Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia, namun ideologi Indonesia ini terbentuk melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia sehingga mampu membangun sebuah ideologi yang menyatukan kearifan lokal dari seluruh suku, kebijaksanaan dari seluruh agama dan kepercayaan, dikolaborasikan dan saling bertoleransi dalam satu wadah bernama Pancasila. Indonesia menjadikan Pancasila sebagai ideologi dasar negara yang menjadi pedoman dasar pembentukan suatu kebijakan konstitusional. Berbeda dengan negara lain yang mengembangkan sistem politik, keuangan, dan agama sebagai ideologi mereka, justru Indonesia menciptakan suatu ideologi baru yang mempersatukan perbedaan. Para pendiri negara ini tidak menghendaki sistem politik menjadi sebuah ideologi karena akan berakibat pada feodalisme, mereka juga tidak menghendaki sistem pasar dan keuangan menjadi ideologi karena akan hanya menguntungkan para pemodal kuat, mereka juga menolak agama menjadi ideologi karena begitu beragamnya agama yang dimiliki. Namun pada kenyataanya, hubungan antara agama dan negara dalam konteks Indonesia-tidak dipungkiri-kerap menjadi perdebatan sengit, bahkan dalam suasana sigmatis. Perdebatan itu tak hanya terjadi di tingkat wacana, melainkan telah diikuti tuntutan riil tentang konsep agama Islam yang perlu dibumikan di Indonesia. Sejarah mencatat, sejak Indonesia merdeka tuntutan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi dan dasar negara itu seperti tidak

pernah surut. Padahal dari sisi pengamalannya, Pancasila menetapkan kebaikan bukan sebagai aturan yang wajib diikuti, namun merupakan sebuah keharusan yang dikarenakan kebutuhan manusiawi. Sekali lagi pada dasarnya Pancasila terbentuk dari seluruh kearifan yang ada diseluruh bumi pertiwi termasuk kearifan-kearifan yang terkandung dalam agama, termasuk Islam, dengan kata lain

butir-butir Pancasila merupakan penghayatan intisari ajaran Islam, pelanggaran terhadap Pancasila, maka sama dengan pelanggaran terhadap Syariat Islam. B. Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengertian dari Pancasila sebagai Ideologi Nasional? 2. Bagaimana hubungan antara Ideologi Nasional dan Ideologi Agama Islam? C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan Makalah 1. Tujuan Penulisan Makalah a. b. Untuk mengetahui Pengertian dari Pancasila sebagai Ideologi Nasional. Untuk mengetahui hubungan antara Ideologi Nasional dan Ideologi Agama Islam. 2. Kegunaan Penulisan Makalah a. Bagi Penulis Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah filsafat Pancasila. b. Bagi pihak lain Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan antara Pancasila dengan Agama islam

D. Batasan Masalah Makalah ini hanya membahas uraian tentang Pancasila sebagai ideologi nasional bangsa Indonesia, serta korelasinya dengan ideologi agama Islam.

BAB II PEMBAHASAN 1. Pancasila Sebagai Ideologi Nasional Bangsa dan Negara Indonesia A. Pengertian Ideologi Berdasarkan etimologinya, Ideologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Idea berarti raut muka, perawakan, gagasan dan buah pikiran dan Logia berarti ajaran. Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas. Pengertian Ideologi secara umum adalah suatu kumpulan gagasan, ide, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis yang mengarahkan tingkah laku seseorang dalam berbagai bidang kehidupan seperti: 1) Bidang politik, termasuk bidang hukum, pertahanan dan keamanaan. 2) Bidang sosial 3) Bidang kebudayaan 4) Bidang keagamaan B. Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup Pancasila dalam kedudukannya sebagai ideologi terbuka, diharapkan mampu menjadi filter untuk menyerap pengaruh perubahan zaman di era globaslisasi ini. Keterbukaan ideologi Pancasila terutama ditujukan dalam penerapan yang berbentuk pola pikir yang dinamis dan konseptual. Ideologi negara merupakan hasil refleksi manusia atas kemampuannya mengadakan distansi (menjaga jarak) dengan dunia kehidupannya. Anatara ideologi dan kenyataan hidup masyarakat terdapat hubungan dialektis, sehingga terjadi pengaruh timbal balik yang terwujud dalam interaksi yang di satu pihak memacu ideologi agar makin realistis dan di lain pihak mendorong masyarakat agar makin mendekati bentuk yang ideal. Ideologi mencerminkan cara berfikir masyarakat dan juga membentuk masyarakat menuju cita-cita. Perbedaan antara ideologi terbuka dan ideologi tertutup:

Ideologi Terbuka Tertutup

Aspek Ciri khas Nilai-nilai dan cita-cita - Nilai-nilai dan citadigali dari kekayaan adat istiadat, budaya dan cita dihasilkan dari pemikiran individu atau kelompok yang berkuasa masyarakat berkorban ideologinya. - Menolak reformasi demi dan

religius masyarakatnya. Menerima reformasi

Hubungan Rakyat dan Penguasa

Penguasa

bertanggung

- Masyarakat

harus

jawab pada masyarakat sebagai pengemban

taat kepada ideologi elite penguasa.

amanah rakyat - Totaliter

C. Ideologi Partikular dan Ideologi Komprehensif Menurut Karl Manheim yang beraliran Mark secara sosiologis ideologi dibedakan menjadi dua yaitu ideologi yang bersifat Partikular dan ideologi yang bersifat Komprehensif.

Ideologi Partikular Komprehensif

Aspek - Nilai-nilai dan cita-cita - Mengakomodasi Ciri khas merupakan suatu nilai-nilai dan citacita yang bersifat tanpa pada tertentu melakukan sosial

keyakinan-keyakinan yang tersusun secara sistematis dan terkait erat tingan tertentu. dengan kelas kepen sosial

menyeluruh berpihak golongan atau

transformasi

secara besar-besaran menuju tertentu. bentuk

Hubungan rakyat dan penguasa

- Negara komunis membela kaum proletar. - Negara liberal membela kebebasan individu.

- Negara mengakomodasi berbagai idealisme yang berkembang dalam masya rakat yang bersifat majemuk seperti Indonesia dengan Ideologi Pancasila.

Menurut Alfian kekuatan ideologi tergantung pada kualitas tiga dimensi yang ada pada ideologi tersebut yaitu :

Dimensi realita, yaitu bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam ideologi tersebut secara riil hidup di dalam serta bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah masyarakat atau bangsanya.

Dimensi idealisme, yaitu bahwa nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme yang memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam praktik kehidupan bersama seharihari.

Dimensi fleksibilitas/dimensi pengembangan, yaitu ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan dan merangsang

pengembangan pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan ideologi bersangkutan tanpa menghilangkan atau mengingkari jati diri yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya.

Dengan demikian Pancasila memenuhi ketiga syarat tersebut sehingga ideologi Pancasila senantiasa hidup, tahan uji dan fleksibel terhadap perubahan jaman dari masa ke masa. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan bangsa Indonesia sebagai Pandangan hidup dan kepribadiannya maka menempatkan Pancasila sebagai ideologi bangsa sekaligus sebagai ideologi negara. Pancasila sebagai ideologi negara memiliki makna : Mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan. Mewujudkan satu azas kerohanian pandangan dunia, pandangan hidup yang harus dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi penerus bangsa, diperjuangkan dan dipertahankan dengan semangat nasionalisme.

Dalam proses Reformasi, MPR melalui sidang istimewa tahun 1998, kembali menegaskan kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam TAP MPR No. XVIII/MPR/1998. Oleh karena

itu segala agenda dalam proses reformasi, yang meliputi rakyat (Sila keempat) juga harus mendasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Reformasi tidak mungkin menyimpang dari nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan , Kerakyatan dan Keadilan Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat reformatif, dinamis dan terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat aktual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya, namun mengeksplisitkan wawasannya secara lebih konkrit, sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan masalahmasalah aktual yang selalu berkembang. D. Pancasila Sebagai Ideologi Nasional Suatu sistem filsafat pada tingkat perkembangan tertentu melahirkan ideologi. Biasanya ideologi lebih mengutamakan asas-asas kehidupan politik dan kenegaraan sebagai satu kehidupan nasional yang esensinya adalah kepemimpinan, kekuasaan dan kelembagaan dengan tujuan kesejahteraan. Secara filosofis, ideologi bersumber pada suatu sistem filsafat dikembangkan dan dilaksanakan oleh suatu ideologi. Berdasarkan asas teoritis demikian, maka nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila adalah falsafah hidup yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Nilai Pancasila yang telah terkristalisasi dianggap sebagai nilai dasar dan puncak (sari-sari) budaya bangsa. Sedemikian mendasarnya nilai-nilai Pancasila dalam menjiwai dan memberikan watak (kepribadian, identitas), pengakuan atas kedudukan Pancasila sebagai filsafat adalah wajar. Sebagai ajaran filsafat, Pancasila mencerminkan nilai dan pandangan mendasar dan hakikat rakyat Indonesia dalam hubungannya dengan : Ketuhanan, Kemanusiaan, Kenegaraan,, Kekeluargaan dan Musyawarah, serta Keadilan Sosial.

Nilai dan fungsi filsafat Pancasila telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Ini berarti, dengan kemerdekaan yang diperoleh bangsa dan negara Indonesia, secara melembaga dan formal, kedudukan dan fungsi Pancasila ditingkatkan. Dari keudukannya sebagai filsafat hidup ditingkatkan menjadi filsafat negara dari kondisi sosio-budaya yang terkristalisasi menjadi nilai filosofis-ideologis yang kontinental (dikukuhkan berdasarkan UndangUndang Dasar 1945) Ideologi nasional erat hubungannya dengan dasar negara. Apabila dasar negara menekankan kepada pengertian negara sebagai perubahan bangsa, maka ideologi nasional lebih menekankan kepada keseluruhan pancaran pondamen kedalam cita-cita yang mengisi perubahan bangsa. Oleh karena itu, ideologi negara dalam arti cita-cita yang menjadi basis bagi suatu sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada hakekatnya merupakan asas kerohanian yang antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. Mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan b. Oleh karena itu mewujudkan suatu asas kerohaniaan, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarisakan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.

2. Hubungan Pancasila Sebagai Ideologi Nasional dengan Ideologi Islam A. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa Sesuai dengan makna negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah kesatuan integral dalam kehidupan bangsa dan negara, maka memiliki sifat kebersamaan, kekeluargaan serta religiusitas. Dalam pengertian inilah maka Negara Pancasila pada hakikatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945, telah memberikan sifat yang khas kepada Negara Kebangsaan Indonesia, yaitu bukan merupakan negara sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara demikian juga bukan merupakan negara agama yaitu negara yang mendasarkan atas agama tertentu. Negara tidak memaksa dan tidak memaksakan agama karena agama adalah merupakan suatu keyakinan bathin yang tercermin dalam hati sanubari dan tidak dapat dipaksakan. Kebebasan beragama dan kebebasan agama adalah merupakan hak asasi manusia yang paling mutlak, karena langsung bersumber pada martabat manusia yang berkedudukan sebagai makhluk pribadi dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu agama bukan pemberian negara atau golongan tetapi hak beragama dan kebebasan beragama merupakan pilihan pribadi manusia dan tanggung jawab pribadinya. Hubungan negara dengan agama menurut Negara Pancasila adalah sebagai berikut : a. b. Negara adalah berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa. c. Tidak ada tempat bagi Atheisme dan Sekulerisme karena hakikatnya manusia berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan. d. Tidak ada tempat pertentangan agama, golongan agama, antar dan inter pemeluk agama serta antar pemeluk agama. e. Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketaqwaan itu bukan hasil paksaan bagi siapapun juga. f. Oleh karena itu harus memberikan toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan agama dan negara. g. Segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara harus sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa terutama normanorma hukum positif maupun norma moral, baik moral negara maupun moral para penyelenggara negara.

h.

Negara pada hakikatnya adalah merupakan . . . . .berkat Rahmat Allah Yang Maha Esa.

B. Butir-Butir Penghayatan Pancasila 1. Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. (3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. (6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. (7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. (2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. (3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. (4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. (5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
10

(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. (8) Berani membela kebenaran dan keadilan. (9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. (10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia (1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. (2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. (3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. (4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. (5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. (6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. (7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. (2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. (3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk

kepentingan bersama. (4) Musyawarah kekeluargaan. untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat

11

(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. (6) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. (7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. (8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. (9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. (10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. (2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. (3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. (4) Menghormati hak orang lain. (5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. (6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. (7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. (8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. (9) Suka bekerja keras. (10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan

dan kesejahteraan bersama.

