Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh

kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas tentang Disaster Manajemen, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentangDisaster Manajemen TSUNAMI yang menjelaskan bagaimana bancana ini terjadi. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu dosen yang telah membimbing penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih. Probolinggo, 16 September 2013 Penyusun

Kelompok 3

BAB I PENDAHULUAN 1.2. Latar Belakang Tsunami (bahasa Jepang ; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih. Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah lain. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik". 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, bagaimana landasan teori dan manajemen penangulangan bencana tsunami di indonesi? 1.3. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian tsunami 2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya tsunami 3. Untuk mengetahui bagaimana terjadinya tsunami 4. Untuk mengetahui daerah mana saja yang berpotensi tsunami 5. Untuk mengetahui cara penanggulangan dan pencegahan dan dampak tsunami 6. Untuk mengetahui disaster manajemen tsunami di Indonesia

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebihdari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami. Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk,atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak. 2.2. Penyebab Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan

(disturbance) berskala besar terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah laut, atau tumbukan benda langit. Tsunami dapat terjadi apabila dasar laut bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal.

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau

longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter. Gempa yang menyebabkan tsunami

Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 30 km) Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter

Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Contoh ilustrasi gambar terjadinya Tsunami

2.3.

Tanda-tanda Tsunami Gempa tektonik/vulkanik terlebih dahulu. Air laut surut secara tiba2

Tanda-tanda tsunami 2.4. Daerah di Indonesia yang Berpotensi Tsunami

Daerah rawan tsunami: pemukiman di pinggir pantai di daerah rendah dekat pantai

2.5.

Sistem Peringatan Dini Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atu permukaan laut yang terknoneksi dengansatelit.

Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama denganperangkat yang mengapung di laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawai pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat membuat Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965. Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project, dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas. Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh rendaman yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat. Sistem peringatan dini di indonesia Pemerintah Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian Tsunami Early Warning System - InaTEWS). Sistem ini berpusat pada

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami. Sistem yang ada sekarang ini sedang disempurnakan. Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat peringatan, sesuai dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan (Decision Support System DSS). Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami ini melibatkan banyak pihak, baik instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, lembaga non-pemerintah. Koordinator dari pihak Indonesia adalah Kementrian Negara Riset dan Teknologi(RISTEK). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA dan PERINGATAN TSUNAMI adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Sistem ini didesain untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam waktu paling lama 5 menit setelah gempa terjadi. Sistem Peringatan Dini memiliki 4 komponen: Pengetahuan mengenai Bahaya dan Resiko, Peramalan, Peringatan, dan Reaksi.Observasi (Monitoring gempa dan permukaan laut), Integrasi dan Diseminasi Informasi, Kesiapsiagaan. Cara Kerja Sebuah Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah merupakan rangkaian sistem kerja yang rumit dan melibatkan banyak pihak secara internasional, regional, nasional, daerah dan bermuara di Masyarakat. Apabila terjadi suatu Gempa, maka kejadian tersebut dicatat oleh alat Seismograf (pencatat gempa). Informasi gempa (kekuatan, lokasi, waktu kejadian) dikirimkan melalui satelit ke BMKG Jakarta. Selanjutnya BMG akan mengeluarkan INFO GEMPA yang disampaikan melalui peralatan teknis secara simultan. Data gempa dimasukkan dalam DSS untuk memperhitungkan apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan

tsunami. Perhitungan dilakukan berdasarkan jutaan skenario modelling yang sudah dibuat terlebih dahulu. Kemudian, BMKG dapat mengeluarkan INFO PERINGATAN TSUNAMI. Data gempa ini juga akan diintegrasikan dengan data dari peralatan sistem peringatan dini lainnya (GPS, BUOY, OBU, Tide Gauge) untuk memberikan konfirmasi apakah gelombang tsunami benar-benar sudah terbentuk. Informasi ini juga diteruskan oleh BMKG. BMKG menyampaikan info peringatan tsunami melalui beberapa institusi perantara, yang meliputi (Pemerintah Daerah dan Media). Institusi perantara inilah yang meneruskan informasi peringatan kepada masyarakat. BMKG juga menyampaikan info peringatan melalui SMS ke pengguna ponsel yang sudah terdaftar dalam database BMKG. Cara penyampaian Info Gempa tersebut untuk saat ini adalah melalui SMS, Facsimile, Telepon, Email, RANET (Radio Internet), FM RDS (Radio yang mempunyai fasilitas RDS/Radio Data System) dan melalui Website BMG (www.bmg.go.id). Pengalaman serta banyak kejadian dilapangan membuktikan bahwa meskipun banyak peralatan canggih yang digunakan, tetapi alat yang paling efektif hingga saat ini untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah RADIO. Oleh sebab itu, kepada masyarakat yang tinggal didaerah rawan Tsunami diminta untuk selalu siaga mempersiapkan RADIO FM untuk mendengarkan berita peringatan dini Tsunami. Alat lainnya yang juga dikenal ampuh adalah Radio Komunikasi Antar Penduduk. Organisasi yang mengurusnya adalah RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Mengapa Radio ? jawabannya sederhana, karena ketika gempa seringkali mati lampu tidak ada listrik. Radio dapat beroperasi dengan baterai. Selain itu karena ukurannya kecil, dapat dibawa-bawa (mobile). Radius komunikasinyapun relatif cukup memadai. 2.6. Pencegahan

