Anda di halaman 1dari 5

AMENORE BATASAN 1. Amenore. Amenore adalah keadaan tidak haid sedikitnya > 3 bulan siklus haid berturut-turut.

Amenore bisa bersifat fisiologis atau normal yitu pada pra pubertas, kehamilan laktasi dan pasca menopause. 2. Klasifikasi. Amenore patologis terdiri dari : a. Amenore primer. Adalah wanita yang tidak mengalami menarche atau siklus haid sejak usia 16 tahun dan tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan seks sekunder. b. Amenore sekunder. Adalah keadaan pada wanita yang telah mengalami siklus haid, tetapi tidak terjadi selama 6 bulan atau selama 3 bulan siklus haid yang normal. 3. Catatan : Eumenorea (Haid normal). Haid adalah perdarahan pervagidam yang terjadi pada seorang wanita. Perdarahan ini terjadi akibat rangsangan hormonal secara siklik terhadap endometrium. Perdarahan siklik ini (haid) merupakan gambaran kematangan seorang wanita yang masuk dalam usia reproduktif, menandakan awal dan akhir dari fungsi ovarium. Lama siklus berkisar 21 35 hari, berlangsung kurang lebih 4 hari (3 6 hari) dengan jumlah darah yang keluar kurang lebih 50 ml. KRITERIA DIAGNOSIS 1. Anamnesis : b. Perlu diketahui mengenai perkembangan fisik maupun psikologi dari pasien sejak usia dini sampai pubertas. c. Riwayat nutrisi, terjadinya anoreksia nervosa d. Riwayat penyakit kelainan dalam keluarga, seperti anosmia yang merupakan kelainan herediter. e. Kelainan pada kulit : hiperpigmentasi yang berhubungan dnegan hiperandrogenisme atau galaktore. f. Riwayat penyakit sistemik : diabetes dan tiroid. g. Usia menarche gambaran siklus haid dan mengenai pertumbuhan seks sekunder. 2. Pemeriksaan generalis : Pemeriksaan fisik untuk mengetahui penyebab amenore. a. Postur tubuh tanda-tanda kelamin sekunder b. Kelainan kulit hiperpigmentasi c. Pemeriksaan payudara : ginekomasti, galaktorea d. Tanda-tanda kehamilan

3. Pemeriksaan ginekologik : untuk mengetahui penyebab amenorhe. Pemeriksaan inspeksi : a. Kelainan genitalia eksterna. b. Atresia himenalis c. Atresia vagina d. Pemeriksaan dalam (vag e. Atresia himenalis f. Atresia vagina Pemeriksaan status obstetrik : PATOFISIOLOGI. Hormon yang sangat berperan pada suatu siklus haid adalah hormon pelepas LH-RH dan PIF (prolacting FSH, LH) dan prolaktin (PRL) dari hipofisis anaterior. PRL mempengaruhi kelenjar payudara. FSH dan LH memicu sintesis dan pengeluaran hormon steroid oleh ovarium, yaitu estradiol (E2) dan progesteron (P), Estrogen menyebabkan perubahan sekretorik pada endometrium. ETIOLOGI. Penyebab amenorea dibagi dalam kelompok : 1. Penyebab secara umum : a. Pubertas tarda b. Insufisiensi kelenjar hipofisis c. Penyakit non endokrinologi d. Penyakit khronik e. Intoksikasi f. Kurang gizi g. Kerja berat 2. Penyebab di vagina : a. Tidak ada vagina (agenesis vagina) (total/partial0 b. Atresia himenalis 3. Penyebab di uterus : a. Tidak ada uterus/agenesis uterus b. Kelainan kongenital c. Uterus hipoplasi d. Atresia kavum uteri e. Kerusakan endometrium akibat : Kuretase Infeksi Obat-obatan.