12

(11)

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang

merata dan berkeadilan sosial.

Berdasarkan butir-butir pancasila di atas, telah diketahui bahwa tidak ada satu butir Pancasila pun yang melanggar Syariat Islam ataupun ajaran agama lain. Lagi pula penghayatan Islam di Indonesia begitu beragam, karena begitu banyaknya sekte-sekte serta paham pemikiran yang berkembang di Indonesia, ada Sunni, Syiah, Salafi, Suffi, lalu jika Islam sebagai ideologi negara, itu sama saja menjerumuskan Islam kedalam perang saudara memperebutkan kekuasaan. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika Islam dicampur adukan dengan kekuasaan, yang terjadi justru perpecahan. Kita tidak boleh menyamakan keadaan sekarang seperti saat Baginda Rasulullah SAW masih ada, dimana saat ini sudah tidak ada lagi sosok yang mampu mempersatukan golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pemikiran, bahkan pada saat kekhalifahan Islam masih berdiripun (Paska kepemimpinan Khulafaur Rasyidin), mereka saling menyerang dan menghancurkan kekhalifahan lawan demi mendapat eksistensi sebagai Amirul Mukminin, walaupun cara yang ditempuhnya justru berlawanan dengan sikap seorang mukmin. Pada dasarnya, Islam dan pancasila adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan sebab keduanya bertujuan mewujudkan perdamaian di muka bumi. Untuk itu perlu ada rumusan dan diplomasi baru guna menjadikan keduanya sebagai ruh bangsa Indonesia. Indonesia yang dapat membentuk

masyarakatnya dapat berbangsa tanpa merasa berdosa kepada Tuhannya, demikian pula dapat beragama tanpa merasa mengkhianati bangsanya. Menjadikan agama untuk mengisi pancasila agar tidak bertentangan secara vertical kepada Tuhan. Yakinlah bahwa pancasila merupakan impelementasi atau turunan dari ajaran Islam melalui ajaran hablun minannas (hubungan kepada sesame manusia). Begitu pula melalui ajaran persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah).

13

Jadi mengamalkan Pancasila adalah bagian dari ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam dan mengamalkan Islam adalah bentuk pengabdian dan kesetiaan kepada bangsa Indonesia. Sebaliknya, melanggar ketentuan Pancasila dapat melanggar nilai-nilai dari ajaran Islam dan tidak melaksanakan Islam adalah pengkhianatan kepada bangsa Indonesia. C. Alasan-alasan Ideologi Pancasila Sesuai dengan Ideologi Agama Islam Pancasila itu sendiri tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dari sila yang pertama sampai sila yang ke lima, satupun tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, malah kedua ideologi ini seakan memiliki korelasi kuat yang tidak dapat terpisahkan. 1. Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam kebebasan berkeyakinan dan berpendapat, Islam tidak memaksa seseorang untuk merubah keyakinannya dan memeluk Islam. Walaupun Islam menyerukan untuk itu, namun seruan kepada Islam adalah satu hal dan memaksa memeluk Islam ialah hal lain. Yang pertama disyariatkan dan yang kedua dilarang: Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl : 125) Allah juga berfirman tentang paksaan : Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat

14

yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah : 256) Salah satu prinsip yang ditetapkan syariat Islam ialah, kita biarkan mereka dan juga agama yang mereka anut. Jadi, pemerintah Islam tidak memusuhi non muslim baik keyakinannya maupun ibadatnya. Seperti halnya tempat-tempat ibadat Yahudi dan Nasrani tetap terpelihara dalam pemerintahan Islam di sepanjang masa, tidak juga mengalami kerusakan, tidak dari kaum Muslimin dan tidak juga dari negara. Bahkan negara melindunginya dan para pemiliknya diperbolehkan melakukan ibadat di tempat itu. Perlindungan fiqh Islam terhadap kebebasan akidah telah mencapai taraf yang kita soalan masuk islamnya salah seorang dari suami isteri yang non muslim, Imam Syafii (pendiri mazhab Syafii dalam fiqh)

mengatakan, tidak boleh menampakkan keislamannya kepada pasangannya. Berbeda dengan mazhab Hanafi yang memperbolehkannya. Imam Syafii beralasan : Sesungguhnya dalam penampakan keislaman ini terdapat (kesan) permintaan masuk Islam kepada mereka (non muslim), padahal kita telah menjamin dengan perjanjian tanggungan untuk tidak memaksa mereka. Jadi Imam Syafii melihat bahwa menampakkan keislaman kepada pasangan yang belum masuk Islam merupakan salah satu bentuk permintaan dan pemaksaan kepadanya untuk masuk Islam, hingga tidak diperbolehkan. Taraf yang begitu tinggi yang telah dicapai oleh fiqh Islam dalam melindungi kebebasan akidah. 2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sila ke-dua ini sesuai dengan ayat Al-Quran: FALA TATTABIUL HAWAA ANTADILUU (QS.An Nisaa 135). Artinya: Maka janganlah kamu mengikuti hawa, hendaklah kamu jadi manusia yang adil. 3. Persatuan Indonesia Sila WAJA ke-tiga Pancasila ini, sesuai WA dengan ayat Al-Quran: LITAAROFU SYU-UUBA QOBAILA

ALNAAKUM

(QS.Alhujrot:13)

15

Artinya: Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. 4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan Perwakilan Sila Pancasila ini memiliki kesesuaian dengan ayat Al-Quran:

WA AFROHUM SYUU ROO BAINAHUM (QS. Asy Syuraa 38) Artinya: Dan perkara mereka dimusyawaratan antara mereka. 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Ayat yang sesuai dengan sila Pancasila ini adalah: INNALLOOHA YAMURUKUM BILADLI WA IKHSAN (QS.An Nahl 90). Artinya: Sesungguhnya Alloh Taala itu menyuruh kamu dengan adil dan baik

16

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan latar belakang, serta pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Pancasila adalah ideologi yang sangat baik untuk diterapkan di negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras dan bahasa. Sehingga jika ideologi Pancasila diganti oleh ideologi yang berlatar belakang agama, akan terjadi ketidaknyamanan bagi rakyat yang memeluk agama di luar agama yang dijadikan ideologi negara tersebut. Dengan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, jika melaksanakannya dengan baik, maka perwujudan untuk menuju negara yang aman dan sejahtera pasti akan terwujud. Terdapatnya korelasi yang jelas antara Pancasila sebagai ideologi nasional Bangsa Indonesia, dengan ideologi Agama Islam. Dimana keduanya adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, sebab keduanya bertujuan mewujudkan perdamaian di muka bumi. Pancasila merupakan impelementasi atau turunan dari ajaran Islam melalui ajaran hablun minannas (hubungan kepada sesame manusia). Begitu pula melalui ajaran persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah). Jadi

mengamalkan Pancasila adalah bagian dari ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam dan mengamalkan Islam adalah bentuk pengabdian dan kesetiaan kepada bangsa Indonesia. Sebaliknya, melanggar ketentuan Pancasila dapat melanggar nilai-nilai dari ajaran Islam dan tidak melaksanakan Islam adalah pengkhianatan kepada bangsa Indonesia.

B. IMPLIKASI Untuk semakin memperkokoh rasa bangga terhadap Pancasila, maka perlu adanya peningkatan pengamalan butir-butir Pancasila khususnya sila ke-1. Salah satunya dengan saling menghargai antar umat beragama.

17

Untuk menjadi sebuah negara Pancasila yang nyaman bagi rakyatnya, diperlukan adanya jaminan keamanan dan kesejahteraan setiap masyarakat yang ada di dalamnya. Khususnya jaminan keamanan dalam melaksanakan kegiatan beribadah.

C. SARAN Untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan memadukannya dengan agama, diperlukan usaha yang cukup keras. Salah satunya kita harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Selain itu, kita juga harus mempunyai kemauan yang keras guna mewujudkan negara Indonesia yang aman, makmur dan nyaman bagi setiap orang yang berada di dalamnya.

18

DAFTAR PUSTAKA Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Agama. Jakarta: PT. Gramedia. Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta: Pancoran Tujuh. Drs.SZS Pangeran alhaj.1984. Pendidikan Pancasila, Cet. 1. Jakarta: Depdikbut Uneversitas Terbuka Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta Al Hikmah, 2007. Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung: CV Penerbit Diponegoro SumberLain: http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/filsafat/index.htm http://www.google.co.idhttp://www.goodgovernancebappenas.go.id/artikel_148.ht m http:// www.teoma.com http:// www.kumpulblogger.com

19