Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Diare hingga kini masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak- anak. Saat ini angka morbiditas(angka kesakitan) diare di Indonesia mencapai 195 per 1000 penduduk dan angka ini merupakan yang tertinggi diantara NegaraNegara di ASEAN (kalbe.co.id). data Departemen kesehatan RI menunjukkan 5.051 kasus diare sepanjang tahun 2005 lalu di 12 provinsi. Jumlah ini meningkat drastic dibandingkan dengan jumlah pasien diare pada tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 1.436 orang. Secara nasional, angka kesakitan akibat diare meninggal dari tahun 2003 ke tahun 2006, dari 347 per 1000 penduduk menjadi 423 per 1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa tahun 2006 terjadi di 16 provinsi dengan kasus lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2005, yaitu 10,980 penderita, dan angka kematian 2,52 %. Sedangkan prevalensi cacingan tahun 2006 pada anak SD, di 27 provinsi adalah 32,6 % lebih tinggi dibandingkan tahun 2005, yaitu 28,4%.(kompas; 11/08/09 ; 16.10) Di awal tahun 2006, tercatat 2.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat menderita diare. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Jabar tahun 2003, angka kematian bayi(AKB) 43,83/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di Cimahi, pada tahun 2007, jumlah kematian bayi 60 per 9.729 kelahiran hidup. Melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus diare yang tidak terlaporkan, departemen kesehatan menganggap diare merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokasi dan nasional karena punya dampak besar pada kesehatan masyarakat.(Qiandra.08/05/2009:15.35).

Diare merupakan keadaan dimana seseorang menderita mencret- mencret, terjadi encer, dapat bercampur darah dan lendir kadang disertai muntah- muntah. Sehingga diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak- anak usia dibawah lima tahun (Depkes RI, 2008). Dampak negative penyakit diare pada bayi dan anak- anak antara lain adalah menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak. Penyakit diare di masyarakat (Indonesia) lebih dikenal dengan istilah Muntaber. Penyakit ini mempunyai konotasi yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera diobati dalam waktu singkat (48 jam) penderita akan meninggal. ( Triatmodjo, 2008). Diare dapat terjadi sebagai efek samping dari penggunaan obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan- bahan pemanis buatan seperti sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk- produk bebas gula lainnya menimbulkan diare. Hal ini terjadi pada anak- anak dan dewasa muda yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak terkena diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI Eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Salah satu penyebab diare adalah susu formula dan makanan pendamping ASI karena dapat terkontaminasi bakteri dan virus ( Medicastor, 2006). Diare masih menjadi masalah di bidang kesehatan bagi masyarakat di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Diare merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, empat puluh dua persen anak di Indonesia meninggal akibat terserang diare. Sementara 17 persen anak di seluruh dunia meninggal akibat diare. Di

Indonesia, kematian bayi yang terbanyak disebabkan karena diare (42%). (suaramerdeka, 11/08/09 ; 16.04). Dari suatu penelitian di Indonesia menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI sampai lebih dari 9 bulan akan menjadi dewasa yang lebih cerdas. Hal ini diduga karena ASI mengandung DHA/AA. Bayi yang diberikan ASI Eksklusif sampai 6 bulan akan menurunkan resiko sakit jantung bila mereka dewasa. ASI juga menurunkan resiko diare, infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kencing, dan juga menurunkan resiko kematian bayi mendadak. Memberikan ASI yang membina ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi. (www.infoibu.com) Menurut Badriul, ASI tidak saja mengandung berbagai nutrisi yang penting untuk bayi, namun juga mengandung olisakarida, sejenis probiotik yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna, antara lain karena dapat mempengaruhi frekuensi buang air besar dan melunakkan feses, sehingga dapat mengurangi resiko konstipasi atau gangguan pencernaan. Dia menjelaskan, setelah mendapat ASI Eksklusif selama enam bulan, bayi membutuhkan makanan pendamping ASI yang disesuaikan dengan usia agar tumbuh kembangnya optimal. Seiring pertumbuhannya, bayi mulai aktif dan memasukan benda yang ada dijangkauannya ke mulutnya. Seiring dengan kemampuannya untuk

menggenggam sesuatu, reflek yang paling sering dilakukan adalah memasukan benda yang dipegangnya kedalam mulut. Saluran cerna bayi perlu tetap dijaga agar terus sehat karena ini merupakan organ tubuh yang penting untuk menunjang kesehatan secara keseluruhan. Saat saluran cerna mengalami gangguan, maka tubuh tidak dapat untuk menciptakan

komposisi saluran cerna yang didominasi oleh bakteri baik. (www.gizi.net 25/06/2009 ; 16:30)

Di Indonesia , ibu yang tidak memberikan ASI sebanyak 3-4% . sementara 85% ibu memberi ASI sampai bayi berumur 6 bulan (Iskandar dkk, 1993). Sedangkan hasil survey kesehatan rumah tangga menyebutkan bahwa 96-98% bayi umur dibawah 7 bulan disusui oleh ibunya. Sebanyak 47% bayi dibawah 4 bulan diberi ASI Eksklusif (exclusively breast fed). MP-ASI diberikan pada bayi yang berumur kurang dari 4 bulan. Kurang lebih 40% bayi kurang dari 2 bulan sudah diberi makanan pendamping ASI seperti air matang, susu botol (9%), dan makanan padat (20%). Sementara itu, 71% bayi berumur 4-5 bulan sudah diberi makanan padat dan 87% bayi berumur 6-7 bulan sudah diberi makanan padat ( BPS, NFCB, MOH, and MI, 1995). Menurut data bagian pencernaan dan rekam medic sub penyusunan program dan laporan (PPL, 2008) jumlah balita yang terkena diare di Puskesmas Cibeureum periode Oktober sampai dengan Desember 2008 ialah sebagai berikut :

Tabel 1.1 Tahun 2011 No 1 2 3 Jenis Peyakit kuning Gangguan pernafasan Diare atau muntah Jumlah Jumlah 36 15 10 61 Presentase 12 5 3 20 No 1 2 3 Tahun 2012 Jenis Penyakit Diare Kuning Gangguan pernafasan Jumlah Jumlah 45 23 13 81 Presentase 15 7,6 4,3 26,9

Dari data diatas maka penelitian tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hal yang akan di angkat dalam judul Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009.

1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka hal yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009. 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. untuk mengetahui Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009 berdasarkan umur ibu 2. untuk mengetahui Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009 berdasarkan pendidikan ibu

3. untuk mengetahui Gambaran Kejadian Diare pada Bayi yang diberikan ASI dan tidak diberi ASI usia 0-6 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cibeurem tahun 2009 berdasarkan pekerjaan ibu 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Manfaat secara teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat menambah dalam pengembangan ilmu kebidanan, khususnya dalam meningkatkan asuhan kebidanan terutama pada penyakit diare. 1.4.2 Manfaat Praktik 1. Bagi peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah bekal dan pengetahuan dalam bekerja di masyarakat guna meningkatkan pengetahuan tentang diare serta memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian. 2. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi tambahan bagi institusi pendidikan dalam proses belajar mengajar. 3. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini menyediakan informasi bagi masyarakat tentang penyakit diare yang terjadi pada balita. 4. Dinas Kesehatan/ Puskesmas

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur tenaga kesehatan khususnya bidan untuk meningkatkan kualitas kesehatan.