Anda di halaman 1dari 5

PIDATO RENDAHNYA MINAT BACA

Assalamualaikum Wr.Wb Bapak Kepala Sekolah yang saya hormati; Para undangan, hadirin yang berbahagia; Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya yang begitu banyak kepada kita, sehingga kita bisa berkumpul pada kesempatan kali ini. Perkenankanlah dalam kesempatan ini saya membacakan pidato saya yang berjudul : Rendahnya Minat Baca Pada dasarnya perpustakaan itu sangat di butuhkan oleh seseorang. Namun pada sekarang ini banyak orang yang tidak tertarik pada perpustakaan. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu luangnya untuk sekedar bermain, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Padahal sudah terlihat jelas apa definisi dari perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan adalah tempat dimana kita bisa mendapatkan berbagi informasi yang sangat luas dan bisa menambah pengetahuan kita. Perpustakaan juga diartikan sebagai sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri. Namun pada kenyataannya banyak siswa di sekolah-sekolah yang tidak suka ke perpustakaan. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya : 1. Buku-buku yang ada di perpustakaan kurang lengkap 2. Perpustakaan kurang memadai 3. Tempat yang kurang nyaman bagi siswa

4. Buku yang disediakan sudah keluaran edisi lama jadul 5. Penjaga perpustakaan galak Kemampuan membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN sekali pun. Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya. Dari beberapa dampak yang telah saya sebutkan tadi dapat disimpulkan bahwa kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Untuk mengubah perilaku siswa/masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari siswa itu sendiri. Hal itu memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung pada pemerintahan yang ada di sekolahnya. Dan juga proses belajar mengajar akan berpengaruh pada minat siswa untuk lebih sering rajin membaca buku dan sehingga budaya membaca buku dengan sendirinya akan terus meningkat dan tidak akan ada masyarakat Indonesia yang buta huruf lagi. Apabila rendahnya minat dan kemampuan membaca masyarakat kita sebagaimana terwakili oleh anak-anak dalam beberapa penelitian di atas dibiarkan sampai pada suatu saat tetap status quo maka dalam persaingan global kita akan selalu ketinggalan dengan sesama negara berkembang, apalagi dengan negara-negara maju lainnya. Kita tidak akan mampu mengatasi segala persoalan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan lainnya selama SDM kita tidak kompetitif, karena

kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat lemahnya kemauan dan kemampuan membaca. Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak kita tergolong rendah karena sarana dan prasarana pendidikan khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum mendapat prioritas dalam penyelenggaraannya. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan adanya buku-buku yang cukup dan bermutu serta eksistensi perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran. Faktor lain yang menghambat kegiatan anak-anak untuk mau membaca adalah kurikulum yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta para tenaga kependidikan baik sebagai guru, dosen maupun para pustakawan yang tidak memberikan motivasi pada anak-anak peserta didik bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berfikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya. Di hampir semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan, kondisi perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan. Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan, serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku-buku bermutu yang menyangkut isi, bahasa, pengarang, lay-out atau penyajiannya yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kecerdasan seseorang akan dapat merangsang berahi membaca orang tersebut. Demikian pula kalau buku-buku dalam semua jenisnya tersebar luas secara merata ke berbagai lapisan masyarakat, mudah didapat dimana-mana, serta harganya dapat dijangkau oleh semua tingkatan sosial ekonomi masyarakat, maka kegiatan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya akan tercipta sebuah kondisi masyarakat konsumen membaca yang akan mengkonsumsi buku-buku setiap hari sebagai kebutuhan pokok dalam hidup keseharian.

Guru, dosen maupun para pustakawan sekolah sebagai tenaga kependidikan, harus merubah mekanisme proses pembelajaran menuju membaca sebagai suatu sistem belajar sepanjang hayat. Setiap guru, dosen dalam semua bahan kajian harus dapat memainkan perannya sebagai motivator agar para peserta didik bergairah untuk banyak membaca buku-buku penunjang kurikulum pada bahan kajian masingmasing. Misalnya dengan memberi tugas-tugas rumah setiap kali selesai pertemuan dalam proses pembelajaran. Dengan sistem reading drill secara kontinu maka membaca akan menjadi kebiasaan peserta didik dalam belajar. Pustakawan pada perpustakaan sekolah yang didukung oleh para guru kelas sedapat mungkin harus dapat menciptakan kemauan para peserta didik untuk banyak membaca dan meminjam buku-buku di perpustakaan. Sistem promosi perpustakaan harus diadakan dan diprioritaskan secara kontinu agar perpustakaan dikenal apa fungsi, arti, kegunaan dan fasilitas yang dapat diberikannya. Tanpa promosi perpustakaan yang gencar, mustahil orang akan mengenal dan tertarik untuk datang ke perpustakaan. Salah satu upaya pengentasan rendahnya minat baca masyarakat, beberapa kelompok profesi membentuk organisasi seprofesi dengan salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan minat baca sesuai dengan bidang masing-masing. Misalnya para penerbit buku mendirikan organisasi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), para tokoh buku mendirikan Gabungan Toko Buku Seluruh Indonesia (GATSBI), para pustakawan mendirikan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), kelompok perpustakaan mendirikan Klub Perpustakaan Indonesia (KPI), para pencita buku mendirikan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM), kelompok peduli minat baca mendirikan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), kelompok-kelompok lainnya mendirikan berbagai organisasi. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), Yayasan-yayasan membaca dan buku serta berbagai organisasi lainnya, telah menebar kegiatan-kegiatan dalam upaya meningkatkan minat baca. Organisasi-organisasi, yayasan LSM dan lain-lain tersebut kenyataannya juga tidak mampu mengungkit minat baca (meminjam istilah H.A. Tilaar) masyarakat

lebih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan mereka hanya berputar-putar dalam seminarseminar, mendirikan kelompok-kelompok baca secara terbatas pada suatu tempat, belum dapat mengangkat dan menyelesaikan persoalannya secara nasional dan bersinambungan. Kalau kita boleh menghitung-hitung biaya yang telah dikeluarkan oleh panitia maupun peserta seminar dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri itu barangkali kita sudah dapat mendirikan sebuah perpustakaan megah di ibukota negara Republik ini. Pengentasan rendahnya minat baca masyarakat tidak akan membuahkan hasil optimal bilamana dilaksanakan secara sendiri-sendiri, terpisah-pisah dan terpotongpotong. Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama, Perpustakaan Nasional dan lembaga-lembaga lain-lainnya tentu tidak akan dapat banyak diharapkan untuk mengatasi hal ini. Kegiatan mereka terlalu sarat dengan program-program rutinitas, yang tidak banyak menyentuh secara langsung soal-soal minat baca. Oleh sebab itu pembentukan sebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca atau apapun namanya adalah suatu solution to a problem dalam pengentasan rendahnya minat baca masyarakat kita. Demikianlah sekadar pemikiran yang dapat saya sumbangkan, semoga membaca menjadi kebutuhan masyarakat kita dan membaca menjadi budaya bangsa. Wassalamualaikum, Wr.Wb