Menyimpan alat pendeteksi gelombang tsunami (BOUY) Membuat jalur evakuasi

Menerangkan kepada masyarakat tentang tanda-tanda datangnya tsunami Sosialisasi Pembuatan keputusan Peringatan dini Membentuk pos-pos siaga bencana mengadakan penyuluhan

2.7.

Dampak Tsunami di Indonesia Dampak tsunami di Indonesia bias dijelaskan melalui gambar dibawah ini :

Korban

tewas

akibat

tsunami

biasanya

terjadi

akibat

tenggelam,terseret arus,terkubur pasir,terhantam serpihan atau puing,dan lain-lain.Bentuk kerusakan lingkungan hidup di daerah yang dilanda tsunami antara lain pencemaran air dan tanah, kerusakan dan kehancuran pemukiman,bangunan pertambakan. pantai,lahan pertanian,hutan,perkebunan,dan

Dampak Positif Bagi Bisnis dan Perekonomian a. Menambah kesuburan kawasan sekitar merapi, sehingga dapat ditumbuhi banyak pepohonan dan dapat dimanfaatkan untuk pertanian dalam waktu beberapa tahun kedepan b. Dapat dijadikan objek wisata bagi wisatawan domestic dan wisatawan mancanegara setelah Gunung Merapi meletus c. Hasil erupsi (pasir) dapat dijadikan mata pencaharian seperti penambangan pasir dan karya seni dari endapan lava yang telah dingin. d. Aktifitas gunung api dapat menghasilkan geothermal atau panas bumi yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari e. Sisa-sisa aktivitas Gunung Merapi dapat menghasikan bahan-bahan tambang yang berguna dan bernilai tinggi. Seperti belerang, batu pualam dan lain-lain. f. Membangkitkan industry semen dan industry yang berkaitan dengan insfrastuktur bisa bangkit, termasuk bisa menyerap banyak tenaga ahli untuk memulihkan infrastruktur dan sector lainnya di kawasan terkena musibah.

g. Terjadinya disribusi keadilan ekonomi, dengan banyaknya sumbangan dari para dermawan. 2.7.1. Dampak Negatif Bagi Bisnis dan Perekonomian a. Merusak pemukiman warga sekitar bencana b. Menyababkan kebakaran hutan (Bencana Merapi) c. Pepohonan dan tumbuhan yang ditanam warga sekitar banyak yang layu, bahkan mati akibat debu vulkanik, begitu juga dengan ternak warga banyak yang mati akibat letusan Gunung Merapi d. Menyebabkan gagal panen e. Matinya infrastruktur f. Terhentinya aktivitas mata pencaharian warga sekitar bencana g. Pemerintah harus mengeluarkan biaya yang tidak terduga untuk memperbaiki infrastruktur yang telah rusak akibat bencana h. Terhentinya industri periwisata, seperti pasar Malioboro dan Candi Borobudur (Bencana Merapi) i. Bandar udara tidak dapat beroperasi atau tidak dapat melakukan penerbangan karena debu vulkanik yang dihasilkan oleh letusan Gunung Merapi dapat menyebabkan mesin pesawat mati j. Mengganggu hubungan komunikasi, jaringan listrik terputus dan aktifitas masyarakat lumpuh k. Dampak Negatif Bagi Kesehatan Masyarakat l. Menebarkan debu yang dapat mengganggu pernapasan m. Menimbulkan gas beracun

