Anda di halaman 1dari 3

Pangan : Pengawasan Produk Makanan Masih Lemah PAKAR pangan nasional yang juga Guru Besar Institut Pertanian

Bogor (IPB), Prof.Dr. Dedi Fardiaz, berpendapat, sejauh ini kasus penemuan makanan kadaluarsa ataupun mengandung bahan berbahaya masih marak. Menurutnya, hal itu terjadi karena karena lemahnya sanksi yang dijatuhkan kepada para pelaku. "Selama ini hanya dikenakan tipiring (tindak pidana ringan) kepada produsen atau distributor," terang Dedi Fardiaz yang ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin. Dedi menambahkan, regulasi yang ada sebenarnya sudah cukup baik. Hanya saja, pelaksanaan di lapangan yang ditemui masih lemah. Meskipun demikian, kata Dedi, hal itu bukan berarti karena lemahnya aparat. Menurutnya, terdapat dua faktor yang mempengaruhi masih banyaknya penjual barang kadaluarsa ataupun yang mengandung bahan berbahaya tersebut. "Yaitu karena ketidaktahuan yang dikarenakan faktor tingkat pendidikan pedagang, serta ketidakpedulian pedagang itu sendiri," sebutnya. Karenanya Dedi menegaskan, perlunya peran aktif konsumen dalam melakukan pengawasan. "Sebelum membeli, konsumen perlu memperhatikan barang-barang yang ia beli," kata mantan kepala Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) ini. Dari pantauannya, makanan yang berbahaya yang masih banyak ditemui adalah yang dijual di pinggir jalan, karena banyak terkandung mikroba berbahaya dan E Coli. Sedangkan formalin, dari survei yang dilakukan 2008, makanan yang mengandung formalin yang dijual di pasaran menurun jika dibandingkan 2005 lalu, karena telah dilakukan pengaturan penjualan formalin yang mengharuskan melalui pengecer terdaftar. (mas/jpnn)

Tim Gabungan Pemkab Bantul Temukan Makanan Kadaluarsa


Bantul, CyberNews. Tim gabungan dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Dinas Kesehatan, Pol PP dan Polres Bantul, Jumat (19/8) melakukan razia makanan dan minuman yang tidak layak konsumsi dan berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam razianya di berbagai toko dan swalayan di wilayab Bantul, petugas gabungan menemukan sejumlah produk makanan yang sudah kadaluarsa bahkan ada isi produknya sudah mengalami kerusakan. Penemuan makanan yang sudah kadaluarsa itu, justru banyak ditemukan di toko-toko besar dan swalayan yang ada di Kabupaten Bantul. Sementara toko-toko kecil petugas justru tidak menemukan barang-barang yang dicurigai. "Di toko dan swalayan, kami menemukan meses yang sudah rusak (membentuk gumpalan) dan menemukan produk agar-agar yang sudah kadaluarsa,'' kata Tri Saktiyana, Kepala Dinas Perindutrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Pemkab Bantul, Jumat (19/8). Menurutnya, di toko-toko maupun swalayan yang dirazia yang juga menjual parsel lebaran tidak ditemukan makanan atau minuman yang dikemas dalam parcel ditemukan tidak layak konsumsi atau berbahaya bagi kesehatan. Untuk makanan dan minuman dalam parcel, kata dia, tidak ada masalah. Yang kurang hanyalah tidak mencantumkan daftar makanan dan minuman yang ada didalam parcel. "Masalah itu sudah kita himbau kepada penjualnya untuk melengkapinya," katanya. Meski masih ditemukan swalayan yang menjual makanan atau minuman tidak layak konsumsi, Tri Saktiayana menyatakan, pihaknya belum akan memproses pemiluk swalayan atau toserba ke meja hijau, namun akan diutamakan terlebih dahulu pembinaan. "Makanan dan minuman yang kadaluarsa kita sita, sedangkan pemilik swalayan kita peringatkan agar tidak menjual lagi makanan dan minuman yang tidak layak konsumsi," ujarnya. Lebih lanjut Tri Saktiana menyatakan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan sidak ke sejumlah swalayan, toserba atau pasar tradisional untuk memastikan barang-barang yang dijual layak konsumsi dan tidak berbahaya bagi konsumen. ( Sugiarto /CN32 )

Masyarakat Harus Selektif Membeli Makanan


Selasa, 23/08/2011 10:06 WIB

Share

padangmedia.com - PADANG - Ditemukannya barang yang kadaluarsa oleh Dinas Kesehatan Padang dan BPOM dalam razia obat dan makanan di kawasan Pondok, Padang membuat warga menjadi resah. Eli (45), salah seorang ibu rumah tangga kepada padangmedia.com, Selasa (23/8) mengaku resah dengan penemuan dari Dinas Kesehatan dan BPOM tersebut. Karena penemuan tersebut, ia harus selektif membeli makanan untuk waktu yang akan datang. Walau demikian, menurut Eli, penemuan tersebut sangat bermanfaat agar masyarakat tidak terkena penyakit yang tidak membahayakan ketika mengkonsumsi makanan yang telah kadaluarsa tersebut. "Saya bersyukur Dinas Kesehatan dan BPOM melakukan razia makanan yang kadaluarsa. Sebab, menurut saya makanan kadaluarsa tersebut sangat membahayakan. Penemuan tersebut bermanfaat untuk masyarakat, saya apresiasi sekali dengan penemuan tersebut," ujarnya. Sementara itu, Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah kepada padangmedia.com kemarin mengakui telah mengintruksikan kepada Dinkes dan BPOM untuk melaksanakan razia makanan kadaluarsa. Sebab, makanan kadaluarsa biasanya akan banyak beredar ketika hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri. Mahyeldi juga mengungkapkan, apabila ditemukan makanan kadaluarsa, Pemko tidak akan segan-segan memberikan hukuman kepada pedagang yang menjualnya agar merasakan efek jera. Sebab, makanan kadaluarsa tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia. Mahyeldi mengimbau kepada masyarakat, jadilah konsumen yang pintar dan selektif dalam membeli bahan makanan. Ketika akan membeli suatu makanan, haruslah lebih dahulu memeriksa tanggal kadaluarsa makanan. Kepada pedagang, Mahyeldi juga menghimbau agar jangan sampai menjual makanan yang telah kadaluarsa. (ridho)