Anda di halaman 1dari 21

3.3 Reparasi poros Langkah-langkah pelepasan poros Baling-baling adalah sebagai berikut: a.

Pelepasan sambungan poros Baling-baling dengan flens kopling yang terdapat pada gear box dikamar mesin. Dilakukan dengan melepas baut-baut flens, mur dan pasak (key) penghubung.poros baling terdiri dari dua bagian yaitu intermediette shaft ( poros antara ) dan tail shaft (shaft yang terdapat propeller)

Gambar 3.9 pelepasan sambungan poros propeller b. Setelah kopling antara intermediette shaft dan tail shaft dilepas kemudian dari sisi luar bagian buritan kapal dipasang rantai penggerek (chain hoist ) untuk mempermudah mengeluarkan shaft .chain hoist ini bias digunakan untuk mengatur posisi supaya mempermudah pengeluaran dan ada juga untuk menarik poros.Memasang chain hoist/lifting tackle sesuai jumlah yang diperlukan tergantung dari berat poros, pada saat pengamatan digunakan beberapa hoist dimana rantai bajanya dililitkan pada poros. Kemudian poros propeller ditarik keluar dan juga dan ada yang bisa didorong kebelakang, poros dikeluarkan dengan mengatur kekencangan kawat yang dihubungkan ke chain hoist.

Gambar 3.10 pemasangan chain hoist/lifting tackle c. Setelah poros keluar dari lubungnya, poros beserta propeller diturunkan lalu diangkat dengan work lift dan dibawa stand rangkah (bengkel mesin ) untuk pelepasan baling-baling yang juga akan direparasi karena mengalami keausan akibat kavitasi.proses pelepasan propeller yaitu dengan membuka baut baut flens,mur,dan pasak (key).

Gambar 3.11 poros yang telah dibawa ke bengkel mesin d. Setelah propeller tersebut dilepas maka poros propeller di bawa kebengkelbengkel bubut untuk mengecek kelurusannya.

e.Pengecekan kelurusan poros propeller dilakukan diatas mesin bubut,adanya pengecekan ini dikarenakan terjadinya deformasi maupun keausan poros propeller .Selanjutnya pengecekan terhadap kelurusan poros propeller ditentukan beberapa titik atau daerah yang akan diukur dengan menggunakan alat Dial Gauge. Dari hasil pengukuran tersebut dapat juga dilihat hasil pengukuran diameter dari tiap-tiap posisi pengukuran sehinggah dapat dilihat pada posisi mana poros tersebut mengalami keausan. Dari hasil pengecekan poros tersebut dinyatakan mengalami keausan yang bagiannya bergesekan langsung dengan.

Gambar 3.12 pengecekan kelurusan(keausan) poros dengan Dial gauge/indicator

f.jika pada poros terdapat keausan maka harus ada reparasi pada poros yang aus Poros propeller yang telah diukur diameternya dan telah terlihat ada daerah yang aus maka daerah tersebut harus dibubut. Pembubutan dilakukan sampai pada batas diameter terkecil (batas pengurangan maksimum 1% diameter semula) pada daerah yang aus tersebut.

Gambar 3.13 poros yang sedang dibubut Setelah dilakukan proses repairing selanjutnya poros akan dilakukan proses pengecekan keretakan dengan metode MPI (magnetic particle inspection ) Proses ini dilakukan untuk memastikan surface area pada pengelasan tidak ada retak/crack. Selain pada pengelasan, proses in juga dapat dilakukan pada material-material tertentu yang rentan akan tekanan dan retakan. cara kerja : Sebelum melakukan test biasanya alat yang digunakan ( magnet ) di test dulu kelayakannya. Apabila masih layak maka test akan dilakukan. Pertama yaitu poros yang akan dilakukan test MPI harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada platnya. Kemudian di-ikuti dengan penyemprotan magnaflux WCP ( suatu cairan yang digunakann untuk membersihkan plat dan supaya lebih contrast ). Setelah itu, disemprotkan prepared bath ( suatu cairan yang didalamnya terdapat serbuk besi). Setelah proses ini, maka selanjutnya magnet baru diletakkan diatas plat. Terjadi cacat jika terdapat bagiannya terdapat besi yang menumpuk.

