Anda di halaman 1dari 14

I-1

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Wilayah Indonesia dikepung dua samudra, Pasifik dan Hindia. Kedudukan itu membuat posisi Indonesia sangat penting secara geografis. Secara oseanografis, arus dan pertukaran massa air dua samudra itu melewati kepulauan yang terletak di tataran Nusantara. Keuntungannya, banyak ikan yang bermigrasi sehingga ikan-ikan tersebut akan melintasi perairan Indonesia. Ikan sebagai sumber gizi bagi kehidupan manusia, sangat banyak manfaatnya karena merupakan salah satu sumber minyak dan protein. Banyak jenis ikan yang terdapat di perairan Indonesia, tetapi tidak semua jenis ikan itu dapat diproses. Hal ini harus kita perhatikan juga tentang kelangkaan dari jenis ikan tersebut seperti contohnya, ikan paus.
(http://www.google.com)

Dari data statistik, produksi perikanan laut ikan tuna di Jawa Timur rata-rata sebesar 2964 ton/tahun yang tersebar di kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Malang. Di Indonesia, total produksi perikanan tangkap laut ikan tuna mengalami peningkatan dari 43958 ton per tahun 2006 menjadi 52489 ton per tahun 2007, atau mengalami kenaikan 19,41 %. Hal ini menunjukkan bahwa bidang perikanan dan kelautan menjadi peluang investasi dan penyerapan tenaga kerja. Ini merupakan angka yang sangat besar dan jika diolah dengan baik maka akan mampu meningkatkan devisa negara. Selain itu, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat pada berbagai tingkat umur akan pentingnya kesehatan, meningkat pula kebutuhan akan asupan nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, dan asam lemak sehingga pengembangan pabrik minyak ikan tuna dapat memenuhi asupan masyarakat terutama pada anak-anak. Minyak ikan juga sebagai solusi terhadap kurangnya konsumsi ikan laut

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-2
BAB I PENDAHULUAN

oleh masyarakat Indonesia sehingga pemanfaatan budidaya ikan laut tidak hanya diekspor tetapi juga harus cukup dikonsumsi masyarakat Indonesia guna memenuhi asupan gizi serta meningkatkan kecerdasan anak bangsa.
(http://www.google.co.id/search?sourceid=chrome&ie=ikan)

Di Indonesia produksi minyak ikan (fish oil) dari ikan secara besar-besaran masih belum ada, diharapkan dengan berdirinya pabrik minyak ikan ini, kebutuhan minyak ikan untuk obat-obatan dan industri dapat terpenuhi. I.2 Dasar Teori Minyak lemak adalah suatu senyawa organik yang dihasilkan didalam tubuh organisme atau makhluk hidup, biasanya bersifat tidak larut dalam air tetapi akan larut dalam berbagai pelarut organik. Minyak lemak lazim disebut minyak atau lemak yaitu dalam kondisi suhu kamar berwujud cair. Minyak berwujud cair bila diletakkan ditempat yang suhunya dingin (dibawah suhu kamar) dapat berwujud padat. Demikian pula sebaliknya, minyak yang wujudnya padat apabila diletakkan ditempat yang suhunya tinggi (suhu kamar) dapat mencair. Istilah minyak lemak dapat juga digunakan untuk membedakan antara jenis minyak ikan dengan jenis minyak yang lain, yaitu minyak bumi dan minyak atsiri. Klasifikasi minyak lemak berdasarkan sumbemya 1. Bersumber dari tanaman Biji - bijian palawija : minyak jagung, biji kapas. kacang, rapeseed, wijen, kedelai, bunga matahari. Kulit buah tanaman tahunan : minyak zaitun, dan kelapa sawit. Biji bijian dari tanaman tahunan : kelapa, cokelat, inti sawit, babassu, cohune dan sejenisnya. 2. Bersumber dari hewani Susu hewan peliharaan : lemak susu. Daging hewan peliharaan : lemak sapi, lemak babi.

