Anda di halaman 1dari 18

Degradasi lahan & ancaman bagi pertanian

(SOLO POS , Selasa pon, 7 Nopember 2006)


Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS. Saat ini pemerintah telah menetapkan program ketahanan pangan sebagai prioritas utama dalam kebijakan pembangunan pertanaian. Dal am program ini mencakup usaha usaha untuk meraih kembali swasembada pangan yang pada tahun 1984 berhasil dicapai. Akan tetapi usaha pencapain swasembada pangan ataupun kecukupan pangan ini dihadapkan masalah semakin merosotnya kualitas sumberdaya lahan per tanian, sehingga mengancam usaha pertanian kedepan. . Tidaklah berlebihan ungkapan bahwa : bumi ini bukanlah warisan nenek moyang kita, namun merupakan titipan anak cucu kita mendatang , yang mengandung makna kita mempunyai kewajiban untuk mengelola dan me melihara bumi (lahan) ini dengan sebaik baiknya. Pada tulisan ini akan kami sampaikan keprihatinan kondisi lahan yang semakin terdegradasi yang mengancam keberlanjutan usaha pertanian mendatang. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan laha n kita agar tetap produktif dan terhindar dari ancaman degradasi akibat berbagai kegiatan pembangunan yang tidak terkendali dan tidak ramah lingkungan

, sehingga nantinya lahan yang akan kita wariskan pada anak cucu kita masih mempunyai daya dukung yang opt imal. Kondisi yang optimal ini akan menjamin usaha pertanian yang berkelanjutan dimasa datang . Kita sadari bahwa k egiatan p embangunan disamping akan menghasilkan manfaat juga akan membawa resiko (dampak negatip). Keduanya harus di perhitungkan secara seimb ang. Dampak negatip harus kita hilangkan atau kita tekan menjadi seminim mungkin. Kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap degradasi lahan antara lain kegiatan deforesterisasi, industri, pertambangan, perumahan, dan kegiatan pertani an sendiri. Apabila kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan terjadinya degradasi lahan pertanian yang mengancam keberlanjutan uasaha tani dan ketahanan pangan. Oleh karenanya, dalam kegiatan pembangunan hendaknya harus dipikir kan keberlanjutannya dimasa mendatang (sustainabilitas). Dalam praktek budidaya pertanian sendiri sering akan menimbulkan dampak pada degradasi lahan. Dua faktor penting dalam usaha pertanian yang potensial menimbulkan dampak pada sumberdaya lahan, yaitu tanaman dan manusia (sosio kultural) yang menjalankan pertanian. Diantara kedua faktor, faktor manusialah yang berpotensi berdampak positip atau negatip pada lahan, tergantung cara menjalankan pertaniannya. Apabila dalam menjalankan pertaniannya benar maka akan berdampak positip, namun apabila cara menjalankan pertaniannya salah maka akan berdampak negatif. Kegiatan menjalankan pertanian atau cara budidaya pertanian yang menimbulkan dampak antara lain meliputi kegiatan pengolahan tanah, penggunaan sarana p roduksi yang tidak ramah lingkungan (pupuk dan insektisida) serta sistem budidaya termasuk pola tanam yang mereka gunakan. Pembangunan pertanian konvensional yang telah kita lakukan masa lalu nampaknya belum menjamin keberlanjutan program pembangunan perta nian. Kita

berevaluasi diri, setelah lebih dari 30 tahun menerapkan pembangunan pertanian nasional kita menghadapi beberapa indikator yang memprihatinkan : (1) tingkat produktivitas lahan menurun, (2) tingkat kesuburan lahan merosot, (3) konversi lahan per tanian semakin meningkat, (4) luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas, (5) tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan pertanian meningkat, (6) daya dukung likungan merosot, (7) tingkat pengangguran di pedesaan meningkat, (8) daya tukar petani berkur ang, (9) penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani menurun, dan (10) kesenjangan antar kelompok masyarakat meningkat. Dari evaluasi tersebut degradasi lahan yang berupa penurunan daya dukung lahan dan pencemaran lahan pertanian nampaknya menjadi ancama n yang serius yang harus perlu kita hindari. Ancaman Degradasi Lahan Erosi. Erosi tanah merupakan penyebab kemerosotan tingkat produktivitas lahan DAS bagian hulu, yang akan berakibat terhadap luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas. Penggunaan lah an diatas daya dukungnya tanpa diimbangi dengan upaya konservasi dan perbaikan kondisi lahan sering akan menyebabkan degradasi lahan Misalnya lahan didaerah hulu dengan lereng curam yang hanya sesuai untuk hutan, apabila mengalami alih fungsi menjadi laha n pertanian tanaman semusim akan rentan terhadap bencana erosi dan atau tanah longsor. Erosi tanah oleh air di Indonesia (daerah tropis), merupakan bentuk degradasi lahan yang sangat dominan. Perubahan penggunaan lahan miring dari vegetasi permanen (hutan ) menjadi lahan pertanian intensif menyebabkan tanah menjadi lebih mudah terdegradasi oleh erosi tanah. Akibat degradasi oleh erosi ini dapat dirasakan dengan semakin meluasnya lahan kritis. Praktek penebangan dan perusakan hutan (deforesterisasi) merupaka n penyebab utama terjadinya erosi di kawasan daerah aliran sungai (DAS). Sebagai contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan liar baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat, yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha, sedangkan tahun 2002 mengindikasikan berkembang menjadi 94,17 juta ha, atau meningkat 65,5 % selama 2 tahun. Kerusakan yang disebabkan erosi tidak hanya dirasakan di bagian hulu ( on site

) saja, akan tetapi juga berpengaruh dibagian hilir ( off site ) dari suatu DAS. Kerusakan di hulu menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan berpengaruh terhadap kemunduran produktivitas tanah atau meluasnya lahan kritis. Dibagian hilir kerusakan diakibatkan oleh sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan saluran air dan sungai dan berakibat terjadinya banjir dimusim penghujan, dan terjadi kekeringan di musim kemarau. Contoh lain, pada awal pelita V (1990) luas lahan kritis di Indonesia 1 3,18 juta hektar, namun sekarang diperkirakan mencapai 23,24 juta hektar, sebagian besar berada di luar kawasan hutan (65%), dengan pemanfaatan yang sekedarnya atau bahkan cenderung diterlantarkan. Untuk jawa tengah luas lahan kritis mencapai 982,9 ribu hektar, dengan kondisi lahan 63% potensial kritis hingga agak kritis, 34% kondisi kritis dan 3% sangat kritis. Apabila lahan potensial kritis dan agak kritis tersebut tidak segra dikelola dengan bijak maka kondisi akan menjadi semakin kritis. Erosi tanah m erupakan faktor utama penyebab ketidak berlanjutan kegiatan usahatani di wilayah hulu. Erosi yang intensif di lahan pertanian menyebabkan semakin menurunnya produktivitas usahatani karena hilangnya lapisan tanah bagian atas yang subur dan berakibat tersemb ul lapisan cadas yang keras. Penurunan produktivitas usahatani secara langsung akan diikuti oleh penurunan pendapatan petani dan kesejahteraan petani. Disamping menyebabkan ketidak berlanjutan usahatani di wilayah hulu, kegiatan usahatani tersebut juga men yebabkan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan di wilayah hilir , yang akan menyebabkan ketidak berlanjutan beberapa kegiatan usaha ekonomi produktif di wilayah hilir akibat terjadinya pengendapan sedimen, kerusakan sarana irigasi, bahaya banjir dimusim penghujan dan

kekeringan dimusim kemarau . Pencemaran Agrokimia . Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Pada tahun enampuluhan terjadi lah biorevolusi dibidang pertanian, yang dikenal dengan revolusi hijau dan telah berhasil merubah pola pertanian dunia secara spektakuler, yaitu dengan dikenalkannya penggunaan agrokimia, baik berupa pupuk kimia maupun obat obatan (insektisida). Memang den gan revolusi hijau tersebut, produksi pangan dunia meningkat dengan tajam, sehingga telah berhasil mengatasi kekhawatiran dunia akan adanya krisis pangan. Namun dampak penggunaan agrokimia mulai dirasakan saat ini. Dampak negatip dari penggunaan agrokimia antara lain berupa pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk kimia dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam. Penggunaan pestisida y ang berlebih dalam kurun yang panjang, akan berdampak pada kehidupan dan keberadaan musuh alami hama dan penyakit, dan juga berdampak pada kehidupan biota tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah. Perlu difiki rkan pada saat ini residu pestisida akan menjadi faktor penentu daya saing produk produk pertanian yang akan memasuki pasar global. Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan t erjadinya kemerosotan kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain , dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah. Misalnya petani menggunakan urea (hanya mengandung hara N) dalam dosis tinggi secara terus menerus, semen

tara tanaman mengambil unsur hara tidak hanya N (nitrogen) dalam jumlah yang banyak, maka akan terjadi pengurasan hara lainnya. Unsur hara pokok yang dibutuhkan tanaman semuanya ada 16 unsur, sehingga apabila tidak ditambahkan akan terjadi pengurasan hara lainnya (15 hara) dan pada saatnya akan terjadi kemerosotan kesuburan karena terjadi kekurangan hara lain . Dilaporkan dipersawahan yang intensif missal Delanggu diduga kekurangan hara mikro Zn dan Cu. Memang seyogyanya semua hara yang dibutuhkan tanaman pe rlu ditambahkan, namun yang demikian sulit dilakukan. Kecuali dengan penambahan pupuk organik secara periodik yang mengandung hara lengkap yang sekarang semakin jarang dilakukan petani . Penanaman varietas padi unggul secara mono cultur tanpa adanya pergil iran tanaman, akan mempercepat terjadinya pengusan hara sejenis dalam jumlah tinggi dalam kurun waktu yang pendek. Hal ini kalau dibiarkan terus menerus tidak menutup kemungkinan terjadinya defisiensi atau kekurangan unsur hara tertentu dalam tanah. Akibat dari ditinggalkannya penggunaan pupuk organik berdampak pada penyusutan kandungan bahan organik tanah, bahkan banyak tempat tempat yang kandungan bahan organiknya sudah sampai pada tingkat rawan, sekitar 60 persen areal sawah di Jawa kadungan bahan organ iknya kurang dari 1 persen. Sementara, sistem pertanian bisa menjadi sustainable (berkelanjutan) jika kandungan bahan organik tanah lebih dari 2 %. Bahan oraganik tanah disamping memberikan unsur hara tanaman yang lengkap juga akan memperbaiki struktur tan ah, sehingga tanah akan semakin remah. Namun jika penambahan bahan organik tidak diberikan dalam jangka panjang

kesuburanfisiknya akan semakin menurun. Pencemaran Industri. P encemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat juga disebabkan k arena kegiatan industri. Pengembangan sektor industri akan berpotensi menimbulkan dampak negatip terhadap lingkungan pertanian kita, dikarenakan adanya limbah cair, gas dan padatan yang asing bagi lingkungan pertanian. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa gas buang seperti belerang dioksida (SO
2

) akan menyebabkan terjadinya hujan asam dan akan merusak lahan pertanian. Disamping itu, adanya limbah cair dengan kandungan logam berat beracun (Pb, Ni, Cd, Hg) akan menyebabkan degradasi lahan pertanian dan terjad inya pencemaran dakhil. Limbah cair ini apa bila masuk ke badan air pengairan, dampak negatipnya akan meluas sebaranya. Penggalakan terhadap program kalibersih dan langit biru perlu dilakukan, dan penerapan sangsi bagi pengusaha yang mengotori tanah, air d an udara. Pertambangan dan galian C. Usaha pertambangan besar sering dilakukan diatas lahan yang subur atau hutan yang permanen. Dampak negatif pertambangan dapat berupa rusaknya permukaan bekas penambangan yang tidak teratur, hilangnya lapisan tanah yang subur, dan sisa ekstraksi ( tailing ) yang akan berpengaruh pada reaksi tanah dan komposisi tanah. Sisa ektraksi ini bisa bereaksi sangat asam atau sangat basa, sehingga akan berpengaruh pada degradasi kesuburan tanah. Semakin meningkatnya kebutuhan akan bah an bangunan terutama batu bata dan genteng, akan menyebabkan kebutuhan tanah galian juga semakin banyak (galian C). Tanah untuk pembuatan batu bata dan genteng lebih cocok pada tanah tanah yang subur yang produktif. Dengan dipicu dari rendahnya tingkat keu ntungan berusaha tani dan besarnya resiko kegagalan, menyebabkan lahan

lahan pertanian banyak digunakan untuk pembuatan batu bata, genteng dan tembikar. Penggalian tanah sawah untuk galian C disamping akan merusak tata air pengairan (irigasi dan drainase) juga akan terjadi kehilangan lapisan tanah bagian atas ( top soil ) yang relatif lebih subur, dan meninggalkan lapisan tanah bawahan ( sub soil ) yang kurang subur, sehingga lahan sawah akan menjadi tidak produktif. Alih fungsi lahan. Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusaha tani relatif rendah. Selain itu, usaha pertanian dihadapkan pada berbagai masalah yang sulit diprediksi dan mahalnya biaya pengendalian seperti cuaca, hama dan penyakit, tidak tersedianya sarana produksi dan pemasaran. Alih fungsi lahan banyak terjadi just ru pada lahan pertanian yang mempunyai produktivitas tinggi menjadi lahan non pertanian. Dilaporkan dalam periode tahun 1981 1999, sekitar 30% (sekitar satu juta ha) lahan sawah di pulau Jawa, dan sekitar 17% (0,6 juta ha) di luar pulau Jawa telah menyusut dan beralih ke non pertanian, terutama ke areal industri dan perumahan. Banyak areal lumbung beras nasional kita yang beralih guna seperti dipantura dan seperti pusat pembangunan di dalam pinggir perkotaan. Daerah pertanian ini umumnya sudah dilengkapi de

ngan infrastruktur pengairan sehingga berproduksi tinggi. Alih guna lahan sawah ke areal pemukiman dan industri sangat berpengaruh pada ketersedian lahan pertanian, dan ketersediaan pangan serta fungsi lainnya. Pertanian Berkelanjutan Konsep p ertanian be rkelanjutan haruslah menjamin kualitas lahan kita tetap produktif dengan menerapkan upaya konservasi dan rehabilitasi terhadap degradasi. Kebijakan pembangunan pertanian dewasa ini lebih banyak terfokus kepada usaha yang mendatangkan keuntungan ekonomi jan gka pendek dan mengabaikan multifungsi yang berorientasi pada keuntungan jangka panjang dan keberlanjutan (sustainabilitas) sistem usaha tani. Pertanian berkelanjutan, suatu bentuk yang memang harus dikembangkan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik ya ng tidak semata memikirkan kebutuhan sendiri tetapi berpandangan visioner ke depan. Pembangunan pertanian berkelanjutan menyiratkan perlunya pemenuhan kebutuhan (aspek ekonomi), keadilan antar generasi (aspek sosial) dan pelestarian daya dukung lingkungan/ lahan (aspek lingkungan). Sehingga harus ada keselarasan antara pemenuhan kebutuhan dan pelestarian sumberdaya lahannya. Pembangunan pertanian yang dilaksanakan masa lalu belumlah sepenuhnya menggunakan tiga aspek pembangunan yang berkelanjutan secara seim bang, sehingga masih banyak keluarga yang tergolong miskin, dan terjadi degradasi lahan sehingga mengganggu keberlanjutan pembangunan ekonomi dan sosial. Berbagai praktek explorasi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lahannya hendaklah dihindari. Pe nggunaan lahan diatas daya dukung lahan haruslah disertai dengan upaya konservasi yang benar benar. Oleh karena itu, untuk menjamin keberlajutan pengusahaan lahan, dapat dilakukan upaya strategis dalam menghindari degradasi lahan melaui: (1) Penerapan pola usaha tani konservasi seperti agroforestry, tumpang sari, dan pertanian terpadu; (2) Penerapan pola pertanian organik ramah

lingkungan dalam menjaga kesuburan tanah; dan (3) Penerapan konsep pengendalian hama terpadu merupakan usaha usaha yang harus kita lakukan untuk menjamin keberlanjutan usaha pertanian kita dan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik.
https://www.google.com/search?q=bahan+bakar+peralatan++pertanian&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a#q=degradasi+lahan+pdf&rls=org.mozilla:enUS%3Aofficial

Erosi dan Degradasi Lahan Kering di Indonesia

1. EROSI DAN DEGRADASI LAHAN KERING DI INDONESIA


Ai Dariah, Achmad Rachman, dan Undang Kurnia Lahan kering didefinisikan sebagai hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu. Lahan kering di Indonesia meliputi luas lebih dari 140 juta ha (Hidayat dan Mulyani, 2002). Menurut BPS (2001), sekitar 56 juta ha lahan kering di Indonesia (di luar Maluku dan Papua) sudah digunakan untuk pertanian. Berdasarkan luasan, lahan kering merupakan sumberdaya lahan yang mempunyai potensi besar untuk menunjang pembangunan pertanian di Indonesia. Namun demikian, optimalisasi pemanfaatan lahan kering di Indonsia masih dihadapkan pada berbagai tantangan, diantaranya dalam hal penanggulangan degradasi lahan. Degradasi lahan adalah proses penur unan produktivitas lahan, baik yang sifatnya sementara maupun tetap. Akibat lanjut dari proses degradasi lahan adalah timbulnya areal-areal yang tidak produktif atau dikenal sebagai lahan kritis. Berdasarkan data Direktorat Bina Reha bilitasi dan Pengembangan Lahan (1993) terdapat 17,35 juta lahan kritis di areal lahan pertanian. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1997) di 11 propinsi di Indonesia terdapat 10,94 juta ha lahan kritis. Berdasarkan data di 11 propinsi tersebut, diperkirakan luas lahan kritis di seluruh wilayah Indonesia akan lebih besar lagi. Erosi sebagai penyebab utama de gradasi lahan kering di Indonesia Degradasi lahan yang terjadi di Indo nesia umumnya disebabkan oleh erosi air hujan. Hal ini sehubungan dengan tingginya jumlah dan intensitas curah hujan, terutama di Indonesia Bagian Barat. Bahkan di Indonesia Bagian Timur pun yang tergolong daerah beriklim kering, masih banyak terjadi proses erosi yang cukup tinggi, yaitu di daerah-daerah yang mem

iliki hujan dengan intensitas tinggi, walaupun jumlah hujan tahunan relatif rendah (Abdurachman dan Sutono, 2002; Undang Kurnia et al ., 2002). Faktor lereng juga merupakan penyebab besarnya potensi bahaya erosi pada usaha tani lahan kering. Di Indonesia, usaha tani tanaman pangan banyak dilakukan pada lahan kering berlereng. Hal ini sulit dihindari, karena sebagian besar lahan kering di Indonesia mempunyai kemiringan lebih dari 3% dengan bentuk wilayah berombak, bergelombang, berbukit dan bergunung, yang meliputi
Dariah et al.

2 77,4% dari seluruh daratan (Hidayat dan Mulyani, 2002). Lahan yang tergolong datar seluas 42,6 juta ha atau 22,6% dari luas seluruh daratan (Abdurachman dan Sutono, 2002), biasanya digunakan untuk persawahan, pemukiman dan fasilitas umum, atau tanah marginal yang tidak produktif bila digunakan untuk pertanian. Tanah yang peka erosi dan praktek pertanian yang tidak disertai upaya pengendalian erosi juga turut menentukan tingkat kerawanan lahan-lahan pertanian terhadap erosi. Tingkat erosi yang semakin meningkat dengan meningkatnya kegiatan penduduk membuka tanah-tanah pertanian tanpa pengelolaan yang benar, telah ditunjukkan oleh hasil penelitian van Dijk dan Vogelzang (1948 dalam Arsyad, 2000) di Sub Daerah Aliran Sungai Cilutung (DAS Cimanuk). Dari hasil analisis perkiraan kandungan sedimen Sungai Ci lutung pada tahun 1911/1912 mereka mendapatkan besarnya erosi sekitar 13,2 t ha
-1

tahun
-1

, ekivalen dengan 0,9 mm lapisan tanah. Pengukuran yang dilakukan pada tahun 1934/1935 menunjukkan peningkatan erosi lebih dari dua kali laju erosi pada tahun 1911/1912 yakni 28,5 t ha
-1

tahun
-1

atau ekivalen dengan 1,9 mm lapisan tanah. Di dalam masa antara tahun 1948-1969 besarnya erosi telah meningkat menjadi 120 t ha
-1

tahun
-1

atau 8,0 mm tahun


-1

. Dames (1955 dalam Abdurachman dan Sutono, 2002) juga melaporkan bahwa sekitar 1,6 juta ha tanah di bagian Timur Jawa Tengah (Yogyakarta, Surakarta, sebagian Karesidenan Semarang dan Jepara-Rembang), telah mengalami erosi berat seluas 36,0%, erosi sedang 10,5%, erosi ringan 4,5% dan tidak tererosi 49,0%. Selanjutnya Partosedono (1977) menunjukkan bahwa laju erosi di DAS Cimanuk, Jawa Barat, mencapai 5,2 mm tahun

-1

, mencakup areal 332 ribu ha. Tingkat bahaya erosi lahan pertanian khususnya yang ditanami tanaman semusim tanpa tindakan konservasi tanah ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian skala petak. Hasil penelitian Suwardjo (1981) pada tanah Oxisol Citayam, Jawa Barat dengan lereng 14%, laju erosi mencapai 25 mm tahun
-1

. Hasil penelitian pada tanah Ultisol Lampung menunjukkan laju erosi mencapai 3 mm
-1

tahun
-1

, padahal kemiringan lahan hanya 3,5%. Pada kemiringan lahan 910%, Abdurachman et al (1985) melaporkan bahwa erosi pada tanah Alfisol di Putat, Jawa Tengah mencapai 15 mm tahun
-1

, dan pada Alfisol di Punung, Jawa Timur mencapai 14 mm tahun


-1

. Penelitian Konservasi Tanah di Indonesia Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan sebidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 2000). Selanjutnya dinyatakan bahwa usahausaha konservasi tanah ditujukan untuk (1) mencegah kerusakan tanah oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, dan (3) memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat digunakan secara lestari. Konservasi tanah
Erosi dan Degradasi Lahan Kering di Indonesia

3 mempunyai hubungan yang erat dengan konservasi air. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah untuk pertanian se-efisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Teknik atau metode konservasi tanah dan air dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu: (1) teknik konservasi vegetatif (metode vegetatif), sering juga disebut sebagai teknik konservasi (m etode) biologi; (2) teknik konservasi mekanik (metode mekanik), disebut juga sebagai teknik konservasi sipil teknis; dan (3) teknik konservasi kimia (metode kimia). Serangkaian penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan suatu teknik konservasi tanah dan air yang sesuai untuk kondisi lahan di Indonesia telah dilakukan oleh berbagai lembaga. Salah satu lembaga yang telah banyak melakukan penelitian metode konservasi tanah dan air adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak). Kegiatan penelitian konservasi tanah di lembaga ini dimulai sejak tahun 1970. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya meliputi perbaikan sifa t fisik tanah, pengendalian erosi, dan pengelolaan air.

Penelitian perbaikkan sifat fisik tanah dengan menggunakan soil conditioner , (seperti emulsi aspal, polyacrylamide/PAM, dan emulsi bitumen) telah dilakukan oleh Puslitbangtanak sejak tahun 1970. Namun, hasil dari penelitian tersebut sulit diterapkan pada level petani, karena bahan-bahan yang digunakan sulit didapat dan harganya relatif mahal. Oleh karena itu, sejak tahun 1976, penelitian perbaikkan sifat fisik tanah lebih diarahkan pada penggunaan bahan alami yang mudah didapat, yakni bahan organik yang bersumber dari sisa-sisa tanaman dan bahan hijauan dari tanaman penutup tanah, tanaman pagar, tanaman strip,dan lain-lain, serta pupuk kandang. Perbaikkan sifat fisik tanah dilakukan pula dengan mengembangkan teknik pengolahan tanah yang tepat (olah tanah konservasi/OTK). Penelitian rehabilitasi telah dilaksa nakan pada tanah yang rusak karena (1) pengaruh alat-alat berat pada waktu pembukaan lahan, (2) erosi, dan (3) pencemaran oleh limbah pabrik (diantaraya pabrik tekstil), residu pestisida, kegiatan pengeboran minyak bumi, tambang batu bara, dan penambangan mas. Kegiatan penelitian pengendalian eros i meliputi: (1) pengembangan model (metode) prediksi erosi, dan (2) penelitian untuk mencari dan/atau mengkaji teknik pengendalian erosi. Metode (model) prediksi yang paling banyak dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia adalah USLE ( Universal Soil Loss Equation ). Dalam rangka pengembangan model tersebut, Puslitbangtanak telah melakukan beberapa penelitian untuk mendapatkan nilai faktor-faktor R (erosivitas hujan), K (erodibilitas tanah), C (vegetasi dan pengelolaan tanaman) dan P (konservasi tanah). Hasil penelitian ini sering digunakan untuk menginventarisasi tingkat
Dariah et al.

4 bahaya erosi dan perencanaan penggunaan lahan serta pemilihan alternatif teknik konservasi tanah. Model USLE hanya sesuai untuk digunakan pada skala usahatani, oleh karena itu perlu dikembangkan suatu model prediksi erosi untuk skala yang lebih luas (skala DAS) yang sesuai untuk kondisi Indonesia. Penelitian teknologi pengendalian erosi lebih banyak dilakukan untuk penyempurnaan teknologi yang telah ada, diantaranya meliputi: (1) Teras bangku dan teras gulud, yang ditekankan pada penelitian penggunaan berbagai tanaman penguat teras (rumput atau legume tree ) pada bibir teras bangku dan teras gulud tersebut untuk stabilisasi teras dan sumber pakan; (2) rorak; (3) pertanaman lorong, yang bertujuan untuk mendapatkan jenis tanaman pagar {hedgerow crop) yang sesuai; (4) penggunaan mulsa (baik mulsa konvensional maupun mulsa vertikal); (5) strip rumput, terutama efektivitas berbagai jenis rumput dalam menekan erosi dan aliran permukaan, adaptasi berbagai jenis rumput di berbagai lokasi di Indonesia dan faktor persaingan antara tanaman rumput dan tanaman utama, dan (6) penelitian dan pengembangan teknik konservasi pada lahan sayuran telah dilakukan di berbagai sentra produksi sayuran.

Penelitian koservasi tanah dan p engelolaan air khususnya pada lahan kering telah dilakukan dengan mengembangkan teknik-teknik pemanenan air, peningkatan kemampuan tanah menahan air ( water holding capacity ), dan berbagai teknik pemberian air (irigasi). Selain dilakukan secara on-station / off-farm research (tidak melibatkan petani), penelitian konservasi tanah dan air telah dilakukan juga dengan melibatkan petani ( on-farm research ), dengan tujuan untuk mendapatkan suatu teknik konservasi tanah dan air yang selain sesuai secara biofisik juga sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan budaya petani. Berbagai penelitian yang telah dilaku kan oleh Puslitbangtanak di berbagai lokasi (khususnya lahan kering) di Indonesia disajikan pada Tabel 1. Teknik konservasi tanah sebaga i kunci usaha tani lahan kering berkelanjutan Salah satu masalah pokok yang kita hadapi dalam pengelolaan sumber daya alam untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya petani, adalah bagaimana sumber daya alam tersebut dapat dimanfaatkan secara efisien dan lestari baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang (Munandar, 1995). Usaha tani dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, bila penerapan teknik konservasi t anah senantiasa menjadi prioritas. Agar teknik konservasi tanah dapat diterapkan secara tepat, efektif, dan efisien, diperlukan perencanaan yang baik dan terarah. Untuk perencanaan konservasi tanah diperlukan data er osi, yang dapat diperoleh dengan cara
Dariah et al.

6 Salah satu hal yang perlu disadari oleh para perencana dan pengambil kebijakan adalah bahwa menghilangkan erosi pada lahan usaha tani sangatlah tidak mungkin, karena gangguan terhadap lahan pertanian sebagai pemicu erosi sulit dihindari. Oleh karena itu dalam perencanaan konservasi tanah.perlu juga ditetapkan nilai atau jumlah erosi yang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss) . Dengan penetapan jumlah erosi yang masih dapat diabaikan, diharapkan tidak akan terjadi penurunan produktivitas tanah, dan tanah tersebut dapat berproduksi secara lestari. Seperti diketahui, bahwa besarnya erosi pada sebidang lahan ditentukan oleh faktor-faktor penyebab erosi, yaitu iklim, tanah, topografi, pengelolaan tanaman/tumbuh-tumbuhan, dan aktivitas manusia. Oleh sebab itu, dalam penanggulangan masalah erosi dan perencanaan teknik konservasi tanahnya

harus didasarkan kepada faktor-faktor penyebab erosi tersebut. Akan tetapi, faktor-faktor erosi tersebut ada yang mudah dikuasai atau dikontrol, dan ada pula yang tidak mudah dikontrol. Faktor penyebab erosi yang tidak mudah dikontrol, pengaruhnya dapat diubah secara tidak langsung, yaitu dengan menerapkan teknik konservasi tanah. Penerapan teknik konservasi tanah dengan mengurangi derajat kemiringan lahan dan panjang lereng merupakan salah satu cara terbaik mengendalikan erosi. Hal ini dapat ditempuh dengan menggunakan metode konservasi tanah baik secara mekani k maupun vegetatif. Pada prakteknya, metode konservasi tanah mekanik dan vegetatif sulit untuk dipisahkan, karena penerapan metode konservasi tanah mekanik akan lebih efektif dan efisien bila disertai dengan penerapaan metode vegetatif. Sebaliknya, meskipun penerapan metode vegetatif merupakan pilihan utama, namun perlakuan fisik mekanis seperti pembuatan saluran pembu ang air (SPA), ban gunan terjunan (drop structure) , dan lain-lain masih tetap diperlukan. Tanah-tanah di Indonesia tergolong peka terhadap erosi, karena terbentuk dari bahan-bahan yang relatif mudah lapuk. Erosi yang terjadi akan memperburuk kondisi tanah tersebut, dan menurunkan produktivitasnya. Oleh karena itu, penerapan teknik konservasi tanah tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan erosi, melainkan juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah yang telah terdegradasi. Tanah akan semakin peka terhadap erosi, karena curah hujan di Indonesia umumnya tinggi, berkisar dari 1.500-3.000 mm atau lebih setiap tahunnya, dengan intensitas hujannya yang juga tinggi. Di beberapa daerah Indonesia bagian Timur, hujan terjadi dalam periode pendek dengan jumlah relatif kecil, namun intensitasnya tinggi, maka bahaya erosi pada agroekosistem lahan kering tersebut juga besar dan tidak bisa diabaikan. Teknik konservasi tanah di daerah ini menjadi sangat spesifik, karena penerapannya tidak hanya untuk
Erosi dan Degradasi Lahan Kering di Indonesia

7 mengendalikan erosi, melainkan juga harus ditujukan untuk memanen hujan atau aliran permukaan. Budi daya sayuran di dataran tinggi merupakan usaha tani yang unik, sehingga memerlukan teknologi pengelolaan yang spesifik, mengingat agroekosistem tersebut terletak di hulu daerah aliran sungai (DAS) dengan kemiringan lahan yang curam, dan tanahnya tergolong peka terhadap erosi. Selain itu, budidaya sayuran di dataran tinggi umumnya bersifat tradisional, dilakukan pada bedengan-bedengan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah konservasi tanah yang benar. Meskipun beberapa petani sudah ada yang mengerti pentingnya upaya pengendalian erosi, namun kebanyakan petani tidak mudah menerima teknologi hasil penelitian yang sebenarnya diketahui dapat melestarikan lahan usaha taninya. Kondisi seperti itu merupakan salah satu penyebab terhambatnya penerapan teknik konservasi tanah pada budidaya sayuran dataran tinggi. Oleh sebab itu, teknologi konservasi tanah yang dapat diterapkan pada lahan sayuran di dataran tinggi adalah penyempurnaan atau pengembangan cara-cara yang biasa dilakukan petani pada lahan usaha taninya.

Pengolahan tanah merupakan komponen penting dalam kegiatan usaha tani, khususnya usaha tani tanaman semusim. Pengolahan tanah utamanya ditujukan untuk menyiapkan atau menciptakan media tanam yang baik untuk pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman dapat berproduksi secara optimum. Namun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan tanah secara berlebih dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, diantaranya terjadinya penghancuran struktur tanah. Olah tanah konservasi merupakan suatu metode pengolahan tanah dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah, sehingga dampak negatif dari pengolahan tanah dapat ditekan sekecil mungkin. PENUTUP Degradasi lahan khususnya yang disebabkan oleh erosi, merupakan salah satu masalah utama dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering di Indonesia. Oleh karena itu, penerapan teknik konservasi tanah dan air merupakan kunci keberlanjutan usahatani pada lahan kering. Berbagai teknik konservasi telah diteliti dan dikembangkan oleh berbagai lembaga di Indonesia. Salah satu lembaga yang aktif dalam penelitian dan pengembangan teknik konservasi tanah dan air adalah Puslitbangtanak. Namun demikian aplikasi dari berbagai teknik konservasi (tanah dan air) tersebut pada tingkat petani masih dihadapkan pada berbagai kendala. Agar teknik konservasi dapat diterapkan secara tepat, efektif, dan efisien diperlukan perencanaan yang baik dan terarah. Selain faktor biofisik lahan, faktor sosial ekonomi dan budaya petani merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan konservasi tanah dan air.
Dariah et al.

8 DAFTAR PUSTAKA Abdurachman, A., A. Barus, U. Kurnia. 1985. Pengelolaan tanah dan tanaman untuk usaha konservasi tanah. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk. 3:712. Pusat Penelitian Tanah. Bogor. Abdurachman, A. dan S. Sutono. 2002. Teknologi pengendalian erosi lahan berlereng. hlm. 103-146 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Arsyad, S. 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. BPS. 2001. Statistik Indonesia. Ba dan Pusat Statistik. Indonesia. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. 1993. Laporan Inventarisasi/Identifikasi Lahan Marginal/Lahan Kritis pada Kawasan Lahan Usaha Tani seluruh Indonesia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta. Hidayat, A. dan A. Mulyani. 2002. Lahan kering untuk pertanian. hlm. 1-34 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1997. Statistik Sumberdaya Lahan/Tanah Indonesia. Puslittanak-Badan Litbang Pertanian, Jakarta. Munandar, S. 1995. Kebijakan peng elolaan pertanian lahan kering dalam menunjang agribisnis. hlm. 43-54 dalam Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Buku I. 26-28 September 1995. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Partosedono, R.S. 1977. Effect of mans activity on erosion in erosion in rural environments and a feasibility study fo r rehabilitation. In Publ. No. 113: 53-56. Paris IAHS-AISH. Suwardjo. 1981. Peranan Sisa-Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air dalam Usaha tani Tanaman Semusim. Disertasi Doktor. Fakultas Pasca Sarjana IPB Bogor (Tidak dipublikasikan). Undang Kurnia, Sudirman, dan H. Kusnadi. 2002. Teknologi rehabilitasi dan reklamasi lahan kering. hlm. 147-182. dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.