Gambar 3.14 pngecekan crack dengan metode MPI

Gambar 3.14 poros yang telah di repair

Reparasi propeller Reparasi daun propeller yang aus Untuk memperbaiki daun baling-baling yang mengalami keausan dapat dilaksanakan dengan cara pengelasan. Sebelum dilakukan pengelasan propeller tersebut harus digerinda terlebih dahulu untuk menghilangkan bercak-bercak kavitasi yang terdapat pada ujung daun balingbaling. Setelah permukaan pada ujung daun propeller tersebut sudah halus selanjutnya dilakukan pemanasan hingga mencapai 7000c pada permukaan daun baling-baling tersebut untuk mendapatkan panas yang homogen dengan elektroda khusus yang digunakan untuk memberi material tambahan yang

sesuai dengan daun baling-baling yang telah digerinda(penambalan ). Setelah dilakukan penambalan terhadap daun baling-baling tersebut maka dalam keadaan dingin baling-baling tersebut digerinda sampai ketebalan dan modelnya sama dengan baling-baling yang lain. 2. Balancing Propeller Setelah penggerindaan, dilakukan uji balansir terhadap baling-baling tersebut untuk menjaga keseimbangan masing-masing propeller (baling-baling) dan menghindari getaran (vibration) yang tidak seimbang.karena jika tidak terjadi keseimbangan maka akan berdampak pada efficiency kerja propeller dan getaran karena baling-baling (propeller) yang tidak balance menyebabkan gaya momen atau gaya inersia sehingga menimbulkan getaran dalam pemakaiannya. Adapun cara pengetesan keseimbangan baling-baling adalah sebagai berikut :

a. Baling-baling ditempatkan pada alat pengetes keseimbangan sehingga balingbaling dapat diputar. Pada alat ini dilengkapi dengan bearing yang berupa bantalan gelinding untuk memudahkan perputaran terhadap baling-baling uji.

b. Sebelum baling-baling dites terlebih dahulu diberi nomor untuk tiap daun baling-baling.jika blade (daunya) berjumlah 4 maka penomoranya 1-4,hal ini untuk mempermudah pengamatan. c. Setelah itu propeller ditimbang beratnya kiri kanan dengan formasi daun 1 dan 3 ditimbang terlebih dahulu dengan sudut kemiringan 90 derajat , kemudian daun 4 dan 2. d. Untuk daun no 3 dan 4 daun baling-baling ditimbang beratnya dengan sudut kemiringan 45 derajat , perlakuan ini dapat dilaksanakan untuk daun no 4-1, 1-2 dan 2-3. (semakin banyak sudut yang dipakai maka hasil akan semakin bagus. e. Jika pada saat penimbangan tidak balance ( propeller yang telah ditempatkan dengan diam mengalami pergeseran kedudukan) maka daun baling-baling

tersebut digerinda atau ditambahkan material sejenis selanjutnya dilakukan penggerindaan pada daerah tersebut kemudian dilakukan pengetesan ulang

f.setelah propeller balance pada saat pengujian selanjutnya akan dilakukan pengetesan crack pada propeller yaitu dengan metode Penetrant Test ( PT ) yaitu khusus Untuk material yang tidak berinteraksi dengan magnet, dan untuk daerah yang sulit dijangkau oleh magnet, maka uji yang dilakukan adalah Penetrant Test (PT). g. cara kerja PT( penetrant test) untuk propeller Hampir sama dengan MPI, pertama yaitu blade propeller yang akan di penetran harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada plat. Kemudian di-ikuti dengan penyemprotan FR-Q ( suatu cairan yang digunakan membersihkan plat ). Setelah plat telah selesai dibersihkan, kemudian penyemprotan FP-S ( penetran, cairan ini berwarna merah ), tunggu sampai 5-10 menit agar cairan tersebut agak mengering. Setelah mengering di cleaner lagi, kemudian di-ikuti dengan penyemprotan FD-S ( suatu cairan yang didalamnya terdapat serbuk putih/powder ), tunggu sampai 5-10 menit. Finally kita dapat mengecek plat tersebut ada cacat/tidak, dengan melihat ada warna merah pada plat. Cacat yang terjadi misalnya adanya undercute, porosity, dll.

Pemasangan keyless propeller perbedaan antara keyless propeller dan propeller konvensional ialah terletak pada ada tidaknya pasak. jadi pelepasan pemasangan propeller jenis ini sedikit lebih rumit yaitu dengan menggunakan pompa hidrolis yang berfungsi untuk mendorong maupun mengembangkan propeller.pertama tama propeller dimasukkan ke propeller fitting hingga mentok,setelah itu dilakukan pompa hidrolis dihubungkan ke propeller.pipa hidrolis ini dibagi menjadi dua fungsi yaitu pertama sebagai pendorong dan yang kedua sebagai pengatur ruang sehingga propeller bisa masuk. reparasi simplex seal simplex seal berfungsi sebagai pembatas untuk menjaga kekedapan air laut supaya tidak masuk melalui lubang poros pada kapal.simplex seal ini adalah tempat dimana terdapat berbagai seal.adapun seal seal yang digunakan terbuat

dari bahan sintetis.biasanya seal seal ini akan mengalami keausan (melar) sehingga tidak mampu untuk menjaga kekedapan dari air.sehingga harus diganti baru a.untuk mengetahui apakah seal yang terdapat pada packingnya udah rusak maka sebelumnya sebelumnya dilakukan pengecekan dengan memberikan tekanan hidrosis,apabila seal telah rusak maka pada packing seal keluar cairan hidrolis,biasanya setiap kapal yang naik dok biasanya mengganti sealnya secara periodic tanpa melakukan pengetesan. b.setelah owner menyetujui pergantian seal selanjutnya seal seal ini diganti dengan baru,biasanya pihak owner telah menyediakan seal yang akan digunakan,setelah seal terpasang pada packingnya selanjutnya dilakukan pengetesan kekedapan. c.pengetesan kekedapan ini sama seperti pada saat pengecekan awal,yyaitu dengan cara packing dari simplek seal ini diitutup dengan packing,kemudian pada sisi yang lainnya dilewatkan saluran pipa hidrolis yang bertekanan.kemudian pompa hidrolisnya diatur hingga mencapai tekanan 2 psia kemudian diamati apakah ada cairan hidrolis yang keluar.jika terdapat cairan yang keluar maka akan dilakukan pemasangan kembali hingga benar benar kedap.

Reparasi Poros yang Retak Untuk poros propeller yang retak halus dapat diketahui dengan bantuan pengetesan makna fluks dengan cara sebagai berikut:Mula-mula as dibersihkan dari kotoran dengan sikat dengan cairan pembersih (cleaners) kemudian dioleskan dengan penetran mersap kedalam retakan kira-kira 10 menit kemudian ditaburkan remove (bubuk kapur).Apabila poros retak maka akan timbul bercak merah.Selanjutnya reparasi dapat dilakukan dengan pembubutan asalkan diameter minimum poros yang diizinkan setelah dibubut tidak dilampaui. Reparasi Poros Propeller yang Bengkok. Kerusakan yang sering terjadi pada bantalan poros propeller disebabkan antara lain: Shaft arragement tidak sempurna Baling-baling tidak balance Terjadi pergeseran dalam kerjanya

Untuk reparasi bantalan poros ini maka bantalan ini dilepas dari kapal bersama koker (rumah bantalan).Melepas koker umumnya sama dengan melepas daun baling-baling yaitu dengan alat trackle untuk ukuran-ukuran kecil.Bahan bantalan dari babbit yang telah rusak,maka harus dibuatkan yang baru dengan pengecoran sampai ukurannya memenuhi clearance yang sebenarnya.Untuk bahan yang terbuat dari kayu Pokhout,kayu yang akan dipakai harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai berikut : 1. 2. 3. Umurnya cukup tua agar diperoleh ketahanan yang cukup dan bila terendam dilaut pemuaiannya akan sekecil mungkin. Sebelum dipasang kondisi kayu dianjurkan dalam keadaan lembab,sebab bila kayu dipasang dalam keadaan kering dan kurang tua kemungkinan koker akan pecah. Pemasangan pada bagian bawah koker harus melintang.