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-3
BAB I PENDAHULUAN

Hasil laut : minyak ikan sardin, menhaden dan sejenisnya, dan minyak ikan paus. Perbedaan umum antara minyak lemak nabati dan hewani, adalah : 1. Lemak hewani mengandung kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fito terol. 2. Kadar asam lemak tidak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil daripada lemak nabati. 3. Lemak hewani mempunyai bilangan Reichert Meissl lebih besar dan bilangan polenske lebih kecil dibandingkan dengan lemak nabati.
(Ketaren,1996)

Pada prinsipnya kebanyakan semua jenis ikan darat dapat diolah menjadi minyak ikan. Komposisi dan kualitas ikan merupakan faktor yang banyak digunakan dalam menentukan karakteristik dan yield produk. Pemisahan substansi lemak dari lemak ikan darat ini merupakan operasi utama dalam pembuatan minyak ikan. Ikan Tuna . Ikan tuna mengandung protein antara 22,6 - 26,2 g/100 g daging. Lemak antara 0,2 - 2,7 g/100 g daging. Di samping itu ikan tuna mengandung mineral kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin dan niasin). Selain itu, ikan tuna mempunyai kandungan asam lemak omega 3 yang cukup besar yaitu 2,1 gram / 100 gram ikan. Selain itu, produksinya sangat berlimpah di Indonesia dengan berbagai jenis. Ikan Hiu ( Cod Fishes ) Merupakan sumber terbesar sebagai bahan baku pembuatan minyak ikan yang dikenal dengan Cod Liver Oil. Ikan hiu dapat diklasifikasikan sebagai ikan berlemak walaupun kandungan lemaknya 0,3%., besar kandungan lemak ini tergantung pada jenis ikan dan musim. Umumnya lemak ikan hiu terdistribusi pada tubuh ikan tersebut.

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-4
BAB I PENDAHULUAN

Ikan Bandeng Umumnya tidak digunakan untuk pembuatan minyak ikan. walaupun kadar lemaknya mencapai 4,8%.lkan ini umumnya dikonsumsi untuk bahan makanan saja. Ikan Bader (tawes) Ikan Bader mempunyai kadar lemak l3,0.%,namun jarang dikonsumsi.
(http://www.google.co.id/search?sourceid=chrome&ie=ikan)

Dengan potensi dan produksinya yang reiatif besar, sumber daya ikan tuna dapat digunakan sebagai pendukung sumber protein ikan.. Selain itu, kandungan omega-3 nya cukup tinggi. Dari jenis - jenis ikan yang telah disebutkan diatas, dalam pembuatan minyak ikan bahan baku yang kami pilih adalah ikan tuna. Karena sumber dayanya yang banyak ditemui disamping kandungan omega-3 nya 2,1 gram/100 gram dan keseluruhan bagian dari ikan tuna dapat diolah dan menghasilkan minyak sebesar 4,3-40% , sangat tepat digunakan sebagai bahan baku proses pembuatan minyak ikan. Omega-3, ada 2 unsur asam lemak esensial rantai panjang: EPA (Eico Pentanoic Acid)/asam lemak Omega-3 rantai panjang C 20 dan DHA (Doxoca Hexanoic Acid)/asam lemak omega rantai panjang C 22. Asam lemak dari Omega-3 ini disebut juga asam linoleat. DHA sangat berperan dalam meningkatkan ketajaman retina mata kita, sekaligus meningkatkan kecerdasan otak. Seperti diketahui, mata sangat penting. Indra penglihatan ini merupakan jendela untuk melihat segala sesuatu yang kemudian meneruskan stimulus ke otak. Ketajaman mata menangkap suatu objek dan meneruskannya jadi respon di otak, dipengaruhi oleh unsur DHA. Sehingga, dikatakan DHA berperan terhadap kecerdasan. Sedangkan unsur EPA berperan terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah
(http://fordearest.wetpaint.com/page/minyak+hati+ikan)

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-5
BAB I PENDAHULUAN

Dalam proses pengambilan minyak ikan ini digunakan metode ekstraksi. Ekstraksi ini sangat baik karena menggunakan pelarut yang sesuai dengan keadaan ikan. Kegunaan minyak ikan ini yang masih dalam bentuk crude dapat diolah lagi dan dimanfaatkan dalam industri besar maupun rumah tangga, seperti sebagai bahan nutrisi, media penukar panas, pelumas pada industri industri tertentu. Sumber minyak yang terbesar pada saat ini adalah terdiri dari biji bijian seperti kedelai, biji kapok, kacang, dll. Selain itu minyak juga berasal dari tanaman kelapa, dan ternak hewan. Yang mana untuk ternak hewan ini umumnya diambil dari babi, sapi, kambing dan berbagai hewan ternak lainnya yang menghasilkan minyak, termasuk ikan. Di Indonesia produksi minyak ikan (fish oil) dari ikan secara besar -:besaran masih belum ada, diharapkan dengan berdirinya pabrik minyak ikan ini di Indonesia kebutuhan minyak ikan untuk obat obatan dan industri dapat terpenuhi.
Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi minyak ikan adalah ikan tuna dan N-Heksane sebagai pelarut. Bahan baku utama yaitu ikan tuna yang digunakan dalam produksi ini disuplai langsung dari hasil tangkapan laut. Sedangkan bahan baku pelarut N-Heksane disuplai dari pabrik penyedia bahan kimia. Proses pendistribusian bahan baku dari dilakukan dengan 2 cara yaitu, pangiriman langsung dengan pemanfaatan media transportasi darat untuk bahan baku padat dan pengiriman melalui sitem perpipaan. ASAM LEMAK Asam lemak bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-6
BAB I PENDAHULUAN

hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida). Fungsi lemak dalam tubuh dikenal sebagai : 1. Bahan bakar metabolisme seluler 2. Merupakan bagian pokok dari membran sel 3. Sebagai mediator atau second massenger aktivitas biologis antar sel 4. Sebagai isolasi dalam menjaga keseimbangan temperatur tubuh dan melindungi organ-organ tubuh. 5. Pelarut vitamin A, D, E, dan K agar dapat diserap tubuh. Sedangkan asam lemak tak jenuh mempunyai fungsi yang lebih kompleks , antara lain : sebagai bioregulator endogen, misalnya dalam pengaturan homeostasis ion, transkripsi gen, signal transduksi hormon, mensintesis lemak, serta mempengaruhi pembentukan protein. Berdasarkan struktur kimianya, asam lemak dapat dibedakan menjadi : 1. Asam lemak jenuh (saturated fatty acids) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. 2. Asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids) yaitu asam lemak yang memiliki ikatan rangkap. Asam lemak tak jenuh ini dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu Monounsaturated fatty acids dimana ikatan rangkapnya hanya satu dan Polyunsaturated fatty acids dimana ikatan rangkapnya lebih dari satu. Asam lemak jenuh dan tak jenuh dengan jumlah atom karbon genap berantai lurus merupakan bagian terbesar dari asam lemak dalam lemak alam. Akan tetapi, sekarang diketahui bahwa banyak asam lemak lain mungkin ada dalam jumlah kecil.
(Deman,1997)

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-7
BAB I PENDAHULUAN

MINYAK IKAN Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat. Itu karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA) di dalamnya akan membantu proses tumbuh kembang otak (kecerdasan), serta perkembangan indra penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita. Selain itu, minyak ikan mengandung vitamin A dan D, dua jenis vitamin yang larut dalma lemak dengan jumlah tinggi. Manfaat vitamin A yaitu membantu proses perkembangan mata, sedangkan vitamin D untuk membantu proses pertumbuhan dan pembentukan tulang yang kuat. Kadar vitamin ini dalam tubuh ikan akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Umumnya kadar vitamin A dalam minyak ikan berkisar antara 1.000-1.000.000 SI (Standar Internasional) per gram, sementara vitamin D sekitar 50-30.000 SI per gram.
(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid)

Minyak ikan memiliki tiga jenis asam lemak, yaitu : Asam lemak tidak jenuh yaitu asam lemak yang tidak mempunyai ikatan rangkap pada rantai karbonnya, seperti palmitat. Asam lemak tidak jenuh tunggal yaitu asam lemak yang mempunyai satu ikatan rangkap pada rantai karbonnya, seperti oleat. Asam lemak tidak jenuh ganda yaitu asam lemak yang mempunyai satu ikatan rangkap pada rantai karbonnya, seperti linoleat, asam elkosapentanoat (EPA) dan asam dokosaheksanoat (DHA). Gabungan konfigurasi atom karbon DHA dan EPA dikenal sebagai omega-3. Jenis ikan laut yang kaya kandungan omega-3 antara lain salmon, tuna, sardine,dan kerang-kerangan.
(Deman, 1997)

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-8
BAB I PENDAHULUAN

I.3 Sifat Fisika dan Kimia 1.3.1 Bahan Baku Utama Bahan baku dari pabrik ini adalah jenis ikan laut dalam hal ini jenis ikan segar dan diambil yang banyak mengandung minyak, yaitu ikan tuna. Pada dasarnya kandungan atau komponen dari ikan tuna secara umum adalah Tabel 1. 1 Komposisi dalam Ikan Tuna KOMPONEN KADAR (%) Minyak (%) 10 % Air 63,9 % Protein 25,8 % Abu 0,3 % Minyak ikan mempunyai sifat fisika, antara lain : Tabel 1. 2 Sifat Fisika dari Ikan Tuna KARAKTERISTIK VALUE/NILAI Bentuk Padat (daging,dll) Warna Biru tua Kadar Minyak (%) 4,3 40 % Energy 105-131 cal E. Coli 3 Salmonella negatif V. Cholerae negatif
(Sutrisno,2002)

