Anda di halaman 1dari 8

BUDIDAYA PAKAN ALAMI Cacing darah ( Chironomus sp.

Disusun oleh: FANDI EKA ADIYATMA (10/297073/PN/11901) TRIANA SWASTIKA DEWI (11/318164/PN/12470) ROFLI ESTA RIZHA (11/313318/PN/12298) LUCKY RESTYAN NUGROHO (11/318253/PN/12554)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

1. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Diptera : Nemathocera : Chironomidae : Chironomus : Chironomus sp.

2. Morfologi Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang dapat ditemukan sebagai benthos adalah Ordo Diptera dari Famili Chironomidae. Kebanyakan spesies anggota chironomida ini memiliki kebiasaan hidup meliang pada sedimen yang lunak pada fase larva. Larva akan berkembang menjadi pupa setelah 1 bulan untuk daerah tropis. Pupa selanjutnya akan berkembang menjadi chironomida dewasa. Setelah melakukan pemijahan, chironomida dewasa akan meletakkan telurnya di permukaan air dalam bentuk gelatin yang kompleks. Telur-telur ini selanjutnya akan tenggelam dan menetap pada sedimen maupun tanaman air dan benda-benda lain yang tenggelam. Chironomida adalah serangga kecil yang mirip nyamuk, memiliki variasi panjang tubuh mulai dari 2 hingga 18 milimeter bergantung pada masing-masing spesies. Warnanya pun juga bervariasi sesuai spesies, berkisar dari yang benar-benar terang, hijau pucat hingga hampir mendekati hitam pekat. Ratusan spesies chironomida tersebar luas di dunia, dan spesies-spesies yang berbeda mendominasi populasi-populasi tertentu di tempat-tempat yang berdekatan dengan danau, kolam, atau aliran sungai. Tidak seperti larva nyamuk, yang sebagian besar hidupnya berada di permukaan air dengan tujuan untuk bernafas, larva chironomida hidup di dasar atau pada tanaman dan benda-benda tenggelam lainnya. Chironomida, seperti layaknya anggota diptera memiliki empat fase hidup, yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa. Siklus hidup dari telur hingga dewasa berkisar dalam

rentang waktu satu minggu hingga lebih dari satu tahun bergantung pada spesiesnya. Larva adalah fase hidup yang paling lama, diperkirakan mencapai satu bulan untuk daerah tropis dan dapat mencapai satu tahun untuk daerah bermusim empat. Larva chironomida ini memiliki tipe dan cara makan yang bervariasi, ada yang bersifat detritivor yakni memakan organisme yang sudah mati, grazer yaitu memakan algae dan fitoplankton, dan ada pula yang bersifat predator atau memangsa avertebrata lain yang lebih kecil. Komponen biotik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisika, kimia, dan biologi dari suatu perairan.Salah satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah hewan makrobentos. Sebagai organisme yang hidup di perairan, hewan makrobentos sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya sehingga akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Hal ini tergantung pada toleransinya terhadap perubahan lingkungan, sehingga organisme ini sering dipakai sebagai indikator tingkat pencemaran suatu perairan (Odum 1994). Beck dan Driver dalam Kasry et al.(1989) menyatakan bahwa indikator penting yang sangat menentukan kualitas perairan adalah famili Tubificidae dan family Chironomidae. Hynes dalam Kasryet al. (1989) mengatakan bahwa Tubifex merupakan spesies indikator pencemaran yang tercemar berat. Pada perairan yang tercemar terlihat adanya pembatasan jumlah spesies dalam komunitas makrozoobentos, kelompok fakultatif dan intoleran mulai hilang diganti dengan kelompok yang toleran dalam jumlah yang banyak serta banyaknya bahan organik dalam perairan. Bentos merupakan sumber makanan alami yang baik bagi ikan.Selain penting sebagai makanan alami untuk ikan, bentos juga memegang peranan penting lainnya dalam ekosistem perairan.Bentos berperan dalam mineralisasi dan merubah balik bahan organic dalam perairan, dan bentos menduduki urutan kedua dan ketiga dalam kehidupan komunitas perairan (Odum, 1994). Menurut Cellot dalam Dessy (2006) jenis Tubifex sp merupakan indikator perairan yang tercemar, terutama pencemaran bahan organik. Sedangkan menurut Tang (1996) pada perairan yang tercemar oleh limbah organik yang ditemukan hanya Tubifex sp, dari golongan Diptera yang paling tahan terhadap pengaruh limbah organik adalah Chironomus riparius.

3. Habitat Budidaya cacing darah di Indonesia belum dilakukan secara optimal. Selama ini cacing darah diperoleh dari alam sehingga tergantung pada kondisi musim. Pada musim hujan, cacing darah sulit diperoleh karena banyak yang hanyut terbawa air. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi benih ikan hias dan ikan konsurnsi diperlukan cacing darah dalam jumlah relative besar dan kontinyu. Hal ini dapat diatasi dengan membudidayakan cacing darah tersebut. Yang perlu diperhatikan dalam usaha budidaya cacing darah adalah penyediaan media budidaya yang sesuai sebagai tempat hidupnya. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa Chironomus sp. Tumbuh dan berkembang baik pada limbah sagu, namun tanpa usaha budidaya kelimpahannya sangat tergantung musim.

4. Cara Budidaya Dalam budidaya cacing darah Chironomus sp. Pertama persiapkan wadah yang digunakan dalam pemeliharaan larva Chirinomus sp. dengan media berupa lumpur kolam yang diperkaya zat haranya dengan menambahkan pupuk kotoran ayam kering. Sebagai media hidup (substrat), lumpur yang telah dikeringkan dimasukkan kedalam wadah

pemeliharaan setebal 0,5 cm dan ditambahkan pupuk kotoran ayam sesuai dengan perlakuan. Penambahan air dilakukan pada media secara merata dan dibiarkan selama 3 hari sehingga terjadi proses dekomposisi. Pemupukan ulang dilakukan setiap 2 minggu dengan teknik dan dosis yang sama pada awal pemeliharaan.

