Anda di halaman 1dari 15

PENUGASAN PPK BLOK SARAF ANAMNESIS Identitas Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Status Perkawinan Suku

Bangsa Pendidikan Alamat : AR : 24 tahun : Perempuan : Islam : Mahasiswa : Belum menikah : Jawa : Sedang menempuh pendidikan S1 : Perum Pamungkas, Jakal km13

Riwayat Penyakit Keluhan utama Kepala pusing dan berputar Keluhan tambahan Mual tapi tidak muntah, bedebar-debar. Pasien juga merasakan nyeri di daerah supraorbita dan terkadang sampai ke dahi. Bila rasa pusingnya menghilang maka keluhan ini juga akan turut hilang dengan sendirinya.

Riwayat penyakit sekarang Pasien merasakan kepalanya pusing dan seolah benda atau lingkungan sekitarnya berputar. Pasien hanya mengeluhkan pusing tanpa disertai nyeri kepala. Pusing dapat menetap sepanjang hari bahkan bisa sampai berhari-hari (dua sampai 6 hari). Pusing dirasakan makin memberat bila digunakan untuk berjalan atau berubah dari posisi semula. Selain itu, pasien juga tidak akan bisa tidur dalam keadaan gelap karena hal tersebut dapat membuat keluhan pusingnya bertambah parah. Keluhan juga dirasakan memberat jika ia menunduk terlalu lama atau terpapar sinar matahari langsung terlalu lama. Selama serangan, pasien hanya bisa berbaring dan berdiam diri di atas kasur. Meski sudah istirahat, keluhan masih tetap dirasakan. Bahkan ketika ia berusaha untuk memejamkan matanya pun, ia tetap merasakan sekelilingnya berputar.

Selama serangan, pasien tidak mampu berjalan dan merasa limbung. Menurutnya, serangannya akan muncul bila ia terlalu lama berada di depan komputer dan kurang tidur. Pasien mengkonsumsi asam mefenamat untuk meredakan pusing yang dirasakannya namun tak berefek sama sekali (keluhan masih menetap). Anamnesis sistem Cerebrospinal : pusing berputar (+), pingsan (+) Respirasi : sesak napas (-), batuk (-), pilek (-)

Kardiovaskuler : berdebar-debar (+), nyeri dada (-) Digesti Uropoetika Reproduksi : mual (+), muntah (-), nafsu makan menurun, BAB normal : BAK normal (-), nyeri saat miksi (-) : haid lancar

Muskuloskele : pegal (-), nyeri sendi (-) Integumentum : berkeringat (-), bercak-bercak (-), kesemutan (-), pucat (-)

Riwayat penyakit dahulu Pasien mulai merasakan keluhan tersebut (pusing berputar-vertigo) sejak beberapa tahun lalu. Biasanya pasien akan mengalami serangan minimal sekali setiap minggunya. Selain itu, ia juga sering mengeluhkan nyeri kepala dan tegang di bagian tengkuknya (tension type headache). Ia mulai merasakan keluhan ini sejak 3-4 tahun yang lalu. Biasanya, nyeri kepalanya akan kumat bila ia terlalu lama berada di depan komputer. Nyeri kepala terkadang juga dirasakan berbarengan dengan keluhan vertigonya. Nyeri kepala dirasakan membaik bila digunakan untuk istirahat dan berbaring tanpa bantal. Untuk mengurangi nyeri yang dirasakannya, biasanya pasien akan mengkonsumsi asam mefenamat dan setelahnya keluhan yang dirasakan akan cenderung berkurang. Selain itu pasien juga memiliki riwayat hipotensi. Saat ia pergi memeriksakan dirinya ke dokter, tekanan darahnya 110/80 mmHg. Tidak diketahui adanya riwayat infeksi telinga. Pasien menyebutkan bahwa ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi maupun penyakit pulmonal. Dari hasil penggalian data juga tidak didapatkan adanya riwayat trauma akustik pada pasien. Riwayat penggunaan obat-obatan ototoksik (seperti streptomisin, kanamisin, salisilat, antimalaria) tidak diketahui. Riwayat pengobatan Bila pasien mulai merasa pusing, ia biasanya hanya mengkonsumsi asam mefenamat untuk meredakan keluhannya namun pusing yang dirasakannya tidak kunjung membaik bahkan ketika istirahat. Ketika memeriksakan dirinya ke dokter, pasien mengaku bahwa ia pernah diberikan suntikan intramuskular di bagian

leher namun ia tidak mengetahui jenis obat apa yang diberikan oleh dokter saat itu. Pasien juga pernah mendapat terapi laser infrared di daerah servikal dan ia merasakan keluhannya berkurang.

Riwayat penyakit keluarga Ibu pasien menderita hipotensi, migrain, asam urat dan diabetes melitus Ayah pasien menderita diabetes melitus

Pola makan/minum Biasanya dalam sehari, pasien hanya makan sekali dengan menu lengkap (nasi, sayur, lauk-pauk). Terkadang juga makan buah-buahan. Pasien juga menyebutkan bahwa ia cukup minum air putih setiap harinya. Ia jarang melakukan olahraga namun ia tetap berusaha melakukannya minimal seminggu sekali. Pasien menyebutkan bahwa ia gemar minum kopi dan teh. Ia biasanya tidur malam sekitar jam 01.00 dan akan terbangun menjelang adzan subuh atau sekitar pukul 04.00. Hasil pemeriksaan penunjang Belum pernah melakukan pemeriksaan penunjang apapun. Pemeriksaan fisik Keadaan Umum Kesadaran Tinggi badan Berat badan Status gizi Vital sign Suhu TD Respirasi Nadi : 370C : 110/70 mmHg : 18 x/menit : 94 x/menit : baik : compos mentis : 163 cm : 51 kg :

BB (kg) 51 51 = = = 19,19 (normal) 2 2 2 TB (m ) (1,63) 2,6569

Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologi dapat dibagi ke dalam dua garis besar : 1. Pemeriksaan untuk menilai fungsi vestibuler/serebelar - Tes Romberg Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup. Biarkan pada posisi demikian

selama 20-30 detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi sedangkan pada mata terbuka, badan penderita tetap tegak. Bila ada kelainan serebelar maka badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun tertutup.

Pada kasus ini, penderita terlihat tidak dapat bertahan pada posisi awal dalam waktu 20-30 detik. Terhitung sejak 10 detik pertama, penderita mulai sedikit bergeser/bergoyang dari posisi awal. Hal tersebut terjadi ketika penderita diminta untuk menutup kedua mata sebaliknya, penderita mampu berdiri tegak dalam 30 detik dengan mata terbuka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penderita memamng memiliki gangguan pada sistem vestibularnya. Tes Romberg yang dipertajam Pada tes ini, penderita diminta untuk berdiri dengan kaki yang satu di depan kaki yang lainnya. Tumit kaki yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lainnya dan posisi lengan dilipat pada dada dengan mata tertutup. Tes ini berguna untuk menilai adanya kelainan sistem vestibular. Normalnya, orang akan mampu berdiri dalam sikap tersebut selama 30 detik atau lebih. Pada kasus ini, didapatkan hasil yang positif karena penderita tidak mamopu mempertahankan posisinya selama 30 detik atau lebih. Ketika dilakukan pemeriksaan, penderita bahkan mulai bergoyang dari posisi awal pada 10 detik pertama. Stepping test Pada pemeriksaan ini, penderita diminta untuk berjalan di tempat dengan mata tertutup sebanyak 50 langkah. Sebelumnya, dikatakan pada penderita bahwa ia harus berusaha agar tetap di tempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama tes ini. Tes ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan pada sistem vestibular. Hasil tes dianggap abnormal bila kedudukan akhir penderita berjarak lebih dari 1 meter dari posisi awal atau badan berputar lebih dari 300.

Pada kasus ini, hasil pemeriksaan stepping test positif karena badan penderita berputar lebih dari 300 dari posisi awal. Hal tersebut menunjukkan adanya gangguan pada sistem vestibularnya. Tandem gait Penderita diminta untuk berjalan lurus dengan tumit kaki kiri atau kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan atau kiri secara bergantian. Pada kelainan vestibuler, penderita tidak mampu berjalan lurus sedangkan pada gangguan serebelar, penderita akan cenderung jatuh. Pada kasus di atas, penderita mampu berjalan pada satu garis lurus dengan posisi tumit kaki yang satu berada pada kaki yang lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan tandem gait pada penderita ini negatif. Uji Unterberger Berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal ke depan dan penderita diminta untuk jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler, posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. Posisi kepala dan badan akan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini dapat juga disertai nistagmus lambat ke arah lesi.

Pada kasus ini,didapatkan hasil uji Unterberger positif sebab saat diminta untuk meluruskan kedua lengan di depan dan mengangkat lutut dengan mata tertutup, penderita tidak dapat berdiri dengan stabil atau mempertahankan posisinya dengan baik. Posisi tubuh pasien cenderung condong ke sisi lateral. Past-pointing test (Uji tunjuk Barany) Pada pemeriksaan ini, penderita diminta untuk mengekstensikan jari telunjuknya dan posisi lengan lurus ke depan. Kemudian penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas dan diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Bila ada gangguan sistem vestubuler maka akan terlihat penyimpangan lengan (deviasi) ke arah lesi, demikian juga bila terdapat gangguan pada sistem serebelar.

Pada kasus ini, past-pointing test dinyatakan negatif karena lengan penderita dapat menunjuk ke arah telunjuk pemeriksa meski tidak sampai menyentuh. Namun hasil tes tetap dinyatakan negatif sebab tidak terlihat adanya penyimpangan (deviasi) ke sisi lateral. Uji Babinsky-Weil Penderita dengan mata tertutup berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang selama 30 detik. Pemeriksaan dapat dilakukan diulang beberapa kali untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan pada vestibulernya. Bila ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

Pada kasus ini, hasil pemeriksaan Babinski-Weil negatif karena pasien dapat berjalan lima langkah ke depan maupun ke belakang tanpa gangguan. 2. Pemeriksaan khusus oto-neurologis Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan letak lesi, apakah sentral atau perifer. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan, diantaranya : a. Fungsi vestibular - Maneuver Nylen-Barany atau Hallpike Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat sehingga kepalanya menggantung 450 di bawah garis horizontal kemudian kepalanya dimiringkan 450 ke kanan lalu ke kiri.

Pada lesi perifer (benign positional vertigo) : vertigo dan nistagmus akan timbul setelah periode laten 2-10 detik dan akan menghilang dalam waku kurang dari 60 detik, keluhan tersebut akan menghilang bila tes diulang-ulang (fatigue). Sedangkan pada lesi sentral tidak dijumpai periode laten, nistagmus dan vertigo dapat berlangsung lebih dari 1 menit, bila pemeriksaan diulangulang reaksi akan tetap seperti semula (non-fatigue). Pada kasus ini, tidak ditemukan adanya nistagmus namun penderita mengeluhkan pusing beberapa saat pasca dilakukan pemeriksaan. Pusing dirasakan berkurang dalam waktu kurang dari 60 detik. Dengan demikian Manuver Hallpike dinyatakan positif (penderita memiliki gangguan pada fungsi vestibuler). Tes Kalori (tidak dilakukan) Pada pemeriksaan ini, penderita berabaring dengan kepala fleksi 300 sehingga kanalis semisirkularis lateralis berada dalam posisi vertikal. Kedua telinga didirigasi bergantian dengan air dingin (300 C) dan air hangat (440C) masing-masing selama 40 detik dengan jeda setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normalnya 90-150 detik).

b. Fungsi pendengaran - Tes garpu tala (tidak dilakukan) Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perspektif. Beberapa rangkaian tes yang dapat dilakukan seperti tes Rinne, Weber, dan Schwabach. Tes Rinne. Pada pemeriksaan ini biasanya digunakan garpu tala dengan frekuensi 128, 256 atau 512 Hz. Garpu tala dibunyikan

kemudian bagian pangkalnya ditempelkan pada tulang mastoid penderita. Ia disuruh untuk mendengarkan bunyinya dengan baik. Bila tidak terdengar lagi, garpu tala segera didekatkan ke telinga penderita. Jika masih terdengar bunyi berarti konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang, maka dalam hal ini dikatakan Rinne positif. Jika tidak terdengar lagi bunyi segera setelah garpu tala dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat telinga maka dikatakan bahwa tes Rinne positif. Tes Weber. Garpu tala dibunyikan kemudian ditempelkan pada dahi penderita (tepat di pertengahan). Penderita diminta untuk mendengarkan bunyinya dan menentukan pada telinga mana bunyi tersebut lebih keras terdengar. Pada orang normal, kerasnya bunyi terdengar sama di kedua telinga. Pada tuli saraf, bunyi terdengar lebih keras pada telinga yang sehat sedangkan pada tuli konduktif bunyi akan terdengar lebih keras pada sisi telinga yang sakit. Tes Schwabach. Pada tes ini, pendengaran penderita dibandingkan dengan pemeriksa. Garpu tala dibunyikan kemudain didekatkan ke telinga penderita dan setelah penderita tidak mendengar bunyi lagi maka garpu tala tersebut ditempatkan ke telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa maka dikatakan tes Schwabach lebih pendek (untuk konduksi udara). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi, setelah itu garpu tala didekatkan ke tulang mastoid penderita. Bila bunyi sudah tidak terdengar lagi maka garpu tala dipindahkan ke tulang mastoid pemeriksa. Bila bunyi masih terdengar oleh pemeriksa maka tes Schwabach dinyatakan lebih pendek (untuk konduksi tulang). Pada tuli konduktif didapatkan hasil tes Rinne negatif, Weber terdapat lateralisasi ke sisi telinga yang sakit dan Schwabach akan memendek. Audiometri (tidak dilakukan) Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, Tone Decay.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis pasien meliputi : a. Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, urin, dan pemeriksaan lain) sesuai indikasi b. Neuroimaging (CT scan, arteriografi, MRI) CT scan maupun MRI mungkin dapat menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf. Jika diduga terdapat penurunan perfusi darah otak, dapat dilakukan pemeriksaan angiogram untuk melihat ada tidaknya sumbatan pada arteri serebral.

c. Neurofisiologi (EEG, elektromiografi). Pada dasarnya, tidak ada pemeriksaan penunjang yang spesifik untuk vertigo sebab biasanya vertigo sudah dapat didiagnosis melalui anamnesis mendalam dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang hanya merupakan alat untuk mencari penyebab pasti dari keluhan vertigo yang dirasakan penderita. Pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin pada penderita vertigo umumnya tidak terlalu spesifik. Pemeriksaan penunjang tidak menjadi hal mutlak pada vertigo. Namun pada beberapa kasus memang diperlukan. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap dapat memberitahu ada tidaknya proses infeksi. Profil lipid dan hemostasis dapat membantu kita untuk menduga adanya iskemia. Foto rontgen, CT scan, atau MRI dapat digunakan untuk mendeteksi kehadiran neoplasma/tumor. Arteriografi untuk menilai sirkulasi vertebrobasilar. Pada kasus ini, saya menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda infeksi yang bisa menjadi penyebab munculnya keluhan vertigo. Neuroimaging seperti CT scan mungkin juga bisa dilakukan.

