Anda di halaman 1dari 10

PERMAINAN NASIB Siang itu, Fenny dan aku sedang berada di kamar kosku.

Fenny memintaku untuk menerangkan soal statistik yang tidak dia mengerti. Kebetulan aku memang terkenal jago dalam pelajaran statistik. Kami duduk bersebelahan menghadap meja belajar yang terletak di sudut kamar. Tak kusadari, semakin lama, ternyata Fenny semakin merapatkan tubuhnya ke arahku, hingga kurasakan nafasnya yang hangat menyentuh leherku. Aku segera menoleh, dan terkejut ketika tiba-tiba bibirku mendapat ciuman dari bibir Fenny yang basah. Spontan kudorong bahu Fenny, membuatnya hampir saja terjengkang ke belakang. Mata Fenny terbelalak, dan seluruh wajahnya langsung berubah merah. "Ma... ma... maaf." kataku gagap. Sebenarnya aku tak merasakan apa-apa, baik perasaan senang atau pun marah. Hanya saja aku terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba. "Kamu nggak suka ya dicium aku?" Tanyanya tak percaya. "A... a... aku...", Aku bingung harus menjawab apa. "Aku cinta kamu, Son!" Suara Fenny terdengar lirih. Dia kembali menegakkan duduknya. Matanya menatap tajam ke mataku, seperti hendak menembus ke dalam pikiranku. Melihat itu, aku malah menjadi takut. Aku bangkit berdiri dan berjalan sedikit menjauhinya. Mata Fenny terus mengikutiku, membuatku semakin salah tingkah. "Kamu sudah punya pacar, ya?" "Pacar?" "Ya, pacar. Kamu sudah punya pacar, ya?" Fenny mengulangi pertanyaannya, sambil berjalan mendekatiku. "Be... belum!" Mendengar jawabanku, mata Fenny berbinar-binar. seulas senyum menghiasi bibirnya yang sesaat tadi sempat mengerucut ke depan. "Berarti kita bisa kan jadi sepasang kekasih?" tanyanya lembut. Kini kedua tangannya melingkari leherku, membuatku terus mundur-mundur sampai punggungku merapat ke dinding kamar. "Fen..." perkataanku terhenti karena bibir Fenny kembali mencium bibirku. Kini jantungku benar-benar berdebar-debar dengan kerasnya. Kelihatannya Fenny merasakannya juga, karena dia semakin mengencangkan pelukannya. "Fen... Tolong lepaskan tangan kamu!" Pintaku dengan suara agak gemetar. "Bilang dulu kalau kamu juga cinta aku, baru aku akan lepaskan tanganku." Kata Fenny manja. Tiba-tiba saja perutku terasa mual dan ingin muntah. Aku berusaha menarik tangan Fenny yang masih melingkari leherku seperti sepasang capit kepiting. Ketika akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari cengkraman Fenny, aku bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarku juga, dan langsung muntahmuntah.

Menyaksikan tingkahku, Fenny segera membereskan buku-bukunya dan berlari keluar kamar. Aku hanya sempat mendengar isakan Fenny yang makin menjauh meninggalkan tempat kosku. Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan kejadian tadi siang. Mengapa aku sama sekali tak merasa senang dicium Fenny, padahal Fenny termasuk cewek yang populer di kampus. Bukan saja karena wajahnya yang indo, berhidung mancung, berkulit putih, dan berambut panjang sedikit ikal, tapi juga Fenny merupakan cewek dari keluarga kaya. Banyak cowok-cowok yang berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Setelah kejadian siang itu, Fenny tak pernah lagi mendekatiku. Malah dia tampak berusaha menghindariku. Aku jadi merasa bersalah. Ketika sedang berjalan menuju perpustakaan, tak sengaja aku melihat Fenny sedang berjalan sendirian ke arah sebaliknya. Aku mempercepat langkahku mendekatinya. Tiba-tiba mata Fenny melihatku, dan dia langsung membalikkan tubuh hendak pergi. Untung saja keburu kususul. Kupegang sebelah bahunya dari belakang. Dia memukul keras punggung tanganku, dan berbalik menghadapiku dengan mata mendelik marah. "Lepaskan aku!" tukasnya kesal. "Mau apa lagi sih?" Wajahnya yang putih, perlahan-lahan berubah menjadi merah. "Aku mau minta maaf..." jawabku, sambil terus memegang bahunya. "Minta maaf buat apa?" dia mengangkat dagunya lebih tinggi. "Bu... buat... yang waktu itu..." Fenny mendengus kesal. "Nggak usah dibahas lagi!" dia mendorong keras dadaku. aku mundur selangkah, tanganku terlepas dari bahunya. "Anggap saja waktu itu aku sedang kurang waras!" tukasnya dengan senyum pahit. "Kamu pikir cuma kamu saja cowok ganteng