Anda di halaman 1dari 8

Misgiati, Problematika Pertambangan Sirtu di Daerah Ngoro Mojoleerto

Region Mojokerto Regeitcy By Using Remote Sensing Method And Geogrffiic Information System.Surabaya:Geomatic Engineering Department,FTSR ITS.

to Facilitate Zang,M., et al.2010. Using Questioning in Problems Teaching of Science Discussion TheInterdisDevelopment. Professional Teacher Learning ciplinary Journal of Problem-based volume4, no. I (Spring2010)57-82'

A\

90

Jurnal PendidikanBiologiVolume 3, Nomor 1, Agustus 2011, hlm.84-91

Kegiatanmahasiswadalam kelompokjuga mencari sumber-sumber lain yang berkaitan dengan permasalahannya. Sumber-sumberbisa diperoleh dari artikel-artikel yang diakses di perpustakaan, intemel ataupundari praktisi yang berkaitan dengan pengelolaanlingkungan hidup. Mahasiswa bebas berkonsultasi kepada pihak-pihak yang terkait yang dipaparkan.Tujuannya, denganpermasalahan agar mahasiswabisa segeramelakukan perbaikan kalau terjadi sesuatuyang tidak relevan dengan tujuan awal, dan melakukan pendalamanmateri. Langkah keempatadalah mengembangkandan menyajikan hasil. Kegiatan pada langkah ini fasilitator memberikan kesempatankepadamahatemuan-temuandari siswa untuk mengembangkan informasi yang didapat,dan saling bertukarinformasi agarapayarrgtelahdikumpulkan dan dibangundapat Fasilitator padakegiatanini diperolehkesepakatan. keluar dari tujuan yang agar tidak tetap memantau telah disepakati. Langkah keempat ini membantu mahasiswamelakukan refleksi dan evaluasiterhayang dilakukan danproses-proses dappermasalahan mahasiswadan kelompoknya. Selanjutnya setiap kelompok menentukansiapayang akanmelakukan presentasi dari hasil kerja kelompokdalamdiskusi pemecahan masalahnya, menentukan di kelas, temuanmenentukankesimpulan,dan menayangkan temuanyang telah diperoleh. Kegiatanterakhir, sebagailangkahkelima adalah menganalisisdan mengevaluasiproses pemecahanmasalah.Kegiatan ini menitikberatkanpada testulis dan melalui proses, tidak sekedar asesmen paper Pada PBM pensil Qtencil and /esl). umumnya,teknik asesmendigunakan untuk menilai pekerjaanyang dihasilkan oleh mahasiswasebagai hasil penyelidikan atauhasil kerja mereka.Bentuk asesmen kinerja PBM ini menggunakan asesemen danportofolio. Kriteriapenilaian sepertiyang sudah dan dosen. disepakatisejak awal antaramahasiswa

Pokok permasalahanyang dapat digunakan dalam skenario pembelajaran adalah (1) kualitas udara, (2) erosi, (3) kemampuan tanah, (4) kesehatan,(5) kerusakanjalan,dan (6) dampakbiologi. Saran

Diperlukan kerjasama antara masyarakat, stakeholder, dan lembaga pendidikan dalam penanganandampak penambangansirtu secara terpadu.

DAF'TARRUJUKAN

Aqino6lu, O., and Tando6an,R.O. 2007. The Effects of Problem-BasedActive Learning in ScienceEducation on Students'Academic Achievement,Attitude and Concept Learning. Eurasia Journal o/ Mathematics, Science& Technologt Education,

tr(l),71-81.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan


penambangansirtu merupakan Permasalahan permasalahan bersamabaik pemerintahmaupun yang harussegera Upaya ditanggulangi. masyarakat mengatasimasalahyang terjadi tidak hanya membutuhkanperanmasyaraka! melainkanjuga melibatkan sektor formal dalam hal ini perguruantinggi. melalui penerapanPBM Salah satu penerapannya penggalian sirtu di wilayah Ngoro skenario dengan Mojokerto.

Arends, R.I. 2001. Learning to Teach5th Editior. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc. Fachrurrozi. 201 1. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi Sekolah Dasar. Edisi Khusus 1/o 1. lSSl/ 1412-565X. Grant, M.M. 201 I . Learning, Beliefs, and Products:StuLeaming. dents' Perspectives with Project-based TheInt erdiscipl inary Journ al of Pr obI em-B ased Learning. Volume 14No. 2: 37-69. Hakkarainen ,P. 20ll . "Promoting MeaningfuI Learning through Video Production-SupportedPBL," InLearnterdisciplinary Journal of Problem-based ing: Yol. 5: Iss. 1,Article 4. Handayani, S., dan Sapir. 2009. Efektifitas Penerapan BerbasisMasalah(Pr oblem Model Pembelajaran Based Learning) dan PembelajaranKooperatif (Cooperative Learning) Tipe Jigsaw untuk MeningkatkanAktivitasBelajar,Hasil Belajar dan Respon Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Malang. Jurnal P endidikqn Ekonomi Universitas' Negeri Malang. VolumeIL No I: 38-52. Latifah, S. 2003. Kegiatan Reklamqsi Bekas galian USU Digital Library. Tamb ang. Palembang: Liliawati, W, Puspita,E. 2010. Efektivitas Pembelajaran BerbasisMasalah dalam Meningkatkan Ketrampilan Berpikir Kreatif Siswa.Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010 ISBN:978 979 98010 6 7. Model ProblemBasedLeamSuci,N.M. 2008. Penerapan ing Untuk Meningkatkan PartisipasiBelajar dan hasil Belajar Teori Akutansi MahasiswaJurusan Ekonomi Undiksha. Jurnal Penelitian dan P engemb angan P endidikan, II ( I ): 74-86 Wicaksono, H., dan Taufik, M. 2009. Analyse of Land Damage CauseSirtu Mining in Ngoro Subdistrict

Misgiati, Problematika Pertambangan Sirtu di DaerahNgoro Mojokerto

89

Implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah dengan PokokMasalah Penggalian Sirtu ImplementasiPBM harus didasarkanpadakesepakatan institusional,yaitu memasukkanproblematika penggaliansirtu dalam suatukelompok atau blok matakuliah. Berdasarkan kedekatan materi, blok yang dapat dimasuki kurikulum PBM adalah matakuliah Ekologi, PengetahuanLingkungan, KKN, KDM, Strategi Belajar Mengajar, dan lainlain. Pelaksanaan PBL dapat dilakukan pada satu matakuliah tersebut, atau dimasukkan dalam blok yangterdiri dari beberapa matakuliah,misalnyablok yang dibangundari matakuliah Pengetahuan Lingkungan denganStrategiBelajar Mengajar. Arends (2001) menyatakan, sintaksdari model pembelajaranPBM yaitu (1) memberikan permasalahanpada mahasiswa, (2) mengorganisasikan siswa/mahasiswa untuk belajar, (3) membimbing kemandirian dalam kelompok penyelidikan, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil, (5) mengprosespemecahan analisisdan mengevaluasi masalah. Pelaksanaandan kedalaman langkah pembelajaranmetodePBM itu sangatbergantungpada bobot matakuliah dan blok matakuliah, sertaruang lingkup problematika.Langkah pertamaPBM adalah memberikanmasalahkepadasiswa/mahasiswa yang terjadi padapenamtentangmasalah-masalah bangansirtu di wilayahNgoro. Berikutnyamenjelaskantujuanpembelajaran danmemotivasimahasiswa agar berperan aktif dalam pemecahanmasalah penggaliansirtu. Padapertemuanini dosenbersama mahasiswamendikusikan dan menyusun asesmen yang akan digunakan untuk menilai kegiatan dan hasil pembelajaran. Konsepdasaryangdikembangkan dalamPBM adalahruanglingkup materi dan problematikapenggaliansirtu.Konsepdasarini biasanya berupapenjelasanistilah-iatilah, referensi,petunju( danbeberapa kemampuanyang diperlukan dalam proses perkuliahan,yang disampaikan dosensebagai fasilitator kepadamahasiswa. Tujuan pemberiankonsepdasar ini agarmahasiswalebih cepatmasukdalam proses perkuliahan dan mendapatkanstrategi untuk mencapai tujuan pembalajaran dan menyelesaikan permasalahan.Selain itu, pengembangankonsep digunakan untuk memastikan mereka mengetahui dan memahami kunci utama materi perkuliahan problematika penggalian sirtu di wilayah Ngoro. ini untuk memperkecil kemungkinan Pengembangan ketidakpahamanmereka terhadap konsep-konsep konseptidak materiyang baru dikenal. Pemahaman

harusmendetildanmendalam, diberikangarisbesar nya saja agar mahasiswa dapat mengembangkan konsepnyasecaramandiri. Pengembangankonsep didasarkan atas permasalahan-permasalahan yang terjadi pada penggaliansirtu diwilayahNgoro, yaitu (1) kualitas udara, (2) erosi, (3) kemampuan tanah, (4) kesehatan,(5) kerusakanjalan, dan(6) dampakBiologi Pengembangan konsepyang dilakukan didasarkan atasteori-teori pendukung yang sudah didapatkan pada perkuliahan sebelumnya yang dibutuhkan. Pemaparanpengembangankonsep ini hendaknya dituliskan dalam panduanPBM. Kegiatatan kedua adalah mengoordinasika mahasiswauntuk belajar. Dosen sebagaifasilitator menyampaikanskenario problematika penggalian sirtu di wilayah Ngoro. Kegiatandosendanmahasis wa adalahmelakukan diskusi, menyeleksi problematika, dan melakukanpembagiankelompok. Diskusi dilakukan dengancara mahasiswamengemukakanide, pendapat terhadapskenariosecara bebas sehingga muncul beberapa alternatif pendapat Setiapdiskusi yang dilakukan di dokumentasikan dan setiap kelompok mempunyai hak yang sama dalammengemukakan pendapat. Tujuan dilakukannya langkah ini agar mahasiswamempunyai gambaran yang jelas tentang apayang diketahui dan tidak diketahuinya,sehinggadapatdigunakansebagai bekal dalam melakukan tugasnya.Tugasfasili tator mengarahkan dan memvalidasipilihan-pilihan yang diambil mahasiswa. Jika tujuan yang diinginkan belum disinggung, fasilitator mengarahkandan mengusulkankepadamahsiswadisertai penjelasan alasanyangtepat. Langkah ketiga dalam PBM adalahmembimbing kemandirian dalam kelompok penyelidikan. Tugasfasilitator pada langkah ini adalahmembimbing mahasiswadalam penyelidikan di lapangan, membantu merencanakan,serta membantu karya mahasiswasepertilaporan,rekaman-rekaman baik suara ataupun gambar, atau mungkin bentuk lain yang diinginkan mahasiswa. Fasilitator memotivasi mahasiswamendapatkaninformasi di lapangan sebanyak-banyaknya, sehinggadapatmenjelaskan pemecahanmasalahnya.Tujuannya agar mahasiswa mampu mencari informasi seluas-luasnya dan mengembangkan pemahamanyang relevandengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas. Tujuannya agar mahasiswa mampu mempresenyang diperolehtasikandi kelasatastemuan-temuan nya, sehinggainformasi tersebutdapatdipahami.

Jurnal Pendidikan Biologi Volume3, Nomor l, Agustus 2011, hlm. 84-91

satu metode pembelajaran untuk memecahkan masalah.Melalui PBM itu materi perkuliahan atau pembelajaran disampaikan kepadapeserta didik dan mengkaitkannyadengan siuasi dunia nyata (konteks). Metode pembelajaranini diharapkan membantumahasiswa mempelajarimateri akademikdan keterampilanmemecahkanmasalahdenganmelibatkan merekapada situasi masalahkehidupan nyata. PBM dapat mendorong siswa,/mahasiswa untuk membuathubunganantarapengetahuan yang dimiliki dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagaimahasiswa, anggota keluarga dan masyarakat.PBM ini memberikan kontribusi padapeningkatansikap kepedulian siswaterhadap lingkungan hidup,karena PBM dilandasiolehprinsip makna belajar akan muncul dari hubungankonten dan konteksnya, sedangkankonteks memberikan makna pada konten. Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah Menurut Arends (dalam Fachrurroji, 20ll) pembelajaran (PBM) merupakan berbasis masalah pendekatanpembelajaranyang mendorong siswa menghadapipermasalahanyang autentik untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilanberpikir, mengembangkan kemandirian, dan percayadiri. Hal senada diungkapkanpula oleh Suryadi(2005) yang menyatakanbahwaPBM merupakansuatustrategi yang dimulai dengan menghadapkansiswa pada masalah nyata atau masalah yang disimulasikan. Pada saat siswa menghadapi masalah tersebut, merekamulai menyadaribahwahal demikian dapat dipandang dari berbagai perspektif serta penyelesaiannyadibutuhkan pengintegrasian informasidari berbagaiilmu. Pembelajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yang mengawali pembelajaran berdasarkanmasalah dalam kehidupan nyata, dari masalah ini siswa/ mahasiswa dirangsanguntuk mempelaj ari masalah berdasarkanpengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya Qtrior lcnowledge), sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalamanbaru. Landasanteori PBM adalah kolaboratisme, bahwamahasissuatuperspektifyang berpendapat dengan wa atausiswaakanmenyusunpengetahuan gun penalaran dari pengetahuan yang caramemban dimiliki dan semuayang diperoleh sebagaihasil individu. Hal kegiatanberinteraksi dengansesama

tersebutjuga mengisyaratkanbahwa prosespembelajaran berpindah dari transfer informasi fasilitator-siswake proseskonstruksi pengetahuan yang sifatnyasosialdan individual (Zang,2010). PBM memiliki gagasan terhadappencapaian hasil belajar yang maksimaljika kegiatanpendidikandipusatkan padatugas-tugasataupermasalahan autentik, relevan, dan dipresentasikan dalam suatukonteks.Cara tersebutbertujuan agarpesertadidik memiliki pengalaman sebagaimana nantinya mereka menghadap kehidupanprofesionalnya.MenurutAqinodlu (2007), aspek penting dalam PBL adalah pembelajaran dimulai dengan permasalahandan permasalahan tersebutakanmenentukanarahpembelajaran dalam kelompok. Menurut Grant (2011) dan Barrow (1996) (dalam Suci, 2008) bahwa pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya yang denganmodel pembelajaran lainnya yaitu ( 1) pembelaj aran bersifat sfridentcentered, (2) pembelajaranterjadi pada kelompokkelompok kecil, (3) dosenatau guru berperansebagai fasilitator dan moderator, (4) masalahmenjadi fokus dan merupakan saranauntuk mengembang kan ketrampilan problem solving, serta (5) informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning). Sedangkan Brooks & Martin (1993)(dalamSuci,2008)secara lebih rinci menguraikanbeberapaciri penting dari PBM, sebagaiberikut. (1) Tujuan pembelajaran dirancanguntuk dapatmerangsang dan melibatkan pebelajardalampola pemecahan masalah,sehingga pebelajar diharapkan mampu mengembangkan keahlian belajar dalam bidangnya secaralangsung (2) dalam mengidentifikasikan permasalahan. Adanya keberlanjutanpermasalahan, dalam hal ini adadua tuntutan yang harus dipenuhi yaitu pertama, masalah harus memunculkan konsep dan prinsip yang relevan dengankandunganmateri yang dibahas,kedua,permasalahan harusbersifatriil sehingga dapat melibatkan pebelajar tentang kesamaan dengansuatupermasalahan. (3) Adanya presentasi permasalahan,artinya pebelajar dilibatkan dalam mempresentasikan permasalahan, sehingga mereka merasamemiliki permasalahan tersebut.(4) Pengajar berperansebagaitutor dan fasilitator, sehingga dalam posisi ini peran fasilitator adalahmengembangkankreativitasberpikir pebelajardalambentuk keahlian memecahkan masalah dan membantu merekauntuk menjadi mandiri.

Misgiati, Problematika Pertambangan Sirtu di Daerah Ngoro Mojokerto

Dampak penurunankemampuantanah adalah g y ang mengakibatkantanah adany a lubang-luban membahayakan para pekerja tidak rata sehingga tambang.Sehinggakondisi ini dapatdimanfaatkan untuk pembuatan kolam ikan. Pembuatankolam ikan akan menambah pendapatanwarga sekitar, karenaadatambahanpekerjaandisamping sebagai buruh pekerja pertambangansirtu. Daerahpertambanganyang berdinding curam harusdirencanakan yang dilakukan harusdidasarbenar.Penambangan kan padatekstur tanahnyaagartidak longsor.Bagian permukaan harus ditambang lebih dahulu, baru selanjutnya dilakukan sampai dengan kedalaman yangtelah ditentukan. Upaya penanggulangandampak di bidang kesehatanbisa dilakukan dengan menggunakan maskerbagi pekerja.Kenyataandi lapanganhanya kecil pekerja yang menggunakan sebagian masker. Upayalain berupapemeriksaan kesehrtanbagi para pekerja terutama kondisi saluran pernafasandan penglihatansecararutin, sehinggakalau terjadi sesuatubisa segeradiatasi. Masyarakatyang rumahnya di pinggir jalan yang dilewati truk, juga perlu melakukan pengecekankesehatansecaraberkala. Upaya Penanggulangan Penambangan Sirtu melalui Jalur Pendidikan Berbagaiupayapenanggulangan penambangan sirtu yang telah dilakukan sepertiyang telah diuraikan sebelumnya. Sebagian upaya tersebut sudah dilaksanakan, tapi adajuga yangbelummaksimal. pengamatan, Berdasarkan masih banyakditemukan kondisi tanahyang berdinding curam, debu banyak danj uga lahan di sekitar penambangan bertebangan, yang terlihat sangatgersang. upayakonservasisudahpernahdilakuSemula, kan,tapi pelaksanaan tidak maksimaldantidakterus menerus.Berdasarkanhal ini, dampakdari penambangansirtu masih terjadi terus seperti yang telah dijelaskan di atas. Sekarangini, setiap pemerintah daerahmempunyai kewenangan dalam mengatur wilayahnya atau yang sering disebut otonomi daerah.Karena itu setiapdaerahakan berlomba-lombamenaikkan Asli Daerah (PAD) masing-masing. Pendapatan Bisa dipastikan setiap daerah akan memanfaatkan sumber dayaalamyangada, dan kurang merencanakan daerah pertambangansirtu. Pengelolaan penggaliansirtu secaraterpadu harus dikaji secara komprehensif dengan memperhatikan segala yangadadan bahkan mungkin akan permasalahan

timbul. Pengelolaan secara terpaduini juga berupaya memanfaatkandan mengkonservasikansumber daya alam secaraefektif dan efisien. Pemanfaatan pertambangansirtu boleh saja dilakukan selama konservasiterhadappenggaliansirtujuga diupayapenggaliansirtu yang lebih kan dalam pemanfaatan agarberlangsunglebih lama. Berbekal permasalahan ekologis yang sedang dan akanmuncul, pemerintahhendaknya merumuskan kebijakan, tujuan, sasaran,rencana kegiatan, implementasikegiatan,pemanfaatan, dan evaluasi dalam penanggulangandampak penggalian sirtu secaraholistik. Ekosistem daerah pertambangan sirtu di Ngoro merupakan ekosistem yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai unsur yang terkait dan berinteraksisatu samalain. Unsur-unsur tersebut meliputi biogeofisik,sosial-ekonomi, dan budaya, sehingga segala kegiatan tersebut harus mempertimbangkan keterkaitan antar-komponen penyusunekosistemdaerahpenggaliansirtu. Keterlibatan sektor swastadan formal (lembaga pendidikan) langsung ataupun tidak langsung dalam memanfaatkansumberdayapasir dan batu, merupakan bagian penting dalam pengelolaanpenggalian sirtu secaraterpadu. Dengan cara tersebut perencananhingga evaluasi pengelolaandapat berjalan mestinya.Pengelolaanyang melibatsebagaimana pengkan beberapa sektordan komponenpenyusun galian sirtu bersifat partisipatif. Karena itu perlu adanya saling mempercayai, keterbukaan, tanggung jawab, dan ketergantungandi antarastakeholder pengelola. Kedudukan dan tanggungjawab yang dipikul masing-masing stakeholder, dari awal perencanaan haruslahjelas, sehinggamasayang akan datang tidak akan ada ketimpangan dan kerancuandalam menjalankanperannya. Masalah pertambangan sirtu terbuka untuk direhabilitasi dan dikonservasi bersama,karena masalahtersebutbukan lagi kewenanganpemerintah daerahatau provinsi tetapi tanggungjawab itu terutama adadi pundak seluruhelemenmasyarakat, masyarakat Ngoro. Masyarakatmemiliki tanggung jawab bersama menyelesaikanmasalah penambangansirtu secara holistik dan berkesinambungan karenapenambangan sirtu adalahmasalahekologi. Salah satu alternatif untuk memecahkanmasalah penggaliansirtu secaraholistik berbasisekologis adalahmelalui jalur pendidikan,yaitu sekolahatau perguruantinggi. Pembelajaran BerbasisMasalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) merupakan salah

