Anda di halaman 1dari 3

TEORI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada bagaimana belajar disekolah dikontekskan

ke dalam situasi nyata, sehingga hasil belajar dapat lebih diterima dan berguna bagi siswa bilamana meninggalkan sekolah (pembelajaran disampaikan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan. Tujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari satu masalah ke masalah lain, karena pembelajarannya tidak hanya pengetahuan kognitif tetapi juga sampai menjadi kempetensi. Kunci pokok pembelajaran kontekstual 1. Pembelajaran bermakna : pemahaman, reelevansi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari materi pelajaran 2. Pembelajaran pengetahuan : kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi dimasa sekarang dan masa depan 3. Berfikir tingkat tingi : siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berfikr kreatif dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan emecahan masalah 4. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standart isi : pembelajaran harus dikaitkan dengan standart local, provinsi, nasional, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia kerja. 5. Responsive terhadap budaya : guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan dan kebiasaan siswa, teman pendidik dan masyarakat setempat pendidik 6. Penilaian autentik : penggunaan berbagai strategipenilaian akan merefleksi hasil belajar sesungguhnya. Pembelajaran Kontekstual Harus Menekankan: 1. Belajar berbasis masalah 2. Belajar autentik (baru saja terjadi) 3. Belajar berbasis inquiri (menemukan sendiri) 4. Belajar berbasis proyek terstruktur disampaikan sampai

5. Belajar berbasis kerja 6. Belajar berbasis jasa layanan 7. Belajar berbasis kooperatif Hasil dari internet Dasar pembelajaaran kontekstual menurut Sumiati dan Asra (2009: 18) menjelaskan secara rinci sebagai berikut: 1. menekankan pada pemecaham masalah 2. mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja 3. mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali 4. menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa 5. mendorong siswa belajar satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama 6. menggunakan penilaian autentik. Komponen Pembelajaran Kontekstual 1. Konstruktivisme; yakni mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan atau keterampilan barunya. Sumiati dan Asra (2009: 15) mengemukakan lima elemen belajar konstruktivisme, yaitu: (a) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiating knowledge), (b) perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), (c) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), (d) mempraktekkan pengetahuan (applyng knowledge), dan (e) melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut (reflecting knowledge). 2. Bertanya; yakni mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Melalui proses bertanya, siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: (a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademik; (b) mengecek pemahaman siswa; (c)

membangkitkan respon pada siswa; (d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa; (e) mengetahui hal-hala yang sudah diketahui siswa; (f) memfokuskan pengetahuan siswa

pada sesuatu yang dikehendaki guru; (g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; dan (h) menyegarkan kembali pengetahuan siswa. (Sagala, 2009: 88). 3. Menemukan; merupakan bagian inti dari pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil megingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. 4. Masyarakat belajar; yaitu menciptakan masyarakat belajar (belajar daam kelompok). Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. 5. Permodelan; menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Dengan adanya model, siswa akan lebih mudah meniru apa yang dimodelkan. Pemodel tidak hanya orang lain, guru atau siswa yang lebih mahir dapat bertindak sebagai model. 6. Refleksi; dilakukan pada akhir pembelajaran. Refleksi merupakan upaya untuk melihat kembali, mengorganisir kembali, menganalisis kembali, mengklarifikasi kembali, dan mengevaluasi kembali hal-hal yang telah dipelajari. 7. Penilaian sebenarnya; yaitu upaya pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Penerapan pembelajaran kontekstual berdasarkan Center for Occupational Research and

Development (CORD) sebagai berikut: 1. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu siswa agar yang dipelajari bermakna 2. Experiencing, belajar adalah kegiatan mengalami, siswa berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya 3. Applyng, belajar menekankan pada proses pendemonstrasian pengetahuan yang dimiliki dalam kenteks dan pemanfaatannya 4. Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui belajar berkelompok, komunikasi interpersonal, atau hubungan intersubjektif 5. Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru