Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN Dendrologi menurut Harlow dan Harrar (1969) didefinisikan sebagai: Ilmu yang mempelajari tentang pohon

atau ilmu yang mempelajari taksonomi tumbuhan berkayu termasuk pohon, perdu dan liana. Taksonomi mempelajari klasifikasi, tatanama (nomenclature) dan identifikasi obyek-obyek yang bersifat alami. Berkait dengan sifatnya yang alami maka dendrologi tidak sekedar mempelajari hal-hal yang bersifat morfologis tetapi juga mempelajari penyebarannya. Dengan demikian habitat suatu pohon dan lingkup ilmu pengetahuan yang

dipelajari meliputi lapangan dan laboratorium. Dengan acuan definisi dendrologi seperti di atas, maka ada beberapa istilah yang perlu dikenal definisinya terlebih dahulu agar batasannya menjadi jelas dan tidak ipertentangkan pada bahasan-bahasan selanjutnya. Beberapa istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut: Klasifikasi: penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan (Kamus Bahasa Indonesia). Klasifikasi: penggolongan menurut jenis (A Glossary of Botanic Terms) Nomenclature: tata nama: perangkat peraturan penamaan dalam ilmu (botani) beserta kumpulan nama yang dihasilkannya (Kamus Bahasa Indonesia). Identifikasi: proses pengenalan/penentuan karakteristik obyek (alami) (Kamus Bahasa Indonesia). Pohon: tumbuhan yang mempunyai akar, batang dan tajuk yng jelas dengan tinggi minimum 5 m (Dengler) Pohon: tumbuhan berkayu yang mempunyai satu batang pokok yang jelas serta tajuk yang bentuknya jelask, yang tingginya tidak kurang dari 8 feet (Baker) Pohon: tumbuhan berkayu yang berumur tahunan dengan batang utama tunggal yang jelas (PROSEA)

Perdu: tumbuhan berkayu yang bercabang-cabang tumbuh rendah dekat dengan permukaan tanah dan tidak mempunyai batang yang tegak (Kamus Bahasa Indonesia). Perdu: tumbuhan berkayu yang memiliki struktur lebih kecil dari pada pohon (A Glossary of Botanic Terms) Perdu: tumbuhan berkayu yang bercabang dari pangkalnya, semua cabang setara (PROSEA) Herba: tumbuhan (pendek, kecil) yang mempunyai batang basah karena mengandung banyak air dan tidak mempunyai kayu (Kamus Bahasa Indonesia). Herba: tumbuhan yang tidak memiliki batang berkayu di atas permukan tanah. Liana: tumbuhan berkayu yang hidup dengan cara melilit batang tumbuhan lainnya. Ruang lingkup Dendrologi Mengenal karakteristik/sifat morfologi pohon: habitus, batang, tajuk, kulit batang, kayu, getah, daun, bunga, buah, biji. Persebaran jenis Habitat/ekologi Manfaat: komersil/non komersil Anatomi kayu Mengenal klasifikasi tumbuhan Kunci determinasi. Koleksi Herbarium

Peranan dendrologi dalam kehutanan Setiap ilmu yang dipelajari pastilah memiliki arti bagi kehidupan manusia di muka bumi ini, begitu juga dengan dendrologi. Meskipun secara keilmuan dendrologi dekat sekali dengan ilmu murni seperti halnya taksonomi, namun ternyata dendrologi memiliki arti sangat penting di bidang kehutanan.

Pengenalan jenis, dengan pengetahuan tentang ciri-ciri morfologis yang telah dipelajari dalam ilmu ini, maka dendrologi sangat berperan dalam menentukan antara lain jenis-jenis pohon komersial dan non komersial.

Ekologi, misalnya untuk dapat memilih jenis yang tepat untuk dikembangkan dalam suatu kawasan, erat kaitannya dengan pengetahuan apakah habitat kawasan tersebut sesuai dengan sifat/kebutuhan satu jenis pohon untuk tumbuh dan berkembang.

Inventarisasi/cruising, kegiatan ini sangat mengandalkan kemampuan seseorang untuk mengenali setiap jenis pohon yang ada di wilayah kerjanya agar dapat mengetahui potensinya secara tepat.

Pemuliaan, hasil yang optimal pada kegiatan pemuliaan akan dicapai apabila pengetahuan tentang jenis dan sifat-sifatnya dapat diketahui dengan pasti. Kesalahan yang fatal dapat terjadi jika misalnya terjadi kekeliruan mengenal jenis tanaman sehingga 2 tanaman yang akan disilangkan berbeda karakter genetiknya (contoh: berbeda genus atau species).

Biosistematik,

ilmu ini antara lain mengembangkan pengetahuan

tentang taksonomi secara molekuler. Untuk bisa mempelajarinya dengan baik dan benar maka pengetahuan tentang anatomi tumbuhan sedikit banyak diperlukan, selain itu juga diperlukan pengetahuan tentang populasi suatu jenis (contoh) dan sebagainya. Landscape, untuk dapat menata areal dengan baik diperlukan pengetahuan tentang arsitektur pohon yang meliputi bentuk percabangan, struktur batang, bentuk tajuk dan sebagainya. Konservasi, pengetahuan tentang jenis sangat diperlukan misalnya saja pada suatu kasus pencarian jenis-jenis tumbuhan langka untuk dikonservasi. dan masih banyak lagi contoh tentang peranan dendrologi.

BAB II MORFOLOGI BAGIAN VEGETATIF Daun (folium) adalah bagian dari tubuh tumbuhan yang merupakan alat vegetatif berguna untuk menegakkan kehidupan tumbuhan tersebut. Fungsi daun dapat dibedakan menjadi 4 yaitu: 1. Alat fotosintesa/pengolahan zat-zat makanan 2. Alat transpirasi/penguapan air 3. Alat respirasi/pernafasan 4. Alat resorpsi/pengambilan zat-zat makanan Berdasarkan bagian-bagiannya, daun dapat dibagi menjadi 2 yaitu daun lengkap dan daun tidak lengkap. Daun dikatakan lengkap apabila memiliki helaian, tangkai dan pelepah. Contohnya pada bambu (Bambusa sp.). Sedangkan jika ada salah satu atau lebih bagian daun yang tidak ada maka daun tersebut dikatakan tidak lengkap. Daun tidak lengkap dapat berupa daun yang hanya memiliki: 1. Tangkai dan helaian saja, contoh: Meranti (Shorea spp.) 2. Pelepah dan helaian saja, contoh: Jagung (Zea mays) 3. Helaian tanpa pelepah dan tangkai, contoh: Tempuyung ( Sonchus oleraceus) 4. Tangkai saja, umumnya bila terjadi hal ini tangkai menjadi pipih dan melebar sehingga menyerupai helaian. Daun semu seperti ini sering disebut dengan filodia. Contoh: Acacia spp.

Selain ketiga bagian di atas, daun pada tumbuhan seringkali memiliki alat tambahan atau alat pelengkap yang dapat berupa: 1. Daun penumpu (stipula), biasanya berupa sepasang organ yang menyerupai daun kecil terletak di pangkal tangkai daun, berfungsi untuk melindungi kuncup daun. 2. Selaput bumbung (ochrea), berupa selaput tipis yang menutup (melingkari) pangkal ruas batang, fungsinya hampir sama dengan daun penumpu yaitu melindungi kuncup daun 3. Lidah-lidah (ligula) selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas antara pelepah dan helaian daun, fungsinya untuk mencegah air hujan agar tidak masuk ke dalam ketiak daun. Umumnya lidah-lidah ini ada pada tumbuhan rumput (Poaceae). Berdasarkan letaknya daun penumpu dapat dibedakan menjadi: 1. Daun penumpu bebas (stipulae liberae) 2. Daun penumpu melekat pada kanan kiri pangkal daun (stipulae adnatae) 3. Daun penumpu berlekatan menjadi satu berada di dalam ketiak daun (stipula intrapetiolaris) 4. Daun penumpu berlekatan menjadi satu, berada berhadapan (melingkari) dengan tangkai daun (stipula antidroma) 5. Daun penumpu antar tangkai daun (stipula interpetiolaris) A. Daun tunggal Daun tunggal adalah daun yang hanya memiliki satu helaian pada satu tangkai daun. Sifat-sifat daun tunggal yang harus diperhatikan adalah: 1. Bentuk daun/bangun daun 2. Ujung daun 3. Pangkal daun 4. Tepi helaian daun 5. Pertulangan daun 6. Daging/ketebalan daun 7. Permukaan helaian daun 5

1. Bentuk/bangun daun a. Bagian terlebar di tengah helaian daun 1. Bulat, jika rasio panjang : lebar = 1 : 1 2. Perisai (peltatus), bentuk daun bulat tetapi ujung tangkai daun menancap pada bagian tengah helaian daun 3. Jorong (ovalis/elliptic), jika rasio panjang : lebar = 1,5 2 : 1 4. Memanjang (oblong), jika rasio panjang : lebar = 2,5 3 : 1 5. Lanset, jika rasio panjang : lebar = 3 < 5 : 1

b. Bagian terlebar di bawah tengah helaian daun 1. Bulat telur (ovatus), contoh: Eucalyptus deglupta 2. Segi tiga (triangularis), yaitu bentuk segitiga sama kaki, contoh: Myrabilis jalapa 3. Delta (deltoideus), yaitu bentuk segitiga sama sisi, contoh: Antigonon leptopus 4. Belah ketupat (rhomboideus), contoh: ujung daun Pachyrrhizus erosus 5. Jantung (cordatus), yaitu bentuk daun bulat telur yang pangkal daunnya berlekuk, contoh: Gmelina arborea 6. Ginjal (reinformis), contoh: Centella asiatica 7. Anak panah (sagittatus), contoh: Sagittaria sagittifolia 6

8. Tombak (hastatus), yaitu bentuk anak panah yang kanan kiri tangkainya mendatar, contoh: Monochoria hastata 9. Bertelinga (auriculatus), jika bagian kiri kana pangkal tangkai daun memiliki organ yang berbentuk menyerupai telinga, contoh: Campnosperma auriculata

c. Bagian terlebar di atas tengah-tengah helaian daun 1. Bulat telur terbalik (abovatus), contoh: Manilkara kauki 2. Jantung terbalik (abcordatus), contoh: Sida retusa 3. Pasak/segitiga terbalik (cuneatus), contoh: anak daun Marsilea crenata 4. Sudip/solet (spathulatus), seperti bentuk bulat telur terbalik tetapi bagian bawah memanjang, contoh Elephantopus scaber

d. Semua bagian sama lebar 1. Garis (linearis), yaitu bentuk daun yang pipih dan sangat panjang, contoh: keluarga rumput-rumputan (Poaceae) 2. Pita (ligulatus), serupa dengan bentuk garis tetapi helaiannya lebih panjang, congoh Zea mays 3. Pedang (ensiformis), yaitu bentuk daun seperti garis tetapi helaiannya lebih tebal di bagian tengah sedang tepinya tipis, contoh: Agave cantala 4. Paku/dabus (subulatus), yaitu bentuk daun kecil, silinder, ujung runcing, kaku, contoh: Araucara cunninghamii 5. Jarum (acerosus), yaitu seperti bentuk paku tetapi lebih kecil dan panjang, contoh: Pinus merkusii

2. Ujung daun a. Runcing (acutus), jika pertemuan kedua tepi helaian langsung membentuk sudut runcing kurang dari 90 o, contoh: Eucalyptus deglupta b. Meruncing (acuminatus), jika pertemuan kedua tepi helaian daun membentuk ekor sehingga lebih panjang dari yang seharusnya (bila langsung bertemu), contoh: Gmelina arborea

c. Tumpul (obtusus), jika pertemuan kedua tepi helaian daun membentuk sudut tumbul atau lebih dari 90 o, contoh: Barringtonia asiatica d. Membulat (rotundatus), jika pertemuan kedua tepi helaian daun sama sekali tidak membentuk sudut atau membentuk busur lingkaran, contoh: Manilkara kauki e. Rompang (truncatus), jika pertemuan kedua tepi helaian daun menyerupai garis rata, contoh: Anacardium occidentale f. Terbelah (retusu), jika pertemuan kedua tepi helaian daun membentuk lekukan, contoh: Sida retusa g. Berduri (mucronatus), jika pertemuan kedua tepi helaian daun tertutup oleh organ yang runcing dan keras seperti duri, contoh: Agave sp.

3. Pangkal daun a. Runcing (acutus), umumnya terdapat pada daun bentuk memanjang, lanset dan lain-lainnya. b. Meruncing (acuminatus), umumnya dijumpai pada daun bentuk bulat telur terbalik atau sudip

c. Tumpul (obtusus), umumnya dijumpai pada daun bentuk bulat telur atau jorong d. Membulat (rotundatus), umumnya ditemui pada daun bentuk bulat, bulat telur atau jorong. e. Rompang rata (truncatus), dijumpai pada daun bentuk tombak, delta atau segitiga f. Berlekuk (emarginatus), dijumpai pada bentuk daun ginjal, jantung atau anak panah.

4. Tepi daun a. Rata (integer), contoh: Mangifera indica b. Bertoreh (divisus) 1. Toreh merdeka, yaitu toreh-toreh pada tepi daun yang tidak mempengaruhi bentuk a. Bergerigi (serratus), jika sinus dan angulus memiliki sudut keruncingan yang sama, contoh: Lantana camara b. Bergerigi ganda (biserratus), jika gerigi yang ada angulusnya cukup besar dan tepinya bergerigi lagi c. Bergigi (dentatus), jika sinus tumpul dan angulusnya runcing, contoh: Pluchea indica d. Beringgit (crenatus), jika sinusnya runcing dan angulusnya tumpul, contoh: Kalanchoe pinnata e. Berombak (repandus), jika sinus dan angulusnya sama-sama tumpul, contoh: Antigonon leptopus 10

2. Toreh yang mempengaruhi bentuk a. Berlekuk (lobatus), jika dalamnya toreh kurang dari setengah panjang pertulangan daun Berlekuk menyirip, jika lekuk tepi mengikuti pertulangan daun yang menyirip, contoh: Artocarpus elasticus b. Berlekuk menjari, jika lekuk tepi mengikuti pertulangan daun yang menjari, contoh: Gossypium sp. Bercangap (fissus), jika dalamnya toreh kira-kira setengah panjang pertulangan daun c. Bercangap menyirip, contoh: Artocarpus communis Bercangap menjari, contoh: Ricinus communis Berbagi (partitus), jika dalamnya toreh lebih dari setengah panjang pertulangan daun Berbagi menyirip, contoh: Artocarpus communis Berbagi menjari, contoh: Manihot utilissima

11

5. Pertulangan daun Berdasarkan urutan besar kecilnya tulang daun dibedakan menjadi 3 macam: a. Ibu tulang daun, tulang terbesar di tengah helaian daun yang merupakan terusan dari tangkai daun b. Tulang daun sekunder tulang cabang, cabanga dari ibu tulang daun c. Tulang daun tertier urat daun , cabang-cabang dari tulang daun sekunder, ukuran tulangnya sangat kecil sehingga sering disebut dengan urat daun.

12

Berdasarkan susunan pertulangan daunnya dibedakan menjadi: a. Pertulangan daun menyirip (penninervis) , memiliki satu ibu tulang daun dengan tulang-tulang daun sekunder yang keluar dari ibu tulang daun ini sehingga menyerupai susunan tulang ikan. Umum dijumpai pada daun-daun tumbuhan Dicotyledoneae, contoh: Diospyros celebica, Dipterocarpus sp., dan sebagainya. b. Pertulangan daun menjari (palminervis) , jika dari ujung tangkai daun muncul tulang-tulang daun yang tersusun berpencar sehingga menyerupai jari-jari tangan. Ukuran besarnya tulang daun umumnya paling besar yang di tengah, dijumpai semakin ke pada samping semakin tumbuhan kecil/pendek. Umum daun-daun

Dicotyledoneae, contoh: Ricinus communis, Cecropia peltata c. Pertulangan daun melengkung (cerninervis) , jika tulang-tulang daun muncul dari ujung tangkai daun kemudian memencar mengikuti tepi daun dan kembali menyatu pada ujung helaian daun. Banyak dijumpai pada tumbuh-tumbuhan Monocotyledoneae dan beberapa anggota Dicotyledoneae, contoh: Melaleuca leucadendron, Cinnamommum javanicum d. Pertulangan daun sejajar (rectinervis), serupa dengan pertulangan daun melengkung tetapi umumnya dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang

13

mempunyai helaian daun pita atau garis sehingga tulang-tulang daunnya tampak lurus, contoh: Agathis dammara, keluarga Cyperaceae, keluarga Poaceae

6. Daging/ketebalan daun a. b. c. d. e. f. Tipis seperti selaput (membraneus), contoh : Santalum album Tipis seperti kertas (chartaceus), contoh : Musa paradisiaca Tipis lunak (herbaceous), contoh: Nasturtium officinale Seperti kulit (coriaceus), contoh: Callophyllum inophyllum Tipis, kaku seperti perkamen (perkamenteus), contoh: Cocos nucifer Berdaging (carnocus), contoh: Aloe sp.

7. Permukaan daun a. Licin (laevis), dapat dikelompokkan menjadi: b. Gundul (glabler), contoh: Eugenia aquea c. Kasap (scaber), contoh: Tectona grandis d. Berkerut (rugosus), contoh: Stachytarpheta indica e. Berbingkul-bingkul (bullatus), serupa berkerut tetapi kerutannya lebih besar, contoh: Antigonon leptopus f. Berbulu (pilosus), jika bulu-bulunya halus dan jarang-jarang, contoh: Nicotiana tabacum g. Berbulu halus rapat (villosus), jika bulunya halus dan rapat sehingga bila diraba seperti beludru, contoh: Kibatalia vilosa

14

h. Berbulu kasar (hispidus), jika bulu-bulunya kaku sehingga bila diraba terasa kasar, contoh: Dioscorea hispida h. Bersisik (lepidus), contoh: permukaan bawah daun durian (Durio zibethinus) B. Daun majemuk (folium compositum) Daun majemuk adalah daun yang memiliki helaian daun lebih dari satu, helaian-helaian daun ini duduk pada cabang-cabang tangkai daun. Tumbuhan yang berdaun majemuk memiliki cirri-ciri sebagai berikut: 1. Anak daun muncul bersama-sama sehingga apabila gugur juga akan bersamaan pula 2. Pada umumnya anak daun seumur dan ukurannya sama 3. Pertumbuhannya terbatas (tidak bertambah panjang) oleh karena itu ujungnya tidak memiliki kuncup 4. Tidak terdapat kuncup/tunas di ketiak anak daun Bagian-bagian daun majemuk antara lain: 1. Ibu tangkai daun (petiolus communis), bagian dari daun majemuk yang merupakan tempat duduknya helaian-helaian daun, dalam hal ini masingmasing helaian daun disebut dengan anak daun. Ibu tangkai daun adalah bagian tulang daun yang merupakan terusan dari tangkai daun 2. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang mendukung anak daun secara langsung 3. Anak daun (foliolum) 4. Pelepah/upih daun (vagina), yaitu bagian di bawah tangkai daun yang lebar dan biasanya memeluk batang. Pelepah daun hanya dapat dijumpai pada beberapa tumbuhan saja, contoh: Areca catechu

15

Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat dibedakan menjadi: 1. Daun majemuk menyirip (pinnatus), jika anak daun tersusun seperti sirip di kanan kiri ibu tangkai 2. Daun majemuk menjari (palmatus), jika anak daun tersusun menyebar seperti jari-jari tangan 3. Daun majemuk bangun kaki (pedatus), serupa dengan daun majemuk menjari tetapi 2 anak daun paling tepi duduk pada tangkai yang menyatu 4. Daun majemuk campuran (digitato pinnatus), jika anak daun tersusun menyirip tetapi cabang-cabang ibu tangkai memencar seperti jari-jari

16

Daun majemuk menyirip (pinnatus) Daun majemuk menyirip dapat dibedakan menjadi: 1. Daun majemuk menyirip beranak satu (unifoliolatus), umumnya daun seperti ini terjadi jika salah satu anak helaian daun tinggal satu saja, contoh: Citrus maxima 2. Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus), umumnya anak daun berpasang-pasangan dan pada ujung ibu tangkai daun tidak terdapat anak daun (ujung ibu tangkai daun bebas/terputus), contoh: Swietenia macrophylla 3. Daun majemuk menyirip gasal (imparipinnatus), jika pada ujung ibu tangkai daun terdapat satu helaian anak daun, contoh: Melia azedarach Berdasarkan susunan anak daun pada ibu tangkai, daun majemuk menyirip dapat dibedakan menjadi: 1. Daun majemuk menyirip dengan anak daun berpasang-pasangan, jika susunan anak daun berhadapan, contoh: Khaya antotheca 2. Daun majemuk menyirip dengan anak daun berseling, jika susunan anak daun bergantian/berseling, contoh: Dalbergia latifolia 3. Daun majemuk menyirip dengan anak daun berselang-seling, jika anakanak daun pada ibu tangkai daun berselang-seling antara pasangan anak daun yang kecil dengan yang besar, contoh: Solanum lycopersicum Berdasarkan letak anak daun pada cabang ibu tangkainya, daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan menjadi: 1. Majemuk menyirip ganda dua (bipinnatus), jika anak daun duduk pada cabang ibu tangkai daun tingkat satu 2. Majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatus), jika anak daun duduk pada cabang ibu tangkai daun tingkat dua 3. Majemuk menyirip ganda empat (tetrapinnatus), jika anak daun duduk pada cabang ibu tangkai daun tingkat tiga

17

Berdasarkan ada dan tidaknya helaian anak daun pada ujung ibu tangkai, daun majemuk menyirip ganda dibedakan menjadi: 1. Majemuk menyirip ganda sempurna, jika tidak ada helaian anak daun yang duduk pada ujung ibu tangkai daun, contoh: Leucaena leucocephala 2. Majemuk menyirip ganda tidak sempurna , jika ada helaian anak daun yang duduk pada ujung ibu tangkai daun, contoh: Melia azedarach Daun majemuk menjari (palmatus) Daun majemuk menjari adalah daun majemuk yang semua anak daunnya tersusun memencar pada ujung ibu tangkai daun seperti jari-jari tangan. Berdasarkan jumlah anak daunnya, daun majemuk menjari dibedakan menjadi: 1. Majemuk menjari beranak daun dua (bifoliolatus) , jika pada ujung ibu tangkai daun terdapat dua anak daun, contoh: Cynometra ramifolia 2. Majemuk menjari beranak daun tiga (trifoliolatus) , jika pada ujung ibu tangkai daun terdapat tiga anak daun, contoh: Hevea brasiliensis 3. Majemuk menjari beranak daun lima (quinquefoliolatus) , jika pada ujung ibu tangkai daun terdapat lima anak daun, contoh: Gynandropsis pentaphylla 4. Majemuk menjari beranak daun tujuh (septemfoliolatus) , jika pada ujung ibu tangkai daun terdapat tujuh anak daun, contoh: Ceiba pentandra

18

Daun majemuk bangun kaki (pedatus) Daun majemuk ini memiliki bentuk seperti daun majemuk menjari, tetapi dua anak daun paling tepi tidak duduk pada ibu tangkai seperti yang lain melainkan duduk pada tangkai anak daun yang ada di sampingnya (menyatu). Contoh: Arisaema filiforme Daun majemuk campuran (digitatopinnatus) Daun majemuk campuran adalah daun majemuk ganda yang memiliki cabang-cabang ibu tangkai daun memencar seperti jari-jari tangan yang terdapat pada ujung ibu tangkai daun, tetapi pada cabang-cabang ibu tangkai daun ini memiliki anak-anak daun yang tersusun menyirip. Contoh: Mimosa pudica. Duduk/susunan daun Adakalanya jarak antar daun cukup lebar sehingga antar daun terdapat ruang yang cukup luas yang disebut dengan internodia. Sedangkan tempat duduknya daun atau tempat menempelnya pangkal tangkai daun pada batang disebut nodus. Adapun setiap tumbuhan yang jenisnya sama akan memiliki susunan/duduk daun yang sama, yang khas sehingga kadang-kadang susunan daun ini dapat dijadikan ciri pengenal. Untuk mempermudah pengamatan susunan/duduk daun, arah tangkai daun dari cabang/ranting dapat dilihat dari ujung atau pangkal cabang sejajar mata memandang.

19

Berdasarkan jumlah daun dalam satu ruas, susunan daun dapat dibedakan menjadi: 1. Tiap ruas terdapat satu daun a. Tersebar, jika arah tangkai daun ke segala arah/lebih dari 2 arah, contoh: Manilkara kauki 1) Roset akar, jika jarak antar daun sangat pendek sehingga tampak bergerombol di pangkal batang dekat dengan permukaan tanah 2) Roset daun, serupa dengan roset akar tetapi letaknya pada ujung batang b. Berseling, jika arah tangkai daun membentuk bidang sejajar/2 arah, contoh: Diospyros celebica 2. Tiap ruas terdapat dua daun Umumnya tumbuhan yang memiliki dua daun dalam tiap ruasnya mempunyai susunan/duduk daun bersilang berhadapan. Contoh: Tectona grandis 3. Tiap ruas terdapat lebih dari 2 daun Tumbuhan yang memiliki lebih dari dua daun dalam setiap ruasnya disebut mempunyai susunan/duduk daun berkarang. Contoh: Alstonia scholaris

20

Sejarah singkat klasifikasi tumbuhan

Theophrastus - Yunani (372-287 SM): mendeskripsi dan

menggolongkan 480 jenis tumbuhan berdasarkan tipe berkayu dan tanpa kayu (herbaceous)

Bapak Botani

Caesalpino - Italia (1519 - 1603): klasifikasi berdasarkan sifat dan Carolus Linnaeus - Swedia (1707-1778): - klasifikasi dengan sistem generatif menggunakan jumlah dan posisi benangsari dan putik - Buku Genera Plantarum dan Species Plantarum

struktur biji tumbuhan.

Biologi Modern: Charles Darwin (1859): publikasi buku Origin of

Species mengenai sistem filogenetik berdasarkan evolusi tumbuhan dengan struktur bunga sederhana dikenali dan digolongkan ke dalam jenis primitif/kuno sedangkan tumbuhan dengan struktur bunga yang lebih kompleks digolongkan ke dalam jenis tumbuhan saat ini. BAB III MORFOLOGI BAGIAN GENERATIF A. BUNGA (Flos) Bunga merupakan alat perkembangbiakan atau organ generatif pada suatu tumbuhan. Bunga dikelompokkan berdasarkan jumlahnya menjadi 2 tipe yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Bunga tunggal adalah bila pada satu tangkai hanya terdapat 1 bunga saja, sedangkan bunga majemuk adalah jika pada satu tangkai terdapat lebih dari satu bunga. Bunga majemuk dapat dikatakan sebagai perbungaan ( inflorescensia) apabila bunga-bunga tersusun dalam suatu rangkaian/karangan bunga. Karangan bunga memiliki bermacam-macam bentuk antara lain bulir, tandan, bongkol, malai, payung, dan lain-lain. Berdasarkan letaknya maka bunga dikatakan flos terminalis jika bunga terletak/muncul pada ujung ranting/cabang, dan dikatakan flos lateralis/axilaris jika bunga terletak/muncul pada ketiak daun. 21

Bagian-bagian bunga tunggal


Bunga pada umumnya mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: 1. 2. 3. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang. Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai bunga yang melebar dan mendukung bagian-bagian bunga yang lain. Perhiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran, dibedakan menjadi 2 yaitu kelopak ( calyx) dan mahkota (corolla). Apabila pada satu bunga kelopak dan mahkota tidak dapat dibedakan maka perhiasan bunga disebut dengan tenda bunga (perigonium). 4. Alat kelamin bunga yang berupa benang sari ( stamen) dan putik (pistillum).

Ikhtisar bagian-bagian bunga adalah sebagai berikut: Kelopak Perhiasan bunga Mahkota Bunga Benangsari Alat kelamin bunga Putik

Gambar skema bunga dengan bagian yang lengkap sebagai berikut:

22

Gambar 27. Bagian-bagian bunga

Perhiasan bunga (perianthium): Kelopak (calyx), tersusun oleh daun-daun kelopak yang disebut sepala. Pada beberapa tumbuhan seringkali kelopak tidak hanya terdiri dari satu lingkaran saja, kelopak tambahan disebut dengan epicalyx. Sifat daun kelopak: Berlekatan (gamosepalus): berbagi, bercangap, berlekuk. Berlepasan (polysepalus)

Mahkota (corolla), tersusun oleh daun-daun mahkota yang disebut petala. Sifat daun mahkota: Berlekatan Lepas/bebas Tidak ada

Tenda bunga (perigonium), tersusun oleh daun-daun tenda bunga yang disebut tepala. Menurut bentuk dan warnanya, tenda bunga dibedakan menjadi: Serupa kelopak (calycinus), jika warna hijau seperti kelopak. Serupa mahkota (corollinus), jika berwarna-warni seperti mahkota.

Alat kelamin bunga, dibedakan menjadi 2 yaitu:

23

Alat kelamin jantan (androecium), terdiri atas sejumlah benang sari (stamen). Benang sari terdiri atas 4 bagian yaitu tangkai sari ( filament), kepala sari (anthera), penghubung ruang sari (connectivum) dan ruang sari dengan serbuk sari (pollen).

Alat kelamin betina (gynaecium), terdiri atas putik (pistillum). Putik terdiri atas 4 bagian yaitu kepala putik (stigma), tangkai putik ( stylus), ruang/bakal buah (ovarium) dan bakal biji (ovulum). Ruang/bakal buah terdiri dari satu atau beberapa daun buah ( carpellum).

Berdasarkan kelengkapan bagian-bagiannya, bunga dibedakan menjadi: Bunga lengkap (sempurna), apabila terdiri dari kelopak, mahkota, benang sari dan putik. Bunga tidak lengkap (tidak sempurna) , apabila salah satu bagian bunga tidak ada. o Bunga berkelamin satu (uniseksualis) o Tidak mempunyai perhiasan bunga (bunga telanjang) o Perhiasan bunga berupa tenda bunga/3 lingkaran bagian bunga. Berdasarkan alat kelamin bunga, dibedakan menjadi: Bunga berkelamin dua (banci, biseksuil) Bunga berkelamin satu (uniseksuil) o Bunga jantan (flos masculus), jika tanpa putik o Bunga betina (flos femineus), jika tanpa benang sari Bunga mandul/tak berkelamin (aseksuil)

Berdasarkan keberadaan bunga pada satu pohon/tumbuhan, dibedakan menjadi: Tumbuhan berumah satu (monoecius), jika pada satu individu terdapat bunga jantan dan bunga betina. Contoh: jati, sengon, dsb. Tumbuhan berumah dua (dioecius), jika pada satu individu hanya terdapat bunga dengan satu kelamin. Contoh: melinjo, kiputri, dsb.

24

Tumbuhan poligam (polygamus), jika pada satu individu terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci bersama-sama.

Simetri bunga: garis bayangan yang membagi bunga menjadi 2 bagian yang sama bentuk dan ukurannya. Aktinomorfik (simetri banyak) Zigomorfik (simetri satu/setangkup tunggal) Asimetri (tidak memiliki garis simetri) Bilateral simetri/disimetris (mempunyai 2 garis simetri)

Dasar bunga sebagai pendukung bagian bunga: - Antofor - Androfor - Ginofor - Cakram : pendukung tajuk/mahkota : pendukung benang sari : pendukung putik : peninggian dasar bunga yang berbentuk cakram

Bentuk dasar bunga (receptaculum): Rata Kerucut Cawan Mangkuk

Berdasarkan letak perhiasan bunga terhadap bakal buah, dibedakan menjadi: Hipogin, jika perhiasan bunga tertanam lebih rendah dari bakal buah. Perigin, jika perhiasan bunga tertanam sama tingginya dengan bakal buah. Epigin, jika perhiasan bunga tertanam lebih tinggi dari bakal buah.

Beberapa istilah penyerbukan: Antogami, jika penyherbukan dilakukan oleh bunga itu sendiri Geitonogami, jika penyerbukan dilakukan oleh bunga lain atau bunga tetangga tetapi masih dalam satu pohon. 25

Allogami, jika penyerbukan dilakukan oleh bunga lain yang sejenis tetapi dari pohon yang berlainan. Bastar, jika penyerbukan dilakukan oleh bunga yang berbeda jenisnya atau berbeda pada tingkat sub species atau varietas.

B. PERBUNGAAN (Inflorescensia) Perbungaan atau bunga majemuk adalah jika pada satu tangkai memiliki banyak bunga. Bunga majemuk terbagi menjadi beberapa sifat, antara lain: 1. Bunga majemuk tak berbatas, jika ibu tangkai bunga ( peduncullus) tumbuh terus. 2. Bunga majemuk berbatas, jika ibu tangkai bunga tidak tumbuh terus. 3. Bunga majemuk campuran (inflorescensia mixta), jika memperlihatkan kedua sifat di atas (berbatas dan tidak berbatas). Bagian-bagian bunga majemuk: A. Bersifat seperti batang atau cabang a. Ibu tangkai bunga/tangkai perbungaan ( pedunculus), yaitu organ perpanjangan dari cabang/ranting yang mendukung keseluruhan rangkaian/karangan bunga. b. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu organ/tangkai yang langsung mendukung bunga. c. Dasar bunga (receptaculum/discus), yaitu bagian ujung tangkai bunga yang melebar/membengkak yang mendukung semua bagian bunga. B. Bersifat seperti daun a. Daun pelindung (bractea), yaitu organ yang menyerupai daun sesungguhnya, namun memiliki ukuran lebih kecil, berada pada batas antara tangkai perbungaan dengan cabang/ranting. Contoh: Tectona grandis

26

b. Daun tangkai (bracteole), yaitu organ yang menyerupai daun berukuran kecil, langsung melindungi bunga, pada bunga majemuk. Contoh: Tectona grandis c. Seludang bunga (spatha), yaitu organ yang melindungi bunga pada waktu masih kuncup. Contoh: Cocos nucifera d. Daun pembalut (bractea involucralis), yaitu organ menyerupai daun yang berfungsi melindungi mahkota bunga. Contoh: Helianthus annus e. Kelopak tambahan (epicalyx), yaitu lingkaran kelopak di luar kelopak yang sebenarnya (ada 2 lingkaran kelopak). Contoh: Hibiscus tiliaceus f. Daun-daun kelopak (sepala), yaitu organ menyerupai daun yang menyusun lingkaran kelopak. g. Daun-daun mahkota (petala), yaitu organ menyerupai daun, umumnya berwarna-warni, yang menyusun lingkaran mahkota. h. Daun-daun tenda bunga (tepala), yaitu organ menyerupai daun yang menyusun tenda bunga. i. Benang sari (stamen), yaitu alat kelamin jantan pada tumbuhan. j. Putik (pistillum), yaitu alat kelamin betina pada tumbuhan. Bunga majemuk tidak berbatas dibedakan menjadi beberapa bentuk/tipe, antara lain: 1. Tandan (racemus), bunga mempunyai tangkai nyata (pedicellus), duduk pada ibu tangkai perbungaan ( peduncullus). Contoh: flamboyant, kaliandra, dsb. 2. Bulir (spica), bunga tidak bertangkai, duduk langsung pada ibu tangkai bunga. Contoh: kayu putih, akasia, dsb. 3. Untai (amentum), menyerupai bulir tetapi pada satu karangan bunga hanya terdiri dari bunga-bunga berkelamin tunggal/tangkai perbungaan hanya mendukung bunga-bunga berkelamin tunggal. 4. Payung (umbrella), ibu tangkai bunga tidak bercabang, bunga-bunga terletak pada ujung ibu tangkai dan masing-masing bunga memiliki

27

tangkai yang sama panjangnya, sehingga menyerupai paying. Contoh: ekaliptus, dsb. 5. Bongkol (capitulum), ibu tangkai bunga tidak bercabang, bunga langsung duduk pada ujung ibu tangkai yang membesar. Contoh: lamtoro, petai, dsb. 6. Tongkol (spadix), seperti bulir tetapi tangkai perbungaan besar, tebal dan seringkali berdaging. 7. Periuk (hypanthodium), ada 2 bentuk perbungaan periuk yaitu: - Ujung tangkai perbungaan menebal dan berdaging membentuk spt gada, bunga duduk di seluruh permukaan gada. - Ujung tangkai perbungaan menebal dan berdaging, membentuk badan yang tampak). 8. Cawan (corymbus) Ujung tangkai perbungaan melebar membentuk spt cawan dan bunga-bunga duduk di atasnya. 9. Malai (panicula), ibu tangkai bunga bercabang-cabang secara monopodial, cabang ibu tangkai bercabang-cabang lagi dan berakhir dengan bunga. Contoh: mindi, mangga, dsb. 10. Malai rata, system perbungaan seperti malai, tetapi bunga-bunganya terletak diujung cabang yang sama tinggi sehingga membentuk satu bidang. Contoh: jambu mete, dsb. 11. Payung majemuk, karangan bunga keseluruhan berbentuk payung, tetapi pada setiap cabangnya mendukung sekelompok bunga yang tersusun dalam bentuk payung yang lebih sederhana. 12. Bulir majemuk menyerupai periuk. Bunga-bunga duduk di dalam periuk (tidak

28

Gambar 28. Beberapa bentuk/tipe perbungaan

Bunga majemuk berbatas dibedakan menjadi beberapa bentuk, antara lain: 1. Anak payung menggarpu, bentuk karangan bunga seperti malai tetapi system percabangannya menggarpu atau selalu bercabang dua. Contoh: jati, dsb. 2. Sekrup 3. Sabit 4. Tangga 5. Kipas Bunga majemuk campuran dapat merupakan kombinasi diantara bentukbentuk karangan bunga. Contoh:

29

Bunga kenari (Canarium commune), merupakan gabungan antara bunga malai yang ujungnya berupa bunga sekrup. Bunga johar (Cassia siamea), merupakan gabungan antara ibu tangkai seperti malai tetapi cabang-cabangnya seperti malai rata. Bunga soka (Ixora paludosa), keseluruhan bunga merupakan rangkaian malai rata tetapi bagian-bagiannya berupa susunan anak payung menggarpu.

Berdasarkan letak perbungaan, dibedakan menjadi: Terminalis, jika perbungaan terletak di ujung ranting/anak cabang. Contoh: jati, kaliandra Axillaris/lateralis, jika perbungaan terletak di ketiak daun. Contoh: melina, flamboyan Campuran (terminalis dan lateralis), jika perbungaan terletak di ujung maupun di ketiak daun. Contoh: sengon, sono

30

C. BUAH (FRUCTUS) Buah merupakan hasil proses fertilisasi atau pembuahan, pada proses ini bakal buah akan berkembang menjadi buah, sedangkan bakal biji akan berkembang menjadi biji. Namun pada beberapa kasus, ada buah yang terbentuk tanpa didahului oleh proses penyerbukan dan pembuahan. Kasus seperti ini disebut dengan buah partenocarpi. Tipe-tipe buah Buah dikelompokkan menjadi dua berdasarkan asalnya yaitu buah sejati (fructus nodus) dan buah semu (fructus spurius). Buah sejati terbentuk murni dari bakal buah, sedangkan buah semu terbentuk dari bagian-bagian lain bunga atau gabungan antara bakal buah dan bagian lain bunga. Berdasarkan terbentuknya, buah dibedakan menjadi 2 yaitu: - Buah tunggal, jika buah berasal dari satu bakal buah - Buah majemuk, jika buah berasal dari banyak bakal buah Dalam proses pembentukan buah, kadang-kadang terdapat bagianbagian bunga yang tidak gugur, misalnya: 1. Daun pelindung (spatha), contoh: kulit jagung. 2. Daun kelopak (sepala), contoh: sayap buah meranti, pembungkus buah jati. 3. Tangkai putik (stylus), contoh: organ di tengah mahkota buah jambu. 4. Kepala putik (stigma), contoh: organ penanda jumlah biji pada buah manggis. Pada buah semu yang terjadi dari bakal buah dan bagian-bagian lain bunga, ada beberapa buah yang bentuknya menjadi berubah dengan adanya bagian lain bunga yang ikut berkembang sehingga menjadi lebih menarik. Misalnya: 1. Tangkai bunga yang membesar dan menjadi bagian dari buah. Contoh: jambu mete. 2. Dasar bunga bersama. Contoh: Ficus glomerata 31

3. Dasar bunga pada bunga tunggal. Contoh: Fragraea 4. Kelopak bunga. Contoh: meranti, jati. 5. Tenda bunga dan ibu tangkai bunga. Contoh: nangka. Beberapa tipe buah yang penting di kehutanan: 1. Tipe buah semu tunggal, buah yang terbentuk dari satu bakal buah dan bagian lain bunga seperti tangkai bunga, tangkai bunga ini berkembang menjadi berdaging sehingga berbentuk seprti buah yang sesungguhnya. Contoh: jambu mete 2. Tipe buah semu majemuk, buah yang terbentuk dari banyak bakal buah dan bagian lain bunga. Contoh: nangka 3. Tipe buah samara, buah sejati tunggal kering, terdiri dari satu bakal biji, keras, tidak pecah dan memiliki sayap. Contoh: buah dari famili Dipterocarpaceae 4. Tipe buah nux, buah sejati, tunggal, terdiri dari satu bakal biji, keras, tidak pecah. Contoh: buah dari famili Fagaceae 5. Tipe buah folikel, buah sejati, tunggal, kering; mempunyai banyak biji, bila tua pecah menurut satu kampuhnya. Contoh: buah dari famili Apocynaceae 6. Tipe buah polong, buah sejati, tunggal, kering; mempunyai banyak biji, bila tua pecah menurut dua kampuhnya. Contoh: buah dari famili Fabaceae/Leguminosae 7. Tipe buah kendaga 3, buah sejati, tunggal, kering, banyak biji; bila tua pecah menurut 3 kampuhnya. Contoh: karet 8. Tipe buah kapsul/kotak sejati, buah sejati, tunggal, kering, banyak biji; bila tua pecah menurut lima kampuhnya. Contoh: buah dari famili Meliaceae 9. Tipe buah buni/bacca, buah sejati, tunggal, berdaging. Buah ini memiliki kulit yang berlapis 2, lapisan dalam berdaging dan terdapat biji, lapisan kulit luar tipis. Contoh: buah dari famili Sapotaceae 10. Tipe buah batu/drupe, buah sejati, tunggal, berdaging; kuliat buah terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan luar/tipis ( exocarp), lapisan

32

tengah/tebal

berserabut

(mesocarp)

dan

lapisan

dalam/keras

(endocarp). Contoh: mangga, kelapa, dsb.

Ikhtisar buah tunggal semu majemuk

Buah kering tunggal

1 biji banyak biji kulit 2 lapis sejati majemuk berdaging kulit 3 lapis

33