di sini, hah?" Aku terkejut melihat sorot matanya yang penuh kebencian. "Banyak cowok-cowok yang lebih ganteng dari kamu berebut ingin mendapatkanku!" Fenny terus melontarkan kekesalannya. Tapi lama-kelamaan suaranya mulai terdengar gemetar, seperti menahan tangis, matanya mulai berkaca-kaca, "Baru kali ini aku ditolak cowok!" Dia berbalik dan langsung melesat pergi. Aku hanya terpaku di tempat, memandangi punggung dan rambut ikalnya yang menari-nari tertiup angin. Tiba-tiba Fenny berhenti di ujung lorong berhadapan dengan sesosok pria jangkung, menggunakan kaos hitam ketat, membuat otot-otot tubuhnya semakin tampak menonjol. Sejenak aku memandang sosok pria itu yang sekarang sedang membelai rambut Fenny. Entah mengapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok pria itu. Aku merasa tak asing dengan perawakannya. "Kenapa, Fen?" samar-samar suar itu terdengar olehku, menyusup langsung ke dalam otakku. Menghadirkan kenangan yang terasa amat manis dan menimbulkan getaran-getaran aneh di dalam hatiku. Tak sadar aku telah melangkahkan kakiku semakin mendekati Fenny dan teman prianya itu. Ketika jarak di antara kami tinggal kurang lebih satu setengah meter, pria itu mengangkat wajahnya dan langsung menatapku. Aku terpana, dan

nafasku pun terhenti seketika bersamaan dengan terhentinya langkahku. Kami saling menatap untuk beberapa saat. Jantungku melompat-lompat tak terkendali. kurasakan darah naik ke wajahku, membuat wajahku terasa terbakar. Rasanya waktu saat itu terhenti sesaat, hingga terdengar pria itu berkata, "Sonny?" Aku tak mampu membuka mulutku, semuanya terasa membeku. Aku hanya terus menatapnya, jantungku tak juga memperlambat detakkannya, membuat kepalaku jadi pusing. Sekarang aku merasa darah meninggalkan wajah, tangan dan kakiku, membuat sekujur tubuhku terasa dingin. Tiba-tiba semua tampak gelap di mataku. Aku hanya merasa ada tangan kekar yang menopang punggungku, dan saat itu kesadaranku mulai berangsurangsur pulih. Pertama yang kulihat adalah wajah pria itu... Wajah..., Thom. Dulu, Waktu aku duduk di bangku SMU, aku pernah mengagumi seorang teman pria yang menjadi teman sebangkuku. Setiap kali aku melihat kedatangannya, memandangi tubuhnya yang tinggi atletis, atas bibirnya yang sedikit ditumbuhi kumis tipis, membuat hatiku terasa sangat bahagia. Apalagi ketika dia duduk di sampingku, jantungku mulai berdetak lebih kencang. Bau parfumnya yang maskulin sering kali membuat perasaanku menjadi nyaman. Perasaan itu terus tersimpan rapat di dalam hatiku, tak ada seorang pun yang tahu. Diam-diam aku sering memimpikan Thom, sampai akhirnya kami lulus dan Thom menghilang entah ke mana, wajah tampannya tetap terpahat sempurna di lubuk hatiku. Aku mendapati diriku sedang terduduk di lantai. Sebelah tangan Thom masih menopang punggungku. Kepalaku bersandar didadanya yang bidang, membuatku ingin berpura-pura pingsan lagi sampai seribu tahun lamanya. Tapi ekor mataku menangkap bayangan wajah Fenny yang sedang berjongkok di sebelah kiriku, tatapannya tampak kuatir. "Son, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Fenny cemas. Aku segera mengangkat wajahku dari dada Thom. "Maafin aku ya..." Lanjut Fenny. Suaranya terdengar penuh penyesalan. "Nggak apa-apa, kok, Fen... Aku cuma lagi kurang sehat saja." jawabku berbohong. Aku mengalihkan tatapanku ke wajah Thom yang sedang tersenyum padaku, membuat drum di dalam dadaku kembali berbunyi nyaring. "Hi, Son... masih kenal aku, kan?" Kata Thom. Tangannya yang tadi menopang punggungku, kini menepuknepuk bahuku. "Tentu saja aku kenal kamu, Thom..." aku berusaha membalas senyumnya. Tapi bibirku kaku. "Oh, kalian sudah saling kenal, ya?" tanya Fenny heran. "Sonny ini teman dekatku waktu di SMU, Fen!" jawab Thom riang. Fenny dan Thom bangkit berdiri, dan aku pun segera mengikutinya. Berdiri di samping Thom, aku merasa begitu kecil. Padahal tinggiku pun tak terlalu berbeda jauh dengan Thom. Kami hanya berbeda sekepalan tangan, Thom lebih tinggi dariku. "Son?" panggilan Thom membuatku terkejut. Tanpa sadar dari tadi mataku terus memandangi wajah Thom. "Ada yang aneh ya sama aku?" Tanyanya penasaran.

"a... a..., ah, nggak, kok... Cuma kamu makin ganteng saja, Thom." Mendengar itu, Fenny dan Thom tertawa. Wajahku kembali memerah. "Kamu juga makin ke sini, makin ganteng saja, Son." Kata Thom masih tertawa. Tiba-tiba saja hatiku dialiri kegembiraan. "Eh, Son, kamu dan Fenny sudah saling kenal, tapi aku yakin kalau kamu pasti belum tahu kalau Fenny ini baru saja jadi pacarku, lho." Seperti ada bom nyasar yang meledak tepat di ubun-ubun kepalaku, aku terhuyung ke belakang. Fenny dan Thom segera memegang kedua lenganku. "Kenapa, Son?" Fenny kembali terkejut. Apalagi ketika melihat wajahku yang berubah sepucat kertas. "Thom, cepat kamu belikan Sonny minum di kantin!" Thom langsung berlari ke arah kantin, meninggalkan Fenny yang memapahku ke bangku yang berada tak jauh dari situ. Setelah duduk, Fenny mengurut belakang leherku. Hatiku benar-benar terasa sedih bukan main, rasanya aku ingin berteriak saat itu juga. Air mata mulai menggenang di mataku, tak dapat ditahan lagi air itu pun mengalir turun membasahi kedua pipiku. Ketika Thom kembali dengan membawa sebotol air mineral, dia terkejut melihat aku menangis. "Lho, Son, kamu nangis?" Mendengar pertanyaan Thom, Fenny langsung menunduk hendak menatapku. Cepat-cepat kututup wajahku dengan kedua tangan. Aku benar-benar malu sudah ketahuan menangis. "Ada yang sakit ya?" Tanya Thom lagi. Suaranya yang kuatir, membuat perasaanku makin campur aduk. Aku pun segera mengambil langkah seribu, berlari meninggalkan mereka yang berusaha mengejarku sambil berteriak-teriak memanggil namaku. Setelah teriakan mereka tak lagi terdengar, aku mulai berjalan perlahan. Nafasku memburu, jantungku berdebar-debar, hatiku sakit dan perih, air mataku terus mengalir, hingga membasahi leher dan kerah bajuku. Baru kali ini aku merasakan nyeri sedasyat ini. Pikiranku terus menampilkan bayangan Thom. Pertama tampak wajah Thom sedang tersenyum padaku, lalu berubah menjadi Thom yang sedang membelai rambut Fenny. Kembali cubitan keras terasa di dalam dadaku. Timbul perasaan benci setengah mati pada Fenny. Tiba-tiba bayangan kembali berganti, kini yang terbayang adalah aku yang sedang menjambak rambut Fenny dan melemparkannya jauh-jauh dari hadapan Thom. Muncul perasaan puas dalam hatiku menyaksikan adegan itu. Bibirku tersenyum. Sekonyong-konyong aku menghentikan langkahku. Mataku terbelalak. Aku terkejut sendiri ketika mendengar kata "cinta" yang bergema di dalam pikiranku Cinta?? Cinta apa?? Jatuh cinta dengan Thom?? Tapi... Thom kan seorang pria? Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras, berusaha menghilangkan pikiran yang menurutku sangat konyol, sangat tidak mungkin! Perasaanku terhadap Thom hanyalah perasaan kagum, bukan cinta!

Tapi... Mengapa aku merasa hancur saat Thom mengatakan kalau dia berpacaran dengan Fenny? Dan, mengapa juga selama ini aku tak punya rasa tertarik dengan teman wanita? Tiba-tiba perasaan ngeri menelusup masuk ke dalam hatiku. Kakiku terasa lemas, seluruh tubuhku gemetaran. Aku segera duduk di bangku semen yang terdapat di pinggiran jalan. Suara-suara di dalam pikiranku terus mengatakan kalau aku ini orang aneh... mencintai sesama jenis... aku banci! "Lebih baik aku mati saja!" Tak sadar aku telah berteriak sekuat tenaga, membuat orang-orang yang lewat menatap curiga ke arahku. Tapi aku tak peduli. Aku tertunduk lemas. Air mataku semakin deras mengalir. Hatiku nelangsa, pikiranku memberontak, dadaku sesak seperti tertindih batu yang sangat besar. Tak terasa waktu terus bergulir, sudah berjam-jam aku masih duduk termenung seorang diri di bangku semen. Tiupan angin dingin tak lagi terasa di sekujur tubuhku, seolah kulitku sudah mati rasa. Pikiranku sunyi, sesunyi jalanan di sekililingku. Tatapanku kosong. Tak ada lagi yang kurasakan, seakan semuanya telah pergi meninggalkan diriku. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, menarikku kembali ke alam nyata. Aku mengangkat wajahku, dan terkejut ketika melihat langit sudah mulai gelap. Di hadapanku berdiri lima orang pria, mereka semua bertubuh besar dengan wajah menyeramkan. Hanya seorang dari mereka yang berdiri tepat di depanku yang memiliki tubuh tidak terlalu besar, malah lebih kecil dariku. Tapi kelihatannya pria yang paling kecil ini, yang menggunakan topi biru, kemeja longgar bergaris-garis, dan celana jins, yang menjadi pemimpinnya. "Jangan bergerak kalau kamu nggak mau mampus di tanganku!" Kata pria bertopi itu sambil jari-jarinya memutar-mutar pisau kecil, tapi tampaknya cukup untuk menembusi dadaku dan menghentikan jantungku. Anehnya, aku sama sekali tak merasakan takut. Mataku terus menatap tenang pria bertopi itu. Sementara keempat teman lainnya yang bertubuh besar dan berwajah bengis mulai meraba-raba seluruh tubuhku, menggeledah semua kantong yang ada di celana jinsku, dan mengobrak-abrik isi tasku. "Aku tak punya barang yang cukup berharga." kataku masih tenang. "Yang berharga dari diriku hanya nyawaku saja. Jadi, kalau kalian mau ambil nyawaku, aku akan sangat berterima kasih sekali." Sejenak pria bertopi itu membelalakan matanya, tapi sejurus kemudian, dia sudah menampilkan kembali wajah galaknya. "Hmmm, kelihatannya sudah bosan hidup ya, bung?" ejeknya. Aku tersenyum. Kulirik keempat pria yang menggeledahku. Mereka sedang kesenangan dengan hasil buruannya, jam tangan, dompet, dan telepon genggamku. "Sayang kalau kalian hanya mengambil barang-barang seperti itu, karena barang-barangku itu tak cukup mewah. Lebih baik kalian mengambil juga nyawaku." Aku melangkah mendekati pria bertopi dengan kepala tegak dan tatapan tajam. Pria bertopi itu kelihatan ragu sejenak. Dia melirik kawan-kawannya yang juga terperangah melihat kenekatanku. Ketika jarak di antara kami tinggal selangkah lagi, pria bertopi itu

mengangkat wajahnya, dan membalas tatapanku, sambil berkata dengan nada bingung, "Hei bung, sebenarnya kamu kenapa sih?" Aku diam tak menjawab. Tiba-tiba aku mendengar pria di hadapanku ini tertawa terpingkal-pingkal. Aku jadi bingung. Kulirik keempat pria lainnya juga menampilkan wajah yang sama bingung menyaksikan tingkah temannya. "Apanya yang lucu?" Tanyaku curiga. "Ha... ha... ha..., lucunya melihat tingkah orang yang sudah bosan hidup... ha... ha... ha..." telunjuknya teracung mengarah hidungku. "Tapi boleh juga nyalimu, bung!" Aku makin melongo keheranan mendengar ucapannya. "Memangnya ada masalah apa sih, sampai mau mati segala?" Pria bertopi itu kini telah menghentikan tawanya, dan menatapku dengan mimik serius. Mendengar pertanyaannya, hatiku yang tadi sudah tidak merasakan apa-apa, kini kembali terasa perih. "Bin, urusan kita sudah selesai, ngapain kita lama-lama lagi di sini?" Terdengar salah satu dari keempat pria yang menggeledahku tadi berbicara kepada pria bertopi ini. "Kalian pergi duluan saja. Aku masih ada urusan sama orang ini!" Jawab pria bertopi yang disebut Bin itu dengan nada memerintah. Setelah saling lirik dan mengangkat bahu tak mengerti, akhirnya Keempat temannya itu pun pergi. Kini tinggal aku berdua dengan Bin. Sejenak kami saling bertatapan. Sebenarnya wajah pria ini tampan juga, walau pun tubuhnya tidak terlalu tinggi. Tapi dia memiliki kulit wajah yang bersih, mata belo dan bibir tipis. "Siapa nama kamu?" tanyanya tiba-tiba. Tapi kini nadanya lembut, tidak lagi ketus seperti tadi. "Sonny." Dia berjalan ke arah bangku semen yang tadi kududuki, kemudian duduk di situ. Matanya kembali menatapku. Sebelah tangannya melambai menyuruh aku mendekatinya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. "Ada masalah apa?" Tanyanya serius. Sejenak aku tertegun, tapi kemudian aku menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa aku tak mau menceritakannya. "Nggak usah kuatir. Aku sebenarnya bukan orang jahat." katanya, sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya satu batang dan menyodorkannya ke arahku. Aku menggelengkan kepala. Ditariknya kembali tangannya, dan langsung menjepit rokok itu di antara bibirnya. Diambilnya korek api, lalu disulutnya, dan mulai merokok. Aku terus mengamatinya. Entah mengapa, sekarang aku malah merasa nyaman, sama sekali tidak ada perasaan curiga, apalagi takut. "Ceritain sajalah..." Bin melirik padaku. kedua kakinya diangkat dan disilangkan di atas bangku. "Masalah itu bukan buat dihindari, tapi dihadapi." Kutarik nafas dalam-dalam, lalu berkata :

"Masalahku sangat pribadi... aku tak bisa menceritakannya pada siapa pun." "Segitu pribadinyakah?" "Ya... Sangat pribadi, dan..." "Dan apa?" "Dan memalukan." Suaraku semakin lemah. Bin tersenyum. Tiba-tiba dia menyemprotkan asap rokoknya ke wajahku, membuatku terbatuk-batuk. Dia tertawa senang, sambil membuang puntung rokoknya, dan langsung melompat berdiri. Sebelah kakinya menginjak puntung rokok itu, lalu melenggang pergi. "Mau ke mana?" Aku mengejarnya, dan berjalan di sampingnya. "Mau cari angin buat menenangkan pikiran." "Memangnya pikiran kamu kenapa?" "Sumpek." "Ada masalah ya?" "Mau tahu masalahku?" Bin mengerling padaku. Tiba-tiba saja aku merasakan desiran aneh mengalir di sebelah dalam dadaku. Aku mengangguk. "Aku adalah anak yang tidak bahagia..." Bin diam sejenak, lalu melanjutkan, "Ayahku selalu memukuli ibuku." Aku memandang Bin. Mimik wajahnya tampak biasa saja. Tak ada tersirat sedikit pun perasaan sedih di situ. "Setiap kali habis dipukuli, ibu hanya bisanya menangis. Sementara ayah akan pergi sambil membanting pintu. Timbul perasaan kasihan di dalam hatiku. Tak kusangka dibalik sikapnya yang brutal dan pemberani, ternyata dia menyimpan masalah yang berat. "Aku lari dari rumah, tak tahan lagi menyaksikan kehidupan keluargaku yang nggak beres." Nada suaranya masih terdengar tenang, seolah-olah dia bukan sedang menceritakan masalahnya, tapi masalah orang lain. "Kamu tak punya kakak atau adik?" Tanyaku prihatin. Bin menggelengkan kepalanya. "Aku anak tunggal." Kami terus melangkah berdampingan. Tak ada lagi yang berbicara, masing-masing terbenam dalam pikirannya. Tiba-tiba Bin menghentikan langkahnya. Aku pun ikut berhenti, dan memandangnya penuh tanda tanya. "Aku harus pulang. kata Bin dengan tatapan lembut. "Nanti aku akan suruh teman-temanku untuk mengembalikan semua barang-barangmu yang sudah kami ambil tadi." Tiba-tiba hatiku terasa sangat berat. "Jangan pergi, Bin!" Baru kali ini aku menyebut namanya. Suaraku gemetar. Bin menatapku bingung. "Maksudku... aku masih ingin mendengarkan ceritamu." Aku mencoba menjelaskan, tapi yang ada suaraku malah terdengar makin memelas. Sebelah tangan Bin memegang bahuku, dan dia tersenyum. "Kelihatannya kamu sudah lebih baik dari pada tadi ya, Son." "Maksud kamu?"

"Maksud aku... kamu sudah tak lagi berpikir untuk mati kan?" Aku tersenyum sambil menggeleng. "Mungkin tidak... Tapi mungkin juga masih..." "Lho?" "Yah, sekarang sih sudah tidak terpikir lagi untuk mati... tapi... kalau kamu pergi... mungkin saja aku akan kembali memikirkan untuk mati." "Kenapa begitu?" "Karena... karena... Aku suka kamu." Mata Bin yang belo terbelalak, membuatnya tampak semakin belo. "Maksudku... maksudku... aku suka berteman dan mengobrol dengan kamu." Aku tergagap. Mata Bin kembali ke posisi semula. Dia menghela nafas. "Aku juga suka mengobrol sama kamu, Son." katanya sambil tersenyum. "Besok aku tunggu kamu dibangku semen tadi untuk mengembalikan semua barang-barang kamu... Sampai besok jam 8 pagi ya!" Lalu Bin cepat-cepat berlari dan menghilang di tikungan jalan. Beberapa lamanya aku tetap berdiri mematung, sebelum akhirnya aku pun melangkah kembali ke kosku. Aku terus merenungi nasibku. Kini tak salah lagi, aku memang memiliki kelainan, aku berbeda dengan cowokcowok pada umumnya. Hatiku memang lebih tertarik dengan sesama pria. Aku sudah berulang kali mencoba membayangkan wajah Fenny, tapi yang ada aku malah merasa benci setengah mati. Niatnya membayangkan mencium Fenny, tapi yang terbayang malah aku menggigit bibir Fenny sampai mengucurkan darah. Pagi-pagi sekali keesokan harinya, aku sudah duduk di bangku semen. Membayangkan akan bertemu Bin lagi membuatku tak bisa tidur. Jalanan sudah mulai ramai. Banyak orang berlalu lalang di hadapanku. Tiba-tiba seorang pria bertubuh besar berdiri di sebelahku. Aku menoleh dan langsung dapat mengenalinya. "Bukannya kamu salah satu teman Bin?" "Betul." Jawab pria itu ketus. Dia menyodorkan kantong kertas berwarna coklat ke hadapanku. "Ini barangbarang kamu yang kami ambil kemarin." Aku tak mengambilnya, melainkan terus menatap matanya. "Mana Bin?" Pria itu mengangkat bahu. "Mana aku tahu? Dia hanya meneleponku dan menyuruh mengembalikan barangbarang kamu di sini." Hatiku mencelos. Melihat diriku yang tak bergerak untuk mengambil kantong coklat di tangannya, pria itu langsung saja menjatuhkannya ke aspal, dan berlalu pergi. Aku tak menghiraukannya. Hatiku benar-benar terasa sakit, aku merasa sudah dibohongi. Bin tidak menepati janjinya. Tak dapat dibendung lagi, seperti anak kecil, aku menjatuhkan diriku ke bangku semen dan menangis sejadi-jadinya. Orang-orang berdatangan mengerumuniku, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi padaku. seorang bapak merangkulku dan bertanya, "Ada apa toh, dik?"

Aku tak menjawab. Air mataku tak kuasa kuhentikan. Aku mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya. Pertama dengan Thom, dan sekarang dengan Bin. "Permisi... permisi...!" Tiba-tiba telingaku mendengar suara Bin yang menyeruak di antara kerumunan orangorang. Aku segera mengangkat wajahku yang masih berlinangan air mata, dan mendapati Bin sudah berdiri di depanku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memeluk Bin. "Bin... Bin... jangan tinggalkan aku lagi!" seruku memohon. Aku merasakan tubuh Bin menegang di dalam pelukanku. Tangannya mendorong-dorong tubuhku, berusaha lepas dari dekapanku, tapi aku malah semakin mengencangkan pelukanku. Satu per satu kerumunan orang mulai pergi. Sepintas lalu kudengar mereka menganggap kalau aku telah menemukan saudaraku yang hilang. "Son... tolong... lepasin aku!" Aku menggelengkan kepala. "Nggak... aku nggak mau lepasin kamu... Aku takut kamu pergi lagi, Bin!" "Aku janji... Aku janji nggak akan pergi... Tapi tolong, Son... Tolong lepasin dulu aku!"Akhirnya, tanganku mengendor dan Bin berhasil lepas dari pelukanku. Bin mundur beberapa langkah. Matanya terus menatapku curiga. "Kamu... kenapa sih, Son?" Tanyanya ketus, tapi terdengar nada kekuatiran di dalam suaranya. "Aku... aku... aku cinta kamu, Bin!" Mulut Bin menganga lebar, matanya terbelalak, dan wajahnya tiba-tiba saja menjadi pucat. Dia menatapku tak percaya. Kemudian kedua tangannya meraba-raba topi, rambut, wajah, dan terus turun ke kemeja longgar yang dipakainya, lalu kembali menatapku. "Tapi... tapi... aku kan laki-laki, Son... sama seperti kamu?" "Aku tahu." jawabku. Kini tak ragu lagi aku akan mengungkapkan semua perasaanku. Aku tak perduli lagi dengan tanggapan orang. Tak mungkin selamanya kupendam perasaan ini seorang diri, karena aku bisa jadi gila! "Maksud kamu..." "Ya. Aku memang mencintai kamu! Aku mencintai kamu sebagai pria!" Bin terdiam. Aku puas telah mengatakannya. Kini tinggal menunggu detik-detik yang paling menentukan nasib hidupku selanjutnya. Wajah Bin tampak semakin pucat, tapi dimataku dia semakin tampan, dan aku sungguhsungguh jatuh cinta kepadanya. Beberapa lamanya kami saling diam, hanya tatapan kami saja yang masih terpaut. Bin menarik nafas dalamdalam, lalu berkata, "kamu cinta aku sebagai pria bukan?" aku mengangguk. "Kalau seandainya aku bukan pria, tapi seorang wanita, apa kamu masih mencintaiku?" Aku kembali mengangguk dengan yakin.

"Lihat baik-baik!" kata Bin. Dia mulai membuka topinya, dan... segerai rambut hitam panjang jatuh menyelimuti punggung Bin. Aku terbelalak tak percaya. Kemudian Bin membuka kemeja longgarnya, dan kini dia hanya menggunakan kaos ketat yang menampakan sepasang buah dada yang menonjol. Hampir saja aku terbanting ke belakang, jika Bin tidak buru-buru merangkul pinggangku. Tiba-tiba saja gejala yang sama yang kurasakan saat bertemu dengan Thom, muncul kembali menderaku. Bin segera membantuku duduk di bangku semen. Dia kembali menggulung rambutnya, dan ditutupinya dengan topi biru. Lalu kemeja longgarnya dikenakannya lagi menyembunyikan tonjolan sepasang buah dadanya. Kini Bin sudah kembali menjadi Bin yang kucintai, seorang pria tampan, yang membuatku tergila-gila. "Bagaimana, Son?" tanya Bin lembut, sambil berjongkok di depanku. kedua siku tangannya bertumpu di kedua lututku. Kepalaku masih pusing, nafasku pun masih terasa sesak. "Aku... aku tak tahu, Bin." Jawabku putus asa. Ternyata pria yang kucintai dengan sepenuh hatiku adalah seorang gadis yang menyamar. Nasib sepertinya belum puas mempermainkan perasaanku.