Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EPISPADIA

MAKALAH disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik V A Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember

oleh Suhariyati Haidar Dwi Pratiwi Frandita Eldiansyah Nuriyah Halida Rilla Kartika S. NIM 112310101001 NIM 112310101012 NIM 112310101014 NIM 112310101050 NIM 112310101058

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

PRAKATA Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Epispadia. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik VA pada Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik VA yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Terima kasih pula kepada teman-teman yang secara ikhlas mengerjakan tugas ini dengan semangat dan kerja sama yang baik. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, maka kami menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Jember, September 2013 Penulis

ii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL..................................................................................... PRAKATA.................................................................................................... BAB 1. PENDAHULUAN............................................................................ 1.1 Latar Belakang........................................................................ 1.2 Tujuan...................................................................................... 1.3 Manfaat.................................................................................... BAB 2. TINJAUAN TEORI........................................................................ 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 Definisi.................................................................................... Epidemiologi.......................................................................... Etiologi................................................................................... Klasifikasi............................................................................... Tanda dan Gejala.................................................................. Patofisiologi............................................................................ Komplikasi & Prognosis....................................................... Pemeriksaan Diagnostik....................................................... Penatalaksanaan.................................................................... i ii 1 1 1 2 3 3 4 4 4 5 5 6 7 7 8 9

DAFTAR ISI................................................................................................. iii

2.10 Pencegahan............................................................................ BAB 3. PATHWAYS...................................................................................

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN........................................................ 10 4.1 Pengkajian............................................................................... 10 4.2 Diagnosa Keperawatan........................................................... 15 4.3 Perencanaan............................................................................. 16 4.4 Implementasi........................................................................... 25 4.5 Evaluasi.................................................................................... 28 BAB 5. PENUTUP........................................................................................ 30

iii

5.1 Kesimpulan............................................................................... 30 5.2 Saran.......................................................................................... 30 DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Sistem perkemihan merupakan sistem yang penting untuk membuang sisasisa metabolisme makanan yang dihasilkan oleh tubuh terutama senyawa nitrogen seperti urea dan kreatinin, bahan asing, dan produk sisa. Sisa-sisa metabolisme dikeluarkan oleh ginjal dalam bentuk urin. Urin kemudian akan turun melewati ureter menuju kandung kemih untuk disimpan sementara dan akhirnya secara periodik akan dikeluarkan melalui uretra. Kelainan pada alat kelamin merupakan salah satu masalah yang memerlukan perhatian khusus. Secara fisiologis organ tersebut memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai saluran pembuangan urin dan juga berfungsi sebagai organ seksual. Apabila terdapat kelainan pada organ tersebut, dapat dipastikan bahwa fungsi organ tersebut tidak dapat berjalan optimal. Salah satu kelainan pada alat genital adalah epispadia. Epispadia merupakan kelainan kongenital berupa tidak adanya dinding uretra bagian atas. Kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering terjadi pada laki-laki. Insiden epispadia yaitu sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki. Walaupun insidensi epispadia terbilang jarang, namun penting bagi mahasiswa keperawatan untuk mempelajari konsep penyakit dan asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien epispadia. Berdasarkan latar belakang tersebut, kelompok kami membahas konsep penyakit dan asuhan keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien dengan epispadia dalam makalah ini. 1.2 Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Menjelaskan konsep dasar penyakit epispadia pada pasien dewasa. 2. Menjelaskan konsep asuhan keperawatan pasien dengan epispadia.

1.3 Manfaat Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik V B. 2. Menambah perbendaharaan karya tulis ilmiah pada Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember. 3. Menambah wawasan kepada mahasiswa jurusan kesehatan khususnya mahasiswa keperawatan. 4. Melatih mahasiswa dalam menyusun dan membuat karya tulis ilmiah.

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Epispadia adalah suatu keadaan dimana meatus uretra terletak pada permukaan dorsal penis (Swartz, 1995). Epispadia adalah kelainan letak lubang uretra kongenital ke sisi dorsal penis, kejadiannya lebih sedikit dibanding hipospadia (Corwin, 2009). Epispadia adalah meatus uretra tidak meluas ke ujung penis karena tidak adanya dinding dorsal uretra (Gruendemann, 2005). Epispadia adalah suatu anomali kongenital yaitu meatus uretra terletak pada permukaan dorsal penis (Price, 2005). Berdasarkan beberapa pengertian epispadia menurut beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa epispadia adalah suatu anomali kongenital yaitu kelainan letak lubang uretra ke sisi dorsal penis, tidak meluas ke ujung penis karena tidak adanya dinding dorsal uretra.

Gambar 2.1 Epispadia

2.2 Epidemiologi Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki dan 1 dari 450.000 perempuan. Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomali saluran kemih. Inkontinensia urine timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari spingter urinarius (Price, 2005). 2.3 Etiologi Penyebab dari epispadia, antara lain : 1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria) atau dapat juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Selain itu, enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. 2. Genetik atau idiopatik terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. 3. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. 2.4 Klasifikasi Epispadia diklasifikam berdasarkan letak meatus kemih di sepanjang batang penis (Price, 2005): 1. Epispadia glandular (pada glans bagian dorsal) Epispadia glandular adalah malformasi terbatas pada kelenjar, meatus terletak pada permukaan, alur dari meatus di puncak kepala penis. Ini adalah jenis epispadias kurang sering dan lebih mudah diperbaiki.

2. Epispadias penis (antara simfisis pubis dan sulkus koronarius) Epispadias penis adalah derajat pemendekan lebih besar dengan meatus uretra terletak di titik variabel antara kelenjar dan simfisis pubis. 3. Epispadias penopubis (pada permukaan antara penis dan pubis) Epispadias penopubis adalah varian yang lebih parah dan lebih sering. Uretra terbuka sepanjang perpanjangan seluruh hingga leher kandung kemih yang lebar dan pendek.

2.5 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala dari epispadia (Price, 2005), antara lain: 1. Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal 2. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri 3. Meatus uretra meluas dan perluasan alur dorsal dari meatus terletak di atas glans 4. Prepusium menggantung dari sisi ventral penis 5. Terdapat penis yang melengkung ke arah dorsal, tampak jelas pada saat ereksi 6. Penis pipih dan kecil dan mungkin akan melengkung ke dorsal akibat adanya chordae 7. Terdapat lekukan pada ujung penis 8. Inkontinesia urin timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius. 2.6 Patofisiologi Epispadia merupakan kelainan kongenital pada bayi laki-laki ataupun perempuan karena suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon juga memicu terjadinya epistasia dimana hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria)

atau karena reseptor hormon androgen sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon eandrogen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. Keadaan epispadia atau letak lubang uretra kongenital ke sisi dorsal penis menyebabkan kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri (Corwin, 2009). 2.7 Komplikasi dan Prognosis Komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat epispadia (Corwin, 2009), yaitu: 1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee-nya parah, maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan. 2. Pada epispadia, apabila lubang uretra di dorsalnya luas, maka dapat terjadi ekstrofi (pemajanan melalui kulit) kandung kemih. Komplikasi pasca operasi epispadia: 1. Edema/ pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom/kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. 2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosisrambut dalam uretra, yang dapat mengakibat infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas 3. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%. 4. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari riliskorde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artificial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.

5. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. 2.8 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik untuk epispadia, yaitu: 1. Radiologis (IVP) 2. USG sistem kemih-kelamin. 3. Epispadia biasanya diperbaiki melalui pembedahan. 2.9 Penatalaksanaan Medis Tujuan dari penatalaksanaan bedah dari epispadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal (Behrman, Kliegman, Arwin, 2000). Selain itu perbaikan dengan pembedahan dilakukan untuk memperbaiki inkontinensia, membuang chordee, dan memperluas uretra ke glans (Price, 2005). Ada beberapa tahap pembedahan yang dialakukan untuk penatalaksanaan epispadia : a. One stage Uretroplasty Adalah teknik operasi sederhana yang sering digunakan, terutam untuk epispadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. b. Operasi epispadia 2 tahap Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunneling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing)nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran kencing buatan/uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien.

2.10 Pencegahan Pencegahan epispadia dapat dilakukan dengan mencegah adannya pemaparan lingkugan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma psikis saat wanita dalam keadaan hamil. Karena mengingat etiologi dari epispadia yang merupakan kelainan congenital berkaitan dengan sekresi hormone, genetik dan lingkungan yang menyebabkan pembentukan meatus uretra pada janin abnormal.

BAB 3. PATHWAYS Idiopatik Genetik : kelainan kromosom Lingkungan: obat, zat kimia, radiasi, dan infeksi Ketidak seimbangan hormon estrogen saat hamil

Mutasi gen sehingga ekspresi gen tidak terjadi

Sel struktur genital di janin kekurangan androgen

Gagalnya sintesis androgen

Produksi androgen turun

Proliferasi sel tidak adekuat dan defisiensi jaringan organ kelamin tidak sempurna

Malformasi kongenital

Gangguan citra tubuh

pertumbuhan meatus uretra abnormal (dorsal penis/epispadia)

Gangguan saat ejakulasi

Ansietas

Pembedahan

Epispadia phenopubis

Luka Gangguan disfungsi seksual Efek anastesi hipersalivasi Terputusnya kontinuitas jaringan Pemasangan kateter

Bersihan Jalan nafas tidak efektif

Penumpukan sekret di jalan nafas

Nyeri akut

Terpajan lingkungan luar

Gangguan eliminasi urin

Resiko tinggi infeksi

10

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian A. Identitas pasien Iedntitas pasien terdiri dari Nama Umur :: Anak dengan epispadia biasanya ditemukan sejak awal kelahiran Jenis kelamin : Kebanyakan terjadi pada laki-laki Pendidikan : Untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan keluarga pasien tengtang masalah kesehatan yang di alami anak. Pendidikan juga dapat menjadi penyebab seperti pengetahuan ibu tentang obat-obat yang dikonsumsi selama kehamilan Agama Alamat :: Adanya pemaparan lingkugan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma psikis saat wanita dalam keadaan hamil Diagnosa Medis : Epispadia B. Riwayat kesehatan 1. Keluhan utama pasien atau alasan utama mengapa ia datang ke rumah sakit. Pasien datang karena mengeluh BAK keluar dari atas. 2. Riwayat kesehatan sekarang Sebelum operasi: Pasien mengeluh sejak lahir lubang penis berada di di atas, bila pasien BAK pancaran urin tidak keluar dari ujung penis melainkan dari atas,

11

saat BAK pasien tidak menangis, warna urin kuning jernih tidak ada darah dan tidak ada demam Sesudah operasi: Adanya rasa nyeri: kaji lokasi (pasien mengeluh sejak lahir lubang penis berada di atas, bila pasien BAK pancaran urin tidak keluar dari ujung penis melainkan dari atas), karakter, durasi, dan hubungannya dengan urinasi biasanya karena luka pembedahan; faktor-faktor yang memicu rasa nyeri dan yang meringankannya. 3. Riwayat kesehatan masa lalu Kaji adanya gangguan hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria) atau dapat juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada terutama saat kehamilan ibu. 4. Riwayat kesehatan keluarga Kaji adanya riwayat penyakit ginjal atau kandung kemih dalam keluarga, seperti adanya faktor genetik terjadi karena gagalnya sintesis androgen yang diderita keluarga. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengkode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. C. Pengkajian Keperawatan 1. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan Pada umumnya tidak terjadi gangguan pada pemeliharaan kesehatan dikarenakan epispadia. namun biasanya yang terganggu saat akan melakukan BAK saja. 2. Pola Nutrisi / Metabolik Pada dasarnya pasien tidak mengalami gangguan pola nutrisi / metabolik. Nafsu makan pasien tidak mengalami penurunan. 3. Pola Eliminasi

12

Pada dasarnya pasien tidak mengalami gangguan pola eliminasi. hanya saja ketika buang air kecil, urinnya akan memancar ke atas. Namun pada jenis epispadia phenopubic itu baisanya terjadi kebocoran urin karena leher kandung kemih tidak menutup dengan sempurna. 4. Pola Aktivitas dan Latihan Pasien lebih suka beraktivitas didalam rumah. Pada umumnya aktivitas dan latihan pasien tidak begitu terganggu. 5. Pola Tidur dan Istirahat Pasien dapat istirahat dan tidur dengan tenang 6. Pola Kognitif dan Perseptual Lubang penis berada di di atas mempengaruhi perasaan pasien. 7. Pola Persepsi Diri Pasien mengungkapkan persepsi yang mencerminkan perubahan pandangan tentang tubuhnya karena lubang penis berada di di atas. umumnya pasien akan merasa malu dengan kedaan dirinya. 8. Pola Seksual dan Reproduksi Terjadi perubahan dalam mencapai kepuasan seks (umumnya diakibatkan karena gangguan saat penetrasi dan ejakulasi saat berhubungan seksual), perubahan minat terhadap diri sendiri, persepsi keterbatasan akibat lubang penis yang berada di atas. 9. Pola Peran dan Hubungan Pada pasien epispadia biasanya tidak terganggu namun akan biasanya terganggu dalam berhubungan dengan orang lain karena keadaannya 10. Pola Manajemen Koping-Stress Pasien terlihat cemas saat mau dilakukan operasi. adanya rasa takut sebelum dilakukan pembedahan. 11. Sistem Nilai dan Keyakinan

13

Pada pasien epispadia tidak ada gangguan pada system nilai dan keyakinan. D. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum Keadaan umum: baik Derajat kesadaran : compos mentis Derajat gizi : kesan gizi cukup 2. Tanda-tanda Vital Tekanan Darah Sebelum pembedahan: .>120/80 mmHg Sesudah pembedahan: normal (120/80mmHg) Nadi Sebelum pembedahan: > 100 x/menit Sesudah pembedahan: normal (60-100 x/menit) Frekuensi Pernafasan Sebelum pembedahan: 16-20 x/menit Sesudah pembedahan: > 24 x/menit Suhu : normal (36,5-37,5 oC) a. Kulit Kulit b. Kepala Bentuk normal, rambut kering (-), rambut warna hitam, sukar dicabut. c. Wajah Odema (-), wajah orang tua (-) d. Mata Cekung (-/-), Oedema palpebra (-/-), Odema periorbita (-/-), konjungtiva anemis (-/-),sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm) e. Hidung putih kecoklatan, kering, wujud kelainan kulit (-), hiperpigmentasi (-)

14

Sebelum operasi: Napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-) Sesudah operasi: Napas cuping hidung (+), sekret (-/-), darah (-/-) f. Mulut Mukosa basah (+), sianosis (-), pucat (-), kering (-) g. Telinga Daun telinga dalam batas normal, sekret (-) h. Tenggorok Sebelum operasi: uvula di tengah, sekret (-) Sesudah operasi: uvula di tengah, sekret (+) i. Leher Llimfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak membesar,gerak bebas j. Toraks Bentuk : normochest, retraksi (-), gerakan dinding dada simetris Cor Inspeksi : iktus kordis tidak tampak Palpasi : tidak terjadi kardiomegali Perkusi : pekak Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri (normal) Palpasi : Fremitus raba dada kanan = kiri (normal) Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) Suara tambahan : (-/-) k. Abdomen Inspeksi : simetris Auskultasi : bising usus (+) normal Perkusi : tympani Palpasi : hepar dan lien tidak teraba l. Genitalia dan Anus :

Sebelum operasi: lubang penis berada di dorsal penis

15

Sesudah operasi: lubang penis pada posisi normal m. Rektum : Saat diinspeksi tidak ada tanda-tanda hemoroid, tidak tampak tanda-tanda tumor dan tidak terdapat jejas.

4.2 Diagnosa Keperawatan 4.2.1 Sebelum pembedahan 1. 2. 3. 4. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan anatomis meatus uretra abnormal Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kelainan anatomis, pertumbuhan meatus uretra yang abnormal di dorsal Gangguan disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan anatomis pertumbuhan meatus uretra yang abnormal di dorsal Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan

4.2.2 Sesudah pembedahan 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan nafas 2. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan setelah pembedahan 3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter, adanya luka pembedahan

16

17

4.3 Perencanaan Sebelum pembedahan Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi 1. Gangguan eliminasi berhubungan anatomis abnormal meatus urin uretra Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor keadaan bladder setiap 2 keperawatan dapat teratasi Kriteria hasil: Pola eliminasi kembali normal 2x24 jam jam. 2. Tingkatkan aktivitas dengan kolaborasi dokter/fisioterapi 3. Kolaborasi dalam bladder training 4. Hindari faktor pencetus inkontinensia urine seperti cemas 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan dan kateterisasi. 6. Jelaskan tentang : pengobatan kateter, penyebab tindakan lainnya gangguan eliminasi urin pasien Rasional 1. Membantu mencegah distensi atau komplikasi 2. Membantu 3. Menguatkan pelvis. 4. Menguatkan pelvis. 5. Mengatasi penyebab 6. Meningkatkan pengetahuan kooperatif. dan diharapkan pasien lebih faktor otot dasar mencegah otot dasar distensi atau komplikasi

dengan

18

2. Gangguan berhubungan kelainan

citra

tubuh dengan anatomis,

Setelah

dilakukan

tindakan

1. Kaji secara verbal dan nonverbal respon pasien terhadap tubuhnya 2. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit 3. Dorong pasien mengungkapkan perasaannya 4. Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil

1. Mengetahui sejauh mana persepsi pasien terhadap kondisi tubuhnya. 2. Memberikan informasi pada pasien tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit. 3. Apabila pasien mengungkapkan perasaannya dengan leluasa, pasien dapat mengurangi masalah yang dialami sehingga perawat dapat membantu mengatasi masalah pasien, dan pasien dapat menerima kenyataan tentang abnormalitas

keperawatan selama 2x24 jam gangguan body image pasien teratasi dengan kriteria hasil: a. Body image positif b. Mampu mengidentifikasi secara kekuatan personal c. Mendiskripsikan tubuh d. Mempertahankan interaksi sosial faktual perubahan fungsi

pertumbuhan meatus uretra yang abnormal di dorsal

19

tubunya 4. Pasien akan merasa bahwa dirinya masih dapat diterima dalam kelompok kecilnya dan melatih rasa percaya diri pasien untuk bersosialisasi lagi dengan 3. Gangguan disfungsi seksual berhubungan perubahan dengan anatomis Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam disfungsi seksual pasien akan dapat teratasi Kriteria hasil: Pasien disfugsi teratasi Hubungan seksual kembali normal mengungkapkan seksualnya dpat 1. Bantu pasien untuk kelompoknya 1. Untuk membantu

mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya usia. 2. Berikan pendidikan kesehatan tentang penurunan fungsi seksual 3. Dorong untuk berdiskusi dengan pasangan disfungsi dengannya tentang seksual perubahan yang terjadi

mengidentifikasi perubahan fungsi seksual 2. meningkatnya pengetahuan pasien akan membantu 3. untuk mengatasai mendapatkan maslaah dsfungsi seksual pengertian dari pasangan masing-masing

pertumbuhan meatus uretra yang abnormal di dorsal

20

4. Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain 4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam pasien tidak lagi mengeluh cemas Kriteria hasilnya: TTV dalam batas normal Pasien terlihat tenang 1. Bina hubungan saling percaya 2. Libatkan keluarga 3. Jelaskan semua prosedur 4. Berikan reinfocement untuk menggunakan sumber koping yang efektif

4. untuk mengatasi

membantu masalah

disfungsi seksual kien 1. Untuk membuat pasien merasa nyaman. 2. Agar pasien merasa tenang. 3. Agar pasien dapat mengerti mengenai prosedur pembedahan. 4. Sumber koping yg efektif dapat membuat kecemasan pasien menurun

dengan proses pembedahan

21

Sesudah Pembedahan Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Kolaborasi 1. Bersihan jalan napas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi, kedalaman, upaya pernapasan efektif berhubungan dengan keperawatan, pasien menunjukkan penumpukan sekret berlebih keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria hasil : a. pasien akan dapat melakukan batuk efektif b. pasien efektif c. pasien akan menunjukkan jalan nafas yang paten d. pasien akan mempunyai irama pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas akan sekret dapat secara mengeluarkan suara tambahan 3. Posisikan memaksimalkan fowler) 4. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam dan minum hangat 5. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk melakukan fisioterapi dada jika bronkodilator pasien ventilasi untuk Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rasional dan 1. Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada terjadi pada area konsodidasi trales 3. Posisi semifowler dapat membantu memaksimalkan pernafasan hangat dapat dan memobilisasi

2. Auskultasi suara nafas, catat adanya

(semi 2. Bunyi nafas bronchial dapat

perlu, dengan farmasi terkait obat 4. Cairan

mengeluarkan sekret, nafas

22

abnormal e. pasien akan mampu dan mengidentifikasikan penyebab.

dalam oksigen. 5. Obat spasme diberikan

dapat

membantu asupan menurunkan dengan untuk batuk dan

meningkatkan untuk

mencegah faktor yang menjadi

bronchi

mobilisasi sekret, analgesik memperbaiki menurunkan 2. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan Setelah dilakukan nyeri, tindakan dengan 1. Pantau karakteristik nyeri, 2. Periksa gambar lengkap terhadap nyeri dari pasien termasuk lokasi dan intensitas lamanya, kualitas (dangkal atau menyebar) nyeri, penyebaran 3. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera 4. Bantu melakukan teknik relaksasi ketidaknyamanan. 1. Variasi penampilan terjadi sebagai dan

keperawatan, pasien tidak mengalami kriteria hasil: a. Mampu mengontrol nyeri (tahu mampu tehnik penyebab menggunakan nonfarmakologi

perilaku pasien karena nyeri temuan pengkajian subjektif digambarkan nyeri dan oleh harus pasien. dengan

dan 2. Nyeri sebagai pengalaman

Bantu pasien untuk menilai

untuk mengurangi nyeri,

23

mencari bantuan) b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang nyeri c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang e. Tanda vital dalam rentang normal (kesadaran: komposmetis, TD: 120/80 mmHg, nadi: 20x/menit, RR: 20x/menit, suhu: 36,5-37,5C) dengan menggunakan manajemen

misalnya nafas dalam perlahan perilaku distraksi, visualisasi dan bimbingan imajinasi 5. Periksa tanda-tanda vital sebelum atau sesudah penggunaan anastesi 6. Berikan indikasi obat analgesik sesuai

membandingkan pengalaman nyeri

dengan

3. Penundaan pelaporan nyeri menghambat nyeri/ peningkatan peredaran memerlukan dosis obat.

Selain itu nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang system syaraf simpatis, kerusakan mengakibatkan lanjut dan

mengganggu diagnostik serta hilangnya nyeri 4. Membantu dalam penurunan persepsi/respon nyeri 5. Memberikan kontrol situasi, meningkatkan positif. pernafasan dapat perilaku terjadi Hipotensi/depresi

24

sebagai narkotik

akibat

pemberian proses

6. Membantu 3. Resiko berhubungan pemasangan kateter tinggi infeksi Setelah dilakukan tindakan 1. 2. 3. 4. kemampuan timbulnya 5. Pertahankan teknik aseptif saat perawatan luka Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan Tingkatkan intake nutrisi Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi

penyembuhan pasien 1. Untuk mengurangi resiko infeksi 2. Menjaga mikroorganisme menkontaminasi luka 3. Meningkatkan daya imun 4. Agar dapat mendeteksi secara dini tentang tandatanda gejala infeksi dan perpindahan agar tidak mikroorganisme

dengan keperawatan selama 2x24 jam pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil: a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi b. Menunjukkan untuk infeksi c. Jumlah leukosit dalam batas normal d. Menunjukkan perilaku hidup sehat mencegah

25

4.4 Implementasi 4.4.1 Sebelum pembedahan Waktu urin Implementasi 1. Memonitor keadaan bladder setiap 2 jam. 2. Meningkatkan dengan 3. Mengkolaborasi bladder training 4. Hindari cemas 5. Kolaborasi dengan dokter dalam 6. Jelaskan pengobatan, penyebab, Gangguan tubuh berhubungan dengan anatomis, pertumbuhan meatus dorsal uretra yang abnormal di kelainan citra lainnya. 1. Mengkaji secara pengobatan dan kateterisasi. tentang kateter, tindakan verbal faktor pencetus inkontinensia urine seperti dokter/fisioterapi dalam aktivitas kolaborasi Paraf

Diagnosa Gangguan eliminasi berhubungan dengan anatomis meatus abnormal uretra

dan nonverbal respon klien terhadap tubuhnya 2. Memonitor 3. Menjelaskan pengobatan, penyakit 4. Memberikan klien dorongan mengungkapkan frekuensi tentang perawatan, mengkritik dirinya

kemajuan dan prognosis

26

perasaannya 5. Mengidentifikasi pengurangan melalui bantu 6. Memfasilitasi kelompok kecil 4.4.2 Sesudah pembedahan Waktu Implementasi 1. mengkaji frekuensi, kedalaman, pernapasan 2. mengauskultasi tambahan 3. memposisikan untuk pasien memaksimalkan pasien suara nafas, catat adanya suara dan upaya Paraf kontak dengan individu lain dalam pemakaian arti alat kecemasan

Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekret napas akumulasi yang

berlebih di jalan

ventilasi (semi fowler) 4. menganjurkan untuk istirahat dan napas dalam dan minum hangat 5. berkolaborasi fisioterapis melakukan farmasi Nyeri berhubungan dengan akut dengan untuk fisioterapi obat

dada jika perlu, dengan terkait bronkodilator 1. Memantau karakteristik nyeri, catatan laporan verbal, petunjuk nonverbal dan

27

terputusnya kontinuitas jaringan setelah pembedahan

respon hemodinamik. 2. Mengmbil gambar lengkap terhadap nyeri dari pasien termasuk intensitas kualitas( lokasi dangkal dan atau lamanya,

menyebar) dan penyebaran. 3. Mengnjurkan pasien untuk melaporkan segera. 4. Membantu melakukan teknik relaksasi misalnya : nafas dalam distraksi. 5. Periksa sebelum 6. Berikan tanda-tanda atau obat vital sesudah analgesik perlahan perilaku nyeri dengan

penggunaan obat narkotik. sesuai indikasi

28

4.5

Evaluasi Evaluasi dilakukan sesuai dengan respon pasien terhadap tindakan yang

diberikan berikut contoh evaluasi pada diagnosa utama. 4.5.1 Sebelum pembedahan Diagnosa Gangguan urin dengan meatus eliminasi anatomis uretra berhubungan Waktu dalam BAK O : urin output dalam rentang normal A : masalah teratasi. P : hentikan intervensi keperawatan. S : pasien mengatakan sudah tidak malu akan kondisinya O : pasien tampak mulai berinteraksi kembali dengan orang sekitar A : masalah teratasi. P : hentikan intervensi keperawatan. Evaluasi S : pasien mengatakan sudah lancar

abnormal Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kelainan anatomis, pertumbuhan meatus uretra yang abnormal di dorsal 4.5.2 Sesudah pembedahan Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak berlebih napas Nyeri terputusnya kontinuitas jaringan akut efektif di b.d jalan akumulasi sekret yang Waktu

Evaluasi S : pasien mengatakan sudah tidak sesak. O: tidak ada retraksi dada, tidak ada bunyi nafas tambahan. A : masalah teratasi. P : hentikan intervensi keperawatan. S : pasien mengatakan sudah tidak nyeri O: skala nyeri menurun. A : masalah teratasi.

berhubungan dengan

29

setelah pembedahan

P : hentikan intervensi keperawatan.

30

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Epispadia adalah suatu keadaan dimana meatus uretra terletak pada permukaan dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki dan 1 dari 450.000 perempuan. Penyebab dari epispadia yaitu gangguan dan ketidakseimbangan hormon, genetik, serta lingkungan. Tanda dan gejala epispadia yaitu uretra terbuka pada saat lahir, kesulitan berkemih, meatus uretra meluas, prepusium menggantung dari sisi ventral penis, penis melengkung ke arah dorsal saat ereksi, penis pipih dan kecil akibat chordae, lekukan pada ujung penis, Inkontinesia urin. 5.2 Saran a. mahasiswa Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tentang penyakit epispadia baik mengenai pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinis maupun pencegahan serta penerapan asuhan keperawatannya. b. Pada Dosen Dosen diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa apabila terdapat mahasiswa yang kurang paham tentang penyakit epispadia dan memberikan tambahan materi atau penjelaskan apabila materi yang diberikan kurang lengkap atau kurang jelas. Pada

31

DAFTAR PUSTAKA Behrman, Richard E, Kliegman, Robert M, Arwin, Ann M. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Ed. 15. Jakarta: EGC. Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku. Ed.3. Jakarta: EGC. Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif. Vol.2. Jakarta: EGC. Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Ed.6. Jakarta: EGC. Swartz, Mark II. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: EGC.