4. Penyebab di ovarium : a. Tidak ada ovarium (agenesis ovarium) b. Hipogenesis ovarium c. Pengangkatan ovarium d. Ovarium polikistik e. Insufisiensi ovarium (penyinaran, infeksi degenarasi kistik). f. Folikel persisten g. Tumor ovarium. 5. Penyebab di Hipofisis : Insufisiensi sekunder : b. Tumor c. Trauma d. Post partum (sindroma sheehan) 6. Penyebab Diensefal. Insufisiensi sekunder : a. Tumor b. Trauma c. Kegemukan d. Kekurusan (anoreksia nervosa) 7. Penyebab di Korteks : Trauma psikis 8. Penyebab di Adrenal : Sindroma androgen ; a. Insufisiensi suprarenal b. Tumor 9. Penyebab di Kel. Tiroid : a. Hipotiroid b. Hipertiroid 10. Penyebab di Pankreas : Kekurangan insulin (insufisiensi insulin) 11. Obat-obatan : a. Steroid seks b. Obat yang meningkatkan kadar PRL. B. DIAGNOSIS 1. Anamnesa : a. Perlu diketahui mengenai perkembangan fisik maupun psikologi dari pasien sejak usia dini sampai pubertas. b. Riwayat nutrisi, terjadinya anoreksia nervosa c. Riwayat penyakit kelainan dalam keluarga, seperti anosmia yang merupakan kelainan herediter. d. Kelainan pada kulit : hiperpigmentasi yang berhubungan dnegan hiperandrogenisme atau galaktore.

e. Riwayat penyakit sistemik : diabetes dan tiroid. f. Usia menarche gambaran siklus haid dan mengenai pertumbuhan seks sekunder. 2. Pemeriksaan Fisik : a. Pemeriksaan umum (tanda-tanda seks sekunder) b. Pemeriksaan ginekologik c. Pemeriksaan Penunjang. Laboratorium rutin BMR Kromatin seks (tidak sesuai dengan XX) Kariotip 3. Pemeriksaan Laboratorium. a. Hormonal : Human Chorionic Gonadotropin (HCG Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya amenore fisiologik. Kadar Prolaktin Serum. Adanya Hiperprolaktinemia harus di evaluasi kemungkinan adanya kelainan di otak *tumor, inflamasi, trauma, kelainan vaskuler) dengan melakukan pemeriksaan CT-Scan atau MRI) Kadar TSH dan T4. Pasien dengan amenorea Patologi perlu di evaluasi fungsi tiroid dengan menilai kadar TSH dan T4. Kadar Gonadotropin. Kadar FSH dan LH pada pasien dengan amenore, terbagi dalam 2 golongan yaitu : Kadar Gonadotropin yang tinggi Hypergonadotropin amenorea hampir selalu berhubungan dengan kegagalan fungsi ovarium. Kadar Gonadotropin yang rendah atau normal. Pasien dengan keadaan ini sering berhubungan dengan adanya kelainan pada hipothalamus dan kelenjar hipofisis. Kadar Androgen. Hiperandogenisme sering menyebabkan amenore Kadar hormonal (lihat lampiran hormonal normal).

b. Sitohormonal. 4. Progestin challenge test 5. Pemeriksaan Khromosom.

C. PENATALAKSANAAN 1. Informed Consent. Perlu penjelasan kepada penderita terutama pada keadaan amenore primer dengan kelainan kongenital dimana tindakan operatif tidak selalu dapat memperbaiki fungsi reproduksi. Adanya kelainan pada otak (tumor) berhubungan dengan prognosis yang kurang baik. 2. Pengobatan. Pengobatan pada pasien amenore adalah tergantung dari diagnosis kelainan yang terjadi. a. Terapi operatif. Tindakan operatif pada pasien dengan amenore hanya dilakukan pada keadaan dimana terdapat kelainan anatomis pada organ reproduksi yaitu pada uterus dan vagina seperti kelainan kongenital, septum vagina, himen imperforata, ashermans syndroma. b. Terapi Medikamentosa. Amenore Primer : Subtitusi estrogen progesteron pada keadaan agenesis ovarium. Pada sindroma Turner pengobatan ini memberikan kenaikan tinggi badan 0,12 cm/bulan. Pengangkatan testis pada sindroma feminisasi testis yang kemudian diberi substitusi. Penekanan prolaktin dengan bromokriptin pada kasus hyperprolaktinemia Pemicuan/induksi ovulasi dengan clomid pada kasus ovarium polikistik. Amenore Sekunder. Induksi ovulasi dengan klomifen sitrat, diberikan pada kasus ovarium polikistik. Estrogen dan progesteron diberikan pada kasus hipogonadotropinism, hanya untuk menimbulkan haid, karena pengobatan dengan Humegon dan pregnyl mahal. Bromokriptin diberikan pada hiperprolaktinemia. Thyranon diberikan pada kasus-kasus hipothyroid.