Anda di halaman 1dari 5

Birrul Walidain

Berbakti kepada Orang Tua



BAB 1 PENDAHULUAN
Orang tua merupakan orang yang paling berjasa dan berperan dalam kehidupan manusia
terutama dalam hal pendidikan tanpa perantara orang tua manusia tidak akan ada dan tidak akan
mengenal arti kehidupan didunia karena orang tualah yang pertama kali mengenalkan dan
mengajarkan kepada manusia akan arti kehidupan.
Betapa berjasanya orang tua dalam kehidupan manusia maka sudah sepatutnya manusia
untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Bentuk berbakti kepada orang tua bisa berupa patuh
dan taat pada perintahnya selama masih dalam kebaikan, bertutur kata yang sopan, menjaga
nama baik orang tua dan lain sebaginya.
Dalam Al-Quran banyak ayat-ayat yang menerangkan perintah untuk berbakti kepada
orang tua diantaranya adalah surat Al-Ahqaf dan surat Al-Luqman.

BAB 2 PERMASALAHAN

BAB 3 PEMBAHASAN
A. Pengertian Birrul Walidain Menurut Bahasa dan Istilah
Istilah birrul walidain terdiri dari kata al-birrru dan al-walidain. Al-birru artinya
kebajikan dan al-walidain artinya dua orang tua atau ibu dan bapak. Jadi, birrul walidain
adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua. Semakna dengan birrul walidain, Al-
Qur'an menggunakan istilah ihsan, seperti yang terdapat dalam surat Al-Isra' ayat 23 :








"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
(QS. Al-Isra' : 23)
B. Kedudukan Birrul Walidain
Birrul Walidain menempati kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Ada
beberapa alasan yang membuktikan hal tersebut, antara lain :
1) Perintah ihsan kepada ibu dan bapak diletakkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an langsung
sesudah perintah beribadah hanya kepada-Nya semata-mata atau sesudah larangan
mempersekutukan-Nya. Allah berfirman :




"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.
dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya
kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-'Ankabut : 8)
2) Allah meletakkan perintah berterima kasih kepada orang tua langsung sesudah perintah
bersyukur kepada Allah.




"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang
ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman : 14)

3) Rasulullah SAW. meletakkan birrul walidain sebagai amalan kedua yang terbaik setelah
shalat tepat pada waktunya.
"Diriwayatkan dari Abu 'Abdurrrahman 'Abdullah ibn Mas'ud ra., dia berkata : Aku
bertanya kepada Nabi SAW. : 'Apa amalan yang paling disukai oleh Allah?' Beliau
menjawab : 'Shalat tepat pada waktunya.' Aku bertanya lagi : Kemudian apa?' Beliau
menjawab : 'Birrul walidain.' Kemudian aku bertanya lagi : 'Seterusnya apa?' Beliau
menjawab : 'Jihad fii Sabilillah' ." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
4) Rasulullah SAW. meletakkan 'uququl walidain (durhaka kepada kedua orang tua) sebagai
dosa besar kedua setelah syirik.
5) Rasulullah SAW. mengaitkan keridhaan dan kemarahan Allah dengan keridhaan dan
kemarahan orang tua. Beliau bersabda :
"Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah ada pada
kemarahan orang tua." (HR. Tirmidzi)
Demikianlah Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat
istimewa, sehingga berbuat baik kepada keduanya menempati posisi yang sangat mulia.
Sebaliknya, durhaka kepada keduanya juga menempati posisi yang sangat hina. Secara
khusus Allah mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam
mengandung, menyusui, merawat, dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak
mengandung dan melahirkan, tetapi ia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing,
melindungi, membesarkan, dan mendidik anaknya hingga mampu mandiri, bahkan sampai
waktu yang tidak terbatas.
Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar, normal, dan logis kalau seorang anak
dituntut untuk berbuat kebaikan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua dan dilarang keras
untuk mendurhakai keduanya.

C. Bentuk Birrul Walidain
Banyak cara bagi seorang anak untuk dapat mewujudkan birrul walidain tersebut, di
antaranya :
- Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah
pendidikan, pekerjaan, maupun jodoh, selama keinginan dan saran-saran itu sesuai
dengan ajaran Islam. Apabila bertentangan dengan ajaran Islam, seorang anak tidak
memiliki kewajiban untuk mematuhinya.
- Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh terima kasih dan rasa kasih
sayang atas jasa-jasa keduanya yang tidak mungkin bisa dinilai dengan apapun. Banyak
cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua, antara lain memanggilnya dengan
panggilan yang menunjukkan hormat, berbicara dengan lemah lembut, tidak
mengucapkan kata-kata kasar (apalagi jika keduanya telah berusia lanjut), berpamitan
ketika hendak keluar rumah, memberi kabar tentang keadaan kita dan menanyakan
keadaan keduanya ketika berjauhan. Allah berfirman :
E`) O}4Ul4C EE4gN 4OE:^-
.E-4 u E-Eg E >
.E+= l]q 4 E-OOgu+> ~4
E_- LO~ VC@O ^g@
"... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra : 23)
- Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil (finansial). Rasulullah SAW. menjelaskan
bahwa betapapun banyaknya seorang anak mengeluarkan uang untuk membantu orang
tua tidak akan sebanding dengan jasa yang telah diberikan orang tua.
) (
"Tidak dapat seorang anak membalas budi kebaikan ayahnya, kecuali jika
mendapatkan ayahnya tertawan menjadi hamba sahaya, kemudian ditebus dan
dimerdekakannya." (HR. Muslim)
Rasulullah SAW. juga menjelaskan bahwa orang tua (terlebih ibu) harus menjadi
prioritas utama untuk dibantu dibandingkan dengan orang lain. Hal tersebut diungkapkan
beliau saat menjawab pertanyaan seorang sahabat :
: : : : : : :
) (
"Siapakah yang paling berhak dibantu dengan sebaik-baiknya? Jawab Nabi :
'Ibumu.' Kemudian siapa? Jawab Nabi : 'Ibumu.' Kemudian siapa? Jawab Nabi : 'Ibumu.'
Lalu siapa lagi? Jawab Nabi : 'Bapakmu.'" (HR. Bukhari Muslim)
- Mendoakan ibu dan bapak semoga diberi ampunan dan rahmat oleh Allah. Doa Nabi Nuh
as. dalam surat Nuh ayat 28, yaitu :
pO Og^N- Oj OO4).4Og4 ...
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan ibu bapakku" (QS. Nuh : 28)
;*gu=-4 E_ EE4LE_ ]e~.-
=}g` gOE;OO- ~4 pO
E_uEOO- EE O)+4O+4O
-LOO= ^gj
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan
ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil'." (QS. Al-Isra : 24)
- Setelah orang tua meninggal dunia, birrul walidain masih bisa diteruskan dengan cara :
Mengurus jenazah keduanya dengan sebaik-baiknya.
Melunasi hutang-hutangnya.
Melaksanakan wasiatnya.
Meneruskan silaturrahim yang dibinanya di waktu keduanya hidup.
Memuliakan sahabat-sahabatnya.
Selalu mendoakan dan memohonkan ampunan baginya.

D. m