Reparasi Poros Propeller

Reparasi Daun Kemudi Kerusakan yang sering terjadi pada daun kemudi antara lain : Bocor,seperti terjadi pada daun kemudi atau pelat kemudi yang berongga disebabkan karena korosi atau benturan-benturan benda keras,sehingga tipis,rusak.dan bocor Cacat seperti poros kemudi yang bengkok,retak,korosi,dan aus akibat pergeseran atau benturan dengan bantalan,sehingga kemudi tak berfungsi dengan baik

Kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada seluruh system kemudi yaitu: Pelat kemudi Poros kemudi Kwadrant/tiller Bantalan atas dan bawah

Untuk reparasi pelat kemudi yang terdiri dari satu pelat tidak dijumpai kesulitan,sedangkan pada daun kemudi yang berongga penggantian pelat dapat dilakukan pada salah satu terlebih jika kedua sisinya rusak maka sisi lain diganti kemudian.Hal ini

dilakukan agar tidak terjadi deformasi.Pada pemasangan pelat ini dilakukan dengan pengelasan,yaitu tepat pada face kerangka kemudi tersebut.Kemudian diratakan dengan semen dan pada bagian lain dicat anti korosi serta pada bagian luar dicat dengan anti fouling.Untuk daun kemudi yang berongga dapat dites setelah pekerjaan selesai dengan memberi tekanan kira-kira 3 kg/cm.Untuk perbaikan pintle dapat dilakukan dengan mengganti selubung atau dipertebal dengan pengelasan apabila pintle tersebut terlalu longgar ataupun aus karena kedudukan tidak sempurna.

Reparasi Daun Kemudi di Lambung Utara DPS

Perbaikan lainnya yang dilakukan pada reparasi kemudi dilakukan pada bagian-bagian sebagai berikut : Poros kemudi Baut flens yang sudah longgar Perbaikan Kwadrant dan system hidrolisnya Perbaikan bantalannya

III.2.3 Pengerjaan Reparasi Kapal

1. Proses repair propeller Repair propeller dilakukan apabila mengalami permasalahan misalnya patah, korosi, kandas dan repair ini dilakukan apabila ketentuan dari standard sudah tidak berlaku. Di bawah ini adalah proses bagaimana repair itu berlangsung : 1. Pembersihan manual dengan di sapu untuk menghilangkan tiram-tiram yang menempel atau mengerak pada lapisan propeller. 2. Lapisan propeller yangkeropos di popok dengan di las atau menambal lapisan dengan pengelasan 3. Setelah di las lapisan tadi digerinda untuk meratakan hasil pengelasan kemudian di poles.

4. Kemudian dihaluskan dengan cara di gosok.

Apabila lapisan propeller patah, dibutuhkan pembuatan plat sambungan dengan cara : a. Dibuat polanya dari mal b. Plat yang sudah dibuat disambung dengan cara pengelasan dengan membentuk tirus sebelumnya pada kedua benda yang akan disambungkan. Propeller biasanya terbuat dari monel atau kuningan. Pada propeller di beri as supaya kalau berputar tidak ada hentakan. Adanya hentakan kemungkinan dapat

mengakibatkan kerusakan pada : a. Bantalan poros b. Gear box c. Motor induk

Gambar Repair propeller blades

2. Perbaikan propeller Blades akibat kavitasi Faktor utama yang perlu diperhatikan oleh seorang perancang dalam mendesain sebuah propeller adalah tidak menimbulkan kavitasi. Upaya untuk menghilangkan proses kavitasi tidak dapat dilakukan melainkan diupayakan seminimal mungkin terjadi kavitasi. Adanya kavitasi ini menimbulkan gelembung-gelembung kecil yang selanjutnya gelembung tersebut pecah. Peristiwa tersebut berlangsung terus menerus pada permukaan baling-baling

sehingga mengakibatkan erosi pada permukaan baling-baling. Selanjutnya erosi tersebut menyebabkan baling-baling berkurang ketebalannya. Dampak korosi tidak sama pada tiap daun baling-baling, sehingga berakibat unbalance propeller. Ketidak seimbangnya daun baling-baling menyebabkan terjadinya getaran yang besar pada badan kapal. Langkah-langkah besar yang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan daun balingbaling akibat erosi permukaan adalah : a. Permukaan daun baling-baling yang mengalami erosi (penipisan) digerinda setempat hingga permukaan tersebut bersih. b. Dilakukan pengisian pada permukaan daun baling-baling tersebut dengan pengelasan esitelin dengan menggunakan elektroda yang sesuai dengan logam induknya. Pada pengelasan ini menggunakan boras yang gunanya dapat lebih mengikat dengan logam induknya. c. Meratakan hasil pengelasan mendekati bentuk semula. d. Setelah menyerupai bentuk semula, maka daun baling-baling dilakukan balancing tujuannya untuk memeriksa distribusi massa pada masingmasing daun merata dan titik berat masing-masing daun sama.