I.3.2 Bahan Baku Pendukung Dalam proses ekstraksi solvent, n-hexane digunakan untuk melarutkan minyak (sebagai solvent). Berikut adalah tabel sifat fisik dan kimia dari n-hexane. Tabel 1. 3 Sifat Fisika dan Kimia dari N-Hexane KARAKTERISTIK VALUE/NILAI Bentuk Cair Warna Jernih/tidak berwarna Bau seperti gasoline Kelarutan Tidak larut dalam air,

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-9
BAB I PENDAHULUAN

lebih mudah terlarut, Sangat terlarut dalam alcohol Vapor Pressure (25oC) 151 mm Hg Specific Gravity/Density 0.678 Viscosity (20oC) 0.31 mPas Boiling Point (760 mmHg) 62 - 69C Freezing/Melting Point -95 C Solubility (20oC) 0.1 g/l Dibawah ini merupakan perbandingan antara beberapa pelarut : Tabel 1. 4 Perbandingan Pelarut N-Hexane dengan Pelarut Lain Pelarut Rumus Berat Sp Boillin Melti Molek Gravity g ng ul Point, Point C , C NCH 3 (CH 2 ) 4 C 86,77 0,63920/ 69 -94,3 Hexane H3 4 Propyl CH 3 CH 2 CH 2 60,09 0,80420/ 97,8 -127 alcohol OH 4 (n) Methan CH 3 OH 32,04 0,79220/ 64,7 -97,8 ol 1 Berdasarkan data tersebut diatas, maka pelarut yang digunakan pada proses ekstraksi minyak ikan adalah N - Hexane, didasarkan atas beberapa hal, yaitu : 1. Harga N - Hexane relatif lebih ekonomis dibandingkan solvent lainnya 2. Mempunyai kemampuan membunuh bakteri 3. Recovery solventnya lebih sederhana 4. Faktor kimianya tidak bersifat korosif 5. Minyak yang diperoleh mempunyai mutu yang baik
(Smallwood, 1988)

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-10
BAB I PENDAHULUAN

I.3.2 Produk 1.3.2.1 Produk Utama Tabel 1. 5 Sifat Fisika dari Minyak Ikan KARAKTERISTIK VALUE/NILAI Bentuk Cair Warna Kuning Bening Kadar Minyak (%) 4,3 40 % Fat saturated 25 % 75 % polyunsaturated Densitas campuran 967,96 kg/m3 Yodine 170 Penyabunan 188 o Indeks bias pada 25 C 1,4785 Unsaponifiable matter 0,1 % Tabel 1.6 Komposisi asam minyak ikan Jenis Asam Lemak Konsentrasi (% -b) Asam Palmitat 60 Asam Stearat 40 Asam Oleat 55 Asam Linoleat 45
(Baileys, 1951)

Sifat kimia minyak secara umum 1. Hidrolisa Dalam reaksi hidrolisa, minyak atau lemak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa dapat mengakibatkan kerusakan minyak atau lemak, hal ini terjadi karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak atau lemak. Reaksi ini mengakibatkan ketengikan pada minyak. Minyak atau lemak + air gliserol + asam lemak 2. Oksidasi

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-11
BAB I PENDAHULUAN

Oksidasi berlangsung karena kontak antara minyak atau lemak dengan oksigen. Reaksi oksidasi ini menyebabkan bau tengik pada minyak. Oksidasi dimulai dengan pembentukan peroksida dan dihidroperoksida. Selanjutnya asam lemak terurai dan disertai konversi hidroperoksida menjadi aldehide dan keton serta asarn lemak bebas. Rancidity terbentuk oleh aldehide, bukan oleh peroksida. Jadi kenaikan Peroksida Value (PV) hanya indikasi dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik 3. Hidrogenasi Terjadi pada permukaan katalis, seperti serbuk nikel yang mengakibatkan reaksi antara molekul - molekul minyak dengan gas hydrogen. Hydrogen akan diikat oleh asam lemak yang tidak jenuh, yaitu pada ikatan rangkap, membentuk radikal komplek antara hydrogen, nikel dan asam tidak lemak jenuh. Ikatan dalam asam lemak ini akan menjadi makin jenuh, sehingga sifabrya menjadi plastis 4. Esterifrkasi Hal ini dapat terjadi pada asam lemak melalui pertukaran esther, dapat ditukar dengan rantai panjang yang bersifat tidak menguap. 5. Pembentukan keton Terbentuknya keton dapat dihasilkan dengan penguraian melalui hidrolisa esther seperti laural klorida yang akan diubah menjadi diundensilketon.
(Ketaren, 1996)