5. Kandungan Nutrien Tubuh cacing darah mengandung 90% air dan sisanya 10% terdiri dari bahan kering. Kandungan nutrisi yang dimiliki cacing darah berdasarkan bahan kering dapat dilihat dibawah ini

Kandungan Nutrisi Cacing Darah berdasar Bahan Kering

Bahan Penyusun Protein Lemak Serat Kasar BETN Abu

Kandungan Gizi (%) 60,9 16,3 0,9 13,5 8,1

Dengan kandungan nutrisi yang kaya protein, cacing darah merupakan salah satu pakan ikan yang disukai. Dalam blantika ikan hias, cacing darah telah digunakan sebagai pakan ikan sejak tahun 1930-an. Komposisi kandungan asam amino pada cacing darah tersebut dapat dilihat pada tabledibawah(Widanarni, 2006). Kandungan asam amino cacing darah Asam mino Kandungan Lisin Histidin Arginin Treonin Fenilalanin Asam Amino Esensial Triptopan Tirosin Valin Metionin Leusin Isoleusin Sistin Glisin Asam Amino Non-Esensial Serin Asam Aspartik Asam Glutamik Alanin

Prolin

Warna merah pada cacing darah dapat ditularkan pada ikan/lobster air tawar, sehingga orang berlomba-lomba mendapatkan cacing darah untuk memerahkan ikan/lobsternya. Warna merah pada cacing darah disebabkan oleh haemoglobin, yang sangat diperlukan oleh makhluk tersebut agar dapat hidup pada kondisi dengan kadar oksigen rendah. Sejauh ini tidak ada hubungan antara haemoglobin dengan warna ikan/lobster. Kandungan protein yang tinggi akan menyebabkan ikan / lobster yang mengkonsumsinya menjadi lebih sehat sehingga ikan / lobster tersebut warnanya menjadi lebih cerah. (Widanarni, 2006)

6. Aplikasi dalam Kegiatan Budidaya Perikanan Cacing darah Chironomus sp. telah banyak dikenal sebagai pakan alami, hal ini didukung juga oleh penelitian-penelitian terhadap kadungan nilai gizi yang terdapat pada cacing darah itu sendiri. Hasil analisa menunjukkan bahwa cacing darah mengandung 9,3% bahan kering yang terdiri dari 62,5% protein, 10,4% lemak dan 11,6% abu dengan 15,4% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Kandungan protein larva chironomus yang sangat tinggi mencapai 60% yang dapat dicerna langsung oleh ikan, serta lemak 10% inilah yang mendukung kecepatan pertumbuhan ikan. Selain itu juga larva chironomus mengandung pigmen karoten berupa astaxanthin yang mencerahkan warna pada ikan. Selain kandungan gizinya yang tinggi, cacing darah juga digunakan sebagai indikator pencemaran air. Cacing darah rentan terhadap kualitas perairan, dimana cacing darah ini mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kualitas air. Cacing darah hidup pada lingkungan yang memiliki suhu sekitar 24 29 oC, kandungan DO 4 8 mg/l dan kandungan pH yan berkisar antara 6 8. Selain parameter tersebut, terdapat juga parameter lain seperti kedalaman dan bahan organik. Jika keadaan perairan tidak mendukung parameter tersebut, cacing darah tidak dapat berkembang dengan optimal atau bahkan tidak ditemukan di perairan tersebut.

7. Analisis Biaya Produksi Biaya Investasi No Komponen Unit Satuan Harga per unit (Rp) 3000 1.000.000 Nilai (Rp) 300.000 1.000.000 Umur Penyusutan ekonomis 3 3 900.000 3.000.000

1 2

Lumpur Peralatan Produksi Nampan Total Biaya

100 1

M2 Paket

1000

Unit

5000

5.000.000 6.300.000

15.000.000 18.900.000

Biaya Operasional No Komponen Unit Satuan Harga Per Unit (Rp) Nilai Per Periode (Rp) 9.000.000 60.000 4.500.000 Siklus Per Tahun 12 12 12 Total Per Tahun

1 2 3

Benih Pupuk Tenaga Kerja Total Biaya

3000.000 20 3

Ekor Kg Orang

3 3000 1.500.000

108.000.000 720.000 54.000.000

4.440.000

53.280.000

8. Daftar Pustaka
Dessy.2006. Pemanfaatan Makrozoobentos sebagai Bioindikator Kontaminasi Limbah Domestik pada Sungai Sail Kota Pekanbaru.Tesis Program Pascasarjana Universitas Riau.Pekanbaru.83 hal (tidak diterbitkan). Kasry, A., Hamidy, R., Sedana, I. P., Siagian, M dan Alawi, H. 1989.Analisa Dampak Lingkungan Duri Steamflood Aspect of Aquatic Communities.Puslit Universitas Riau Fakultas Perikanan.91 hal. (tidak diterbitkan).

Odum, E. P. 1994. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Penerjemah Tjahjono Samingar. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.697 hal. Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 Tentang Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air.Sekretariat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta. 54 hal. Tang. U. M. 1996. Prinsip-prinsip Pengelolaan Limbah. Universitas Riau. Pekanbaru.

Widanarni, D.D. Mailanadan O. Carman. 2006. Pengaruh Media yang Berbeda Terhadap Kelangsungan Hidupdan Pertumbuhan Larva Chironomus sp. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor