Anda di halaman 1dari 8

Tetanus

TETANUS ( LOCKJAW )
I. Pendahuluan Tetanus (Lockjaw) adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan kuman secara langsung tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan oleh kuman pada sinaps ganglion sambungan sum-sum tulang belakang, sambungan neuromuskular dan syaraf otonom. II. Definisi Tetanus (lockjaw) merupakan penyakit akut yang menyerang susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh racun tetanospasmin yang dihasilkan oleh clostridium tetani. III. Etiologi Kuman tetanus yang dikenal sebagai clostridium tetani, berbentuk batang yang langsing dengan ukuran panjang 2-5 cm dan lebar 0,3-0,5 um, termasuk gram positif dan bersifat an-aerob. Basil gram positif dengan spora pada ujungnya sehingga berbentuk seperti pemukul genderang (drum stick). Obligat an-aerob (vegetataf apabila berada dalam lingkungan anaerob) dan bergerak dengan menggunakan flagella. Kuman tetanus menghasilkan eksotoksin yang kuat dan mampu membentuk spora (terminal spora) yang mampu bertahan dalam suhu tinggi, kekeringan dan desinfektan tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dalam otoklaf selama 15-20 menit pada suhu 121 0C. Kuman tetanus hidup ditanah dan didalam usus binatang, terutama pada tanah didaerah pertanian/peternakan. Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap panas dan beberapa antiseptik. Kuman tetanus tumbuh subur pada
SMF ANAK RSPM

Tetanus

suhu 37 c dalam media kaldu daging dan media agar darah,demikian pula dalam media bebas gula, karena kuman tetanus tidak dapat memfermitasikan glukosa. Kuman tetanus tidak invansive tetapi kuman ini memproduksi 2 macam eksotoksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. IV. Epidemiologi

Tetanus terjadi diseluruh dunia dan endemik pada 90 negara yang sedang berkembang tetapi insidennya sangat breviaries. Bentuk yang paling sering adalah tetanus neonatorum (umbilicus) membunuh sekurangkurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak terimunisasi, lebih dari 70 % kematian ini terjadi pada sekitar 10 negara asia dan afrika tropis. Dinegara yang telah maju seperti amerika serikat, tetanus sudah sangat jarang dijumpai karena imunisasi aktif telah dilaksanakan dengan baik disamping sanityasi lingkungan yang bersih. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. Perkiraan angka kejadian rat-rata peertahun sangat meningkat sesuai kelompok umur, meningkat 7 kali lipat pada kelompok umur 5-19 tahun dan 20-29 tahun, sedangkan peningkatan 9 kali lipat pada kelompok umur 30-39 tahun dan umur lebih dari 60 tahun. V. Patogenesa Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, memperbanyak diri dan menghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi reduksi rendah tempat jejas yang erinfeksi. Plasma membawa gena toksin, dioksin dilepaskan bersama dengan sel bakteri vegetatif yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus melekat pada sembungan neuromuskular dan kemudian diendositosis oleh syaraf motorik, sesudahnya ia mengalami pengangkutan akson retrograd ke sitoplasmin motoneuro-alfa. Toksin keluar motoneuron dalam medula spinalis dan selanjutnya masuk interneuron menghambat spinal. Dimana toksin ini menghalangi pelepasan neurotransmiter. Toksin
SMF ANAK RSPM

Tetanus

tetanus kemudian memblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan disengaja yang terkoordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan interaksi maksimalnya, sehingga tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan. Bila tetanus meningkat akan timbul kejang, terutama pada otot yang besar.

VI.

Gejala klinis

Masa tunas biasanya 5-14 hari tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh anti serum. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan : 1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastiktorius. 2. Kaku kuduk sampai opistotonus (karena ketegangan otot-otot) 3. Ketegangan otot-otot dinding perut (harus dibedakan dari abdomen akut) 4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin yang terdapat di kornu anterior) 5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik keatas) susut mulut tertarik keluar dan kebawah, bibir tertekan kuat pada gigi. 6. Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan sering merupakan gejala dini. 7. Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan opistotonus. Ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi, lengan baik dan tangan mengepal kuat, anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa

SMF ANAK RSPM

Tetanus

nyeri, kadang-kadang terjadi perdarahan intramuskular karena kontraksi yang kuat. 8. asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernafasan dan laring. Retensi urin terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat. 9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir. 10. biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang kadang peninggian tekanan cairan otak. Menurut berat ringannya tetanus umum dapat dibagi atas : 1. Tetanus ringan : Trismus lebih dari 3cm, tidak disertai kejang umum meskipun dirangsang. 2. Tetanus sedang : Trismus kurang dari 3cm dan disertai kejang umum bila dirangsang. 3. Tetanus berat yang spontan. Secara klinis ada 3 bentuk tetanus : 1. Tetanus local Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten pada daerah tempat dimana luka yang terjadi merupakan tempat masuknya kuman tetanus. Kontraksi otot yang persisten ini bisa bertahan dalam beberapa minggu sebelum menghilang secara bertahap. 2. Cephalic tetanus Merupakan salah satu tetanus lokal. Terjadinya bentuk ini bila luka mengenai daerah mata,kulit kepala,muka,telinga,leher. Gejala berupa disfungsi dari saraf pusat III, IV, VIII, IX, X, XI. Tetanus cephalic dapat berkembang menjadi tetanus umum, pada umumnya prognosa jelek. 3. Generalized Tetanus Bentuk ini adalah gambaran tetanus yang paling sering dijumpai. Terjadinya bentuk ini merupakan gambaran yang paling sering
SMF ANAK RSPM

: Trismus kurang dari 1cm dan disertai kejang umum

Tetanus

dijumpai. Terjadinya bentuk ini merupakan hubungan dengan luas dan dalamnya luka seperti luka bakar yang luas, luka tusuk yang dalam, furunkulosis,ekstraksi gigi dan suntikan hypodermis. Gejala biasanya timbul secara mendadak, trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai. Dijumpai adanya kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Anak lemas, mundah terangsang,sakit kepala,spasme otot muka yang menimbulkan gejala rhesus sardonikus, opistotonus dan kejang dinding perut. Kejang bersifat umum dengan kesadaran yang tetap baik setelah kejang selesai. Suhu tubuh bisa tinggi atau rendah. Bila dijumpai hipertermia atau hipotermi,tekanan darah tidak stabil dan stabil dan dijumpai takikardi penderita bisa meninggal. VII. Diagnosis Riwayat adanya luka sesuai dengan masa inkubasi. Gejala klinis Penderita biasanya belum mendapatkan imunisasi.

Ditegakkan berdasarkan :

VIII. Diagnosis banding 1. 2. 3. 4. 5. IX. 6. 7. 8. 9. Meningitis Bakterial Keracunan Striknin Retropharingeal abses Tonsilitis berat Tetani Komplikasi Aspirasi pneumonia Asfiksia Ateletaksis Fraktura Kolumna Vertebralis
SMF ANAK RSPM

Tetanus

10. 11. 12. 13. X.

Perdarahan dalam otot Laserasi lidah Decubitus Panas yang tinggi Prognosis

Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk pada masa tunas yang pendek (7 hari), usia yang sangat muda (neonatus) dan usia lanjut, bila disertai frekuensi kejang tinggi, kenaikan suhu tubuh yang tinggi, pengobatan yang terlambat, period of onset yang pendek (jarak antara trismus dan timbul kejang) dan adanya komplikasi terutama spasme otot pernafasan dan obstruksi saluran nafas. XI. Pencegahan Mencegah terjadinya luka. Perawatan luka yang adekuat. Pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam

14. 15. 16.

setelah luka yaitu untuk memberikan kekebalan pasif sehingga dapat dicegah terjadinya tetanus atau masa inkubasi diperpanjang atau bila terjadi tetanus gejala ringan. Umumnya diberikan 1.500 ui/im dengan didahului oleh uji kulit. 17. pemberian toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat imunisasi aktif pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian ATS kemudian diulangi lagidengan jarak 1 bulan 2 kali berturut-turut. 18. 19. Pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah Imunisasi aktif mendapat luka berat (dosis 50.000 ui/kgbb/hari) Tetanus toksoid diberikan agar anak membentuk kekebalan aktif sebagai vaksinasi dasar diberikan bersama vaksinasi terhadap pertusis dan difteri dimulai pada umur 3 bulan.

SMF ANAK RSPM

Tetanus

XII.

Penatalaksanaan 20. Pengobatan spesifik dengan ATS 40.000 IU/hr, di test dulu dibagi dalam 2 dosis 20.000 IU/IM, 20.000 IU ditambah 200 cc Na Cl 0,9 % IV disuntikan perlahan lahan selama 30 - 45 menit. Bila hasil 21. (+) maka pemberian ATS harus dilakukan dengan desentifikasi dengan carat Besredka. Antikonvulsan atau penenang Bila kejang dapat diberikan Diazepam 10 mg IV dan bila kejan gsudah hilang dapat dimaintenance dengan dosis 3 4 mg / Kg BB/ Hari/ 3 jam IV. Bila kejang tidak teratasi dapat diulangi diazepam dengan dosis 10 mg IV , maksimal 3 X pemberian. Bila kejang masih ada maka dapat di rawat di ICU, bila kejang sudah teratasi, 22. 23. 24. nafas. lakukan maintenance. Penicillin procain 50.000 ui/KgBB/hari intramuscular diberikan 7 sampai 10 hari. Diet harus cukup kalori dan protein konsistensi makanan Isolasi untuk menghindari rangsangan. Bila perlu berikan oksigen dan kadang-kadang diperlukan tergantung kepada kemampuan membuka mulut dan menelan.

tindakan trakeotomi untuk menghindari akibat obstruksi jalan

SMF ANAK RSPM

Tetanus

XIII. Kepustakaan 1. 2. Nelson. E.Waldo.MD.DKK, Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 , Vol-2 , EGC, Jakarta, 1999. Poerwo.S.Sumarmo, Soedarmo, Herry Garna, Sri Rezeki, S.Hadinegoro. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi dan Penyakit Tropis, edisi 1-1, IDAI, Jakarta, 2002. 3. UI, Jakarta, 1985. 4. Staf Pengajar IKA, FK-USU, Ilmu Kesehatan Anak, Penyakit Infeksi, Bagian II, 1989, oleh, oleh : Dr. H. Chairudin P. Lubin DTM&H, DSAK, hal 30-36. Buku Kuliah Anak jilid-2,Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-

SMF ANAK RSPM