Anda di halaman 1dari 6

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

3.1. Geomorfologi Dalam pembagian satuan peta geomorfologi didasarkan pada : 1. Morfologi daerah tersebut seperti perbukitan, pegunungan, lembah, dataran, bias dilihat dari kontur. Seperti kontur yang rapat memperlihatkan daerah yang terjal (pegunungan), kontur yang landai di kelilingi kontur terjal (lembah). 2. Struktur yang terjadi pada daerah tersebut (sinklin, antiklin, sesar, kekar,dll) atau bias juga dilihat dari bentukan daerah tersebut (homoklin, monoklin) 3. Geografis daerah tersebut. Penamaan ini dibuat supaya setiap daerah yang memiliki morfologi dan gejala struktur yang sama masih dapat dibedakan dengan menambahkan nama geografis yang paling dikenal seperti pencil, seleranda, cantel, jatibungkus,dll.

3.1.1 Pembagian Satuan Geomorfologi Daerah Gunung Cantel

Pada peta geomorfologi daerah penelitian ini dapat dibedakan menjadi 7 satuan geomorfologi, yaitu : a. Satuan Perbukitan Homoklin Selaranda

Satuan ini mencakup 28% daerah penelitian. Satuan ini ditunjukkan oleh pola kontur rapat yang membentuk rupa pegunungan, yang berarti satuan ini tersusun atas batuan-batuan yang bersifat resisten terhadap pelapukan, dan keterdapatannya di lapangan satuan ini tersusun oleh litologi breksi. Satuan ini dikontrol oleh arah kemiringan batuan yang dominan menuju ke selatan, begitu pula dengan pola aliran sungai sub trellis yang menandai di daerah ini terdapat kekar-kekar atau bidang lemah lainnya yang kemungkinan terbentuk saat daerah ini terdeformasi. Satuan ini ditandai dengan warna merah.

b.

Satuan Dataran Aluvial Luk Ulo Satuan ini mencakup 7% daerah penelitian. Satuan ini ditunjukkan oleh pola kontur sangat renggang yang membentuk rupa dataran. satuan ini dikontrol oleh aliran Sungai Luk Ulo yang membawa endapan aluvial. Terdapat bermacam-macam fragmen batuan pada satuan ini dimulai dari fragmen batuan beku, sedimen sampai dengan metamorf. Satuan ini ditandai dengan warna abu-abu.

c.

Satuan Lembah Struktural Sesar Krembeng Satuan ini mencakup 17% daerah penelitian. Satuan ini ditandai dengan adanya kontur renggang dan kontur yang rapat pada sekeliling daerah tersebut, sehingga dinamakan lembah. Tipe sungainya obsekuen karena berlawanan arah dengan dip. Batuan yang terdapat pada satuan ini adalah batulempung, batupasir dan batu gamping. Dinamakan lembah structural sesar karena pada daerah ini terdapat gores garis yang merupakan cirri dari adanya sesar dan arah kemiringan yang acak-acakan. Satuan ini ditandai dengan warna hijau.

d. Satuan Lembah Sinklin Kalijaya Satuan ini mencakup 20% daerah penelitian. Memiliki kontur yang renggang dikelilingi oleh perbukitan atau kontur yang rapat sehingga dinamakan lembah dan membentuk cekungan. Pada lokasi ini terdapat gejala struktur yang tampak jelas yaitu sesar dikarenakan arah dip yang saling berhadapan. Batuan yang terdapat pada lokasi tersebut adalah batulempung, batupasir. Yang didominasi oleh batulempung. Satuan ini ditandai dengan warna orange.

e.

Satuan Pegunungan Sinklin Cantel Satuan ini mencakup 12% daerah penelitian. Memiliki kontur yang terjal. Pada masingmasing sayap lipatan memiliki arah dip yang saling berhadapan yang membentuk struktur sinklin. Batuan yang terdapat di lokasi tersebut adalah batugamping, batupasir, batulempung, batu pasirtufan yang didominasi oleh batugamping. Satuan ini ditandai dengan warna ungu.

f.

Satuan Lembah Sinklin Pencil Satuan ini mencakup 11% daerah penelitian. Satuan ini memiliki kontur yang landai dan dikelilingi oleh perbukitan cantel yang memiliki kontur yang terjal. Sehingga member bentukan lembah. Pada daerah ini ditemukan arah dip yang berhadapan di lokasi yang lmayan dekat. Yang diperkitrakan merupakan sumbu dari sinklin nya. Tipe sungai nya subsekuen. Litologi daerah tersebut adalah batupasir, batulempung, dan batugamping. Satuan ini ditandai dengan warna kuning.

g.

Satuan Bukit Homoklin Wudel Satuan ini mencakup 5% daerah penelitian. Satuan ini memiliki kontur yang rapat dan memiliki kemiringan yang searah sehingga dinamakan homoklin. Batuan dominan batupasir meskipun terdapat pula batulempung disana. Perbandingan antara batulempung dan batupasir adalah 1:5. Satuan batuan ini ditandai dengan warna bitu.

3.1.2 Tipe dan Pola Aliran Sungai pada daerah pemetaan Tipe aliran sungai daerah pemetaan terbagi menjadi 3 tipe yaitu : a. Konsekuen, pola ini mengikuti arah kemiringan lapisan, terdapat pada sungai-sungai di satuan perbukitan homoklin. b. c. Obsekuen, pola ini berlawanan dengan arah kemiringan lapisan Resekuen, pola ini searah dengan jurus lapisan,

3.2. Stratigrafi 3.2.1. stratigrafi regional

Menurut Asikin, et al. (1992 op. cit. Triono dan Cahyono, 2000), daerah Karangsambung memiliki urutan stratigrafi dari tua ke muda adalah Kompleks Melange Luk Ulo, Formasi Karangsambung, Formasi Totogan, Formasi Waturanda, Formasi Penosogan, Formasi Halang dan Aluvial (Gambar 2.3).

Kompleks Melange Luk Ulo merupakan yang tertua pada daerah Karangsambung bahkan pada Pulau Jawa. Kompleks ini memiliki umur Kapur Atas sampai Paleosen yang terbentuk karena terjadinya proses subduksi antara Lempeng Eurasia dengan Lempeng IndoAustralia (Asikin, 1974 op. cit Hadiyansyah, 2005). Pada kompleks ini terdapat fragmenfragmen yang dapat dibagi menjadi dua yaitu native blocks yang merupakan bongkah-bongkah selingkungan yang pada umumnya terdiri dari greywacke, dan exotic blocks yang merupakan bongkah-bongkah asing berukuran besar dan berbentuk lonjong seperti boudine terdiri dari sekis, rijang, peridotit, serpentinit, gamping merah, dan gabro.

Kompleks Melange terdiri dari dua satuan yaitu Satuan Seboro dan Satuan Jatisamit. Pada Satuan Seboro, bongkah-bongkah asing lebih banyak daripada masadasarnya. Pada Satuan Jatisamit, bongkah-bongkah asing lebih sedikit daripada masadasarnya.

Formasi Karangsambung diendapkan tidak selaras di atas Kompleks Melange Luk Ulo. Formasi ini memiliki umur Eosen yang terdiri dari batulempung bersisik dengan warna hitam perselingan dengan batupasir. Pada formasi ini banyak dijumpai fragmen-fragmen berukuran bongkah seperti konglomerat dan batugamping numulites.

Di atas Formasi Karangsambung, diendapkan Formasi Totogan secara selaras. Formasi ini memiliki umur Oligosen sampai Miosen Awal yang terdiri dari fragmen-fragmen berupa batugamping, lava basalt dan sekis. Kemudian diendapkan Formasi Waturanda secara selaras.

Formasi Waturanda memiliki umur Miosen Awal dengan litologi secara umum adalah breksi sedimenter dengan basalt dan batupasir sebagai fragmennya. Endapan breksi ini terjadi karena proses turbidit.

Formasi Penosogan diendapkan selaras diatas Formasi Waturanda. Formasi Penosogan memiliki umur Miosen Tengah yang terdiri dari batupasir, batulempung, batugamping, dan tuff. Pada bagian bawah formasi ini terdiri dari dominasi batupasir perselingan batulempung, kemudian berubah menjadi dominasi batugamping (kalkarenit) perselingan batulempung. Terdapat juga Breksi Kemangguan yang menjari dengan Formasi Penosogan.

Formasi Halang diendapkan selaras di atas Formasi Penosogan. Formasi Halang memiliki umur Pliosen yang terdiri dari batupasir, batulempung, tuff, dan breksi. Perselingan batupasir dan batu lempung akan semakin menebal ke arah atas.

Endapan aluvial merupakan yang paling muda. Endapan ini memiliki umur Holosen dan pembentukannya terus berlangsung hingga sekarang.

3.2.2. Stratigrafi Daerah Gunung Cantel

Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 6 satuan litologi berdasarkan karakteristik litologi dan proses pengendapannya. Berikut urut-urutannya dari yang tua ke yang muda a. Satuan Breksi Seleranda

b. Satuan Batupasir c. Satuan Batulempung

d. Satuan Batugamping e. f. Satuan Breksi Pencil Satuan Aluvial