n. Terjadinya kekurangan pangan bagi masyarakat yang terkena bencana Merapi) 2.7.2. Gangguan Psikologik a. Flashbacks,yaitu individu selalu mengingat atau terbayang dalam benaknya bahwa kejadian yang mereka alami akan terjadi lagi kepadanya. b. Tubuh akan sesak nafas atau keluar keringat sengat teringat kejadian itu. c. Terlalu waspada dalam segala hal. d. Bisa menyebakan phobia terhadapa sesuatu. e. Bila ada stimulus-stimulus tertentu yang individu dapati, maka ia akan mudah teringat lagi. f. Muncul ganguan otonomik dan kelainan tingkah laku. g. Mimpi buruk adalah biasa. Kadangkala peristiwa hidup kembali sebagaimana jika terjadi (flashback). Gangguan hebat seringkali terjadi ketika orang berhadapan dengan peristiwa atau keadaan yang mengingatkan mereka keada trauma asal. h. Orang secara terus menerus menghindari benda yang mengingatkan pada trauma. i. Mereka bisa juga berusaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan mengenai peristiwa traumati dan menghindari ingatan (amnesia) untuk aspek tertentu pada peristiwa yang taumatik. j. Orang mengalami rasa atau kematian pada reaksi emosional dan gejala yang muncul meningat (seerti kesulitan tertdur, menjadi

waspada terhadap tanda bahaya beresiku, atau menjadi mudah terkejut). k. Gejala pada depresi pada umum, dan orang menunjukkan sedikit ketertarikan pada aktifitas menyenangkan sebelumnya. l. Perasaan bersalah juga biasa. Missal, mereka bisa merasa bersalah bahwa ketika mereka bertahan hidup ketika orang lain tidak. 2.8. Manajemen Bencana Tsunami di Indonesia Indonesia merupakan negara yang sangat rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir dan angin puting beliung. Sekitar 13 persen gunung berapi dunia yang berada di kepulauan Indonesia berpotensi menimbulkan bencana alam dengan intensitas dan kekuatan yang berbeda-beda. Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004 yang memakan banyak korban jiwa di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara memaksa diadakannya upaya cepat untuk mendidik masyarakat agar dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi bencana alam. Namun, upaya yang dilaksanakan tidak efektif karena persiapan menghadapi bencana alam belum menjadi mata pelajaran pokok dalam kurikulum di Indonesia. Materi-materi pendidikan yang berhubungan dengan bencana alam juga tidak banyak. Laporan Bencana Asia Pasifik 2010 menyatakan bahwa masyarakat di kawasan Asia Pasifik 4 kali lebih rentan terkena dampak bencana alam dibanding masyarakat di wilayah Afrika dan 25 kali lebih rentan daripada di Amerika Utara dan Eropa. Laporan PBB tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 18 juta jiwa terkena dampak bencana alam di Indonesia dari tahun 1980 sampai 2009. Dari laporan yang sama Indonesia mendapat peringkat 4 sebagai salah satu negara yang paling rentan terkena dampak bencana alam di Asia Pasifik dari tahun 1980-

2009. Laporan Penilaian Global Tahun 2009 pada Reduksi Resiko Bencana juga memberikan peringkat yang tinggi untuk Indonesia pada level pengaruh bencana terhadap manusia peringkat 3 dari 153 untuk gempa bumi dan 1 dari 265 untuk tsunami. Walaupun perkembangan manajemen bencana di Indonesia meningkat pesat sejak bencana tsunami tahun 2004, berbagai bencana alam yang terjadi selanjutnya menunjukkan diperlukannya perbaikan yang lebih signifikan. Daerah-daerah yang rentan bencana alam masih lemah dalam aplikasi sistem peringatan dini, kewasapadaan resiko bencana dan kecakapan manajemen bencana. Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia yang dimulai tahun 2005, masih dalam tahap pengembangan. Menurut kebijakan pemerintah Indonesia, para pejabat daerah dan provinsi diharuskan berada di garis depan dalam manajemen bencana alam. Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan tentara dapat membantu pada saat yang dibutuhkan. Namun, kebijakan tersebut belum menciptakan perubahan sistematis di tingkat lokal. Badan penanggulangan bencana daerah direncanakan di semua provinsi namun baru didirikan di 18 daerah. Selain itu, kelemah

Prosedur Penyelamatan

Penanganan Bencana Pasca Tsunami Bencana Tsunami Aceh yang lalu ternyata memberikan pengalaman berharga bagi Indonesia, khususnya mengenai aspek penanggulangan bencana. Pengalaman Indonesia dalam menangani dampak Tsunami Aceh menjadikan 11 negara di Samudera Pasifik seperti Fiji, Vanuatu, dan Papua Niugini memutuskan untuk mengirimkan stafnya untuk belajar mengenai aspek penanggulangan bencana di Indonesia.

Bahkan, negara maju seperti Jepang pun tidak sungkan untuk datang belajar ke Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Jepang diguncang oleh gempa dan tsunami hebat. Selama ini, Jepang terkenal mandiri dalam hal penanganan bencana. Namun, karena dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana Fukushima sangat parah ditambah lagi jumlah korban yang tidak sedikit, Jepang akhirnya membuka diri untuk menerima bantuan dari laur. Karenanya, tidak kurang dari 115 negara kemudian mengirimkan bantuannnya ke Jepang yang dipusatkan di Tokyo. Jepang ternyata tidak berpengalaman dalam hal mengelola bantuan dari 115 negara tersebut. Karenanya, logistik tertumpuk di Tokyo dan tidak terdistribusikan. Untuk mengatasinya, Jepang akhirnya tidak sungkan belajar dari Indonesia untuk mengelola bantuan dari mancanegara tersebut dengan mempelajari peraturan pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB). Hal yang sama juga dilakukan Myanmar ketika diterjang badai Nargis beberapa waktu yang lalu. Bahkan, sekitar 70 persen undang-undang penanggulangan bencana di Indonesia diadopsi oleh Myanmar.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hinggalebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi Sistem peringatan dini adalah suatu system atau alat yang digunakan untuk mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami.

3.2. Saran Pembaca diharapkan mampu memahami pengertian dari Tsunami Pembaca diharapkan mampu mengetahui penyebab terjadinya Tsunami Pembaca diharapkan mampu mengetahui pencegahan, dampak Tsunami Pembaca diharapkan mampu memahami sistem peringatan dini terhadap Tsunami

Daftar Pustaka

______.2005. Tsunami. http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami. Diakses tgl 16 September 2013


_____. 2006. Bencana Alam.http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam. Diakses tanggal 16 September 2013

Iwan, W.D., editor, 2006, Summary report of the Great Sumatra Earthquakes and Indian Ocean tsunamis of 26 December 2004 and 28 March 2005: Earthquake Engineering Research Institute, EERI Publication #2006-06, 11 chapters, 100 page summary, plus CD-ROM with complete text and supplementary photographs, EERI Report 2006-06. [www.eeri.org] ISBN 1-932884-19-X Dudley, Walter C. & Lee, Min (1988: 1st edition) Tsunami! ISBN 0-82481125-9 link Kenneally, Christine (December 30 2004). "Surviving the Tsunami". Slate. link Macey, Richard (January 1 2005). "The Big Bang that Triggered A Tragedy", The Sydney Morning Herald, p 11 - quoting Dr Mark Leonard, seismologist at Geoscience Australia. Lambourne, Helen (March 27 2005). "Tsunami: Anatomy of a disaster". BBC News. link abelard.org. tsunamis: tsunamis travel fast but not at infinite speed . Website, retrieved March 29 2005. link The NOAA's page on the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami

DAFTAR ISI

Halaman Sampul Makalah Kata Pengantar ..............................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................1 1.1. Latar Belakang Masalah..........................................................1 1.2. Rumusan Masalah....................................................................1 1.3. Tujuan......................................................................................2 1.4. Manfaat....................................................................................2 BAB II TINJAUAN TEORI.........................................................................3 2.1. Pengertian................................................................................3 2.2. Penyebab..................................................................................3 2.3. Tanda tanda tsunami................................................................4 2.4.Daerah di Indonesia yang berpontensi stunami........................4 2.5. Sistem Peringatan Dini............................................................5 2.6. Pencegahan..............................................................................6 2.7. Dampak Tsunami di Indonesia................................................7 2.8. Manajemen Bencana Tsunami di Indonesia............................10 BAB III PENUTUP.......................................................................................23 3.1. Kesimpulan..............................................................................23 3.2. Saran.....23 DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH DISASTER MANAJEMENT TSUNAMI

Oleh: KELOMPOK 3 1. Maulindawati 2. Supanjiono 3. Liana Munawaroh 4. Faisol Imam Arifin 5. Basuki Rahmat 6. Rohmah Rusniawati 7. Lukman Hakim 8. Septian Adi Candra 9. Ahmad Fanani 10.M. Yudhi Rahman

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSAWATI PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

GENGGONG PROBOLINGGO 2013