Anda di halaman 1dari 2

4.

5 Disfunngsi Ereksi sebagai Pertanda dari Penyakit Kardiovaskuler Aterosklerosis adalah penyakit vaskuler sistemik dan merupakan penyebab terbanyak dari disfungsi ereksi pada laki-laki usia lanjut. Disfungsi ereksi memiliki beberapa faktor resiko yang sama dengan penyakit kardiovaskuler, yaitu aterosklerosis, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes melitus, merokok, dan obesitas. Hasil penelitian terbaru menyimpulkan bahwa disfungsi ereksi merupakan indikator akan adanya penyakit kardiovaskuler (13). Disfungsi endotelial diduga memiliki peran penting terhadap hubungan anatara disfungsi ereksi dan penyakit kardiovaskuler. Perubahan yang terjadi pada relaksasi otot polos yang dimediasi NO terjadi pada penderita aterosklerosis. Hal ini mendukung konsep bahwa aterosklerosis yang terjadi pada pembuluh darah arteri di penis mencerminkan hal yang sama pada arteri koroner. Dewasa ini vaskulopati dianggap adalah penyebab utama dari terjadinya disfungsi ereksi, dan disfungsi ereksi dianggap sebagai manifestasi paling awal dari terjadinya penyakit vaskuler. Seseorang yang menderita disfungsi ereksi harus dicurigai menderita vaskulopati sampai terbukti sebaliknya. Laki-laki yang memiliki faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi, merokok, dislipidemia, diabetes, dan obesitas, dianggap memiliki faktor resiko yang tinggi untuk menderita disfungsi ereksi (16). Disfungsi endotel dianggap sebagai penyebab utama terjadinya disfungsi endotel dan penyakit aterosklerosis. Laki-laki yang menderita disfungsi ereksi tanpa adanya tanda-tanda klinis penyakit kardiovaskuler terbukti mengalami penurunan aliran darah akibat vasodilatasi pada arteri brankialis sebagai respon dari pemberian nitrogliserin sublingual. Kejadian ini mengindikasikan adanya adanya disfungsi endotel dan relaksasi otot polos yang abnormal. Disfungsi endotelial telah terbukti sebagai perubahan fungsional awal yang menandakan kemungkinan terjadinya aterosklerosis pada serebrovaskuler, koroner, dan sistem sirkulasi perifer (18). Penelitan membuktikan bahwa laki-laki yang menderita disfungsi ereksi memiliki resiko yang lebih besar utnuk menderita kejadian kardiovaskuler (angina, infark miokard, stroke, penyakit jantung kongestif, dan aritmia jantung)

dibandingkan dengan laki-laki yang tidak menderita disfungsi ereksi. Suatu penelitian yang menggunakan laki-laki berumur 55 tahun juga menunjukan bahwa terjadinya disfungsi ereksi dapat mengindikasikan resiko yang sama besar akan terjadinya kejadian kardiovaskuler seperti yang terjadi pada laki-laki yang merokok, menderita dislipidemia, dan riwayat keluarga dengan infark miokard. Disfungsi ereksi dan fungsi seksual seseorang dapat dianggap sebagai alat stratifikasi resiko pada penyakit koroner. Penelitian terbaru menyimpulkan, laki-laki dengan disfungsi ereksi akan menderita penyakit koroner yang lebih parah, kerusakan ventrikel kiri, daya tahan olahraga yang rendah, dan nilai tes treadmill Duke yang lebih rendah dibandingkan laki-laki tanpa disfungsi ereksi (21).