Jurnal Pendidifutn Biologi Volume3, Nomor l, Agustus 2011, hlm. 84-91

terganggunyakesehatan,(5) kerusakanjalan, dan (6) dampak biologi. Menurunnya kualitas udara merupakan dampak kegiatan pembersihan lahan, penggalian,dan pengangkutan.Dampak negatif terhadapudara terjadi karena debu dan kebisingan yang yang ditimbulkan. Prakiraantingkat pendebuan pembersihan lahan tersebut terjadi pada kegiatan sangat besar. Demikian juga pada kegiatan pengangkutansepanjangjalur jalan desa yang dilewati truk pengangkugpendebuannya akanrelatif ini dapatdiklasifikasikan besar. Dampakpendebuan terussebagai dampakpenting, karenaberlangsung menerus saat kendaraan pengangkut lewat, dan frekuensinya tinggi. Banyaknya debu bisa gangguan pernafasan mengakibatkan danpenglihatan. Kebisingan diperkirakan terjadi pada kegiatan penambangandan pengangkutan. Dampak erosi dapatmengotori dan mendangkalkansaluran-saluran air yang ada. Dampak terhadapkemampuantanah adalah selama penambangantanah tidak dapat dimanfaatkan,danterjadi lubangJubangdi permukayang curamdapat Terjadinyatebing-tebing an tanah. menimbulkanambrolnyadindingyang dapatmembahayakan pekerja. Dampak terhadap kesehatan dapatterjadi terhadappekerja tambangdan masyarakatyang tinggal di sekitarjalan yang dilewati truk pengangkutpasir. Dampak kerusakanjalan terjadi pengangkut,yang melewatijalan akibat kendaraan desa, sehinggabanyak jalan bergelombangdan berlubang karenatruk yang digunakan untuk mengangkut pasir berkapasitasbesar.Dampak Biologi yang ditimbulkan, terganggunyakeberadaantumbuhanmaupunhewanyang ada,misalnyaberpindah pohonpinus, lumut hijau, tempatatauberkurangnya alang-alang, rumput-rumputan, ikan, ular dan sebagainya. Upaya Penanggulangan Akibat Penggalian Sirtu di Daerah Ngoro Mojokerto sirtu Upaya penanggulanakibat penambangan pernah pemerintah dilakukan setempat, sebetulnya perusahaan yang mempunyai zjin, dan masyarakat. Namun, upaya yang dilakukan hanya sesaatdan tidak terus menerus. Upaya penanggulandapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada dampak negatif yang ditimbulkan. Penanggulan dampakmenurunnyakualitas udara dapatdilakukan dengan membersihkantruk sebelum mengangkut yang menempel padatruk pasirsehingga tanah/pasir tidak beriatuhan selama proses pengangkutan.

Berdasarkan hasil pengamatan,untuk mengantisipasidebudi jalan petugassudahmembersihkanny dengan menyapu jalanan, sehinggatanah/pasirdi jalan dipinggirkan.Dengandemikian,saattruklewat debu yang beterbanganakan berkurang. Selain itu juga ada beberapapetugas yang menyiram jalan dengan air untuk mengurangi debu. Sementara dampak kebisingan alat-alat berat untuk penambangan tidak perlu dilakukan mengingat tempat jauh dari pemukiman.Hal yang perlu penambangan dipertimbangkanadalahkebisinganakibat laluJalang truk yang melewati jalan desa sekitar perumahan warga.Truk yang berisi muatanpasir/tanahselama perjalanan masih tidak menimbulkan kebisingan yang berlebihan, karena jalannya relatif pelan. Sedangkan kecepatan truk kosong yang akan mengangkut pasir/tanah cenderung tinggi seperti ingin salingmendahuluitruk lainnya.Kondisi ini yang harus dikurangi, yaitu dengancara persuasif sopir truk agar tidak melakukan hal tersebut. Selain itu diberlakukanjuga pemerataanpengangkutanseharihari agaru"ftarsopirtruk tidak dirugikan. Dampak erosiyang ditimbulkan adalahpengoyang bisa dilatoran aliran air. Prosespencegahan kukan adalahmereklamasi daerah penambangan Menurut Latifah (2003) sasaran reklamasiadadua, yaitu pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaikilahanyang tergangguekologinya,dan mempersiapkanlahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaztanselanj utyang nya. Reklamasi akandilakukan harusdirencanakan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan berikut. (1) reklamasiadalahsebagai Mempersiapkanrencanareklamasi sebelumpelakpenirmbangan, (2) luasarealyang direklamasanaan sikan sama dengan luas areal penambangan,(3) memindahkandan menempatkan tanahpucuk pada tempattertentu dan mengatur sedemikianrupa untuk keperluanrevegetasi,(4) mengembalikan/memper baiki pola drainasealamyangrusak,(5) mengembalikan lahan seperti keadaansemuladan/atausememperkeci suaidengan tujuan penggunaaffiya,(6) erosi selama dan setelahprosesreklamasi,(7) permukaanyang padat harus digemburkannamun tanaman bila tidak memungkinkan, ditanamidengan pionir yang akarnyamampu menembustanahyang keras,(8) segerarevegetasi,dilakukan penanaman kembali denganjenis tanamanyang sesuairencana rehabilitasi departemenkehutanan,(9) memantau dan mengelola arealreklamasisesuaikondisi yang diharapkan.

