PROPER 2010

Dikelola 218883.678 Ton 100 %

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

119

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Tabel 3.11 Neraca Limbah B3 yang Diperoleh Dari Hasil Pengawasan PROPER Pada Periode 2010-2011 Dengan Jumlah Perusahaan yang Dipantau Sebanyak 1002 perusahaan.
Dikelola Sektor PEM Manufaktur KawasanJasa Agro Industri Total Total Satuan Ton Ton Ton Ton Ton Ton Dihasilkan 87.333.422.820 3.017.281.341 4.008.245.690 86.670.751 94.445.620.602 94.445.620.602 DI TPS 73.831.764.170 14.214.325 34.304 26.933.203 73.872.946.002 Pihak Ke-3 13.501.658.650 58.946.591 3.870.602.450 29.889.336 3.959.438.377 4.492.675 126.732.049 0.627 131.225.351 2.032.762.434 10.587.500 37.526 2.043.387.460 80.006.997.191 906.865.316 289.387 29.810.059 14.438.623.412 14.438.623.412 Diolah Pemanfaatan Internal Belum Dikelola

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Tabel 3.12 Neraca Limbah B3 yang Diperoleh dari Hasil Pengawasan PROPER Pada Periode 2011-2012 Dengan Jumlah Perusahaan yang Dipantau Sebanyak 1317 Perusahaan.
Dikelola Sektor PEM Manufaktur KawasanJasa Agro Industri Total Total Satuan Ton Ton Ton Ton Ton Ton Dihasilkan 59.651.473.45 4.604.561.44 576.499.90 1.138.077.45 65.970.612.24 65.970.612.24 DI TPS 596.514.73 1.749.733.35 80.709.99 68.284.65 2.495.242.71 Pihak Ke-3 2.982.573.67 2.440.417.56 443.904.92 864.938.86 6.731.835.02 Diolah/landfill 22.071.045.18 0 0 113.807.75 22.184.852.92 Pemanfaatan Internal 1.789.544.20 414.410.53 23.060.00 91.046.20 2.318.060.93 31.615.280.93 65.345.272.51 Dumping ke Laut 31.615.280.93 Belum Dikelola 596.514.73 906.865.316 28.825.00 0 625.339.73 625.339.73

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Pengembangan Industri Hijau


Mengikuti jejak PROPER, Kementerian Perindustrian turut mengembangkan Industri Hijau dengan upaya yang telah dilakukan : 1.Penggunaan mesin ramah lingkungan melalui program restrukturisasi permesinan industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan gula. Program ini berdampak signifikan berupa penghematan energi sampai 25 persen, peningkatan produktivitas sampai 17 persen, peningkatan penyerapan tenaga kerja danmeningkatkan efektivitas giling pada industri gula; 2.Penerapan produksi bersih dengan pelatihan bagi pelaku industri danaparatur, menyusun pedoman teknis produksi bersih untuk beberapa komoditas industridan bantuan teknis kepada beberapa industri; 3. Kebijakan teknis, perlindungan lapisan ozon melalui kontrolproduk, bahan baku atau bahan penunjang secara bertahap (Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33/M-IND/PER/4/2007); 4.Penyusunan Data Inventori Emisi CO2 equivalent di 700 perusahaan dari 8 sektorindustri untuk penetapan baseline emisi GRK; 5.Penyusunan Konsep Grand Strategi Konservasi Energi; 6.Implementasi konservasi energi pada 35 industri baja dan 15 industri pulp dan kertas; 7.Penyusunan Pedoman Teknis Penurunan Emisi GRK pada industri semen; 8.Pemberian penghargaan industri hijau, yang pada 2010 kepada 9 perusahaan industri dan 2011 kepada 10 perusahaan. Selanjutnya, upaya yang akan dilakukan adalah: 1. Menyusun standar industri hijau; 2. Menyiapkan skema insentif fiskal dan nonfiskal; 3. Membangun lembaga sertifikasi industri hijau; 4. Membangun kerjasama nasional dan internasional; 5. Peningkatan kapasitas SDM; 6. Meningkatkan pengembangan kualitas penelitian dan pengembangan; 7. Memberikan bantuan teknis penerapan produksi bersih; 8. Memfasilitasi pembiayaan pengembangan industri hijau; 9. Membangun sistem informasi industri hijau; 10. Menyusun pedoman-pedoman dalam rangka penurunan emisi GRK; 11. Monitoring emisi GRK.

120

Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup


A. Pengembangan dan Perumusan Kebijakan Industri Hijau 1. Penyusunan rencana induk pengembangan industri hijau Tersedianya grand strategy, roadmap, rencana aksi dan standar industri hijau. 2. Penyusunan katalog bahan baku dan bahan penolong Tersedianya katalog bahan baku dan bahan penolong untuk industri tekstil, keramik dan IKM makanan yang ramah lingkungan guna terwujudnya industri hijau. 3. Penganugerahan penghargaan industri hijau Mendorong pelaku industri menerapkan proses produksi ramah lingkungan B. Pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) 1. Penyusunan pedoman pengurangan GRK melalui implementasi konservasi energi Tersedianya pedoman teknis pengurangan emisi GRK melalu implementasi konservasi energi di industri pupuk dan keramik. C.Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Industri : 1. Pemetaan teknologi pengolah limbah elektronik Tersedianya peta teknologi pengolahan limbah elektronik. 2. Kajian teknologi dan bahan alternatif dalam phase out HCFC dan POPs Rekomendasi kebijakan teknologi dan bahan alternatif pengganti HCFC dan POPs di sektor industri. 3. Kajian pengelolaan limbah udara pada industri berbahan bakar batubara Tersedianya pedoman teknis pengelolaan limbah udara di industri berbahan bakar batubara dalam penerapan program EPCM sektor industri. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR) yang diamanatkan UU Nomor 40 Tahun 2007, berbagai perusahaan swasta melibatkan diri dalam berbagai isu lingkungan. Pasal 74Undang Undang itu menegaskan, perseroan di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Juga disebutkan, tanggung jawab sosial dan lingkungan itu merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Berbagai kegiatan peduli lingkungan pihak swasta antara lain menanam pohon, melestarikan bambu, mengalokasikan dana pelestarian badak jawa, badak sumatera, orangutan, anoa, babirusa, burung maleo dan penyu, atau berpartisipasi dalam kegiatan transplantasi terumbu karang. Kampanye menyelamatkan penyu sisik, penyu belimbing, penyu hijau sudah dilakukan pihak swasta dengan mendidik generasi muda.Ada juga pihak swasta yang bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan menyebar 550.000 bibit pohon. Sejak 2005 hingga 2009 telah ditanam lebih dari 6.600 pohon melalui Program Hijau Jakartaku, bagian Program Penanaman Sejuta Pohon. Selain itu, juga dibangun dua taman kota, yaitu di Jl. Galunggung, Jakarta Pusat, dan di Kompleks Perumahan Cirendeu Permai, Tangerang. Dunia usaha ada yang lebih mengarahkan CSR lingkungannya pada konservasi sumber daya air. Selain terlibat dalam berbagai kampanye lingkungan, ada kegiatan Water for School , Program Cinta Air, dan penanaman pohon.Tak jarang juga diterapkan konsep penghijauan melalui penggunaan biopori, daur ulang sampah organik menjadi pupuk organik di pabrik dan lingkungan sekitarnya. Bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran dan Universitas Islam Bandung serta masyarakat sekitar, perusahaan membangun Green Organic Farm (Rumah hijau) sebagai sarana pembibitan untuk penghijauan dan pembelajaran bagi warga setempat. Sementara itu, di Bali terdapat perusahaan yang telah mengganti kendaraan operasional karyawan dengan E-Bike: sepeda motor listrik. Sepeda motor ini mampu mereduksi karbondioksida ke udara hingga 78 persen per unit, tanpa polusi suara, serta memiliki kendali kecepatan sehingga aman dan efesien. Konservasi sumber daya air dan hutan menjadi target CSR sejumlah perusahaan. Tidak hanya terlibat konservasi daerah aliran sungai di 12 lokasi pabriknya di Indonesia, namun juga aktif mereboisasi dan konservasi hutan melalui penanaman ratusan ribu pohon di kawasan hutan lindung, lahan kritis, dan pegunungan di Jawa. Salah satu kegiatan CSR dalam

121

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

penyediaan air bersih bertajuk Program Satu untuk Sepuluh yang hingga saat ini masih dilakukan. Program ini menyediakan bak-bak penampung air bersih bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sering mengalami kekeringan. Kegiatan CSR sebuah perusahaan minuman kopi lebih banyak diterapkan secara langsung, baik melalui produk dan pelayanan, fasilitas toko, maupun kampanye lingkungan bersama komunitasnya.Adapun strateginya adalah energi terbarukan, konservasi energi, kolaborasi, dan advokasi.Perusahaan iniberupaya mengecilkan dampak lingkungan melalui menghemat energi dan air, mengurangi limbah tisu, cangkir, maupun pembungkus produk, daur ulang, serta memakai konsep green building pada gerai-gerai di seluruh dunia. Perusahaan yang bergerak dalam makanan instan terjun memulihkan pantai-pantai di Jawa Tengah dengan pohon cemara laut. Bekerjasama dengan Pusat Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi, Kementerian Kehutanan, ada perusahaan yang melestarikan badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, inokulasi

gaharu dan penangkaran rusa.Dan di Lampung Tengah, perusahaan nenas olahan mengembangkan kebun pelestarian 200 spesies bambu lebih, sekaligus melindungi kebun nenas dari erosi dan mencegah sedimentasi sungai di sekitarnya. Banyak yang dilakukan berbagai perusahaan swasta nasional. Berbagai perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia melalui CSR melakukan aksi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Kementerian Lingkungan Hidup menilai paling kurang 10 perusahaan telah menerapkan CSR meliputi kegiatan yang dikembangkan KLH, antara lain konservasi energi dan sumberdaya alam, pengelolaan sampah dengan 3R, adaptasi perubahan iklim, dan pendidikan lingkungan. Kesepuluh perusahaan itu: PT Adaro, Kalimantan Selatan; PT Badak NGL, Kalimantan Timur; PT Bio Farma, Jawa Barat; PT Chevron, Gunung Salak, Jawa Barat; PT Holcim, Cilacap, Jawa Tengah; PT Indonesia Power, Banjarnegara, Jawa Tengah; PT Kaltim Prima, Coal, Kalimantan Timur; PT Pertamina Hulu Energi, Jawa Barat; PT Sebuku Iron Lateric Ores, Kalimantan Selatan; dan PT Unilever, Jakarta.

Gambar 3.26 Jumlah Anggaran Community Development


1.000 800
Jumlah anggaran Community Development (milyar)

928 731

646

600 400 200 -

2010

2011
Tahun

2012

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Badan Usaha Milik Negara


Berbagai Badan Usaha Milik Negara juga berkiprah dalam aksi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Perusahaan-perusahaan plat merah itu berusaha menerapkan amanat UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Menteri BUMN 05/MBU/207. Aturan itu menyebutkan BUMN menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk pembinaan usaha kecil dan pembinaan lingkungan. Kementerian BUMN merilis dari 130 perusahaan BUMN yang menyalurkan dana tanggung jawab sosial (CSR) dari Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) sepanjang 2012 sebesar Rp 6,15 triliun. Sejumlah perusahaan migas misalnya, sering melaksanakan program bina lingkungan, terlibat aksi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan menanam pohon, merehabilitasi mangrove, kampanye penurunan gas rumah kaca, dan mengembangkan

122

program air bersih dan sanitasi publik. Pada 2009 perusahaan plat merah juga membagikan 100.000 bibit pohon produktif seperti mangga,rambutan, belimbing, dan jati serta berbagai jenis mangrove untuk masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Selain itu, juga ada aksi bersih-bersih pantai di Balikpapan, Cilacap, dan Balongan. Pun membagikan 12.300 bor biopori untuk resapan air danmenampung sampah organik untuk menyuburkan tanah di DKI Jakarta, Tangerang, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Antara 2010 - 2011 untuk Cilacap saja ditanam 147.000 pohon hutan mangrove. Perusahaan plat merah ini juga berperan dalam Green Festival 2009 dengan kampanye 5R (Reuse, Reduce, Recycle, Rethink dan Replace.) Badan usaha milik negara bidang telekomunikasi tak ketinggalan menjalankan bisnis ramah lingkungan.Salah satunya, layanan Smart Building Solution, gabungan infrastruktur sadar lingkungan dan nilai tambah perkantoran di gedung pencakar langit.Perusahaan ini menawarkan konsep gedung hijau yang memanfaatkan teknologi komunikasi untuk otomatisasi operasional gedung untuk menghemat energi. Teknologi Smart Building memungkinkan penghematan energi pada fase konstruksi dan operasi gedung, karena teknologi itu berjalan pada platform jaringan yang terintegrasi dengan pengontrolan gedung, yaitu jaringan TCP/IP berbasis serat optik yang memberi solusi mewujudkan gedung ramah lingkungan.

Kehandalan teknologi itu telah diakui secara global, sehingga dijadikan norma bagi bangunan hijau. Perusahaan ini mengenalkan konsep ini untuk mendorong gerakan bangunan ramah lingkungan, sekaligus membangun kekuatan baru dalam perencanaan bisnisnya. Secara proaktif, perusahaan ini membina budaya tanggung jawab lingkungan bagi masyarakat dan mengurangi dampak kegiatan manusia, sebagai dukungan terhadap perubahan iklim melalui : 1. Program penghijauan dan penanaman kembali terkait program pemerintah dalam: partisipasi dalam penanaman satu miliar pohon di seluruh Indonesia, program one man one tree . 2. Pembersihan dan revitalisasi sarana publik 3. Pengolahan air limbah: air kotor diolah terlebih dahulu dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) guna menghindari polusi sungai; dan air limbah didaur ulang menjadi air bersih yang dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan bermotor.

Selain lembaga pemerintah, kesadaran masyarakat menjaga dan melestarikan lingkungan yang sehat semakin meningkat. Elemen masyarakat seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan perusahaan swasta makin berperan penting.

Lembaga Swadaya Masyarakat


Lembaga swadaya masyarakat di Indonesia mulai munculpada 1970-an sebagai bentuk kesadaran partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Keberadaan LSM sudah diakui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 19 UU tersebut menyatakan LSM berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kemudian Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1990 kepada semua gubernur menyebutkan ihwal pembinaan LSM. Dalam perkembangannya, peran LSM menentukan dalam pengelolaan lingkungan hidup.LSM berperan mengajak anggota masyarakat dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai pendamping masyarakat, lembaga swadaya masyarakat memiliki banyak fungsi, sebagai pendidik, motivator, fasilitator, dinamisator, mediator, dan konselor. Saat ini tercatat ada sekitar 298 LSM yang bergerak dalam pengelolaan lingkungan hidup. Selain tingkat nasional, juga berkembang LSM lokal yang peduli pada perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Salah satu LSM adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang independen, non-profit dan terbesar di Indonesia. WALHI didirikan sebagai reaksi dan keprihatinan atas ketidakadilan pengelolaan sumberdaya alam dan sumber kehidupan akibat paradigma pembangunan yang tidak berkelanjutan dan berkeadilan. WALHI merupakan forum kelompok masyarakat sipil yang terdiri dari organisasi non-

123

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

pemerintah, kelompok pecinta alam dan kelompok swadaya masyarakat (KSM). WALHI hadir di 27 provinsi dengan 479 organisasi anggota dan 156 anggota individu (Desember 2011) yang secara aktif berkampanye di tingkat lokal dan nasional. Di tingkat internasional, WALHI berkampanye melalui jaringan Friends of the Earth Internasional yang beranggotakan 71 organisasi akar rumput di 70 negara, 15 organisasi afiliasi, dan lebih dari 1 juta anggota. Lembaga swadaya masyarakat lainnya yang menonjol dalam isu lingkungan antara lain, Yayasan Kehati, Jatam, Sawit Watch. Selain itu, terdapat sejumlah organisasi nonpemerintah luar negeri, misalnya WWF Indonesia, WCS dan TNC. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) yang didirikan di Jakarta 12 Januari 1994 adalah organisasi nirlaba pengelola dana hibah mandiri, yang memfasilitasi upaya pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. KEHATI bertindak sebagai katalisator untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengelola dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Berbagai bentuk kerjasama terus dijalin dengan lembaga-lembaga yang dapat mendukung visi organisasi, seperti lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah daerah, asosiasi profesi, komunitas bisnis maupun media massa. Dengan dukungan banyak pihak, Kehati melakukan berbagai kegiatan menyelamatkan keanekaragaman hayati dari berbagai aktivitas maupun kebijakan

yang dapat memusnahkannya. KEHATI membantu memfasilitasi berbagai upaya dan dukungan bagi pelestarian keanekaragaman hayati, agar manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi penerus kelak. Sementara itu, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) melaksanakan pelatihan bagi anggota peradilan Indonesia tentang hukum lingkungan, proses gugatan, dan isu terkait lainnya. Sejak itu, Ketua Mahkamah Agung mengisyaratkan kepada pengadilan tinggi bahwa hanya hakim yang pernah mengikuti pelatihan yang ditunjuk memimpin kasus lingkungan. Pola pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi dapat dikombinasikan dengan pola penyadaran lingkungan dan pelestarian lingkungan. Ada banyak skema dan pembelajaran yang pernah dilakukan LSM lokal, nasional maupun Internasional. Di antaranya : Rehabilitasi pantai yang dilakukan Wetlands Internasional-IP di Pemalang, Jawa Tengah, dengan membentuk kelompok usaha ekonomi masyarakat, pemberian modal ekonomi sebagai kompensasi masyarakat melakukan pembibitan bakau dan rehabilitasi pantai. Begitu juga, JICA di pantai Benoa, Bali; Yayasan Mangrove di Sumatera dan Kalimantan; Yayasan Bentera Karya di Belu, NTT; kelompok pecinta alam Desa Karangsong, Indramayu. - Rehabilitasi lahan gambut di Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimantan, atas kerja sama antara pemerintah Kanada (CIDA) dengan Wetlands InternasionalIP, Yayasan WBH di Sumatera Selatan dan PINSE di Jambi.

Sepenggal Jejak WALHI


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( WALHI) dideklarasikan pada 15 Oktober 1980, bertepatan dengan penutupan konferensi Pusat Studi Lingkungan (PSL) seluruh Indonesia. Ketakutan atas indoktrinasi pemerintah ditandai dengan kesepakatan aktivis organisasi non-pemerintah menetapkan tiga asas organisasi: asas mandiri, bekerjasama tanpa ikatan, dan bekerja nyata bersama dan untuk masyarakat. Para aktivis LSM mendeklarasikan WALHI dalam bentuk forum yang dapat diterima saat itu, yaitu forum LSM lingkungan, dengan sifat keanggotaan egaliter dan longgar, dan berperan sebagai forum komunikasi. Untuk memudahkan koordinasi,WALHI membentuk presidium yang dijalankan oleh seorang sekretaris eksekutif. Kelahiran WALHI sebagai sebuah forum mempunyai kekuatan cukup besar. Secara bertahap pada1983-an jumlahnya mencapai 350 lembaga. Padamasa awal, peran WALHI adalah melakukan public awareness kepada masyarakat tentang isu-isu lingkungan.

124

Perlahan, WALHI mendapat legitimasi dari masyarakat dan pemerintah sebagai representasi LSM lingkungan dan diundang DPR untuk pembahasan UU Lingkungan Hidup. Pada 1982, WALHI bersama lembaga swadaya masyarakat lainnya membahas dan memberi masukan bagi Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup/Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. Masukan yang diadopsi adalah pasal 6 tentang peran serta masyarakat. Dari sekitar 80-an LSM pada 1980, tercatat 320 pada 1982. Dan pada 1985 bergabung lebih 400 LSM. Ketika WALHI menggelar Pertemuan Lingkungan Hidup III pada 1986, dari 486 LSM lingkungan yang ada, 350 di antaranya bergabung ( Tanah Air, Edisi Khusus, April 1986 No.61 tahun VI) . Kampanye WALHI tak hanya mendapatkan legitimasi

pemerintah dan masyarakat, namun juga media massa. Setelah beberapa kali mengajukan gugatan, akhirnya legal standing WALHI diterima di pengadilan. Akhirnya, legal standing LSM ini ditampung dalam UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang diartikan sebagai hak gugat organisasi lingkungan. Sejak awal, terlihat keanggotaan WALHI sangat beragam. Dia terlahir bukan hanya dari LSM lingkungan, namun juga dari kelompok HAM, konsumen, kelompok keagamaan, perempuan, pecinta alam, jurnalis, kelompok masyarakat adat, dan anggota profesi lainnya. Hal ini menunjukkan WALHI merupakan representasi dari keragaman masyarakat Indonesia, yang berkomitmen terhadap lingkungan.

Masyarakat Hukum Adat


Masyarakat adat memiliki pranata sosial, ekonomi, dan hukum serta kearifan lokal patut dihargai dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Undang Undang No. 32 Tahun 2009 Pasal 70 menyebutkan, masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peran masyarakat dapat berupa pengawasan sosial, pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, penyampaian informasi dan/atau laporan. Masyarakat adat yang bermukim di wilayah geografis tertentu, secara turun-temurun adaikatan leluhur. Masyarakat adat meliputi 30 juta jiwa, terdiri dari 1.163 masyarakat hukum adat terdaftar dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan 1.062 masyarakat adat lainnya tergabung dalam Lembaga Masyarakat Adat (LMA) tersebar di berbagai daerah. Masyarakat adat ini memiliki hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup. Masyarakat adat menghuni daerah pedalaman, pesisir, pulau-pulau kecil bahkan pulau-pulau perbatasan. Kedudukan masyarakat adat di pulau terluar sangat strategis sebagai penunggu wilayah negara. Dan karena hubungan kuat dengan lingkungan, kearifan lokal masyarakat adat menyelamatkan ekosistem pesisir dan laut, ekosistem lahan basah dan hutan, melestarikan sumber daya air dan keanekaragaman hayati. Komunitas masyarakat adat Baduy di Banten misalnya, memiliki kearifan lokal sangat baik bagi pelestarian lingkungan. Bagi orang Baduy, gunung tak boleh digempur, lembah tak boleh dirusak. Masyarakat Baduy menerapkan larangan: menebang pohon hutan, mengubah jalan air, menangkap ikan dengan tuba, sejenis racun dari bahan alami. Berbagai kawasan hutan disakralkan,tidak boleh dimasuki selain untuk ziarah. Kearifan lokal Baduy telah melestarikan sumber-sumber air sungai-sungai yang berhulu di kawasannya. Kearifan lokal Baduy dalam menjaga dan melindungi lingkungan mendapat payung hukum peraturan daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Badui, dan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat 2003/ B.V/SK/68 tentang Penetapan Status Hutan Larangan Desa Kenekes sebagai Hutan Lindung Mutlak dalam Kawasan Hutan Ulayat. Kearifan serupa sama dimiliki masyarakat adat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, misalnya, masyarakat melambangkan alam sebagai ibu, karena itu harus dihormati dan diperlakukan penuh perhatian. Masyarakat

125

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

pesisir masih teguh menerapkan sasi, larangan adat mengambil hasil kebun kelapa dan larangan menangkap ikan pada periode tertentu. Larangan adat ini memberi kesempatan buah kelapa berkembang,

ikan serta berbagai biota laut berkembang biak. Sasi laut mengatur pemanfaatan sumberdaya laut, menetapkan pembatasan alat tangkap, jenis yang boleh ditangkap, lokasi dan waktu panen hasil laut.

Perguruan Tinggi
Peran perguruan tinggi dalam lingkungan hidup dapat dilihat dari perspektif pelaksanaan Tri Darma: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Berbagai perguruan tinggi telah berperan aktif dalam pengembangan pendidikan lingkungan hidup. Diantaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Diponegoro, Universitas Brawidjaya Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Malang. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memulai gerakan pendidikan lingkungan di Indonesia. Selama 1970-an dan 1980-an, perguruan tinggi menjadi gerbang utama gerakan pendidikan lingkungan. Forum-forum diskusi telah mendorong perkembangan berbagai pendidikan lingkungan.Beberapa universitas mulai menyediakan kursus pendidikan lingkungan dalam program sarjana dan pascasarjana, baik sebagai program studi pilihan atau wajib. Penting dicatat, peranlembaga swadaya masyarakat, seperti WALHI, Klub Indonesia Hijau (KIH), yang merangsang pendidikan lingkungan di kalangan mahasiswa. Sejumlah besar aktivis lingkungan dan pendidikan lingkungan berasal universitas besar. Banyak orang yang terlibat dalam isu lingkungan dan pendidikan lingkungan telah aktif sejak belajar di universitas. Pada 1979, Pusat Studi Lingkungan (PSL) pertama kali dibentuk diberbagai perguruan tinggi. Dalam perkembangannya, PSL menjadi alat perluasan kerja Kementerian Lingkungan Hidup di bidang penelitian, pelatihan dan pengelolaan lingkungan di daerah. Semakin beratnyamasalah lingkungan dan kebutuhan keahlian, PSL menjadi sarana peningkatan kemampuan dan pelayanan. Meski secara struktural tetap dibawah dan bertanggungjawab kepada perguruan tinggi, PSL berperan besar dalam pendidikan lingkungan hidup di daerah. Saat ini tercatat tak kurang 88 PSL di Indonesia.

