Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PENGANTAR ENERGI

Disusun oleh: Nama NIM Kelas : Rizka Rachmiyanti :03121003042 :B

TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK 2013

Pengembangan Teknologi Batubara untuk Kebutuhan Tenaga Listrik sektor Industri

Indonesia kaya akan sumber energi seperti : batubara, gas alam, minyak bumi, energi air, dan geothermal. Namun suatu kenyataan yang cukup mengejutkan bahwa, cadangan sumber daya energi di Indonesia saat ini sudah semakin menipis. Produksi minyak bumi per tahunnya semakin menurun yang diikuti juga dengan cadangan minyak bumi di Indonesia (tabel 1). Tidak hanya cadangan minyak bumi yang semakin menipis, namun gas alam yang juga merupakan salah satu sumber energi utama di Indonesia tingkat produksinya menurun (tabel 2). Dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi dan gas alam, membuat harga jual akan hasil dari olahan mereka cukup tinggi dan membuat daya beli masyarakat terhadap produk tersebut rendah. Oleh karena itu, pemerintah sudah seharusnya segera bertindak cepat untuk menindaklanjuti permasalahan mengenai cadangan sumber energi Indonesia. Menyadari hal tersebut, Pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan di bidang pengembangan sumber energi alternatif pada awal tahun 2006. Kebijakan tersebut tertuang dalam 3 ketentuan, yaitu Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Perpres No 1/2006 tentang Bahan Bakar Nabati, dan Inpres No 2/2006 tentang batu bara yang dicairkan sebagai bahan bakar lain. Dengan kebijakan tersebut, Pemerintah ingin mendorong peran dunia usaha dalam pengembangan bahan bakar alternatif sebagai substitusi terhadap bahan bakar minyak. Salah satu yang diinginkan oleh pemerintah adalah pengembangan sumber energi batubara. Produksi batubara di Indonesia dari tahun 2009-2012 sendiri setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup berarti (Gambar 1). Namun di tahun 2012, produksi batubara di Indonesia mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan neraca tahun 2011 terdapat penurunan sumberdaya batubara sebesar 893,29 juta ton, sedangkan kenaikan cadangan batubara pada tahun ini sebanyak 961,14 juta ton (Gambar 1).Penurunan nilai sumber daya disebabkan sebagian dari sumber daya batubara telah berubah menjadi cadangan. Dan hasil perhitungan keseluruhan menunjukkan bahwa sumber daya batubara Indonesia sampai dengan tahun 2012 ini adalah sebesar 119.446,36 juta ton batubara. Di Indonesia dapat ditemui dengan mudah batubara yang berusia muda dengan kalori energi yang tidak terlalu banyak. Batubara muda adalah batubara yang terdapat pada lapisan

atas bumi, sehingga mudah sekali untuk ditemukan. Batubara muda masih banyak mengandung air, namun masih bisa digunakan untuk menghasilan energi listrik pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ada sebuah metode yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kalori batubara muda, yaitu dengan Steam Tube Dryer (STD) yang telah digunakan di negara Sakura, Jepang. Di Jepang teknologi tersebut sudah digunakan untuk meningkatkan batubara yang semula mengandung 4.000 kalori per kg menjadi 6.000 kalori per kg. Dan teknologi ini tampaknya cocok diterapkan di Indonesia yang banyak terdapat batubara yang berkualitas rendah. Adapun cara kerja STD adalah dengan mengurangi kadar air yang terdapat pada batubara dengan sistem pemanasan. Namun karena batu bara yang dikeringkan ini akan meninggalkan pori-pori yang besar dan mudah terbakar jika bersentuhan dengan udara, maka harus langsung digunakan, artinya STD sepanjang 40 meter ini harus ditempatkan dekat dengan PLTU. Untuk menghasilkan listrik dari batubara, terdapat sebuah proses yang disebut dengan gasifikasi. Gasifikasi adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara dari bahan bakar padat menjadi bahan bakar gas. Berbeda dengan pembakaran batubara, gasifikasi adalah proses pemecahan rantai karbon batubara ke bentuk unsur atau senyawa kimia lain. Secara sederhana, batubara dimasukkan ke dalam reaktor dan sedikit dibakar hingga menghasilkan panas. Sejumlah udara atau oksigen dipompakan dan pembakaran dikontrol dengan uap agar sebagian besar batubara terpanaskan hingga molekul-molekul karbon pada batubara terpecah dan dirubah menjadi coal gas. Coal gas merupakan campuran gas-gas hidrogen, karbon monoksida, nitrogen serta unsur gas lainnya. Gasifikasi batubara merupakan teknologi terbaik serta paling bersih dalam mengkonversi batubara menjadi gasgas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik. Proses gasifikasi ini melalui beberapa proses kimia dalam reaktor gasifikasi (gasifier). Mula-mula batubara yang sudah diproses secara fisis yaitu batubara yang telah dihancurkan dalam ukuran + 20 mm 100 mm diumpankan ke dalam reaktor dan akan mengalami proses pembakaran yang dikontrol oleh steam dan angin sehingga tidak terbentuk api tetapi bara. Kecuali bahan pengotor, batubara bersama-sama dengan oksigen dikonversikan menjadi hidrogen, karbon monoksida, methana, CO2, H2, N2. Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) merupakan perpaduan teknologi gasifikasi batubara dan proses pembangkitan uap. Gas hasil gasifikasi batubara mengalami proses pembersihan sulfur dan nitrogen. Sulfur yang masih dalam bentuk H2S dan nitrogen

dalam bentuk NH3 lebih mudah dibersihkan sebelum dibakar dari pada sudah dalam bentuk oksida dalam gas buang. Kemudian gas yang sudah bersih ini dibakar di ruang bakar dan kemudian gas hasil pembakaran disalurkan ke dalam turbin gas untuk menggerakkan generator. Gas buang dari turbin gas dimanfaatkan dengan menggunakan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) untuk membangkitkan uap. Uap dari HRSG (setelah turbin gas) digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang akan menggerakkan generator. Pembangkit listrik batubara menghasilkan listrik dengan membakar batubara dan memanaskan air di boiler untuk menghasilkan uap. Uap, di bawah tekanan yang kuat, mengalir ke turbin, yang memutar generator untuk menghasilkan listrik. Sebuah pembangkit yang efisien dapat menghasilkan sekitar 10 miliar Kwh per tahun, atau listrik yang cukup untuk memasok 700.000 rumah. Menggunakan contoh di atas, pembangkit akan membakar sekitar 14.000 ton batubara per hari, setara dengan 140 gerbong kereta. Pembangkit listrik batubara bekerja dengan mengubah karbon dalam batubara menjadi energi panas, yang digunakan untuk mengubah air menjadi uap. Energi panas yang dibawa oleh uap ini kemudian diubah menjadi energi mekanik dalam turbin, yang menghasilkan energi listrik. Dalam konfigurasi boiler yang paling umum, batubara bubuk ditiup ke dalam ruang pembakaran besar dimana ia terbakar dengan cepat, menciptakan gas panas. Dalam ruang pembakaran, terdapat tabung berisi sirkulai air. Air di tabung dipanaskan sampai menjadi uap pada tekanan tinggi (700 F, 3.200 psi). Uap tersebut kemudian dialirkan melalui serangkaian tabung besar ke turbin uap yang kemudian menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik (Gambar 2). Dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dapat mengurangi konsumsi minyak bumi seperti solar sebagai bahan bakar untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Seiring dengan meningkatnya harga jual solar, perusahaan yang menggunakan listrik akan semakin berat dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan produknya. Sudah seharusnya Indonesia beralih menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik.

Keterkaitan UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup dengan Eksplorasi Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Minyak Bumi

Di dalam undang-undang (UU) nomor 32 tahun 2009 pasal 12 ayat 1 menyatakan bahwa dalam memanfaatkan sumber daya alam didasarkan pada rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ini menjelaskan bahwa, dalam mengeksplorasi kekayaan sumber daya mineral, batubara dan minyak bumi memiliki peraturan tersendiri. Salah satu peraturan yang terpenting adalah tidak melakukan eksplorasi kekayaan alam tersebut dengan berlebihan, karena dengan mengeksplorasi secara berlebihan dapat merusak lingkungan hidup. Sebagai gambarannya, ketika ada perusahaan batubara yang mengeksplorasi tempat tertentu hingga suhu di daerah tersbut meningkat dan kondisi tanah di daerah tersebut rusak serta terdapat banyak lubang bekas penggalian, apa yang akan mereka lakukan.Tanah yang rusak sudah tidak memiliki humus lagi, sehingga tidak bisa digunakan sebagai lahan bercocok tanam. Salah satu cara, yaitu membuat wisata rekreasi air. Selain itu juga di dalam UU nomor 32 tahun 2009 terdapat mengenai limbah. Limbah yang dihasilkan oleh perusahaan yang mengeksplorasi minyak bumi haruslah diperhatikan. Limbah yang berbahaya dan beracun dapat membuat pencemaran di lingkungan perusahaan tersebut Dapat disimpulkan bahwa, mengeksplorasi sumber daya mineral, batubara dan minyak bumi diperbolehkan jika tidak melebihi batas kewajaran, dan yang perlu diperhatikan adalah tempat eksplorasi sumber daya tersebut tidak akan menimbulkan permasalahan yang lain seperti bencana alam yang dapat membuat penduduk sekitar tempat eksplorasi merugi.

Lampiran Tabel 1

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Minyak bumi 353.945 341.203 322.350 305.137 312.484 301.663 300.923 289.899 279.412

Kondesat 46.541 46.450 44.699 43.211 45.016 44.650 43.965 39.350 35.254

Jumlah 400.486 387.654 367.050 348.348 357.500 346.313 344.888 329.249 314.666

Sumber : Ditjen MIGAS, diolah Pusdatin Tabel 2

sumber: Kementerian ESDM

Gambar 1

Sumber : Ditjen MIGAS, diolah Pusdatin

Gambar 2

DAFTAR PUSTAKA

Aliefien._____. Teknologi STD Bisa Meningkatkan Kualitas Batubara.online. http://www.technology-indonesia.com/energi/bahan-bakar/283-teknologi-std-bisameningkatkan-kualitas-batubara. (diakses pada tanggal 12 September 2013) Geologi,Badan.2012. Neraca Energi Fosil 2012. online. http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1026&I temid=641. (diakses pada tanggal 12 September 2013) Jauhary,Muhammad.2007.Potensi Industri Pengolahan Batubara Cair.e-Journal. Negara,Badan Intelijen.2012. Pemanfaatan Gas Bumi Dalam Negeri : Telaah Pembangunan Kilang LNG Donggi Senoro.online. http://www.bin.go.id/wawasan/detil/140/3/10/09/2012/pemanfaatan-gas-bumi-dalamnegeri--------------------telaah-pembangunan-kilang-lng-donggi-senoro. (diakses pada tanggal 12 September 2013) Undang-undang Nomor 32 tahhun 2009