Anda di halaman 1dari 7

Narkotik gol 2 Petidin

Meperidin HCl yang biasa dikenal dengan nama petidin, merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit golongan narkotik. Obat ini ditemukan pada tahun 1939, oleh dua orang ilmuwan Jerman, yaitu Eisleb and Schaumann. Pada awal kemunculannya, obat ini juga digunakan untuk mengatasi otot yang kaku (spasme). Meperidin HCl termasuk golongan obat sintetik. Secara umum, rumus kimia meperidin hampir sama dengan metadon dan fentanil, yang merupakan dua jenis penghilang nyeri yang sudah cukup dikenal. Rumus kimia petidin

Cara kerja dari meperidin HCL atau petidin? Petidin merupakan narkotika sintetik derivat fenilpiperidinan dan terutama berefek terhadap susunan saraf pusat. Mekanisme kerja petidin menghambat kerja asetilkolin (senyawa yang berperan dalam munculnya rasa nyeri) yaitu pada sistem saraf serta dapat mengaktifkan reseptor, terutama pada reseptor , dan sebagian kecil pada reseptor kappa. Penghambatan asetilkolin dilakukan pada saraf pusat dan saraf tepi sehingga rasa nyeri yang terjadi tidak dirasakan oleh pasien Efeknya terhadap SSP adalah menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, dapresi pernafasan serta efek sentral lain. Efek analgesik petidin timbul agar lebih cepat dari pada efek analgetik morfin, yaitu kirakira 10 menit, setelah suntikan subkutan atau intramuskular, tetapi masa kerjanya lebih pendek, yaitu 24 jam. Absorbsi petidin melalui pemberian oral maupun secara suntikan berlangsung dengan baik. Obat ini mengalami metabolisme di hati dan diekskresikan melalui urin Kegunaan Petidin Dalam Dunia Medis?? Petidin digunakan sebagai analgesia untuk semua tipe nyeri yang sedang sampai berat. Misalnya sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, mengatasi nyeri setelah operasi, atau nyeri lainnya yang tidak dapat diatasi dengan obat biasa, untuk menghilangkan ansietas (kecemasan) pada pasien dengan dispnea (sesak nafas) karena acute pulmonary edema & acute left ventricular failure. Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Akan tetapi sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.

Petidin memiliki waktu paruh selama 5 jam. Dan durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam. Adapun perbedaan petidin dan morfin: 1. Petidin memiliki kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air. 2. Metabolisme petidin oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin merupakan metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. 3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia. 4. Seperti morfin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan. 5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa, sedangkan morfin tidak memiliki aksi tersebut. 6. Durasi kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin. Efek Samping Petidin Petidin sebagai salah satu obat analgesik golongan narkotik tentu memiliki efek samping berupa ketagihan terhadap penggunaan obat. Selain ketagihan, petidin juga memiliki efek samping menekan sistem pernapasan. Efek samping yang ditimbulkan oleh petidin antara lain sakit kepala ringan, kepala terasa berputar, mual, muntah, gangguan aliran darah, gangguan koordinasi otot serta gangguan jantung. Efek samping yang tidak terlalu parah dapat berupa kesulitan buang air besar (konstipasi), kehilangan nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala dan mulut terasa kering serta keringat berlebihan. Obat ini juga dapat menimbulkan efek alergi berupa kemerahan, gatal danbengkak pada daerah sekitar tempat penyuntikan. Gejala alergi ini dapat bermanifestasi parah, seperti kesulitan bernafas, bengkak pada wajah, bibir dan lidah, serta tenggorokan. Efek samping yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian adalah menekan sistem pernafasan. Efek samping ini akan semakin berbahaya apabila petidin digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi bersamaan dengan obat lain yang juga menekan sistem pernafasan, seperti obat pelemas otot atau obat penenang. Kematian dapat disebabkan laju nafas yang semakin menurun kemudian berhenti. Selain itu, penurunan tekanan darah serta gangguan pada sistem saraf pusat yang ditimbulkan juga dapat mengakibatkan kematian.

Efek samping berupa ketagihan dapat menimbulkan terjadinya overdosis. Gejala overdosis yang timbul berupa perubahan warna pada kulit, kulit menjadi dingin, dan kelemahan otot. Seseorang yang telah menggunakan obat ini dalam jangka waktu yang cukup lama, penghentiannya harus dilakukan secara bertahap dengan cara menurunkan dosis obat secara perlahan-lahan. Hal ini

disebabkan adanya efek withdrawal atau gejala putus obat yang dapat terjadi. Apabila penggunaan obat ini dihentikan secara tiba-tiba, maka akan muncul gejala berupa jantung berdebar, denyut nadi meningkat, serta pernafasan tertekan. Selain itu, penderita akan merasa tidak nyaman, merasa nyeri pada seluruh tubuh yang disertai muntah.

Fentanil (lu edit lagi ya ril,gue bingung caranya._.)


Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia - Keterangan : Phentanyl Citrate, N-19(Phenethyl-4-piperidyl)propionanilide dihydrogen citrate : Serbuk kristal putih, larut sebagian dalam air, larut baik dalam alkohol : -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Narkotik

Nama Dagang - Duragesic - Fentanyl

Indikasi Nyeri sebelum operasi,selama & paska operasi, penanganan nyeri pada kanker, sebagai suplemen anestesi sebelum operasi untuk mencegah atau menghilangkan takipnea dan delirium paska operasi emergensi.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Parentral : Sebelum operasi : 50-100 mcg IM, 30-60 menit sebelum operasi Sebagai tambahan anestesi umum : Dosis rendah (operasi minor) IV 2 mcg/kg Dosis sedang ((operasi mayor) awal 2-20 mcg/kg, tambahan dosis IV/IM 25-100 mcg jika perlu Dosis tinggi (operasi jantung terbuka, saraf atau prosedur ortopedi) awal 20-50 mcg/kg, tambahan dosis 25 mcg - 1 dosis awal jika perlu Farmakologi Metabolisme terutama dalam hati. Ekskresi melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-glukoronid yg dpt memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira 7-10% melalui feses. Ekskresi melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-glukoronid yg dpt memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira 7-10% melalui feses.

Stabilitas Penyimpanan Sediaan injeksi disimpan dalam suhu ruangan, terlindungi cahaya. Kontraindikasi

Hipersensitivitas, depresi pernapasan yang parah, Sediaan transdermal tidak direkomendasikan pada nyeri akut atau paska operasi, nyeri kronis ringan atau intermiten atau pasien yg belum pernah menggunakan opioid & toleran thd opioid. Efek Samping Depresi pernapasan. Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang. Pencernaan : mual, muntah, konstipasi Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau disorientasi, halusinasi Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit Interaksi - Dengan Obat Lain : Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan. Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : potensiasi efek depresi sistem saraf pusat. Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular. Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan. Diuretik : Opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung. Amfetamin : Dekstroamfetamin dapat meningkatkan efek analgetik agonis opioid - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori C : Dapat digunakan jika potensi manfaat lebih besar daripada resiko thd janin - Terhadap Ibu Menyusui : Hati-hati pemakaiannya pada ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Keamanan & efikasi pada anak-anak belum diketahui - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Bentuk Sediaan Injeksi Ampul 50 mcg/ml, Transdermal 25 mcg/jam, 50 mcg/jam Peringatan Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama kerja & efek kumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi system saraf pusat yg parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala, tumor otak, asma bronkial. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien

Hindari pemakaian alkohol. Menyebabkan ngantuk (hati-hati mengendarai mobil atau menjalankan mesin), gangguan koordinasi, pada penggunaan jangka panjang menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi. Mekanisme Aksi Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan respon thd nyeri. Monitoring Penggunaan Obat Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah

Menggantikan narkotik dengan metadon merupakan metoda pengobatan gejala putus obat yang paling banyak digunakan. Metadon (juga merupakan narkotik), diberikan per-oral (ditelan) dan tidak terlalu mempengaruhi fungsi otak. Efek metadon berlangsung jauh lebih lama dari pada narkotik lainnya, sehingga diminum lebih jarang, biasanya 1 kali/hari. Memberikan metadon dalam dosis yang cukup besar kepada pecandu selama beberapa bulan atau beberapa tahun, memungkinkan para pecandu menjadi produktif karena kebutuhan mereka terpenuhi. Pengobatan ini berhasil dilakukan pada beberapa pecandu, sedangkan pecandu lainnya gagal mengalami rehabilitasi sosial. Pecandu harus datang setiap hari ke klinik untuk mendapatkan metadon. Biasanya 20 mgram metadon/hari bisa menghalangi terjadinya gejala putus obat yang berat; tetapi beberapa pecandu memerlukan dosis yang lebih tinggi. Jika dosisnya sudah stabil (diperkirakan tidak akan menimbulkan gejala putus obat yang berat),dosis metadon biasanya dikurangi sekitar 20%/hari. Hal ini menyebabkan pecandu terbebas dari gejala putus obat yang akut tetapi tidak mencegah pemakaian heroin kembali. Penghentian penggunaan metadon kadang-kadang dapat menyebabkan reaksi yang tidak menyenangkan, seperti sakit otot sebelah dalam (nyeri tulang). Pecandu yang berhenti menggunakann metadon biasanya merasa kalap dan sulit tidur. Pemberian obat tidur selama beberapa hari bisa membantu penderita. Reaksi putus obat akan menghilang setelah sekitar 7-10 hari, tetapi kelemahan, sulit tidur dan kecemasan yang berat bisa menetap sampai beberapa bulan. Beberapa pusat rehabilitasi mungkin memberikan L-alfaasetilmetadol (LAAM), yang merupakan metadon dengan masa kerja yang lebih panjang. Pada pemberian LAAM pecandu tidak perlu datang ke klinik setiap hari. Tetapi pemakaian LAAM masih bersifat uji coba.

Gejala putus obat narkotik juga dapat disembuhkan dengan obat yang disebut klonidin. Tetapi klonidin bisa menyebabkan efek samping tekanan darah rendah, sulit tidur, mudah tersinggung, denyut jantung yang lebih cepat dan sakit kepala. Naltrekson adalah obat yang menghalangi efek heroin intravena yang sangat kuat. Tergantung dari dosisnya efek Naltrekson berlangsung selama 24-72 jam. Konsep terapi komunitas muncul hampir 25 tahun yang lalu sebagai jawaban dari masalah ketagihan heroin. Pengobatan meliputi hidup bersama dalam jangka waktu yang cukup lama (biasanya 15 bulan) di suatu rumah tinggal untuk membantu pecandu membangun hidup baru melalui latihan, pendidikan dan pengarahan kembali. Wabah AIDS telah mendorong beberapa orang untuk memakai jarum suntik yang steril. Hal ini telah terbukti dapat mengurangi penyebaran HIV.