Pusat Studi Lingkungan Hidup Perguruan Tinggi


Beberapa perguruan tinggi mendirikan Pusat Studi Lingkungan Hidup, yang bisa sebagai contoh lembaga yang berorientasi menghasilkan penemuan baru dalam lingkungan hidup dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pusat Studi ini menyelenggarakan dan memfasilitasi kajian kritis dan holistik lingkungan hidup. Selain itu, lembaga ini juga menyebarkan dan menerapkan hasil kajian itu dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi, utamanya penelitian. Pusat Studi dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku, jurnal/ majalah dan laporan, ruang penyimpanan alat laboratorium portabel, yang dapat digunakan untuk penelitian kualitas lingkungan. Selain itu, Pusat Studi juga didukung laboratorium lain di lingkungan kampus setempat dan menyediakan fasilitas mahasiswa S2 dan S3. untuk penelitian

Dalam kegiatannya, Pusat Studi menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri. Di antaranya dengan KLH, Bappenas, BPPT, pemerintah daerah, Yayasan Rockefeller dan Ford Foundation. Dalam kurun 1978-1994, Pusat Studi juga mengelola dana pendidikan bagi dosendosen dari lima universitas yang ingin melanjutkan pendidikan ilmu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan demikian, telah terbentuk Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan di tujuh universitas tersebut. Dengan semakin besar proyek dana pendidikan ini, DIKTI-Depdikbud mengambil alih pengelolaannya dari PPLH pada 1994.

126

Pengembangan Pendidikan Teknik Lingkungan di Indonesia


Salah satu indikasi pengarusutamaan lingkungan hidup di Indonesia adalah dari perkembangan disiplin ilmu di pendidikan formal tingkat perguruan tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pengembangan pendidikan Teknik Lingkungan di Indonesia.Dalam perjalanan waktu, pendidikan Teknik Sipil berkembang di ITB (didirikan tahun 1959), melahirkan Departemen Teknik Penyehatan pada 10 Oktober 1962. Sebagai yang pertama di Indonesia, lahirnya Departemen Teknik Penyehatan ini merupakan tonggak resmi berdirinya pendidikan tinggi Teknik Lingkungan (TL) di Indonesia. Pada tahun 1984, seiring dengan peningkatan permasalahan di bidang lingkungan terutama dengan semakin cepatnya era industrialisasi maka lingkup kajian keilmuan Teknik Penyehatan kemudian diperluas menjadi Teknik Lingkungan, sehingga nama departemen ini berubah menjadi Departemen Teknik Lingkungan. Pendidikan Teknik Lingkungan kemudian berkembang ke perguruan-perguruan tinggi lain yang ada di Indonesia. Sampai saat ini perguruan tinggi yang memiliki program studi TL di Indonesia berjumlah sekitar 30 perguruan tinggi yang tersebar di pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Program studi Teknik Lingkungan merupakan lembaga pendidikan tinggi dalam bidang rekayasa dan pengelolaan lingkungan binaan, yaitu di lingkungan permukiman, perkotaan dan pedesaan, perindustrian, pertambangan, minyak dan gas, serta lingkungan alami yang terkait dengan lingkungan binaan. Body of knowledge dari Program Studi Teknik Lingkungan sebagai sebuah disiplin ilmu teknik antara lain bergerak dalam bidang: penyediaan air; kesehatan lingkungan, termasuk keselamatan dan kesehatan kerja; pengendalian pencemaran, konservasi sumbersumber daya air yang dapat diperluas dengan sumber daya alam;sistem manajemen lingkungan; dan penilaian dampak dan resiko lingkungan. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia membuka jenjang pendidikan S-1, S-2 dan S-3 di bidang pendidikan Teknik Lingkungan dan telah banyak melahirkan lulusan-lulusan yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan bidang lainnya.Sebagai contoh di ITB, sampai saat jumlah lulusan yang dihasilkan adalah sekitar 2.600 lulusan S-1, 600 lulusan S-2 dan 30 lulusan S-3 dan bekerja pada berbagai bidang terutama di bidang keciptakaryaan dan industri khususnya industri pertambangan. Jumlah lulusan yang dihasilkan tersebut masih belum mampu menjawab kebutuhan sarjana Teknik Lingkungan.

Foto: Istimewa

127

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Media Massa
Upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup membutuhkan peran banyak pihak: pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan masyarakat luas. Media massa bisa aktif berperan dalam menyadarkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan hidup. Media bertanggung jawab memberikan informasi yang benar, mendidik, dan mendorong masyarakat dalam berbagai upaya pelestarian lingkungan. Sebagai bagian dari masyarakat, media memiliki hak dan kesempatan yang sama berkiprah dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu, media juga memiliki peran menyelesaikan kasus lingkungan hidup, baik yang ditempuh melalui jalur pengadilan atau luar pengadilan. Secara umum, media massa bisa menjalankan peran edukasi, kampanye, advokasi, mediasi dan aksi lingkungan hidup. Dari analisis berita media terlihat tren kesadaran lingkungan yang meningkat. Bila pada 2009 tema hutan, lahan dan kehati yang menjadi isu utama media, pada 2010 dan 2011, kampanye lingkungan menjadi topik yang banyak dibahas dan menjadi perhatian media.

Media Massa dalam Pemberitaan/Informasi Lingkungan Hidup Ruang Pemberiitaan/Informasi LH menigkat (9 Surat Kabar Nasional) Tahun 2009: +/- 16 berita/info per hari Tahun 2010: +/- 18 berita/info per hari Media Peduli isu lingkungan : Kolom/program khusus, Aksi (bersepeda, menanam pohon), green office

10 Besar Tema/Isu LH 2009 - 2011


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2009 Hutan dan Lahan Keanekaragaman Hayati Perubahan Iklim Kampanye Lingkungan Sungai dan Danau Tata Ruang Sampah Penegakan Hukum LH Teknologi Lingkungan Pesisir dan Laut % 15 14 12 11 7 6 6 5 5 4 Isu lainnya Hutan dan Lahan Bencana Lingkungan Keanekaragaman Hayati Perubahan Iklim Sampah Penegakan Hukum LH Standar Lingkungan Tata Ruang 2010 Kampanye Lingkungan % 20 19 13 10 8 7 6 6 4 4 2011 Kampanye Lingkungan Hutan dan Lahan Penegakan Hukum LH Keanekaragaman Hayati Bencana Lingkungan Sampah Tata Ruang Perubahan Iklim Limbah B3 Pencemaran Air % 13 11 7 6 6 6 5 4 4 4

Gambar 3.27 Media Massa Dalam Pemberitaan/Informasi Lingkungan Hidup

Masyarakat Umum
Peran-serta masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup didasarkan mandat UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) serta UU Nomor 32 Tahun 2009. Undang undang Nomor 32 itu menyatakan, lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah hak semua masyarakat. Dengan demikian, lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi manusia.Selain itu dijelaskan pula bahwa masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluasluasnya berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Penyertaan masyarakat dimaksudkan agar : a. Meningkatkan kepedulian; b. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan, kemitraan; c. Menumbuh kembangkan kemampuan dan kepeloporan; d. Menumbuh kembangkan ketanggapsegeraan untuk melakukan pengawasan sosial; e. Mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal. Dalam pelaksanaan peran itu, masyarakat dapat

128

melakukan 3 hal: a. Pengawasan sosial; b. Pemberian usul, saran, keberatan dan pengaduan; c. Penyampaian informasi dan laporan. Untuk memfasilitasi peran-serta masyarakat dilakukan pendekatan melalui: a. Pemberdayaan masyarakat pesisir; b. Pemberdayaan masyarakat sekitar DAS; c. Pemberdayaaan masyarakat daerah rentan. Kelompok masyarakat di pesisir utara Jawa misalnya, melakukan gerakan bersamapenyelamatan pesisir didaerahnya. Di Gresik dan Tuban, Jawa Timur, pada 2012 telah memperlihatkan kegiatan konkrit melindungi lingkungan pesisir. Di antaranya:penanaman dan memanfaatakan mangrove untuk peningkatan pendapatan. Begitu juga, ada gerakan aksi dalam mendorong perilaku ramah terhadap pesisir. Kelompok organisasi masyarakat melakukan aksi di beberapa DAS stretegis, seperti: DAS Bengawan Solo, DAS Brantas, Das Ciliwung, DAS Musi, dan DAS Mahakam. Kegiatannya berupa kampanye dan gerakan perlindungan sepanjang DAS. Beberapa organisasi masyarakat dan LSM tertentu mempunyai daerah binaan di sepanjang DAS danmengajak masyarakat melindungi DAS itu. Berbagai aksi juga digelar: perlindungan DAS dengan melindungi sempadan sungai dengan penanaman kembali tanaman produktif. Di Sungai Ciliwung terdapat 23 kelompok masyarakat yang bekerja dari hulu ke hilir, yang melakukan kegiatan terpadu menyelamatkan sungai ini. Untuk itu, telah dilakukan penilaian masalah DAS Ciliwung dan jenis kegiatan yang perlu dilakukan kelompok masyarakat. Perencaanaan partisipatif dan gerakan aksi bersama didukung Kementerian Lingkungan Hidup, menjadi kunci kegiatan di DAS. Kelompok Pencinta Bambu di Kabupaten Bogor misalnya, telah banyak berkiprah di Sungai Ciliwung dan berupaya mengembangkan bambu di daerah lain, di luar Jawa Barat. Penguatan masyarakat di daerah rentan diarahkan pada daerah sekitar industri dan kota. Surabaya dan Balikpapan menjadi contoh pengembangan kelompok daerah rentan. Di Surabaya fokus pada masyarakat sekitar industri, di Balikpapan diarahkan pada masyarakat sekitar pertambangan. Peran-serta masyarakat dikembangkan dengan

memperkuat tiga akses: akses atas informasi, akses terhadap partisipasi, serta akses keadilan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, di dua daerah tersebut. Lokasi binaan ini bakal menjadi contoh bagi sekitarnya dalam upaya penguatan kelompok binaan. Selain itu, melalui pendekatan keagamaan, khususnya bersama Nahdatul Ulama serta Muhammadiyah, dikembangkan Ecopesantren atau pesantren ramah lingkungan.Untuk mengembangkan program ini dilaksanakan sosialisasi dan pelatihan teknis kepada para pengurus pesantren di berbagai tempat. percontohan Ecopesantren di 10 tempat, masingmasing dua Ecopesantren setiap ekoregion. Selanjutnya, setiap Ecopesantren contoh melakukan pembinaan 10 pesantren lainnya. Alhasil,dicapai 100 Ecopesantren. Begitu juga dikembangkan Eco-Church (gereja hijau) di berbagai daerah. Dua gereja di Kupang dan Medan dijadikan percontohan pengembangan Eco-Church . Dalam pelaksanaannya, disusun buku sebagai bahan khotbah lingkungan bagi umat Kristen. Bersama Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), buku tersebut dijadikan buku pegangan pendeta agar memahami masalah lingkungan dari perspektif teologi. Selanjutnya, setiap gereja percontohan diberi bantuan listrik tenaga surya empat unit, sebagai penyadaran umat bahwa sinar matahari dapat digunakan sebagai energi alternatif. Harapannya, setiap umat gereja percontohan, bukan hanya peduli lingkungan, tapi juga dapat memanfaatkan energi surya dirumahnya. Berbagai upaya mendidik masyarakat telah dilakukan berbagai pihak. Namun selama ini belum ada ukuran keberhasilannya. Karena itu, diperlukan indeks yang memakai variabel nonfisik perilaku manusia pada tingkat yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan. Indeks perilaku masyarakat ini merupakan determinan terhadap baik buruknya kualitas lingkungan (Oh, et al, 2005). Indeks Perilaku Peduli Lingkungan (IPPL) adalah indeks yang disusun untuk mengukur perilaku kehidupan masyarakat terhadap lingkungan, mencakup perilaku terhadap sumberdaya air dan udara. Air dapat terjaga keseimbangannya melalui pemanfaatan yang tepat, ada area tangkapan hujan dan ruang terbuka hijau. Pemanfaatan air yang tepat memperhatikan keberlanjutan,seperti membuang air limbah di

129

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

tempatnya, memanfaatkan air bekas untuk keperluan lain, tidak membiarkan air mengalir saat tidak digunakan, serta perilaku lainyang menghemat air. Sementara itu, udara sangat dipengaruhi oleh komponen lainnya. Perilaku berkendara,pemakaian bahan bakar, pembakaran sampah dan barang elektronik yang mengandung CFC, dapat memicu emisi karbon.Sejalan dengan itu, perilaku sehari-hari sangat menentukan kualitas udara. Angka indeks berkisar dari 0,0 hingga 1,0. Semakin mendekati 1 berarti semakin peduli masyarakat terhadap lingkungan, dan sebaliknya.Terdapat enam indikator penyusun indeks, yang dijabarkan berikut ; 1.Perilaku Konsumsi Energi, diukur melalui pemakaian lampu hemat energi dalam rumah, dalam rasio antara lampu hemat energi yang terpasang dengan lampu biasa yang terpasang terhadap ruang. Asumsinya: semakin besar rasio lampu hemat energi terhadap lampu biasa yang terpasang, semakin baik perilaku masyarakat. 2. Perilaku Membuang Sampah, diukur dengan mekanisme pemilahan sebelum di buang (menurut jenisnya: sampah membusuk dan tidak) dan perlakuan rumah tangga terhadap barang bekas layak pakai. 3. Perilaku Pemanfaatan Air, diukur melalui peralatan

yang digunakan untuk mengatur penggunaan air ketika mandi,cara mencuci pakaian, dan seberapa sering rumah tangga membiarkan air mengalir ketika tidak digunakan. Asumsi yang dibangun: pentingnya perilaku hemat air bersih, semakin minimal air bersih yang digunakan, semakin baik nilai indeksnya. 4. Perilaku Penyumbang Emisi Karbon, diukur dengan pernah tidaknya melakukan uji emisi kendaraan dan perawatan mesin dalam setahun terakhir, penggunaan AC di rumah maupun saat berkendara. 5. Perilaku Hidup Sehat, diukur dari kebiasaan membuang air besar, tempat pembuangan akhir tinja, pemanfaatan cahaya matahari di dalam rumah, pemeliharaan tanaman sekitar rumah, penyediaan area resapan air, sumber utama air untuk mandi, masak, dan mencuci. Selain itu, juga kebiasaan mengonsumsi makanan impor, makanan yang dimasak dari tanaman sendiri, kebiasaan makan buah, sayur dan ikan. Dalam hal ini, semakin sering konsumsi dilakukan, semakin rendah nilainya, sedangkan konsumsi sayur, buah, ikan dan makanan dari bahan makanan yang ditanam sendiri akan semakin tinggi nilainya. 6. Perilaku Penggunaan Bahan Bakar, diukur melalui banyaknya konsumsi bahan bakar per kapita. Asumsi yang dibangun: semakin banyak bahan bakar untuk kendaraan bermotor, semakin rendah kepedulian terhadap lingkungan.

Tabel 3.13 Indeks Perilaku Peduli Lingkungan


Provinsi Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Sumatera Utara Sumatera Selatan Bali NTT Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Maluku Papua Nasional Perilaku Konsumsi energi 0,8 0,82 0,91 0,89 0,98 0,94 0,96 0,9 0,63 0,99 0,93 0,86 0,88 Perilaku membuang sampah 0,64 0,67 0,67 0,75 0,65 0,66 0,66 0,52 0,63 0,65 0,57 0,6 0,64 Perilaku Perilaku Perilaku pemanfaatan pemanfaatan penyumbang air bersih bahan bakar emisi karbon 0,43 0,41 0,39 0,47 0,39 0,4 0,44 0,34 0,37 0,4 0,42 0,46 0,41 0,35 0,31 0,31 0,34 0,34 0,31 0,34 0,15 0,28 0,25 0,17 0,26 0,28 0,62 0,61 0,63 0,68 0,63 0,61 0,67 0,52 0,61 0,58 0,5 0,56 0,60 Perilaku hidup sehat 0,74 0,64 0,62 0,69 0,66 0,61 0,69 0,7 0,62 0,65 0,65 0,62 0,66 IPPL 0,6 0,58 0,59 0,62 0,61 0,59 0,63 0,52 0,52 0,59 0,54 0,56 0,57

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

130

Secara umum indeks perilaku masyarakat terhadap lingkungan masih pada angka sedang yaitu 0,57. Ini menunjukkan perilaku masyarakat masih belum sepenuhnya baik. Hasil ini memang belum menggambarkan kondisi nyata, karena masih perlu disempurnakan konsepsinya maupun metodologi surveinya. Saat ini, baru mencakup 6.048 responden dan 12 provinsi, sehingga belum dapat merepresentasikan penduduk Indonesia. Namun begitu, hasil ini dapat dijadikan indikasi awal perilaku masyarakat terhadap lingkungan hidup. Meski secara nasional nilai IPPL relatif rendah, sejatinya berbagai komunitas aktif meningkatkan kesadaran masyarakat peduli lingkungan. Komunitas Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB misalnya, pada awal 2008 melancarkan kampanye anti-kantong plastik dengan penyebaran Plastic Phobia Takut Plastik. Kampanye yang mendapat dukungan pelajar di Bandung, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda serta WALHI ini bergaung luas, terutama di Jawa dan Bali. Masyarakat dianjurkan saat berbelanja membawa sendiri kantong katun atau keranjang dari rumah, dan menghindari memakai kantong plastik. Pada 2010 kampanye Diet Kantong Plastik juga dilakukan kaum muda Greeneration Indonesia atau Generasi Hijau Indonesia. Kampanye dilanjutkan pada 2012 di berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Bali. Di Bali, kampanye Say No to Plastic Bag didukung Yayasan Bali Cantik Tanpa Plastik dan Eco Bali, juga mendapat respon luas masyarkat. Kantong biodegradable terbuat dari singkong dan minyak nabati, yang bisa diurai mikroorganisme, hanya bertahan dalam beberapa minggu atau bulan di alam. Sedangkan kantong plastik dari polyolefin atau polivinil klorida, yang dipakai beberapa menit atau jam sebelum dibuang, ternyata perlu 500 tahun, bahkan 1.000 tahun, untuk terurai di alam. Pada 1980-an kantong biodegradable sudah diproduksi Indonesia, tapi untuk melayani permintaan supermarket di luar negeri, antara lain di Hongkong. Dalam tiga tahun terakhir, kantong yang bergamabr proses penghancuran dan keterangan Tas ini dapat hancur dengan sendirinya sudah digunakan luas, mengganti kantong plastik.Kini masyarakat berbelanja di berbagai pasar swalayan, yang barang belanja dimasukkan dalam tas yang dapat hancur sendiri. Sekitar 16.000 minimarket,midimarket dan hypermarket di seluruh Indonesia, umumnya sudah

memakai kantong yang mudah diurai alam. Di bidang transportasi, komunitas Bike To Work , yang dibentuk di Jakarta pada 2004 baru memiliki 150 pendukung, kini sudah lebih dari 10.000 orang, yang tersebar di banyak kota. Komunitas hemat bahan bakar ini, sebagian pendukung fanatik setiap hari bersepeda ke tempat kerja dan sebagian lagi sesering mungkin bersepeda.Komunitas ini terus berkembang walau masih menghadapi tantangan di jalan raya yang tak ramah sepeda. Ada pula komunitas pencinta mangrove yang melakukan studi dan merehabitasi hutan mangrove yang rusak. Namanya Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (Kesemat). Komunitas mahasiswa ini terjun langsung merehabilitasi hutan mangrove di beberapa kawasan pantai utara Jawa Tengah. Komunitas ini memiliki cabang di Jakarta, melibatkan pencinta mangrove dari luar kampus, bahkan pelajar. Jakarta Kemangteer ( Kesemat Mangrove Volunteer ) merehabilitasi hutan mangrove Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu, serta mengembangkan ekowisata hutan mangrove, sambil menanam. Untuk menghargai kiprah dan kerja keras masyarakat ada penghargaan Kalpataru, yang diberikan kepada individu atau kelompok masyarakat yang menunjukkan kepeloporan dan sumbangsihnya bagi pemeliharaan lingkungan hidup. Anugerah ini diberikan untuk mendorong dan memotivasi peran masyarakat dalam melestarikan fungsi lingkungan hidup menurut bentuk pengabdiannya masing-masing. Penghargaan Kalpataru terdiri dari empat kategori: Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan dan Pembina Lingkungan. Perintis Lingkungan diberikan kepada seseorang warga masyarakat, bukan pegawai negeri dan tokoh organisasi formal, yang berhasil merintis pelestarian fungsi lingkungan hidup secara luar biasa dan kegiatan baru sama sekali bagi daerahnya. Pengabdi lingkungan diberikan kepada petugas lapangan dan/atau pegawai negeri yang mengabdikan diri dalam pelestarian, jauh melampaui tugas pokoknya dan berlangsung cukup lama.Penyelamat Lingkungan diberikan kepada kelompok masyarakat yang berhasil melakukan upaya pelestarian dan pencegahan kerusakan lingkungan.

131

Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 3.28 Penghargaan Kalpataru

Pembina Lingkungan diberikan kepada pemimpin organisasi sosial-politik dan keagamaan, pejabat, pengusaha, peneliti, dan tokoh masyarakat yang berhasil melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mempunyai pengaruh dan prakarsa untuk membangkitkan kesadaran lingkungan dan peran masyarakat guna melestarikan fungsi lingkungan hidup atau berhasil menemukan teknologi baru yang ramah lingkungan.

Sedangkan kriteria khusus,antara lain jenis upaya pelestarian, terutama mencegah kerusakan dan pencemaran lingkungan. Kriteria lain adalah lokasi kegiatan, ukuran kegiatan, frekuensi dan intensitas, lama kegiatan, tingkat keberhasilan, swadaya dan pengorbanan, prakarsa dan motivasi, manfaat, prospek replikatif, dampak lingkungan alam-lingkungan sosial budaya dan ekonomi, banyak yang meniru, dan popularitas atau penghargaan yang diterima.Sejak 1980 hingga 2012, jumlah penerima penghargaan Kalpataru sebanyak 297orang/kelompok.

Pemangku Kepentingan Pro Lingkungan Hidup


Sudah banyak masyarakat yang peduli lingkungan, namun masih sulit mengetahui secara keseluruhan di Indonesia, dan utamanya melihat sebarannya per provinsi. Hasil survei yang dilakukan KLH masih memiliki kekurangan dari sisi representasi yang diwakili responden. Dengan begitu,masih sulit melihat tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup. Untuk gambaran dari sisi lain, dapat dilihat beberapa unsur pemangku kepentingan dengan beberapa kriteria yang terukur, yaitu dari peraih penghargaan Sekolah Adiwiyata, Kalpataru, serta tingkat ketaatan industri yang dievaluasi melalui PROPER (Emas, Hijau dan Biru).

132

133
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 3.29 Jumlah dan Prosentase Pemangku Kepentingan Pro Lingkungan Hidup

CATATAN KHUSUS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

134

Kualitas lingkungan hidup Indonesia cenderung menurun karena berbagai tekanan.Namun di sela catatan ihwal mutu lingkungan yang menurun, bisa dijumpai upaya-upaya yang berpihak kepada lingkungan hidup. Ini ibarat dua sisi yang saling berpacu, antara ancaman dan harapan bagi lingkungan hidup.

135

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Di beberapa lokasi dijumpai pula praktik perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang patut diberi catatan khusus. Aksi-aksi tersebut digelar berbagai lembaga, komunitas, maupun dunia usaha. Praktik dapat menjadi pendorong, mampu memberi inspirasi, bahkan menjadi model upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ketika deforestasi masih terjadi, luas area tutupan hutan malah meningkat di beberapa pulau besar. Mengapa demikian? Jawabannya, antara lain adanya moratorium izin pemanfaatan hutan, pengembangan hutan tanaman rakyat, hutan rakyat, dan hutan desa. Ketika mata air di lereng Gunung Ciremai harus dijaga, Pemerintah Kota Cirebon sepakat membayar jasa lingkungan kepada Kabupaten Kuningan demi menjaga kelanggengan sumber air bagi warga

Cirebon. Di tempat lain, ada perusahaan swasta aktif melestarikan ratusan spesies bambu, bahkan menjadi tujuan peneliti dari berbagai negeri. Di pelosok lain, di Raja Ampat,peraturan lingkungan hidup yang hanya ditandatangani kepala kampung, dengan dukungan masyarakat,dapat mengawal upaya perlindungan terumbu karang dan ekosistemnya. Juga patut dicatat, kerjasama koordinatif dan integratif antar-kementerian dan lembaga dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan, seperti aksi penyelamatan danau-danau yang bermasalah, aksi pengelolaan Teluk Tomini dan pengelolaan Selat Bali. Demikian pula catatan khusus perlu diberikan bagi penegakan hukum dalam kasus dan penanganan sengketa lingkungantermasuk sengketa lingkungan lintas-batas negara.

PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN


Pulau Sumatera
Terletak di dataran sunda ( Sunda Land ), Sumatera memiliki tipe ekosistem hutan yang lengkap: dari mangrove dan gambut di pantai timur hingga hutan pegunungan di bukit barisan di bagian barat Sumatera. Ekosistem ini menyimpan kekayaan flora dan fauna yang tidak ternilai harganya. Beberapa tempat menyimpan tingkat endemisitas yang tinggi, seperti terlihat pada gambar 4.1. Total luas hutan pada 2011 di pulau ini sekira 13,7juta hektar. Provinsi Riau memiliki hutan terluas, disusul Nanggroe Aceh Darusalam dan Sumatera Barat. Namun bila dibandingkan dengan luas provinsi, proporsi hutan Aceh paling tinggi (56 persen) disusul Sumatera Barat (47 persen) dan Bengkulu (37 persen). Lampung memiliki proporsi penutupan hutan terkecil, 9,5 persen. Dibandingkan dengan kondisi tahun 2000, luasan tutupan hutan Pulau Sumatera turun kurang lebih 3 juta hektar. Deforestasi tertinggi terjadi di Riau, disusul Jambi dan Sumatera Utara (Gambar 4.2). Penurunan luasan hutan itu lantaran alih fungsi untuk lahan lain, terutama hutan tanaman, perkebunan dan pertanian, serta lahan tidak produktif berupa lahan terbuka dan semak belukar. Degradasi hutan primer menjadi hutan sekunder juga cukup luas (Gambar 4.3). Lahan terbuka, ladang, semak belukar dan hutan sekunder mungkin bagian tahapan suksesi dari pertanian lahan berpindah (shifting cultivation ) yang sudah lama dipraktikkan masyarakat adat (Burgers, Ketterings, & Garrity, 2005; Stolle et al. 2003; Imbernon, 1999, Ketterings, Wibowo, van Noordwijk & Eric Penot, 1999) .

136

Gambar 4.1. Perubahan tutupan hutan P. Sumatera (a) 2000, (b) 2003, (c) 2006, (d) 2009, (e) 2011, (f) Deforestasi 2000 2011

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Sumber: Kementerian Kehutanan

137

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 4.2. Perubahan tutupan hutan Provinsi di Pulau Sumatra


Lampung 2011 Sumatera Selatan Bengkulu Sumatera Barat Jambi Riau Sumatera Utara Daerah Istimewa Aceh 500 1.000 1.500 2.000 ribu hektar 2.500 3.000 3.500 4.000 2009 2006 2003 2000 Daerah

Sumber: Kementerian Kehutanan

Gambar 4.3. Perubahan hutan tahun 2000 menjadi tutupan lahan lain di tahun 2011 di Pulau Sumatera
Penutupan Lahan Lain Transmigrasi Permukiman Tambang Lahan Terbuka Semak Belukar/Savana Tambak Sawah Pertanian Lahan Kering Perkebunan HTI Hutan Sekunder Hutan Primer 0 10 20 30 Persen 40 50 60

Sumber: Kementerian Kehutanan

138

Pulau Kalimantan
a.

Gambar 4.4 Perubahan tutupan Hutan P. Kalimantan (a) 2000 dan (b) 2011

b.

Sumber: Kementerian Kehutanan

139

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Setelah Greenland dan Papua, Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia yang menjadi bagian dataran Sunda. Kalimantan dianugerahi berbagai ekosistem hutan dengan keanekaragaman tinggi, diantaranya hutan mangrove, hutan kerangas, hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Luas total hutan Kalimantan pada 2011 mencapai 29 juta hektar atau sekira 54 persen dari luas daratan. Kalimantan Timur mempunyai tutupan hutan terluas, 13,6 juta hektar (69

persen dari luas wilayah); disusul Kalimantan Tengah, 8,4 juta hektar (53,6 persen); dan Kalimantan Barat, 6,3 juta hektar (42,9 persen). Sementara Kalimantan Selatan mempunyai tutupan hutan yang paling rendah, 0,9 juta hektar (24,1 persen) (Gambar 4.4). Dibandingkan kondisi pada 2000, tutupan hutan turun sebesar 2,8 juta hektar, dengan penurunan tertinggi di Kalimantan Tengah (0,98 juta hektar), diikuti Kalimantan Timur (0,87 juta hektar) (Gambar 4.5).

Gambar 4.5. Perubahan tutupan hutan Provinsi di Pulau Kalimantan


2011 Kalimantan Timur 2009 2006 2003 2000 Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

kalimantan Barat

5,000,000

10,000,000

15,000,000

20,000,000

Hektar
Sumber: Kementerian Kehutanan

Sejarah perubahan tutupan lahan di Kalimantan terkait erat dengan pola perubahan iklim. Pada periode tertentu,musim kering (ELNino) menyebabkan kekeringan panjang dan kebakaran hutanseperti pada 1982 dan 1997. Saat itu, jutaan hektar hutan dan lahan terbakar. Kebakaran menciptakan tutupan hutan sekunder, semak belukar dan padang alang-alang. Selain itu, masyarakat tradisional dengan pertanian berpindah juga akrab dengan api,sebagai alat bantu pembukaan lahan (Mertz et al., 2008). Peladang berpindah membuka hutan untuk dijadikan ladang, dan meninggalkannya untuk beberapa tahun (bera),

hingga bersukses menjadi hutan lagi. Introduksi pertanian lahan basah menetap di ekosistem gambut dalam skala luas (1 juta hektar) pernah dilakukan pada 1997 - 1998, yang mengubah ekosistem gambut menjadi sawah. Sayangnya, proyek raksasa ini gagal dan berdampak besar. Hingga saat, proyek itu menyisakan semak belukar di ekosistem gambut Kalimantan Tengah. Gambar 4.6 menunjukkan perubahan hutan pada 2000, menjadi berbagai penutupan lahan pada 2011. Sebagian besar hutan primer pada 2000 berubah menjadi hutan sekunder, semak belukar dan perkebunan, dan sebagian kecil menjadi hutan tanaman, lahan pertanian dan permukiman.

140

Gambar 4 .6. Perubahan hutan tahun 2000 menjadi tutupan lahan lain di tahun 2011 di Pulau Kalimantan

Penutupan Lahan Lain Transmigrasi Permukiman Tambang Lahan Terbuka Semak Belukar/Savana Tambak Sawah Pertanian Lahan Kering Perkebunan HTI Hutan Sekunder Hutan Primer 0 10 20 30 persen
Sumber: Kementerian Kehutanan

40

50

60

Pulau Papua
Provinsi Papua dan Papua Barat di dataran Sahul, dipisahkan garis Wallace dan garis Weber dengan dataran Sunda. Sumber daya hutan kedua provinsi ini sangat kaya dan memiliki endemisitas tinggi. Pada 2011, tutupan hutan di Papua dan Papua Barat mencapai 34 juta hektar, atau mencakup 82,2 persen wilayah kedua provinsi itu (Gambar 4.7). Sampai kini, tekanan terhadap hutan di kedua provinsi ini relatif kecil dibandingkan dengan provinsi lain. Tak mengherankan, perubahan tutupan hutan di Papua dan Papua Barat selama 2000 2011 sangat kecil (Gambar 4.8). Eksploitasi sumber daya hutan sebagian besar bersifat subsisten, sehingga tutupan hutan pada 2000 sebagian menjadi hutan sekunder, dan sangat sedikit yang berubah menjadi semak belukar, lahan perkebunan, pertanian dan permukiman (Gambar 4.9). Penutupan lahan yang cenderung menurun menuntutupaya menjaga dan meningkatkan tutupan hutannya perlu ditingkatkan. Di antaranya, kebijakan moratorium hutan, seperti Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola pada hutan alam primer dan lahan gambutkini diperpanjang lagi. Kunci keberhasilannya terletak pada kesadaran bersama untuk mengembalikan fungsi hutan yang rusak, menekan laju degradasi hutan dan deforestasi. Kesadaran itu mewujud dalam bentuk rehabilitasi, penanaman satu miliar pohon, pembangunan hutan tanaman rakyat, hutan rakyat, hutan kemasyarakatan serta hutan desa. Begitu jugapenegakan hukum serta standar verifikasi legalitas kayu.

141

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 4.7. Deforestasi Hutan Pulau Papua 2000 - 2011

Hutan Deforestasi Tutupan Lahan lainnya Sumber: Kementerian Kehutanan

142

Gambar 4.8. Perubahan tutupan hutan Provinsi di Pulau Papua


2011 2009 2006 2003 2000

Papua Barat Papua

5.000.000

10.000.00

5.000.000 hektar

20.000.000

25.000.000

Sumber: Kementerian Kehutanan

Gambar 4.9. Perubahan hutan tahun 2000 menjadi tutupan lahan lain di tahun 2011 di Pulau Papua
Penutupan Lahan Lain Transmigrasi Permukiman Tambang Lahan Terbuka Semak Belukar/Savana Tambak Sawah Pertanian Lahan Kering Perkebunan HTI Hutan Sekunder Hutan Primer 0 10 20 30 persen 40 50 60 70

Sumber: Kementerian Kehutanan

143

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Keberhasilan Kuningan Dalam Konservasi Hutan


Jawa yang dihuni 1.026 orang per km2 menjadi pulau terpadat di muka Bumi. Laju pertambahan penduduknya pun sangat tinggi: 2 persen lebih per tahun. Kepadatan dan peningkatan penduduk yang cepat dikhawatirkan memicu deforestasi. Contoh serupa dapat dilihat di Cina (Zhang, Uusivuori, and Kuuluvainen, 2000), Brazil (Andersen, 1996), Mexico (Barbier and Burgess, 1996), Thailand (Cropper, Griffiths, and Mani, 1997), Tanzania (Kaoneka and Solberg,1997) dan di Papua Nugini (Ningal, Hartemink and Bregt, 2008). Menurut Badan Planologi (2010), laju deforestasi di Jawa mencapai 13.520 hektar setiap tahun. Meski begitu, sebuah contoh menarik di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, bisa menjadi teladan bagi upaya perbaikan lingkungan. Antara 1997 hingga 2009, tutupan hutan Kuningan justru mengalami reforestasi (penghutanan kembali). Hal itu bisa dilihat pada Gambar 4.10, sedangkan peta penutupan lahannya disajikan Gambar 4.11. Perubahan dari deforestasi menjadi reforestasi dikenal dengan istilah forest transition (Transisi hutan). Teori forest transition pertama kali dikemukakan Mather (2004) ketika meneliti perubahan tutupan hutan di Skotlandia. Reforestasi di sana terjadi sebagai upaya untuk melepaskan ketergantungan kayu impor dari Inggris. Ada beberapa faktor yang menyebabkan reforestasi Kabupaten Kuningan terjadi: a) Keberhasilan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) Perhutani Program ini memberi keuntungan ekonomi bagi peserta PHBM. Selain boleh mengolah lahan hutan selama beberapa tahun, petani juga mendapatkan bagihasil saat kayu dipanen. Program ini juga memberi kepastian batas kawasan hutan dan lahan milik. b) Insentif ekonomi Harga kayu sengon ( Paraserianthes falcataria ) yang terus meningkat membuat petani bergairah menanam pohon. Siregar et al.(2007) menyatakan pada 2003 satu kubik kayu sengon seharga Rp 250 ribu, dan pada 2008, sudah mencapai Rp 600 ribu. Selama lima tahun mendatang, harganya akan mencapai Rp 1 juta per meter kubik. Strategi pengurangan kemiskinan melalui PHBM, juga berpengaruh pada rata-rata pendapatan rumah tangga.Dari penelitian di Kalimati, Japara, diketahui pendapatan rumah tangga atas akses lahan PHBM mencapai Rp 43.664,16 atau 6,60 persen dari total pendapatan per bulan. Sementara itu, nilai ekonomi dari akses lahan di luar lahan PHBM hanya Rp 3.383,33 (0,50 persen). Untuk Desa Jabranti mencapai Rp 33.664,58 atau 3,6 persen dari total pendapatan pendapatan per bulan, dengan perolehan dari pendapatan di luar lahan PHBM, Rp 35.197,56 (3,77 persen). c) Urbanisasi Banyak petani Kuningan juga bekerja di beberapa kota besar sebagai pekerja informal. Para petani ini memilih menanam pohon di ladangnya ketika bekerja di kota, karena tidak perlu perawatan intensif. d) Dukungan pemerintah daerah, Perhutani, lembaga donor dan LSM Berbagai program reforestasi dilakukan melalui PHBM, baik oleh pemerintah daerah, Perhutani, lembaga donor dan LSM. Tercatat pada 2003, para pihak tersebut mengalokasikan dana Rp 2,4 miliar untuk PHBM (Setiamihardja 2003). Dorongan lebih lanjut atas kehendak politik Kabupaten Kuningan pada saat menggagas dan menggulirkan PHBM, semakin dimantapkan melalui alokasi program PHBM dalam kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 5 tahunan.

144

Gambar 4.10. Diagram perubahan penutupan lahan Kab. Kuningan 1997, 1999, 2002, 2009
30.000,00 Luas Tutupan Lahan (ha) 25.000,00 20.000,00 15.000,00 10.000,00 5.000,00 0,00 1997 1999 Tahun
Sumber: Kementerian Kehutanan

2002

2009

Gambar 4.11. Peta perubahan tutupan lahan Kabupaten Kuningan tahun 1997, 1999, 2002, 2009

Sumber : Prasetyo, Damayanti dan Masuda, 2013

145

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Selain itu,pengarus-utamaan konservasi sumber daya alam juga dilakukan di berbagai bidang: (a) Deklarasi sebagai kabupaten konservasi dan telah dituangkan dalam visi dan misi Kabupaten Kuningan. (b) Penanaman pohon bagi pasangan yang akan menikah (Pengantin Peduli Lingkungan/ PEPELING). Program ini digagas pada 2005, untuk membangun tanggungjawab dan kesalehan sosial para calon pengantin bagi upaya penanganan lahan kritis, (c) Penanaman pohon setiap promosi jabatan (Aparatur Peduli Lingkungan/APEL) . Program ini khusus seluruh PNS Kabupaten Kuningan, (d) Program Seruan Siswa Baru Peduli Lingkungan (SERULING) . Program ini mendorong kesadaran siswa untuk mencintai pelestarian sumeber daya alam dan lingkungan, melalui gerakan penanaman siswa baru, SLTP dan SLTA, minimal 2-5 pohon tiap siswa, (e) Program Pengelolaan Kawasan Konservasi Bersama Masyarakat (PKKBM). Program ini diterapkan di Taman Nasional Gunung Ciremai, dalam bentuk modifikasi sistem pengelolaan taman nasional, ke arah yang berbasis komunitas. Diharapkan konsep PKKBM Kabupaten Kuningan akan menjadi teladan bagi konsep pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, yang cenderung kaku aturan, (f ) Pengembangan Model Desa Konservasi (MDK). Sampai 2013, telah terbangun 10 MDK di sekitar Gunung Ciremai, kerja sama antara Pemkab Kuningan dengan Dirjen Bangda (Kemendagri) dan satu desa kawasan hutan rakyat melalui peran APBD Kabupaten. Dampak positif yang diharapkan:terciptanya budaya konservasi, melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya hutan berimbang antara ekologi, sosial dan ekonomi, (g) P embangunan dan pengembangan hutan kota. Kebijakan membangun hutan kota 1 lokasi di setiap kecamatan, masih terus dilaksanakan. Sampai 2013, telah dibangun 17 hutan kota,

seluas 71,5 hektar. Hutan-hutan kota ini dibangun sesuai karakteristik dan tipologi setiap wilayah. Selain sarana rekreasi, juga bisa sebagai kantong-kantong konservasi. (h) Kerjasama hulu-hilir dalam pemanfaatan air. Mekanisme kerja sama dibangun untuk menumbuhkan komitmen pengguna di hilir (Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon) agar berkontribusi upaya-upaya pemeliharaan catcment area di hulu (Kabupaten Kuningan). Naiknya konsumsi air minum menuntut PDAM Kota Cirebon meningkatkan sumber air dari Kabupaten Kuningan. Lantas, Kuningan berupaya mengajak Kota Cirebon bekerja sama memelihara kelestarian Gunung Ciremai sebagai kawasan resapan air yang selama ini memasok kebutuhan air masyarakat Kota Cirebon. Kesepahaman untuk konservasi sumber mata air bisa diraih karena komitmen politik dari kedua pemimpin wilayah. Komitmen politik, dengan dukungan publik, mampu mendorong penyelesaian masalah air lintas-wilayah yang saling menguntungkan. Kerja sama ini disepakati pada 17 Desember 2004, berupa Perjanjian Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan Pemerintah Kota Cirebon, tentang Pemanfaatan Sumber Mata Air Paniis, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Perjanjian pembayaran jasa lingkungan itu merupakan bentuk kepedulian terhadap nilai hidrologis dan kelangsungan sumber air. Dana konservasi dimanfaatkan untuk pemeliharaan hutan, guna menyelamatkan sumber air lintas-wilayah. Dalam skema pembayaran jasa lingkungan ini diatur kewajiban masing-masing pihak. Besarnya dana kompensasi konservasi dihitung dengan menimbang produksi air dari sumber air, tarif yang berlaku sebelum diolah bagi pelanggan di Kota Cirebon, dan tingkat kebocoran air. Untuk 2005 misalnya, dana kompensasi konservasi Gunung Ciremai disepakati Rp1,75 miliar. Dengan satu catatan: dana kompensasi ini secara khusus untuk mendanai konservasi di zona resapan air Paniis sebagai sumber mata air. Skema pembayaran jasa lingkungan muncul karena Kota Cirebon tak punya sumber air baku air bersih

146

yang memenuhi syarat. Skema ini seiring dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Dengan begitu, pemerintah kabupaten dan kota yang memiliki sumber daya air memiliki wewenang mengupayakan menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).Contoh pembayaran jasa lingkungan Kota Cirebon kepada Kabupaten Kuningan mungkin dapat dikembangkan di daerah lain dalam berbagai variasi. Pengarusutamaan konservasi juga berbentuk produk hukum konservasi. Sejauh ini, produk hukum terkait konservasi yang dihasilkan Kabupaten Kuningan di antaranya: - Peraturan daerah Nomor 13 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Air,

- Peraturan daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pelestarian Satwa Burung dan Ikan, - Peraturan daerah Nomor 11 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kebun Raya Kuningan, - Perjanjian Kerja sama antara Kabupaten Kuningan dengan Kotamadya Cirebon Nomor 44 Tahun 2002 tentang Pemanfaatan Sumber Mata Air Paniiss, - Keputusan Bersama antara Bupati Kuningan dengan Bupati Cirebon Nomor 690/Kep.08Huk/2011 tentang Kerja sama Pemanfaatan Sumber Mata Air Cigusti, Cibodas, dan Talaga Nilam, - Surat Keputusan Bupati Kuningan Nomor 522/ Kep.01-HUTBUN/2006 tentang Penetapan Tanaman Endemik dan Langka Lokal Kabupaten Kuningan.

PENGENDALIAN KERUSAKAN SUNGAI


Sungai Ciliwung
Ciliwung merupakan sungai lintas-batas provinsi yang mengalir di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung seluas 521 km 2, sungai utamanya mengalir sepanjang 109,7 km, dengan kemiringan rata-rata 1/70 (6,3 1.500 m dpl). Daerah Aliran Sungai Ciliwung membentang dari kaki Gunung Pangrango di Puncak, Kabupaten Bogor, sampai ke Teluk Jakarta, seperti nampak pada gambar 4.12. Topografi Sungai Ciliwung di bagian hulu berupa perbukitan atau pegunungan, sedangkan di hilir berupa dataran rendah. Berdasarkan PP Nomor 47 Tahun 1997, tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Nasional (RTRWN),kawasan sepanjang Sungai Ciliwung diperuntukkan: 1) Wilayah hulu, kawasan konservasi dan pendayagunaan sumber daya alam, seperti penghijauan, sumur resapan, parit, revitalisasi situ dan penyediaan air baku pedesaan; 2) Wilayah tengah, kawasan andalan penyangga DKI Jakarta dan kawasan tertentu Jabodetabek (konservasi dan pendayagunaan sumberdaya air); dan 3) Wilayah hilir, kawasan andalan DKI Jakarta (mencakup pengendalian daya rusak: normalisasi sungai dan muara, pembuatan waduk pengendali banjir, dan pembuatan kanal banjir) Selain sebagai kawasan resapan air utama bagi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan penyangga bagian hilir, bagian hulu DAS Ciliwung juga berkembang menjadi kawasan wisata, perdagangan dan jasa. Selain itu, di sebagian bantaran Sungai Ciliwung bagian hulu telah dipadati penduduk. Kondisi DAS Ciliwung semakin memprihatinkan dan menanggung beban pencemaran dengan menyusutnya luas tutupan lahan di hulu. Hal itu lantaran tingginya alih fungsi lahan serta masuknya limbah domestik, limbah peternakan dan pertanian, maupun limbah industri.

147

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 4.12. Peta lokasi Sungai Ciliwung

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Sekitar 80 persen air Sungai Ciliwung telah tercemar air limbah domestik.Sementara itu, sisa limbah berasal dari usaha skala kecil (peternakan dan pertanian) dan industri. Sampah yang bertumpuk di DAS Ciliwungtak bisa dipungkiri, mengingat kesadaran masyarakat yang relatif rendah. Beberapa lokasi sepanjang bantaran sungai di bagian hulu, telahmenjadi permukiman padat, sehingga meningkatkan volume sampah dan pencemaran air. Hal ini lantaran kurangnya fasilitas pembuangan sampah dan pengolahan air limbah domestik. Sayangnya, hal serupa juga terjadi di beberapa lokasi di bagian hilir, dengan tumpukan sampah di sejumlah titik bantaran sungai. Secara umum, kondisi DAS Ciliwung semakin memburuk, dengan meningkatnya sedimentasi karena erosi dan penyempitan sungai karena rumahrumah liar yang berjejer di bantaran sungai. Limbah cair dan limbah padat manusia, secara langsung dan tidak, masuk ke badan air. Dampaknya bisa ditebak: menurunkan kualitas air sungai dan kualitas lingkungan secara umum. Merosotnya kualitas air dan daya dukung lingkungan ini juga dipengaruhi kesadaran masyarakat dan pelaku usaha terhadap lingkungan. Dari analisis dan ekstraksi Citra Satelit Landsat dari 2000 sampai 2010, diketahui DAS Ciliwung telah mengalami

degradasi lahan, yang ditunjukkan dengan alih fungsi lahan yang signifikan. Hal itu terlihat pada Gambar 4.13. Gambar 4.14 memperlihatkan tutupan lahan DAS Ciliwung pada 2010. Konversi fungsi lahan telah menyebabkan DAS Ciliwung semakin dikepung permukiman penduduk. Pemukiman di bantaran sungai juga menyebabkan penyempitan dan pendangkalan di bagian hilir. Permukiman padat berdampak pada naiknya laju aliran permukaan, karena tidak adanya resapan air. Akhirnya,debit Sungai Ciliwung sangat tinggi pada musim hujan, namun saat musim kemarau, menjadi surut. Konversi lahan itu meningkatkan potensi bencana lingkungan: banjir dan tanah longsor. Pencemaran yang tinggi karena meningkatnya sumber pencemar ke arah hilir turut menurunkan kualitas air DAS Ciliwung. Berdasarkan perhitungan Storet (KepMenLH Nomor 115 Tahun 2003) yang dibandingkan dengan Kriteria Mutu Air Kelas IIPP Nomor 82 Tahun 2001, status mutu air aliran utama DAS Ciliwung telah tercemar berat, seperti terlihat pada gambar 4.16. Pencemaran kian memburuk di wilayah hilir Ciliwung. Beratnya beban pencemar dipengaruhi tingginya jumlah bakteri Fecal Coliform maupun Total Coliform dari limbah padat manusia dan binatang. Pencemaran

148

berat, atau kadar BOD dan COD yang tinggi,terutama di bagian hilir, membuat ketersedian oksigen sangat rendah.Bahkan tidak ada. Tentu saja, hal ini sangat mengganggu kehidupan biota air sungai. Hasil penelitian Puslit Biologi LIPI selama 1910-2009

menyimpulkan, 92 persen ikan di Ciliwung sudah punah, sementara 66,7 persen mollusca, udang dan kepiting juga telah mengalami kepunahan (Kompas, 15/11/2011). Saat ini, hanya dijumpai 20 jenis ikan, padahal di era 1910-an Sungai Ciliwung memiliki 187 jenis ikan (Tim puslit Biologi-LIPI, 2009).

