Anda di halaman 1dari 27

PEMBAHASAN

A. Similaritas

Pada bab-bab kita talah membicarakan

mengenai transformasi-tramsformasi yang

mengekalkan antara jarak dua titik, yaitu kelompok transformasi yang berupa isometri. Salah satu sifat yang penting diantaranya adalah hubungan tentang kekongruenan segitiga. Tepatnya jika ABC XYZ, maka ada tepat sebuah isometri yang mematakan A ke X, B ke

Y, dan C ke Z. Selanjutnya sebagai akibat sifat isometri pada kekongruenan segitiga tersebut, kita telah membahas mengenai dua himpunan disebut kongruen apabila ada sebuah isometri yang memetakan anggota-anggota himpunan yang satu ke anggota-anggota yang satu lagi. Jenis hubungan lain diantara dua himpunan dalam geometri Euclides adalah

kesebangunan. Dua buah poligon disebut sebangun jika sisi yang bersesuaian adalah sebanding dan sudut-sudut yang bersesuaian kongruen. Kekongruenan merupakan isometri, sedangkan kesebangunan merupakan suatu transformasi, tetapi belum tentu berupa isometri. Transformasi ini selanjutnya akan disebut kesebangunan. Definisi 8.1 Transformasi T disebut kesebangunan jika dan hanya jika ada konstanta k>0 sehingga untuk setiap titik P dan Q, PQ = k (PQ) dengan P = T(P) dan Q = T(Q). Gambar 8.1 memberi gambaran bahwa suatu pemetaan yang merupakan kesebangunan dengan k = 2, dimana P = T(P), Q = T(Q) dan R = T(R). Sehingga PQ = 2(PQ) dan PR = 2(PR).

T(P)= P

Q Q

Gambar 8.1

Pada kesebangunan yang mempunyai nilai k = 1, maka kesebangunan tersebut akan berupa isometri, sebab PQ = PQ. Dengan demikian jelaslah bahwa isometri bagian dari kesebangunan. Sehingga untuk memperoleh sebuah isometri tidak dengan sendirinya dapat diturunkan dari kesebangunan. Tetapi sifat-sifat yang berlaku pada isometri otomatis berlaku pula pada kesebangunan. Oleh kaarena itu, jika T suatu kesebangunan maka pada T berlaku teorema dasar isometri sebagai berikut: Teorema 8.1 Jika T kesebangunan, maka : 1. T memetakan garis pada garis 2. T mengawetkan ukuran sudut 3. T mengawetkan kesejajaran Bukti :
1) T memetakan garis pada garis. Andaikan g garis yang memuat titik A dan Bdengan A

B. Misal A = T(A) dan B = T(B). Akan dibuktikan bahwa T(g) =

dengan

T(g) = { y I y = T(x), dengan membuktikan : a. T(g) AB

x g }. Untuk membuktikan dua garis itu sama, kita lakukan

Ambil P T(g), berarti ada P g, sehingga T(P) = P. Kasus 1. andaikan P antara A dan B, maka AP + BP = AB. Sedangkan disini didefinisikan A = T(A), B = T(B), P = T(P), maka AP = k(AP) dan PB = k(PB). Sehingga AB + PB = k(AP) + k(PB) = k(AP + PB) = k(AB).
A P B g

T(g)

Gambar 8.2 Menurut definisi kesebangunan AB = k(AB), maka AP + PB = AB. Hal ini berarti P antara A dan B. Jadi A, P, B segaris. Dengan demikian P AB. Jadi T(g) AB. Mengapa ? Untuk kasus 2, yaitu A antara B dan P, sedangkan kasus 3, yaitu B antara A dan P dapat anda coba sendiri. Apakah akan diperoleh kesimpulan bahwa ketiga titik, yatiu : P, A dan B segaris? Memang benar akan diperoleh kesimpulan berikut. Bila ketiga titik tersebut segaris maka berarti P garis yang melalui A dan B atau P Mengapa? b. T(g) .

Ambil Q

. Oleh karena T suatu transformasi, maka pasti T surjektif. Artinya

ada Q sehingga Q = T(Q). Andaikan Q antara A dan B, maka AQ + QB = AB. Andaikan Q g, maka dengan sifat pertidaksamaan segitiga kita peroleh AQ +

QB > AB. Kedua ruas kalikan dengan k > 0, maka kita peroleh : k(AQ + QB) > k(AB) k(AQ) + k(QB) > k(AB) AQ + QB > AB
Q

T(g)

Gambar 8.3 Ini betentangan dengan akibat Q antara A dan B, yaitu AQ + QB = AB. Dengan demikian pengandaian Q Karena setiap mengambil Q berarti juga garis. 2) T mengawetkan ukuran sudut Untuk membuktikan bahwa T mengawetkan ukuran sudut, kita andaikan peta dari sudut ABC t adalah sudut ABCatau T ( maka , dan ABC) = , ABC. Menurut 1) di atas, , dan . Oleh karena g tidak benar, jadi haruslah Q g atau Q T(g). kita berhasil menunjukkan bahwa Q T(g), maka atau peta suatu garis oleh T adalah

T(g). Maka terbuktilah T(g) =

berturut-turut adalah garis

itu,peta ABColeh T adalah juga segitiga, yaitu ABC. Karena T kesebangunan, maka : AB = k(AB), AC = k(AB), dan BC = k(BC)
B A A B

Gambar 8.4 Dengan menggunakan torema kesebangunan yang unsur-unsurnya (sisi, sisi. sisi). Maka kita simpulkan ABC ABC. Akibatnya ABC = m ABC atau T ( ABC ) = T ABC. ABC ABC atau m

Gambar 8.5 3) T mengawetkan kesejajaran Misal diketahui g // h , T(g) = g, T(h) = h. Akan dibuktikan bahwa g // h. Andaikan g // h, misal X = g berarti Y h , maka X g dan X h. Untuk X g , maka

g sehingga T(Y) = X .

Untuk X

h, kama berarti

h, sehingga T(Z) =X.dari dua hal tersebut kita

peroleh T(Y) = T(Z). Karena T kesebangunan berarti T transformasi , maka T injektif. Oleh karena itu, dari T(Y) = T(Z), maka Y = Z . karena Y maka Z g h. Atau Y = g g, Z h. , dan Y = Z,

h. Ini berarti g dan h berpotongan (kontradiksi dengan

yang diketahui bahwa g // h). Oleh karena itu pengandaian bahwa g // htidak benar. Jadi haruslah g // h. Teorema 8.2 (Teorema Akibat) Kesebangunan mengawetkan ketegaklurusan dua buah garis. Bukti :

Ambil garis k, l, m sehingga antara sudut k dan m adalah 90 ke A. Menurut teorema 8.1 bagian 2) karena T kesebangunan, maka T mengawetkan ukuran sudut. Karena T(k) = k dan T(m) = m dan sudut antara k dan m adalah 90 maka sudut antara k dan m adalah 90 atau k
k m. Jadi mengawetkan ketegaklurusan dua buah garis.

k m

Gambar 8.6

Teorema 8.3 Jika T dan L adalah kesebangunan , maka TL adalah kesebangunan. Bukti : Menurut definisi karena T dan L kesebangunan maka T dan L adalah transformasi. Kita bahwa komposisi dua buah transformasi adalah transformasi. Karena T dan L transformasi maka TL adalah transformasi. Akan kita tunjkkan TL adalah kesebangunan , artinya ada skalar > 0 sehingga untuk setiap pasang titik P dan Q, PQ = k(PQ) dengan P = TL(P) dan Q = TL(Q). Misal L(P) = P dan L(Q) = Q. Karena L kesebangunan maka PQ = t (PQ) dengan t > 0. Kita tahu bahwa TL(P) = T [L(P)] = T (P) = P dan TL(Q) = T [L(Q)] = T(Q) = Q.

Karena T kesebangunan maka PQ = 1(PQ) dengan 1> 0. Dari PQ = t (PQ) dan PQ = 1(PQ) , maka kita peroleh hubungan PQ = 1[t(PQ)] atau PQ = 1 t(PQ). Karena 1>0 dan t>0, maka 1t > 0. Mengapa ? dengan demikian TL adalah kesebangunan (menurut definisi). B. Dilatasi Pada topik isometri , pembicaran kita tidak lepas dari pencerminan, sebab pecerminan merupakan topik dasar untuk membangun isometri yang lainnya, seperti translasi, rotasi, dan refleksi geser. Torema utamanya menyatakan , bahwa setiap isometri dapat dibentuk oleh paling banyak komposisi dari tiga pencerinan. Bagaimana tentang kebangunan ? apakah ada topik dasar untuk membangun kesebangunan? Tentu jawabnya ada, yaitu yang akan kita pelajari berikut. Definisi 8.2 Diketahui sebuah titik A dan bilangan positif r, pemetaan yang pusat A dengan faktor skala r disebut dilatasi (dinotasikan DA,r ) jika dan hanya jika untuk setiap titik P di v berlaku : a) Jika P = A, maka DA,r (P) = A
b) Jika P

A, maka DA,r (P) = P dengan P adalah titik pada sinar

, sehingga

=r =r(

( ).

). Pernyataan ini ekuivalen dengan P adalah titik yang mengakibatkan

Dari definisi di atas jelas bahwa untuk setiap titik A dan bilangan positif r yang diketahui, maka selalu ada sebuah dilatasi yang dinotasikan dengan DA,r . Mungkin anda bertanya apakah dilatasi merupakan transformasi? Jawabnya benar bahwa dilatasi merupakan suatu transformasi. Untuk menunjukkannya kita lakukan dengan cara memperlihatkan bahwa DA,r surjektif dan DA,r injektif. 1. Memperlihatkan bahwa DA,r surjektif. Untuk memperlihatkan bahwa DA,r surjektif kita harus memperlihatkan bahwa setiap titik pada bidang mempunyai tepat satu peta oleh dilatasi DA,r.

Ambil Y

V. Harus diperlihatkan bahwa Y mempunyai prapeta. Misal X

sehinga AX

= (AY). Dengan menggunakan definisi dilatasi DA,r , bila X peta dari X, maka DA,r (X) = X.

Sehingga AX = r (AX). AX = r( AY) atau AX =AY.

Karena A, X dan Y segaris, maka X = Y


A X Y

Gambar 8.7 Sehingga kita peroleh DA,r (X) = Y. Ini berarti Y memiliki prapeta, yaitu X. Jadi D A,r adalah surjektif. 2. Menunjukkan bahwa DA,r injektif. Ambil X dan Y dua titik di v dengan X Y. Harus diuktikan bahwa D A,r (X) DA,r (Y). Andaikan X = Y dengan X = D A,r (X) dan Y = DA,r (Y). XY = 0. (sebab X = Y). Menurut definisi dilatasi XY= r (XY). Karena XY = 0, maka r (XY) = 0 atau XY = 0, sebab r 0. Ini berakibat X =Y (kontradiksi dengan yang kita ambil, yaitu X Y). Jadi pengandaian bahwa X = Y tidak benar. Oleh karena itu haruslah X Y atau D A,r (X) DA,r (Y). Jadi DA,r injektif. Karena DA,r surjektif dan injektif, maka DA,r adalah transformasi.

X=DA,r

(x)

Y Y

Gambar 8.8

Sifat dilatasi yang

akan kita pelajari, bahwa dilatasi adalah kesebangunan. Untuk

memperlihatkan hal tersebut, maka kita ambil dua titik sebarang di bidang, misal P dan Q. Garus diperlihatkan PQ = r (PQ) dengan r> 0, P = DA,r (P), dan Q = DA,r(Q). Ada beberapa kasus yang mungkin terjadi yaitu : 1) jika salah satu titik merupakan dilatasi. Misal P =A , Q A (ini sama dengan Q= A, , P A). P = A = A dan Q = D A,r(Q), sehingga PQ = AQ = r(AQ)=r(PQ).

A=P=A=P

Gambar 8.9 2) P A dan Q Andaikan P antara A dan Q. Maka menurut aksioma uruta AP + PQ = AQ. Dari persamaan tersebut kita memperoleh hubungan bahwa AP < AQ. Karena r > 0, maka pertidaksamaan di atas busa di ubah menjadi : r(AP) < r (AQ) atau AP < AQ. Mengapa ?
A P Q P Q

Ganbar 8. 10 Berdasarkan teorema urutan , maka P terletak di antara A dan Q , sehingga PQ = AQ AP (lihat gambar). PQ = r(AQ) r(AP) = r (AQ - AP) = r(PQ). Anda coba sendiri bila Q terletak di antara A dan P . apakah diperoleh PQ = r (PQ)? 3) jika A, P dan Q tidak segaris. Untuk kasus ini kita tentukan dahulu peta-peta titik A, P dan Q yaitu DA,r(A) = A, DA,r(P) = P dan DA,r(Q) = Q. Sehingga AP =r(AP) dan AQ = r(AQ).
P P

Gambar 8.11

Kita bentuk perbandingan berikut

= r. APQ APQ. Akibat

Dengan menggunakan teorema kesebangunan (ss, sd, ss), maka

kesebangunan tersebut maka sisi-sisi kedua segitiga yang seletak adalah sebanding. Sehingga kita peroleh : = = r atau = r atau PQ = r(PQ).

Karena titik P dan Q yang di ambil di atas sebarang , maka berarti berlaku PQ = r(PQ) untuk semua titik P dan Q pada bidang. Jadi DA,r adalah kesebangunan. Berdasarkan uraian dua hal di atas maka terbuktilah teorema berikut : Teorema 8.4 Setiap dilatasi adalah kesebangunan Karena kesebangunan memetakan garis menjadi garis, mengekalkan kesejajaran dan ketegaklurusan, maka dilatasi juga mempunyai sifat tersebut. Selain sifat tersebut dilatasi mempunyai sifat seperti pada teorema berikut : Teorema 8.5 Jika s garis maka s peta garis s oleh dilatasi DA,r, maka : a) s = s , jika A s dan b) s // s, jika A Bukti : Akan dibuktikan s s, dan s s. s.

a) jika A s (pusat dilatasi pada s) ambil X s, maka ada Y s sehingga AX = r(AY). Akibatnya menurut definisi dilatasi, maka berarti DA,r(Y) = X,karena Y s , maka DA,r(Y) DA,r (s)= s. Jadi X s.karena dengan mengambil X s kita berhasil membuktikan X s maka berarti s s.

Ambil X s = D A,r(s). Maka berarti ada Y s sehingga DA,r(Y) = X. Ini berarti AX = r(AY) dan X, A, Y segaris. Karena A s da Y s, maka juga X s. Jadi s s, maka s =s. s. Karena s s dan s

b) A

s.

Amil P s, dan Q s dengan Q P. DA,r(P) = P, sehinga AP = r(AP) DA,r(Q) = Q sehingga AQ = r(AQ). Kita bentuk perbandingan berikut : = =r
Q Q

P A S

Gambar 8.12 Menurut teorema kesebangunan, maka APQ APQ (s, sd, s). Akibatnya APQ atau s // APQ

. Karena P s dan Q s, maka P sdan Q s. Melalui titik P dan Q . Sehingga s// = s. Jadi s // s.

hanya ada sebuah garis yaitu s =

Pada modul terdahulu telah diperlihatkan bahwa setiap isometri dapat dinyatakan sebagai komposisi paling banyak tiga pencerminan. Juga hanya ada tepat satu isometri yang memetakan ABC ke XYZ, jika ABC XYZ. pada bagian ini akan diperlihatkan

kemunngkinan dari dasar-dasar isometri tersebut dalam similaritas(kesebangunan),seperti teorema beikut : Teorema 8.6 (Teorema kesebangunan) Jika ABC XYZ maka ada tepat satu kesebangunan T sehingga T(A) = X , T(B) = Y dan T(C) = Z.

Bukti : Akan dibuktikan dua hal yaitu : 1. keberadaan (eksistensi) kesebangunan itu dan 2. ketunggalan kesebangunan tersebut. 1. Untuk memperlihatkan eksistensi kesebangunannya, kita gunakan yang diketahui yaitu ABC XYZ. Maka ada k > 0, sehingga XY= kAB, YZ = kBC, dan XZ = kAC. Buatlah dilatasi DA,k sehingga DA,k (ABC) = ABC.

Gambar 8.21 Maka AB = kAB = XY, BC = kBC = YZ, dan AC= kAC = XZ. Berdasarkan teorema kekongruenan, (s,s,s) maka ABC M ( C) = Z. Jika T adalah komposisi antara M dan DA,K ,maka T = MDA,K memetakan A ke X , B ke Y, dan C ke Z dengan ; T ( A ) = M DA, K ( A ) = M ( A) = X T ( B ) = M DA, K ( B ) = M ( B) = Y T ( C ) = M DA, K ( C ) = M ( C) = Z Karena T adalah komposisi antara dilatasi dan isometri, maka T adalah kesebangunan. Jadi terbuktilah eksistensikesebangunan tersebut. XYZ. ( A) = X, M ( B) = Y, dan

2. Untuk membuktikan ketunggalan kesebangunan yang memetakan

kita misalkan ada dua kesebangunan, yaitu S dan T sehingga dan Akan dibuktikan bahwa S = T. Ambil titik P sembarang . akan diperlihatkan S ( P ) = T ( P ). Misalkan S (P) = P dan T(P) = P. Adaikan P P.

Oleh isometri S, maka AP = XP = kAP. Oleh isometri T, maka AP = XP = k AP. Dari dua hal di atas kita peroleh hubungan XP = XP. Ini berarti bahwa X pada sumbu . Dengan cara yang sama dapat diperlihatkan bahwa Y pada sumbu . segaris . atau X, Y, Z tak segaris.

dan Z pada sumbu

Jadi X, Y, Z terletak pada sumbu

Ini kontradiksi dengan X, Y, Z membentuk Jadi pengandaian P Jadi S (P) = T (P).

P tak benar. Oleh karena itu haruslah P = P.

Karena P diambil sembarang, maka berarti berlaku untuk setiap Pyang diambil sehingga S (P) = T (P), titik di bidang . jadi T = S.

Teorema 8. 7 Setiap kesebangunan dapat dinytakan sebagai komposisi antara dilatasi dan paling banyak tiga buah pencerminan (sebuah Isometri) Bukti : Andaikan ada tiga titik yang tak sehgaris A, B, dan C. Misal T adalah kesebangunan dengan T (A) =A , T (B) = B dan T (C) = C. Ini berarti ada k > 0sehingga AB = kAB, BC = kBC, dan AC = kAC. Buat dilatasi dengan pusat A dan faktor skala k sehingga atau DA,K .

Maka AB = kAB = AB BC = kBC = BC AC = kAC = AC

Gambar 8. 22 Menurut teorema kekongruenan (s-s-s), maka .

Menurut teorema isometri, maka ada tepat satu isometri M yang memetakan . jadi Sehingga M DA,K (A) = M (A) = A M DA,K (B) = M (B) = B M DA,K (C) = M (C) = C Jadi M DA,K . Jadi M DA,K adalah kesebangunan yang diminta. .

Sedangkan menurut teorema dasar isometri dapat dinyatakan komposisi paling banyak tiga pencerminan. Jadi kesebangunan M DA,K merupakan komposisi dilatasi dengan paling banyak pencerminan. Suatu kesebangunan dapat digunakan untuk menentukan sebangun atau tidaknya dua himpunan yang diketahui. Sepertihalnya pada isometri bahwa dua himpunan disebut kongruen bila ada isometri yang memetakan satu himpunan ke himpunan lain. Berikut adalah definisi dua himpunan sebangun. Definisi 8.3

Dua himpunan A dan B disebut sebangun dinotasikan A

B jika dan hanya jika ada

kesebangunan yang memetakan himpunan A ke himpunan B. Contoh ; Jika T kesebangunan yang memetakan maka tentukan kordinat T (P) ! , seperti pada gambar dan P (2, -2),

E(0,3)

D(0,2)

B(3,0)

Gambar 8.23 Penyelesaian Diketahui bahwa T (C) = F. AB = dan DE = . Karena T , seperti pada gambar, artinya T(A) = D, T(B) = E, dan

kesebangunan, maka DE = k(AB) atau k =1/3. Misal T(P) = P dengan P(x,y). Akan ditentukan koordinat P. Dari T (A) = D dan T (P) = P, maka DP = k(AP)

Sehingga kita peroleh

Jadi

KOMPOSISI DILATASI
Definisi 1 Diketahui sebuah titik A dan sebuah bilangan positif r. Suatu dilatasi D dengan factor skala r dan pusat A adalah padanan yang bersifat : 1. D(A) = A sehingga AP = r(AP). (Ini setara

2. Jika P A, P = D(P) adalah titik pada sinar

dengan mengatakan bahwa

=r

Dilatasi dengan pusat A dan factor skala r ini dilambangkan dengan DA, r . Komposisi Transformasi dengan Dilatasi Andaikan P = (x, y) dan andaikan ada dilatasi DO , r . kita hendak mencari koordinatkoordinat P = D O ,r (P). P terletak pada sinar dan y=ry . Sehingga P= (rx, ry) Sekarang andaikan A = (a,b)dan diketahui dilasi D A ,r (P) = P sedangkan P =(x,y) . Apakah hubungan antara x , y, x dan y ? Untuk itu kita lakukan translasi GAO , kemudian dilatasi D O, r disusul dengan translasi GOA maka dapat ditulis DA, r = GOA DO,r GAO sehingga OP= rOP . Jadi jika P = (x , y) maka x =rx

Jadi untuk P = (x,y) kita peroleh berturut-turut : DA, r [ (x,y) = GOA DO,r GAO [ (x, y) ] = GoA Do, r [(x-a , y-b) = GOA [r (x-a), r( y-b) ] = [r (x-a)+ a, r( y-b)+ b ] =[rx + a (1-a), ry + b (1-r)] Dengan demikian dapat dikatakan Teorema 14.2 Apabila DA, r sebuah dilatasi dengan A = (a, b ) dan P = ( x,y ), maka DA, r (P) = [ rx + a (1-r) , ry + b (1-r) ] Sebaliknya padanan T(P) = (rx + c , ry + d) untuk P =(x,y) dengan r > 0 dan r 1 adalah suatu transformasi dan merupakan suatu dilatasi. Pusat dilatasi ini dapat ditentukan sebagai berikut. Kita tulis

T(P) = ( rx +

( 1-r ), ry +

( 1-r )

Dengan demikian pusat dilatasi tersebut adalah titik

A=( Teorema 14.3

Hasil kali dua dilatasi tersebut adalah sebuah dilatasi, Bukti: Andaikan diketahui dilasi DA, r dan DB, r. Kita pilih sebuah koordinat orthogonal dengan + b (1-s), sy] jadi DB, s , DA, r (P) = DB,s [(rx, ry)] sebagai sumbu-x dan titik asal kita pilih di

A. Andaikan B = (b, 0) dan A = (0,0). Jika P = (x,y) maka DA, r (P) = (rx,ry) dan DB, r (P) = [sx

= [s (rx) + b (1-s), s (ry)] Apabila rs 1, dapat kita tulis

DB, s , DA, r (P) = [ (rs) x +

(1 rs) , (rs) y ]

Jadi hasil kali DB, s , Da, r adalah suatu dilasi dengan pusat

C=(

,0)

Sehingga hasil kali dilasi berpusat di C dengan factor skala rs. Jika rs = 1 dan A B maka b 0 ; jika P = (x,y) diperoleh DB, s , DA, r (P) = [x + b (1 s) , y ] Ini berarti bahwa DB, s , DA, r adalah suatu translasi dengan arah yang sejajar dengan garis Akibat I : Jadi jika DA, r dan DB, s dengan A B maka DB, s , DA, r adalah sebuah dilatasi D c, rs dengan C apabila rs 1. . .

Apabila rs = 1 maka hasil dilasi itu adalah suatu translasi yang sejajar dengan

Akibat II : Jika diketahui DA, r dan DA, s maka DA,s DA,r adalah satu dilasi dengan skala factor rs, jika rs 1 Apabila rs = 1 maka hasil kali ini adalah transformasi identitas. Akibat III : Untuk sebuah dilasi DA, r berlaku DA, r -1 = D A, 1/r Apabila diketahui dua dilasi DA, r dan DB, s , akan ditentukan pusat dilasi hasil kali dua dilasi tersebut, Misalkan P = DB, s dan DA, r (P) = Dc, rs (P) menurut uraian di atas C adalah titik potong dan dan C . Jadi C

, di sini P dapat dipilih sebarang, kemudian P.

P1

Di atas telah kita buktikan, bahwa hasil kali dua dilatasi adalah suatu dilasi atau suatu translasi. Apabila suatu dilasi dikalikan dengan sebuah refleksi atau rotasi maka hasil kalinya bukan suatu dilasi atau isometri. Mengenai ini dapat dituangkan sebuah.$ Teorema 14.4 Hasil kali sebuah dilasi dan sebuah isometric adalah sebuah kesebangunan, Bukti : sebuah isometri adalah sebuah kesebangunan dengan skala 1. Hasil kali dua kesebangunan adalah kesebangunan. Dengan demikian maka hasil kali suatu dilasi dan suatu isometri adalah suatu kesebangunan. Akibat : Jadi pada umumnya hasil kali suatu refleksi dan suatu dilasi atau hasil kali suatu rotasi dan suatu dilasi adalah sebuah kesebangunan. Contoh : Buktikan bahwa garis-garis berat sebuah segitiga melalui satu titik.
Bukti A Y X B M C

Andaikan M titik tengah sehingga AX = 2(XN) dan Y

dan N titik tengah

. Andaikan X titik pada

sehingga BY = 2 (YM).

Akan dibuktikan bahwa Y = X. berturut-turut diperoleh X = DA, 2/3 (N), N = DB, (C) Jadi X = DA, 2/3 . DB, (C) Sedangkan D-1A, 2/3 = D A, 2/3 dan D-1B, = DB,2 Jadi C = DB, 2 DA, 2/3 (X) Selanjutnya Y = DB, 2/3 DA, (C), maka Y = DB, 2/3 Da, DB,2DA,3/2(X) DB,2/3 = DB, DB,2 DA, 3/2 = DA, DA,3 Maka Y = (DB, 1/3 DB.2) DA,1/2 DB,2 (DA, DA,3)(X) = DB, 1/3 (DB,2DA, )(DB,2 DA, ) DA,3 (X) = DB, 1/3 SBA SBA DA,3 (X) = DB, 1/3 S2BA DA,3 (X) = DB, 1/3 (DB,3 DA, 1/3)DA,3 (X) = ((DB, 1/3 DB,3)(DA, 1/3 DA,3) (X) =X Dengan cara serupa, jika Z 2ZK, maka Z = X. , K titik tengah AB sedangkan CZ = 2/3 CK atau CZ =

KOMPOSISI ROTASI
Contoh soal : 1. Diberikan dua titik Kemudian tentukan Penyelesaian : Lukis titik sehingga

Ambil

. Buat garis

sehingga sudut dari

adalah

buat garis I melalui B, sehingga sudut dari s ke I adalah Titik C merupakan titik potong dari I dan t.

B s

2. Diberikan dua titik A dan B, sehingga Penyelesaian : Ambil garis adalah

Tentukan C dan

. Buat garis t melalui A, sehingga sudut dari t ke s dan garis I melalui B, sehingga sudut dari s ke I adalah l

. Maka, C merupakan titik potong t dan l.

A B

3. Diberikan dua titik A dan B, dan sehingga

Tentukan C

Penyelesaian : Ambil garis adalah adalah . Buat garis t melalui A, sehingga sudut dari t ke s dan garis l melalui G sehingga sudut dari s ke l

4. Ambil A (-1,0), B (2,0), Tentukan koordinat titik C dan Penyelesaian : A (-1,0), B (2,0) maka sehingga sudut dari t ke s adalah adalah . Oleh sebab itu, Garis l melalui B, sehingga sudut dari s ke l adalah adalah Akibatnya koefisien arah dari l sebagai garis s. Garis t melalui A, Akibatnya koefisien arah dari t sehingga

Sehingga persamaan

C perpotongan antara t dan l maka koordinat C didapat dari : dan

Diperoleh :

Jadi C

maka Perhatikan lukisan berikut : t A (1,0) O B (2,0) l X= s

5. Buktikan teorema berikut : 1) Apabila R suatu refleksi geser, maka R2 suatu translasi. 2) Apabila R suatu refleksi geser, maka R tidak memiliki titik-titik invariant Penyelesaian : 1) Akan dibuktikan jika R suatu refleksi geser, maka R2 suatu translasi. Andaikan terdapat garis s dengan A, B s dan terdapat garis g dengan p g. maka berlaku GABMs(p) = p dan GABMs(p) = p adalah suatu tanslasi.

Ms(p) B s A

Jadi terbukti bahwa R2 adalah suatu translasi. 2) Penyelesaian : Akan dibuktikan jika R suatu refleksi geser maka, R tidak memiliki titik-titik invariant. Titik invariant adalah titik yang jika ditransformasi tidak memiliki prapeta kecuali dirinya sendiri. Jika melihat gambar diatas maka p jika direfleksi geserkan akan menjadi p sehingga terbukti bahwa misal R suatu refleksi geser maka tidak memiliki titik invariant. Karena setiap R akan memiliki prapeta berupa R.

6. jika t sumbu X sebuah sistem koordinat ortogonal, A = (2,3) dan B = (1,6)adalah titiktitik yang diketahui. Tentukan peta-peta titik tersebut oleh suatu refleksi geser M t G AB . tentukan pula persamaan sumbu refleksi geser tersebut.
B 9 B

6 3

A A

2 9 6 B(0 A(1,-

X = t