3. Propeller blade balancing Selama proses perbaikan daun baling-baling, secara fisik komposisinya berubah, sehingga untuk mendapatkan komposisi yang semula dilakukan balancing. Balancing berfungsi untuk menyeimbangkan daun baling-baling. Langkah pengerjaan balancing : a. Meletakkan daun baling-baling pada proses melalui kones dan dilanjutkan dengan meletakkan pada meja balancing. b. Pemutaran poros beserta daun baling-baling dilakukan secara manual maupun dengan mekanik. Tujuannya untuk mendapatkan daun baling-baling yang lebih berat dari yang lain. Pada daun baling-baling yang kelebihan berat akan terletak pada bagian bawah. c. Penggerindaan pada daun baling-baling yang kelebihan berat. Untuk mendapatkan hasil yang ideal, sangat sulit sehingga diperbolehkan selama

masih pada batas toleransi yang diijinkan. d. Langkah a dan b dapat dilakukan berulang mulai blades nomor 1,2,3, dan 4.

Gambar Proses balancing propeller 4. Propeller Shaft

Gambar Pemasangan propeller

Sistem poros sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu: main shaft propeller dan intermediet propeller shaft. Poros antara berfungsi menghubungkan main shaft ke mesin induk. Kedua poros itu dihubungkan dengan flens. Langkah-langkah untuk melepas baling-baling dari poros baling-baling adalah : a. Pembuka lapisan penutup yang meliputi baut pengikat filling cone dengan boss propeller. b. Melepas baut pengikat fillingcone (bonet) dengan boss propeller c. Melepas filling cone d. Mengendurkan mur pengikat boss dengan poros propeller sehingga berjarak sekitar 20 mm dari bagian boss atau ujung poros baling-baling. e. Melepas propeller (boss propeller dan propeller blades)

5. Propeller Blades Baling-baling merupakan salah satu komponen utama pada kapal yang menghasilkan daya dorong, sehingga kapal mengalami pergerakan. Adapun peralatan yang diperlukan untuk reparasi apabila terjadi permasalahan pada daun baling-baling yaitu: 5. Kunci-kunci, terutama untuk membuka bagian-bagian propeller yang di mur 6. Crane, untuk pekerjaan pengangkatan benda-benda berat. 7. Wire rope, untuk pengikat mengangkut benda-benda berat. 8. Peralatan kerja lainnya, seperti pompa hidrolik, alat pembersih kotoran, dll. Secara umum baling-baling terbuat dari bahan metal berupa besi tuang,

kuningan/stainless, stell, maupun bronze. Berdasarkan kekuatan dan beda potensial yang tinggi terhadap media sekitarnya, kebanyakan baling-baling terbuat dari mangan bronze. Karena letaknya di bawah air dan bekerja pada media yang korosif, maka adanya kerusakan tidak dapat dihindari lagi. Adapun kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada daun baling-baling meliputi : 1. Terjadinya korosi pada daun baling-baling. 2. Daun baling-baling patah atau bengkok karena kandas 3. Perbaikan pada bagian yang rusak sesuai dengan kerusakannya 4. Balancing atau penyeimbangan Di samping baling-baling yang mengalami pemeriksaan komponen lain yang mendukung kerja propeller juga diadakan pemeriksaan, misalnya bonet.

korosi pada daun baling-baling.

3.2.1 Reparasi Propeller Sebelum propeller direparasi, terlebih dahulu harus diketahui kerusakan yang terjadi pada propeller tersebut yang meliputi kerusakan pada daun propeller, yang mungkin terjadi karena korosi, kavitasi yang mengakibatkan daun propeller berlubang-lubang, daun propeller bengkok atau retak akibat berbenturan dengan benda keras. Untuk mereparasi propeller terlebih dahulu daun dibersihkan dengan gerinda. a. Reparasi daun propeller yang korosi Akibat korosi dan keausan yang cukup dalam pada daun propeller harus dipotong, yang terlebih dahulu ditandai, kemudian dipasang bagian yang baru. Untuk perbaikan daun propeller yang tipis saja dilakukan dengan pengelasan elektroda khusus. b. Reparasi daun baling-baling yang retak Untuk mengatasi hal ini dilakukan dengan kampuh. Jenis material pengisi kampuh tersebut. c. Reparasi daun propeller yang patah Perbaikan dilakukan untuk kasus ini adalah meratakan bagian yang patah dengan gergaji/alat potong lain, pembuatan kampuh las penyambungan, pemasangan sambungan dengan las gas atau las listrik sesuai dengan bahan kawat las. d. Reparasi daun baling-baling yang bengkok Daun propeller yang bengkok dapat diluruskan dengan penempaan, untuk pembengkokan yang tidak terlalu luas, atau dengan mesin press/hammer dengan pemanasan untuk bengkokan yang cukup luas. Untuk bengkokan yang tajam (ekstrim) diluruskan dengan pemanasan pada temperature 600-700 derajat celcius untuk menghindari keretakan. Setelah daun baling-baling diatas dilas perlu diadakan pengecekan terlebih dahulu dengan membalansir, yaitu mengontrol titik berat baling-baling dengan sumbu putaran, dengan cara daun propeller dipasang pada poros dengan meletakkan horizontal dengan tumpuan dua buah topang yang kemudian disenter dengan bantuan senter ball, selanjutnya propeller diputar yaitu pelan dan diamati tiap daunnya. Dari sini dapat dilihat daun mana yang lebih berat yaitu dengan gerakan yang lebih cepat untuk selanjutnya digurinda agar propeller tersebut dapat kembali pada keseimbangan.

Propeller blade balancing Selama proses perbaikan daun baling-baling, secara fisik komposisinya berubah, sehingga untuk mendapatkan komposisi yang semula dilakukan balancing. Balancing berfungsi untuk menyeimbangkan daun baling-baling. Langkah pengerjaan balancing : a) Meletakkan daun baling-baling pada proses melalui kones dan dilanjutkan dengan meletakkan pada meja balancing.

b) Pemutaran poros beserta daun baling-baling dilakukan secara manual maupun dengan mekanik. Tujuannya untuk mendapatkan daun baling-baling yang lebih berat dari yang lain. Pada daun baling-baling yang kelebihan berat akan terletak pada bagian bawah. c) Penggerindaan pada daun baling-baling yang kelebihan berat. Untuk mendapatkan hasil yang ideal, sangat sulit sehingga diperbolehkan selama masih pada batas toleransi yang diijinkan. d) Langkah a dan b dapat dilakukan berulang mulai blades nomor 1,2,3, dan 4.

Gambar 3.2.1.1 Blade Balancing

Reparasi Poros Propeller Jenis kerusakan yang mungkin terjadi pada poros propeller adalah: o o o o o Retak atau patah pada batang poros. Ausnya selubung poros akibat gesekan. Terjadinya pembengkokan pada poros akibat bantalan yang kurang baik. Terjadinya pengkaratan pada permukaan poros Lubang-lubang karena bahan yang tidak baik.

Gambar 3.2.1.2 Daun Propeller yang Korosi

Reparasi Poros yang Retak Untuk poros propeller yang retak halus dapat diketahui dengan bantuan pengetesan makna fluks dengan cara sebagai berikut:Mula-mula as dibersihkan dari kotoran dengan sikat dengan cairan pembersih (cleaners) kemudian dioleskan dengan penetran mersap kedalam retakan kira-kira 10 menit kemudian ditaburkan remove (bubuk kapur).Apabila poros retak maka akan timbul bercak merah.Selanjutnya reparasi dapat dilakukan dengan pembubutan asalkan diameter minimum poros yang diizinkan setelah dibubut tidak dilampaui. Reparasi Poros Propeller yang Bengkok. Kerusakan yang sering terjadi pada bantalan poros propeller disebabkan antara lain: Shaft arragement tidak sempurna Baling-baling tidak balance Terjadi pergeseran dalam kerjanya

Untuk reparasi bantalan poros ini maka bantalan ini dilepas dari kapal bersama koker (rumah bantalan).Melepas koker umumnya sama dengan melepas daun baling-baling yaitu dengan alat trackle untuk ukuran-ukuran kecil.Bahan bantalan dari babbit yang telah rusak,maka harus dibuatkan yang baru dengan pengecoran sampai ukurannya memenuhi clearance yang sebenarnya.Untuk bahan yang terbuat dari kayu Pokhout,kayu yang akan dipakai harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai berikut : 4. 5. 6. Umurnya cukup tua agar diperoleh ketahanan yang cukup dan bila terendam dilaut pemuaiannya akan sekecil mungkin. Sebelum dipasang kondisi kayu dianjurkan dalam keadaan lembab,sebab bila kayu dipasang dalam keadaan kering dan kurang tua kemungkinan koker akan pecah. Pemasangan pada bagian bawah koker harus melintang.