1.3.2.2 Produk Sampingan Limbah dari pengolahan minyak ikan ini dapat diproses kembali menjadi tepung ikan. Tepung ikan merupakan suatu produk padat kering dari sisa sisa olahan limbah atau dari kelebihan hasil penangkapao ikan. Untuk mendapatkan tepung ikan dengan jalan mengeluarkan sebagian besar cairan dan lemak yang terkandung di dalam ikan. Fungsi utama tepung ikan ini sebagai bahan campuran makanan ikan dan ternak (seperti ikan dan babi). Berdasarkan

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-12
BAB I PENDAHULUAN

2.

hasil penelitian, ikan dapat tumbuh lebih cepat bila dalam makanannya ditambahkan tepung ikan sebanyak l0 - 40 %. Demikian juga pertumbuhan dan pertambahan berat ayam dan babi cepat bertambah dengan pemberian tepung ikan. Hal itu disebabkan adanya kandungan protein yang tinggi dalam tepung ikan. Tepung ikan yang baik dihasilkan oleh ikan yang sedikit mengandung lemak. Adanya lemak membuat tepung ikan juga banyak mengandung lemak. Hal itu merugikan karena oksidasi lemak akan nsslgdahkan tepung ikan menjadi tengik. Tepung ikan yang bermutu baik mempunyai sifat : 1. Butir-butirnya agak seragam Bebas dari sisa - sisa tulang, mata ikan, dan benda benda asing 3. Berwarna abu - abu kehijauan 4. Komposisinya: Protein : 70 72 % Lemak : 0,3 0,6% Kadar air : 89%
(Bernardini,1973)

I.4 Kegunaan minyak ikan Survey extensive tentang penggunaan minyak ikan untuk proses industri dan produk diumumkan pada tahun 1993 oleh Stansby. Dimana penggunaan utama dari minvak ikan dalam industri antara lain : a. Bahan untuk penyamak kulit (tanning of leather) b. Protective coating (paint & varnish) c. Pharmaeutical uses d. Pelumas (Lubricating oil) e. Soap f. Insecticidal sprays g. Pelindung permukaan logam (protecting metal surface)

Selain penggunaan minyak ikan yang telah disebutkan diatas, minyak ikan juga digunakan sebagai bahan dasar

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane

I-13
BAB I PENDAHULUAN

pembuatan bahan kimia lain, sofiening agent, textile finishing, kosmetik, dan tinta print.
Lokasi pabrik minyak ikan Tuna direncanakan berdiri di Malang, Jawa Timur, dimana di daerah ini merupakan penghasil tangkapan ikan Tuna yang melimpah di Jawa Timur karena pantai selatan Jawa, NTB dan Bali merupakan daerah fishing groundnya (untuk bertelur dan berkembang biak). Selain itu jalur transportasi juga cukup mudah. Tabel 1.7 Produksi Hasil Tangkapan Laut Ikan Tuna 20032007 Tahun Jumlah (ton) 6015,3 2003 6852,6 2004 8142,2 2005 8976,3 2006 9240,6 2007 7845,48 Produksi rata-rata Pabrik baru direncanakan beroperasi pada tahun 2012, sehingga prediksi peluang kapasitas untuk tahun tersebut dapat dihitung berdasarkan ketersediaan bahan baku : Bahan baku yang tersedia = 7.845.480 kg/tahun Perbandingan kadar minyak 10 % per bahan baku dapat diasumsikan dengan hasil 784.548 kg minyak/tahun. Jadi, kapasitas pabrik direncanakan sebesar 784.548 kg minyak/tahun. Masa kerja dalam satu tahun dianggap 330 hari kerja. Direncanakan untuk membuat pabrik minyak ikan dengan kapasitas 784.548 kg minyak/tahun. Dimana produk nantinya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional.

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexane

I-14
BAB I PENDAHULUAN

HALAMAN INI SENGAJA KAMI KOSONGKAN

TUGAS AKHIR

Pabrik Minyak Ikan dari Ikan Tuna dengan Proses Ekstraksi N-Hexsane