Gambar 4.13. Perubahan Luasan Hutan dan Permukiman DAS Ciliwung, Tahun 2000-2010

40.000 35.000 30.000 25.000 Luas (Ha) 20.000 15.000 10.000 5.000 0 4.918

Hutan Pemukiman 31.169 24.832 32.195 35.167

35.503

35.503

4.162

1.662 2007

1.265 2008 Tahun

1.245 2009

1.245 2010

2000

2005

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 4.14. Proporsi Perubahan Tutupan Lahan DAS Ciliwung Tahun 2000-2010
40.000 35.000 Luas Lahan (hektar) 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000
Kebun/Perkebunan Tambak/Empang Tegalan/Ladang Semak/Belukar Tanah Terbuka Permukiman Tubuh Air Hutan Sawah Rawa

2000 2005 2007

2008 2009 2010

Tutupan Lahan

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

149

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 4.15. Peta Tutupan Lahan DAS Ciliwung .tahun 2010

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gambar 4.16. Status mutu hulu-hilir DAS Ciliwung Tahun 2010-2012 berdasarkan KMA Kelas II PP 82/2001
0 -20 -40 -60 -80 -100 -120 -140 -160
Memenuhi Cemar Sedang

Scor

Cemar Berat

SC2.Jemb Leuwimalang

SC10.Mangga Dua Hilir

SC8.Ciliwung akses UI

SC1.Mjd Nurul Iman

SC4.Bdg Katulampa

ASC10.YPM Manggarai

ASC3.Cikapancilan

SC6.Kedung Halang

SC7.Permata Depok

CS5.Jemb Sempur

SC3.Jemb Gadog

SC9.Manggarai

ASC4.Ciparigi

ASC7.Sugutamu

ASC8.Cijantung

ASC6.CiKumpa

KA11.Pik-Hilir

ASC2.Cibudik

ASC1.Ciesek

ASC5.Ciluar

ASC9.Condet

Hulu

2010 2011 2012 Berat ar Cem Sedang ar Cem uhi en Mem

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

150

Kerusakan dan merosotnya kualitas air yang terjadi di DAS Ciliwung melecut adanya program pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan yang tertuang dalam lampiran Raperpres Ciliwung, Rencana Umum (Kualitatif ) Pengendalian Pencemaran Air Sungai Ciliwung ( Tahun 2010-2030). Program ini melibatkan berbagai pihak secara terpadu sebagai berikut: a) Program Pengendalian Pencemaran Air 1. Penanganan limbah domestik, meliputi: a) Pengolahan limbah cair komunal, b)Pembangunan jaringan drainase air limbah perkotaan, serta c) Pembuatan septictank komunal. 2. Penanganan limbah industri, meliputi: a) Identifikasi sumber dan jenis pencemar, serta b) Pelaksanaan PROKASIH dan PROPER. 3. Pengelolaan sampah (3R), meliputi : a) Pengelolaan sampah terpadu, b) Pengomposan sampah, serta c) Pemusnahan sampah dengan incinerator. 4. Pengendalian penggunaan pupuk pertanian, yang meliputi : a) Penggunaan pupuk ramah lingkungan (substitusi pupuk kimia dengan pupuk organik), b) Pengendalian penggunaan pestisida sintetis. b) Program Pengendalian Kerusakan Lingkungan 1. Penanganan lahan kritis, meliputi: a) Reboisasi/ penghijauan lahan terbuka/kritis, b) Rehabilitasi dan penanaman kanan-kiri sungai yang masih terbuka, c) Hutan kota dan penghijauan lingkungan, d) Agroforestry, e) Konservasi tanah pada lahan pertanian, serta f ) Penerapan insentif dalam gerakan penghijauan wilayah hulu sungai. 2. Penanganan daerah resapan, meliputi : a) Pemeliharaan situ, b) Pembuatan sumur resapan, serta c) Perbanyakan waduk-waduk resapan. 3. Pengendalian penyempitan sungai, yang meliputi : a) Penetapan sempadan sungai, serta

b) Pembebasan dan penataan sempadan. c) Program penataan ruang Program penataan kawasan, meliputi: a) Revisi tata ruang, serta b) Sistem monitoring dan pengawasan tata ruang. d) Program Penegakan Hukum Program penegakan hukum, meliputi: a) Penegakan hukum pelanggar tata ruang, b) Penegakan hukum bagi kasus pencemaran lingkungan, c) Peneguran dan pencabutan izin operasi bagi setiap industri yang tidak memiliki IPAL, d) Sentralisasi dan pengolahan limbah cair industri kecil. e ) Program Peningkatan Peran serta Masyarakat 1. Pembinaan dan partisipasi masyarakat, meliputi: a) Pembentukan dan pembinaan forum (kelompok) peduli Ciliwung, b) Pelibatan forum peduli Ciliwung dalam berbagai kegiatan pengelolaan Sungai Ciliwung, c) Penyertaan forum/masyarakat dalam demplot (pembuatan terasering, bangunan konservasi, kompos dari sampah, gas bio dari kotoran hewan), d) Sosialisasi (bahaya akibat pembuangan sampah ke sungai, pentingnya gas bio sebagai pengganti bahan bakar, IPAL industri skala kecil dan domestik terpadu), e) Pelatihan (pembuatan gas bio, kompos, septictank komunal, pengelolaan limbah secara sederhana), serta f ) Pelibatan dunia usaha/swasta dalam kegiatan pengelolaan lingkungan Sungai Ciliwung. 2. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, meliputi: a)Pelatihan untuk meningkatkan keterampilan produktif masyarakat, serta b) Pembinaan ekonomi (usaha produktif ) masyarakat. Kementerian Lingkungan Hidup, sepanjang 2006 2011 melakukan pemulihan kualitas air Sungai Ciliwung, seperti tertuang dalam gambar 4.18.

151

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Garis Besar Rencana 2012 - 2015


Restorasi Sungai Ciliwung

Gambar 4.17. Garis Besar Rencana Restorasi Sungai Ciliwung Tahun 2012 - 2015
201 2

Awal pelaksanaan per contohan


Awal Pelaksanaan Percontohan Desain IPAL (6 Bulan dari bulan November) *1 IPAL (Q=500 m3/d) *Fasilitas Landscape menggunakan air

20 Restora s i S ung a i Cil iw ung

Desain IPAL bulan d Konstruksi &(6 Sarana Utama ari bulan November) * 1 IPAL (Q=500m3/d) Pembangunan Pondasi * Fasilitas Landscape menggunakan air limb ah IPAL
Pengerukan Sungai

IPAL di di bawah tanah IPAL bawah tanah

13 Konstruksi dan Sara Percontohan penyelesaian pem na Utama Evaluasi bangunan konstru Pengerukan s Selama menunggu Penyelesaian Model l ungai pembangunanksi IPAL dan Saran penyelesaian Percontohan Percontohan konstruksi IPAL dan Sarana a Utama Pembanguna Utama Evaluasi Model Percontohan Pengop n Pondasi Penyiapan Rencan Pengoperasian Pusat n Pusat Penyiapan Rencana Lanjutan Pembelajaran IPAL a lanjutan Restora Pembelajara Serah Terima si Sungai di Indone Serah te sia Rencana Indonesian River ekerjaan Restoration Model Rencana Ind da Peme Awal dimulainya Pelaksanaan n River Restor Daerah Model elola Ist Awal dimulain aksanaan Res Sungai Ciliwu Pusat Pendidikan Pusat Pendidikan dari Tahun 20
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

20 14 Selama menunggu

20 15 Penyelesaian

Gambar 4.18. Pilot Project Pemulihan Kualitas Lingkungan Sungai Ciliwung Tahun 2006 - 2011

Pilot Project Pemulihan Kualitas Lingkungan Sungai Ciliwung Tahun 2006 - 2011
Model IPAL Limbah Domestik di Condet (Jakarta timur) dan Cilandak ( Jakarta Selatan) WC/Septictank Komunal, IPAL Limbah Domestik, IPAL Biogas Limbah Tahu Biogas Limbah Ternak Sapi, WC/Septictank Komunal, IPAL Limbah Domestik, IPAL Limbah Padat/Sampah (3-R) Biogas Limbah Tahu, Biogas dari Limbah Tapioka, WC/Septictank Komunal, IPAL Limbah Padat/Sampah (3-R) Biogas Limbah Ternak (Sapi), Penangkap Sedimen (Sediment Trap), Sumur Resapan dan Lubang Resapan Biopori
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

152

Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung di kawasan Bogor di sejumlah titik semakin terimpit perkampungan penduduk, vila, dan hotel Foto: Kompas/Riza Fathoni

153

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sungai Citarum
Citarum adalah sungai besar dan terpanjang di Jawa Barat,yang melintasi sejumlah kabupaten, sepanjang 300 km. Citarum berkategori sungai super-prioritas berdasarkan keputusan bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 1984; Menteri Kehutanan Nomor 059 Tahun 1984 dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 124 Tahun 1984. Luas DAS Citarum sekira 7.400 km2 yang secara fisik ekologis terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, bagian hulu seluas 1.771 km 2, dengan batas antara Majalaya sampai inlet Waduk Saguling. Kedua, bagian tengah seluas 4.242 km2, dari inlet Waduk Saguling sampai outlet Waduk Jatiluhur. Ketiga, bagian hilir dari outlet Waduk Jatiluhur sampai muara di Laut Jawa, seluas 1.387 km2. Sungai Citarum bersumber di Gunung Wayang, Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Bandung, yang mengalir melalui Majalaya. Selanjutnya, mengalir ke bagian tengah Jawa Barat dari selatan ke arah utara; dan akhirnya bermuara di Laut Jawa di Muara Gembong. Citarum melewati empat Kabupaten: Bandung, Cianjur, Purwakarta dan Karawang, seperti terlihat pada gambar 4.19

Gambar 4.19. Peta wilayah DAS Citarum

DAS Citarum

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum

154

Gambar 4.20. Perubahan tata guna lahan di DAS Citarum yang menekan kondisi Sungai Citarum Tahun 1994 - 2005

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Sungai Citarum pun menjadi sumber energi listrik dengan tiga waduk besar. Pada 1963 dibangun Waduk Jatiluhur dengan kapasitas 3.000 m3, disusul Waduk Saguling pada 1986 berkapasitas 982 juta m 3, lantas Waduk Cirata yang dibangun pada 1988, berkapasitas 2.165 juta m3. Sebagai waduk serbaguna dan tertua di Sungai Citarum, Jatiluhur juga memasok air baku PDAM di Jakarta, air baku industri, irigasi, perikanan, penggelontoran, pengendali banjir dan sarana rekreasi. Secara hidrologis, DAS Citarum memiliki curah hujan rata-rata 2.300 mm per tahun, atau berdebit hingga 5,7 miliar m 3 per tahun. Debit Citarum sangat fluktuatif antara musim hujan dan musim kemarau. Ini berarti DAS Citarum tergolong kritis. Lantaran alirannya melewati pemukiman dan industri yang luas dan beragam, kondisi Citarum kian menurun. Populasi yang tinggal di DAS Citarum meningkat pesat, yang memberi tekanan bagi kualitas dan kuantitas sungai. Pada 2000, penduduk wilayah ini 6.178.955 jiwa, meningkat 7.867.006 jiwa pada 2010. Jumlah ini akan terus berkembang, yang bisa mencapai 11.382.200 jiwa pada 2025. Populasi ideal yang mendiami kawasan ini semestinya 3 - 4 juta jiwa. Masyarakat di sepanjang Sungai Citarum mulai terancam pemenuhan air bersihnya, karena kualitasnya terus menurun. Penurunan kualitas air Citarum disebabkan banyak hal, diantaranya karena aktivitas domestik, industri dan pertanian. Kegiatan domestik menjadi penyumbang utama pencemar. Sedikitnya 65 persen pencemar

berasal dari kegiatan domestik, sisanya dari limbah industri dan pertanian. Beragam industri berkembang di DAS Citarum, terutama industri tekstil yang berlimbah warna dan logam berat. Seperti limbah pertanian, limbah industri banyak mengandung fosfor dan nitrogen, yang membuat perairan kaya nutrisi. Dampaknya, perairan mengalami penyuburan berlebihan (eutrofikasi) yang terlihat dari pertumbuhan alga dan gulma yang tak terkendali. Salah satu gulma adalah enceng gondok yang mampu berkembang biak sangat cepat. Gulma ini menyesaki Sungai Citarum, yang menghalangi penetrasi sinar matahari dan pelarutan oksigen. Hal ini dapat merusak ekosistem perairan Sungai Citarum. Karena pendangkalan, areal persawahan semakin kekurangan air, dengan kualitas yang juga memburuk. Tak pelak lagi, hal itu mempengaruhi kualitas hasil pertanian. Ratusan keramba apung di tiga waduk DAS Citarum telah meningkatkan pencemaran. Pemberian pakan ikan yang tidak proporsional telah meningkatkan unsur hara dan mempercepat sedimentasi waduk. Di beberapa segmen Sungai Citarum, terutama Citarum Hulu dan Pantai Utara, sering terjadi banjir. Ini terkait erat dengan kawasan hulu dan alih fungsi lahan di cekungan Bandung yang meningkatkan jumlah air larian dan tinggi muka air sungai seperti terlihat pada gambar 4.20. Laju sedimentasi meningkatkan laju pendangkalan, yang mengurangi daya tampung Sungai Citarum. Laju sedimentasi diperkirakan sebesar 0,7 - 1,7 juta ton setiap tahun.

155

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Akibat alih fungsi lahan,jumlah air larian ( run off ) di cekungan Bandunghulu DAS inisebesar 3.634 juta m 3 setiap tahun. Tak mengejutkan, volume air sungai cenderung meningkat, karena menampung air larian seperti terlihat pada gambar 4.21. Kebutuhan air baku untuk air minum pun semakin meningkat, sedangkan jumlah ketersediaan air tetap. Pada saat yang sama, pengambilan air tanah-dalam makin intensif. Hal ini membuat muka air tanah turun dan penurunan permukaan tanah. Daerah yang berpotensi kekurangan air baku adalah Bandung, Bekasi, dan Karawang (Pantura). Pengelolaan air Sungai Citarum saat ini ditangani Perusahaan Umum Jasa Tirta (PJT ) II. Data historis 2002 2012 menunjukkan hulu DAS Citarumantara Wangisagara dengan Nanjung, tercemar fecal coliform , sulfida, dan fenol, yang merupakan tiga tanda utama penurunan kualitas sungai. Fecal coliform

adalah parameter tipikal limbah domestik; fenol: parameter tipikal limbah industri; sedangkan sulfida bisa berasal dari domestik maupun industri. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi diferensiasi polutan dari sumber domestik menjadi domestik dan nondomestik setelah 2005. Dari indeks pencemaran (IP) nampak Sungai Citarum, dari hulu (Wangisagara) hingga Nanjung (sebelum masuk Waduk Saguling) telah tercemar sedang hingga berat. Limbah domestik memang menjadi pencemar utama Sungai Citarum. Keterbatasan infrastruktur sanitasi menyebabkan limbah domestik sampai ke badan air tanpa melalui pengolahan. Pertumbuhan populasi, yang ditandai kian banyaknya rumah, tidak diiringi dengan peningkatan infrastruktur sanitasi. Sementara fasilitas jaringan air kotor di cekungan Bandung hanya terdapat di kota Bandung. Tingkat pelayanannya pun baru mencapai kurang dari 60 persen.

Gambar 4.21. Jumlah aliran air per tahun Sungai Citarum Tahun 1963-2008
9.000 8.000 7.000
(Juta m3)

6.000 5.000 4.000 3.000

(5,3 milyar m3)

(5,8 milyar m3)

(5,6 milyar m3)

(6,0 milyar m3)

(4,4 milyar m3)

15 10 IP 5 0

Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanjung Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanjung Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nan jung Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanjung Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanjung Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanjun g Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanju ng Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanju ng Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuh Kolot Burujul Nanju ng

2002

1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Sumber : Balai Besar Wilayah Sungai Citarum

Gambar 4.22. Indeks pencemaran di segmen sungai Citarum hulu

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Sumber: Marganingrum, dkk, 2013

156

Gambar 4.23. Peningkatan fasilitas sanitasi di cekungan Bandung Tahun 2000-2011

102 100 98 96 94 92 90 88 86 84 82 2000 2001 2002

59,05 Jumlah SR Persentase 57,21

60 59 58 57 56 55 54 53 52 51 50 49 2011

Jumlah SR

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Tahun
Sumber: Marganingrum dkk. (2013)

Sebuah perahu terdampar di tengah Sungai Citarum yang berubah menjadi rawa-rawa dangkal dan dipenuhi sampah Foto: TEMPO/Prima Mulia

157

2010

(%)

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sungai Cisadane
Kualitas air Sungai Cisadane yang melewati Tangerang juga semakin menurun. Padahal, air sungai ini sumber utama bahan baku air minum bagi penduduk kabupaten itu. Berdasarkan penelitian Balai Lingkungan Hidup (BLHI) Tangerang pada 2010, beberapa parameter telah melampui ambang batas normal. Secara umum, partikel kimia telah melewati ambang batas normal, yang sebagian besar disebabkan limbah rumah tangga, kotoran hewan, dan pasar. Itu terlihat dari hasil monitoring di delapan titik: Intake PDAM, Cisadane Cihuni, Cisadane Jembatan Gading Serpong, Cisadane Jembatan Cikokol, Cisadane Jembatan Robinson, Cisadane Bd Pasar Baru, Cisadane Bayur, dan Cisadane-Kali Baru. Perhitungan status mutu didasarkan pada hasil analisis air sungai selama lima tahun terakhir selama 2004 - 2008, dengan metoda Storet dan Indeks-Pencemaran (IP). Berdasarkan metode Storet, dapat disimpulkan tingkat pencemaran air Sungai Cisadane cenderung meningkat di setiap titik pantau; kondisi terburuk terjadi pada 2008. Untuk melihat kecenderungan status pencemaran dari hulu ke hilir dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Status Pencemaran di Segmen Sungai Cisadane

Titik Pantau
Cisadane Intake PDAM Cisadane Cihuni Cisadane Jbt Gading Serpong Cisadane Jbt Cikokol Cisadane Jbt Robinson Cisadane Bd Pasar Baru Cisadane Bayur

Kelas I Skor -88 -100 -100 -96 -80 -80 -80 -80 D D D D D D D D Status Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Skor -68 -76 -80 -88 -64 -64 -72 -72

Kelas II Status D D D D D D D D Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Skor -38 -42 -46 -44 -44 -48 -42 -42

Kelas III Status D D D D D D D D Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Skor -34 -38 -38 -36 -44 -36 -38 -38

Kelas IV Status D D D D D D D D Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat Berat

Cisadane Jbt Kali Baru

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Foto: Istimewa

158

Dari tabel 4.1, terlihat semua titik pantau DAS Cisadane, dari hulu ke hilir, berstatus tercemar berat dan tidak termasuk dalam kelas manapun. Parameter utama

berdasarkan baku mutu kelas III yang menyebabkan pencemaran DAS Cisadane disajikan pada gambar 4.24.

Gambar 4.24. Tingkat pencemaran Sungai Cisadane

-60 -50 -40 -30 -20 -10 0


Cisadane Jbt Gading Serpong

Seng Total/Zn pH Oksigen Terlarut/DO BOD COD EColi

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

Gangguan kualitas air Sungai Cisadane disebabkan oleh pencemaran limbah domestik dan industri, pertanian, fluktuasi aliran sungai, erosi, dan sedimentasi. Parameter pencemar yang selalu muncul di tiap titik pantau dari hulu ke hilir adalah bakteri E. coli , total coliform, nitrit, dan oksigen terlarut. Parameter pencemar chemical oxygen demand (COD) hampir terdapat di setiap titik pantau, kecuali di

Cisadane Cihuni dan Cisadane Jembatan Gasing Serpong. Parameter pencemar total seng terdapat di titik pantau Cisadane Jembatan Gading Serpong; dan parameter biochemical oxygen demand (BOD ) hanya di Cisadane Jembatan Cikokol. Parameter pencemar pH terdapat di empat titik pantau: Cisadane Cihuni, Cisadane Jembatan Gading Serpong, Cisadane Jembatan Robinson, dan Cisadane Bd Pasar Baru.

159

Cisadane Jbt Kali Baru

Cisadane Jbt Robinson

Cisadane Intake PDAM

Cisadane Jbt Cikokol

Cisadane Bd Pasar Baru

Cisadane Cihuni

Cisadane Bayur

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sungai Brantas
Daerah aliran sungai (DAS) Brantas membentangseluas 12.000 km 2, mengalir sepanjang 320 km. Sungai ini melingkari Gunung Kelud seperti terlihat pada gambar 4.25. Sumber air Sungai Brantas bermula di lereng Gunung Arjuna dan Anjasmara, Kota Batu, lalu mengalir ke Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, dan akhirnya ke Surabaya (Selat Madura atau Laut Jawa). Penduduk yang tinggal di wilayah Kali Brantas mencapai 13,70 juta (1994) atau 43,2 persen dari populasi Jawa Timur dengan kepadatan rata-rata 989 orang per km 2. Ini berarti 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan kepadatan rata-rata Jawa Timur. Di sepanjang alirannya terdapat sekitar 1.000 industri, terdiri dari industri kertas, gula, minuman, tekstil, makanan, peternakan, daging, susu, minyak goreng, sabun, baja dan pelapisan logam serta industri kimia (sumber Laporan BLH Jatim).

Gambar 4.25. Peta DAS Brantas

Sumber: Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jawa Timur

Mirip sungai-sungai utama yang lain, kualitas daerah aliran sungai Brantas juga semakin memburuk. Tingginya pencemaran limbah industri, rumah tangga, dan permukiman padat di sepanjang aliran Brantas, membuat sungai utama di Jawa Timur ini semakin terancam masa depannya. Sungai Brantas mengalir sepanjang 320 km dari Sumber Brantas, lereng Gunung Arjuna dan Anjasmara, Kota Batu, Malang, lalu mengalir ke Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya (Selat Madura atau Laut Jawa). Jumlah penduduk yang berdiam di wilayah aliran Sungai Brantas mencapai 14 juta jiwa atau 40 persen dari total populasi Jawa

Timur. Meski berperan besar bagi kehidupan masyarakat, namun tingkat pencemaran sungai ini telah melewati ambang batas, yang berpengaruh negatif bagi kehidupan masyarakat dan biota. Pencemar berasal dari beragam sektor: domestik, pertanian, taman rekreasi, pasar, hotel, rumah sakit, dan industri. Pemantauan dengan metode Storet dilakukan di 25 titik sampling untuk melihat status Brantas. Air yang tercemari sampah akan mengandung besi, sulfat, dan bahan organik yang tinggi ditambah kondisi BOD dan COD yang melebihi standar air permukaan.

160

Gambar 4.26. Status Mutu DAS Brantas Tahun 2012 dibandingkan dengan KMA Kelas II PP 82/2001.
0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 -70 -80 -90 Memenuhi Cemar Sedang

Scor

Cemar Berat

Sebelum Intake PDAM Jemb Karangpilang

Bend Gunungsari

Jemb Kademangan

WWG Kali Tengah

Jemb Kertasono

Jemb Sepanjang

Jemb Sengguruh

Hulu Kali Tengah

Jemb Ngujang

Jemb Meritjan

Jemb Kali Pare

Jemb Legundi

Jemb Gadang

Jemb Canggu

Jemb Perning

Jemb By Pass

Jemb Pendem

Jemb Padangan

Tamb Cangkir

Jemb Dinoyo

Jemb Porong

Status Mutu Memenuhi Batas Cemar Ri ngan Batas Cemar Be rat

Kali Brantas

Kali Porong

Kali Surabaya

Tamb Bambe

Kali Tengah

Sumber: Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jawa Timur

Kebijakan operasional dalam pengelolaan sumber daya air WS Brantas meliputi bidang : 1) Konservasi, 2) Pendayagunaan sumber daya air, 3) Pengendalian daya rusak air, 4) Sistem informasi sumber daya air, dan 5) Peran serta masyarakat. Konservasi Sumber Daya Air Konsep kebijakan operasional pada aspek konservasi sumber daya air di WS Brantas diarahkan antara lain : - Melakukan penghijauan - Memberikan sangsi bagi pelanggar konservasi, - Mengikutsertakan masyarakat dalam konservasi, menjalin koordinasi antar lembaga/instansi pengelola SDA dalam pengelolaan SDA serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam usaha konservasi, - Memantau kualitas air secara rutin, mengembangkan sistem perizinan pembuangan limbah, meningkatkan kapasitas pengelolaan limbah industri yang ada dan mengembangkan instalasi pengelolaan limbah cair secara komunal, Untuk itu, ditempuh upaya: 1. Perlindungan dan pelestarian sumber daya air, dengan metode vegetatif dan sipil teknis melalui pendekatan sosial, ekonomi dan budaya, serta GNKPA dan GNRHL. 2. Pengelolaan kualitas dan pengendalian

pencemaran air, untuk mempertahankan, memulihkan kualitas air serta mencegah terjadinya pencemaran sumber air.

Pendayagunaan Sumber Daya Air Konsep kebijakan operasional pada aspek pendayagunaan sumber daya air di WS Brantas diarahkan untuk: - Memantau dan mengevaluasi pengambilan air, sosialiasi pemakaian air secara efisien dan mengembangkan teknologi untuk efisiensi air, serta memberi sanksi bagi yang mengambil air secara liar, - Menyusun peraturan perundangan air tanah di tingkat operasional, memberi pembinaan atau sanksi bagi masyarakat yang mengambil air tanah tanpa izin, - Memperbaiki, meningkatkan dan memelihara jaringan irigasi yang ada, melakukan kegiatan O&P waduk secara rutin dan berkala sesuai standar yang ditetapkan, serta mengembangkan budidaya padi dengan metode SRI ( System of Rice Intensification )

Penanggulangan Daya Rusak Air a. Perlindungan tebing sungai, b. Normalisasi sungai, c. Pemeliharaan retarding basin.

161

Jemb Bambe

Jemb Ploso

Temb Tlocor

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemulihan Daya Rusak Air a. Rehabilitasi bangunan waduk dan bangunan air lainnya, b. Rehabilitasi konstruksi tebing sungai dan tanggultanggul, c. Pengerukan waduk, d. Normalisasi sungai. Peran Serta Masyarakat & Sistem Informasi Sumber Daya Air Pengembangan dan pengelolaan sumber daya air memerlukan penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab setiap pemangku kepentingan. TKPSDA WS Brantas, Institusi Dewan Sumber Daya Air Nasional dan Dewan Sumber Daya Air Provinsi/Kabupaten, selain sebagai instrumen kelembagaan untuk mengendalikan

berbagai potensi konflik air, juga untuk memantapkan mekanisme koordinasi, baik antar-institusi pemerintah, maupun antara institusi pemerintah dengan institusi masyarakat. Aspek peran serta masyarakat dan sistem informasi sumber daya air di WS Brantas diarahkan untuk: - Melaksanakan sosialisasi sistem informasi yang terintegrasi kepada pemangku kepentingan secara bertahap dan menciptakan sistem basis data dan utilitas untuk pelayanan informasi serta konsistensi penyediaan informasi yang akuntabel, - Membentuk Dewan Sumber Daya Air pada jenjang propinsi dan kabupaten/kota secara bertahap, - Meningkatkan dukungan masyarakat dalam pengelolaan wilayah sungai dan penyediaan biaya pada perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengawasan, O&P (Sumber Departemen Pekerjaan Umum,2010).

Foto: Istimewa

162

GERAKAN PENYELAMATAN DANAU


Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan) merupakan tindak lanjut Kesepakatan Bali dan Konferensi Nasional Danau Indonesia II (KNDI II) di Semarang, 2011. Gerakan ini dilakukan melalui upaya integrasi dan sinergi program antarsektor pada sembilan kementerian. Pengelolaan danau prioritas sesuai dengan Kesepakatan Bali, dilakukan dengan: 1. Penataan ruang kawasan danau 2. Penyelamatan ekosistem perairan badan air 3. Penyelamatan ekosistem lahan sempadan danau 4. Penyelamatan DAS dan DTA danau 5. Pemanfaatan sumber daya air danau 6. Pengembangan sistem monitoring, evaluasi dan informasi danau 7. Pengembangan kapasitas, kelembagaan dan koordinasi 8. Peningkatan peran masyarakat Terdapat 15 danau dengan prioritas penyelamatan: Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Manijau dan Danau Singkarak (Sumatera Barat), Danau Kelinci (Jambi), Rawa Danau (Banten), Danau Rawapening (Jawa Tengah), Danau Batur (Bali), Danau Tempe dan Danau Limboto (Gorontalo), Danau Sentarum (Kalimantan barat), Danau Cascade Mahakam (Semayang, Melintang, Jempang, Kalimantan Timur), dan Danau Sentani (Papua). Selain 15 danau itu, dilakukan pula penyelamatan Danau Ayamaru di Kabupaten May Brat, Provinsi Papua Barat. Danau ini memiliki ciri khas yang bahkan belum tercatat dalam literatur tipologi danau. Danau Ayamaru berada di kawasan karst yang berlimpah sumber daya air di bawah batuan dan bersimbah keanekaragaman hayati.

Danau Limboto
Danau Limboto terletak di Kabupaten Gorontalo dan kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Upaya penyelamatan daerah tangkapan airnya dengan pembuatan trap sedimen bersama masyarakat di delapan titik Desa Molamahu, Kecamatan Pulubala. Upaya menggandeng masyarakat ini karena masyarakat sekitar danau telah memahami teknologi pemanfaatan bambu. Sedangkan stock pile di Desa Hutadaa dan Desa Buhu, Kecamatan Telaga Jaya. Sesuai komitmen Kesepakatan Bali tentang Pengelolaan Danau Berkelanjutan, Kementerian Pekerjaan Umum, pada 2012 melakukan kegiatan fisik dalam menyelamatkan danau ini, meliputi pengerukan sedimen; pengembangan sabuk hijau ( green belt ); dan pembangunan jalan lingkar danau.

Danau Singkarak
Danau ini hulu Batang Ombilin yang terletak di dua kabupaten, Solok dan Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Airnya melewati terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai, untuk menggerakkan generator pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Singkarak berkekuatan 170 MW, di dekat Lubuk Alung, Padang Pariaman. Singkarak merupakan danau terluas di Sumatera Barat, dan terluas kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Luasnya mencapai 107,8 kilometer persegi, dengan panjang maksimum 21 kilometer dan lebar 7 kilometer. Danau ini berada pada 362 m di atas permukaan laut. Kedalaman maksimum mencapai 268 meter, sementara volume air sebesar 16.1 km dan luas daerah tangkapan air sekira 129.000 hektare. Inflow Danau Singkarak rata-rata 37,99 m 3 per detik, sedangkan untuk outflow: 42,02 m 3 per detik. Fungsi ekosistem danau dan ekosistem sempadannya sebagai sumber plasma nutfah, tempat berlangsungnya siklus hidup flora-fauna, sumber air masyarakat, dan tempat penyimpanan air dari hujan. Ekosistem danau juga memelihara iklim mikro, sebagai sarana

163

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

transportasi, sumber energi listrik, sarana rekreasi dan objek pariwisata, serta pengairan pertanian. Para ahli menemukan 19 spesies ikan di danau ini. Salah satunya, jenis ikan endemik, yaitu, ikan bilih ( Mystacoleucus padangensis ).Tiga spesies memiliki populasi kepadatan tinggi: ikan bilih/biko, asang/nilem ( Osteochilus brachmoides ) dan rinuak. Spesies ikan lainnya: turiak/turiq ( Cyclocheilichthys de zwani ), lelan/ nillem (O steochilis vittatus ), sasau/barau ( Hampala mocrolepidota ) dan gariang/tor ( Tor tambroides ). Ada juga spesies ikan kapiek ( Puntius shwanefeldi ) dan balinka/belingkah ( Puntius belinka ), baung ( Macrones planicep s), kalang ( clarias batrachus ), jabuih/buntal ( Tetradon mappa ), kalai/gurami ( Osphronemus gurami lac ) dan puyu/betok ( Anabas testudeneus ). Ikan jenis lainnya, ikan sapek/sepat ( Trichogaster trichopterus ), tilan ( Mastacembelus unicolor ), jumpo/gabus ( Chana striatus ), kiuang ( Chana pleurothalmus ) dan mujair (Tilapia pleurothalmus). Banyaknya usaha jaring terapung mengakibatkan danau

ini tercemar. Ekosistem danau terancam hancur dan merusak kualitas air danau.Untuk penyelamatannya dikembangkan Gerakan Penyelamatan Danau Singkarak dengan menyusun Rencana Aksi Daerah tentang Penyelamatan Danau Singkarak. Masyarakat bersedia mengalihkan usaha perikanan jaring apung, ke sektor usaha lainnya yang tidak berdampak merusak danau. Untuk pengelolaan ekosistem danau dibentuk Badan Pengelolaan Kawasan Danau Singkarak Berbasis Nagari (BPKDS) yang ditetapkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor. 660-398-2011 pada 6 Agustus 2011. Badan ini diharapkan mampu memobilisasi kegiatan lintassektor dan daerah agar dapat menpertahankan fungsi dan manfaat Danau Singkarak. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain, mewujudkan Singkarak go green , dengan pembersihan sampah di badan danau oleh masyarakat dan murid di lingkungan danau Singkarak, penanaman pohon oleh TNI, yang merupakan kerjasama antara pemerintah daerah, PLN dan TNI.

Danau Rawa Pening


Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi Gerakan Penyelamatan Danau Rawa Pening dengan tujuh langkah penyelamatan: 1.Pembuatan biogas berbahan baku limbah organik di DTA dan eceng gondok Kegiatan ini dilakukan masyarakat Sepakung, Kecamatan Banyubiru. Lokasi ini daerah hulu sungai yang mengalir ke Rawapening. Masyarakatnya punya kelompok peternak sapi yang cukup berkembang, rata-rata 5 ekor setiap rumah. Diharapkan dapat dibangun satu model biogas yang berbahan baku kotoran sapi. 2.Pembuatan pupuk organik berbahan baku eceng gondok Dilakukan kelompok masyarakat di Dusun Semurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen; Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru; dan Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa. Lokasi ini dipilih karena menghadapi langsung pertumbuhan eceng gondok dan masyarakat umumnya mencari ikan di danau. Potensi biomassa eceng gondok yang besar, berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai kompos. Kegiatan ini bersama pemerintah Kabupaten Semarang dan masyarakat. 3.Pembuatan sarana pengeringan eceng gondok Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan sudah lama dilakukan masyarakat di sekitar Rawa Pening. Batang eceng gondok dijual dalam berbagai bentuk. 4.Pengendalian eceng gondok melalui pemanenan, pengomposan dengan metode stock pile Telah dibangun percontohan integrasi antara aplikasi sain dan teknologi, pemberdayaan masyarakat yang ditunjang koordinasi antar-institusi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Kegiatan ini meliputi pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian pertumbuhan eceng gondok melalui pemanenan, pengomposan dengan metode stock

164

pile. Lokasinya berdampingan dengan pembuatan pupuk organik di Desa Asinan, Kecamatan Bawen; Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa; dan Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru. 5.Pengendalian eceng gondok melalui pembuatan tanki septik dan IPAL komuna l Saat ini, perairan Rawa Pening terkontaminasi limbah dari hasil aktivitas penduduk, pertanian, peternakan dan budidaya ikan. Yang terbesar adalah limbah peternakan, yang kaya nutrient N dan P. Akibatnya, menyuburkan eceng gondok. Salah satu cara pengendalian eceng gondok adalah mengurangi nutrien yang masuk ke Rawa Pening dengan mengolah limbah penduduk. Untuk itu,dibangun WC dan tanki septik komunal di tanah milik penduduk, yang didukung dengan pernyataan resmi masyarakat. Lokasinya di Kecamatan Banyubiru, meliputi Desa Kebondowo dan Tegaron.

6. Pembuatan pakan ternak dari eceng gondok Penanganan eceng gondok menjadi program super-prioritasyang dituangkan di dalam dokumen Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan) Rawa Pening. Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dibuat demplot pembuatan pupuk organik berbahan baku eceng gondok. 7. Kajian remidiasi nutrient danau Kajian remidiasi nutrient Danau Rawa Pening dengan metode HARP ( High Rate Algae Pond ) dilakukan untuk mengurangi dampak eutrofikasi. Eutrofikasi terjadi lantaran meningkatnya alga dan tumbuhan perairan, yang mengurangi keanekaragaman akuatik, berbahaya bagi ikan dan organisme lainnya, serta menurunkan nilai estetika

Danau Ayamaru
Danau ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat, yang terletak di Kabupaten Maybrat, 216 kilometer arah barat Kota Sorong, Papua Barat.Tak hanya sebagai sumber air, danau ini menjadi sumber pangan, ekonomi, dan transportasi masyarakat. Namun, kondisi danau kian hari kian memprihatinkan. Airnya terus menyusut dan ekosistem danau terancam rusak. Air Danau Ayamaru menyurut hingga 50 meter, bahkan sebagian sudah mengering. Sebagian arealnya menjadi rawa, ditumbuhi rerumputan dan tumbuhan liar. Mengeringnya danau akibat penebangan hutan dan pengeboran minyak dan gas di lereng Gunung Ayamaru. Selain itu, juga karena tumbuhnya rumput asing dan dampak pemanasan global. Rumput asing itu mungkin dari Australia yang terbawa burungburung pelikan. Ada tiga danau di Ayamaru sebagai satu kesatuan: Yahu (bagian atas), Yate (bawah), dan Ikri (penampung air dari sungai). Secara tradisional danau ini menjadi sarana lalu lintas penduduksebelum ada lalu lintas darat. Masyarakat Distrik Ayamaru, Distrik Aitinyo, dan Distrik Aifak memanfaatkan danau sebagai jalur menuju Teminabuan, kemudian ke Sorong. Danau Ayamaru memiliki berbagai jenis ikan, seperti ikan mas, betik, satar, salamander, udang merah, udang kuning, udang biru, gabus, dan iklan lele. Masyarakat setempat meyakini arwah nenek moyang memberi sumber penghidupan di Danau Ayamaru dengan berlimpahnya ikan. Danau ini dipandang warisan nenek moyang bagi suku besar Maybratdengan 12 marga, seperti marga Solossa, Jitmau, Kambuaya, Lemauk, dan Howae. Pada 2012, KLH melakukan Pemulihan dan Pelestarian Ekosistem Danau Ayamaru sebagai upaya penyelamatan. Tujuannya, membangun pola pengelolaan ekosistem Danau Ayamaru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, antara masyarakat dan pemerintah daerah, sesuai kondisinya dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kegiatan ini dilakukan dengan demplot-demplot pengendalian kerusakan lingkungan ekosistem danau dan pengendalian pencemaran air danau. Sebagai percontohan, dibangun tempat pembuangan sampah di Distrik Ayamaru; papan informasi sebagai media publikasi untuk masyarakat agar melestariakan danau Ayamar; menanam tegakan hijau yang bernilai produktif untuk masyarakat dan ekosistem Danau Ayamaru.

165

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Foto: Istimewa

166

RAGAM AKSI DAN HIKMAH PEMBELAJARAN


Sebuah Teladan Pengelolaan Tambang

Gambar 4.27.Dua betina dewasa dan tiga anak (kiri); dua bekantan jantan dewasa (kanan) di areal reklamasi

Degradasi lingkungan dari penambangan sering menjadi isu lingkungan di ranah publik. Masyarakat merasakan dampaknya dan LSM menyampaikan kritikan, mengingatkan tanggung jawab rehabilitasi lingkungan bekas pertambangan. Untuk rehabilitasi lingkungan bekas tambang, dikembangan praktik terbaik pengelolaan tambang. Provinsi Kalimantan Selatan telah mengembangkan proyek percontohan Taman Keanekaragaman Hayati sebagai model rehabilitasi lahan bekas tambang. Lokasi Taman Keanekaragaman Hayati Kalimantan Selatan merupakan lahan bekas penambangan PT. Aneka Tambang di Bangkal, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Lokasi ini membentang seluas 31 hektare, Pemerintah Kota Banjarbaru telah menyetujui sekira 15 hektare. Konsep Taman Keanekaragaman Hayati adalah menjadikan kawasan rehabilitasi menjadi areal pencadangan sumber daya alam hayati lokal di luar kawasan hutan. Taman Keanekaragaman Hayati

berfungsi konservasi in-situ danex-situ, khususnya bagi tumbuhan yang penyerbukan atau pemencaran bijinya dibantu satwa liar. Dengan begitu, Taman ini dibuat dengan struktur dan komposisi vegetasi yang mendukung kelestarian satwa penyerbuk dan pemencar biji. Selain itu,melalui PROPER, perusahaan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proses produksi dan jasa, dengan menerapkan sistem manajemen lingkungan, 3R ( Reduce, Reuse, Recycle ), efisiensi energi, konservasi, etika bisnis dan bertanggung jawab melalui program pengembangan masyarakat. Bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat, perusahaan ini melakukan upaya perlindungan populasi bekantan, monyet mancung endemik Kalimantan. Saat ini di areal reklamasi telah ditemukan dua subkelompok bekantan, sejumlah 25 individu. Bekantan tidak hanya memakai areal reklamasi (hutan sengon) sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai daerah jelajahnya.

167

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Perusahaan juga menggandeng Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjar baru membuat model hutan reklamasi di lahan bekas tambang untuk melanjutkan fungsi hutan. Salah satu kegiatannya, pengumpulan jenis tanaman hutan Kalimantan, yang telah terkumpul 16.000 bibit, antara lain ulin, keruing, tengkawang, kapur, bayur, tarantang, penawar semangkok/ keminting rantau, nyatoh, gaharu, pasak bumi. Ulin, keruing, tengkawang, kapur dan biwan sudah termasuk tumbuhan langka. Program-program serupa juga dikembangkan oleh perusahaan yang memperoleh peringkat Hijau dan Emas PROPER. Dari 183 perusahaan yang dinilai Hijau dan Emas, pada 2010, anggaran program pengembangan masyarakat mencapai Rp 731 miliar. Pada 2011, nilai itu menjadi Rp 928 miliar. Sampai medio 2012, anggaran pengembangan masyarakat perusahaan yang mengikuti PROPER, sebesar Rp 646 miliar.

Gambar 4.28. Uji coba penelitian uji jenis untuk tanaman hutan di areal reklamasi

Aksi Pengelolaan Lingkungan Teluk Tomini


Pengelolaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan di Teluk Tomini menghadapi berbagai masalah yang mengancam keberlanjutan fungsi kawasan ini. Diantaranya konflik pemanfaatan sumber daya perikanan, pencemaran lingkungan, degradasi habitat pesisir dan kemerosotan keanekaragaman hayati. Bermacam kepentingan terjadi di Teluk Tomini. Hal itu bisa dimengerti, karena Teluk Tomini berada di tiga provinsi: Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo, dengan15 kabupaten/kota yang berhubungan langsung dengan perairan ini. Dan daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Tomini mencakup 20 kabupaten/kota. Wilayah Sulawesi Tengah berbatasan langsung dengan Teluk Tomini dengan garis pantai sepanjang sekitar 1.179 km, meliputi kabupaten: Banggai, Tojo Una-una, Poso dan Parigi Moutong. Provinsi Sulawesi Utara berbatasan langsung dengan Teluk Tomini, yang panjang garis pantainya sekitar 784,94 km, melintasi Kota Bitung, Minahasa Utara, Minahasa, Minahasa Tenggara, Bolaang Mongondow Timur dan Bolaang Mongondow Selatan. Sedangkan Gorontalo yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Tomini dengan garis pantai sekitar 436,52 km terdiri Kota Gorontalo, Gorontalo, Bone Bolango, Boalemo dan Pohuwato.

168

Dalam upaya mengatasi berbagai persoalan di Teluk Tomini,Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo menggelar Aksi Pengelolaan Lingkungan Teluk Tomini. Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan dalam implementasi rencana aksi di kawasan tersebut. Dengan sinergi dan koordinasi, permasalahan lingkungan dapat diatasi secara efektif dan efisien. Dalam implementasinya, peran setiap pemangku kepentingan dan pemerintah daerah dapat

dipadukan untuk pemecahan masalah jangka pendek dan panjang. Rencana Aksi Pengelolaan Pesisir dan Laut Terpadu Teluk Tomini telah selesai disusun. Teluk Tomini diharapkan menjadi model pola pengelolaan terintegrasi antartiga provinsi dan kementerian terkait di pusat. Solusi di kawasan pesisir dan laut ini dilakukan dengan pendekatan kewenangan pemerintah sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pengelolaan sumber daya diharapkan dapat mengembangkan wilayah teluk dan meningkatkan kesejahteraan di kawasan Teluk Tomini.

Aksi Pengelolaan Lingkungan Selat Bali


Dalam upaya pengendalian kerusakan wilayah pesisir dan laut, Kementerian Lingkungan Hidup menyelenggarakan Aksi Pengelolaan Lingkungan Selat Bali. KLH bekerja sama dengan pemerintah daerah Provinsi Bali dan Provinsi Jawa Timur. Wilayah Selat Bali mengandung potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan yang sangat kaya. Selat Bali menjadi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan berbasis sumber daya pesisir dan laut seperti perikanan, industri dan pariwisata, baik diProvinsi Bali maupun Provinsi Jawa Timur. Sayangnya, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur, mengalami red tide pada 1994, 1998, 2003, dan 2007. Sebagai satu kesatuan ekologis, wilayah pesisir dan laut Selat Bali memiliki nilai konservasi karena mengandung keanekaragaman hayati yang tinggi. Nilai konservasi Selat Bali ada dalam segitiga kawasan konservasi: Taman Nasional Bali Barat Taman Nasional Baluran Taman Nasional Alas Purwo. Masalah di Selat Bali mencakup konflik pemanfaatan sumberdaya perikanan, pencemaran lingkungan baik dari aktivitas di laut maupun di daratan, degradasi habitat pesisir, dan kemerosotan keanekaragaman hayati. Memperhatikan koneksi antar-wilayah pesisir dan laut, nilai strategis Selat Bali dalam pembangunan, keterkaitan ekonomi di kedua provinsi, serta kompleksitas masalah yang lintas-wilayah, maka diperlukan pengelolaan Selat Bali secara terpadu.

Peraturan Tingkat Kampung Melindungi Terumbu Karang


Segitiga terumbu karang dunia membentang dari Malaysia di Kalimantan utara, Filipina, Indonesia, Timor Leste di selatan, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon di timur. Di perairan seluas 6,5 juta kilometer persegi ini hidup 600 spesies karang atau 75 persen spesies karang dunia. Dan di jantung segitiga terumbu karang dunia inilah terhampar gugusan Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, yang dijuluki surga terumbu karang. Kepulauan Raja Ampat masuk dalam Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang ( Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP) Tahap II, 2004 - 2011. Program Kementerian Kelautan dan Perikanan ini dengan cepat mendapat tempat di hati masyarakat Raja Ampat. Masyarakat pesisir pulau-pulau di Raja Ampat masih menghargai pranata adat, yaitu sasi. Ada sasi kebun kelapa, larangan memetik buah kelapa atau mengambil daunnya selama periode tertentu. Pelanggar sasi akan dikenai sanksi adat. Ada juga sasi laut, larangan mengambil ikan atau hasil laut lainnya pada masa tertentu buat memberi kesempatan ikan dan kerangkerangan berkembang biak. Kampung Yenbekwan, Pulau Mansuar, Distrik Meosmansar, Raja Ampat, dapat dijadikan contoh

169

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

upaya pelestarian laut. Di sini, masyarakat pesisirnya sempat tergoda menangkap ikan secara destruktif, lantas membuat peraturan untuk melindungi terumbu karang dan ekosistemnya. Laut sekitar kampung ini berlimpah jenis ikan yang bernilai ekonomi, seperti napoleon, kerapu, cakalang, bubara, dan tenggiri. Hasil laut lainnya berupa lobster, lola, teripang dan aneka kerang-kerangan. Sebelum 1990, perairan sekitar Yenbekwan aman penangkapan ikan yang merusak lingkungan. Lantas, datang nelayan-nelayan dari luar daerah yang memperkenalkan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan. Penggunaan bom dan sianida pun dipraktikkan penduduk Yehbekwan. Ikan mudah tertangkap, tetapi terumbu karang rusak. Ketika COREMAP II masuk pada 2006, nelayan kampung Yenbekwan mendapat pengetahuan tentang makna terumbu karang bagi kelestarian sumber daya perikanan. Perlahan, mereka mulai meninggalkan bahan peledak dan sianida. Masyarakat kampung pesisir Pulau Mansuar ini,

pada 2007 menyusun Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Kampung Yenbekwan. Tak lama kemudian, kampung ini menetapkan Peraturan Kampung 01/ DPL/PK-YNBKWN/2008 tentang Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut (DPL) Berbasis Masyarakat. Peraturan Kampung Yenbekwan ditandatangani kepala kampung pada 4 Desember 2008, yang bersama 21 Peraturan Kampung lainnya sudah terdaftar dalam Berita Daerah Kabupaten Raja Ampat. Setelah Daerah Perlindungan Laut ditetapkan pada 2008, dibentuk Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK). Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Kampung Yenbekwan seluas 290 hektare juga diberlakukan sasi atau larangan dari Gereja. Peraturan Kampung Yenbekwan melarang kegiatan: - Pengeboman ikan, - Pembiusan ikan, - Penambangan karang dan pasir, - Reklamasi pantai, - Pembangunan fasilitas pariwisata parmanen, - Penebaran jala,pukat atau sejenisnya, - Memancing segala jenis ikan, - Menangkap ikan dengan panah dan tombak,

170

Terumbu karang yang telah rusak Foto: Pahlano Daud

- Pengambilan kerang-kerangan atau biota laut lainnya dalam keadaan hidup ataupun mati, - Membuang sampah, - Membuang limbah rumah tangga, industri ataupun limbah kapal, - Melego jangkar perahu di atas terumbu karang, - Melakukan budidaya laut, - Berjalan di atas terumbu karang, - Melintasi dengan segala jenis angkutan laut (kecuali disetujui pengelola DPL atau kepala kampung; atau keadaan terpaksa akibat gelombang; atau keadaan lain di luar kemampuan manusia). Kegiatan yang diperbolehkan oleh Peraturan Kampung hanya meliputi: - Penelitian ilmiah, - Kegiatan pendidikan, - Kegiatan pariwisata/penyelaman terbatas., - Kegiatan monitoring atau pengawasan oleh kelompok pengelola. Kelompok Pengelola menentukan sanksi denda uang bagi siapa pun yang melanggar, sesuai dengan kerugian akibat pelanggaran. Semua hasil dan peralatan yang

digunakan dalam pelanggaran disita. Pelanggar juga diwajibkan melakukan kerja sosial untuk kepentingan masyarakat kampung. Bentuk kerja sosial yang dijalani pelanggar ditentukan kepala kampung. Pelanggar akan diminta menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga kampung. Dia juga berjanji tidak mengulangi perbuatannya dengan surat pernyataan yang dia tandatangani, lalu dibaca sendiri di depan warga. Bila masih juga melanggar, selain denda dan penyitaan hasil tangkapan dan alat, pelaku akan diserahkan kepada polisi untuk diproses sesuai hukum. Sejak Peraturan Kampung diberlakukan, kampung pesisir ini jauh dari cerita perikanan destruktif, terumbu karang aman, lingkungan hidup pun terlindungi. Kapasitas peraturan dan sumber daya manusia kampung ini telah merespon dengan baik ancaman terhadap ekosistem sumber daya perikanan. Yang perlu diantisipasi: perkembangan wisata bahari yang semakin ramai, yang bisa menekan upaya masyarakat Raja Ampat melestarikan ekosistem lautnya.(Sumber:Adrianto, Lucky, Editor, Konstruksi Lokal Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, IPB Press, 2011

171

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Usaha Pelestarian Badak Jawa Dan Badak Sumatera

Gambar 4.29. Badak Sumatera yang berhasil terekam kamera, Andatu dan Ratu. Andatu adalah anak badak hasil perkawinan Andalas (jantan) dan Ratu (betina). Sumber: Yayasan Badak Indonesia (YABI).

Badak merupakan binatang langka yang terancam punah dan masuk Daftar Merah IUCN. Populasi kedua jenis badak ini tersisa sekitar 200 individu, 150 ekor di antaranya ada di Indonesia (Gambar 4.29). Indonesia memiliki dua jenis: badak bercula satu, badak jawa (Rhinocerus sondaicus)hanya di Ujung Kulon dan badak bercula dua,badak sumatera (Dicerorhinus sumtrensis) di Sumatera. Dari monitoring, populasi kedua jenis badak ini di habitat aslinya dari tahun ke tahun terus berubah. Badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon pada 1967 tercatat 21-29 ekor; kemudian naik pada 1981, menjadi 54-60 ekor; kemudian pada 2008, menjadi 4254 ekor (Gambar 4.30). Pada 2011 terekam hanya 35 ekor, namun pada 2012 terekam lagi 51 ekor dengan rasio 29 ekor jantan dan 22 ekor betina (data 2011 dan 2012 dimasukan dalam Grafik). Sementara itu, badak sumatera tersisa di beberapa

taman nasional: Leuser, Bukit Barisan Selatan dan Way Kambas. Populasinya pada 2011 diperkirakan sebanyak 107 ekor. Usaha konservasi badak terus berkembang, selain pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan swasta juga terus terlibat. Direktorat Jenderal PHKA, Desember 2011 menerbitkan Peraturan No P.7/IVSET/2011 tentang tata cara masuk kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru. Yayasan Badak Indonesia (YABI), WWF, dan WCS menggalang dana dari dalam dan luar negeri untuk usaha konservasi badak dan pendidikan lingkungan membangun kesadaran masyarakat luas. Salah satu pihak swasta produsen minuman penyegar juga mengalokasikan dana CSR bagi badak bercula satu di Ujung Kulon. Perhatian dunia terhadap badak melalui IUCN menetapkan 5 Juni 2013 sebagai tahun badak Internasional.

172

Gambar 4.30. Populasi badak Sumatera di awal penyebarannya

Gambar 4.31. Populasi badak Sumatera yang masih tersisa di Indonesia (di TN. Leuser, TN. Bukit Barisan Selatan dan TN Way Kambas.
Belum Gunung Imas

Malaysia - Sabah : 25
Danum

Tabin

Taman Negara

Gunung Leuser

Peninsula Malaysia : 75

Sumatra : 200

Way Kambas Bukit Barisan Selatan

The most important populations, none of which number more than 100, are in Sumatra - Bukit Barisan Selatan, Way Kambas & Gunung Leuser NP. Other Viable populations are in Peninsula Malaysia - Taman Negara, and Sabah - Tabin
Sumber: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

173

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Gambar 4.32. Estimasi populasi badak Jawa tahun 1967 2012


70 60 50 Jumlah Populasi 40 30 20 10 0

Tahun 2011 = 35 Tahun 2012 = 51

1967

1971

1974

1977

1981

1984 Tahun

1993

1997

2002

2005

2008

Sumber: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Pelestarian Spesies Bambu


Upaya pelestarian keanekaragaman hayati juga mendapat perhatian dunia usaha. Di tengah perkebunan nenas seluas 32 ribu hektar di Lampung Tengah, PT Great Giant Pineapple (GGP) mengembangkan kebun konservasi bambu. Upaya ini mulai dikembangkan sejak 1987. Mulamula bambu ditanam di lahan marjinal dan bantaran sungai, untuk mencegah erosi, menekan sedimentasi sungai, dan menyimpan air. Kemudian, di atas lahan khusus seluas 10 hektar, Setiawan Achmad, Direktur Pelaksana PT GGP mengembangkan kebun koleksi spesies bambu. Dari hanya beberapa spesies, koleksinya terus bertambah dengan aneka spesies bambu dari berbagai daerah dan luar Indonesia. Luas kebun koleksi bambu juga terus bertambah. Pada 2012 koleksi bambu sudah mencapai lebih 200 spesies. Dari menanam bambu untuk melindungi lingkungan, menjadi upaya melindungi spesies-spesies bambu dari kelangkaan dan kepunahan. Koleksi di pusat agribisnis nenas ini ternyata melampaui jumlah spesies bambu Kebun Raya Bogor, yang hanya 20 jenis, dan Kebun Raya Purwadadi, sebanyak 30 jenis. Upaya konservasi bambu tanpa banyak publikasi di tengah deretan jutaan nenas ini ternyata mendapat perhatian Yayasan Kehati. Pada 2004, Setiawan Achmad mendapat anugerah Kehati Award untuk kategori Peduli Lestari Kehati, yang diserahkan Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan pendiri Yayasan Kehati. Kini, menjadi pemandangan lumrah di areal perkebunan nenas GGP, rumpun-rumpun aneka jenis bambu tumbuh menjulang di bantaran sungai dan lereng bukit. Koleksi bambu dari perusahan buah olahan ini, kini sudah menjadi tujuan para peneliti bambu dari berbagai negeri. Bambu merupakan tumbuhan subkeluarga rumput yang sangat dikenal masyarakat Indonesia. Dia memiliki batang yang kuat tapi lentur, lurus, mudah dibelah, mudah dibentuk, serta ringan. Karena sifatsifatnya ini, bambu sangat berguna bagi manusia, yang dimanfaatkan sejak nenek moyang masih menghuni gua alam, berburu dan meramu. Bambu yang tumbuh liar di alam maupun hasil budidaya sudah berabad-abad digunakan manusia, mulai untuk rumah, jembatan, pagar, wadah penampung air, pisau, tombak, panah, hingga kerajinan. Banyak alat musik tradisional dibuat dari bambu misalnya angklung, suling, dan sasando. Rebungnya dijadikan sayur,

174

daunnya untuk pembungkus makanan. Dari 1.250 spesies bambu di Bumi, 125 di antaranya tumbuhan asli Indonesia. Karena inilah perusahaan agribisnis nenas ini masih terus mengembangkan koleksi spesies bambunya. PT GGP yang mengembangkan manajemen ekonomi hijau, kini memulai perintisan blueeconomy, ekonomi biru, yang dicetuskan Gunter Pauli, pendiri Zero Emmissions Initiatives. Ekonomi biru memanfaatkan modal alam, dengan teknologi yang berorientasi pada pelestarian alam, mendesain ulang produksi dan konsumsi melalui berbagai inovasi. WWF Indonesia memantau rintisan ekonomi biru di PT GGP ini. Sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan, perusahaan ini memiliki divisi khusus pembangunan berkelanjutan yang dikepalai seorang direktur.

Proyek Raksasa Konservasi Lahan


Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) salah satu proyek konservasi lahan terbesar yang pernah direncanakan pemerintah, selain proyek lahan sawah gambut 1 juta hektar di Kalimantan yang gagal. Dengan laju pertambahan penduduk yang mencapai 2 persen per tahun, kebutuhan dan ketahanan pangan menjadi persoalan serius bagi bangsa ini. Karena, percetakan sawah setiap tahun hanya berkisar 20 40 ribu hektar. Artinya, pertumbuhan luas sawah belum bisa mengejar kebutuhan beras bagi penduduk Indonesia. Lantaran itulah, dicanangkan rencana raksasa menjadikan Merauke sebagai kawasan lumbung pangan dan energi atau MIFEE Food Estate (FE) merupakan pengembangan produksi pangan terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu lahan yang sangat luas ( an integrated farming, plantation and livestock zone ) Merauke dipilih karena wilayah 47.075 kilometer persegi ini memiliki potensi besar agrobisnis. Tak kurang ada lahan seluas 2,5 juta hektar yang siap dijadikan pertanian pangan. Dan dari luas itu, yang bisa dijadikan sawah berupa lahan basah seluas 1,94 juta hektar. Lahan ini berada di hutan produksi konversi (HPK), sekitar 1,43 juta hektar dan areal penggunaan lainnya (APL) sekitar 202.869 hektar. Pada tahap awal, dari lahan itu, yang diproyeksikan untuk tanaman pangan seluas 50 ribu hektar. Dalam konsep MIFEE, Merauke menjadi lahan garapan korporasi yang juga menaungi petani lokal. Lahan satu juta hektar dimanfaatkan dalam lima kluster. Tiap kluster seluas 200 ribu hektar terdiri dari 40 subkluster. Selain itu, Kementerian Kehutanan juga mengalokasikan 585 ribu hektar untuk pengembangan produksi tanaman pangan, khususnya padi. Status lahan tersebut nanti disewakan kepada swasta dalam bentuk hak guna usaha. Skala proyek ini begitu besar baik luas lahan maupun nilai investasinya. Diperkirakan pengembangan kawasan pangan dalam skala luas di Merauke perlu investasi sekitar Rp 50 triliun hingga Rp 60 triliun. Saat ini sudah ada 36 investor dalam negeri yang siap masuk, terutama dari dalam negeri dan 28 investor asing. Hanya saja, proyek konversi lahan ini patut memperhatikan potensi negatif perubahan ekologi besar-besaran, seperti rusaknya ekosistem, potensi banjir dan kekeringan akibat hilangnya daerah tangkapan air, dan menurunnya keanekaragaman hayati.

175

Catatan Khusus Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pembuangan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun


Kajian Kementerian Lingkungan Hidup pada 2011 terhadap sentra peleburan logam usaha kecil menengah (UKM) di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Tegal, Jawa Tengah memberikan gambaran limbah bahan berbahaya beracun (limbah B3) wajib dikelola dengan baik sesuai peraturan yang berlaku. Sentra kegiatan peleburan logam ini bahan bakunya memakai limbah B3: slag timah putih, accu bekas, timah hitam, limbah handpohe serta limbah scrap logam yang terkontaminasi limbah B3 lainnya. Produk yang dihasilkan berupa ingot timah, kuningan, dan alumunium. Berdasarkan data dari dokumen Amdal 2007, tercatat 300 orang terlibat dalam peleburan logam pengrajin galvanis, elektroplating, pembuatan arde listrik dan sebagainya. Saat ini, yang aktif ada sekitar 150 orang. Lokasi tersebut memiliki radius antara 25 m 75 m dari fasilitas umum dan sosial. Dalam proses produksinya, UKM memakai teknologi yang sangat sederhana, tanpa dilengkapi fasilitas pengendalian pencemaran (udara dan air). Limbah B3 yang dihasilkan ditimbun dan dibuang ke lingkungan begitu saja selama bertahun-tahun. Melihat kondisi itu, KLH bersama BLH Kabupaten Tegal, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat, melakukan kajian dampak limbah B3 yang ditimbun terhadap air tanah. Kajian juga dilakukan bagi kesehatan masyarakat dari peleburan logam itu. Hasil kajian air tanah (hidrogeologi) Kondisi air tanah di Pesarean dan sekitarnya menunjukkan adanya parameter logam Zn, Cu dan Pb yang melebihi baku mutu air minum yang ditetapkan pemerintah. Volume limbah B3 yang ditimbun dan menjadi sumber pencemaran air tanah mencapai 16.200 meter kubik. Hasil kajian kesehatan Hasil pemeriksaan kadar Timbal (Pb) menunjukkan terdapat peningkatkan kadar Timbal (Pb) : Terhadap 9,8 persen responden, kadar Timbal (Pb) darah yang berbahaya (>30 g/dL). Terhadap 22 persen responden memiliki kadar Timbal (Pb) yang memerlukan perhatian medis (>10 g/dL - <30 g/dL). Hasil pemeriksaan kadar Timbal (Pb) darah <1 g/ dL terdapat pada 198 (49,5 persen) responden. Hal ini menunjukkan total responden yang harus mendapat perhatian penanganan lebih lanjut sebanyak 31,8 persen. Terdapat gejala dan tanda kelainan fisis yang sesuai dengan keracunan Timbal (Pb) pada responden yang diteliti, yaitu: gangguan pencernaan 82,5 persen; gangguan neuromuskuler 56,5 persen; conjungtiva anemis 26,8 persen; gangguan reproduksi 25 persen; dan pucat 5 persen. Kajian memberikan informasi tentang burukanya pengelolaan limbah B3 yang dilakukan UKM. Hal ini memberikan potret: masyarakat belum begitu peduli untuk mendapatkan lingkungan yang sehat lantaran upaya pemenuhan ekonomi tanpa diimpangi dengan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Berdasarkan kajian ini, KLH bersama dengan pemerintah kabupaten Tegal akan melakukan upaya pemulihan dan relokasi kegiatan, sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran yang lebih luas.

176

Tong-tong tempat penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Foto: Dok. Kementerian Lingkungan Hidup

177

KUALITAS LINGKUNGAN DAN KAPASITAS PENGELOLAANNYA

178

Bab-bab sebelumnya telah menyajikan status lingkungan hidup, kapasitas pengelolaan, dan upaya yang berpihak kepada lingkungan hidup. Walaupun berbagai upaya sudah dilakukan dan sedang dilakukan pemerintah bersama para pemangku kepentingan, secara umum status lingkungan hidup Indonesia masih memprihatinkan.

179

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Di balik status yang belum menggembirakan, ada keyakinan kualitas lingkungan hidup berkaitan erat dengan kapasitas pengelolaannya. Karena itu, bab ini akan menyajikan keterkaitan kedua aspek tersebut. Bab ini juga akan melihat potensi tekanan di masa

depan yang perlu diantisipasi, agar lingkungan hidup tidak bertambah buruk. Bagian terakhir bab ini berisi paparan pengembangan kapasitas pengelolaan yang diperlukan, untuk mengatasi tantangan ke depan.

KONDISI SAAT INI


Berbagai catatan menurunnya kualitas lingkungan hidup masih sering didengar oleh publik. Merespon tantangan tersebut, pemerintah bersama para pihak terkait, terus berupaya keras. Upaya tersebut terbagi dua, yaitu: memulihkan lingkungan yang menurun, serta menjaga lingkungan yang tersisa sebagai warisan masa depan. Walaupun berbagai upaya telah menghasilkan hal-hal positif, kapasitas pengelolaan tampaknya belum memadai untuk mengatasi degradasi lingkungan. Pada 2009 2011 Kementerian Lingkungan Hidup mengevaluasi kondisi lingkungan di semua provinsi berdasarkan kualitas udara, kualitas air dan tutupan hutan (Tabel 5.1). Hasilnya memperlihatkan lingkungan yang buruk, dengan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) yang rendah di provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Sementara itu, hanya empat provinsi yang memiliki IKLH yang relatif baik, yaitu Gorontalo, Bengkulu, Bali dan Sulawesi Tengah. Tingkat kapasitas pemerintah dalam mengelola lingkungan hidup harus diukur dari berbagai aspek dan komponen dengan rangkaian data dan informasi yang cukup panjang. Untuk memberi gambaran relatif dapat memakai data yang ada, dengan tetap merujuk pada peraturan yang berlaku pada umumnya. Dari data yang ada, direkapitulasi tingkat kapasitas pemerintah provinsi dalam mengelola lingkungan hidup. Kapasitas diwakili lima komponen: bentuk lembaga, anggaran, peraturan daerah, sumber daya manusia dan saranaprasarana. Bentuk lembaga ideal untuk pengelola lingkungan hidup adalah badan, karena mandiri, punya fungsi operasional dan koordinasi. Anggaran merupakan rasio perbandingan anggaran fungsi lingkungan hidup dan APDB total provinsi. Peraturan daerah dilihat dari sisi kelengkapan peraturan yang mengatur isu lingkungan hidup. Bila ada lebih dari satu peraturan mengatur isu lingkungan hidupmisalnya air, hanya dihitung satu. Sumberdaya manusia diwakili pemegang sertifikasi kompetensi penyusunan AMDAL dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah. Sarana-prasarana diwakili jumlah laboratorium terakreditasi dan teregistrasi, status lingkungan hidup daerahbaik jumlah yang telah disusun maupun kualitasnya, serta sistem pengoperasian tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Dalam hal TPA, idealnya sistem sanitary landfill. Asumsinya: sistem controlled landfill sudah sekitar 50 persen diupayakan menjadi sanitary landfill, sedangkan open dumping dilihat belum ada upaya atau sama dengan 0 persen. Untuk menggambarkan tingkat kapasitas provinsi dilakukan pendekatan relatif. Dari sebaran jumlah angka setiap komponen dihitung reratanya. Dari angka rerata itu, dibuat 5 rentang klasifikasi: rerata, di atas dan di bawah rerata, serta jauh di atas dan di bawah rata-rata. Kemudian dilakukan pembobotan sebagai berikut: 1 untuk jauh di bawah rerata; 2 untuk di bawah rerata; 3 untuk rerata; 4 untuk di atas rata-rata; dan 5, jauh di atas rata-rata. Setiap komponen yang masuk dalam rentang, kemudian diberi bobot dan diakumulasikan, sehingga setiap provinsi memiliki poin. Kapasitas pengelolaan dinilai dari 5 aspek, yaitu: lembaga, anggaran, peraturan daerah, sumber daya manusia dan sarana prasarana; dimana masing-masing aspek memiliki bobot 20%. Aspek sumber daya manusia

180

Tabel 5.1
Provinsi Gorontalo Sulawesi Tengah Bengkulu Lampung Bali Sulawesi Utara Nusa Tenggara Barat Sumatera Selatan Sumatera Barat Kalimantan Barat Maluku & Maluku Utara Sumatera Utara Kalimantan Timur DI. Yogyakarta Papua & Papua Barat Sulawesi Barat Aceh Bangka Belitung Jambi Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Timur Riau & Kep. Riau Jawa Timur Sulawesi Tenggara Jawa Barat Jawa Tengah Banten DKI Jakarta Indonesia

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia 2009-2011


Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indeks Tutupan Hutan 92,65 95,20 91,21 65,47 100,00 83,66 75,71 38,38 92,85 60,34 75,26 58,56 88,15 38,18 81,27 81,26 95,32 13,72 60,42 42,88 73,78 41,62 60,99 29,42 50,59 68,42 38,72 32,44 37,05 2,93 62,21 Indeks Pencemaran Air 94,35 71,21 83,73 87,87 72,86 75,30 73,59 88,85 55,82 65,18 58,17 64,70 16,23 58,28 23,37 19,54 22,59 69,81 44,20 19,49 21,76 26,69 18,77 38,84 14,53 8,48 17,80 25,29 14,67 24,65 45,89 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup rata-rata 95,01 88,21 91,08 82,39 90,00 85,66 82,71 74,17 81,83 74,19 77,20 73,95 67,20 64,77 67,79 66,12 72,17 60,69 67,59 53,35 64,38 55,59 58,78 54,25 54,33 58,52 51,34 51,90 49,61 41,62 60,37

Indeks Pencemaran Udara 98,04 98,21 98,29 93,82 97,60 98,02 98,84 95,26 96,85 97,07 98,17 98,60 97,23 97,86 99,13 97,56 98,61 98,53 98,15 97,70 97,60 98,46 96,59 94,48 97,86 98,65 97,51 97,98 97,11 97,27 97,57

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012.

dibagi menjadi 3 bagian, yaitu sertifikasi, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Daerah serta diklatnya. Bagian sarana dan prasarana juga terdiri dari 3 bagian, yaitu laboratorium, laporan Status Lingkungan Hidup

Daerah dan Tempat Pembuangan Akhir. Setiap bagian dari kedua aspek tersebut mempunyai bobot yang berbeda. Detail pembobotan selengkapnya dapat dilihat pada gambar 5.2.

181

Gambar 5.2. Matriks Korelasi antara Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

IKLH 2009-2011 VS Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

100
Gorontalo Bali Bengkulu

3,5

90

90

80

IKLH 2009-2011

182
Riau Banten Jawa Timur

70

Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Lampung Nusa Tenggara Barat Sumatera Barat Maluku Utara Maluku Kalimantan Barat Sumatera Selatan Aceh Papua Sumatera Utara Papua Barat Kalimantan Timur Jambi DI Yogyakarta Sulawesi Barat Sulawesi Selatan

60

Bangka Belitung Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Kepulauan Riau Jawa Barat

50

Jawa Tengah

Kalimantan Tengah

DKI Jakarta

40 3,0 3,5
Kapasitas PLH
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Keuangan, Status Lingkungan Hidup Daerah

2,0

2,5

4,0

4,5

5,0

Gambar 5.1. Perhitungan Pembobotan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lembaga 20%

Keterangan gambar:
Perda = Peraturan daerah SDM = Sumber Daya Manusia Sarpras = Sarana dan Prasarana Diklat PPLHD = Pendidikan dan Latihan Pusat
Pendidikan Lingkungan Hidup Daerah PPLHD = Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Daerah SLHD = Status Lingkungan Hidup daerah TPA = Tempat Pembuangan Akhir

Anggaran 20%

Lingkungan Hidup

Kapasitas Pengelolaan

Perda 20% Sertifikasi 40%


Diklat PPLHD 15%

SDM 20%

PPLHD 45% Lab 30% SLHD 30% TPA 40% Jumlah 20% Kualitas 80%
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup.

Sarpras 20%

Konsep rekapitulasi kapasitas pengelolaan ini masih perlu disempurnakan. Karena konsep ini dilakukan dengan pendekatan relatif, tidak menyatakan baik atau buruk, tinggi atau rendah, maka tetap dapat diacu untuk pembandingan antar provinsi. Matriks Rekapitulasi Kapasitas ini kemudian disandingkan dengan IKLH untuk mendapatkan kuadran hubungan antara kualitas lingkungan dan kapasitas pengelolaannya. Indeks IKLH, yang telah dilakukan selama tiga tahun, masih memiliki kelemahan karena kurang sensitif, setiap tahun nilainya berfluktuasi cukup tajam. Untuk mendapatkan kondisi yang mendekati kenyataan diambil rerata selama tiga tahun tersebut. Hal yang perlu dicatat, IKLH mengacu pada baku mutu medium. Misalnya, kualitas air mengacu baku mutu klas II dari Peraturan Pemerintah Nomor 82/2001. Artinya, acuan kualitas air itu bukan yang terbaik, masih ada kualitas di atasnya, yaitu kelas I (air baku air minum) dan kualitas air minum. Atau, kualitas udara yang mengacu baku mutu udara PP Nomor 41/1999 yang sangat longgar, walau memakai standar World Health Organization (WHO). Ini juga berarti

masih ada standar yang lebih baik. Hal serupa terjadi pada tutupan hutan yang berpatokan pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan. Dengan begitu, diambil angka median untuk kualitas lingkungan, pada angka 90. Kualitas lingkungan di berbagai provinsi itu seiring dengan kapasitas pemerintah provinsi dalam mengelola lingkungandiukur dengan lima komponen di atas (Tabel 5.2). Gambar 5.1 memberi petunjuk korelasi antara IKLH yang rendah dengan kapasitas pengelolaan juga rendah. Memang ada pengecualian di beberapa provinsi. DKI Jakarta misalnya, memiliki kapasitas tertinggi, namun IKLH-nya terendah. Begitu juga Jawa Barat yang kapasitasnya termasuk tinggikedua setelah DKI Jakarta, juga memiliki IKLH yang rendah. Hal sebaliknya dialami Gorontalo, Bengkulu, Bali dan Sulawesi Tengah, dengan kapasitas pengelolaan sedang, namun IKLH tertinggi. Terlepas dari keadaan khusus itu, Gambar 5.1 memperlihatkan sebuah kecenderungan: IKLH yang relatif rendah berkorelasi dengan kapasitas pengelolaan yang rendah pula. Hal itu memberi isyarat: rendahnya kapasitas pengelolaan menjadi salah satu faktor upaya pemulihan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup tidak optimal.

183

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Tabel 5.2 Kapasitas Pengelolaa


Pengelola LH Kab/Kota Berbentuk Badan (%) 100,0 66,7 59,0 50,0 55,9 86,7 85,7 90,0 75,0 66,7 87,5 87,5 70,0 90,9 81,8 71,4 84,6 91,7 86,7 60,0 78,6 50,0 40,0 58,3 100,0 54,2 58,3 41,7 54,5 33,3 83,3 53,8 30,0 Peraturan Daerah Terkait Lingkungan Hidup 10 10 11 11 7 5 6 4 9 8 5 5 6 6 6 7 5 4 6 8 5 6 9 5 5 4 7 8 6 8 4 5 4 SDM Pemegang Sertifikasi Kompetensi Penyusunan Amdal (SKPA) s/d maret 2013 155 170 40 15 11 39 3 13 25 21 7 5 2 4 5 19 28 6 19 6 35 11 8 23 2 27 5 6 0 3 0 15 11 PPLH/D Total Diklat PPLH/D 35 96 41 53 73 87 28 70 18 62 15 40 60 76 15 54 99 45 9 22 44 50 30 115 41 52 25 29 37 45 4 14 7 PPLH/D 7 60 34 7 15 17 3 26 10 11 11 23 14 6 12 10 15 9 15 7 23 15 14 55 6 11 12 15 65 2 3 7 3

No

Provinsi

Anggaran (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Timur DIY Sumatera Utara Kalimantan Timur* Gorontalo Sulawesi Utara Sumatera Selatan Kalimantan Barat Bangka Belitung Kepulauan Riau Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bengkulu Banten Riau Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah Lampung Kalimantan Selatan Bali Sumatera Barat Jawa Tengah Maluku Utara Sulawesi Selatan Aceh Jambi Papua Barat Papua Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku

4,66 1,02 0,33 0,62 2,90 0,34 1,18 0,49 0,23 0,41 0,69 0,49 0,56 0,56 0,36 0,32 0,24 0,56 0,49 0,29 0,45 0,65 0,68 0,35 0,63 1,95 0,26 0,41 0,94 0,35 1,18 0,28 0,27

Catatan: * Sebelum dimekarkan

184

an Lingkungan Tingkat Provinsi


Sarana-Prasarana SLHD Lab Terakreditasi &/ Teregistrasi 7 7 4 2 1 3 0 1 2 2 1 1 1 0 0 2 1 1 0 2 2 0 2 4 0 2 0 1 0 1 0 1 1 Jumlah 10 7 6 9 8 8 5 6 9 4 3 3 7 4 8 1 9 4 3 11 5 10 9 9 3 9 10 7 4 10 2 3 4 Kualitas 90,95 68,55 90,46 83,86 87,99 70,05 62,22 78,11 77,06 50,91 49,01 69,99 50,56 50,1 64,03 70,09 53,6 74,75 0 62,69 0 88,17 90,88 53,74 0 69,1 82,14 62,56 49,45 9,67 0 45,4 6,24 Sanitary Landfill (%) 0,0 0,0 23,5 33,3 0,0 0,0 50,0 0,0 0,0 0,0 57,1 25,0 37,5 20,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 27,3 11,1 0,0 0,0 0,0 7,1 0,0 0,0 16,7 0,0 0,0 57,1 Controlled Landfill (%) 100,0 26,7 47,1 16,7 20,0 25,0 0,0 42,9 8,3 0,0 0,0 25,0 25,0 0,0 0,0 40,0 0,0 0,0 0,0 50,0 50,0 0,0 11,1 0,0 0,0 0,0 7,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 TPA Open Dumping atau tidak teridentifikasi (%) 0,0 73,3 29,4 50,0 80,0 75,0 50,0 57,1 91,7 100,0 42,9 50,0 37,5 80,0 100,0 60,0 100,0 100,0 100,0 50,0 50,0 72,7 77,8 100,0 100,0 100,0 85,7 100,0 100,0 83,3 100,0 100,0 42,9 Progres TPA (%) 50,0 13,3 47,1 41,7 10,0 12,5 50,0 21,4 4,2 0,0 57,1 37,5 50,0 20,0 0,0 20,0 0,0 0,0 0,0 25,0 25,0 27,3 16,7 0,0 0,0 0,0 10,7 0,0 0,0 16,7 0,0 0,0 57,1 Point

4,66 3,97 3,56 3,33 3,21 3,18 3,17 3,17 3,15 3,14 3,12 3,12 3,11 3,07 3,04 3,02 2,99 2,96 2,92 2,90 2,89 2,88 2,88 2,83 2,78 2,78 2,69 2,69 2,67 2,63 2,46 2,39 2,33

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

185

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

POTENSI TEKANAN DAN ISU LINGKUNGAN DI MASA DEPAN


Kondisi lingkungan hidup yang masih memprihatinkan saat ini berpotensi memburuk. Tidak mengejutkan, karena berbagai faktor penekan punya kecenderungan meningkat di masa depan. Beberapa faktor penekan yang berpotensi meningkatatau relatif tetapdi masa depan, antara lain pertumbuhan penduduk dan kemiskinan; alih fungsi lahan; pertumbuhan sektor transportasi dan energi; dan rendahnya persepsi masyarakat tentang lingkungan.

Sebaran dan Pertumbuhan Penduduk


Karakteristik kependudukan Indonesia ditandai dengan sebaran yang tidak merata dan laju pertumbuhan yang relatif tinggi. Hingga 2010, Pulau Jawa yang hanya seluas 6,77 persen wilayah negeri ini, dihuni 138,09 juta jiwa atau 57,4 persen penduduk Indonesia. Sementara itu, Papua yang luasnya 21,77 persen dari luas daratan Indonesia, hanya didiami 3,69 juta jiwa atau 1,5 persen penduduk (Tabel 5.3). Proyeksi Badan Pusat Statistik, Bappenas, dan UNPF (2012a) menginformasikan, walau rata-rata laju pertumbuhan diduga turun dari 1,29 persen pada 2000 - 2005, menjadi 0,95 persen pada 2020 - 2025 (Tabel 5.4), penduduk Indonesia akan meningkat dari 240,673 juta pada 2000, menjadi 284,315 juta pada 2025. Pada 2025, sekitar 55,5 persen dari total proyeksi penduduk tersebut akan tinggal di Pulau Jawa. Meningkatnya jumlah penduduk di masa depan, terutama kurun 2025 - 2035, akan menciptakan Bonus Demografi. Tingginya penduduk usia muda pada periode itu dapat menjadi kekuatan sumberdaya manusia untuk pembangunan ekonomi. Hanya saja, jika tidak dikelola dengan baik, pertambahan penduduk ini dapat menjadi bumerang bagi pertumbuhan ekonomi dan lingkungan hidup. Bersama faktor-faktor lain, pertumbuhan penduduk yang tidak terkelola baik akan meningkatkan beban tekanan terhadap lingkungan. Dengan persebaran yang tidak seimbang, pertambahan penduduk di wilayah tertentu, terutama Jawa, berimbas pada menurunnya daya dukung dan daya lenting lingkungan.
Foto: Istimewa

186

Tabel 5.3 Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2010-2035


Provinsi 1. ACEH 2. SUMATERA UTARA 3. SUMATERA BARAT 4. RIAU 5. JAMBI 6. SUMATERA SELATAN 7. BENGKULU 8. LAMPUNG 9. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 10. KEPULAUAN RIAU PULAU SUMATERA 11. DKI JAKARTA 12. JAWA BARAT 13. JAWA TENGAH 14. D I YOGYAKARTA 15. JAWA TIMUR 16. BANTEN PULAU JAWA 17. B A L I 18. NUSA TENGGARA BARAT 19. NUSA TENGGARA TIMUR PULAU BALI DAN NUSA TENGGARA 20. KALIMANTAN BARAT 21. KALIMANTAN TENGAH 22. KALIMANTAN SELATAN 23. KALIMANTAN TIMUR* PULAU KALIMANTAN 24. SULAWESI UTARA 25. SULAWESI TENGAH 26. SULAWESI SELATAN 26. SULAWESI TENGGARA 28. GORONTALO 29. SULAWESI BARAT PULAU SULAWESI 30. M A L U K U 31. MALUKU UTARA KEPULAUAN MALUKU 32. PAPUA BARAT 33. PAPUA PULAU PAPUA TOTAL
Catatan * Sebelum pemekaran provinsi

2010 4.554 13.151 4.908 5.610 3.132 7.547 1.738 7.706 1.239 1.802 51.387 9.787 43.740 32.789 3.501 37.502 10.770 138.089 3.939 4.558 4.744 13.241 4.451 2.240 3.673 3.599 13.963 2.299 2.668 8.137 2.261 1.053 1.173 17.591 1.553 1.160 2.713 820 2.869 3.689 240.673

2015 4.978 13.889 5.180 6.356 3.447 8.081 1.890 8.121 1.382 2.123 55.447 10.277 47.028 33.943 3.710 38.842 11.955 145.755 4.168 4.859 5.129 14.156 4.785 2.520 3.956 4.093 15.354 2.458 2.893 8.546 2.499 1.134 1.283 18.813 1.688 1.297 2.985 929 3.182 4.111 256.621

2020 5.377 14.521 5.434 7.096 3.738 8.548 2.028 8.467 1.521 2.421 59.151 10.694 50.065 34.938 3.907 40.025 13.087 152.716 4.369 5.121 5.514 15.004 5.090 2.796 4.210 4.575 16.671 2.600 3.107 8.906 2.732 1.210 1.396 19.951 1.817 1.418 3.235 1.042 3.467 4.509 271.237

2025 5.734 15049 5.672 7.827 4.000 8.941 2.150 8.735 1.652 2.695 62.455 11.037 52.811 35.824 4.080 40.931 14.125 158.808 4.549 5.340 5.914 15.803 5.362 3.062 4.432 5.043 17.899 2.726 3.310 9.209 2.961 1.283 1.513 21.002 1.943 1.528 3.471 1.150 3.727 4.877 284.315

2030 6.045 15.467 5.890 8.554 4.235 9.259 2.255 8.922 1.776 2.970 65.373 11.268 55.217 36.537 4.228 41.512 15.049 163.811 4.711 5.515 6.325 16.551 5.598 3.315 4.622 5.506 19.041 2.832 3.502 9.444 3.183 1.349 1.632 21.942 2.065 1.622 3.687 1.258 3.961 5.219 295.624

2035 6.314 15.764 6.077 9.273 4.443 9.505 2.343 9.028 1.895 3.270 67.912 11.381 57.024 36.962 4.351 41.747 15.856 167.501 4.845 5.649 6.736 17.230 5.790 3.554 4.778 5.966 20.088 2.921 3.676 9.603 3.395 1.406 1.748 22.749 2.182 1.702 3.884 1.369 4.163 5.532 304.896

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, UNPF (2012)

187

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Tabel 5.4. Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2010-2035


Provinsi 1. ACEH 2. SUMATERA UTARA 3. SUMATERA BARAT 4. RIAU 5. JAMBI 6. SUMATERA SELATAN 7. BENGKULU 8. LAMPUNG 9. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 10. KEPULAUAN RIAU PULAU SUMATERA 11. DKI JAKARTA 12. JAWA BARAT 13. JAWA TENGAH 14. D I YOGYAKARTA 15. JAWA TIMUR 16. BANTEN PULAU JAWA 17. B A L I 18. NUSA TENGGARA BARAT 19. NUSA TENGGARA TIMUR PULAU BALI DAN NUSA TENGGARA 20. KALIMANTAN BARAT 21. KALIMANTAN TENGAH 22. KALIMANTAN SELATAN 23. KALIMANTAN TIMUR* PULAU KALIMANTAN 24. SULAWESI UTARA 25. SULAWESI TENGAH 26. SULAWESI SELATAN 26. SULAWESI TENGGARA 28. GORONTALO 29. SULAWESI BARAT PULAU SULAWESI 30. M A L U K U 31. MALUKU UTARA KEPULAUAN MALUKU 32. PAPUA BARAT 33. PAPUA PULAU PAPUA TOTAL
Catatan * Sebelum pemekaran provinsi

2010-2015 1,80 1,10 1,08 2,53 1,94 1,38 1,69 1,05 2,21 3,33 1,53 0.98 1,46 0,69 1,17 0,70 2,11 1,09 1,14 1,29 1,57 1,35 1,46 2,38 1,50 2,61 1,92 1,35 1,63 0,99 2,02 1,49 1,81 1,35 1,68 2,26 1,93 2,53 2,09 2,19 1,29

2015-2020 1,55 0,89 0,96 2,23 1,63 1,13 1,42 0,84 1,94 2,66 1,30 0,80 1,26 0,58 1,04 0,60 1,83 0,94 0,95 1,06 1,46 1,17 1,24 2,10 1,25 2,25 1,66 1,13 1,44 0,83 1,80 1,31 1,70 1,18 1,48 1,80 1,62 2,32 1,73 1,87 1,11

2020-2025 1,29 0,72 0,86 1,98 1,36 0,90 1,18 0,63 1,67 2,17 1,09 0,63 1,07 0,50 0,87 0,45 1,54 0,79 0,81 0,84 1,41 1,04 1,07 1,83 1,03 1,97 1,43 0,95 1,27 0,67 1,62 1,18 1,62 1,03 1,35 1,51 1,42 1,99 1,46 1,58 0,95

2025-2030 1,06 0,55 0,76 1,79 1,15 0,70 0,96 0,42 1,46 1,96 0,90 0,42 0,90 0,39 0,72 0,28 1,28 0,62 0,70 0,65 1,35 0,93 1,87 1,60 0,84 1,77 1,24 0,77 1,13 0,51 1,46 1,01 1,52 0,88 1,23 1,20 1,21 1,81 1,23 1,36 0,78

2030-2035 0,87 0,38 0,63 1,63 0,96 0,53 0,77 0,24 1,31 1,94 0,76 0,20 0,71 0,23 0,58 0,11 1,05 0,45 0,56 0,48 1,27 0,81 0,68 1,40 0,67 1,62 1,08 0,62 0,97 0,33 1,30 0,83 1,38 0,72 1,11 0,97 1,05 1,71 1,00 1,17 0,62

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, UNPF (2012)

188

Kemiskinan
Hubungan antara kemiskinan dengan degradasi lingkungan telah lama menjadi perdebatan. Kemiskinan dianggap penyebab memburuknya lingkungan, namun di sisi lain, bukan sebagai faktor utama degradasi lingkungan. Bahkan ada pendapat, justru lingkungan yang terdegradasi yang melahirkan kemiskinan. Dalam kasus tertentu, tidak dapat diingkari kemiskinan adalah salah satu faktor penyumbang menurunnya kualitas lingkungan. Kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup berada dalam lingkaran sebab-akibat yang tidak jelas awal-mulanya ( vicious cycle ). Kemiskinan dapat memicu kerusakan lingkungan, sebaliknya lingkungan yang rusak juga bisa menyebabkan kemiskinan. Data kemiskinan Indonesia menyajikan tendensi penurunan persentase penduduk miskin: dari 16,66 persen pada Februari 2004, menjadi 11,66 persen pada September 2012 (Gambar 5.3). Lepas dari tren penurunan tersebut, secara absolut 28,59 juta penduduk hidup di bawah garis kecukupan/kemiskinan yang ditetapkan pemerintah. Besarnya jumlah penduduk miskin, bersama faktor lain, berpotensi menambah tekanan terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Secara umum, jumlah dan persentase warga miskin berfluktuasi selama periode 1996 - 2012. Sempat menurun selama 2000 2005, kemudian meningkat pada 2006, dan kembali turun pada 2007 - 2012. Pada periode 1996-1999, karena krisis ekonomi, jumlah warga miskin meningkat 13,96 juta jiwadari 34,01 juta (17,47 persen) pada 1996, menjadi 47,97 (23,43 persen) pada 1999. Dengan standar kemiskinan yang disempurnakan, jumlah itu terus berkurang hingga 29,13 juta jiwa (11,96 persen) pada Maret 2012. Bila dibandingkan dengan Maret 2011, angka kemiskinan berkurang 0,89 juta orang (0,53 persen), dari jumlah 30,02 juta orang (12,49 persen). Selama Maret 2011 Maret 2012, penduduk miskin di perkotaan berkurang 399,5 ribu orangdari 11,05 juta orang pada Maret 2011, menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2012. Sementara di perdesaan berkurang 487 ribu orangdari 18,97 juta orang pada Maret 2011 menjadi 18,48 juta orang pada Maret 2012. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 9,23 persen, menurun 8,78 persen pada Maret 2012. Begitu juga penduduk miskin di perdesaan, dari 15,72 persen pada Maret 2011 menjadi 15,12 persen pada Maret 2012.

Gambar 5.3. Perkembangan Kemiskinan di Indonesia, 2004-2012

Persentase (PO) Penduduk Miskin (Juta) 34,96 32,53 31,02 30,02 29,89 29,13 28,59

39,30 36,10 35,10

37,17

16,66

15,97

17,75

16,58

15,42

14,15

13,33

12,49

12,36

11,96

11,66

Feb 04

Feb 05

Mar 06 Mar 07

Mar 08

Mar 09

Mar 10 Mar 11 Sept 11 Mar 12 Sept 12

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

189

Tabel 5.5. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, September 2012
P1 ( persen) Kota Desa Kota Desa P2 ( persen)

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Provinsi

190

Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

Jumlah Penduduk Miskin (000) Penduduk Miskin ( persen) Kota Kota Kota Desa Kota Desa +Desa +Desa 165,40 711,10 876,60 12,47 20,97 18,58 669,40 709,10 1,378,40 10,28 10,53 10,41 124,30 273,60 397,90 6,45 8,99 8,00 156,40 324,90 481,30 6,68 8,94 8,05 105,30 164,70 270,10 10,53 7,29 8,28 367,60 674,40 1,042,00 13,29 13,58 13,48 92,70 217,80 310,50 16,89 17,80 17,51 237,90 981,10 1,219,00 11,88 16,96 15,65 24,00 46,20 70,20 3,73 6,96 5,37 106,60 24,60 131,20 6,77 7,08 6,83 366,80 366,80 3,70 0,00 3,70 2.560,00 1.861,50 4,421,50 8,71 12,13 9,89 1.946,50 2.916,90 4,863,40 13,11 16,55 14,98 306,50 255,60 562,10 13,10 21,29 15,88 1.606,00 3.354,60 4,960,50 8,90 16,88 13,08 333,50 314,80 648,30 4,41 8,31 5,71 93,20 67,70 161,00 3,81 4,17 3,95 415,40 412,90 828,30 21,65 15,41 18,02 117,40 882,90 1,000,30 12,21 22,41 20,41 74,20 281,50 355,70 5,49 9,04 7,96 32,30 109,60 141,90 4,21 7,19 6,19 56,50 132,70 189,20 3,56 6,07 5,01 91,50 154,60 246,10 3,82 10,56 6,38 66,80 110,70 177,50 6,36 8,69 7,64 60,20 349,40 409,60 9,02 16,85 14,94 133,60 672,30 805,90 4,44 12,93 9,82 29,60 274,70 304,30 4,62 16,24 13,06 17,80 169,90 187,70 4,80 23,63 17,22 29,10 131,50 160,60 10,03 13,92 13,01 51,10 287,80 338,90 8,39 28,12 20,76 8,70 79,60 88,30 2,92 9,98 8,06 13,30 210,00 223,20 5,36 36,33 27,04 48,10 928,30 976,40 5,81 39,39 30,66 10.507,80 18.086,90 28.594,60 8,60 14,70 11,66 1,44 2,04 1,13 0,97 2,37 2,04 2,72 1,54 0,39 0,81 0,56 1,40 2,06 2,29 1,29 0,77 0,42 4,40 2,59 1,11 0,92 0,47 0,73 1,14 1,94 0,48 0,19 0,64 1,83 1,61 0,08 0,65 1,28 1,38 3,71 1,61 1,30 1,23 0,93 1,75 3,20 2,87 0,92 0,99 2,05 2,67 4,07 2,52 1,30 0,35 2,34 3,68 1,30 1,16 0,97 1,43 1,21 3,10 2,37 2,58 4,53 1,72 6,03 1,14 7,88 9,49 2,42 Kota +Desa 3,07 1,82 1,24 1,13 1,37 1,85 3,05 2,53 0,66 0,85 0,56 1,62 2,39 2,89 1,93 0,95 0,39 3,20 3,47 1,24 1,08 0,76 0,99 1,18 2,82 1,68 1,92 3,21 1,74 4,38 0,85 5,71 7,35 1,90 0,27 0,63 0,30 0,20 0,92 0,50 0,66 0,30 0,06 0,17 0,15 0,35 0,50 0,58 0,30 0,24 0,08 1,23 0,81 0,39 0,25 0,10 0,22 0,33 0,68 0,09 0,02 0,12 0,47 0,46 0,00 0,15 0,48 0,36 1,04 0,38 0,32 0,28 0,22 0,39 0,87 0,73 0,22 0,31 0,54 0,63 1,09 0,57 0,36 0,05 0,54 0,93 0,31 0,27 0,23 0,30 0,27 0,87 0,62 0,66 1,22 0,38 1,81 0,20 2,37 3,13 0,61

Garis Kemiskinan (Rp) Kota Kota Desa +Desa 352.056 310.089 321.893 295.080 249.165 271.738 321.128 273.655 292.052 333.933 295.582 310.603 328.504 248.812 273.267 296.933 238.901 259.668 318.881 267.273 283.252 297.421 251.202 263.088 374.284 390.294 382.412 373.725 316.963 363.450 392.571 - 392.571 249.170 228.577 242.104 245.817 223.622 233.769 284.549 241.975 270.110 253.947 234.556 243.783 262.371 228.794 251.161 270.020 230.389 254.221 274.879 230.054 248.758 293.906 205.083 222.507 254.972 232.303 239.162 274.222 279.008 277.407 286.844 257.282 269.714 384.413 330.329 363.887 231.794 217.355 223.883 292.578 258.393 266.718 215.790 183.959 195.627 215.050 198.902 203.333 217.073 210.101 212.476 212.579 205.383 207.072 314.855 284.629 295.904 276.117 240.447 250.184 374.382 346.157 354.626 344.415 281.022 297.502 277.382 240.441 259.520

Kota +Desa 0,83 0,50 0,31 0,25 0,44 0,43 0,80 0,62 0,14 0,19 0,15 0,42 0,57 0,75 0,44 0,28 0,07 0,83 0,91 0,33 0,27 0,17 0,25 0,30 0,82 0,42 0,49 0,84 0,40 1,31 0,14 1,71 2,44 0,49
Sumber: Susenas Maret 2012

Alih Fungsi Lahan


Sejak lama alih fungsi lahan telah menjadi permasalahan serius. Secara khusus melanda kawasan perlindungan yang dirombak menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, industri dan permukiman. Alih fungsi lahan telah mendorong degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Di masa depan, untuk berbagai kebutuhan di atas, alih fungsi lahan masih akan tetap berlangsung. Bahkan untuk sektor tertentu, seperti pertambangan, diperkirakan akan terjadi lebih intens. Jika melihat tren pada tahun sebelumnya, untuk memenuhi pangan dalam negeri, khususnya beras, proyeksi kebutuhan lahan sawah akan terus meningkat. Pada 2008 luas panen padi sebesar 12.327 hektar, meningkat menjadi 13.443 hektar pada 2012; atau naik 9,05 persen selama lima tahun. Jika kebutuhan beras harus dipenuhi dari dalam negeri, tingginya kebutuhan lahan sawah pasti berdampak pada alih fungsi lahan untuk membuat sawah baru. Sangat mungkin terjadi, alih fungsi lahan mengarah pada kawasan yang berfungsi lindung. Tingginya kebutuhan pangan mendorong pemerintah membangun kawasan pertanian yang terintegrasi dengan pengembangan energi: Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Provinsi Papua. MIFEE adalah tindak lanjut Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) koridor ekonomi Papua-Kepulauan Maluku, sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi dan pertambangan nasional. Di dalam MIFEE akan dikembangkan produksi pangan yang mencakup aspek pertanian, perkebunan, dan peternakan di kawasan yang luas ( an integrated farming, plantation and livestock zone ). Tidak kurang 2,5 juta hektar lahan disiapkan untuk kawasan pertanian pangan. Dari luas lahan itu, 1,94 juta hektar direncanakan untuk lahan sawah. Lebih dari setengah kawasan MIFEE (1,43 juta hektar) berada di lahan hutan produksi konversi (HPK). Sementara itu, meningkatnya permintaan dunia terhadap minyak sawit juga telah mendorong pengembangan kebun sawit dengan mengalihfungsikan lahan, khususnya lahan kehutanan. Pada 1995 lahan kelapa sawit seluas 992.400 hektar, meningkat menjadi 5.406.900 hektar pada 2012 (BPS). Atau naik lebih lima kali lipat selama kurang dari dua dekade. Konversi lahan tersebut akan terus terjadi pada masa yang akan datang. Nantinya, konversi lahan dapat terjadi sebagai lanjutan alih fungsi lahan saat ini untuk pertambangan. Gambar 5.4 menampilkan wilayah Indonesia yang memiliki kandungan batubara di Sumatra dan Kalimantan.

