Anda di halaman 1dari 3

Jono adalah warga Negara Indonesia sejak lahir.

Ketika jono berusia 20 tahun dan masih kuliah, dia telah mulai bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan dengan menerima gaji bersih Rp.1.500.000 per bulan. Setelah lulus kuliah, jono mendirikan usaha bersama dengan beberapa rekannya dengan nama PT. SELALU SUKSES yang bergerak di bidang konstruksi. Usahanya berjalan baik dan selalu menghasilkan laba. 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kapankah kewajiban perpajakan Jono dimulai? Apa sajakah kewajiban perpajakan Jono ? Bagaimana apabila ternyata Jono tidak mendaftarkan diri dan atau melaporkan usahanya ? Kapan dan dimana seharusnya Jono melakukan pendaftaran / pelaporan usahanya ? Bagaimana cara Jono untuk melaporkan jumlah pajak yang harus dibayarnya ? Apakah sanksinya apabila Jono tidak melaporkan pajak terutangnya ?

Jawaban: 1. Kewajiban perpajakan Jono dimulai sejak dia lahir dan bertempaqt tinggal di Inonesia. Tetapi jika kita lihat kasus diatas yaitu kasus mengenai pajak penghasilan perlu kita tinjau kembali dengan Undang-Undang No. 7 tahun 1984 tentang pajak penghasilan (PPh) berlaku sejak 1 januari 1984 dan diubah dengan undang-undang no. 36 tahun 2008. UU pajak penghasilan (PPh) mengatur pengenaan pajak Penghasilan terhadap subek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima dalam tahun pajak. Pasal 1 UU Pajak Penghasilan, yang menyatakan bahwa Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Penekanannya yang pertama adalah subyek pajak, baru kemudian obyeknya yaitu penghasilan. Urutan pasal-pasal dalam UU Pajak Penghasilan juga menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif. Ketentuan mengenai subyek pajak diatur lebih dulu di Pasal 2, 2A dan Pasal 3 Baru kemudian diatur mengenai objeknya di Pasal 4 Sehubungan dengan subyek pajak ini, dalam Pajak Penghasilan dikenal istilah Kewajiban Pajak Subjektif. Istilah ini mengandung arti bahwa seseorang, sesuatu atau badan sudah memenuhi syarat untuk dikenakan Pajak Penghasilan dilihat dari sudut subyeknya. Apabila subyek pajak ini menerima atau memperoleh penghasilan, maka ia dapat dikenakan Pajak Penghasilan. Tetapi sebaliknya, apabila sesuatu, seseorang atau badan tidak memenuhi syarat kewajiban pajak subjektif, maka walaupun ia memiliki penghasilan, ia tidak dapat dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan UU Pajak Penghasilan.Jadi, kewajiban pajak subjektif ini sangat penting maknanya dalam Pajak Penghasilan karena merupakan entry point dalam pengenaan Pajak Penghasilan. Dengan demikian, kapan seseorang, sesuatu atau badan mulai memenuhi syarat kewajiban pajak subjektif adalah sangat penting dalam Pajak Penghasilan. Begitu juga dengan berakhirnya kewajiban pajak subjektif. Jadi Jono harus membayar pajak penghasilan hasil dari pekerjaannya sebagai pegawai yaitu pada usia 20 tahun. Dan membayar pajak penghasilan atas usaha yang di rintis dengan rekannya yang diberi nama PT. SELALU SUKSES sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU PPh dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap. 2. Kewajiaban perpajakan Jono ada 2 yaitu: a. Sebagai orang pribadi yang memiliki penghasilan selama bertempat tinggal di Indonesia. b. Sebagai pemilik badan usaha saat didirikannya usaha tersebut.

3. Jika Jono tidak: a. Sebagai orang pribadi: etiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP dan atas perbuatannya tersebut menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. b. Sebagai pendiri badan usaha: Peraturan Menteri Keuangan nomor 20/PMK03/2008 menetapkan: Bagi orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas, demikian juga dengan badan, wajib mendaftarkan diri sebagai WP paling lama satu bulan setelah usaha mulai dijalankan. Sedangkan bagi orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas, pendaftaran sebagai WP wajib dilakukan setelah jumlah penghasilannya sampai dengan satu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) paling lama akhir bulan berikutnya. Jika tidak akan dilakukan pencabutan pengukuhan usaha oleh DJP. 4. Jono harus: a. Mendaftarkan diri sebagai orang pribadi: sejak kita mulai memperoleh penghasilan selambat-lambatnya satu bulan setelah itu. b. Mendaftarkan badan usahanya: sejak awal didirikan dan menghasilkan laba selambatlambatnya satu bulan. Tempat pendaftaran/pelaporan: Pendaftaran untuk menjadi WP dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan WP. KPP (yang pada tahun 2008 selain KPPWajib Pajak Besar dan KPP Madya, semuanya jadi KPP Pratama) tersebar di seluruh wilayah tanah air, mulai dari Banda Aceh (Nangroe Aceh Darussalam, NAD) hingga Iayapura (Papua). Contoh kasus adalah sebagai berikut:

Hasudungan, tinggal di Ialan Mangga Nomor 1945, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Maka ia mendaftarkan diri ke KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua, di Ialan Ciputat Raya No.2, Jakarta Selatan. Jeremy, tinggal di [alan Kecapi Nomor 250, Kecamatan Medan Baru, Medan, Sumatra Utara. Maka ia mendaftarkan diri ke KPP Pratama Medan Polonia, di Ialan Diponegoro No. 30A, GKN,Medan. PT Soala Gogo, berdomisili di [alan Kencana No. 75, Kec. Benowo, Surabaya. Maka badan ini mendaftar sebagai WP di KPP Pratama Surabaya Sukomanunggal, Ialan Bukit Darmo Golf No. 1, Surabaya.

atau dapat pula mendaftarkan diri secara on-line melalui e-registration.

5. Jono dapat mengisi SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) yang digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan. Jono harus mengambil sendiri formulir SPT di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), Kantor Wilayah DJP, Kantor Pusat DJP, atau dapat diunduh di situs DJP (www.pajak.go.id) atau mencetak/ menggandakan/ fotokopi dengan bentuk dan isi yang sama dengan aslinya.

6. Jika SPT yang tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, dikenakan sanksi administrasi berupa denda : 1. SPT Tahunan PPh orang pribadi Rp 100 ribu; 2. SPT Tahunan PPh badan Rp 1 juta; 3. SPT Masa PPN Rp 500 ribu; 4. SPT Masa Lainnya Rp 100 ribu. Pengenaan sanksi administrasi berupa denda tersebut tidak dilakukan terhadap : 1. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia; 2. Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas; 3. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi di Indonesia; 4. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia; 5. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; 6. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi; 7. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; atau 8. Wajib Pajak lain yaitu Wajib Pajak yang dalam keadaan antara lain : kerusuhan massal, kebakaran, ledakan bom atau aksi terorisme, perang antar suku atau kegagalan sistem komputer administrasi penerimaan negara atau perpajakan. Bagi Wajib Pajak yang alpa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan dapat merugikan negara yang dilakukan pertama kali tidak dikenai sanksi pidana tetapi dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% dari pajak yang kurang dibayar. Sanksi pidana juga dikenakan terhadap setiap orang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. Setiap orang yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan dapat merugikan negara, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4(empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.