Anda di halaman 1dari 23

Skenario I

MATA DIOBATI MENJADI BUTA


Disusun Oleh : Kelompok B-3
Ketua :Melda khairunisa 1102010162

Sekretaris
Malen Saga Imarta Muhammad Badar

:Melyanti Lestari

1102010163
1102009164 1102009181 1102009207 1102010224

Nova Anggar Kusuma Ningrum Putri Ilhami

Riezky Trinawati
Talitha Bea Amanda Tri Rizky Nugraha Yushelly Dinda Pratiwi
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

1102010240
1102010276 1102010280 1102010305
1

Skenario Mata Diobati Menjadi Buta


Tidak terima matanya menjadi buta, Haslinda bersama tim kuasa hokum dari Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan dugaan malpraktek dokter, Waldensius Girsang di Rumah Sakit Jakarta Eyes Center.
Haslinda menuturkan, pada 6 Maret lalu, kemerahan pada mata, kabur penglihatan, kepekaan terhadap cahaya (ketakutan dipotret), gelap, mata sakit sudah disampaikan ke dokter fikri umar purba yang kemudian didiagnosis sebagai penyakit uveitis tuberkulosa. Namun beberapa hari kemudian setelah ditangani oleh dokter Purba, mata haslinda tidak kembali berfungsi normal atau menjadi buta. Sementara itu, dokter purba yang ditemui di Rumah Sakit Jakarta eyes center membantah telah melakukan malpraktek terhadap haslinda. Dalam pengaduannya ke ruangan pengaduan Polda Metro Jaya, haslinda warga kayu mas, Pulogadung, Jakarta Timur ini tidak menyebutkan tuntutan materil dan inmateril kepada dokter purba dan rumah sakit Jakarta eyes center sebagai pihak yang diduga melakukan malpraktek. Pengavara pasien juga menuliskan dasar gugatannya berdasarkan : 1. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945

2.
3. 4. 5. 6.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan UU No 29 tahu 2004 tentang praktik kedokteran UU No 44 tahun 2009 tentang rumah sakit

7.
8.

Kode Etik Kedokteran


UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 2

Sasaran belajar :
1. 2. 3. 4. 5. Memahami dan Menjelaskan Malpraktek Memahami dan Menjelaskan Informed Consent Memahami dan Menjelaskan Rekam Medis Memahami dan Menjelaskan Alur Hukum Pasien Memahami dan Menjelaskan Malprakter Menurut Pandangan Islam

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

1. Memahami dan Menjelaskan Malpraktek Definisi


Malpraktik atau malpractice berasal dari kata mal yang berarti buruk dan practiceyang berarti suatu tindakan atau praktik. malpraktek adalah suatu tindakanmedis buruk yang dilakukan dokter/tenaga kesehatan dalam hubungannya dengan pasien. Menurut Berkhouwer & Vorsman,1950, Malparaktik adalah setiap kesalahan profesional yang diperbuat oleh dokter/tenagakesehatan pada waktu melakukan pekerjaan profesionalnya, tidak memeriksa, tidak menilai,tidak berbuat atau meninggalkan hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau dilakukanoleh dokter pada umumnya didalam situasi dan kondisi yang sama. Menurut Hoekema, 1981 malpraktik adalah setiap kesalahan yang diperbuat oleh dokter karena melakukan pekerjaan kedokteran dibawah standar yang sebenarnya secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap dokter dalam situasi atau tempat yang sama,dan masih banyak lagi definisi tentang malparaktik yang telah dipublikasikan.Kelalaian medik.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

Jenis-jenis malpraktek
1. Malpraktik Medik (medical malpractice) 2. Malpraktik Etik (ethical malpractice) 3. Malpraktik Yuridis (juridical malpractice) 4. Malpraktik Yuridik meliputi: malpraktik perdata (civil malpractice0 Malpraktik Pidana (criminal malpractice)

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

Cara penelusuran dan pembuktian malpraktek


Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara yakni : Cara langsung Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni : Duty (kewajiban) Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Direct Causation (penyebab langsung) Damage (kerugian) Cara tidak langsung Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory negligence. Gugatan pasien
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 6

Pencegahan
Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis). Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Upaya menghadapi tuntutan hukum Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hokum.
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 7

2. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent


Definisi
Informed consent adalah persetujuan individu terhadap pelaksanaan
suatu tindakan, seperti operasi atau prosedur diagnostik invasif, berdasarkan pemberitahuan lengkap tentang risiko, manfaat, alternatif, dan akibat penolakan.

Tindakan medis yangdilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

BENTUK INFORMED CONSENT


Implied Constructive Consent (Keadaan Biasa) Tindakan yang biasa dilakukan, telah diketahui, telah dimengerti oleh masyarakat umum, sehingga tidak perlu lagi dibuat tertulis. Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat) Bila pasien dalam kondiri gawat darurat sedangkan dokter perlu melakukan tindakan segera untuk menyelematkan nyawa pasien sementara pasien dan keluarganya tidak bisa membuat persetujuan segera. Expressed Consent (Bisa Lisan/Tertulis Bersifat Khusus) Persetujuan yang dinyatakan baik lisan ataupun tertulis, bila yang akan dilakukan melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan biasa.
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 9

Manfaat Informed Consent Melindungi pasien terhadap segala tindakan medik yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasien. Memberikan perlindungan hukum bagi dokter terhadap akibat yang tidak terduga dan bersifat negatif.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

10

Persetujuan
Pihak Yang Berhak Menyatakan Persetujuan: Pasien sendiri (bila telah berumur 21 tahun atau telah menikah) Bagi pasien di bawah umur 21 tahun diberikan oleh mereka menurut hak sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Saudara-saudara kandung. Bagi yang di bawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan hadir diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut: (l) Ayah/ibu adopsi, (2) Saudara-saudara kandung, (3) Induk semang. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Wali yang sah, (3) Saudara-saudara kandung. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampuan (curatelle), diberikan menurut urutan hak sebagai berikut: (1) Wali, (2) Curator. Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut: a. Suami/istri, b. Ayah/ibu kandung, c. Anak-anak kandung, d. Saudara-saudara kandung.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

11

3. Memahami dan Menjelaskan Rekam Medis


Definisi
Rekam Medis adalah berkas yang menyatakan siapa, apa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana pelayanan yang diperoleb seorang pasien selama dirawat atau menjalani pengobatan. (Edna K Huffman)

Rekam Medis adalah berkas yang beiisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, basil pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien pada sarana kesebatan, baik rawat jalan maupun rawat inap. (Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/1989)
Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Gemala Hatta) Kompendium (ikhtisar) yang berisi informasi tentang keadaan pasien selama perawatan atau selama pemeliharaan kesehatan. (Waters dan Murphy) Sebagai rekaman dalam bentuk tulisan atau gambaran aktivitas pelayanan yang diberikan oleh pemberi pelayanan medik/kesehatan kepada seorang pasien. (Ikatan Dokter Indonesia)

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

12

Tujuan Rekam Medis


Untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan . Tanpa didukung suatu sistem pengelola rekam medis yang baik dan benar, maka tertib administrasi tidak akan berhasil.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

13

Manfaat rekam medis

A : Adminstrative value L : Legal value F : Financial value R : Research value E : Education value D : Documentation value
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 14

Jenis Rekam Medis :


Di rumah sakit didapat dua jenis Rekam Medis, yaitu :

Rekam Medis untuk pasien rawat jalan


Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien gawat darurat, rekam medis mempunyai informasi pasien antara lain: Identitas dan formulir perizinan (lembar hak kuasa) Riwayat penyakit (anamnesa)

Laporan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan laboratorium, foto rontgen, scanning, MRI dll
Diagnosa dan atau diagnosis banding Instruksi diagnosis dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan yang berwenang.

Rekam Medis untuk pasien rawat inap


Untuk rawat inap, memuat informasi yang sama dengan yang terdapat dalam rawat jalan, dengan tambahan : Persetujuan tindakan medic Catatan konsultasi Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan Resume akhir dan evaluasi pengobatan

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

15

Isi Rekam Medis


Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan, termasuk data tentang identitas dan data medis seorang pasien. Secara umum isi Rekam Medis dapat dibagi dalam dua kelompok data yaitu: Data medis atau data klinis : Yang termasuk data medis adalah segala data tentang riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, pengobatan serta hasilnya, laporan dokter, perawat, hasil pemeriksaan laboratorium, ronsen dsb. Data-data ini merupakan data yang bersifat rahasia (confidential). Data sosiologis atau data non-medis: Yang termasuk data ini adalah segala data lain yang tidak berkaitan langsung dengan data medis, seperti data identitas, data sosial ekonomi, alamat dsb. Data ini oleh sebagian orang dianggap bukan rahasia

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

16

Aspek Hukum Rekam Medis


Rekam medis dalam Undang-undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Rekam Medis Pasal 46 (1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis. (2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan. (3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan. Pasal 47 (1) Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. (2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. (3) Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3) 17

4. Memahami dan Menjelaskan alur hukum pasien

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

18

5. Memahami dan Menjelaskan Malpraktek Menurut Pandangan Islam Malpraktek berasal dari kata 'malpractice' dalam bahasa Inggris . Secara harfiah, 'mal' berarti 'salah', dan 'practice' berarti 'pelaksanaan' atau 'tindakan', sehingga malpraktek berarti 'pelaksanaan atau tindakan yang salah. malpraktek adalah tindakan yang salah dalam pelaksanaan suatu profesi.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

19

Bentuk-bentuk Malpraktek
Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara profesi bisa digolongkan sebagai berikut:

1. Tidak Punya Keahlian (Jahil)


"Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki keahlian, maka ia bertanggung-jawab" [4] 2. Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhlafatul Ushl Al-'Ilmiyyah) 3. Ketidaksengajaan (Khatha') 4. Sengaja Menimbulkan Bahaya (I'tid')

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

20

Pembuktian Malpraktek :
Dalam dugaan malpraktek, seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang diakui oleh syariat sebagai berikut:
1. Pengakuan Pelaku Malpraktek (Iqrr ). Iqrar adalah bukti yang paling kuat, karena merupakan persaksian atas diri sendiri, dan ia lebih mengetahuinya. 2. Kesaksian (Syahdah). Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta'zr, dibutuhkan kesaksian dua pria yang adil. 3. Catatan Medis. Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis, karena catatan tersebut dibuat agar bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. Jika catatan ini valid, ia bisa menjadi bukti yang sah.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

21

Bentuk tanggung jawab malpraktek :


Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan, ada beberapa bentuk tanggung jawab yang dipikul pelakunya. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah sebagai berikut: 1. Qishash Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak malpraktek sengaja untuk menimbulkan bahaya (i'tida'), dengan membunuh pasien atau merusak anggota tubuhnya, dan memanfaatkan profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya. 2. Dhamn (Tanggung Jawab Materiil Berupa Ganti Rugi Atau Diyat) Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut: a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya. b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah. c. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi terjadi kesalahan tidak disengaja. d. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi tidak mendapat ijin dari pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam keadaan darurat. 3. Ta'zr berupa hukuman penjara, cambuk, atau yang lain.

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

22

SKENARIO 1 BLOK MEDIKOLEGAL (B3)

23