RENCANA TERAPI Dari hasil penggalian data melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, saya menyimpulkan bahwa pasien menderita vertigo. Untuk memberikan terapi yang tepat, kita perlu mengetahui penyebab pasti dari vertigo yang sering dialami penderita. Pada dasarnya, vertigo terjadi akibat adanya gangguan pada sistem vestibular yang sering diikuti dengan gejala seperti mual, muntah, keringat dingin, dan sebagainya. Penyebab vertigo pun bermacam diantaranya karena adanya perubahan posisi kepala dan tubuh, infeksi telinga (neuritis vestibularis), atau akibat penggunaan obat yang bersifat ototoksik/vestibulotoksik. Pada kasus ini, penyebab vertigo lebih disebabkan karena adanya perubahan posisi kepala terhadap gaya gravitasi. Vertigo jenis ini sering disebut dengan istilah benign paroxysmal positional vertigo. Biasanya keluhan bersifat self limiting dan akan menghilang dalam 4 sampai 6 minggu. Terapi kausatif pada kasus ini meliputi terapi medikamentosa dan terapi fisik. Terapi fisik dan BrandtDaroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. Tujuan dari pengobatan vertigo ialah memperbaiki ketidakseimbangan vestibular melalui modulasi transmisi saraf, umumnya digunakan obat-obatan yang bersifat kolinergik (seperti pada tabel dibawah ini).

Pada kasus ini, penderita dapat diberikan scopolamine 0.5mg per oral atau parenteral. Selain itu, dapat juga diberikan obat antimabuk seperti golongan prochlorperazine dan betahystine mesylate. Obat golongan prochlorperazine sering menimbulkan efek samping berupa distonia akut meski demikian manfaatnya sebagai obat antivertigo cukup bermanfaat. Dosis maksimal untuk orang dewasa 2-5 mg tiga kali sehari. Untuk pencegahan efek samping dapat ditambahkan 1-2 mg Artane (trihexyphenidyl) tiga kali sehari. Antiemetik dapat diberikan untuk mengontrol rasa mual. Bentuk yang dipilih tergantung keadaan pasien. Oral untuk rasa mual ringan, supositoria untuk muntah hebat atau atoni lambung, dan suntikan intravena pada kasus gawat darurat. Contoh antiemetik yang sering digunakan adalah metoklorpramid 10 mg oral atau IM dan ondansetron 4-8 mg peroral. Selain itu, dapat pula dilakukan terapi fisik dengan metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitasi terhadap reseptor semisirkularis. Caranya adalah : pasien diminta duduk tegak di tepi tempat tidur dengan kedua tungkai tergantung lalu menutup kedua mata dan berbaring cepat ke salah satu sisi tubuh, tahan selama 30 detik. Setelah itu, penderita diminta untuk duduk tegak seperti posisi awal, tahan selama 30 detik. Kemudian baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain,tahan selama 30 detik lalu duduk tegak kembali. Metode ini dapat dilakukan berulang-ulang (5 kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi.

10

Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular, berupa gerakan melirik ke atas, bawah, kiri dan kanan mengikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat kemudian diikuti dengan gerakan fleksi-ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup yang makin lama makin cepat. Penderita vertigo juga perlu diberikan penjelasan tentang keluhannya. Penting diinformasikan kepada penderita bahwa vertigo posisional beingna tidak berbahaya sehingga penderita tidak perlu merasa cemas ataupun khawatir terhadap keluhannya. Meski tanpa obat, vertigo dapat hilang dalam waktu beberapa hari namun penderita harus tetap istirahat dan menghindari berbagai faktor yang dapat mengakibatkan munculnya serangan vertigo. Penderita dianjurkan untuk menutup mata terlebih dahulu ketika hendak mengubah posisi kepala dan badan serta melakukannya dengan perlahan-lahan.

