Anda di halaman 1dari 4

Laporan Setik 4 Resep no. 4.

9 R/
Paracetamol Acetosal aa 50 mg Equal qs Mf pulv dtd no xv S3 dd p 1 bila panas

KR : OTT : Spesialite obat 1. Parasetamol Indikasi :


Nyeri ringan sampai sedang ( termasuk sakit kepala, mialgia, keluhan sesudah imunisasi, dan keluhan sesudah tonsilektomi ), serta menurunkan demam yang menyertai infeksi bakteri dan virus.

Farmakodinamik :
Efek analgetik Paracetamol serupa dengan Salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti Salisilat. Efek antiinflamasinya sangat lemah, oleh karena itu Parasetamol tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan pendarahan lambung tidak terlihat, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.

Farmakokinetik :
Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsenterasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara 1 3 jam. Obat ini tersebar keseluruh cairan tubuh. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian Asetaminofen ( 80% ) dikonjugasi dengan Asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan Asam sulfat.Selain itu, obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan Methemoglobinemia dan Hemolisis eritrosit. Diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai Parasetamol ( 3 % ) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.

Dosis :
Oral: Dewasa , 500 1000 mg setiap 6 jam. Anak 6 12 tahun : 125 250 mg 3 4 x sehari. Bayi dan anak kecil ( < 1 tahun ) sendok teh atau 1- 2 ukuran pipet, 3 4 x sehari. Anak ( 4 5 tahun ) : 1 sendok teh, atau 3 ukuran pipet, 3 4 x sehari.

Kontra indikasi :
Pasien dengan penyakit hati dan ikterus.

Perhatian :
Untuk penggunaan tanpa resep dokter : jangan melebihi dosis maksimum yang dianjurkan dan jangan dipakai terus menerus lebih dari 10 hari tanpa pengawasan dokter.

Efek samping :
Sangat jarang dan biasanya ringan.

Over dosis :
6 10 g Parasetamol sekaligus dapat menimbulkan kerusakan hati yang fatal. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa N.Acetylcysteine dipakai sebagai Antidotum.

Interaksi obat :
Warfarin : Meningkatkan hipoprotrombinemia ( sedikit ). Parasetamol dapat digunakan oleh ibu hamil dan menyusui.

Dosis dan cara pemberian :


Dewasa dan Anak anak dibawah 10 tahun: 3 x sehari 1 tablet.

2. Asetosal ( Aspirin ) Komposisi :


Setiap tablet Aspirin mengandung 0,5 g Asam Asetil salisilat.

Indikasi :
Untuk mengatasi segala rasa sakit, terutama sakit kepala dan pusing, sakit gigi, pegal linu, dan nyeri otot. Demikian juga pilek, influenza dan demam.

Farmakodinamik :
Salisilat merupakan obat yang paling banyak digunakan analgetik, antipiretik dan antiinflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. DEngan dosis ini laju metabolisme juga meningkat. Pada dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga terjadi demam dan hiperhidrosis pada keracunan berat. Untuk memperoleh efek antiinflamasi yang baik, kadar plasma perlu dipertahankan antara 250 300 mcg/ml.Kadar ini tercapai dengan dosis

aspirin oral 4 g perhari untuk orang dewasa. Pada penyakit demam reumatik, Aspirin masih belum dapat digantikan oleh obat AINS lain dan masih dianggap sebagai standar dalam studi perbandingan penyakit Arthritis rheumatoid.

Dosis :
Bila tidak ada petunjuk khusus dari dokter : Dewasa dosis tunggal 1 2 tablet. Dosis sehari sampai 6 tablet. Anak 5 tahun keatas : dosis tunggal 0,5 1 tablet. Dosis sehari sampai 1,5 3 tablet.

Efek terapetik :
Aspirin menghambat pengaruh dan biosintesa dari pada zat zat yang menimbulkan rasa nyeri, demam, dan peradangan ( Prostaglandin, Kinin ), daya kerja antipiretik dan analgetik daripada Aspirin diperkuat oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pusat.

Perhatian :
Jangan minum Aspirin bila anda peka terhadap derivate Asam Salisilat, bila anda menderita asma, bila anda sering mengalami pendarahan. Penderita sakit maag, tukak lambung, sakit ginjal, atau kurang darah ( Anemia ) dan wanita hamil sebaiknya minta petunjuk dokter sebelum memakai Aspirin. Dalam waktu 4 minggu sebelum melahirkan, jangan minum Aspirin. Demikian juga bila anda sedang diobati dengan antikoagulansia, metotreksat, antidiabetik oral, obat encok, kortikostreoida, dan preparat spironolakton. Sama dengan analgetik lain, Aspirin juga tidak boleh diminum dalam waktu lama dengan dosis tinggi tanpa petunjuk dokter.

Kemasan :
Dos berisi 20 ( 2 x 10 ) tablet dan 300 ( 30 x 10 ) tablet

Perhitungan Dosis
1. Paracetamol Dos R/ 1xP = 50 mg ~ 50 100 mg 1xH = 150 mg < 200 400 mg. Dos menurut FI III hal 920 Anak umur 1 5 tahun 1xp = 50 100 mg. 1xH = 200 400 mg. 2. Acetosal ( Aspirin ) Dos R/ 1xP = 50 mg ~ 40 50 mg 1xH = 150 mg ~ 120 200 mg. Dos menurut FI III hal 920

Anak umur 3 6 tahun 1xp = 40 50 mg. 1xH = 120 200 mg.

Perhitungan
1. Paracetamol = 50 mg x 15 = 750 mg / 250 mg = 3 tablet. 2. Acetosal = 50 x 15 = 750 / 150 mg = 5 tablet. 3. Equal 2 tablet. Pembuatan. 1. Masukkan Paracetamol + Asetosal + Equal kedalam lumpang. Gerus ad homogen. 2. Timbang hasil penggerusan. 3. Siapkan kertas perkamen sebanyak 15 bungkus.Didapatkan hasil timbangan untuk 1 bungkus : 7500 mg / 15 = 500 mg. Masukan kedalam kertas perkamen. Sisanya bagi 2 sama rata, lalu masukkan kedalam kertas perkamen. 4. Beri wadah dan etiket.

Penyerahan
Wadah Harga : Plastik obat. : Rp. 4000,-

Analisis Resep
Dari analisa resep tersebut, pasien menderita demam lebih dari 3 hari.Demam tersebut dapat mengakibatkan pasien menjadi sakit kepala sehingga perlu diberikan suatu analgetik, yaitu Parasetamol.Terdapat interaksi obat yang sinergis antara Parasetamol dan Asetosal. Interaksi yang sinergis tersebut sangat efektif menurunkan suhu badan yang tinggi akibat demam ( antipiretik ). Ke 2 obat tersebut juga tidak boleh diminum dalam waktu lama dengan dosis tinggi tanpa petunjuk dokter karena dapat menyebabkan kerusakan hati yang fatal. Jangan memberikan Aspirin kepada pasien yang sedang mengalami pendarahan atau sedang diobati dengan suatu antikoagulansia karena dapat memperparah pendarahan yang terjadi. Oleh sebab itu perlu menanyakan terlebih dahulu hal tersebut kepada pasien.