Misgiati, Problematika Pertambangan Sirtu di Daerah Ngoro Mojokerto

KabupatenMoj okerto). Berdasarkanhasil wawancara penulis dengan Bapak H. Muhdar, mantan perangkat desaDusun Sekantong, DesaKunjorowesi, KecamatanNgoro, padatanggal 6 November 20 11 lalu, eksploitasi penambangan sirtu sudahdimulai yang mendapatkanizin untuk sejak 1983. Sementara melakukan penambanganhanya satu CV Tahun 1997 diketahui bahwa izin penambangan yang diperbolehkansekitar 5.000 hektar.Namun penambanganini terjadi sampaisekarangini. Penambangan sirtu yang dilakukan di daerah Ngoro memang sangat luas, ada beberapa lahan yangdilakukanpenambangan dari sekiankelurahan. Frekuensi Penambanganyang dilakukan kini semakinbesar,terlebih denganadanyakasuslumpur Lapindo.Pasiryang digunakandi Lapindo sebagian besar diambil dari pertambangansirtu di daerah Ngoro. Sebetulnyapenambanganyang dilakukan Ngoro bukanlahpenambangan liar. Semua di daerah penambangan yang dilakukan mempunyaiizin resmi. BerdasarkanUndang-undangNomor 4l/2009 Mineral dan Batubara,disetentangPertambangan butkan aspekperlindungan lingkungan dipertegas denganperlunyaAmdal, reklamasi, sertapengelolaan pascapenambangan, termasuk danajaminanpemegang nya. Bukan hanya Izin usaha pertambangan yang berkewajiban melaksanakan pengembangan wilayah dan masyarakat, pemerintah daerah pun wajib men)'usunprogram pengembangan wilayah dan masyarakat sekitar tambang. Hasil penelitianHardiawan (2009) di daerah Ngoro menunjukkandata sebagaiberikut. (1) Hasil klasifikasi penutup lahan, maka didapatkan kelas terbesar adalah kebun yang memiliki prosentase padadaerah 28,29Yo atau* 1874,982ha, sedangkan yangtertambang 4,45yodengan memiliki persentase luas 294,687ha. (2) Daerah tertambang yang didapatdari hasil klasifikasi citraAster tahun 2009 pada daerahtertambangdi dalam SIPD (Surat Izin PertambanganDaerah) seluas 199,667 Ha dan daerah tertambang yang ada di luar SIPD seluas 95,02Ha, yang menyebar pada Kelurahan Wates Negoro, Manduro Manggung, Kunjorowesi, dan (3) Berdasarkanhasil analisis Wotanmasjedong. (Sistem SIG lnformasi Geografi) dengan metode skoring kondisi lahan padakawasanpertambangan ditinjau dari aspekvegetasi, ketebalan tanah, dan lahandengankondisi lahansangatrusak kelerengan 395,249 13 1,076ha,kondisi lahanrusakseluas seluas ha, kondisi potensialrusak seluas53,668,kondisi

agak rusak seluas 173,255ha, dan kondisi tidak pengamat rusak3,615ha. Sementara berdasarkan an penulis, dampak kerusakan tanahyang terjadi padapenambangan sirtu adalahadanyakedalaman sudahsampai20 hingga 72meter, sehinggatempa tersebut menyerupaijurang dan sebagianmenjadi goa.Padahalmenurut aturan,tingkat toleransi untuk galian sirtu sedalam 12 mete4 sehinggapada saat hujan adagenangan-genangan air di lubang-lubang tersebut. Daerah di sekitar lahan penambanga sangat gersang. Sumber mata air mengering, sehinggamasyarakatsekitar memperoleh sumber air minum dari sumur bor dengan kedalaman 50 meter lebih. Selain itu jalan menuju penambangan penuhdebu akibatlalu lalangtruk pengangkut pasir. Permasalahandampak penambangansirtu yang kompleksini sulit diselesaikan denganmetode pendekatanmaupun penyelesaian secaratunggal atau manual. Oleh sebab itu, masalah dampak penambangan sirtu sudahmenjadimasalah ekologis. Penyelesaiankolaboratif secaramultipihak dan multidisiplin menjadi sangat pentinguntuk diwujudkan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah mengatasimasalah dengan melibatkan generas muda atau pesertadidik di sekolah. Dampak Pertambangan Sirtu