11

REFERENSI Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I (5 th ed). Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Jakarta : Indonesia Edward, Y., Roza Y., 2009. Diagnosis dan Penatalaksanaan Benign Paroxysmal Positional Vertigo Kanalis Horizontal, Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang 2009 Ginsberg, L., 2005. Lecture Notes Neurologi (8 th ed). Wardhani, et al., 2008 (Alih Bahasa), Erlangga : Jakarta Israr, Y.A., 2008. Vertigo. Faculty of Medicine-University of Riau Lumbantobing, S.M., 2000. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Balai Penerbit FK UI : Jakarta Mardjono, M., Sidharta, P., 2009. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Dian Rakyat : Jakarta Mardjono, M., Sidharta, P., 2009. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat : Jakarta Wreksoatmodjo, B.R., 2004. Vertigo : Aspek Neurologi, Cermin Dunia Kedokteran 144:41-46

12

REFLEKSI KASUS Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek dan sering digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). Banyak orang di sekitar kita -bahkan kita atau keluarga kita sendiri- yang mengalami keluhan tersebut. Atas alasan inilah, saya tertarik untuk mengambil vertigo sebagai kasus yang akan saya persentasikan pada penugasan kali ini. Vertigo dapat diklasifikan ke dalam dua jenis berdasarkan letak lesinya yaitu vertigo dengan lesi perifer atau yang sering dikenal dengan benign paroxysmal positional vertigo dan vertigo lesi sentral. Jenis vertigo yang sering ditemukan di kalangan masyarakat adalah BPPV. Gejala BPPV sering hilang timbul sehingga diperlukan pengenalan berbagai faktor resiko dan faktor pencetus agar penderita dapat mencegah terjadinya serangan ulang di kemudian hari. Untuk itulah, saya merasa tertarik untuk mempelajari kasus ini lebih mendalam agar bisa memberikan pemahaman lebih tentang bagaimana cara mengelola penderita vertigo dengan tepat. Terkadang, vertigo dapat muncul tibatiba dan tentunya akan sangat mempengaruhi aktivitas fisik penderita bahkan tak jarang membuat penderita merasa cemas atau khawatir dengan keluhan yang sering dialaminya. Dalam beberapa kasus, ada juga penderita BPPV yang dirawat di rumah sakit karena misdiagnosed. Hal tersebut seringkali menyebabkan penderita mengalami psikoneurotik. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pemahaman yang mendalam terkait patofisiologi vertigo agar kelak tidak merugikan pasien maupun keluarganya. Selama pengerjaan penugasan ini, ada beberapa kendala yang saya temui diantaranya adalah susahnya mencari referensi terkait vertigo di textbook terjemahan indonesia. Dari sekian banyak textbook terjemahan yang saya miliki, penjelasan mengenai vertigo tidak terlalu lengkap bahkan hanya terkesan superfisial saja. Terlalu singkat dan kurang jelas. Hal ini membuat saya berpikir untuk mencari sumber referensi lain lewat internet namun website yang saya temukan kebanyakan berasal dari blog dan tentunya akan kurang valid bila saya jadikan sumber rujukan sehingga mau tak mau saya harus mencari sumber referensi lain dari luar negeri, entah itu berupa jurnal penelitian ataupun tinjauan pustaka dan jujur saja saya memang merasa agak kesulitan bila harus membaca jurnal dalam bahasa inggris. Keterbatasan saya dalam memahami bahasa asing memang cukup memberikan hambatan dalam mengerjakan penugasan PPK ini. Selain itu, saya merasa agak kesulitan dalam mencari pasien yang sesuai dengan penugasan. Meskipun vertigo bukan merupakan kasus yang langka di masyarakat namun tetap saja saya merasa kesulitan bila harus mencarinya di lingkungan sekitar. Butuh beberapa hari hingga akhirnya saya mendapatkan pasien yang sesuai kasus yang saya cari. Mungkin akan lebih mudah bila penugasan PPK blok ini ada kunjungan ke Puskesmas seperti blokblok sebelumnya. Karena, mahasiwa -terutama saya- tak perlu susah-susah untuk mencari pasien di lingkungan sekitar sebab pihak Puskesmas tentu sudah memiliki rekam medis masing-masing pasien sehingga kita hanya tinggal melakukan anamnesis serta berbagai pemeriksaan fisik lain.

13

LAMPIRAN Dokumentasi

14

15