Tabel 5.6 Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi di Indonesia


No Padi
1. Produksi (000 Ton) Luas panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 60.326 12.327 48,94 64.399 12.884 49,99 66.469 13.253 50,15 65.757 13.204 49,80 69.045 13.443 51,36

Komoditas

2008

2009

Tahun 2010

2011

2012*

Padi Sawah
2. Produksi (000 Ton) Luas panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 57.170 11.258 50,78 61.171 11.797 51,58 63.018 12.119 52,00 62.528 12.169 51,38 65.177 12.279 53,08

Padi Ladang
3. Produksi (000 Ton) Luas panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Keterangan: *Angka sementara 3.156 1.070 29,51 3.228 1.086 29,71 3.451 1.135 30,42 3.229 1.035 31,21 3.868 1.164 33,32

Sumber: Badan Pusat Statisik

191

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Gambar 5.4 Lokasi Penyebaran Sumber Daya dan Cadangan Batubara Status Desember (2011)

Total Sumber Daya Batubara (2011) = 105.187,44 Juta Ton Cadangan batubara (2011) = 21.131,84 Juta Ton

Sumber : Kementerian ESDM, 2011

Tanaman padi di tengah perkotaan Foto: Siswanto

192

Pertumbuhan Sektor Transportasi


Nota Keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013 mencatat ekonomi Indonesia selama 2007 2012 mampu tumbuh di atas 6 persen per tahun, kecuali pada 2009 yang hanya 4,6 persen. Selain itu, sejalan dengan target RPJMN, selama 2014 - 2016 pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berakselerasi rata-rata di atas 7 persen. Pencapaian pertumbuhan ekonomi dan estimasinya itu, memberi tanda bahwa pembangunan ekonomi akan stabil dan bahkan melampaui prestasi pada 2007 2012. Pencapaian pertumbuhan diyakini akan memicu efek ganda ( multiplier effects ) pembangunan. Misalnya, pertumbuhan sektor transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat. Pertumbuhan sektor transportasi selama 2000 2011, memperlihatkan jumlah kendaraan bermotor meningkat tajam hingga lebih 4 kali lipat. Sebagai contoh, pada 2000 terdapat sekitar 19 juta kendaraan sepeda motor, bis, truk dan mobil penumpang. Jumlah itu meningkat menjadi sekitar 85,6 juta pada 2011. Data pertumbuhan kendaraan bermotor antara 19872011 disajikan dalam Tabel 5.7. Sadar atau tidak, meningkatnya kendaraan bermotor diikuti dengan naiknya konsumsi bahan bakar fosil. Sepanjang 20 tahun terakhir, konsumsi bahan bakar minyak terus naik, dari sekitar 30 juta KL pada 1990 menjadi 60 juta KL pada 2010. Konsumsi BBM akan terus meningkat seiring bertambahnya kendaraan, yang berujung pada peningkatan pencemaran udara.

Tabel 5.7 Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2011
Tahun 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999*) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Mobil Penumpang 1.170.103 1.073.106 1.182.253 1.313.210 1.494.607 1.590.750 1.700.454 1.890.340 2.107.299 2.409.088 2.639.523 2.769.375 2.897.803 3.038.913 3.189.319 3.403.433 3.792.510 4.231.901 5.076.230 6.035.291 6.877.229 7.489.852 7.910.407 8.891.041 9.548.866 Bis 303.378 385.731 434.903 468.550 504.720 539.943 568.490 651.608 688.525 595.419 611.402 626.680 644.667 666.280 680.550 714.222 798.079 933.251 1.110.255 1.350.047 1.736.087 2.059.187 2.160.973 2.250.109 2.254.406 Truk 953.694 892.651 952.391 1.024.296 1.087.940 1.126.262 1.160.539 1.251.986 1.336.177 1.434.783 1.548.397 1.586.721 1.628.531 1.707.134 1.777.293 1.865.398 2.047.022 2.315.781 2.875.116 3.398.956 4.234.236 4.452.343 4.452.343 4.687.789 4.958.738 Sepeda Motor 5.554.305 5.419.531 5.722.291 6.082.966 6.494.871 6.941.000 7.355.114 8.134.903 9.076.831 10.090.805 11.735.797 12.628.991 13.053.148 13.563.017 15.275.073 17.002.130 19.976.376 23.061.021 28.531.831 32.528.758 41.955.128 47.683.681 52.767.093 61.078.188 68.839.341 Jumlah 7.981.480 7.771.019 8.291.838 8.889.022 9.582.138 10.197.955 10.784.597 11.928.837 13.208.832 14.530.095 16.535.119 17.611.767 18.224.149 18.975.344 20.922.235 22.985.183 26.613.987 30.541.954 37.623.432 43.313.052 54.802.680 61.685.063 67.336.644 76.907.127 85.601.351

*) sejak 1999 tidak termasuk TimorTimur

Sumber: Kantor Kepolisian Republik Indonesia disadur dari Badan Pusat Statistik

193

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

Permintaan Energi
Dengan makin tingginya permintaan energi, lingkungan hidup akan terus tertekan di masa depan. Kebutuhan energi final masa datang akan didominasi permintaan dari sektor industri (47,3 persen), diikuti transportasi (29,8 persen) dan rumah tangga (14,1 persen). Pertumbuhan setiap sektornya, industri: 6,2 persen; transportasi: 6,1 persen; rumah tangga: 2,2 persen; komersial: 4,9 persen; dan PKP 3,8 persen. Walaupun jumlah energi baru dan terbarukan (EBT ) cukup berkembang, pasokan energi Indonesia mendatang masih akan didominasi batubara, diikuti minyak bumi dan gas bumi. Berdasarkan Skenario Dasar, bauran pasokan energi pada 2030 menjadi: batubara 51 persen, minyak bumi 22,2 persen, gas bumi 20,4 persen, dan sisanya 6,1 persen EBT. Pada Skenario Mitigasi, bauran pasokan energi 2030 adalah: batubara 29,5 persen, gas bumi 31,4 persen, minyak bumi 24,6 persen, dan sisanya 14,5 persen EBT. Jenis EBT yang akan menonjol adalah BBN (5,8 persen), tenaga air (2,9 persen) panas bumi (3,5 persen) dan biomassa nonrumah tangga (2,9 persen). Terkait pertumbuhan sektor transportasi, Kementerian ESDM mencatat transportasi akan menjadi sektor kedua yang mendominasi permintaan energi. Hal itu sejalan dengan prediksi pertumbuhan transportasi yang dikemukakan pada uraian terdahulu. Namun demikian, dari segi pasokan, batubara akan banyak mendukung pertumbuhan energi Indonesia masa depan (2030), yang diduga mencapai lebih 51 persen. Alhasil, pasokan energi dari batubara akan menuntut bertambahnya penambangan bahan mineral itu. Seperti telah diuraikan, penambangan batubara memungkinkan alih fungsi lahan, yang berimbas pada degradasi lingkungan hidup.

Sebuah traktor merapihkan timbunan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Indramayu, Jawa Barat TEMPO/Aditia Noviasnyah

194

Kepadatan kendaraan bermotor di kawasan Thamrin, Jakarta, Setiap hari pertumbuhan mobil baru di Jakarta sekitar 1.200 unit dan sepeda motor sekitar 2.800 unit Tempo/Tony Hartawan

Perilaku Peduli Lingkungan


Di samping berbagai faktor di atas, naik-turunnya kualitas lingkungan hidup dapat dipengaruhi oleh pemahaman dan kesadaran masyarakat. Kemudian bagaimana kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup? Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 mengkaji perilaku peduli lingkungan hidup di beberapa provinsi. Hasil kajian menunjukkan, pada umumnya indeks perilaku lingkungan provinsi yang diteliti berkategori cukup atau di angka 5,7 (lihat Bab III). Selain perilaku pemanfaatan bahan bakar nasional yang bernilai belum cukup, indeks perilaku lainnya bernilai sedang. Bahkan indeks perilaku konsumsi energi termasuk tinggi. Karena biaya untuk energi makin mahal, bisa dipahami sebagian besar masyarakat terdorong melakukan hemat energi, misalnya energi listrik.

195

Kualitas Lingkungan dan Kapasitas Pengelolaannya

KAPASITAS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MASA DEPAN


Mengecilnya tutupan hutan, pencemaran, memburuknya pesisir dan laut, serta merosotnya keanekaragaman hayati masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Tantangan dan permasalahan yang terjadi, berjalan seiring dengan masih rendahnya kapasitas pengelolaan lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan, dan banyak di antaranya yang berhasil, pengelolaan lingkungan secara keseluruhan belum mampu meningkatkan kualitas lingkungan. Bahkan, belum mampu mengatasi gejala memburuknya kualitas lingkungan. Lingkungan hidup di masa depan masih akan menghadapi berbagai tekanan yang sama, atau bahkan mungkin lebih besar. Karena itu, perlu penguatan kapasitas lingkungan untuk menghadapi persoalan lingkungan tersebut. Peningkatan kapasitas yang memadai diperlukan, agar kondisi lingkungan hidup Tanah Air dapat dipulihkan kembali, disertai dengan melestarikan lingkungan hidup yang masih baik.

Sisa-sisa penebangan hutan Foto: Dok KLH

196

197

BERSINERGI MENATAP MASA DEPAN

198

Status lingkungan hidup Indonesia masih membuat banyak pihak mengelus dada. Namun harus diakui bahwa laju kerusakan dan pencemaran juga berkurang. Ibarat adu cepat, laju kerusakan dan pencemaran lingkungan menurun, sementara aksi-aksi lingkungan makin kencang. Banyak kalangan bahu-membahu turut mencegah dan memulihkan lingkungan hidup.

199

Bersinergi Menatap Masa Depan

SINTESIS
Kapasitas kelembagaan berperan penting dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Seperti telah diuraikan di depan, kapasitas kelembagaan yang mumpuni diharapkan menjadi pengungkit bagi pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik. Kondisi lingkungan hidup merupakan hasil interaksi kompleks berbagai aspek: ekonomi, sosial dan teknologi. Interaksi setiap aspek itu dipertautkan oleh kapasitas kelembagaan. Secara umum, kapasitas kelembagaan memberikan hasil beragambagi tren status lingkungan hidup. Ini terjadi lantaran begitu banyak variabel kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan.Sekadar mengingatkan kembali, variabel itu mencakup anggaran, sumberdaya manusia, kebijakan, program serta rentang kewenangan dalam pengelolaan lingkungan hidup, baik tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.Interaksi yang kompleks dan transmisi dampak dari berbagai variabel itu tak mudah diidentifikasi, karena satu sama lain saling mempengaruhi. Dalam perspektif SLHI 2012, kapasitas pengelolaan lingkungandilihat secara implisit melalui tren kualitasudara, air, lahan dan hutan, pesisirlautserta keanekaragaman hayati. Dinamika status lingkungan itu tak lepas dari berbagai tekanan yang membebani lingkunganseperti pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi. Interaksi kedua faktor ini membuat tekanan terhadap lingkungan menjadi lumayan berat. Kualitas udara misalnya. Melejitnya konsumsi bahan bakar minyak diiringi jumlah kendaraan bermotor yang terus menanjak, berefek padanaiknya emisi oksida nitrogen (NOx), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida(SO 2), debu diameter 10 mikron dan 2,5 mikron ke bawah (PM 10 dan PM 2,5), dan hidrokarbon (HC). Tekanan penduduk dan ekonomi juga menambah tekananbagi kualitas air. Meski beban pencemaran air dari sektor industri cenderung turunsalah satunya melalui penerapanprogram peringkat kinerja perusahaan (PROPER), pencemaran air dari limbah rumah tangga masih menjadi tantangan besar. Tak sekadar kualitas air yang menurun, tekanan juga menimpa kuantitas sumberdaya air. Ini khususnya menerpa Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Hingga medio 2000-an saja, jumlah DAS kritis meningkat dari 22 menjadi 62 DAS selama 1984-2005. Tak mengherankan,banjir dan kekeringan kerap mendera wilayah DAS kritis. Kualitas air sungai, khususnya di Jawa, masih menunjukkan pencemaran yang relatif tinggi. Dampaknya, ketersediaan air bersih bagi masyarakat kian berkurang. Sekitar 119 juta masyarakat Indonesia kini tanpa akses terhadap air bersih. Beban cukup berat juga dialami komponen lahan dan hutan. Polanya cenderung sama. Pada periode 2000 2011, luas tutupan hutan cenderung berkurang, dan deforestasi sebesar 6,5 juta hektar selama 11 tahun belakangan. Deforestasi dan degradasi hutan terkait erat dengan perkembangan lahan kritis di Indonesia. Lahan kritis adalah lahan yang fisiknya telah rusak, sehingga tidak dapat berfungsi baik sebagai media produksi atau pengatur tata air. Selama 2000-2011, lahan kritis bertambah 4 juta hektar, dengan kontribusi setiap provinsi yang berbeda-beda. Tak hanya matra terestrial, pesisir dan laut juga menderita tekanan yang tak kalah berat. Kendati ada tren perbaikan, hingga 2012, kondisi terumbu karang misalnya, yang berkategori sangat baik dan baik, hanya sekitar 5,30 persendan 27,19 persen. Sementara luas hutan mangrove menyusutdari sekitar 7,7 juta hektar pada 2006, menjadi sekira 5,5 juta hektar pada 2011. Selain itu, beberapa wilayah pengelolaan perikanan (WPP) mengalami overfishing atau moderately overfishing , dan airnya tercemar tumpahan minyak yang mengancam sumberdaya hayati laut. Tekanan yang menderamatra terestrial dan pesisirlaut, tak pelak lagi berdampak langsung pada keanekaragaman hayati yang terpendam di kedua ekosistem itu. Walau berbagai upaya pencegahan tengah dilakukan pemerintah,beberapa florafauna negeri ini terancam punah. Upaya yang sama juga dilakukan masyarakat,yang telah banyak menyelamatkan flora dan fauna dari kepunahan. Di sisi lain, telaah dalam pustaka ini memberi gambaran tren meningkatnya berbagai komponen kapasitas pengelolaan lingkungan hidup. Porsi anggaran lingkungan hidup di tingkat nasional maupun daerah cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Demikian

200

AKSI PENANAMAN 1 MILYAR POHON- Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di dampingi Ny. Ani Yudhoyono saat menanam pohon dalam gerakan penanaman 1 milyar pohon di waduk Jatiluhhur, Purwakarta, minggu 28 november 2010 Foto: TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

juga kapasitas sumberdaya manusia terus membaik baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Beberapa tahun terakhir, peningkatan kapasitas terkait kebijakan makro dalam mendukung ekonomi hijau, misalnya, terus diupayakan. Hal itu terlihat dariberbagai pelatihan tentang perhitungan PDRB hijau dan instrumen ekonomi lainnya. Dalam beberapa kasus, peningkatan kapasitas memberi hasil positif, seperti pelaporan status lingkungan hidup daerah yang makin berkualitas. Di sisi lain, kinerja pengelolaan lingkungan hidup juga bisa dilihat dari beberapa inisiatifpemerintah pusat dan daerah dalam kebijakan yang mendukung perbaikan lingkungan hidup. Di tingkat nasional, Indonesia berperan penting dalamaneka forum: pembangunan berkelanjutan, produksi dan konsumsi berkelanjutan, perlindungan lapisan ozon, pengurangan limbah B3 dan perdagangan internasional yang terkait lingkungan. Indonesia juga telah beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan lingkungan Internasional, seperti COP14 tahun 2007, Joint9th Meeting of the Conference of Parties to the Vienna Convention dan 23rd Meeting of the Parties to the Montreal Protocol ; Environmentally Sustainable City (ESC) Program;dan Konferensi Asia

Pacific Roundtable for Sustainable Consumption and Production (APRSCP) ke-10. Partisipasi ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan hidupnasional dan global. Di tingkat daerah, beberapa daerah berinisiatif dalam kebijakan untuk memperbaiki lingkungan hidup. Seperti inisitatif pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di Jawa yang memberikan kepastian hak atas pengelolaan hutan. Demikian juga, program lain seperti program PERMATA (Penyelamatan mata air), program penyelamatan danau dan sungai, serta program penyelamatan teluk dan selatTeluk Tomini dan Selat Bali. Beragam inisiatif tersebut memberi penyadaran kepada masyarakat tentang nilai penting penyelamatan lingkungan. Selain itu upaya penyelamatan flora dan fauna, seperti pelestarian badak jawa, badak sumatera dan spesies bambu yang menumbuhkan kesadaran khalayak tentang pentingnya keanekaragaman hayati negeri ini. Sementara itu, pengakuan hak adat dan nilai budaya telah banyak dilakukan dengan terbitnya peraturan daerah. Kabupaten Lebak, Banten, misalnya, menerbitkan peraturan daerah yang mengakui masyarakat Baduy dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan. Hal lain yang menarik adalahkerjasama Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon, Jawa Barat,

201

Bersinergi Menatap Masa Depan

Gambar 6.1. Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup vs Kualitas Lingkungan Hidup


Kualitas LH tinggi

Kapasitas LH rendah

Kapasitas LH tinggi

Kualitas LH rendah
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

yang bersinergi dalam konservasi sumber air di lereng Gunung Ciremai. Kapasitas pengelolaan lingkungan hidup juga semakin bisa unjuk gigi. Beberapa aspek menunjukkan hal itu, seperti anggaran, peraturan, sumberdaya manusia, baik di pemerintahan maupun para pemangku kepentingan. Interaksi antara kapasitas dan kualitas lingkungan memang masih sulit diukur dengan nilai tertentu. Derajat kualitas lingkungan hidup dapat dilihat dari beberapa indikator yang telah dipaparkan dalam laporan ini. Kendati secara ilmiah dapat berterima, namun memang masih perlu upaya keras untuk mendapatkan satu kesimpulanakurat tentang status lingkungan hidup Indonesia. Begitu jugadalam mengukurtingkat kapasitas pengelolaan lingkungan hidup. Tentu saja, seraya tetap berikhtiar mencari ukuran dan nilai yang tepat, untuk memberi gambaran simultan,tetap diperlukan satu kesimpulan.

Interaksi kapasitas pengelolaan dan kualitas lingkungan hidup dapat dilihat pada gambar 6.1. Nampaknya, status lingkungan hidup memang masih mengisyaratkan kerja keras di masa datang. Sedangkan untuk kapasitas pengelolaan rupanya juga masih belum memadai untuk mengungkit kondisi lingkungan menjadi lebih baik. Harapannya, bila kapasitas pengelolaan ditingkatkan di masa depan, lingkungan hidup akan mencapai titik balik: statusnya kian membaik. Lantas kapan harapan itu mewujud. Jawabannya terletak di pundak semua pihak: komitmen bersama bagi terciptanya lingkungan hidup yang lestari. Seluruh potret status lingkungan hidup dan kapasitas pengelolaannya dalam pustaka ini sejatinya mengajak semua komponen bangsa untuk merenung dan mengambil hikmahnya. Dengan begitu, aksi selanjutnya adalah kajian mendalam dan luas bagi perencanaan, penelitian dan memutuskan kebijakan.

202

HARAPAN KE DEPAN

Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan Foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono

Sebagai ilustrasi awal tantangan dan langkah ke depan, diperlukan paparan pengharapan bagi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pada masa mendatang, Indonesia bakal menginjak pada tahap pembangunan jangka menengah ketiga (2015-2019) dengan situasi politik yang kian dinamis. Tantangan pembangunan jangka menengah ketiga akan semakin kompleks dengan target pembangunan bertahap menuju Visi Indonesia 2025: PDB ditargetkan mencapai US$ 3,8 4,5 triliun dan pendapatan per kapita US$ 13.000-16.000. Untuk mencapai target itu tentu saja tak mudah. Diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, bertahan pada 6 7 persen per tahun, dengan kontribusi ekstraksi sumberdaya alam yang makin giat. Arah menuju ke sana saat ini sudah dimulai dengan kebijakan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan(MP3EI). Selain mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan konektivitas, kebijakan MP3EI tidak dipungkiri bakal menambah beban bagi sumberdaya alam dan lingkungan. Jika dilihat dari hasil sintesis di atas, tanpa intervensi akselerasi pembangunan pun, kualitas lingkungan cenderung menurun. Meski berbagai upaya juga telah dilakukan, beban berat atas lingkungan rupanya belum bisa diimbangi dengan kebijakan dan aksi untuk mengurangi beban itu. Dengan demikian, tekanan terhadap lingkungan akan semakin besar dengan adanya percepatan pembangunan.

Melihat kecenderungan itu, intervensi pemerintah yang kontinyu dan konsisten untuk memperbaiki lingkungan akan berdampak positif bagi status lingkungan hidupdi masa depan. Program dan aksi bagi perbaikan mutu air, udara, pesisir-laut, lahanhutan, dan keanekaragaman hayati, yang dikemas dalam kerangka ekonomi hijau, akan memberi insentif bagi masyarakat, swasta dan pemerintah untuk turut memperbaiki lingkungan dan ekonomi. Kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan akan berperan dalam meningkatkan intervensi kebijakan pemerintah di bidang lingkungan hidup. Peningkatan anggaran lingkungan hidup di pusat dan daerah akan memperkuat pelaksanaan program pengendalian kerusakan dan peningkatan kualitas lingkungan. Demikian juga, dengan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan infrastukturseperti laboratorium yang terakreditasi. Sementara itu, peran pemerintah daerah dengan menerbitkan regulasi terkait lingkungan hidup akan memberikan payung hukum dan kekuatan kelembagaan dalam mengembangkan instrumen ekonomi lingkungan, seperti pembayaran jasa lingkungan, subsidi lingkungan dan sejenisnya. Hal ini tidak terlepas dari kapasitas daerah dalam menangkap peluang dan memecahkan masalah lingkungan melalui kerangka regulasi dan mekanisme lainnya.

203

DAFTAR

Pustaka

Aji, GB., J.Suryanto & TI.Miranda. 2009. Strategi alternatif mengurangi kemiskinan dengan pengelolaan hutan bersama masyarakat. LIPI.Jakarta Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2011. Data Bencana Indonesia Badan Pusat Statistik, 2012. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia Badan Pusat Statistik, 2012. Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir Bappenas, BPS, dan UNPF. 2012. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 BAPPENAS-ADB, 1999. Causes, Extent, Impact and Cost of 1997/1998 Fires and Drought. Laporan akhir, Lampiran 1 dan 2. Planning for Fire Prevention and Drought Management Project. Asian Development Bank TA 2999-INO. National Development Planning Agency (BAPPENAS) and Asian Development Bank, Jakarta BPLHD Jawa Timur 2012, Laporan mengenai sungai Brantas BPS, 2012. Indikator Pembangunan Berkelanjutan BPS, 2012. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2014 Ditjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, 2012. Laporan tentang ketentuan emisi gas buang kendaraan bermotor Ditjen Sumber Daya Air,Kementerian PU, 2012. Potensi air dan ketersediaan air perkapita Kementerian Lingkunangan Hidup, 2012. Laporan Pemantauan Kualitas Air Laut Kementerian Kehutanan, 2011. Statistik Kehutanan Kementerian Kelautan dan Perikanan,2012. Laporan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) Kartawinata, K. 2005. Six Decades of Natural Vegetation Studies in Indonesia. In: Soemodihrdjo, S. and S.D. Sastrapradja Ieds.).Six Decades of Science and Scientists in Indonesia. Naturindo. Bogor pp 95-140. Kementerian Kesehatan, 2012. Profil Kesehatan Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup, 2012. Laporan SLHI 2010 Kementerian Lingkungan Hidup, 2012. Laporan Survei Perilaku Masyarakat Peduli Lingkungan Kodoatie R. J. 2011. Kondisi Sumber Daya Air Dan Solusi Terhadap Permasalahan Air Di Indonesia. Makalah dalam Diskusi Tentang Pengelolaan Sumber Daya AlamTambang Dan Air Dalam Kerangka Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Kementrian Lingkungan Hidup. Jakarta 2011 Laporan Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Pulau Mursala. Kepulauan Riau, 2012 Lilik Budi Prasetyo, 2012. Laporan Hasil Kajian mengenai Keberhasilan Kuningan dalam Konservasi Hutan Pusat Penelitian Biologi-LIPI. 2011. Status Keanekaragaman Hayati Indonesia. 48 pp. Pusat Pengolahan Data, Kementerian PU, 2012. Buku Informasi Statistik Pekerjaan Umum Pusdatin ESDM 2010, Konsumsi energi di Indonesia tahun 1990 2009 dari berbagai sektor dalam Handbook Energy & Economic Statistic of IndonesiaPengukuran kualitas udara perkotaan tahun 2011 dan 2012 dalam Laporan EKUP, Kementerian Lingkungan Hidup 2012 Pusdatin-Kementerian ESDM, 2010. Indonesia Energy Outlook 2010 Status Keanekaragaman Hayati Indonesia, Puslit Biologi. LIPI 2012 Tren peningkatan jumlah kendaraan bermotor (darat) nasional untuk kategori (a) mobil, truk dan bus, (b) sepeda motor, Sumber: diolah dari data Polri dalam Statistik Indonesia 2012

204

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Jl. D. I. Panjaitan Kav. 24 Jakarta 13410 Telp : 021 -8580081 Fax: 021 -8580081

206