Gambar 3.2.1.3 Reparasi Poros Propeller

3.2.2 Reparasi Daun Kemudi Kerusakan yang sering terjadi pada daun kemudi antara lain : Bocor,seperti terjadi pada daun kemudi atau pelat kemudi yang berongga disebabkan karena korosi atau benturan-benturan benda keras,sehingga tipis,rusak.dan bocor Cacat seperti poros kemudi yang bengkok,retak,korosi,dan aus akibat pergeseran atau benturan dengan bantalan,sehingga kemudi tak berfungsi dengan baik

Kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada seluruh system kemudi yaitu: Pelat kemudi Poros kemudi Kwadrant/tiller Bantalan atas dan bawah

Untuk reparasi pelat kemudi yang terdiri dari satu pelat tidak dijumpai kesulitan,sedangkan pada daun kemudi yang berongga penggantian pelat dapat dilakukan pada salah satu terlebih jika kedua sisinya rusak maka sisi lain diganti kemudian.Hal ini dilakukan agar tidak terjadi deformasi.Pada pemasangan pelat ini dilakukan dengan pengelasan,yaitu tepat pada face kerangka kemudi tersebut.Kemudian diratakan dengan semen dan pada bagian lain dicat anti korosi serta pada bagian luar dicat dengan anti fouling.Untuk daun kemudi yang berongga dapat dites setelah pekerjaan selesai dengan memberi tekanan kira-kira 3 kg/cm.Untuk perbaikan pintle dapat dilakukan dengan mengganti selubung atau dipertebal dengan pengelasan apabila pintle tersebut terlalu longgar ataupun aus karena kedudukan tidak sempurna.

Gambar 3.2.2.1 Reparasi Daun Kemudi di Lambung Utara DPS

Perbaikan lainnya yang dilakukan pada reparasi kemudi dilakukan pada bagian-bagian sebagai berikut : Poros kemudi Baut flens yang sudah longgar Perbaikan Kwadrant dan system hidrolisnya Perbaikan bantalannya

4. Propeller Shaft Sistem poros sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu: main shaft propeller dan intermediet propeller shaft. Poros antara berfungsi menghubungkan main shaft ke mesin induk. Kedua poros itu dihubungkan dengan flens. Langkah-langkah untuk melepas baling-baling dari poros baling-baling adalah : f. Pembuka lapisan penutup yang meliputi baut pengikat filling cone dengan boss propeller. g. Melepas baut pengikat fillingcone (bonet) dengan boss propeller h. Melepas filling cone i. Mengendurkan mur pengikat boss dengan poros propeller sehingga berjarak sekitar 20 mm dari bagian boss atau ujung poros baling-baling. j. Melepas propeller (boss propeller dan propeller blades)

5. Propeller Blades Baling-baling merupakan salah satu komponen utama pada kapal yang menghasilkan daya dorong, sehingga kapal mengalami pergerakan. Adapun peralatan yang diperlukan untuk reparasi apabila terjadi permasalahan pada daun baling-baling yaitu: 9. Kunci-kunci, terutama untuk membuka bagian-bagian propeller yang di mur 10. Crane, untuk pekerjaan pengangkatan benda-benda berat. 11. Wire rope, untuk pengikat mengangkut benda-benda berat. 12. Peralatan kerja lainnya, seperti pompa hidrolik, alat pembersih kotoran, dll. Secara umum baling-baling terbuat dari bahan metal berupa besi tuang,

kuningan/stainless, stell, maupun bronze. Berdasarkan kekuatan dan beda potensial yang tinggi terhadap media sekitarnya, kebanyakan baling-baling terbuat dari mangan bronze. Karena letaknya di bawah air dan bekerja pada media yang korosif, maka adanya kerusakan tidak dapat dihindari lagi. Adapun kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada daun baling-baling meliputi : 5. Terjadinya korosi pada daun baling-baling. 6. Daun baling-baling patah atau bengkok karena kandas 7. Perbaikan pada bagian yang rusak sesuai dengan kerusakannya 8. Balancing atau penyeimbangan Di samping baling-baling yang mengalami pemeriksaan komponen lain yang mendukung kerja propeller juga diadakan pemeriksaan, misalnya bonet.

korosi pada daun baling-baling.