Pertambangan sirtu yang terletak di Dusun Sekantong, DesaKunjorowesi, KecamatanNgoro, Mojokerto, semuanyamempunyai izin resmi. Penambangan ini memberikandampakpositif bagi masyarakat sekitar, berupa (l) adanya lapangan kerja bagi mereka, sehingga mengurangi jumlah pengangguran, dan dapatmeningkatkanpenghasilan, (2) peningkatan meningkatkan hidup, kesejahteraan pendapatan dan masyarakat dari hasil penambangan pengangkutan,(3) penggunaanbatu untuk bahan bangunan, dan pasir sebagai tanahurug. Pasirinilah yang banyakdigunakanuntuk menguruktanggul di semburanlumpur Lapindo, Porong,Sidoarjo. Faktor manusia dalam proses penambangan yang tidak memperhatikan lingkungan tentu akan membawadampakkerusakanlingkungan, baik pada faktor fisik maupun faktor biotiknya. Interaksi antardalam manusia dengan alammenjaditidak harmonis, arti manusiamelakukan eksploitasi yang melebihi kapasitasataudaya dukung alam yang mengkibatkan pencemaran atau kerusakan pada sistem ekologi. Dampak negatif penambanganberkaitan dengan( 1) menurunya kualitas udara, (2) terjadinya erosi, (3) menurunnya kemampuan tanah, (4\

PROBLEMATIKA PERTAMBANGAN SIRTU DI DAERAH NGORO MOJOKERTO DAN PENANGGULANGANNYAMELALUI PEMBELAJARAN BERBASISMASALAH
Misgiati
Akademi AnalisFarmasi danMakanan PutraIndonesia Malane Jalan Barito5 Malang Email:faiz2l9@yaho o.co.i d

Abstruct: Gravel mining problem is a commonproblem, both the governmentand thepublic, which must be addressed.Efforts to tackle the problem is not only the role of society requires, but the role of universities. One step that can be done is using the Problem Based Learning scenarios gravel mining in the region Ngoro Mojokerto. Subject matter that can be used in learning scenarios are (I) air quality, (2) erosion, (j) the ability of the soil, (4) health, (5) damage to the road, and (6) the impact of biolog,t. problem based learning Keyword: gravel mining, countermeasures, pertambangan sirtu merupakanpermasalahan Abstrak: Permasalahan bersama,baik pemerintahmaupun masyarakat, yang harus segera ditanggulangi. Upaya mengatasi masalah yang terjadi tidak hanya memerlukan peran masayarakat,melainkan peran perguruan tinggi. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menggunakanPembelajaranBerbasis Masalah dengan skenario pertambangansirtu di wilayah Ngoro Mojokerto. Pokok permasalahannyayangdapatdigunakan dalam skenariopembelajaranadalah(1) jalan, dan (6) dampakbiologi. (5) kerusakan kualitas udara,(2) erosi, (3) kemampuantanah,(4) kesehatan, Totalkata:73 Kata Kunci: pertambangansirtu, penanggulangan,pembelajaranberbasis masalah

{'r

Industri pertambanganmerupakan salah satu industri yang diandalkanpemerintahIndonesiauntuk mendatangkan devisa.Selainmendatangkan devis4 j uga menyediakanlapangan industri pertambangan kerja, sekaligus sumber PendapatanAsli Daerah (PAD) bagi Kabupaten/Kota. Kegiatan pertambangan merupakan suatu kegiatan yang meliputi: dan eksplorasi,eksploitasi,pengolahan/pemurnian, pengangkutan mineral/bahan tambang. Selain mendatangkandevisa dan menyediakan lapangan juga rawan terhadap kerja, industri penambangan perusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan yang mengundang sorotan masyarakat karenaperusakanlingkungan. Penambangantanpa izn tidakhany amerusaklin gkungan,melainkanj uga jiwa penambangkarena keterbamembahayakan si penambang, dan tidak adanya tasanpengetahuan pengawasan dari dinas atau instansi terkait.

Penambangansirtu di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, secara langsung maupun tidak langsung telah mengakibatkan perubaha bentuk lahan yang cukup signifikan, sehingga menyebabkan degradasi ataukerusakanlingkungar yang harus segeradiatasi guna menghindaridegra dasi lingkungan yang lebih besar dan kompleks Wilayah Kabupaten Mojokerto terletak di antara 111o20' 13"-lll" 40'47" BT dan7' 18'35"J o47" LS. Kecamatan Ngoro merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto, yang terdiri dari 19 desa.Batas batas administratif Kecamatan Ngoro adalah sebagai berikut. SebelahutaraKabupatenSidoarjo, sebelahtimur adalah Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan,dan Kabupaten Sidoarjo, sebelah selatanadalah KecamatanTrawas dan Kabupaten Pasuruan, dan sebelah barat adalah Kecamatan Pungging dan Kecamatan Trawas (BAPPEDA